Anda di halaman 1dari 17

Critical Book Report (CBR)

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah :


PRAKTIKUM PERPAJAKAN

Oleh :

Nama : Faradiba
NIM : 7191220002
Dosen Pengampu : Erny Luxy D. Purba, SE., M.Si Ak
Kelas : Akuntansi C 19

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah
CBR ini bisa selesai pada waktunya. Tanpa pertolongan-Nya tentunya saya tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Saya mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga saya
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah CBR mata kuliah “Praktikum
Perpajakan”.
Saya berharap semoga makalah CBR ini bisa menambah pengetahuan para
pembaca. Saya tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya.
Untuk itu, saya mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah
CBR ini, supaya makalah CBR ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik
lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah CBR ini saya
mohon maaf yang sebesar-besarnya..
Demikian, semoga makalah CBR ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Medan, 12 Oktober 2020

FARADIBA

2
DAFTAR ISI
HAL

Kata Pengantar........................................................................................................ 2
Daftar Isi.................................................................................................................. 3
Bab I Pendahuluan................................................................................................. 4
A. Rasionalisasi Pentingnya CBR.................................................................... 4
B. Tujuan CBR.................................................................................................. 4
C. Manfaat CBR............................................................................................... 4
Bab II Ringkasan Isi Buku...................................................................................... 5
A. Dasar-Dasar Perpajakan.............................................................................. 5
B. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.............................................. 8
C. Pajak Penghasilan (Umum)......................................................................... 9
D. Pajak Penghasilan Final.............................................................................. 9
E. Pajak Penghasilan Pasal 21........................................................................ 10
F. Pajak Penghasilan Pasal 22........................................................................ 10
G. Pajak Penghasilan Pasal 23........................................................................ 11
H. Pajak Penghasilan Pasal 24........................................................................ 11
I. Pajak Penghasilan Pasal 25........................................................................ 11
J. Pajak Penghasilan Pasal 26........................................................................ 12
K. Rekonsiliasi Fiskal dan Praktik Pengisian SPT Tahunan PPh..................... 12
Bab III Pembahasan............................................................................................... 14
A. Kelebihan Buku............................................................................................ 14
B. Kekurangan Buku......................................................................................... 14
Bab IV Penutup....................................................................................................... 16
A. Kesimpulan.................................................................................................. 16
B. Saran........................................................................................................... 16
Lampiran................................................................................................................ 16
Daftar Pustaka....................................................................................................... 17

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR


Sering kali kita bingung memilih buku referensi untuk kita baca dan
pahami. Terkadang kita memilih satu buku, namun kurang memuaskan kita.
Misalnya dari segi analisis bahasa, pembahasan penerapan pasal-pasal
yang mengatur tentang Perpajakan di Indonesia, oleh karena itu penulis
membuat Critical Book Report ini untuk mempermudah pembaca dalam
memilih referensi, terkhusus pada pokok bahasan tentang Praktikum
Perpajakan.

B. Tujuan Penulisan CBR


1. Mengulas isi sebuah buku.
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku.
3. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh
setiap bab.
4. Mengkritisi satu topik materi kuliah yaitu Praktikum Perpajakan.

C. Manfaat CBR
1. Untuk menambah wawasan tentang mata kuliah Praktikum Perpajakan.
2. Untuk mengetahui pasal-pasal yang mengatur Perpajakan di Indonesia.
3. Untuk mengetahui materi apa saja yang dibahas untuk buku Perpajakan
(Siti Resmi).

D. Identitas Buku
Judul Buku : Perpajakan Teori & Kasus
Penulis Buku : Siti Resmi
Edisi : 11
Buku :1
Penerbit : Salemba Empat

4
BAB II
Ringkasan Isi Buku

A. Dasar – Dasar Perpajakan


Definisi pajak menurut UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pajak adalah kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ciri-Ciri yang Melekat Pada Definisi Pajak


- Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang
serta aturan pelaksanaannya.
- Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya
kontraprestasi individual oleh pemerintah.
- Pajak dipungut oleh negara, baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah.
- Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah,
yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, digunakan
untuk membiayai public inventment.

Pungutan Lain Selain Pajak


- Bea materai yaitu pungutan yang dikenakan atas dokumen dengan
menggunakan benda materai ataupun benda lain
- Bea masuk dan bea keluar. Bea masuk adalah pungutan atas
barang-barang yang dimasukkan ke dalam daeran pabean
berdasarkan harga/nilai barang itu atau berdasarkan tarif yang
sudah ditentukan. Bea keluar adalah pungutan yang dilakukan ata
barang yang dikeluarkan dari daerah pabean berdasarkan tarif
yang sudah ditentukan bagi masing-masing golongan barang
- Cukai yaitu pungutan yang dikenakan atas barang-barang tertentu
yang sudah ditetapkan untuk masing-masing jenis barang tertentu
- Retribusi yaitu pungutan yang dikenakan sehubungan dengan
suatu jasa atau fasilitas yang diberikan oleh pemerintah secara
langsung dan nyata kepada pembayar
- Iuran yaitu pungutan yang dikenakan sehubungan dengan suatu
jasa atau fasilitas yang diberikan pemerintah secara langsung dan
nyata kepada kelompok atau golongan pembayar
- Pungutan lain yang sah/legal berupa sumbangan wajib.

Fungsi Pajak
- Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara) artinya pajak
merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk
membiayai pengeluaran, baik rutin maupun pembangunan.
- Fungsi Regularend (Pengatur) artinya pajak sebagai alat untuk
mengatur atau melaksanakan kebojakan pemerintah dalam bidang
5
sosial dan ekonomi serta mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar
bidang keuangan.
Kedudukan Hukum Pajak. Hukum pajak juga berkaitan dengan hukum
pidana. Hukum pidana, seperti yang telah tercantum dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP), merupakan suatu keseluruhan sistematis
yang juga berlaku untuk peristiwa-peristiwa pidana yang diuraikan diluar
KUHP. Hak untuk menyimpang dari peraturan-peraturan yang tercantum
dalam KUHP di Indonesia telah diperoleh pembuat ordonasi semenjak 16
Mei 1927 dan sangat memerlukan sanksi yang menjamin untuk ditaati
oleh khalayak umum.
Pembagian Hukum Pajak. Hukum Pajak Materiil merupakan norma-
norma yang menjelaskan keadaan, perbuatan dan peristiwa hukum yang
harus dikenakan pajak, siapa yang harus dikenakan pajak dan berupa
besar pajaknya. Hukum Pajak Formil merupakan peraturan-peraturan
mengenai berbagai cara untuk mewujudkan hukum materiil menjadi suatu
kenyataan.

Teori yang Mendukung Pemungutan Pajak.


- Teori Asuransi. Teori ini menyatakan bahwa negara bertugas untuk
melindungi orang dan segala kepentingannya, meliputi
keselamatan dan keamanan jiwa dan harta bendanya.
- Teori Kepentingan. Teoriini awalnya hanya memperhatikan
pembagian beban pajak yang harus dipungut dari seluruh
penduduk.
- Teori Gaya Pikul. Teori ini menyatakan bahwa dasar keadilan
pemungutan pajak terletak pada jasa-jasa yang diberikan oleh
negara kepada warganya, yaitu perlindungan atas jiwa dan harta
bendanya.
- Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori Bakti). Berlawanan dengan
ketiga teori sebelumnya yang tidak mengutamakan kepentingan
negara di atas kepentingan warganya.
- Teori Asas Gaya Beli. Teori ini tidak mempersoalkan asal mula
negara memungut pajak, tetapi hanya melihat pada efeknya dan
memandang efek yang baik itu sebagai dasar keadilannya.

Jenis Pajak.
1. Menurut golongannya :
o Pajak langsung. Pajak yang harus dipikul atau ditanggung
sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dilimpahkan atau
dibebankan kepada orang lain atau pihak lain.
o Pajak tidak langsung. Pajak yang pada akhirnya dapat
dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak
ketiga.

2. Menurut sifatnya :
o Pajak subjektif, pajak yang pengenaannya memperhatikan
keadaan pribadi wajib pajak atau pengenaan pajak yang
memperhatikan keadaan subjeknya.

6
o Pajak objektif, pajak yang pengenannya memperhatikan
objeknya, baik berupa benda, keadaan, perbuatan, maupun
peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban
membayar pajak tanpa memperhatikan keadaan pribadi
subjek pajak (wajib pajak) dan tempat tinggal.

3. Menurut lembaga pemungut :


o Pajak negara (pajak pusat), pajak yang dipungut oleh
pemerintah pusat digunakan untuk membiayai rumah tangga
negara pada umumnya
o Pajak daerah, pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah,
baik daerah tingkat I, tingkat II, dan digunakan untuk
membiayai rumah tangga daerah masing-masing.

Tata cara pemungutan pajak


1. Stesel Pajak
a. Stelsel Nyata (Riil) menyatakan bahwa pengenaan pajak
didasarkan pada objek yang sesungguhnya terjadi (untuk
PPh, objeknya adalah penghasilan).
b. Stelsel Anggapan (Fiktif) menyatakan bahwa pengenaan
pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh
undang-undang.
c. Stesel Campuran menyatakan bahwa pengenaan pajak
didasarkan pada kombinasi antara stesel nyata dan stesel
anggapan.

2. Asas Pemungutan Pajak


a. Asas domisili menyatakan bahwa negara berhak
mengenakan pajak atau seluruh penghasilan wajib pajak
yang bertempat tinggal diwilayanya, baik penghasilan yang
berasal dari dalam maupun luar negeri.
b. Asas sumber menyatakan bahwa negara berhak
mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber
diwilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib
pajak.
c. Asas kebangsaan menyatakan bahwa pengenaan pajak
dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.

3. Sistem Pemungutan Pajak


a. Official Assessment System : yang memberikan
kewenangan aparatur perpajakan untuk menentukan sendiri
jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
b. Self Assessment System : yang memberi wewenang Wajib
Pajak dalam menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang
setaip tahunnya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku.
c. With Holding System : yang memberi wewenang kepada
pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak

7
yang terutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Timbulnya utang pajak mempunyai peranan yang sangat penting


karena berkaitan dengan :
1. Pembayaran pajak
2. Memasukkan surat keberatan
3. Menentukan saat dimulai dan berakhirnya jangka waktu
kedaluwarsa
4. Menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan sebagainya
5. Menentukan besarnya denda maupun sanksi administrasi lainnya
Ajaran Materiil : menyatakan bahwa utang pajak timbul karena
diberlakunya undang-undang perpajakan.
Ajaran Formil menyatakan bahwa utang pajak timbul karena
dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh fiskus (pemerintah).

Berakhirnya Utang Pajak jika terjadinya hal-hal berikut :


1. Pembayaran/Pelunasan : pajak dapat dilakukan dengan
pemotongan/pemungutan oleh pihak lain pengreditan pajak luar
negeri, maupun pembayaran sendiri oleh Wajib Pajak ke kantor
penerima pajak (bank-bank persepsi dan kantor pos).
2. Kompensasi : kompensasi kerugian ataupun kompensasi kelebihan
pembayaran pajak
3. Kadeluwarsa berarti telah lewat batas waktu tertentu.
4. Pembebasan/penghapusan : kewajiban pajak oleh wajib pajak
tertentu dinyatakan hapus oleh fiskus karena setelah dilakukan
penyidikan, ternyata Wajib Pajak tidak mampu lagi memenuhi
kewajibannya.

B. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan


Upaya pemerintah tersebut sering dengan semakin dominannya
penerimaan dari sektor pajak dalam RAPBN dan APBN negara kita
beberapa tahun terakhir ini. Hal ini dilakukan mengingat sumber
penerimaan migas tidak dapat diandalkan lagi karena jumlahnya semakin
menipis dan tidak dapat diperbarui. Dengan dilaksanakannya kebijakan
pokok tersebut diharapkan dapat meningkatnya kepatuhan sukarela dan
membaiknya iklim usaha.

Bab ini membahas tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan
yang berlaku di Indonesia yang didalamnya tertuang ketentuan yang
menjunjung tinggi hubungan warga negara dan menempatkan kewajiban
perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan dan merupakan sarana peran
serta rakyat dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional.

Dalam pelaksanaan UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum


dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan UU No.9
Tahun 1994, dan II No.16 Tahun 2000 disadari masih terdapat hal-hal

8
yang belum tertampang sehingga menuntut perlunya penyempurnaan
sejelan dengan perkembangan sosial ekonomi dan kebijaksanaan
pemerintah. Penyempurnaan peraturan perundang-undangan perpajakan
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan tersebut terakhir
diatur dalam UU No.28 Tahun 2007.

C. Pajak Penghasilan (Umum)


Peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur
tentang Pajak Penghasilan yang berlaku sejak 1 Januari 1984
adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983. Sebelum tahun 1983,
pengenaan pajak yang berhubungan dengan penghasilan
diistilahkan dengan nama Pajak Perseroan (Ord. PPd 1925), Pajak
Kekayaan (Stb 1932), Pajak Pendapatan (Ord. PPd 1944), dan
Pajak Penjualan (UU No 19 Drt Th 1951).

Semakin pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil


pembangunan nasional, globalisasi, dan reformasi di berbagai bidang
perlu dilakukan perubahan undang-undang tersebut guna meningkatkan
fungsi dan peranannya dalam rangka mendukung kebijakan
pembangunan nasional khususnya di bidang ekonomi, Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan telah beberapa kali
diubah dan disempurnakan, yaitu dengan Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1991, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2000, dan yang terakhir Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008.

Perubahan Undang-Undang Pajak Penghasilan tersebut dilakukan


dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut
secara universal yaitu keadilan, kemudahan/efisiensi administrasi, dan
produktivitaas penerimaan negara serta tetap mempertahankan sistem
self assessment. Oleh karena itu, tujuan dan arah penyempurnaan
Undang-Undang Pajak Penghasilan tersebut adalah :
1. Lebih meningkatkan keadilan pengenaan pajak
2. Lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak
3. Lebih memberikan keserhanaan administrasi perpajakan
4. Lebih memberikan kepastian hukum, konsistensi, dan transparansi
5. Lebih menunjang kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan
daya saing dalam menarik investasi langsung di Indonesia, baik
penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di
bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah tertentu yang
mendapat prioritas.

D. Pajak Penghasilan (Final)


Pajak penghasilan (PPh) dapat dikelompokkan menjadi PPh yang
bersifat final dan PPh bersifat tidak final. Pajak penghasilan bersifat final
artinya pajak penghasilan yang pengenaannya sudah final (berakhir)
sehingga tidak dapat dikreditkan (dikurangkan) dari total pajak
penghasilan terutang pada akhir tahun pajak. Pajak penghasilan bersifat
final dikelompokkan sebagai berikut :
9
1. PPh atas penghasilan dari usaha yang diterima/diperoleh oleh Wajib
Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.
2. PPh Pasal 15 UU PPh untuk usaha tertentu.
3. PPh Pasal 4 ayat (2) UU PPh.

Beberapa jenis penghasilan yang PPh-nya bersifat final dalam jenis


pajak lain adalah :
1. PPh atas uang pesangon yang diterima sekaligus : uang manfaat
pensiun, tunjangan hari tua/jaminan hari tua, dan sejenisnya yang
diterima sekaligus; honorarium yang diterima pejabat negara, PNS,
anggota TNI/POLRI dan pensiunnya atas APBN/APBD, selanjutnya
diuraikan dalam PPh Pasal 21.
2. PPh atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan
pelumas kepada penyalur/agen oleh produsen atau importnya,
selanjutnya diuraikan dalam PPh Pasal 22.
3. PPh atas penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap dan lain-lain.

E. Pajak Penghasilan Pasal 21


Pajak Penghasilan Pasal 21 selanjutnya disebut PPh Pasal 21
merupakan pajak yang dilewatkan terhadap Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri atas penghasilan yang terkait dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan. Penghasilan yang dimaksud meliputi upah, gaji, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Apabila penghasilan tersebut yang menerima adalah Wajib Pajak luar
negeri maka diatur dalam Pasal 26 UU PPh yang selanjutnya disebut PPh
Pasal 26.

Pembayaran PPh ini dilakukan dalam tahun berjalan melalui


pemotongan oleh pihak-pihak tertentu. Pihak yang wajib melakukan
pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26 adalah pemberi
kerja, bendaharawan pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaan, dan
penyelenggara kegiatan.

Jumlah pajak yang telah dipotong dan disetorkan dengan benar oleh
pemberi kerja dan pemotong lainnya dapat digunakan oleh Wajib Pajak
untuk dijadikan kredit pajak atas PPh yang terutang pada akhir tahun.

F. Pajak Penghasilan Pasal 22


Pajak Penghasilan Pasal 22, selanjutnya diangkut menjadi PPh Pasal
22, merupakan pajak yang dipungut oleh bendaharawan pemerintah, baik
Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah; instansi atau lembaga
pemerintah dan lembaga-lembaga negara lain yang berkenaan dengan
pembayaran atas penyerahan barang dan badan-badan tertentu, baik
badan pemerintah maupun swasta, berkenan dengan kegiatan di bidang
impor atau kegiatan usaha dibidang lain.

Pajak Penghasilan Pasal 22 dibayar dalam tahun berjalan melalui


pemotongan atau pemungutan oleh pihak-pihak tertentu. Selanjutnya,
pemotong/pemungut akan menyetor dan melaporkan pihak yang telah di
potong/dipungut.
10
G. Pajak Penghasiln Pasal 23
Pajak penghasilan Pasal 23, selanjutnya disingkat PPh 23, adalah
pajak yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak dalam negeri (orang pribadi dan badan dan bentuk usaha tetap
yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan
kegiatan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 ini
dibayar atau terutang oleh badan pemerintah atau Subjek Pajak dalam
negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya.

H. Pajak Penghasilan Pasal 24


Pajak Penghasilan Pasal 24, selanjutnya disingkat PPh Pasal 24,
merupakan pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas
penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
dalam negeri. PPh Pasal 24 ini boleh dikreditkan terhadap total pajak
penghasilan terutang dalam suatu tahun pajak.

Pada dasarnya, Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh
penghasilan, baik penghasilan yang diterima atau diperoleh di dalam
negeri maupun penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri.
Jika negara lain tempat Wajib pajak dalam negeri tersebut mengenakan
pajak penghasilan maka Wajib Pajak tersebut akan membayar atau
terutang pajak atas penghasilannya itu di negara yang bersangkutan (di
luar negeri).

Untuk meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena


pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar
negeri, besarnya pajak atas penghasilan Wajib Pajak dalam negeri yang
terutang atau dibayar diluar negeri dapat dikreditkan terhadap total pajak
terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.
Jumlah pajak atas penghasilan Wajib Pajak dalam negeri yang dibayar
atau terutang di luar negeri tersebut dihitung berdasarkan tarif pajak yang
berlaku dinegara yang bersangkutan dikalikan dengan penghasilan yang
diterima atau diperoleh di negara yang bersangkutan. Jumlah pajak yang
dibayar atau terutang di luar negeri tersebut mungkin tidak semuanya
dapat dikreditkan dari total pajak terutang di Indonesia.

I. Pajak Penghasilan Pasal 25


Pembayaran pajak oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Wajib pajak membayar sendiri pajaknya melalui angsuran setiap bulan
(PPh Pasal 25), kurang bayar ataupun adanya Surat Tagihan Pajak.
2. Wajib Pajak membayar melalui pemotongan/pumungatan, baik oleh
pihak ketiga maupun dibayar atau terutang di luar negeri (PPh Pasal
21, 22, 23, dan 24)
Pajak Penghasilan Pasal 25, selanjutnya disingkat PPh Pasal 25,
merupakan angsuran PPh yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
untuk setiap bulan dalam tahun pajak berjalan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 25 UU No. 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir
11
dengan UU No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Pembayaran
angsuran setiap tahun bulan itu sendiri dimaksudkan untuk meringankan
beban Wajib Pajak dalam membayar pajak terutang.
Angsuran PPh Pasal 25 tersebut dapat dijadikan kredit pajak terhadap
pajak yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak pada akhir
tahun ajak yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan (SPT Tahunan PPh).

J. Pajak Penghasilan Pasal 26


Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 menganut dua sistem
pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak luar negeri dari Indonesia. Dua sistem pengenaan pajak tersebut
adalah :
 Pemenuhan sendiri kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak luar
negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui
suatu bentuk usaha tetap di Indonesia.
 Pemotongan oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak
luar negeri lainnya.

Pasal 26 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 mengatur tentang


pemotongan atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.

K. Rekonsiliasi Fiskal dan Praktik Pengisian SPT Tahunan PPh


Bab ini akan menguraikan pentingnya melakukan rekonsiliasi fiskal,
bagaimana cara melakukan rekonsiliasi fiska, dan dilanjutkan dengan
pembahasan kasus praktik pengisian SPT Tahunan PPh.

Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh Wajib Pajak karena terdapat


perbedaan penghitungan, khususnya laba menurut akuntansi (komersial)
dengan laba menurut perpajakan (fiskal). Laporan keuangan komersial
atau bisnis ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi dan keadaan finansial
dari sektor swasta, sedangkan laporan keuangan fiskal lebih ditujukan
untuk menghitung pajak. Untuk kepentingan komersial atau bisnis, laporan
keuangan disusun berdasarkan prinsip yang berlaku umum, yaitu Standar
Akuntansi Keuangan (SAK), sedangkan untuk kepentingan fiskal, laporan
keuangan disusun berdasarkan peraturan perpajakan (Undangan-Undang
Pajak Penghasilan disingkat UU PPh).

Perbedaan kedua dasar penyusunan laporan keuangan tersebut


mengakibatkan perbedaan penghitungan laba (rugi) suatu entitas (Wajib
Pajak). Pertanyaan kemudian muncul adalah apakah suatu entitas harus
melakukan pembukuan untuk memeuhi tujuan tersebut? Jika suatu entitas
(Wajib Pajak) harus menyusun dua laporan keuangan yang berbeda maka
di samping terdapat pemborosan waktu, tenaga, dan uang juga akan
erjadi tidak tercapainya tujuan menghindari manipulasi pajak. Menurut
Bambang Kesit (2001), untuk mengatasi masalah tersebt digunakan
beberapa pendekatan dalam penyusunan laporan keuangan fiska;, yaitu :

12
1. Laporan keuangan fiskal disusun secara beriringan dengan laporan
keuangan komersial. Artinya, meskipun laporan keuangan komersial
atau bisnis disusun berdasarkan prinsip akuntansi bisnis, tetapi
ketentuan perpajakan sangat dominan dalam mendasari proses
penyusunan laporan keuangan.
2. Laporan keuangan fiskal ekstrakomtabel dengan laporan keuangan
bisnis. Artinya, laporan keuangan fiskal merupakan produk tambahan,
diluar laporan keuangan bisnis. Laporan keuangan fiskal disusun
secara terpisah di luar pembukuan (ekstrakomtabel) melaluo
penyesuaian atau proses rekonsiliasi.
3. Laporan keuangan fiskal disusun dengan menyisipkan ketentuan-
ketentuan pajak dalam laporan keuangan bisnis. Artinya, pembukuan
yang diselenggarakan perusahaan didasarkan pada prinsip akuntansi
bisnis, tetapi jika ada ketentuan perpajakan yang tidak sesuai dengan
prinsip akuntansi bisnis maka yang diprioritaskan adalah ketentuan
perpajakan.

13
BAB III

PEMBAHASAN

A. Kelebihan Buku

Aspek yang Dinilai dari Buku √


Cover √
Nama Penulis √
Tahun Terbit √
Judul Buku √
ISBN √
Kota Terbitan √
Kata Pengantar √
Daftar Isi √
Daftar Pustaka √
Data Penulis √

Untuk bagian isi materi buku menurut saya sudah sangat lengkap
dijelaskan per bab nya. Karena sudah mencakup penjelasan satu per satu
dan sudah memiliki contoh soal masing-masing. Dalam aspek bahasa yang
digunakan sesuai dengan bahasa baku Indonesia.

B. Kekurangan Buku
Kekurangan yang dimiliki buku yaitu tidak memiliki rangkuman disetiap
akhir bab atau akhir materi yang dibahas. Dan tidak memiliki penjelasan
secara singkat, sehingga buku terlalu tebal. Dan juga tidak memiliki latihan-
latihan soal disetiap bab-nya.

14
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pajak adalah iuran rakyat kepada negara berdasarkan undang-
undang, sehingga dapat dipaksakan, dengan tidak mendapat balas jasa
secara langsung. Menurut Charles E.McLure, pajak adalah kewajiban
finansial atau retribusi yang dikenakan terhadap wajib pajak (orang pribadi
atau Badan) oleh Negara atau institusi yang digunakan untuk membiayai
berbagai macam pengeluaran publik.

Pajak dipungut berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup


biaya produksi barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.
Penolakan untuk membayar, penghindaran, atau perlawanan terhadap pajak
pada umumnya termasuk pelanggaran hukum.

B. Saran
Setelah membaca kedua buku yang sudah diringkas pada makalah ini,
saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang
membaca makalah CBR ini, agar pembuatan makalah kedepannya lebih baik
lagi.

15
LAMPIRAN

1. Gambar Buku

16
DAFTAR PUSTAKA

1. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/38886/1/SUYATNO
%20at%20al%20-%20FITK.pdf : untuk Buku Pembanding (E-BOOK)

2. https://www.coursehero.com/file/25941933/TUGAS-CBRdocx/ : untuk mencari


Rasionalisasi Pentingnya CBR

3. Buku utama “Pendidikan Bahasa Indonesia”

17