Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling

http://ojs.unm.ac.id/index.php/JPPK
Volume 1 Nomor 2 Desember 2015. Hal 163-169
p-ISSN: 2443-2202 e-ISSN: 2477-2518

Teori-Teori Bimbingan dan Konseling Karir

Author: Fatmawati Sitepu


Co-Author: Dr. Afdal, M. Pd., Kons
Prof. A. Muri Yusuf, M. Pd
Abstrak
Seseorang dalam memilih dan menentukan karirnya, sebaiknya ia memahami terlebih dahulu
konsep karir menurut ahli agar ia tidak salah dalam menentukan karir. Para polopor teori-teori
bimbingan dan konseling karir mengemukakan pandangannya terhadap karir yang memiliki
konsep berbeda-beda.Namun memiliki kesamaan terhadap tujuan pemahaman karir. Rumusan
masalah pada artikel ini yaitu: Bagaimana konsep bimbingan dan konseling karir menurut para
pelopor teori bimbingan dan konseling karir? Apa tujuan memahami bimbingan dan konseling
karir?.Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan menelaah beberapa jurnal
terkait teori-teori bimbingan dan konseling karir.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa
konsep bimbingan dan konseling karir menurut para pelopor teori-teori bimbingan dan konseling
sebagaimana yang telah dipaparkan pada hasil penelitian, dan Bimbingan dan konseling karir
diterapkan untuk membantu siswa agar: 1) dapat menilai dan memahami dirinya terutama
mengenai potensi-potensi dasar, minat, sikap dan kecakapan, 2) mempelajari dan mengetahui
tingkat kepuasan yang mungkin dapat dicapai dari suatu pekerjaan, 3) mempelajari dan
mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dan minatnya.
Keyword: Teori bimbingan dan konseling karir
Pendahuluan
Pekerjaan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia dewasa yang
sehat jasmani maupun rohani, di manapun dan kapan pun manusia itu berada. Orang akan merasa
sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi
pengangguran. Banyak orang yang mengalami stres dan frustasi dalam hidup ini karena masalah
pekerjaan.Menurut Levinson (dalam Vira, 2012) bahwa komponen terpenting dari kehidupan
manusia dewasa adalah keluarga, dan pekerjaan.Dua komponen itu sangat menentukan
kebahagiaan hidup manusia, sehingga tidak mengherankan jika masalah pekerjaan dan keluarga
sangat menyita seluruh perhatian, energi, dan waktu orang dewasa.Pemahaman terhadap konsep
pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi
seluruh alam pikiran, perasaan mewarnai gaya hidup atau disebut karir merupakan hal yang
penting, karena hal ini menyangkut dengan kesuksesan hidup seseorang. Sebelum seseorang
memilih dan menentukan karirnya, sebaiknya ia memahami terlebih dahulu konsep karir menurut
2Jurnal Psikologi dan Konseling

ahli agar ia tidak salah dalam menentukan karir. Pemilihan dan penentuan karir seseorang
sebenarnya untuk memenuhi kepuasan dalam hidupnya dan juga sebagai jalan untuk
memperoleh aktualisasi diri.Saat ini semakin banyak peluang dan tantangan untuk pemilihan dan
penentuan karir, apabila terjadi kesalahan dalam pemilihan dan pemutusan karier, maka karier
yang akan diperoleh pun tidak sesuai yang diharapkan.
Para polopor teori-teori bimbingan dan konseling karir mengemukakan pandangannya
terhadap karir yang memiliki konsep berbeda-beda.Namun memiliki kesamaan terhadap tujuan
pemahaman karir.Rumusan masalah pada artikel ini yaitu:Bagaimana konsep bimbingan dan
konseling karir menurut para pelopor teori bimbingan dan konseling karir? Apa tujuan
memahami bimbingan dan konseling karir?. Didalam artikel ini akan dijawab secara ringkas
mengenai rumusan masalah tersebut untuk mengetahui deskripsikonsepbimbingan dan konseling
karir menurut para pelopor teori bimbingan dan konseling karir, dan mengetahui tujuan
memahami bimbingan dan konseling karir.
Tinjauan Pustaka
Bimbingan dan Konseling Karir
Beberapa pengertian tantang bimbingan karir yang ditulis oleh beberapa tokoh yang
antara lain seperti Wetik B. memaparkan pengertian bimbingan karir adalah program pendidikan
yang merupakan layanan terhadap siswa agar mengenal dirinya sendiri, mengenal dunia kerja,
dapat memutuskan apa yang diharapkan dari pekerjaan dan dapat memutuskan bagaimana
bentuk kehidupan yang diharapkannya disamping pekerjaan untuk mencari nafkah. Sementara
itu P.M. Hatari juga menjelaskan bahwa bimbingan karir membantu siswa dalam proses
mengambil keputusan mengenai karir atau pekerjaan utama yang mempengaruhi kehidupan di
masa depan. Pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Ambo Enre Abdullah dijelaskan
bahwa bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu individu
dalam memecahkan masalah karir (pekerjaan) untuk memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-
baiknya dengan masa depannya.program bimbigan karir terutama berperan membantu
perorangan dalam memahami dirinya, memahami lingkungan/dunia kerja dalam tata hidup
tertentu dan mengembangkan rencana dan kemampuan untuk membuat keputusan bagi masa
depannya.
Bimbingan dan konseling karir diterapkan untuk membantu siswa agar: 1) dapat menilai
dan memahami dirinya terutama mengenai potensi-potensi dasar, minat, sikap dan kecakapan, 2)
mempelajari dan mengetahui tingkat kepuasan yang mungkin dapat dicapai dari suatu pekerjaan,
3) mempelajari dan mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dan
minatnya, 4) memiliki sikap positif dan sehat terhadap dunia kerja, artinya siswa dapat
memberikan penghargaan yang wajar terhadap setiap jenis pekerjaan, 5) memperoleh
pengarahan mengenai semua jenis pekerjaan yang ada di lingkungannya, 6) mempelajari dan
mengetahui jenis-jenis pekerjaan atau latihan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan tertentu, 7)
dapat memberikan penilaian pekerjaan secara tepat, 8) sadar dan akan memahami nilai-nilai yang
ada dirinya dan pada masyarakat, 9) dapat menemukan hambatan-hambaan yang ada pada diri
dan lingkungannya dan dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut, 10) sadar tentang
3Jurnal Psikologi dan Konseling

kebutuhan masyarakat dan negaranya yang berkembang, 11) dapat merencanakan masa
depannya sehingga dia dapat menemukan karir dan kehidupannya yang serasi dan sesuai.
Teori-teori Bimbingan dan Konseling Karir
1. Trait and Factor Theory
Di kalangan para pelopor teori konseling vokasional, Parsons (1909)berpendapat
bahwa bimbingan vokasional dilakukan pertama dengan mempelajari individu, kemudian
dengan menelaah berbagai okupasi, dan akhirnya mencocokkan individu dengan okupasi.
Proses ini yang disebut teori trait-and-factor, secara sederhana dapat diartikan sebagai
mencocokkan karakter individu dengan tuntutan suatu okupasi tertentu, yang pada gilirannya
akan memecahkan masalah penelusuran karirnya.
Konseling karir trait and factor dapat membantu siswa untuk memahami dirinya
sehingga membantu siswa membuat keputusan karir (Johnson et al, 2002; Staggs et al,
2007).Secara prinsip model konseling karir trait and factor membantu peserta didik untuk
memahami karakteristik psikologis yang melekat pada diri, memahami lingkungan
pekerjaan, dan memahami hubungan antar keduanya.Karakteristik utama dari teori ini adalah
asumsi bahwa individu mempunyai pola kemampuan unik atau traits yang dapat diukur
secara objektif dan berkorelasi dengan tuntutan berbagai jenis pekerjaan.
Namun demikian, selama tiga dekade terakhir ini asumsi dasarpendekatan trait
andfactor telah mendapat tantangan.Keterbatasan testing telah dibuktikan dalam dua proyek
penelitian.Penelitian pertama dilakukan oleh Thorndike dan Hagen (1959), yang mengikuti
pola karir 10.000 laki-laki yang telah diberi tes dalam angkatan bersenjata pada masa Perang
Dunia II.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tes yang diberikan 12 tahun sebelumnya
tidak akurat memprediksi keberhasilan karir karena berbagai alasan.Banyak individu yang
menjabat pekerjaan yang tidak berhubungan dengan hasil pengukuran kemampuannya.
Penelitian lain oleh Ghiselli (1966) menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan prediksi
keberhasilan dalam program pelatihan kerja berdasarkan hasil tes hanya moderat saja. Pada
umumnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tes saja tidak memberikan cukup
informasi untuk dapat memprediksi secara akurat keberhasilan karir di masa depan.
Brown berargumentasi bahwa teori trait and factor tidak pernah sepenuhnya
dipahami. Dia mengemukakan bahwa para pendukung pendekatan trait andfactor tidak
pernah menyetujui penggunaan testing secara berlebihan dalam konseling karir. Misalnya,
Williamson (1939) mengemukakan bahwa hasil tes hanya salah satu cara saja untuk
mengevaluasi perbedaan individu. Data lain, seperti pengalaman kerja dan latar belakang
individu pada umumnya, merupakan faktor yang sama pentingnya dalam proses konseling
karir.
2. Theory of Work Adjusment
Menurut Lofquist (1984) penyesuaian kerja sebagai hubungan yang baik antara
individu dengan lingkungan, kecocokan individu dengan lingkungan kerja.
Prosesberkelanjutan dan dinamis di mana seorang pekerja berusaha untuk mencapai dan
mempertahankan korespondensi dengan lingkungan kerja, korespondensi adalah kemampuan
individu dalam memenuhi persyaratan yang ada di lingkungan kerjanya.(Siti Chodijah
4Jurnal Psikologi dan Konseling

Choirunnisa, Dewi Justitia, n.d.). Teori penyesuaian kerja (TWA RV Dawis & H ofquist 984,
L ..IH Lotquist & RV Dawis, 1969, 1991) berguna dalam menangani kebutuhan konseling
karir para pensiunan yang ingin terus bekerja tetapi yang perlu mengeksplorasi pilihan karier
mereka sebelum menetap.
Hurlock (2004) memandang penting bahwa penyesuaian diri dalam bekerja, yang
disebutnya dengan istilah penyesuaian kerja, yang harus dilakukan dalam ketiga kawasan
berikut:
a. Pilihan pekerjaan merupakan penyesuaian pertama yang harus dilakukan individu dalam
menjalani penyesuaian kerja yakni memilih bidang yang cocok dengan bakat, minat dan
faktor psikologis lainnya agar kesehatan mental serta fisiknya dapat terjaga.
b. Penyesuaian diri dengan pekerjaan setelah memilih suatu pekerjaan, individu yang
bersangkutan harus melakukan penyesuaian antara karakteristik pribadinya dengan sifat
pekerjaan tersebut yang meliputi jenis kerja tiap hari dan minggunya, teman sejawat serta
para pimpinan, lingkungan tempat kerja dan aturan yang berlaku selama waktu kerja.
c. Stabilitas pilihan pekerjaan penyesuaian lain dalam kawasan penyesuaian kerja yang
harus dilakukan oleh individu adalah mempertahankan kemantapan pilihan pekerjaan.
Kemantapan pemilihan jurusan atau spesifikasi kerja bagi individu bergantung pada
pengalaman kerja, daya tarik pribadi terhadap pekerjaan, nilai yang terkandung pada
pekerjaan yang dipilih, serta pengaruh pertambahan usia. (Febriyanti et al., 2015)
Karakteristik teori ini dapat dipahami melalui aspek penyesuaian kerja, diantaranya:
a.Kepribadian kerja (Work Personality)
Menurut Lofquist (1984) merupakan hal yang harus terlebih dibahas sebelum
mendiskusikan mengenai interaksi individu dengan lingkungan kerja, kita harus
menjelaskan mengenai individu-individu yang berinteraksi dengan lingkungan
kerja.Kepribadian kerja (Work Personality) adalah karakteristik pokok dari hubungan
individu dalam penyesuaian kerja. Menurut Dawis dan Lofquist aspek besar dari
kepribadian adalah :
1) Struktur kepribadian (Personality Structure)
Struktur kepribadian (Personality Structure) mendeskripsikan mengenai
kemampuan respon individu dan hubungannya dengan stimulus condition.Struktur
kepribadian (Personality Structure) adalah kapasitas individu dalam merespon
terhadap stimulus dari lingkungan kerja. Dimensi yang muncul dan paling penting
dalam struktur kepribadian adalah: kemampuan berarti kapasitas seorang individu
untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan, nilai (value) Dawis dan
Lofquist menyatakan bahwa ada 6 dimensi nilai yang ada di struktur kepribadian dan
6 nilai tersebut terbagi menjadi 20 kebutuhan dalam bekerja, yaitu : penghargaan
(Achievement), kenyamanan (comfort), status, altruism, keamanan (safety), dan
kemandirian (autonomy).
b. Lingkungan kerja (Work Environment)
5Jurnal Psikologi dan Konseling

Lofquist (1984) mendefinisikan lingkungan kerja sebagai tempat dimana individu


berinteraksi langsung dengan segala hal yang dibutuhkan untuk pekerjaannya.Sihombing
(2004) menyatakan bahwa lingkungan kerja adalah faktor-faktor di luar manusia baik fisik
maupun non fisik dalam suatu organisasi.Faktor fisik ini mencakup peralatan kerja, suhu
ditempat kerja, kesesakan dan kepadatan, kebisingan, luas ruang kerja sedangkan non fisik
mencakup hubungan kerja yang terbentuk di perusahaan antara atasan dan bawahan serta
antara sesama karyawan.(Siti Chodijah Choirunnisa, Dewi Justitia, n.d.)
3. Holland Theory
Konsep teori Holland adalah bahwa individu memilih sebuah karir untuk memuaskan
orientasi kesenangan pribadinya. Jika individu telah mengembangkan suatu orientasi yang
dominan, maka akan lebih besar kemungkinan baginya mendapatkan kepuasan dalam
lingkungan okupasi yang sesuai. Akan tetapi, jika dia belum dapat menentukan pilihan, maka
kemungkinan mendapat kepuasan itu akan hilang. Orientasi kesenangan pribadi yang
didukung oleh lingkungan kerja yang sesuai akan menentukan pilihan gaya hidup
individu.Individu yang mempunyai peran dan tujuan okupasional yang bertentangan dengan
lingkungan akan mempunyai pola karir yang inkonsisten dan divergen. Holland menekankan
pentingnya self knowledge dalam upayanya mencari kepuasan dan stabilitas vokasional.
Dalam buku Bimbingan Karir Ruslan A. Gani dijelaskan bahwa Holland menyusun
teorikarirnya terdiri atas sebelas pokok pikiran bahwa : 1) Pemilihan suatu jabatan adalah
merupakan pernyataan kepribadian seseorang, 2) Inventori minat merupakan inventori
kepribadian, 3) Stereotipe vokasional mempunyai makna psikologis dan sosiologis yang
penting dan dapat dipercaya, 4) Individu-individu dalam suatu jabatan atau pekerjaan
memiliki kepribadian yang serupa dan kesamaan sejarah perkembangan pribadinya, 5)
Karena orang dalam satu rumpun pekerjaan memiliki kepribadian yang serupa, mereka akan
menanggapi terhadap berbagai situasi dan masalah dengan cara yang serupa dan mereka akan
membentuk lingkungan hubungan antar pribadi yang tertentu, 6) Kepuasan, kemamatan dan
hasil kerja bergantung atas kongruensi antara kepribadian individu dengan lingkungan (yang
sebagian besar terdiri dari orang-orang lain) dimana individu itu bekerja, 7) Pengetahuan kita
tentang kehidupan vokasional adalah tidak tersusun dan sering kali terpisah dari batang tubuh
pengetahuan psikologi dan sosiologi, 8) Didalam masyarakat kita (Amerika), kebanyakan
orang dapat digolongkan ke dalam salah satu dari pada enam tipe yaitu realistik, intelektual,
sosial, konvensional, usaha (interprising) dan artistic, 9) Terdapat enam jenis lingkungan
realistik, intelektual, sosial, konvensional, usaha dan artistik, 10) Seseorang mencari
lingkungan dan jabatannya yang memungkinkan dapat melaksanakan kemauan dan
keterampilannya, menyatakan sikap dan nilai mereka, mengambil peran masalah yang dapat
disetujui, menghindari peran dan persoalan yang tidak mereka setujui. Akibatnya tipe
realistik mencari lingkungan realistik, tipe intelektual mencari lingkungan intelektual dan
seterusnya, 11) Prilaku seseorang dapat diterangkan melalui bagaimana interaksi pola
kepribadianya dan lingkungannya, yang pada dasarnya kita dapat menggunakan pengetahuan
kita mengenal tipe kepribadian dan model lingkungan untuk meramalkan hasil dari pada
pasangan yang demikian.
6Jurnal Psikologi dan Konseling

Holland mengemukakan enam jenislingkungan okupasional yang disenangi (modal


occupational environments) dan enam orientasi kesenangan pribadi yang cocok dengan enam
lingkungan tersebut yang dirumuskan berdasarkan inventori kepribadian yang disusun atas
dasar minat.Tipe pribadi realistik memiliki gaya pribadi agresif, lebih menyukai tugas-tugas
konkret daripada abstrak, pada dasarnya kurang dapatbergaul,interaksi interpersonal buruk,
lingkungan okupasi yang cocok adalah pekerja terampil seperti tukangpipa,tukang listrik, dan
operatormesin. Keterampilan teknisi sepertijuru mesin pesawat terbang, jurufoto, juru draft
dan pekerjaan servis tertentu. Tipe pribadi intelektual memiliki gaya pribadi intelektual,
abstrak, analitik,mandiri, kadang-kadang radikal danberorientasi pada tugas, lingkungan
okupasi yang cocok adalah ilmiah seperti ahli kimia, ahli fisika,dan ahli matematik. Teknisi
sepertiteknisi lab, programmer komputer, dan pekerja elektronik. Tipe pribadi artistik
memiliki gaya pribadi imaginatif, menghargai estetika,lebih menyukai ekspresi diri
melaluiseni, agak mandiri dan extrovert, lingkungan okupasi yang cocok adalah artistik
seperti pematung, pelukis,dan desainer. Musikal seperti gurumusik, pemimpin orkestra, dan
musisi.Sastrais seperti editor, penulis, dan kritikus.Tipe pribadi sosial memiliki gaya pribadi
lebih menyukai interaksi sosial,senang bergaul, memperhatikanmasalah-masalah sosial,
religius,berorientasi layanan masyarakat,dan tertarik pada kegiatan pendidikan, lingkungan
okupasi yang cocok adalah edukasional seperti guru,administrator pendidikan, danprofesor.
Kesejahteraan sosialseperti pekerja sosial, sosiolog,konselor rehabilitasi, dan
perawatprofesional.Tiper pribadi entrepreneur memiliki gaya pribadi extrovert, agresif,
petualang, lebihmenyukai peran-peran pemimpin,dominant, persuasif, dan memanfaatkan
keterampilan verbalyang baik, lingkungan okupasi yang cocok adalah managerial seperti
menejerpersonalia, produksi, dan menejerpemasaran. Berbagai posisipemasaran seperti
salespersonasuransi, real estate, dan mobil. Tipe pribadi konvensional memiliki gaya pribadi
praktis, terkendali, bisa bergaul,agak konservatif, lebih menyukaitugas-tugas terstruktur
danmenyukai aturan-aturan dengansanksi masyarakat, lingkungan okupasi yang cocok adalah
pekerja kantor dan administrasiseperti penjaga waktu, petugas file,teller, akuntan, operator,
sekretaris,petugas pembukuan, resepsionis,dan menejer kredit.
Teori Holland memberikan penekanan pada ketepatan self-knowledgedan informasi
karir yang diperlukan untuk pembuatan keputusan karir.Dampaknya sangat besar pada
prosedur asesmen minat dan prosedur konseling karir.Implikasinya untuk konseling adalah
bahwa tujuan utama konseling adalah mengembangkan strategi untuk meningkatkan
pengetahuan tentang diri, berbagai persyaratan okupasional dan berbagai macam lingkungan
kerja.
4. Roe Personality Theory
Hubungan dini didalam keluarga dan pengaruhnya kemudianterhadap arah karir
merupakan fokus utama karya Ann Roe (1956).Roe (1956) menekankan bahwa
pengalaman pada awal masa kanak-kanak memainkan peranan penting dalam pencapaian
kepuasan dalambidang yang dipilih seseorang. Penelitiannya menginvestigasi bagaimana
7Jurnal Psikologi dan Konseling

gaya asuh orang tua (parental styles) mempengaruhi hierarkhi kebutuhan anak, dan
bagaimana hubungan antara kebutuhan ini dengan gaya hidup masa dewasanya. Dalam
mengembangkan teorinya, dia menggunakan teori Maslow tentang hierarchy of needs
sebagai dasar. Struktur kebutuhan seorang individu, menurut Roe, sangat dipengaruhi
oleh frustasi dan kepuasan pada awal masa kanak-kanak.Misalnya, individu yang
menginginkan pekerjaan yang menuntut kontak dengan orang adalah mereka yang
didorong oleh kebutuhan yang kuat untuk memperoleh kasih sayang dan mendapatkan
pengakuan sebagai anggota kelompok. Mereka yang memilih jenis pekerjaan non-orang
akan memenuhi kebutuhan akan rasa aman pada tingkat yang lebih rendah.Bimbingan
dan konseling karir menurut teori roe adalah membantu siswa yang belum mengenal
dirinya sendiri mengenai pengaruh kebutuhan pokok yang melandasi motivasinya dalam
memperjuangkan suatu gaya hidup (life style). Dengan demikian konselor sebaiknya
meningkatkan tahap kebutuhan klien karena jaminan ekonomis saja tidak membuat orang
dewasa selalu merasa bahagia(Gani, 1996).
Roe adalah teoritikus yang memberi perhatian pada praktek mengasuh anak, cara
orang tua berinteraksi dengan anak, struktur kebutuhan yang dihasilkan, dan orientasi yang
mendekat dan menjauh dari orang-orang, dimana okupasi diklasifikasikan kedalam dua
kategori utama:person oriented dan nonperson oriented. Contoh okupasi yang person-
oriented adalah: (1) jasa; (2) kontak bisnis (kontak dari orang ke orang, terutama dalam
penjualan); (3) managerial; (4) kebudayaan umum; dan (5) seni dan hiburan. Contoh okupasi
yang nonperson-oriented adalah dalam bidang: (1) teknologi; (2) pekerjaan di luar ruangan
(pertanian, kehutanan, pertambangan, dsb.); dan (3) ilmu pengetahuan.Menurut Roe,
kombinasi antara hubungan orang tua-anak pada masa dini, pengalaman lingkungan, dan
faktor-faktor genetik, menentukan perkembangan struktur kebutuhan itu. Individu kemudian
belajar untuk memuaskan kebutuhannya tersebut.Intensitas kebutuhan merupakan faktor
penentu utama yang memotivasi individu untuk mencapai tingkat hierarkhi yang lebih tinggi
dalam suatu struktur pekerjaan.
5. Super Life Span Theory
(Kalchik & Oertle, 2010)menyatakan bahwa teori Super adalah teori yang
menekankan pengembangan karier sebagai proses berkelanjutan yang berlanjut terusdalam
kehidupan individu. Dua komponen kunci dari pendekatan Super adalah konsep diri dan
pembelajaran teori. Konsep diri mengacu pada bagaimana individu melihat situasi diri
mereka sendiri. Persepsi individu tentang diri tercermin dalam kebutuhan mereka,
kecerdasan, nilai, bakat, dan minat. Teori belajar didasarkan pada interaksi seseorang dengan
lingkungan, di mana apa yang disukai dan tidak suka ketika terkena beberapa rangsangan
8Jurnal Psikologi dan Konseling

eksternal (misalnya, objek, orang, atau aktivitas) dapat menyebabkan perasaan puas atau
tidak puas, menghasilkan pembelajaran pengalaman.
Untuk menyatukan ide-ide ini, Gysbers dan Moore mengusulkan istilah karir seumur
hidup pengembangan.Kata kehidupan menunjukkan bahwa fokus dalam konsep ini adalah
pada individu. Kata karir mengidentifikasi dan menghubungkan banyak peran yang
melibatkan individu, siswa, pekerja, warga negara, pengaturan di mana mereka menemukan
sekolah mereka sendiri, tempat kerja, komunitas, rumah dan peristiwa yang mungkin terjadi
dalam kehidupan mereka, masuk pekerjaan, pernikahan, pensiun. Kata pengembangan
digunakan untuk menunjukkan bahwa orang mengalami perubahan, mereka selalu dalam
proses. Secara kolektif dan holistik, menggambarkan bahwa individu itu unik dengangaya
hidupnya.
Menurut Gysbers, Moore & McDaniels (Gysbers, 1995), pengembangan karir seumur
hidup didefinisikan sebagai pengembangan diri selama rentang hidup melalui integrasi peran,
latar, dan peristiwa dalam kehidupan seseorang. Perkembangan manusia dalam istilah karier
seumur hidup memberi kita cara untuk meningkatkan dan memperluas program dan praktik
bimbingan.Ini membantu kita mengatasi pandangan tradisional namun tetap populer.Fokus
utama karir adalah salah satu aspek kehidupan individu.Untuk memenuhi tantangan global
maka harus memperluas sudut pandang dan dengan hal itu bisa memahami pekerjaan
hanyalah salah satu bagian dari pengembangan karir kehidupan.Pekerjaan itu penting dan
harus ditekankan dalam praktik bimbingan, tetapi itu tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang
terpisah dari peran kehidupan lain, pengaturan kehidupan dan peristiwa kehidupan individu.
Selanjutnya, Hoppock & Super (Zytowski, 1994)membahas tentang kepuasan kerja
dengan mengamati bahwa ekspresi umum kepuasan kerja cenderung berhubungan dengan
ekspresi kepuasan dengan aspek-aspek tertentu pekerjaan seperti penghasilan, jam kerja,
kemajuan, peluang untuk membantu orang lain, kemandirian, keragaman, kebijakan
manajemen dan lainnya.
Super (Wehmeyer et al., 2018)memandang pengembangan karier sebagai proses yang
berkelanjutan dan dapat diprediksi serta mengusulkan lima tahap kehidupan utama dalam
pengembangankarier, yakni pertama, pertumbuhan (kelahiran – 14 tahun),kegiatan utama
selama tahap ini melibatkan pengembangan konsep diridan pemahaman dasar dari dunia
kerjakedua, eksplorasi (usia 15-24), kegiatan primer melibatkan pengembangan
keterampilan, pengembangan preferensi dan pilihan karir sementaraketiga, pendirian (usia
25-44), kegiatan utama melibatkan pengembangan keterampilan tingkat pemula, stabilisasi
pengalaman kerjakeempat, pemeliharaan (usia 45-64), kegiatan utama melibatkan
penyesuaian terhadap perubahan di tempat kerja, meningkatkan posisi seseorang dalam
kaitannya dengan karier seseorangkelima, tolak (usia 65 dan lebih), kegiatan melibatkan
persiapan untuk pensiun, pengurangan.
Super (Zytowski, 1994) berspekulasi bahwa ada hierarki kebutuhan, nilai, minat, sifat
dan sikap berada pada kebutuhan pokok.Menurut Super(Sterner, 2012), ruang hidup
melibatkan peran yang dimainkan orang di seluruh rentang hidup.Super awalnya
9Jurnal Psikologi dan Konseling

mengidentifikasi enam peran utama (anak, siswa, pekerja, warga negara, ibu rumah tangga,
dan leisurite) yang dimainkan orang kehidupan mereka. Seringkali peran ini tumpang tindih,
dan seseorang bisa mengalami sebanyak enam peran pada tahap perkembangan tertentu. Saat
orang bergerak melalui tahapan kehidupan, peran tertentu cenderung mendominasi.
Misalnya, selamapada tahap pemeliharaan, peran tipikal adalah pekerja, sedangkan peran
siswa seringkali minimal atau netral.
Kematangan karier adalah komponen penting dalam dimensi ini. Super
mempertahankan karier itu kedewasaan terjadi ketika seseorang mencapai usia dan tugas
perkembangan di seluruh rentang hidup. Sebagai seorang individu mengembangkan kapasitas
untuk berurusan dengan tugas perkembangan, dia dapat menavigasi dengan lebih baik
melaluitahap perkembangan khusus.
Super (Usinger & Smith, 2010)menguraikan limastages and major vocational
development tasks in his life-span, life-space career development theory. tahap dan tugas
pengembangan kejuruan utama dalam rentang hidupnya, teori pengembangan karir ruang-
hidup.The life stages are Tahapan hidup adalahgrowth, exploration, establishment,
maintenance, and decline. pertumbuhan, eksplorasi, pendirian, pemeliharaan, dan
penurunan.During adolescence, two stages, exploration and establish-Selama masa remaja,
dua tahap, eksplorasi dan pendirianment, are in evidence. mental, adalah bukti.The five
major developmental tasks are: (a) crystallizing, (b) specifying, and (c) implementing a voca-
Lima tugas perkembangan utama adalah: (a) mengkristal, (b) menentukan, dan (c)
mengimplementasikantional preference; preferensi nasional;and subsequently (d) stabilizing,
and (e) consolidating in a vocation. dan kemudian (d) menstabilkan, dan (e) melakukan
konsolidasi dalam suatu panggilan.Of the five major developmental Dari lima perkembangan
utamatasks, crystallization, the process of formulating a generalized vocational goal, is
typically encountered during early and mid- tugas, kristalisasi merupakan proses perumusan
tujuan kejuruan umum, biasanya ditemui pada awal dan pertengahandle adolescent years,
from 14 to 18. Crystallization is a cognitive process in response to societal expectation that
an individ- beberapa tahun remaja, dari 14 hingga 18 tahun.Sehubungan dengan hal tersebut,
menurut (Kalchik & Oertle, 2010) program dan layanan pengembangan karir dapat
membantu “meningkatkan kesadaran karir individu, eksplorasi, pilihan, persiapan dan
manajemen ”(Williams, Bragg, & Makela, 2008, hal. 7; lihat juga Herr & Cramer, 1996).
Pengembangan karir yang sukses dan berkelanjutan membantu individu dari segala usia
untuk melakukan berbagai transisi melalui keluar masa hidup mereka antara berbagai tingkat
pendidikan, dari pendidikan ke pekerjaan, dan antara pekerjaan dan pendidikan
6. Social Cognitive Career Theory
Social Cognitive Career Theory (SCCT) yang berdasarkan pada teorikognitif sosial
Albert Bandura merupakan salah satu teori yang menjelaskan proses pengambilan keputusan
karir. Pada beberapa tingkat tertentu mirip dengan Krumboltz yang mengidentifikasi faktor
mempengaruhi pengambilan keputusan karir yaitu, (1) Pengaruh gen dan kemampuan khusus
(2) Kondisi-kondisi dan peristiwa lingkungan (3) Pengalaman belajar (4) Keahlian-keahlian
10Jurnal Psikologi dan Konseling

pendekatan tugas. Disamping itu terdapat juga faktor-faktor lain yang seperti (5) generalisasi-
generalisasi diri (SOG), (6) generalisasi-generalisasi pandangan dunia dan (7) keterampilan-
keterampilan pendekatan tugas dan pengambilan keputusan karir(Setiaji, 2015).
Lent, Brown dan Hackett menyatakan bahwa SCCT meneliti bagaimana bentuk
lingkungan mempengaruhi pengambilan keputusan karir seorang individu, khususnya
kepercayaan orang tentang kemampuan, harapan tentang pilihan hidup dan tujuan akhir
terhadap pilihannya. Dalam teori ini lingkungan didefinisikan secara luas dan mencakup hal-
hal seperti pengaruh sosial yang mendukung misalnya, orang tua, konselor, unsur signifikan
yang lain, dampak dari faktor-faktor budaya, seperti nilai-nilai masyarakat di sekitar gender,
etnis, kecacatan, dan stereotip budaya serta pengaruh sosial lainnya (Setiaji, 2015).
Self-efficacy, ekspektasi hasil dan tujuan pribadi berfungsi sebagai variabel inti dalam
minat, pilihan, dan model kinerja SCCT. Model minat menentukan bahwa individu
kemungkinan akan mengembangkan minat dalam kegiatan yang (a) mereka merasa efisien
dan (b) mengantisipasi bahwa akan ada hasil positif yang terkait dengan kegiatan tersebut.
Interaksi dinamis antara minat, efikasi diri, dan harapan hasil akan mengarah pada
pembentukan tujuan dan niat yang berfungsi untuk mempertahankan perilaku dari waktu ke
waktu, yang mengarah pada pembentukan pola minat yang stabil pada masa remaja atau awal
masa dewasa (Leung, 2008).
Model pilihan SCCT memandang pengembangan tujuan dan pilihan kariersebagai
fungsi interaksi antara self-efficacy, ekspektasi hasil dan minat dari waktu ke waktu. Pilihan
karir adalah proses yang berlangsung di mana orang dan lingkungannya saling
mempengaruhi satu sama lain. Ini melibatkan spesifikasi pilihan karier utama atau tujuan,
tindakan yang bertujuan untuk mencapai tujuan seseorang, dan pengalaman kinerja
memberikan umpan balik kepada individu tentang kesesuaian tujuan. Selain itu, SCCT
berpendapat bahwa kompromi dalam kepentingan pribadi mungkin diperlukan dalam proses
pilihan karier karena langsung kontekstual kepada orang tersebut, misalnya kepercayaan
budaya, hambatan sosial, kurangnya dukungan (Leung, 2008).
Faktor "kemampuan", yang didefinisikan sebagai prestasi, bakat, dan kinerja
seseorang, disorot dalam model kinerja SCCT. Kemampuan berfungsi sebagai umpan balik
dari kenyataan untuk menginformasikan self-efficacy dan harapan hasil seseorang, yang pada
gilirannya akan memengaruhi tujuan dan level kinerja. Prapaskah menyatakan bahwa
ketidaksesuaian antara kemanjuran dan kemampuan obyektif (mis., Kepercayaan berlebihan,
kurang percaya diri) kemungkinan akan mengarah pada kinerja yang tidak diinginkan
(misalnya, tidak siap untuk tugas, kecemasan kinerja). Poin yang optimal adalah self-efficacy
yang sedikit berlebihan yang akan mendorong pemanfaatan dan pengembangan keterampilan
lebih lanjut(Leung, 2008). Penggunaan social cognitive career theory membantu klien
membangun self-efficacy dengan membantu mengidentifikasi contoh-contoh kesuksesan
pribadi di tempat kerja dan mengakui validitas perasaan klien saat ini.
Metodologi
11Jurnal Psikologi dan Konseling

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan menelaah beberapa jurnal
terkait teori-teori bimbingan dan konseling karir.Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkuat
menjawab rumusan masalah yang dipaparkan.
Hasil
Berdasarkan literatur yang telah dipaparkan maka terjawablah rumusan masalah yaitu
bagaimana konsep bimbingan dan konseling karir menurut para pelopor teori-teori bimbingan
dan konseling karir dan apa tujuan bimbingan dan konseling karir.
Bimbingan dan konseling karir diterapkan untuk membantu siswa agar: 1) dapat menilai
dan memahami dirinya terutama mengenai potensi-potensi dasar, minat, sikap dan kecakapan, 2)
mempelajari dan mengetahui tingkat kepuasan yang mungkin dapat dicapai dari suatu pekerjaan,
3) mempelajari dan mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dan
minatnya, 4) memiliki sikap positif dan sehat terhadap dunia kerja, artinya siswa dapat
memberikan penghargaan yang wajar terhadap setiap jenis pekerjaan, 5) memperoleh
pengarahan mengenai semua jenis pekerjaan yang ada di lingkungannya, 6) mempelajari dan
mengetahui jenis-jenis pekerjaan atau latihan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan tertentu, 7)
dapat memberikan penilaian pekerjaan secara tepat, 8) sadar dan akan memahami nilai-nilai yang
ada dirinya dan pada masyarakat, 9) dapat menemukan hambatan-hambaan yang ada pada diri
dan lingkungannya dan dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut, 10) sadar tentang
kebutuhan masyarakat dan negaranya yang berkembang, 11) dapat merencanakan masa
depannya sehingga dia dapat menemukan karir dan kehidupannya yang serasi dan sesuai.
Konsep bimbingan dan konseling karir menurut trait and factor theory mencocokkan
karakter individu dengan tuntutan suatu okupasi tertentu, yang pada gilirannya akan
memecahkan masalah penelusuran karirnya.
Konsep bimbingan dan konseling karir menurut theory of work adjustmentmembantu
pekerja untuk mencapai dan mempertahankan korespondensi dengan lingkungan
kerja.korespondensi adalah kemampuan individu dalam memenuhi persyaratan yang ada di
lingkungan kerjanya.
Konsep bimbingan dan konseling karir menurut holland personality mengembangkan
strategi untuk meningkatkan pengetahuan tentang diri, berbagai persyaratan okupasional dan
berbagai macam lingkungan kerja.
Konsep bimbingan dan konseling karir menurut roe personalitymembantu siswa yang
belum mengenal dirinya sendiri mengenai pengaruh kebutuhan pokok yang melandasi
motivasinya dalam memperjuangkan suatu gaya hidup (life style).
Konsep bimbingan dan konseling karir menurut super life span theorymembantu
“meningkatkan kesadaran karir individu, eksplorasi, pilihan, persiapan dan manajemen”.
Konsep bimbingan dan konseling karir menurut social cognitive career theorymembantu
klien membangun self-efficacy dengan membantu mengidentifikasi contoh-contoh kesuksesan
pribadi di tempat kerja dan mengakui validitas perasaan klien saat ini.
Kesimpulan
12Jurnal Psikologi dan Konseling

Berdasarkan hasil penelitian danpembahasan yang telah diungkapkan maka dapatdiambil


kesimpulan sebagaiberikut.Bahwa konsep bimbingan dan konseling karir menurut para pelopor
teori-teori bimbingan dan konseling sebagaimana yang telah dipaparkan pada hasil dan
pemabahasan diatas. Bimbingan dan konseling karir diterapkan untuk membantu siswa agar: 1)
dapat menilai dan memahami dirinya terutama mengenai potensi-potensi dasar, minat, sikap dan
kecakapan, 2) mempelajari dan mengetahui tingkat kepuasan yang mungkin dapat dicapai dari
suatu pekerjaan, 3) mempelajari dan mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan
dengan potensi dan minatnya.
Daftar Pustaka
Muhajirin, M. (2017). EFEKTIVITAS KONSELING KARIR TRAIT AND FACTOR UNTUK
MEREDUKSI KESULITAN MEMBUAT KEPUTUSAN KARIR. Journal of Innovative
Counseling: Theory, Practice & Research, 1(1), 52.
Tarsidi, D. (n.d.). Teori Perkembangan Karir. 1.
Hidayati, R. (2015). LAYANAN INFORMASI KARIR MEMBANTU PESERTA DIDIK
DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KARIR. Jurnal Konseling GUSJIGANG,
1(1), 2.
Adiputra, S. (2015). PENGGUNAAN TEKNIK MODELING TERHADAP PERENCANAAN
KARIR SISWA. Jurnal Fokus Konseling, 1(1), 45–56.
Jayaning Sila Astuti, D. (2009). TEORI ANNE ROE TENTANG KEPRIBADIAN DAN
PERILAKU OKUPASIONAL.
Komang Seniawati, Ni Ketut Suarni, D. A. W. (2014). EFEKTIVITAS TEORI KARIER
HOLLAND MELALUI LAYANAN INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN
PEMAHAMAN DIRI TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA. Jurnal Online Jurusan
Bimbingan Konseling, 2(1), 2.
Afandi, M. (2011). TIPE KERIBADIAN DAN MODEL LINGKUNGAN DALAM
PERSPEKTIF BIMBINGAN KARIR JHON HOLLAND. Jurnal Sosial Budaya, 8(01), 90–
92.
Gysbers, N. C. (1995). Youth Career Planning-Career Development Knows No Boundaries.

Kalchik, S., & Oertle, K. (2010). The integral role of career development in supporting programs
of study and career pathways. The Office of Community College Research and Leadership
(OCCRL), 1, 2–8.

Zytowski, D. G. (1994). Articles A Super Contribution to Vocational Theory: Work Values. The
Career Development Quarterly, 43(September), 25–31.

Usinger, J., & Smith, M. (2010). Career development in the context of self-construction during
adolescence. Journal of Vocational Behavior, 76(3), 580–591.
https://doi.org/10.1016/j.jvb.2010.01.010
13Jurnal Psikologi dan Konseling

Wehmeyer, M. L., Nota, L., Soresi, S., Shogren, K. A., Morningstar, M. E., Ferrari, L., …
Dimaggio, I. (2018). A Crisis in Career Development : Life Designing and Implications for
Transition. Career Development and Transition for Exceptional Individuals, 0(0), 1–9.
https://doi.org/10.1177/2165143417750092

Rogers, M., & Creed, P. A. (n.d.). A longitudinal examination of adolescent career planning and
exploration using a social cognitive career theory framework. Australia.

Setiaji, K. (2015). Pilihan Karir Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (Kajian Motivasi
Karir Mengajar, Career Self Efficacy, Status Sosial Ekonomi, Minat menjadi Guru
Terhadap Prestasi Akademik). Jurnal Pendidikan Ekonomi Dinamika Pendidikan, X(2),
196–211.

Zikic, J., & Saks, A. M. (2008). Job search and social cognitive theory : The role of career-
relevant activities. Journal of Vocational Behavior, 74(2009), 117–127.
https://doi.org/10.1016/j.jvb.2008.11.001

Siti Chodijah Choirunnisa, Dewi Justitia, E. W. (n.d.). Gambaran Penyesuaian Kerja Siswa yang
Menjalankan Praktek Kerja Industri di PT GM ( Studi Kasus pada Siswa Kelas IX SMK
Jakarta 1 ), 96–102.

Febriyanti, D. A., Listiara, A., & Kahija, Y. F. La. (2015). Penyesuaian Diri dalam Bekerja pada
Pengasuh di Panti Asuhan Cacat Ganda: Studi Fenomenologis. Jurnal Psikologi Undip,
14(1), 69–80.