Anda di halaman 1dari 16

INDEKS ECKEL SEBAGAI PENGIDENTIFIKASI

PERATAAN PENGHASILAN YANG TIDAK RELIABEL


Alwan Sri Kustono
Universitas Jember

The income smoothing manipulation has PENDAHULUAN


a clear objective, which is to produce a
steadily growing stream of income. It is
mainly a dampening of the variations in
income over time. The identification of
M anajemen laba telah menjadi subjek
penelitian selama lebih dari empat
dekade. Salah satu bentuk manajemen laba
income smoothing behavior poses no adalah perataan penghasilan'. Studi
trivial task for the researcher. There have mengenai perataan penghasilan dianggap
been many of income smoothing stud- lebih berhasil dibandingkan bentuk-bentuk
ies conducted in Indonesia. Most of them manajemen laba lainnya karena dua hal.
used Eckel's index for detecting or iden- Yang pertama, perataan telah didefinisikan
Wing income smoothing behavior of dengan lebih presisi (Fudenberg dan Tirole,
firms. Earlier empirical studies aimed at 1995). Kedua, pembedaan antara perata
ascertaining wheather or not firms inten- penghasilan dan bukan perata penghasilan
tionally smooth reported income and the telah berhasil dioperasionalisasikan pada
determinant that drive management to banyak penelitian terdahulu (Belkaoui dan
smooth their income. All studies showed Picur, 1984; Michelson et al., 2000).
there are firms do behave as if they are Penelitian terdahulu mengenalkan
smoothing, but inconsi:stent about fac- banyak pendekatan untuk mengidentifikasi
tors determining this smoothing. The perilaku perataan penghasilan. Pendekatan
present study proposes to evaluate the tersebut meliputi pendekatan klasikal,
reliability of Eckel's index. This empiri- klasifikatori, akrual diskresionari dan
cal study used 52 manufacturing firms pendekatan variabilitas. Penelitian perataan
that listed in Indonesia Stock Exchange penghasilan di Indonesia sebagian besar,
(1999 - 2008). The result found the dapat dikatakan semuanya, menggunakan
Eckel's index not reliablity instrument. pendekatan variabilitas untuk mengiden-
It could not capture management's ef- tifikasi adanya praktik perataan. Pendekatan
fort to smooth their income time series. ini mengelompokkan perusahaan sebagai
Coeffisient of variation is constantly pelaku perataan penghasilan ketika ko-
changing while the length period is efisien variasi penjualannya lebih besar
changed daripada variasi labanya. Pembandingan
koefisien variasi ini menghasilkan angka
Keywords: income, smoothing, Eckel's indeks yang dikenal sebagai indeks Eckel.
index, coeffisient of variation.
Perataan penghasilan merupakan padanan istilah income
smoothing. Pada Standar Akuntansi Keuangan (I AI, 1994: 24)
income diterjemahkan sebagai penghasilan. Pada bagian
lain, secara implisit Standar Akuntansi Keuangan meng-
gunakan istilah laba untuk mengartikan income (I AI, 1994:
2.24). Mengikuti pernyataan IAI (1995), dalam penelitian ini
income smoothing diserap sebagai perataan penghasilan.
Untuk pengertian income yang dicantumkan dalam laporan
keuangan digunakan istilah laba.

124 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

Studi terdahulu di Indonesia berhasil (2003), dan Noor (2004), Suwito dan
menemukan bahwa sebagian perusahaan Herawaty (2005) serta Juniarti dan Carolina
publik terindikasi melakukan praktik (2006) tidak menemukan signifikasi penga-
perataan penghasilan (Ilmainir, 1993; ruh profitabilitas terhadap praktik perataan
Zuhroh,1996; Jin dan Machfoedz, 1998; penghasilan. Hasil yang berlawanan
Salno dan Baridwan, 2000; Assih dan ditunjukkan oleh studi Jatinigrum (2000).
Gudono, 2000; Atmini dan Nurkholis, 2001; Menurutnya, profitabilitas adalah salah satu
Nasser dan Herlina, 2003; Suwito dan faktor pemicu manajemen melakukan
Herawati, 2005; Subekti, 2005; Juniarti dan praktik perataan penghasilan.
Corolina, 2006; Nurhayati, 2006; Masodah, Sektor Industri dan kelompok usaha
2007; Kustono 2008). Namun demikian, diduga berpengaruh terhadap praktik
studi-studi tersebut berbeda dalam menyim- perataan penghasilan. Studi yang dilakukan
pulkan faktor-faktor yang mempengaruhi di Indonesia (Salno dan Baridwan, 2000;
praktik perataan penghasilan dan hubungan Jatiningrum, 2000, Assih, 1998) gagal
antar variabel. Beberapa diantaranya menemukan bukti adanya pengaruh ter-
berkaitan dengan pengujian teori akuntansi sebut.
positif, sektor industri, dan kategori saham. Temuan pengaruh variabel lain juga
Teori Akuntansi Positif memiliki tiga menunjukkan ketidaksamaan dengan teori
hipotesis yakni hipotesis ukuran, hipotesis atau dugaaan yang dikembangkan. Varia-
skema bonus, dan hipotesis utang. Hipo- bel winner/losser stocks pada studi Prasetio
tesis ukuran secara implisit menyatakan dkk. (2002) memperlihatkan signifikansi
bahwa ukuran perusahaan merupakan pengaruh, tetapi pada studi Salno dan
pemicu manajemen melakukan upaya Baridwan (2000) tidak diketemukan hu-
rekayasa laba. Penelitian empiris di Indo- bungan tersebut.
nesia menunjukkan bahwa variabel ukuran Ketidakkosistenan hasil studi tersebut
perusahaan bukan merupakan faktor yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.
mempengaruhi perataan penghasilan Pertama, apakah ketidakkonsistenan
(Ilmainir, 1993; Zuhroh, 1996; Jin dan tersebut merupakan proses falsifikasi teori.
Machfoedz, 1998; Assih, 1998; Salno dan Artinya bahwa tidak terdapat dukungan
Baridwan, 2000; Jatiningrum, 2000; Nasser empiris yang kuat atas teori yang diuji.
dan Herlina, 2003; Noor, 2004; Suwito dan Kedua, apakah kesalahan simpulan di-
Herawaty, 2005; Juniarti dan Carolina, 2006; sebabkan kesalahan pada metoda pene-
Masodah, 2007) litian. Misalnya sampel dan metoda
Hipotesis rencana bonus menyiratkan pengumpulan data. Ketiga, apakah per-
bahwa salah satu yang mendorong mana- bedaan periode penelitian yang menye-
jemen melakukan rekayasa laba adalah babkan terjadinya perbedaan hasil. Ini
skema bonus berbasis laba. Profitabilitas berarti pengakuan adanya perubahan
yang menurun mendorong manajemen kondisi yang luar biasa pada setiap
untuk melakukan tindakan perataan peng- perubahan periode. Keempat, apakah alat
hasilan, terlebih lagi jika perusahaan ukur yang dipergunakan bukan alat ukur
menetapkan skema kompensasi bonus yang reliabel.
yang didasarkan pada besarnya laba yang Penelitian ini bertujuan menjawab
dihasilkan. Studi di Indonesia menunjukkan pertanyaan keempat yakni dengan menguji
ketidakkonsistenan pengaruh profitabilitas. reliabilitas indeks Eckel sebagai peng-
Zuhroh (1996), Jin dan Machfoedz (1998), identifikasi praktik perataan penghasilan.
Muchammad (2001), Nasser dan Herlina Instrumen yang tidak reliabel menyebabkan

ISSN 1410-8623 125


lndeks Eckel Sebagai Pengidentifikasi Perataan (Alwan Sri Kustono)

kesalahan identifikasi dan klasifikasi. Pengidentifikasian Perataan Penghasilan


Kesalahan dalam pengidentifikasian akan Studi nnengenai perataan penghasilan
menyebabkan kesalahan simpulan baik dikaitkan dengan upaya untuk meng-
motivasi, objek maupun determinan identifikasi perangkat perataan yang
perataan penghasilan. Penelitian ini menjadi dipergunakan oleh perusahaan. Peng-
sangat penting karena studi perataan di In- identifikasian perataan penghasilan dapat
donesia sebagian besar menggunkan dikategori dalam empat kelompok.
indeks ini sebagai pengidentifikasi perilaku. Kelompok pertama adalah kelompok
klasikal yakni pendekatan yang meng-
KAJIAN TEORITIS gunakan perubahan akuntansi sebagai
Secara teori, manajemen laba adalah instrumen pengindikasi perataan peng-
proses pengestimasian akrual. Dalam setiap hasilan. Pendekatan ini menguji efek
pelaporan keuangan pasti terjadi proses perubahan tersebut terhadap laba bersih
tersebut (Beaver, 2002). Akrual merupakan perusahaan. Kelompok ini dipelopori oleh
informasi yang melekat pada laporan Cushing (1969), Bird (1969), White (1970),
keuangan dan disampaikan ke pasar Moses (1987), Herrman dan Inoue (1996)
(Schipper, 1989). Manfaat pengestimasian serta Atik dan Sensoy (2005).
akrual adalah untuk mencatat efek transaksi Cushing (1969) menguji efek laba per
secara lebih tepat dibandingkan dengan lembar saham karena perubahan dalam
basis tunai. kebijakan akuntansi. White (1970) juga
Dalam banyak literatur internasional, melihat pada efek perubahan prosedur
perataan penghasilan telah menarik perha- akuntansi terhadap laba per lembar saham.
tian banyak peneliti empiris (Dopuch dan Prosedur akuntansi tersebut meliputi
Drake, 1966; Gordon et al, 1966; Archi- keputusan nonprosedural seperti amortisasi,
bald, 1967; Gagnon, 1967; Copeland, dan keputusan diskresionari semacam
1968; Cushing, 1969; White, 1970, 1972; perubahan dalam jumlah rencana pensiun
Dascher dan Malcolm, 1970; Michelson et yang didanai.
al, 2000; Park dan Shin, 2002; Chung et Dalam studinya pada 52 perusahaan
al., 2002; Atik dan gensoy, 2004; Kim eta!, kimia, Dascher dan Malcom (1970) nneng-
2003; Kamarudin et al, 2003; Dye, 2004; identifikasi empat instrumen yang dapat
Glaum eta!, 2004; Spohr, 2005; Chung et dipergunakan meratakan laba bersih yakni
al, 2005; Sarkar et al, 2006;). Sebagian pensiun, dividen, item-item luarbiasa, dan
peneliti menyatakan bahwa perataan riset&pengembangan). Bartov (1993)
penghasilan adalah upaya aktif manajemen mempelajari efek perataan riil dengan
memanipulasi lapaoran keuangan untuk penjualan aset-aset tidak lancar dalam satu
kepentingannya sendiri. Karenanya, banyak periode terhadap laba per lembar saham.
yang menganggap praktik ini sebagai Moses (1987) menggunakan laba
tindakan yang menyesatkan. Peneliti yang sebelum item luar biasa untuk mem-
lain beranggapan bahwa perataan peng- bandingkan apakah perubahan akuntansi
hasilan adalah sesuatu yang sebaiknya akan meratakan laba, dan menentukan
dilakukan manajemen. Praktik perataan apakah perilaku perataan berkaitan dengan
penghasilan akan menyajikan informasi berbagai variabel independen yang meru-
laba yang stabil dan memiliki nilai prediksi pakan insentif manajerial untuk perataan.
yang tinggi. Perataan diukur sebagai seberapa besar
perubahan akuntansi menggeser laba pada
laba harapan. Untuk tiap perusahaan,

126 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

ditentukan laba sebelum perubahan yakni sekarang. Mereka juga menemukan bahwa
angka laba yang tidak mengadopsi ketika kinerja perusahaan sekarang relatif
perubahan akuntansi. Suatu ukuran perilaku baik dibandingkan kinerja ekspektasian,
perataan dihitung dengan membandingkan manajer akan memilih menurunkan akrual
deviasi laba sebelum perubahan dan laba dengan tujuan untuk menyimpan laba.
laporan. Kelompok ke empat adalah meng-
Kelompok yang kedua menguji pera- gunakan pendekatan variabilitas laba.
taan klasifikatori. Pada kelompok ini laba Pendekatan ini dikenalkan oleh Imhoff pada
ordinari (laba sebelum ditambah/dikurangi tahun 1977 dan dikembangkan oleh Eckel
item-item luarbiasa) adalah prediktor untuk (1981). Volatilitas laba bersih—variabel yang
arus kas masa depan dibanding laba bersih, merupakan tujuan perataan dibandingkan
dan investor mungkin mengabaikan item- dengan volatilitas variabel lainnya yang
item luar biasa dan hanya menganalisis laba tidak mungkin manajemen meratakannya
ordinari. Dengan mengubah penempatan (atau setidaknya tidak semudah laba
pendapatan dan beban luar biasa dalam bersih).
laporan rugi laba, manajemen dapat Eckel (1981) menjelaskan bahwa
membedakan laba ordinari yang diasumsi penjualan hanya dapat diratakan dengan
menjadi lebih penting bagi investor dan perataan riil. Penjualan tidak dapat diratakan
kreditur. Studi yang termasuk kelompok ini secara artifisial. Dengan membandingkan
adalah Ronen dan Sadan (1975), Brayshaw tingkat kerataan laba bersih dengan
dan Eldin (1989), Beattie et al. (1994), Min penjualan maka akan dapat ditentukan
dan Nyean (1998), dan Godfrey dan Jones perataan artifisialnya. Studi yang dilakukan
(1999). oleh Imhoff (1977), Eckel (1981), Albrecht
Kelompok ketiga menggunakan akrual dan Richardson (1990), Ashari eta'. (1994),
diskresionari untuk mendeteksi perilaku Michelson et al. (1995), Booth eta'. (1996),
perataan. Perusahaan mungkin meng- Carlson dan Bathala (1997), Abdullah et al.
gunakan teknik manajemen laba untuk (2002) serta Kamarudin eta'. (2003) adalah
mencapai tingkat perataan penghasilan contoh penelitian yang menggunakan
yang diinginkan. Model akrual dikem- pendekatan variabilitas laba.
bangkan dalam literatur manajemen laba Pendekatan ini berkembang sebagai
dan pada dekade terakhir dikembangkan reaksi ketidaksepakatan terhadap pende-
dalam studi-studi perataan penghasilan katan klasikal. Perusahaan tidak memilih
semacam Fudenberg dan Tirole (1995), prosedur akuntansi secara independen,
DeFond dan Park (1997), Chaney dan Jeter tetapi lebih mempertimbangkan pada
(1997), Chaney dan Lewis (1998), dan keseluruhan dampak prosedur akuntansi
Sphors (2004). terhadap penghasilan. Pendekatan klasikal
DeFond dan Park (1997) menemukan hanya melibatkan pengujian hubungan
hasil yang membuktikan adanya peng- antara pilihan-pilihan variabel perataan dan
gunaan akrual diskresionari untuk meng- dampaknya terhadap laba laporan (Ronen
alihkan laba periode mendatang ke periode dan Sadan, 1981; Imhoff, 1981; Eckel, 1981;
sekarang. Ketika kinerja perusahaan dirasa Albrecht dan Richardson, 1990).
terlalu rendah dibandingkan ekspektasi Ronen dan Sadan (1981) mengiden-
kinerja mendatang, manajer akan melaku- tifikasi masalah mendasar berkaitan dengan
kan perataan penghasilan dengan mening- pendekatan klasik tersebut. Menurut
katkan akrual yakni meminjam laba tahun mereka dua perilaku perataan (instrumen
depan untuk digunakan pada periode dan objek) dapat berinterkorelasi secara

127
ISSN 1410-8623
Indeks Eckel Sebagai Pengidentifikasi Perataan (Alwan Sri Kustono)

sistematik dalam suatu cara yang meng Metoda Eckel


hasilkan suatu manifestasi tindakan Secara umum, peneliti klasikal yang
perataan. menguji ex-post data memiliki asumsi yang
Observasi yang hanya dilakukan pada sama mengenai rerangka kerjanya. Varia-
satu atau dua instrumen perataan akan bilitas laba yang dinormalisasikan dihasil-
mengarahkan pada simpulan yang keliru kan oleh model ekpektasian tertentu yang
ketika manajemen menggunakan instrumen didalamnya terdapat variabel-variabel
lainnya untuk mengutilisasi perataan motivasi yang mendorong perusahaan
penghasilan. Studi klasikal umumnya hanya melakukan perataan penghasilan.
menggunakan waktu pengamatan yang Rerangka kerja tersebut memiliki
pendek untuk membuat inferensi mengenai beberapa problem inheren. Pertama
perataan yang intertemporal. Sebagai pengujiannya membutuhkan model ekspek-
contoh, manifestasi perataan yang di- tasian tertentu yang sulit diuji kebenaran
observasi dengan mendasarkan dari dan ketepatannya. Jika model ekspektasian
perubahan akuntansi yang terjadi dalam tidak cukup menjelaskan proses meratakan
dua tahun mungkin tidak dapat diterima laba dari serial waktu, inferensi ini membuat
sebagai manifestasi perataan intertemporal. perhatian terhadap variabel pemicu perata-
Pengujian klasikal membutuhkan model an dapat menjadi sekedar fungsi dari error
ekpektansian terspesifikasi untuk laba random. Beberapa peneliti menggunakan
normalisasian dan ini merupakan perkerjaan istilah yang secara yakni model naive
yang sulit. (Et —Et_ 1 ). Ini berarti memprediksi pengasilan
periode sebelumnya menjadi penghasilan
Pendekatan Variabilitas yang diprediksi untuk periode mendatang.
Pendekatan variabilitas merupakan Peneliti lainnya menggunkan model kecen-
antitesis pendekatan klasikal. Peng- derungan (trend) linear, model ekponensial,
anggapan bahwa perubahan salah satu model Box-Jenkins atau beberapa model
metoda atau teknik akuntansi yang dilaku- lainya yang dihasilkan dari penghasilan
kan manajemen merupakan penentu apakah yang dinormalisasikan. Namun hal ini juga
perusahaan melakukan praktik perataan menghadapi problem yang sama dengan
dianggap menyederhanakan masalah. Jika model naive.
pilihan terhadap salah satu variabel Eckel (1981) menyatakan bahwa
akuntansi tunggal menyebabkan profil laba perataan penghasilan tidak dapat serta
yang rata, perusahaan disimpulkan sebagai merta diukur dengan variabilitas sebagai
perata penghasilan. fungsi waktu. Perataan penghasilan seha-
Pendapat berbeda dinyatakan oleh rusnya merupakan fungsi tindakan yang
Eckel (1981). Perusahaan perataan peng- diambil manajemen untuk mengurangi
hasilan dapat saja memilih sejumlah variabel variabilitas penghasilan dan ini bisa
akuntansi yang memiliki efek bersama untuk berakibat mendistorsi realitas ekonomik
meminimisasi variabilitas penghasilan yang perusahaan. Untuk memodelkan argumen
dilaporkan. Sebagai contoh, jika (A) adalah tersebut, empat premis dinyatakan. Per-
set seluruh variabel akuntansi yang dapat tama, Penghasilan adalah fungsi linier dari
diutilisasi oleh perusahaan, dan s mere- penjualan = penjualan—kos variabel- kos
presentasikan satu kemungkinan kombinasi tetap; Kedua, Rasio biaya variabel terhadap
dari variabel-variabel ini, perataan peng- penjualan dalam satuan uang yang konstan;
hasilan dapat dilakukan dengan meminimasi Ketiga, Biaya tetap adalah konstan atau
kombinasi variabel tersebut. meningkat dari periode ke periode, tetapi

128 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

tidak mungkin menurun; Keempat, Pen- atau lebih dari 1 termasuk perusahaan
jualan kotor hanya dapat diratakan dengan bukan perata laba.
perataan yang riil, penjualan kotor tidak Untuk meyakinkan bahwa perusahaan
dapat diratakan secara artifisial. melakukan perataan penghasilan, perlu
dilakukan pengujian tambahan dengan
Jika, menambahkan "filter industri". Pengujian ini
disebut sebagai pengujian berganda.
I=S-VS-FC, dan Prosedur pengujian berganda adalah
FC>0, dan
dengan mengidentifikasi perusahaan
FC t± i >=FC t, dan O<VC<1 dan
sebagai perata dan bukan perata, kemu-
FCt± i----FCt=FC, sehingga
dian dilanjutkan dengan pengujian apakah
CVAs<=CVes
koefisien variasi perusahaan apakah lebih
rendah atau lebih tinggi dibanding rata-rata
Dengan industri. Apabila perusahaan pada pengujian
Al = perubahan penghasilan dalam pertama terkiasifikasi sebagai perata dan
satu periode pada pengujian tahap kedua koefisien
AS perubahan pendapatan dalam variasinya lebih rendah dibanding rata-rata
satu periode koefisien industri maka dapat diyakini bahwa
CVAS = Koefisien variasi untuk perubahan perusahaan tersebut terindikasi sebagai
pendapatan dalam runtun waktu perata.
tertentu
CVAI = Koefisien variasi untuk perubahan Studi Perataan Penghasilan
penghasilan dalam runtun waktu Di Indonesia
tertentu Ilmainir (1993), menguji faktor-faktor
laba dan faktor konsekuensi ekonomi yang
maka Eckel mengusulkan formula sebagai mempengaruhi praktik perataan peng-
berikut untuk mengklasifikasi perusahaan hasilan pada perusahaan publik di Indone-
sebagai perata dan bukan perata sia. Instrumen pengidentifikasi yang
digunakan adalah indeks Eckel. Faktor-
faktor laba yang diuji adalah perbedaan
(AX —)7A)2 antara laba aktual dengan laba normal dan
CVAI dan CVAS = : AX
pengaruh perubahan kebijakan akuntansi
n-1
terhadap laba. Sedangkan faktor-faktor
dimana : konsekuensi ekonomi yang diuji adalah
Ax = Perubahan pendapatan (S) atau ukuran perusahaan, keberadaan peren-
penghasilan (I) antaratahun n dengan canaan bisnis, dan harga saham. Hasil yang
n-1 diperoleh bahwa kedua faktor laba men-
5ZA = Rata-rata dari perubahan pendapatan dorong terjadinya praktik perataan peng-
(S) atau penghasilan (I) hasilan, sedangkan dari faktor-faktor
n = Banyaknya tahun yang diamati. konsekuensi ekonomi hanya faktor harga
saham saja yang mendorong adanya
Perusahaan yang mempunyai nilai praktik perataan penghasilan.
absolut indeks kurang dari satu dikate- Zuhroh (1996) mendukung hasil pe-
gorikan sebagai perusahaan yang melaku- nelitian Ilmainir (1993) bahwa praktik
kan praktik perataan penghasilan. Perusa- manufaktur perataan penghasilan telah
haan yang mempunyai indeks sama dengan terdapat pada perusahaan yang terdaftar di

129
ISSN 1410-8623
Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

dipergunakan untuk mengklasifikasi perata mendifinisikan perataan penghasilan


bukan perata bukan alat ukur yang reliabel. sebagai tindakan yang merujuk pada
Penelitian ini bertujuan menemukan jawaban aktivitas meningkatkan laba pada periode
apakah indeks Eckel yang dipergunakan buruk dan menurunkan laba pada periode
sebagai pengidentifikasi praktik perataan balk. Manajemen melakukan peminjaman
penghasilan cukup reliabel. dan penyimpanan laba.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan
Pengembangan Premis Realibilitas bahwa perataan penghasilan adalah suatu
Indeks Eckel cara yang digunakan oleh manajemen untuk
Pemahaman definisi perataan peng- mengurangi variabilitas arus laba laporan
hasilan diperlukan untuk mengembangkan relatif pada arus laba yang diinginkan
premis reliabilitas instrumen pengukur. Pengurangan fluktuasi laba tersebut
Copeland (1968) mendefinisi perataan mengarah pada tingkatan yang mendekati
penghasilan sebagai perataan untuk tingkatan yang normal. Upaya pengurangan
memoderasi fluktuasi penghasilan dari dapat dilakukan dengan menggunakan
tahun ke tahun dengan menggeser laba dari instrumen akuntansi dan dilakukan pada
periode-periode berhasil ke periode yang beberapa periode dengan menggeser laba
kurang berhasil. Perataan penghasilan yang ke arah tingkat laba yang diekspektasi.
dilaporkan mungkin didefinisi sebagai Definisi-definisi di atas memberikan
penekanan fluktuasi beberapa tingkatan klarifikasi bahwa perataan penghasilan
penghasilan yang dipertimbangkan sebagai seharusnya dilakukan pada periode-periode
ukuran normal untuk suatu perusahaan. yang berurutan. Perataan penghasilan tidak
Ronen dan Sadan (1976) menyatakan mungkin dilakukan hanya pada satu periode
bahwa perataan berarti penekanan variasi tertentu. Rekayasa laba semacam ini tidak
penghasilan pada beberapa periode. terklasifikasi sebagai perataan penghasilan,
Penekanan fluktuasi secara sengaja dilaku- tetapi bisa jadi pengungkitan laba (income
kan untuk mencapai tingkat laba yang Increasing) atau penurunan laba (income
dipertimbangkan normal untuk perusahaan decreasing).Konsekuensi manajemen akrual
tersebut. pada periode sekarang tentu berdampak
Imhoff (1981) menganggap perataan pada pelaporan keuangan periode beri-
penghasilan sebagai upaya untuk membuat kutnya.
tingkat variabilitas penghasilan yang relatif Dua premis yang dapat dikembangkan
rendah. Perataan penghasilan mengimpli- dari definisi tersebut. Pertama, Ketika
kasikan beberapa upaya untuk meng- perusahaan diklasifikasi sebagai perata,
ungkapkan informasi keuangan dengan klasifikasi tersebut konsisten setidaknya
suatu cara sehingga laporan keuangan pada satu periode berturutan. Kedua, Ketika
yang disampaikan secara artifisial arus perusahaan terklasifikasi sebagai perata
penghasilannya memiliki variabilitas yang pada tahun tertentu, maka pemanjangan
rendah. atau pemendekan periode yang diper-
Assih dan Gudono (2000) menyatakan gunakan untuk mengklasifikasi tidak
bahwa perataan penghasilan adalah cara memberikan dampak klasifikasi yang
pengurangan dalam variabilitas laba selama berbeda pada tahun tertentu tersebut.
sejumlah periode tertentu atau dalam satu Premis tersebut diperlukan untuk menguji
periode, yang mengarah pada tingkat yang reliabilitas indeks Eckel sebagai instrumen
diharapkan atas laba yang dilaporkan. pengklasifikasi perilaku perataan. Relia-
Senada dengan hal itu, Spohrs (2005) bilitas alat ukur didasari konsep konsistensi.

ISSN 1410-8623 131


lndeks Eckel Sebagai Pengidentifikasi Perataan (Alwan Sri Kustono)

Reliabilitas adalah tingkat kemampuan perubahan kelompok usaha selama


suatu instrumen pengukur dapat meng- periode 1 Januari 2001 sampai 31
hasilkan data yang konsisten dan bebas dari Desember 2008, perusahaan tidak me-
kesalahan (Indriantoro dan Supomo, miliki ekuitas negatif pada tahun 1999,
1999:257). dan perusahaan tidak mengalami delisting
lndeks Eckel menggunakan n (banyak- pada periode 2000-2008.
nya tahun yang diamati) untuk koefisien
variasi. Hal ini mengharuskan indeks HASIL EMPIRIS
konsisten mengukur perata dan bukan Dalam penelitian ini akan diuji dua
perata pada periode yang berubah-ubah. premis yakni penelaahan konsistensi
pengklasifikasian perata dan bukan perata
METODE PENELITIAN pada serial waktu tertentu. Klasifikasi
Populasi dan Sampel Penelitian perataan penghasilan didasarkan pada
Pengujian konsistensi alat klasifikasi indeks Eckel (1981). Dalam pengujian ini,
perata dan bukan perata yang dikem- peneliti hanya menguji laba setelah pajak
bangkan Eckel (1981), dilakukan dengan sebagai tujuan perataan penghasilan.
menggunakan data empiris Laporan Model pengujian menggunakan analisis
keuangan perusahaan publik yang terdaftar kemunculan. Apabila terdapat ketidak-
di Bursa Efek Indonesia. Populasi yang konsistenan pada salah satu kasus yang
digunakan dalam penelitian ini adalah diuji berdasarkan premis I dan II maka
laporan keuangan perusahaan manufaktur premis tersebut ditolak. Penolakan tersebut
selama periode 1999-2008. Pemilihan menunjukkan bahwa alat klasifikasi yang
populasi hanya pada perusahaan manu- dipergunakan tidak memenuhi syarat
faktur dilandasi pertimbangan bahwa Eckel konsistensi atau tidak reliabel.
menyarankan filterisasi perata dan bukan Pengujian premis I dilakukan dengan
perata berdasarkan industri. Penggunaan menganalisis perusahaan yang terklasifikasi
hanya satu kategori industri memudahkan sebagai perata pada periode yang ber-
untuk penentuan rata-rata koefisien variasi urutan. Serial waktu yang dipergunakan
industri. untuk menentukan klasifikasi ini meng-
Teknik penarikan sampel penelitian ini gunakan tiga tahun, empat tahun, lima
adalah dengan menggunakan metode pur- tahun, dan enam tahun.Apabila dikete-
posive sampling yaitu sampel dipilih atas mukan perusahaan perata yang tidak
dasar kesesuaian karakteristik sampel konsisten diklasifikasi sebagai perata
dengan kriteria pemilihan sampel yang telah setidaknya pada satu periode sebelum atau
ditentukan. Mengikuti penelitian terdahulu, sesudahnya maka disimpulkan bahwa
kriteria sampel yang dipilih dalam penelitian instrumen pengklasifikasian yang diper-
ini adalah perusahaan manufaktur dengan gunakan tidak konsisten. Klasifikasi perata
kriteria berikut: yang hanya satu periode atau pada
Terdaftar di Bursa Efek Jakarta beberapa periode tetapi tidak berturutan
sebelum 1 Januari 1999 dan masih mengindikasi praktik manajemen laba
beroperasi selama periode 1 Januari 2001 tetapi bukan dengan teknik perataan
sampai 31 Desember 2008, perusahaan penghasilan. Bisa jadi manajemen mela-
selalu menerbitkan laporan keuangan kukan pengungkitan laba, penurunan laba,
auditan pada setiap periode pelaporan, atau taking a bath (big bath).
perusahaan tidak melakukan transaksi Data klasifikasi pada tahun pertama
merjer, akuisisi, dan tidak mengalami dan terakhir berdasarkan kelompok peng-

132 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

ujian (sebagai contoh, kiasifikasi tahun 2001 Tabel 1, 2, 3, dan 4 menunjukkan


dan 2008 pada kelompok tiga tahun) hanya pengklasifikasian perata bukan perata
dijadikan pertimbangan konsistensi untuk dengan menggunakan indeks Eckel. Pada
kiasifikasi tahun sesudah atau sebelumnya. tabel 1 tahun yang dipergunakan untuk
Hal ini untuk menghindari salah simpulan penghitungan tersebut adalah 3 tahun yakni
karena klasifikasi tahun sebelumnya (2000) tahun berjalan dan dua tahun sebelumnya.
atau sesudahnya (2009) tidak diobservasi. Pendapatan dan laba laporan tahun 1999,
Pengujian premis II dilakukan dengan 2000, dan 2001 merupakan determinan
mengklasifikasi perusahaan pada tahun menentukan koefisien variasi pendapatan
tertentu dengan serial runtun waktu yang dan laba sebagai basis kiasifikasi tahun
berbeda-beda. Serial ini menggunakan tiga 2001. Dengan kata lain, kiasifikasi perata
tahun, empat tahun, lima tahun, dan enam dan bukan perata tahun 2001 didasarkan
tahun. atas data tahun 1999, 2000, dan 2001.
Klasifikasi pada tahun tertentu seharus- Demikian seterusnya sampai dengan
nya tidak berubah meskipun serial waktu klasifikasi untuk tahun 2008.
yang digunakan berbeda-beda. Analisis Angka indeks yang kurang dari 1
dilakukan terhadap konsistensi kiasifikasi diklasifikasi sebagai perata, lebih besar dari
tersebut. Perubahan klasifikasi karena 1 diklasifikasi bukan perata. Mengikuti Eckel
perubahan periode yang digunakan meng- (1981), maka hasil tersebut kemudian
indikasi alat ukur pengklasifikasi tidak ditandingkan dengan filter industri yakni
konsisten. rata-rata koefisien variasi industri. Jika
Perusahaan yang menjadi sampel perusahaan terkiasifikasi sebagai perata
penelitian sejumlah 52 perusahaan. Kese- pada penghitunga peratama dan koefi-
luruhan perusahaan tersebut telah meme- siennya lebih kecil dari rata-rata industri
nuhi kriteria yang ditetapkan pada batasan maka diklasifikasi sebagai perata. Jika lebih
sampel. Daftar lengkapnya disajikan pada besar maka perusahaan tersebut dikla-
lampiran 1. sifikasi bukan perata.

Tabel 1
Klasifikasi Perata Yang Tidak Beurutan Dalam Serial Waktu
(Penghitungan menggunakan periode tiga tahunan)

No Keterangan Tahun

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

1 Sampel ke 4 1 0 1 1 1 1 0 0
2 Sampel ke 7 0 1 1 1 1 1 1 1
3 Sampel ke 13 1 1 1 0 1 1 1 1
4 Sampel ke 14 0 1 1 0 1 1 1 1
5 Sampel ke 15 1 0 1 1 0 0 0 0
6 Sampel ke 19 0 1 1 1 0 1 1 1
7 Sampel ke 21 0 1 1 1 0 1 1 0
8 Sampel ke 24 0 1 1 1 1 1 0 1
9 Sampel ke 26 1 0 1 1 1 1 1 0
10 Sampel ke 29 1 1 0 1 1 1 1 0
11 Sampel ke 36 1 1 0 1 1 1 1 1
12 Sampel ke 42 1 1 1 0 1 1 1 1
13 Sampel ke 48 0 0 1 0 1 1 1 1

Rata-rata CV industri 15,5611 16,9709 22,1177 30,7718 10,1452 11,3432 10,8216 9,8371

ISSN 1410-8623 133


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

Hasil penghitungan menunjukkan tahunan, lima tahunan, atau enam tahunan


bahwa untuk kategori perata tiga tahunan, bisa jadi terklasifikasi sebagai perata.
dari 52 sampel perusahaan publik 13 Tabel 5 pada lampiran menyajikan
sampel perusahaan terklasifikasi sebagai bahwa dari 52 sampel perusahaan manu-
perata pada tahun tertentu dan tidak faktur, 29 perusahaan mengalami peru-
terklasifikasi sebagai perata pada tahun bahan klasifikasi karena perubahan periode
berikutnya. Untuk kategori empat tahunan yang dipergunakan untuk menghitung
ada 9 sampel, kategori lima tahunan 1 koefisien variasi. Hasil ini menunjukkan
sampel, dan kategori enam tahunan 2 adanya ketidakkosistenan klasifikasi karena
sampel perata yang tidak terklasifikasi yang perubahan jumlah tahun yang diper-
sama pada tahun berikutnya. gunakan dalam perhitungan.
Premis pertama menyatakan bahwa
ketika perusahaan dikiasifikasi sebagai PEMBAHASAN
perata, klasifikasi tersebut konsisten Indeks Eckel merupakan instrumen
setidaknya pada satu periode berturutan. pengkalsifikasi perusahaan sebagai perata
Hasil pengujian menunjukkan bahwa balk dan bukan perata yang paling banyak
untuk periode tiga tahun, empat tahun, lima dipergunakan pada studi-studi perataan
tahun dan enam tahun ada sampel yang penghasilan di Indonesia. Beberapa teori
tidak nnennenu hi syarat-syarat sesuai dengan dijadikan landasan untuk menemukan
premis pertama. Mengikuti batasan definisi motivasi yang mendorong manajemen
bahwa praktik perataan penghasilan melakukan perataan. Studi-studi terdahulu
seharusnya dilakukan setidaknya pada dua tersebut menemukan determinan perataan
periode yang berurutan, maka klasifikasi penghasilan yang berbeda-beda. Hal itu
berbasis indeks Eckel tidak memberikan memperlihatkan adanya ketidakkonsistenan
jaminan yang cukup untuk memenuhinya. temuan untuk menolak atau gagal menolak
Praktik "perataan penghasilan" yang sebuah teori.
dilakukan hanya pada satu periode saja Pengujian konsistensi terhadap indeks
seharusnya dikelompokkan pada teknik Eckel menyediakan keyakinan terhadap
manajemen laba lainnya seperti, peng- andal atau tidaknya alat uji yang diper-
ungkitan laba atau penurunan laba. gunakan. Mengikuti definisi Scott (2000)
Tabel 1,2,3, dan 4 dapat pula diinter- bahwa manajemen laba dapat dikelom-
pretasi untuk pengujian pernyataan pada pokkan menjadi 4 kelompok.
premis II. Premis II menyatakan bahwa Teknik taking a bath dilakukan pada saat
ketika perusahaan terklasifikasi sebagai perusahaan dalam kondisi buruk atau pada
perata pada tahun tertentu, maka peman- saat pergantian CEO. Pada kondisi kinerja
jangan atau pemendekan periode yang perusahaan di masa mendatang diekspek-
dipergunakan untuk mengklasifikasi tidak tasi buruk manajer akan melakukan per-
memberikan dampak klasifikasi yang geseran biaya mendatang menjadi biaya
berbeda pada tahun tertentu tersebut. Hasil periode sekarang. Manajer akan melakukan
pengujian memperlihatkan bahwa dengan penghapusan beberapa aset dengan tujuan
mempergunakan jumlah tahun yang ber- untuk menurunkan jumlah biaya yang diakui
beda untuk menghitung koefisien variasi di masa mendatang lebih rendah dan laba
memberikan klasifikasi yang berbeda pula. menjadi lebih tinggi. Teknik ini dilakukan
Perusahaan yang berbasis penghitungan dengan mengakui adanya biaya periode
tiga tahunan terklasifikasi sebagai perata, mendatang sebagai kerugian pada periode
jika dihitung dengan menggunakan empat berjalan.

135
ISSN 1410-8623
lndeks Eckel Sebagai Pengidentifikasi Perataan (Alwan Sri Kustono)

Teknik minimisasi laba dilakukan pada 5 mengungkapkan bahwa indeks Eckel


saat laba riil perusahaan melampaui target gagal memenuhi syarat realibilitas. Bebe-
yang ditetapkan. Perusahaan dapat mela- rapa sampel terklasifikasi sebagai perata
kukan penghapusan aktiva tetap dan aktiva hanya pada satu periode saja. Dengan kata
tak berwujud, mengakui pengeluaran- lain, klasifikasi yang dihasilkan indeks Eckel
pengeluaran sebagai biaya, mengakui adalah bias.
biaya eksplorasi, serta menggeser beban Hasil pengujian pada tabel 5 lampiran
biaya periode mendatang menjadi beban 1 memperlihatkan bahwa pada sebagian
periode sekarang. Tindakan ini dilakukan sampel perubahan jumlah tahun (periode)
dengan tujuan menurunkan laba sehingga yang dipergunakan untuk menghitung
perusahaan tidak menjadi sorotan publik, koefisien variasi (basis klasifikasi) mem-
kepentingan pajak, dan mengindari tuntutan berikan hasil yang berbeda. Perusahaan
monopoli. yang terklasifikasi perata pada kelompok
Teknik maksimisasi laba bertujuan untuk penghitungan tertentu, bisa terklasifikasi
melaporkan laba laporan yang tinggi yang sebagai bukan perata pada kelompok
memenuhi syarat-syarat kompensasi atau penghitungan lainnya.
bonus. Manajer akan memanipulasi data Dua hasil pengujian tersebut mem-
akuntansi akrual sehingga laba akan naik berikan kemungkinan ketidakkonsistenan
dan jumlah bonus juga akan meningkat. determinan perataan di Indonesia. Peneliti
Teknik ini dapat dilakukan dengan menunda yang menggunakan data tiga tahun untuk
pengakuan biaya dan mempercepat mengklasifikasi perata dan bukan perata,
pengakuan pendapatan dengan melakukan kemungkinan akan berbeda dengan peneliti
transaksi-transaksi yang mendorong yang mempergunakan data empat, lima
penambahan jumlah pendapatan. atau enam tahun.
Perataan penghasilan. Teknik ini Faktanya bisa jadi sama, lingkungannya
dilakukan dengan meratakan arus laba bisa jadi juga sama yaitu Bursa Efek Indo-
laporan antar periode sehingga profil nesia, tetapi jika alat klasifikasinya tidak
labanya lebih pasti, stabil dan sesuai reliabel maka simpulannya akan berbeda.
dengan ekpektasi pasar. Kondisi ini mungkin yang menyebabkan
Definisi yang diungkapkan Scott ketidakkosistenan temuan determinan
memberikan batasan bahwa perataan perataan penghasilan di Indonesia pada
penghasilan dilakukan antar periode. studi terdahulu. Penelitian dengan tahun
Dengan kata lain bahwa tindakan perataan pengklasifikasian sama tetapi meng-
penghasilan tidak hanya bisa dilakukan gunakan banyaknya tahun yang berbeda
pada satu periode saja. Tindakan mana- untuk penentuan koefisien variasi meng-
jemen laba pada satu periode diklasifikasi hasilkan simpulan yang mungkin berbeda.
sebagai taking a bath, minimisasi laba atau Indeks Eckel sangat rentan dengan
maksimisasi laba. Konsekuensi dari definisi perubahan n-1 sebagai penentu koefisien
ini, alat ukur untuk mengidentifikasi perata variasi. Eckel (1981) tidak menyatakan
seharusnya mampu menangkap fenomena apapun mengenai berapa periode instru-
perataan penghasilan sesuai dengan definisi men yang dikembangkannya optimal.
"antar periode". Kegagalan untuk meng- Ketiadaan batasan ini memberikan kele-
ungkapkan fenomena ini akan menimbulkan luasaan peneliti untuk menentukan periode
efek pada kegagalan menyajika simpulan yang dipergunakan. Keleluasaan tersebut
yang terpercaya. kemudian itu harus dibayar dengan simpulan
Hasil pengujian pada tabel 1,2,3,4, dan studi yang tidak reliabel.

136 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

KESIMPULAN DAN SARAN yang mungkin menyebabkan manajemen


Studi terdahulu mengenai perataan mengubah kebijakan perataan penghasilan
penghasilan di Indonesia mengidentifikasi pada periode tertentu sehingga menjadi
bahwa sebagian perusahaan publik di In- kebijakan yang non intertemporal. Penelitian
donesia melakukan perataan penghasilan. mendatang perlu mengidentifikasi peristiwa-
Beberapa peneliti menemukan adanya peristiwa luar biasa perusahaan semacam
pemicu manajemen melakukan kebijakan itu.
tersebut namun tidak konsisten antar satu Studi ini tidak menelaah kondisi
penelitian dengan penelitian lainnya. keuangan perusahaan, sehingga seluruh
Ketidakkosistenan hasil temuan studi sampel dianggap memiliki kondisi ke-
tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai uangan yang sederajat. Penelitian men-
sebab musababnya, yakni apakah karena datang perlu mempertimbangkan keadaan
situasi pasar modal di Indonesia atau keuangan perusahaan sehingga pemba-
karena alat ukur yang tidak reliabel. hasannya akan lebih kaya.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan Studi ini menggunakan hanya pada
jawaban apakah indeks Eckel yang diper- satu sektor industri yakni manufaktur.
gunakan sebagai pengidentifikasi praktik Penelitian mendatang perlu dilakukan
perataan penghasilan pada sebagian besar dengan memperluas pengujian pada
studi di Indonesia cukup reliabel. sektor-sektor lainnya sehingga memberikan
Hasil pengujian terhadap premis yang simpulan yang lebih komprehensif.
diusulkan menunjukkan bahwa indeks Eckel Studi ini menguji terbatas pada
tidak memiliki kemampuan untuk menang- pengujian konsistensi indeks Eckel. Alat
kap praktik perataan penghasilan antar pengklasifikasi perata dan bukan perata
periode. Beberapa perusahaan terklasifikasi cukup beragam. Penelitian mendatang
sebagai perata hanya pada satu tahun perlu melakukan pengujian terhadap
tertentu saja, sehingga menyimpang dari instrumen-instrumen tersebut sehingga tidak
definisi perataan penghasilan. terjadi kesalahan simpulan karena alat uji.
Klasifikasi berdasar indeks Eckel untuk Penemuan alat ukur yang reliabel akan
satu perusahaan juga dapat berubah-ubah membuka ruang baru untuk penelitian
karena adanya perubahan periode yang determinan perataan penghasilan yang
dipergunakan untuk menentukan koefisien lebih dapat dipertanggungjawabkan.
variasi. Perubahan klasifikasi ini menun-
jukkan bahwa indeks Eckel tidak reliabel REFERENSI
sebagai alat pengidentifikasi perata dan Albrecht, W.D. and F.M. Richardson. (1990).
bukan perata. Eckel juga tidak memberikan Income smoothing by economy sec-
batasan periode yang seharusnya diper- tor. Journal of Business Finance and
gunakan untuk penghitungan. Accounting17(5): 713-730.
Dari temuan-temuan tersebut, ketidak- Archibald, T.R. (1967). The return to straight-
konsistenan determinan perataan pada line depreciation: An analysis of a
studi-studi terdahulu di Indonesia dapat change in accounting method. Journal
diduga karena kelemahan alat ukur yang of Accounting Research, Empirical Re-
digunakan. search in Accounting, Selected Studies
5 (Supplement): 164-180.
SARAN Ashari, N., H.C. Koh, S.L. Tan. and W.H.
Studi ini tidak mempertimbangkan Wong. (1994). Factors affecting income
kondisi atau peristiwa luar biasa insidental smoothing among listed companies in

ISSN 1410-8623 137


Indeks Eckel Sebagai Pengidentifikasi Perataan (Alwan Sri Kustono)

Singapore. Accounting and Business - - - - - - Chaney, P.K, and D.C. Jeter. (1992).
Research 24 (96): 291-301. The effect of size on the magnitude of
Assih, P., dan Gudono. (2000). Hubungan long-window earnings response
tindakan perataan penghasilan dengan coefficient. Contemporary Accounting
reaksi pasar atas pengumuman infor- Research 8: 540-560.
masi laba perusahaan yang terdapat Chaney, P.K. and C.M. Lewis. (1995). Earn-
di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset ings management and firm valuation
Akuntansi Indonesia 3 (1): 35-53 under asymmetric information. Journal
Atik, A. and N. gensoy. (2004). Detecting of Corporate Finance 1: 319-345.
income smoothing behaviours of Turk- Chung, R., M. Firth and J.B. Kim. (2005).
ish listed firms through discretionary ac- Earnings management, surplus free cash
counting changes. www.SSR/V.com flow, and external monitoring. Journal
Barnea, A., J. Ronen and S. Sadan, (1975). of Business Research 58: 766- 776
The implementation of accounting ob- Copeland, R.M. (1968). Income smoothing.
jectives: An application to extraordinary Journal of Accounting Research,
items. The Accounting Review. 58-68. EmpiricalResearch in Accounting, Se-
Barnea, A., J. Ronen and S. Sadan. (1976). lected Studies6 (Supplement): 101-116.
Classificatory smoothing of income with Cushing, B.E. (1969). An empirical study of
extraordinary items. The Accounting changes in accounting policy. Journal
Review. 110-122. ofAccounting Research (Autumn): 196-
Beattie, V., S. Brown, D. Ewers, B. John, 203.
S. Manson, D.Thomas andM. Turner. Dascher, P.E. and R.E. Malcolm. (1970). A
(1994). Extraordinary items and income note on income smoothing in the
smoothing: A positive accounting ap- chemical industry. Journal of Account-
proach. Journal of Business Finance ing Research (Autumn): 253-259.
and Accounting 216: 0306-686X DeFond, M., and J. Jiambalvo (1994).
Beaver, W.H. (2002). Perspectives on recent Debt covenant violations and manipu-
capital market research. The Account- lation of accruals. Journal of Account-
ing Review. 453-74. ing and Economics 17: 145-176.
Booth, G.G., J.P. Kallunki and T. Marti- DeFond, M., and C. Park, (1997). Smooth-
kainen. (1996). Post-announcement drift ing income in anticipation of future earn-
and income smoothing: Finnish evi- ings. Journal of Accounting and Eco-
dence. Journal of Business Finance & nomics 23 (2): 115-139.
Accounting23(8): 1197-1211. Dey, A. (2004). Income smoothing and so-
Brayshaw, R.E. and A.E.K. Eldin. (1989). The phisticated investor preferences.
smoothing hypothesis and the role of wwwSSRIV.corn
exchange differences. Journal of Busi- Dopuch, N. and D.F. Drake. (1966). The ef-
ness Finance and Accounting 16(5) fect of alternative accounting rules for
(Winter): 621-633.Eckel, N. 1981. The nonsubsidiary investments. Journal of
income smoothing hypothesis revis- Accounting Research, Empirical Re-
ited. Abacus17 (1): 28-40. search in Accounting, Selected Studies
Carlson, S.J. and C.T. Bathala. (1997). Own- 4 (Supplement): 192-219.
ership differences and firms' income Dwiatmini, Sesilia dan Nurkholis. (2001).
smoothing behavior. Journal of Busi- Analisis reaksi pasar terhadap informasi
ness Finance and Accounting 24(2) laba: kasus praktik perataan laba pada
(March): 179-196. perusahaan yang terdaftar di BEJ.

138 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

TEMA.Vol.11 : No. 1: 35 - 48. sahaan yang terdaftar di BEJ. Jurnal


Fudenberg, D. and J. Tirole. (1995). A theory Bisnis dan Akuntansi Vol. 2(2): 145-155.
of income and dividend smoothing Jin, L.S., dan Mas'ud Machfoedz. (1998).
based on incumbency rents. Journal of Faktor-faktor yang mempengaruhi
Political Economy103(1): 75-93. praktik perataan penghasilan pada
Glaum, M., K. Lichtblau and J. Lindemann. perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
(2004). The Extent of Earnings Manage- Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indone-
ment in the U.S. and Germany. Journal sia 1 (2): 174-191.
of International Accounting Research 3 Juniarti dan Corolina. (2006). Analisa faktor-
(2): 45-77 faktor yang berpengaruh terhadap
Godfrey, J.M., and K.L. Jones. (1999). Po- perataan laba (income smoothing)
litical cost influences on income pada perusahaanperusahaan go pub-
smoothing via extraordinary item clas- lic. http://wwwpetra.ac.id/ ---pusligour-
sification. Accounting and Finance 39 nals/dkphp7Department1D--AKU
(3): 229-254. Kamarudin, K. A. B., W. A. B. W Ismail, and
Gordon, M.J. (1964). Postulates, principles M. K. Ibrahim. (2003). Market percep-
and research in accounting. The Ac- tion of income smoothing practices:
counting Review39: 251 -263. Malaysian evidence. Working paper.-
Herrmann, D., T. Inoue, and W. Thomas. http://siness.org/ biz 2003proceedings/
(2001). The relation between incremen- Khairul%20Kamarudin%201 .pdf
tal subsidiary earnings and future stock Kim, Y, Liu, C. and S.G. Rhee. (2003). The
returns in Japan. Journal of Business Effect of firm size on earning mana-
Finance & Accounting (November/De- gement. www.hawaii.edu/---fima/PF/
cember): 1.25. Finance Seminar
Ilmaniar. (1993). Perataan penghasilan dan Kustono, Alwan Sri. (2008). Motivasi Pera-
faktor-faktor pendorongnya pada taan Penghasilan. Jurnal RisetAkuntansi
perusahaan publik di Indonesia. Tesis, Indonesia. Vol 11 No. 2:135-157.
UGM, Yogyakarta Masodah. (2007). Praktik perataan laba
- - - - - - - Imhoff, E.A (1977). Income smooth- sektor industri perbankan dan lembaga
ing -A case for doubt. Accounting Jour- keuangan lainnya dan faktor yang
nal 85-100. mempengaruhi. Proceeding Pesat Vol
Imhoff, E.A. (1975). Income smoothing: The 2: 16-22.
role of management: A comment. The Michelson, S., J.J. Wagner and C.W.
Accounting Review. 118-121. Wooton. (1995). A Market based analy-
Imhoff, E.A. (1981). Income smoothing: an sis of income smoothing. Journal of
analysis of critical issues. Quarterly Re- Business Finance and Accounting
view of Economics and Business 21(3): 228:0306-686X.
23-42. Michelson, S., J.J. Wagner and C.W.
Iniguez, R. and F. Poveda. (2004). Long- Wooton. (2000).The Relationship be-
run abnormal returns and income tween the Smoothing of Reported In-
smoothing in the Spanish stock mar- come and Risk-Adjusted Returns. Jour-
ket. European Accounting Review 13 nal of Economics and Finance 24 (2)
(1):105 - 130. :141-159.
Jatiningrum. (2000). Analisis faktor-faktor Moses, O.D. (1987). Income Smoothing and
yang berpengaruh terhadap perataan Incentives: Empirical Test Using Acco-
penghasilan bersih/laba pada peru- unting Changes. The Accounting

ISSN 1410-8623 139


lndeks Eckel Sebagai Pengidentifikasi Perataan (Alwan Sri Kustono)

Review62 (2): 358-377. Jumal RI:set Akuntansi Indonesia 3 (1):


Muchammad, A. (2001). Faktor-faktor yang 17-34.
mempengaruhi tindakan perataan laba/ Sarkar, J., S. Sarkar. and K. Sen. (2006).
income smoothing. Skripsi S-1 tidak Board of directors and opportunistic
diterbitkan. Fakultas Ekonomi Jurusan earnings management: evidence from
Akuntansi Universitas Airlangga Sura- India. www. SSRN.com
baya. Scott, W.R. (1997). Financial Accounting
Mursalim. (2005). Income Smoothing dan Theory. Prentice Hall, Scarborough.
Motivasi Investor: Studi Empiris pada Spohr, J. (2004). Testing for income smooth-
Investor di BEJ.Kumpulan Makalah. ing with discretionary accruals. (online),
SNA VIII Solo, 15 -16 September 2005 (http://vvww.hecer.fi/FDPE/documents/
Nasser, E.M. dan Herlina. (2003). Pengaruh pastseminars/ seminarcapital ohel-
size, profitabilitas dan leverage terha- ma104. pdf. diakses 21 Desember
dap perataan laba pada perusahaan go 2008.
publik. Jurnal Ekonomi vol. 7(3): 291- Stolowy, H., and G. Breton. (2000). A frame-
305 work for the classification of accounts
Noor, Y. M. (2004). Faktor-Faktor yang manipulations. Paper. EAA Annual
Mempengaruhi Praktik Perataan Peng- Meeting (Munich).
hasilan Bersih pada Lembaga Ke- Subekti, I. (2005). Asosiasi antara praktik
uangan yang Terdaftar pada BEJ. Perataan Penghasilan dan reaksi pasar
Skripsi S-1 tidak diterbitkan.Fakultas modal di Indonesia. Makalah. Simpo-
Ekonomi Jurusan Akuntansi Universi- sium Nasional Akuntansi VIII: 223-237.
tas Airlangga Surabaya. Suranta, E. dan P.P. Merdiastusi. (2004). In-
Park, Y.W. and H. Shin. (2004). Board com- come smoothing, Tobin's Q, agency
position and earning management in problems dan kinerja perusahaan.
Canada. Journal of Corporate Finance Makalah. Kumpulan Materi Simposium
10: 431-457 Nasional Akuntansi (SNA) Ill. Denpasar
Prasetio. (2002). Pengaruh tingkat profita- Bali: 340-358
bllitas perusahaan dan leverage operasi Suwito, E., dan A. Herawaty. Analisis
terhadap tindakan perataan laba pada pengaruh karakteristik perusahaan
perusahaan manufaktur yang terdaftar terhadap tindakan Perataan Peng-
di BEJ periode 2003 - 2006. Skripsi. hasilan yang dilakukan oelh perusa-
Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. haan yang terdaftar di Bursa Efek
Ronen, J. and S. Sadan. (1975). Classifica- Jakarta. Makalah. Simposium Nasional
tory smoothing: Alternative income Akuntansi VIII. 136-146.
models. Journal of Accounting Re- White, G.E. (1970). Discretionary account-
search (Spring): 133-149. ing decisions and income normaliza-
Ronen, J. and S. Sadan. (1981). Smooth- tion. Journal of Accounting Research
ing income numbers, objectives, (Autumn): 260-273.
means, and Implications. Reading, MA, White, G.E. (1970). Discretionary account-
Addison Wesley. ing decisions and income normaliza-
Salno, H.M, dan Z.Baridwan. (2000). tion. Journal of Accounting Research:
Analisis perataan penghasilan (income 260-273.
smoothing): Faktor-faktor yang mem- White, G.E. (1972). Effects of discretionary
pengaruhi dan kaitannya dengan kinerja accounting policy on variable and de-
saham perusahaan publik di Indonesia. clining performance trends. Journal of

140 ISSN 1410-8623


Finance and Banking Journal, Vol. 12 No. 2 Desember 2010

Accounting Research (Autumn): 351- penghasilan pada perusahaan go


358. publik di Indonesia. Tesis, Program
Zuhroh, D., (1996). Faktor-faktor yang Pasca Sarjana Universitas Gadjah
berpengaruh pada tindakan perataan Mada, Yogyakarta.

***

ISSN 1410-8623 141