Anda di halaman 1dari 11

Papper Farmakologi II

Anti Ektoparasit

Jaka Sarpendi Tarigan

1802101010055

Kelas 4

082285531265

FAKULTAS KEDOKTER HEWAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

BANDA ACEH 2020


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga penyusunan makalah, dengan judul “Anti Ektoparasit“ ini
dapat diselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas
Farmakologi veteriner II dan menambah pengetahuan Mahasiswa, khususnya mahasiswan
Fakultas kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala di dalam bidang faramakologi
terutama yang berhubungan dengan obatan-obatan yang digunakan sebagai obat anti parasit.
Saya harap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta menjadi jembatan bagi saya
untuk menyusunan makalah selanjutnya. Saya sadar bahwa di dalam makalah ini masih jauh
dari sempurna. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Daik Lingga, 25 September 2020

Jaka Sarpendi Tarigan

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................i

BAB I

PENDAHULUAN................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................1

1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................1

BAB II

PEMBAHASAN...................................................................................................2

2.1 Anti Ektoparasit...........................................................................................2

2.3 Jenis Anti Ektoparasit..................................................................................2

BAB III

PENUTUP............................................................................................................7

3.1 Kesimpulan..................................................................................................7

3.2 Saran............................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................8

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Parasit adalah suatu organisme lebih kecil yang hidup menempel pada tubuh organisme
yang lebih besar yang disebut host atau induk semang. Parasit merupakan organisme yang
hidupnya merugikan induk semang yang ditumpanginya. Keberadaan parasit pada tubuh host
dapat bersifat sebagai parasit sepenuhnya dan tidak sepenuhnya sebagai parasit.
Ada beberapa sifat hidup dari parasit seperti parasit fakultatif, obligat, insidentil
temporer dan permanen. Penyebarannya di atas permukaan bumi dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya siklus hidup, iklim, dan kebersihan. Biasanya hospes atau induk semang
yang jadi sasarannya bisa berupa hospes definitif (akhir), insidentil, carrier, perantara dan
hospes mekanik.
Banyak sekali dampak yang disebabkan oleh parasit. Yang paling terlihat adalah
perubahan penampilan dari hewan yang terkena parasit baik bulu yang terlihat kusam hingga
tubuh yang tampak kurus akibat nutrisi yang diserap parasit. Kerugian materi juga dapat
terjadi ketika parasit menyerang hewan ternak yang digunakan untuk produksi daging, susu
maupun telur. Hal ini dikarenakan nutrisi yang dibutuhkan dalam produksi dimanfaat oleh
parasit sehingga menurunkan produktifiktas baik kualitas dan kuantitas.
Parasit ini terbagi atas endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit adalah parasit yang
berada di dalam tubuh host dan sebagian besar dari golongan nematoda (cacing). Sedangkan
ektoparasit merupakan parasit yang menempel pada bagian luar tubuh hostnya dan sebagian
besar dari golongan insekta (serangga). Dalam kesempatan ini akan disampaikan mengenai
anti ektoparasit untuk menghindari dan mengobati dari ektoparasit.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud anti ektoparasit ?


2. Apa saja yang termasuk anti ektoparasit ?
1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud anti ektoparasit.


2. Memahami dan mengetahui jenis dan penggunaan anti ektoparasit.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anti Ektoparasit

Anti ektoparasit merupakan anti parasit yang dikhususkan untuk parasit


yang berada di luar tubuh. Sebagian besar parasit tersebut hidup di permukaan
kulit. Idealnya, sebuah anti ektoparasit memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

1. Membunuh semua parasit dalam setiap fase hidup.


2. Berkerja cepat.
3. Toksisitas rendah pada inang.
4. Kompatibel pada berbagai variasi aplikasi.
5. Ekonomis dan mudah digunakan.
6. Residu pada inang seminimal mungkin.
7. Dapat didetoksikasi oleh lingkungan.

2.3 Jenis Anti Ektoparasit

a. Ivermectin
Golongan : Ivermectin adalah antiparasit yang merupakan golongan derivat macrocyclic
lactones dari bakteri Streptomyces avermitilis
Indikasi :

        Broad spectrum anti-parasite (endo dan ekto)

        Mencegah dan melawan infeksi heartworm, membersihkan larva heartworm,


strongyloidiasis, ascariasis, trichuriasis, filariasis, enterobiasi.

        Perawatan mite pada telingga

        Perawatan untuk sarcoptic, notoedric atau demodectic mange dan beberapa kutu, lalat, flies
dan fleas

        Cacing pada saluran pencernaan, cacing paru paru,cacing hidung, kutu dan caplak pada
sapi, kambing , domba, babi, anjing dan kucing.

2
Aplikasi :
         Obat ini bekerja dengan mengikat dan mengaktifkan glutamate-gated chloride channels
(GluCls) yang merupakan ligan ion channels neurons and myocytes.
         Dapat digunakan pada induk laktasi dan bunting
        Pada anjing dapat digunakan dosis tinggi untuk treatment demodectic dan sarcoptic
        Digunakan untuk mengatasi ascariasis pada reptil secara injeksi dan spray
        Pada kucing dewasa untuk pencegahan cacing & kutu suntikan ivermectin dapat dilakukan
2-4 kali setiap tahunnya.
         Pengunaan :
Sapi : 1 ml per 50 kg berat badan
Kambing,domba : 0,5 ml per 25 kg berat badan
Babi : 1 ml per 33 kg berat badan
Anjing dan kucing :0,2 ml per 10 kg berat badan
 Keterangan :
        Efek samping : dilatasi pupil, sempoyongan (unkordinasi), paralysa, depresi, muntal, diare,
tidak nafsu makan, hipersaliva dan kematian
         Hati-hati penggunaan pada kura-kura dan muncul kontraindikasi
        Berisiko terjadi keracunan pada turunan Collies, Shetland sheepdogs, Australian shepherds,
Merle colored Pomeranians and Old English sheepdogs.
        Ivermectin tidak dianjurkan pada anak kucing berumur kurang dari 2 bulan, karena dapat
menyebabkan keracunan dan mengganggu perkembangan ginjal.

b.  Cyromazin
Golongan : Cyromazin merupakan ectoparasitida dari golongan triazine
Indikasi :Treatment larva lalat terutama Musca domestica

  Aplikasi : Bentuk bubuk putih diberikan secara oral dicampur pada pakan. Digunakan
pada kelinci dan kambing

Keterangan : Menyebabkan moulting dan pupation, dan sintesis chitin

c. Fipronil

  Golongan : Fipronil merupakan anti-ektoparasit dari golongan phenylpyrazole

3
Indikasi :

        Perawatan dan pencegahan kutu, tick, mite, ants, beetles, cockroaches, fleas, ticks, termites,
mole crickets, thrips, rootworms, weevils, dan serangga lain pada anjing dan kucing.

        Fipronil menganggu jalan Cl- mencapai reseptor gamma amino butyric acidpada (GABA)
membran sel syaraf sehingga menghasilkan terminal syaraf malfungsi

Aplikasi
        Diberikan secara topical atau disemprotkan pada anjing dan kucing

         Kucing atau anjing: 1-2 pompa pon BB pada penggunaan botol ukuran 250 ml atau 3-6
pompa untuk botol 100ml

  Keterangan

        Menyebabkan gatal dan merah pada daerah yang disemprot

        Tidak boleh digunakan pada hewan yang hipersensitif

         Hanya untuk bagian luar (kulit)

         Tidak boleh diberikan pada kelinci.

        Tidak boleh mengenai mata dan mulut (berbahaya bila terjilat)

        Tidak boleh dikombinasikan dengan pestisida lain

d. Frontlin
Komposisi : mengandung Fipronil 10%
Indikasi : Untuk pengobatan dan pengendalian kutu (pinjal) pada anjing dan kucing, serta
investasi caplak pada anjing.
Dosis dan Cara Pemakaian : kucing 0.5 ml. anjing dengan berat dibawah 10 kg 0.67 ml
(S). Pada Anjing dengan berat 11 - 20 kg 1,34 ml (M). Anjing dengan berat diatas 20 kg
2.68 ml (L). Cara pemakaian dengan diteteskan pada daerah tengkuk anjing. 
Kemasan 1 kotak berisi 3 pipet @ ukuran S 0.67 ml, M 1.34 ml, L 2.68 ml untuk anjing,
dan 0.5 ml untuk kucing Deptan RI No. I. 0012816 PKC. Obat keras.

4
e. Permetrin.
Permetrin adalah obat pilihan yang direkomendasikan oleh pihak yang paling sebagai
baris pertama pengobatan di kepala, kemaluan, dan kutu tubuh kutu parah, terutama untuk
bayi berusia lebih dari 2 bulan dan anak-anak.  Obat ini adalah racun saraf yang
menyebabkan kelumpuhan dan kematian pada ektoparasit. Hal ini lebih efektif daripada
crotamiton dalam mengobati gejala dan mengurangi kemungkinan infeksi bakteri
sekunder. Satu keuntungan dari permetrin adalah efek residu pada rambut untuk siklus
mencuci rambut beberapa.Perlawanan mungkin telah dikembangkan di banyak daerah,
namun. Dokter di beberapa negara memilih pediculicides berbeda secara bergiliran untuk
mencegah perkembangan resistensi.Permetrin sangat efektif dalam membunuh kutu
dewasa dan nimfa tetapi tidak efektif dalam membunuh kutu (telur). Sebuah sisir bergigi
halus adalah tambahan penting untuk menghilangkan kutu. Pasien harus mencuci rambut
dengan sampo nonmedicated.Sebuah over-the-counter (OTC) konsentrasi 1% (Nix)
mungkin tidak cukup untuk pengobatan kutu kemaluan dan untuk beberapa kasus kutu.
Persiapan resep 5% dipasarkan untuk kudis (Elimite) mungkin lebih efektif dalam
beberapa kasus. Ketaatan pada rejimen pengobatan sangat penting.Pyrethrins dan
butoksida piperonyl (Kekuatan Maksimum RID, Pronto, R & C, A200 Kekuatan
Maksimum) Pyrethrins adalah pengobatan lini pertama di kepala, kemaluan, dan kutu
tubuh kutu parah. Agen ini merangsang sistem saraf parasit, menyebabkan kejang dan
kematian parasit. Ini adalah agen OTC yang lebih tua yang masih muncul untuk menjadi
efektif. Ini tidak memiliki tindakan residu permetrin dan lebih cenderung memerlukan
aplikasi berulang-ulang. Produk pyrethrin dikontraindikasikan untuk pasien dengan alergi
kontak untuk ragweed, terpentin, atau krisan.
f. Malathion (Ovide) 
Malathion disetujui oleh FDA untuk pengobatan kutu. Ini adalah penghambat
kolinesterase ireversibel yang dihidrolisis dan karena itu didetoksifikasi cepat oleh
mamalia tetapi tidak oleh serangga, melainkan baik ovicidal dan pediculicidal. Ia mengikat
rambut dan menyediakan beberapa perlindungan sisa setelah terapi. Malathion tersedia
sebagai 0,5% dan 1% air berbasis lotion.Lihatinformasi obat penuhIvermectin topikal
(Sklice) Ivermectin topikal menyebabkan kematian parasit dengan selektif, afinitas tinggi
mengikat glutamat-gated saluran klorida terletak di saraf invertebrata dan sel otot. Ini
adalah pediculicide topikal yang memperlakukan kutu dengan aplikasi 10-menit tunggal
tanpa nit menyisir pada orang dewasa dan anak usia 6 bulan atau lebih.

5
g. Lindane 
Lindane merangsang sistem saraf parasit, menyebabkan kejang dan kematian. Ini
adalah insektisida diklorinasi tersedia sebagai lotion 1%, krim, dan sampo. Ini adalah
pengobatan lini kedua jika agen lain gagal atau tidak ditoleransi.Lindane sangat tidak
aman pada anak karena penyerapan transkutan yang mengarah ke neurotoksisitas. Pada
bulan Maret 2003, FDA mengeluarkan penasihat peringatan kesehatan masyarakat
peningkatan risiko efek samping pengobatan lindane pada orang yang masih muda, kecil,
atau lanjut usia. Semakin tingginya hati-hati harus dilakukan jika lindane digunakan pada
pasien tersebut. Secara keseluruhan, permetrin adalah pilihan yang lebih aman.
h. Isopropil miristat (Resultz) 
Isopropil miristat tidak tersedia di Amerika Serikat (saat ini dalam tahap uji klinis III),
tetapi tersedia di Kanada dan Eropa. Ini adalah obat non-insektisida berbasis berisi
isopropil miristat, bahan yang biasa digunakan dalam kosmetik. Modus kerjanya adalah
proses mekanik yang melemahkan cangkang lilin kutu, yang mengakibatkan hilangnya
cairan internal dan dehidrasi.
i. Benzil alkohol (Ulesfia, Zilactin) 
Benzil alkohol menghambat kutu dari menutup spirakel pernapasan mereka, yang
memungkinkan lotion untuk menghalangi spirakel, yang akhirnya menghasilkan sesak
napas. Tidak menimbulkan aktivitas ovicidal. Produk ini mengandung benzil alkohol 5%.
j. Spinosad (Natroba) 
Spinosad menyebabkan eksitasi neuron pada serangga, diikuti oleh hyperexcitation,
kelumpuhan, dan kematian. Obat ini adalah pediculicide diindikasikan untuk pengobatan
topikal dari infestasi kutu. Obat ini tersedia sebagai suspensi 0,9%.

6
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa anti ektoparasit digunakan untuk membasmi parasit yang
berada di luar tubuh hewan. Terdapat beberapa hal yang harus dipeuhi anti ektoparasit ideal.
Selain itu juga terdapat beberapa jenis anti ektoparasit yang penggunaan sesuai dengan gejala
klinis dan jenis ektoparasit yang menyerang hewan.

3.2 Saran

Diharapkan pembaca mencari sumber referensi lain untuk menambah wawasan serta
memperbarui ilmu yang ada. Mengingat makalah ini ditulis secara ringkas . selain itu juga
terdapat kekurangan lainnya dalam makalah ini sehingga penulis menerima masukan dari
pembaca.

7
DAFTAR PUSTAKA

Kee,J.L dan Hayes,E.R.1996.Farmakologi.Penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta.

Mycek,M.J dan richard.A.H dan pemela,CC.2001.Farmakologi edisi ke 2.Widya medika :

Jakarta.

Prasetyo, A. E., & Susanto, A. (2019). THE INSECTICIDE EFFECT TO THE ACTIVITY

AND EMERGENCE OF Elaeidobius kamerunicus FAUST (COLEOPTERA:

CURCULIONIDAE) ON OIL PALM (Elaeis guineensis Jacq.) MALE

INFLORESCENCE. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 27(1), 13-24.

Rahmadewi, R. N. O. Kutu Kepala pada Pasien Geriatri dengan Komplikasi Sepsis dan

Anemia: Laporan Kasus (Pediculosis Capitis with Complication Sepsis and Anemia In

Elderly Patient: A Case Report).

Striner,J.L.2009.Konsep dasar farmakologi.Penerbit Buku Kedokteran EGC :Jakarta.

Tjahajati, I. (2006). Pengobatan Filariasis (Kaskado) Pada Sapi Perah Menggunakan

Ivermectin, Doramectin Dan Salep Sulfanilamid. Jurnal Sain Veteriner, 24(2).