Anda di halaman 1dari 4

ANGGOTA KELOMPOK:

- AYUB IDAM KHOLID (05)


- DODIK KRISTIAWAN (12)
- ILHAM BAGUS SETYO P (17)
- M.BAGUS SADEWA (23)
- SATRIO RAFID ADANI P (31)
- ZULFIKAR MATRA R (36)

Masjid Agung Kota Kediri, Jawa Timur


Masjid Agung Kediri dari arah Alun Alun Kota Kediri.

Masjid Agung Kediri adalah masjid termegah dan terbesar di kota Kediri, Sesuai dengan
statusnya sebagai Masjid Agung bagi Kota Kediri, Masjid ini berdiri kokoh di depan alun alun
kota Kediri di sebelah timur sungai Brantas serta berada di persimpangan jalan jurusan Surabaya
dan Tulung Agung. Dari kejauhan sudah nampak menara-nya yang menjulang tinggi dengan
kubah hijaunya. Bangunan masjid ini selesai dibangun pada tahun 2006 dibangun tiga lantai
dengan memadukan berbagai gaya masjid dunia tanpa meninggalkan identitas masjid
Nusantara.Masjid agung Kediri juga dilengkapi dengan lantai basemen yang berfungsi sebagai
area pendukung operasional seperti tempat wudhu, kamar mandi dan tempat parkir kendaraan
bermotor. Lantai dasar masjid merupakan ruang serbaguna yang kini biasa digunakan untuk
acara acara kegiatan keagamaan hingga prosesi ijab qobul dan acara pernikahan serta kegiatan
lainnya. Ruang sholat ditempatkan di lantai dua dan lantai tiga.

Masjid Agung Kota Kediri

Jl. Panglima Besar Sudirman No.160


Kp. Dalem, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri
Jawa Timur 64129, Indonesia

Masjid Agung Kota Kediri ini dilengkapi dengan satu bangunan menara yang menjulang tinggi
berada di sisi tenggara bangunan masjid dan sisi selatannya juga terdapat gedung perpustakaan
masjid. Sederetan anak tangga di tempatkan di sisi depan masjid yang menghadap ke jalan Raya
Panglima Sudirman sebagai akses bagi jamaah ke ruang utama masjid.
Jejeran pilar pilar beton bundar berukuran besar dan tinggi mendominasi sisi tampilan luar
bangunan masjid ini. Jejeran pilar seperti ini dikenali sebagai salah satu ciri bangunan bangunan
bergaya Eropa. Ciri khas masjid Nusantara masih melekat di masjid ini yang pada dasarnya
berupa struktur atap yang berupa atap Joglo bersusun tiga.

Masjid Agung Kota Kediri, Dulu dan Kini.


Tiga tumpukan atap masjid ini tidak dirancang sejajar satu dengan lainnya melainkan bersilangan
satu dengan lainnya menghasilkan atap masjid yang berdenah seperti bintang delapan bila dilihat
dari udara. Bentuk atap tumpang bersilangan seperti ini dapat dijumpai di Masjid Said Naum
Jakarta Pusat. Segi delapan dikenali sebagai salah satu simbol dunia Islam, sekaligus juga
sebagai simbul delapan arah mata angin mengisyaratkan bahwa Islam menebarkan rahmat bagi
seluruh alam.

Dipuncak tertinggi atap Masjid dilengkapi dengan sebuah kubah bewarna hijau. Kubah
merupakan salah satu ciri universal sebuah bangunan Masjid. Pilar pilar tinggi dan besar di
masjid ini mengingatkan kita pada bentuk pilar di Masjid Agung Pati yang dirancang oleh Prof.
Muhammad Nu’man. Pilar pilar dengan bentuk nyaris serupa juga digunakan di Masjid The
Foundation of Islamic Center of Thailand, Kedua Masjid yang disebut belakangan ini dibangun
jauh lebih dulu sebelum Masjid Agung Kota Kediri.

Interior Masjid Agung Kota Kediri


Sentuhan bangunan masjid bergaya Usmaniyah (Muslim Eropa / Turki) sangat terasa saat di
dalam masjid dan memandang tembok masjid yang massif dan tinggi dengan jendela jendela
kaca berukuran besar. Sebuah mimbar kayu berukir sangat indah ditempatkan di ruang mihrab
yang juga dihias dengan seni kaligrafi dari ukiran kayu yang sangat khas. Akan sulit bagi anda
untuk menemukan mimbar berukir seperti ini di masjid masjid di luar Indonesia.

Masjid Agung Kota Kediri yang kini berdiri bukanlah bangunan masjid pertama di tempat
tersebut. Kota Kediri sudah memiliki Masjid Agung Sejak Abad ke 17, sebuah masjid berkubah
besar tanpa menara memiliki kemiripan dengan masjid masjid di tanah melayu Sumatera.
Menyimak foto masa lalu masjid ini anda dengan mudah menemukan kemiripannya dengan
Masjid Azizi Langkat, Masjid Raya Sulaimaniyah Serdang ataupun Masjid Al Osmani yang
semuanya berada di Sumatera Utara. Hanya saja bangunan Masjid dari abad ke 17 tersebut sudah
tak berbekas, berganti dengan Masjid megah yang kini berdiri.

Dibanding waktu pertama kali dibuat, keadaan sekarang ini Masjid Agung Kediri sangatlah
berlainan. Meskipun begitu ada bagian-bagian yang masih terbangun keasliannya. Menurut
prasasti yang terpasang di bagian atas joglo atau kubah masjid itu, rumah beribadah umat Islam
ini sudah berdiri semenjak tahun 1771 Masehi.

Lalu pada tahun 1830 dikerjakan pemugaran yang lalu diteruskan kembali pada tahun 1841.
Waktu itu masjid itu telah diperlengkapi mimbar yang sampai saat ini masih tetap digunakan
oleh khotib saat tengah berkhotbah. Awal mulanya mimbar ini sudah sempat dikasih susunan cat
tetapi sesudah itu dikembalikan pada warna aslinya, coklat tua.

Pemugaran selanjutnya dikerjakan pada tahun 1928, berdasar pada ide serta perintah dari KRA.
Haryo Danudiningrat yang disebut Bupati ke-8 di Kediri. Pada saat itu, sebagai ketua
pemugarannya ialah R. H. Ali Mustoha. Sedang penasihatnya diantaranya KH. Hasyim Asy’ari,
pendiri organisasi NU (Nahdlatul Ulama) serta dibantu KH. Wahab Chasbullah yang saling
datang dari Jombang. Saat yang bertepatan masjid yang awal mulanya bernama Masjid Jami
dirubah namanya jadi Masjid Ageng (Agung) Kediri.

Lalu pada tahun 1976, diberi tambahan peralatan menara yang dibangun di samping kanan
bangunan penting. Sebelas tahun selanjutnya, pada 1987 kubah yang awalannya terbuat dari
kayu ditukar dengan material semen cor serta memiliki bentuk menjadi bulat atau bundar. Saat
itu dikerjakan perbaikan juga pada tempat wudlu serta pintu masuk.