Anda di halaman 1dari 7

BAHASA (LANGUAGE)

A. KARAKTERISTIK BAHASA
1. Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan sarana dasar yang berguna untuk berpikir manusia. Bahasa
merupakan gabungan kata-kata yang sesuai dengan prosedur atau kaidahnya. Bagian yang
paling dasar dari bahasa adalah fonem, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia
yang signifikan dalam membedakan makna (bunyi bahasa). Bahasa adalah sebuah sistem
berupa bunyi, bersifat abitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Menurut Djamarah (2011: 46) bahasa merupakan sarana yang efektif untuk menjalin
komunikasi sosial. Tanpa bahasa, komunikasi tidak dapat dilakukan dengan baik dan
interaksi sosial pun tidak akan pernah terjadi. Karena tanpa bahasa, siapapun tidak akan
dapat mengekspresikan diri untuk menyampaikan kepada orang lain. Crow dan Crow
(1987) bahwa bahasa adalah alat ekspresi bagi manusia.
2. Karakteristik Bahasa
a. Berdasarkan Sifat
1) Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa
lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda”
melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak
bisa dijelaskan. Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap
penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan
untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk
melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah
melanggar konvensi itu.
2) Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas,
namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya,
menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa
Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000
buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
3) Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai
kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi
pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada
setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada
kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4) Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena
bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang
sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam
tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa

1
yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu
juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab
Saudi.
5) Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak
mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa
bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam
menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara
belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu
dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
b. Berdasarkan Fungsi
Djamarah (2011: 46) sebagai alat yang sangat penting, bahasa memiliki fungsi yang
signifikan bagi manusia. Paling tidak, ada dua fungsi bahasa, yaitu (1) bahasa sebagai
sarana pembangkit dan pembangun perhubungan yang memperluas pikiran seseorang
sehingga kehidupan mental seorang individu menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari kehidupan mental kelompok, (2) bahasa sebagai sarana yang mempengaruhi
kepribadian. Dengan menggunakan bahasa dapat diubah cara berpikir seseorang.
Fungsi bahasa sebagai simbol bagi manusia, mempunyai empat fungsi, yaitu :
1) Bahasa berfungsi Instrumental, yaitu perilaku verbal yang dapat mengarahkan secara
langsung, maksudnya bahasa sebagai alat instruksional (sebagai perintah),
permohonan maaf dan sebagainya, tergantung dari bahasa yang disampaikan.
2) Bahasa berfungsi sebagai stimulus atau sinyal untuk perilaku lain, maksudnya
bahasa menimbulkan efek/respon dari orang-orang yang mendengarkan, contoh :
“Jalan-jalan, ya?”, kalimat ini akan menimbulkan respon dari orang yang ditanya.
3) Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi manusia dengan orang lain, maksudnya
ada informasi yang disampaikan langsung antara komunikator dengan komunikan,
contoh : dalam berdiskusi, dialog, dan sebagainya.
4) Bahasa berfungsi untuk menyampaikan makna, maksudnya bahasa dapat
disampaikan melalui simbol-simbol, peribahasa, kiasan-kiasan, pepatah, ungkapan,
dan lain-lain.
c. Berdasarkan Bagian Dasar dari Bahasa
Bahasa terbentuk dari bunyi yang disebut phonemes. Gabungan phonemes yang
lebih tinggi menghasilkan morphonemes, yakni bentuk terkecil dalam bahasa yang
mengandung makna. Morphonemes biasanya terdiri dari sekurang-kurangnya gabungan
dua phonemes, seperti : go, good, etc.
d. Berdasarkan Analisis Ilmu Bahasa yang Lebih Tinggi
Analisis Ilmu Bahasa yang lebih tinggi, terdiri dari tiga tingkat,yaitu:
1) Tingkat lexical, analisis bahan berkisar tentang bentuk kata yang digunakan dalam
bahasa, seperti persamaan kata, lawan kata, dan bagaimana menggunakan kata
tersebut dalam kalimat.
2) Tingkat syntactic, arah kajian bahasa dalam susunan atau urutan kata, untuk
membentuk prase dan kalimat, seperti : tata bahasa.
3) Tingkat semantic, yaitu kajian yang terfokus pada makna bahasa.
e. Struktur Kata dalam Kalimat

2
Analisis sebuah kalimat terdiri dari dua prasa, yaitu sebuah prasa kata benda (noun)
dan prasa kata kerja (verb). Ilmu bahasa membedakan antara dua struktur, yaitu :
1) Struktur Luar (surface structure) adalah kalimat sebenarnya seperti bunyi dan
gambaran sederhana yang menghubungkan antara bagian kalimat.
2) Struktur dalam (deep structure), yaitu mengarah pada makna kalimat, dan spesifikasi
hubungan antara kata dalam kalimat (Ellis, H.C, 1978: 160).
3. ISU-ISU DALAM BAHASA
Permulaan dari perkembangan bahasa pada manusia adalah babbling yang
merupakan tipe dasar dari vokalisasi. Anak-anak menghasilkan bunyi sebelum berusia
enam bulan, tetapi belum berbentuk bunyi bahasa, hanya meniru bunyi bahasa. Pada usia
antara enam dan sembilan bulan anak-anak mampu menghasilkan bunyi bahasa dasar yang
nantinya membentuk bahasa. Pembelajaran atau pemerolehan bahasa ini bukan hanya hasil
reinforcement dari bunyi ujar tertentu, tetapi ia meliputi proses pematangan dan
pembelajaran, jadi perkembangan struktur bahasa sangat kompleks dan memerlukan
asosiasi bunyi tertentu terhadap aspek lingkungan tertentu terhadap respons tertentu.
Disinilah peran orang tua, ia harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya,
membantu anak dalam menambah perbendaharaan kata, baik dalam segala pola tingkah
laku yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua tidak perlu khawatir
menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti anak, ia akan menyerap kata-kata itu
kemudian akan mengerti artinya, karena kata-kata yang dimengerti jauh lebih banyak dari
yang diucapkan. Menurut Ellis, H.C (1978: 166) isu-isu tersebut antara lain:
1) Language and Thought (Bahasa dan Pikiran)
Bahasa sangat erat hubungangnya dengan proses berpikir. Kalau anak mulai bisa
mengusai bahasa dan bisa mengatakan maksudnya, maka ia akan lebih mudah
dikendalikan. Tugas anak dalam belajar bahasa adalah menghubungkan stimulus
lingkungan tertentu terhadap respon. Perkembangan bahasa dimulai dari perolehan
asosiasi antara objek dan peristiwa.
Bahasa dan pemikiran sangat erat hubungannya, pemikiran kita dituangkan dalam
bentuk tulisan. Bahasa dapat membantu pemecahan masalah, bahasa bukan
merupakan faktor yang di dalam mengembangkan kapasitas kognitif manusia.
Seorang anak yang bisu, dapat mengembangkan konsepnya, tanpa memerlukan
bahasa konvensional, mereka berkembang dengan menggunakan sistem simbol lain
untuk berkomunikasi.
2) Language in Animals (Bahasa Binatang)
Binatang mempunyai bahasa tersendiri untuk berkomunikasi, namun binatang
tidak mampu memproduksi kalimat dan tidak mampu menggunakan bahasa secara
kreatif seperti manusia, dikarenakan binatang mempunyai kekurangan sistem alat
ucap dan tidak memiliki aspek bahasa seperti manusia. Binatang berkomunikasi
dengan anaknya hanya menggunakan isyarat saja, seperti : melalui suaranya.
Syah, M (2010: 56) mengemukakan bahwa bahasa binatang berbeda dengan
manusia meskipun keduanya sama-sama memiliki bahasa dengan fungsi utamanya
sebagai alat ekspresi. Binatang mengekspresikan diri mereka dengan cara-cara
tertentu. Berbeda dengan bahasa binatang, bahasa bagi manusia memiliki “nilai
budaya”. Perbedaan itu disebabkan dalam bahasa manusia disadari ada “kesadaran

3
nama” yaitu bahwa setiap bunyi-bunyi akan selalu menunjuk pada satu objek
tertentu, peristiwa, orang benda atau presentasi lainnya.
3) Cultural Differences in Language (Perbedaan Budaya dalam Bahasa)
Bahasa dipengaruhi oleh perkembangan budaya, wilayah, dan perbedaan etnik
dalam bahasa. Banyak ahli sosiolinguistik menyatakan budaya dan aspek sosial
lainnya mempunyai pengaruh yang besar dalam keragaman bahasa. Dengan kata
lain, adanya perbedaan budaya dalam bahasa akan mewarnai ragam bahasa itu
sendiri, dan ini perlu disatukan dalam sebuah konsep bahasa, misalnya bahasa
Indonesia, walaupun terdiri dari berbagai etnik budaya dan bahasa, namun tetap
diwarnai oleh logat (dialek) dari masing-masing bahasa daerah.
3) Language and The Brain (Bahasa dengan Otak)
Otak manusia terdiri dari dua hemispheres, yang fungsinya tidak sama. Masing-
masing hemispheres tersebut menerima informasi dari indera, tetapi kedua
hemispheres tersebut menerima informasi terpisah. Maksudnya ialah ada informasi
itu berupa tulisan saja, tapi kita bisa baca sebelumnya, dan ada pula informasi itu
kita dengar bahasanya, tapi tidak bisa dibaca, misalnya informasi dari radio.
Pada orang dewasa ceberal hemisphere sebelah kiri mengendalikan fungsi bahasa
yang mencakup produksi bahasa lisan dan tulisan. Sebaliknya ciberal hemisphere
sebelah kanan tidak mampu memproduksi bahasa atau memahami kata-kata yang
abstrak. Tugas bagian otak sebelah kanan ini mengurus proses persepsi seperti
pemahaman gambar pembelajaran dan pemahaman bentuk-bentuk visual.
Bahasa juga erat kaitannya dengan kemampuan dan fungsi kerja otak. Otak
manusia terdiri dari dua bagian besar, dimana fungsi antara keduanya sangat
berbeda. Belahan kiri mengendalikan fungsi bahasa yang mencakup bahasa lisan dan
tulisan, sementara belahan kanan mengurus proses persepsi, seperti pemahaman dan
pemahaman bentuk-bentuk visual.
4. Teori Pembelajaran Bahasa
Menurut Ellis, H.C (1978: 172) secara umum ada dua teori pendekatan dalam
pembelajaran bahasa, yaitu:
a. Pendekatan Pengkondisian (conditioning approach)
Menurut pendekatan pengkondisian bahasa dipelajari sesuai dengan prinsip
pengkondisian yang diaplikasikan dalam pemahaman belajar bahasa. B.F. Skinner
memiliki gagasan dasar bahwa perilaku verbal sama seperti perilaku lainnya dan
dipaparkan melalui penguatan respon yang benar. Anak-anak cenderung meniru
perilaku verbal yang dia dengar dari orang dewasa di sekitarnya, dan jika ia
melakukannya dengan benar maka ia cenderung diberi hadiah atau penguatan
positif. Namun bila ia salah maka orang tua akan menahan penguatan dan bahkan
memberikan hukuman.
b. Pendekatan Psikolinguistik (psycholinguistic approach)
Namun, Noam Chomsky mengkritik teori yang telah dikemukakan B.F. Skinner.
Menurutnya anak-anak mempelajari aturan-aturan bahasa yang kompleks pada saat
ia belajar sebuah bahasa, walaupun mereka tidak mampu memverbalisasikan atau
menjelaskan aturan-aturan tersebut. Anak-anak mendapat aturan tersebut tanpa harus
diajarkan oleh orang lain dalam bentuk formal dan mereka mendapatkan hukum-

4
hukum bahasa ini pada usia yang sangat dini. Kemampuan untuk mempelajari atau
memperoleh bahasa melalui pengembangan aturan-aturan yang abstrak merupakan
ciri yang unik pada manusia.
Solso, Robert, L (2008: 328) linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa,
dengan topik pembelajaran meliputi struktur bahasa dan berfokus pada
pendeskripsian suara-suara, makna-makna dan tata bahasa dalam percakapan. Ilmu
yang menggabungkan kedua pendekatan tersebut yakni psikologi dan linguistik
disebut psikolinguistik.

KESIMPULAN
Perkembangan bahasa dalam kehidupan sehari-hari perlu mendapat perhatian khusus,
menimbang karena banyaknya aspek-aspek yang sangat berpengaruh terhadap bahasa itu
sendiri. Berbagai etnik budaya, suku, lingkungan sosial, dan ragam bahasa daerah ikut
mempengaruhi perkembangan bahasa. Mulai dari dalam rahim seorang ibu, masa anak-anak
dibawah lima tahun sampai manusia mengalami perkembangan dalam hidupnya, pasti sudah
memiliki bahasa dan sudah dapat memahami dari setiap gerakan, sentuhan, dan ucapan yang
dilakukannya. Sehingga melalui bidang formal khususnya, didalam belajar, seorang pelajar
sudah harus benar-benar memahami dan mengerti serta dapat memberikan respon dari
stimulus yang diberikan melalui bahasa yang diutarakan oleh komunikator. Dengan demikian
apa yang didapat, dilihat, didengar, dan dirasakan oleh pelajar secara langsung sampai
kepadanya dan dapat direspon dengan baik.

A. Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu faktor pembeda manusia dengan hewan dan sarana dasar
yang berguna untuk berpikir manusia. Bahasa merupakan sebuah penyimbolan berupa
gabungan kata-kata yang sesuai dengan prosedur atau kaidahnya. Bagian yang paling dasar
dari bahasa adalah fonem, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang signifikan
dalam membedakan makna melalui bunyi yang dihasilkan.

5
Bahasa sangat berkaitan dengan proses berfikir (thingking) dan pemecahan masalah.
Berfikir sebenarnya mengacu pada kegiatan dan peristiwa terselubung yang tidak teramati
langsung oleh manusia, sementara menulis dan berbicara merupakan perilaku bahasa yang
terbuka dan teramati langsung. Lebih jauh dari itu, proses berfikir mempunyai rentangan dan
kegiatan peristiwa yang relatif sederhana sampai ke aktivitas yang sangat kompleks. Bahasa
menjadi hal yang sangat mendasar dan esensial dalam kehidupan manusia, maka dari itu pada
makalah ini penulis akan memaparkan tentang karakter bahasa, beberapa isu dalam hal
bahasa dan teori pembelajaran bahasa.

DAFTAR PUSTAKA
Djamarah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ellis H.C. 1978. Fondamentals Of Human Learning, Memory And Cognition (2nd Edition).
Iowa: Wm. C. Brown Company Publisher.
Solso, Robert, L. 2008. Psikologi Kognitif. Jakarta: Erlangga.
Syah, M. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.

6
7