Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran adalah suatu perbuatan yang kompleks (a highly
complexion process). Disebut kompleks karena dituntut adanya kemampuan
profesional, personal, dan sosio kultural secara terpadu dalam proses belajar-
mengajar. Dikatakan kompleks juga karena mengandung unsur-unsur seni,
ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan dalam proses belajar-
mengajar. Segala bentuk kompleksitas tersebut harus diarahkan pada
pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pada pasal 3 dijelaskan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab”.
Untuk mencapai tujuan tersebut seharusnya guru menggunakan
banyak pendekatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan tersebut
setidaknya mampu mendorong anak untuk berkreativitas dan mampu
mengembangkan potensi anak. Oleh sebab itu dituntut seorang guru yang
kreatif dan inovatif dalam mewujudkan lingkungan belajar yang
menyenangkan.
Namun masih sangat sering dijumpai guru yang terus menerus menggunakan
strategi pembelajaran konvensional untuk semua materi pembelajaran. Tentu
saja hal ini tidak tepat. Harus ada perubahan ataupun kolaborasi berbagai
strategi dan metode pembelajaran untuk membangkitkan minat siswa, salah
satunya adalah active learning.
2

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini ialah :
1. Apa yang dimaksud active learning?
2. Bagaimana pentingnya active learning?
3. Apa saja prinsip-prinsip active learning?
4. Bagaimana penerapan active learning?
5. Bagaimana strategi pengembangan active learning?

C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan active learning.
2. Untuk mengetahui apa yang pentingnya active learning.
3. Untuk mengetahui apa yang prinsip-prinsip active learning.
4. Untuk mengetahui apa yang penerapan active learning.
5. Untuk mengetahui apa yang strategi pengembangan active learning.

D. Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini ialah dapat digunakan sebagai
bahan materi perkuliahan psikologi belajar dan juga mampu menambah
khasanah ilmu bagi penulis dan pembaca.
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Active Learning


Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu proses pembelajaran
untuk memberdayakan peserta didik agar belajar dengan menggunakan
berbagai cara atau strategi secara aktif. Pembelajaran aktif (active learning)
dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang
dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil
belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka
miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan
untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses
pembelajaran.
Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Mel Silberman memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius
di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning),
yaitu
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa
teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh
pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai (Silberman, 2009:1).
Penambahan yang dilakukan oleh Siberman tentunya dilandasakan
pada keadaan nyata di lapangan. Kebanyakan guru berbicara kurang lebih
100-200 kata per menit. Namun berapa banyak kata yang akan didengar
4

siswa? Ini tergantung pada bagaimana mereka mendengarkan. Jika siswa


benar-benar konsentrasi siswa akan mendengarkan antara 50-100 kata
permenit atau setengah yang dikatakan guru. Untuk mensiasati permasalahan
tersebut sudah seharusnya guru menggunakan strategi pembelajaran yang
menyenangkan dan menempatkan siswa sebagai subjek aktif.
Menurut Richard M. Felder (2008:2), “Active learning is anything
course-related that all students in a class session are called upon to do other
than simply watching, listening and taking notes”. Menurut Daniel Bell and
Jahna Kahrhoff (2006:1), “Active Learning is a process where in students are
actively engaged in building understanding of facts, ideas, and skills through
the completion of instructor directed tasks and activities”.
Active learning pada dasarnya merupakan salah satu bentuk atau jenis
dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik.
Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik mengandung
pengertian bahwa sistem pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai
subyek didik yang aktif dan telah memiliki kesiapan untuk belajar. Dalam
pandangan psikologi modern belajar bukanlah sekedar menghafalkan
sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi merupakan peristiwa mental dan
proses berpengalaman. Oleh karena itu, setiap peristiwa pembelajaran
menuntut keterlibatan intelektual-emosional peserta didik melalui asimilasi
dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan serta
pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan (kognitif,
motorik, dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam
pembentukan sikap.
Tingkatan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan
untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran
di kelas. Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar
anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka
perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggota kelas
yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah
bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula
5

mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih


tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam
konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan
belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning di kelas
menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar
siswa.
Ciri pembelajaran ALIS (Active Learning in School) dalam Hamzah
dan Nurdin (2011), adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran berpusat pada siswa
2. Pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata
3. Pembelajaran mendorong anak untuk berpikir tingkat tinggi
4. Pembelajaran melayani gaya belajar yang berbeda-beda
5. Pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksi multiarah
6. Pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai media atau sumber
belajar
7. Pembelajaran berpusat pada anak
8. Penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan
kegiatan belajar
9. Guru memantau proses belajar siswa
10. Guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja anak
Garman and Piantanida (1996:12 ) setidaknya ada beberapa kategori
pembelajaran aktif, yakni “Physical Activities, Play, Academic Tasks,
Experiential Activities”.
Karakteristik belajar yang dituntut saat ini adalah model pembelajaran
yang dapat membelajarkan siswa secara aktif yang total sesuai dengan potensi
dan perkembangan siswa. Hal ini berarti bahwa guru harus dapat mendesain,
melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran berkadar aktivitas siswa yang
tinggi. Untuk mencapai ke arah itu bukan berarti guru cukup hanya dapat
memilih dan melaksanakan strategi pembelajaran yang diklasifikasikan
sebagai strategi yang dapat meningkatkan aktivitas siswa. Melainkan, guru
harus mampu mulai dari :
6

1. mendesain pembelajaran yang berkarakteristik pada pengembangan


belajar siswa aktif;
2. memotivasi siswa dalam belajar;
3. mengelola kelas sehingga menghasilkan aktivitas yang total;
4. memberikan latihan, praktek atau tugas esensial di sekolah maupun di
rumah yang tepat sehingga dapat mendorong siswa aktif;
5. memilih dan mengunakan strategi belajar yang memiliki karakteristik
aktivitas siswa yang tinggi;
6. mampu memilih dan menerapkan pemberdayaan media dan sumber
belajar dalam mendukung aktivitas siswa dalam belajar, dan;
7. mampu melakukan penilaian secara komprehensif maupun spesifik
sesuai kebutuhan sistem penilaian.
8. Dengan kemampuan tersebut, guru akan dapat mengembangkan
pembelajaran siswa aktif (active learning) secara maksimal.

B. Pentingnya Active Learning


Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik dituntut untuk lebih dari
sekedar mendengarkan. Peserta didik harus membaca, menulis, berdiskusi,
atau terlibat dalam pemecahan masalah. Untuk terlibat secara aktif, peserta
didik harus terlibat dalam kegiatan berpikir yang lebih tinggi seperti
menganalisis, mensisntesis, dan mengevaluasi. Untuk itu active
learning harus dipilih sebagai pendekatan agar peserta didik dapat melakukan
kegiatan-kegiatan belajar serta memikirkan apa yang  dilakukannya untuk
belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa active learning merupakan
teknik mengajar yang efektif. Dibandingkan dengan metode mengajar
tradisional seperti ceramah, peserta didik akan belajar lebih banyak materi,
dapat menyimpan informasi lebih lama, dan lebih dapat menyukai kondisi
kelas. Active learning memungkinkan peserta didik untuk belajar dalam kelas
dengan bantuan pendidik serta peserta didik lainnya.
7

Untuk menerapkan active learning pendidik harus melaksanakan hal


berikut:
1. Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam
proses pembelajaran
2. Berkreasi dan mengembangkan ide/gagasan baru
3. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh peserta didik di
sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
4. Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata kuliah/mata pelajaran bidang
ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
5. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku peserta didik
secara bertahap dan utuh
6. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berkembang
secara optimal sesuai dengan kemampuannya
7. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.

C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif (Active Learning)


Prinsip-Prinsip pendekatan Belajar Aktif (active learning
strategy) yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pendekatan belajar aktif
(active learning strategy) adalah tingkah laku yang mendasar bagi siswa yang
selalu nampak dan menggambarkan keterlibatannya dalam proses belajar
mengajar baik keterlibatan mental, intelektual maupun emosional yang dalam
banyak hal dapat diisyaratkan sebagai keterlibatan langsung dalam berbagai
bentuk keaktifan fisik.
Seorang guru harus memperhatikan beberapa prinsip dalam
menerapkan pendekatan belajar aktif (active learning strategy), sebagaimana
yang diungkapkan oleh Semiawan (1992: 10) dan Zuhairini (1993: 116-118)
bahwa prinsip-prinsip penerapan pendekatan belajar aktif (active learning
strategy) adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Motivasi
Motif adalah daya dalam pribadi seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan sesuatu. Kalau seorang siswa rajin belajar, guru
8

hendaknya menyelidiki apa kiranya motif yang mendorongnya. Kalau


seorang siswa malas belajar, guru hendaknya menyelidiki mengapa ia
berbuat demikian. Guru hendaknya berperan sebagai pendorong,
motivator, agar motif-motif yang positif dibangkitkan dan atau
ditingkatkan dalam diri siswa.
Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi dari dalam diri anak
(intrinsik) dan motivasi dari luar diri anak (ekstrinsik). Motivasi dalam
diri dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak,
keinginan untuk mencoba, dan hasrat untuk maju dalam belajar. Motivasi
dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran, misalnya melalui
pujian, hukuman, misalnya dengan penugasan untuk memperbaiki
pekerjaan rumahnya (Semiawan, 1992: 10).
2. Prinsip Latar atau Konteks
Kegiatan belajar tidak terjadi dalam kekosongan. Sudah jelas,
para siswa yang mempelajari sesuatu hal yang baru telah pula
mengetahui hal-hal lain yang secara langsung atau tak langsung
berkaitan. Karena itu, para guru perlu meyelidiki apa kira-kira
pengetahuan, perasaan, keterampilan, sikap, dan pengalaman yang telah
dimiliki para siswa. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan bahan
pelajaran baru yang hendak diajarkan guru atau dipelajari para
siswa. Dalam mengajarkan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan atau
hewan misalnya, para guru dapat mengaitkannya dengan pengalaman
para siswa dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang dipelihara orang
tuanya, yang berada dilingkungan sekitarnya. Dengan cara ini, para siswa
akan lebih mudah menangkap dan memahami bahan pelajaran yang baru
(Semiawan, 1992: 10).
3. Prinsip Keterarahan kepada Titik Pusat atau Fokus Tertentu
Seorang guru diharapkan dapat membuat suatu bentuk atau pola
pelajaran, agar pelajaran tidak terpecah-pecah dan perhatian murid
terhadap pelajaran dapat terpusat pada materi tertentu. Untuk itu seorang
guru harus merumuskan dengan jelas masalah yang hendak dipecahkan,
9

merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab. Upaya ini akan dapat


membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar serta akan
memberikan arah kepada tujuan yang hendak dicapai secara tepat
(Zuhairini dkk, 1993: 117).

4. Prinsip Hubungan Social atau Sosialisasi


Dalam belajar para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan
rekan-rekan sebayanya. Ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih
berhasil jika dikerjakan secara bersama-sama, misalnya dalam kerja
kelompok, daripada jika dikerjakan sendirian oleh masing-masing siswa.
Belajar mengenai bahan bangunan yang biasanya digunakan oleh
masyarakat dalam membangun rumah tentu saja akan lebih mudah dan
lebih cepat jika para siswa bekerja sama. Mereka dapat dibagi kedalam
kelompok dan kepada setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-
beda. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan
kepribadian anak (Semiawan, 1992: 11).
5. Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Anak-anak pada hakikatnya belajar sambil bekerja atau
melakukan aktivitas. Bekerja adalah tuntutan pernyataan dari
anak. Karena itu, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk
melakukan kegiatan nyata yang melibatkan otot dan pikirannya. Semakin
anak bertumbuh semakin berkurang kadar bekerja dan semakin
bertambah kadar berpikir. Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan
bekerja, mencari, dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal
itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para siswa akan
bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan
kemampuan bekerjanya (Semiawan, 1992: 11).
6. Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Zuhairini dkk (1993: 117) mengungkapkan bahwa “masing-
masing individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Untuk itu
10

para guru diharapkan tidak memperlakukan sama terhadap siswa-


siswanya. Seorang guru diharapkan dapat mempelajari perbedaan itu agar
kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapatlah ditumbuh kembangkan
dengan seoptimal mungkin”.
7. Prinsip Menemukan
Seorang guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada
semua siswanya untuk mencari dan menemukan sendiri beberapa
informasi yang telah dimiliki. Informasi guru tersebut hendaknya dibatasi
pada informasi yang benar-benar mendasar dan ‘memancing’ siswa
untuk ‘mengail’ informasi selanjutnya. Jika para siswa ini diberi peluang
untuk mencari dan menemukan sendiri informasi itu, maka mereka akan
merasakan getaran pikiran, perasaan dan hati. Getaran-getaran dalam diri
siswa ini akan membuat kegiatan belajar tidak membosankan, malah
menggairahkan (Zuhairini dkk, 1993: 117-118).
8. Prinsip Pemecahan Masalah
Seluruh kegiatan siswa akan terarah jika didorong untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu. Guna mencapai tujuan-tujuan, para
siswa dihadapkan dengan situasi bermasalah agar mereka peka terhadap
masalah. Kepekaan terhadap masalah dapat ditimbulkan jika para siswa
dihadapkan kepada situasi yang memerlukan pemecahan. Para guru
hendaknya mendorong para siswa untuk melihat masalah,
merumuskannya, dan berdaya upaya untuk memecahkannya sejauh
taraf  kemampuan para siswa (Semiawan, 1992: 13).
Jika prinsip-prinsip ini diterapkan dalam proses belajar mengajar
nyata dikelas, maka pintu kearah pendekatan belajar aktif (active
learning strategy) mulai terbuka.

D. Penerapan Active Learning


Penerapan active learning dapat diterapkan melalui banyak metode.
Berikut akan dijelaskan beberapa di antaranya:
1. True or False (Benar atau salah)
11

Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang mengajak siswa


untuk terlibat ke dalam materi secara langsung. Metode ini meminta
kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas pernyataan yang
ditulis oleh guru pada masing-masing kartu.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Guru membuat list pernyataan yang berhubungan dengan materi
pelajaran, separuhnya benar dan separuhnya lagi salah. Masing-
masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda.
Jumlah lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa.
b. Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian mereka diminta
untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut. Selanjutnya
guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas
menggunakan cara apa saja untuk menentukan jawaban.
c. Setelah selesai, guru meminta siswa membaca masing-masing
pernyataan dan meminta jawaban dari mereka benar atau salah.
d. Guru memberi masukan untuk setiap jawaban dan menegaskan
bahwa yang dilakukan oleh siswa adalah bekerja bersama.
e. Guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama dalam kelompok
akan membantu kelas.
2. Guided Teaching (Pembelajaran terbimbing)
Metode ini merupakan aktifitas untuk mengetahui tingkat
pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa. Metode ini meminta
kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan
materi yang telah disampaikan oleh guru.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk
mengetahui pikiran dan kemampuan yang mereka miliki.
b. Guru memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk
menjawab pertanyaan dengan meminta mereka untuk bekerja berdua
atau dalam kelompok kecil.
12

c. Guru meminta siswa menyampaikan hasil jawaban mereka,


kemudian guru mencatat jawaban-jawaban mereka.
d. Guru menyampaikan poin-poin utama dari materi, kemudian
meminta siswa untuk membandingkan jawaban mereka dengan poin-
poin yang telah disampaikan. Setelah itu, guru mencatat poin-poin
yang dapat memperluas bahasan materi.

3. Card Sort (Cari Kawan)


Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang bisa digunakan
untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek
atau mereview informasi. Metode ini meminta kepada masing-masing
kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di
kelompoknya.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Guru membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa.
b. Guru meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas
untuk menemukan kartu yang kategorinya sama.
c. Guru meminta siswa mempresentasikan kategori masing-masing di
depan kelas.
d. Guru memberikan poin-poin penting terkait dengan bahan materi.
4. The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)
Metode ini merupakan aktifitas pembelajaran yang digunakan
untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat pentingnya
serta manfaat sinergi. Metode ini meminta kepada siswa untuk menjawab
pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan sharing
bersama seorang siswa di sebelahnya.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada siswa yang
menuntut perenungan dan pemikiran.
13

b. Guru meminta setiap siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan


tersebut secara individual.
c. Setelah selesai, guru meminta mereka untuk berpasangan dan saling
bertukar jawaban dan membahasnya.
d. Guru meminta pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban baru
atas pertanyaan dan memperbaiki jawaban indiviual mereka.
e. Kemudian guru membandingkan jawaban-jawaban mereka.

5. Rotating Roles (Permainan Bergilir)


Metode ini merupakan aktifitas yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap
situasi kehidupan nyata. Metode ini meminta kepada siswa untuk
membuat skenario kehidupan yang nyata berkaitan dengan materi yang
sedang didiskusikan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing
kelompok terdiri dari tiga siswa.
b. Guru memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario
kehidupan nyata yang berkaitan dengan topik diskusi.
c. Kemudian guru meminta satu anggota dari setiap kelompok untuk
menyampaikan skenario kepada kelompok lain. Selanjutnya, setiap
tim mempunyai kesempatan untuk latihan peran utama, dan dalam
skenario tersebut guru konsentrasi pada identifikasi pelaku utama
dalam penggunaan konsep dan kecakapan serta bagaimana
pengembangannya.
d. Setelah selesai, guru mengumpulkan seluruh kelompok untuk diskusi
umum dari poin-poin belajar skenario dan nilai aktifitas di dalamnya.
6. Trading place
14

Metode ini memungkinkan peserta didik lebih mengenal, tukar


menukar pendapat dan mempertimbangkan gagasan, nilai atau
pemecahan baru terhadap berbagai masalah.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Beri peserta didik satu atau lebih catatan-catatan Post-it (tentukan
apakah kegiatan tersebut akan berjalan lebih baik dengan membatasi
para peserta didik terhadap sebuah atau beberapa kontribusi)
b. Mintalah mereka untuk menulis dalam catatan merea salah satu dari
hal berikut:
1) sebuah nilai yang mereka pegang
2) sebuah pengalaman yang telah mereka miliki saat ini
3) sebuah ide atau solusi kreatif terhadap sebuah problema yang
telah anda tentukan
4) sebuah pertanyaan yang mereka miliki mengenai persoalan dari
mata pelajaran
5) sebuah opini yang mereka pegang tentang sebuah topik pilihan
anda
6) sebuah fakta tentang mereka sendiri atau persoalan pelajaran
c. Mintalah peseta didik menaruh (menempelkan) catatan tersebut pada
pakaian mereka dan mengelilingi ruangan dengan atau sambil
membaca tiap catatan milik peserta yang lain.
d. Kemudian, suruhlah para peserta didik berkumpul sekali lagi dan
mengasosiasikan sebuah pertukaran catatan-catatan yang telah
diletakkan pada tempatnya (trade of Post-it notes) satu sama lain.
Pertukaran itu hendaknya didasarkan pada sebuah keinginan untuk
memiliki sebuah nilai, pengalaman, ide, pertanyaan, opini atau fakta
tertentu dalam waktu yang singkat. Buatlah aturan bahwa semua
pertukaran harus menjadi dua jalan. Doronglah peserta didik untuk
membuat sebanyak mungkin pertukaran yang mereka sukai.
e. Kumpulkan kembali kelas tersebut dan mintalah para peserta didik
berbagi pertukaran apa yang mereka buat dan mengapa demikian.
15

(misalnya : Mita : “Saya menukar catatan dengan Sonya karena dia


telah membuat catatan tentang perjalanan ke Eropa Timur. Saya
menyukai perjalanan ke sana karena saya mempunyai nenek moyang
yang berasal dari Hongaria dan Ukraina.
7. TV Komersial
Metode ini dapat menghasilkan pembangunan team (team
building) yang cepat.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
a. Bagilah peserta didik ke dalam team yang tidak lebih dari 6 anggota
b. Mintalah team-team membuat iklan TV 30 detik yang mengiklankan
masalah pelajaran dengan menekankan nilainya bagi meraka atau
bagi dunia
c. Iklan hendaknya berisi sebuah slogan (sebagai contoh “Lebih baik
hidup dengan ilmu Kimia”) dan visual (misalnya, produk-produk
kimia terkenal)
d. Jelaskan bahwa konsep umum dan sebuah outline dari iklan tersebut
sesuai. Namun jika team ingin memerankan iklannya, hal tersebut
baik juga.
e. Sebelum masing-masing team mulai merencanakan iklannya, maka
diskusikan karakteristik dari beberapa iklan yang saat ini terkenal
untuk merangsang kreatifitas (misalnya penggunaan sebuah
kepribadian terkenal, humor, perbandingan terhadap persaingan,
daya tarik sex)
f. Mintalah masing-masing team menyampaikan ide-idenya. Pujilah
kreatifitas setiap orang.
8. The Company You Keep
Metode ini digunakan untuk membantu siswa sejak awal agar
lebih mengenal satu sama lain aktivitas kelas bergerak dengan cepat dan
amat menyenangkan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
16

a. Buatlah datar kategori yang anda pikir mungkin tepat dalam sebuah
kegiatan untuk lebih mengenal pelajaran yang anda ajar. Kategori-
kategori tersebut meliputi:
1) Bulan kelahiran
2) Orang yang suka atau tidak suka suatu objek
3) Kesukaan seseorang
4) Tangan yang digunakan untuk menulis
5) Warna sepatu
6) Setuju atau tidak dengan beberapa pernyataan opini tentang
sebuah isi hangat (misalnya “Jaminan pemeliharaan kesehatan
hendaknya bersifat universal”) Catatan: Kategori dapat pula
dikaitkan langsung dengan materi pelajaran yang diajarkan
b. Bersihkan ruang lantai agar peserta didik dapat berkeliling dengan
bebas
c. Sebutkan sebuah kategori. Arahkan para peserta didik untuk
menentukan secepat mungkin semua orang yang akan mereka
kaitkan dengan kategori yang ada. Misal para penulis dengan tangan
kanan dan penulis dengan tangan kiri akan terpisah menjadi dua
bagian.
d. Ketika para peserta didik telah membentuk kelompok-kelompok
yang tepat, mintalah mereka berjabatan tangan dengan teman yang
mereka jaga. Ajaklah semua untuk mengamati dengan tepat berapa
banyak orang yang ada di dalam kelompok-kelompok yang berbeda.
e. Lanjutkan segera pada kategori berikutnya. Jagalah peserta didik
tetap bergerak dari kelompok ke kelompok ketika anda
mengumumkan kategori-kategori baru.
f. Kumpulkan kembali seluruh kelas. Diskusikan perbedaan peserta
didik yang muncul dari latihan itu.
Metode di atas hanya sebagian kecil penerapan strategi active
learning, pada intinya pembelajaran yang dilaksanakan harus menjadikan
siswa sebagai subjek belajar, bukan objek belajar.
17

E. Strategi Pengembangan Active Learning


Strategi pengembangan active learning adalah cara pandang yang
menganggap belajar sebagai kegiatan membangun makna atau pengertian
terhadap pengalaman dan informasi yang dilakukan oleh siswa bukan oleh
guru, serta menganggap mengajar sebagai kegiatan menciptakan suasana
yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar sehingga
berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya. Ada beberapa cara
membuat siswa aktif, yaitu :

1. Bagaimana menjadikan siswa aktif sejak awal


a. Strategi pembentukan tim yaitu kegiatan pembuka yang baik bagi
siswa yang telah mengenal satu sama lain. Aktivitas ini dapat
memunculkan semangat tim dengan cepat.
b. Strategi penilaian sederhana yaitu cara yang tidak membuat siswa
takut untuk mempelajari apa yang mereka butuhkan dan harapkan.
Cara ini memanfaatkan tekhnik yang mengundang partisipasi
melalui penulisannya, bukan pembicaraannya.
c. Strategi pelibatan belajar langsung yaitu Sebuah kelas bisa dengan
cepat mewujudkan iklim belajar informal yang santai dengan
meminta siswa menggunakan humor kreatif tentang materi pelajaran
yang tengah diajarkan. Strategi ini tidak hanya akan membuat siswa
berhumor ria, namun juga berfikir.
2. Bagaimana membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap secara aktif:
a. Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh yaitu sebuah debat bisa
menjadi metoda berharga untuk meningkatkan pemikiran dan
perenungan, terutama jika siswa diharapkan mengemukakan
pendapat yang bertentangan dengan diri mereka sendiri. Ini
18

merupakan strategi debat yang secara aktif melibatkan tiap siswa di


dalam kelas—tidak hanya mereka yang berdebat.
b. Pengajaran sesama siswa yaitu strategi mudah untuk mendapatkan
partisipasi seluruh kelas dan pertanggung jawaban individu. Strategi
ini memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk bertindak sebagai
“guru” bagi siswa lain.
c. Pengembangan keterampilan yaitu teknik ini memperluas pemeranan
lakon tradisional dengan menggunakan tiga siswa yang berbeda
dalam situasi pemeranan lakon yang sama. Teknik ini menunjukkan
pengaruh dari variasi gaya individual terhadap akibat dari situasi itu.

3. Bagaimana menjadikan belajar tidak terlupakan


a. Strategi peninjauan kembali yaitu menyusun tes peninjauan kembali
dalam bentuk teka-teki silang akan mengundang minat dan
partisipasi siswa.
19

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran “active learning” pada dasarnya merupakan salah satu
bentuk atau jenis dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada
aktivitas peserta didik. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik
mengandung pengertian bahwa sistem pembelajaran menempatkan peserta
didik sebagai subyek didik yang aktif dan telah memiliki kesiapan untuk
belajar.
Pentingnya active learning berangkat dari asumsi bahwa peserta didik
harus membaca, menulis, berdiskusi, atau terlibat dalam pemecahan masalah.
Untuk terlibat secara aktif, peserta didik harus terlibat dalam kegiatan berpikir
yang lebih tinggi seperti menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
Kesemua kegiatan tersebut menuntut siswa untuk aktif bukan pasif.
Metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning
cukup banyak, pada makalah disajikan 9 metode di antaranya: True or False
(Benar atau salah), Guided Teaching (Pembelajaran terbimbing), Card Sort
(Cari Kawan), The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan), Rotating Roles
20

(Permainan Bergilir), Trading place, TV Komersial dan The Company You


Keep.

B. Saran
Kepada pembaca untuk terus meningkatkan pemahaman, wawasan
dan kompetensi yang berkaitan dengan strategi pembelajaran aktif.
Kompetensi yang diperoleh dapat pembaca terapkan ketika memberikan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah maupun ketika memberikan
perkuliahan di perguruan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Muhtadi. Implementasi Konsep Pembelajaran “Active Learning” Sebagai


Upaya Untuk Meningkatkan Keaktifan Mahasiswa Dalam Perkuliahan.
Yogyakarta. UNY. [Online]. Tersedia. staff.uny.ac.id/.../13.... [26-09-
2019]
Garman, Noreen B & Piantanida, Maria. 1996. Introduction To Active Learning A
Module For Educators. Pittsburgh. University of Pittsburgh. [Online].
Tersedia. www.pitt.edu/~ginie/.../pdf/active_learning.pdf [26-09-2019]
Hamzah B Uno & Nurdin Mohamad. 2011. Belajar dengan Pendekatan
PAILKEM. Jakarta. Bumi Aksara.
Richard M. Felder, Rebecca Brent. 2008. Active Learning: An Introduction. North
Carolina. North Carolina State University. [Online]. Tersedia.
www4.ncsu.edu/unity/.../ALpaper(ASQ).pdf [27-09-2019]
Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta. Kencana.
Semiawan, C. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: P.T. Gramedia
Widiasarana Indonesia
21

Silberman, Mel. 2009. Active Learning (terjemahan oleh Sarjuli, dkk)..


Yogyakarta. Pustaka Insan Madani.
T.M.A. Ari Samadhi. Pembelajaran Aktif (Active Learning). Jakarta. TIW.
[Online]. Tersedia. uripsantoso.files.wordpress.com/2011/06/active-
learning_52.pdf [30-09-2019]
Zuhairini. 1993. Psikologi pendidikan. Jakarta:bumi aksara