Anda di halaman 1dari 20

CRITICAL BOOK REPORT

PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Eni Yuniastuti, M.Sc

Oleh :

Irvi Sari Chairuna Pulungan

3173131018

D Geografi 2017

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat
Rahmat dan HidayahNya, penulis dapat menyelesaikan Critical Book Report tepat pada
waktunya. Critical Book Report ini disusun guna memenuhi salah satu tugas Penjaminan Mutu
Pendidikan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, didalam ini penulis berusaha
menjelaskan bagaimana Pembahasan tentang penginderaan jauh Critical Book Report yang
penulis susun ini belumlah sempurna, akan tetapi penulis telah berusaha semaksimal mungkin
dalam pembuatan CBR ini. Oleh karena itu,penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan CBR ini sampai selesai. Serta ucapan
terimakasih penulis sampaikan juga kepada Ibu Dosen mata kuliah Penjaminan Mutu Pendidikan
yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.

Akhir kata, penulis berharap CBR ini dapat bermanfaat bukan hanya bagi penulis
sendiri namun juga dapat bermanfaat bagi semua orang yang membaca CBR ini untuk
menambah wawasannya. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan CBR ini.

Medan, Oktober 2020

Irvi Sari Chairuna P

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latarbelakang

Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan untuk digunakan sebagi dasar
dalam memperbaiki sistem pendidikan. Pada saat ini upaya peningkatan mutu pendidikan
terus dilakukan oleh banyak pihak, baik dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat.
Upaya- upaya tersebut dilandasi oleh kesadaran betapa pentingnya peranan pendidikan
dalam pengembangan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang
handal demi kemajuan masyarakat dan bangsa.

Rendahnya mutu pendidikan terkait dengan kebijakan yang dipakai oleh pemerintah
selama ini dalam membangun pendidikan, yang lebih menekankan pada dimensi
structural dengan pendekatan input-output. Pemerintah berkeyakinan bahwa dengan
meningkatkan pola penerapan manajemen mutu terpadu dengen pengelolaan input secara
maksimal maka dengan sendirinya akan dapat meningkatkan mutu output yang
diharapkan lebih baik.

Konsep pengelolaan manajemen sekolah merupakan sasaran yang harus dicapai, karena
itu semua sumberdaya sekolah harus dikelola sedemikian rupa secara terarah dan terpadu
sesuai dengan fungsi masing-masing dalam sekolah.

B. Tujuan

Untuk mengetahui manajemen mutu pendidikan

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. IDENTITAS BUKU

Buku I

Judul Buku : Manajemen Mutu Pendidikan

Penulis : Arbangi, Dakir dan Umiarso

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Kencana

ISBN : 978-602-422-064-8

Jumlah Halaman : 312 hlm

Cetakan : Ke-1, November 2016

Buku II

Judul Buku : TOTAL QUALITY MANAGEMENT: Teori dan Praktik Manajemen Untuk

Mendongkrak Mutu Pendidikan.

Penulis : Aminatul Zahroh, M.Pd. I

Tahun Terbit : 2014

Penerbit : Ar-Ruzz Media

Tempat Terbit : Yogyakarta

ISBN : 978-602-7874-77-0

Jumlah Halaman : 192 hlm

Cetakan : Ke-1
4
B. RINGKASAN BUKU

Buku I

Bab I ( Pendahuluan )

Bab ini berisi pendahuluan yang membahas tentang salah satu cara yang dapat meningkatkan
mutu pendidikan yaitu dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) dapat dipandang sebagai suatu pendekatan pengelolaan sekolah dalam
rangka desentralisasi pendidikan yang memberikan wewenang yang lebih luas kepada kepala
sekolah untuk mengambil keputusan mengenai pengelolaan sumber-sumber daya pendidikan
sekolah (manusia, keuangan, material, metode, tekhnologi, wewenang dan waktu) yang
didukung dengan partisifasi yang tinggi dari warga sekolah, orangtua, dan masyarakat sesuai
dengan kerangka kebijakan pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Sehinga pada hakikatnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) akan membawa kemajuan dalam
dua area yang saling tergantung, yaitu: pertama, kemajuan program pendidikan dan pelayanan
kepada siswa-orangtua, siswa dan masyarakat. Kedua, kualitas lingkungan kerja untuk semua
anggota organisasi.

Bab II ( Desentralisasi Pendidikan )

Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat
dalam menangani persoalan pendidikan di Indonesia. Desentralisasi yang diberikan kepada
kepala sekolah merupakan alokasi sumber daya bagi staf pengajar dan administrasi, peralatan,
dan pelayanan. Misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah,
terciptanya infratruktur kelembagaan yang menunjang terselenggaranya system pendidikan yang
relevan dengan tuntutan zaman, antara lain terserapnya konsep globalsasi, humanisasi, dan
demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokrasi dilakukan dengan mengikut sertakan unsur-
unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan an
menumbuhkan dukungan positif dalam pendidikan.

5
Bab III ( Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) )

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah pemberian otonomi penuh kepada kepala sekolah
untuk secara aktif-kreatif serta mandiri dalam pengembangan dan melakukan inovasi dalam
berbagai program untuk meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah
sendiri yang tidak lepas dari kerangka tujuan pendidikan nasional dengan melibatkan yang
berkepentingan (stakeholder) serta sekolah harus pula mempertanggung jawabkan kepada
masyarakat (yang berkepentingan). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) mendorong
professional guru dan terutama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yang ada di garda
depen. Melalui pengembangan kurikulum yag efektif dan fleksibel, rasa tanggao sekolah
terhadap kebutuhan masayarakat setempat akan meningkat dan juga layanan pendidikan
pendidikan akan sesuai dengan tuntutan peserta didik dan masyarakat sesuai dengan alur era
yang terus berubah. Sebab prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan dengan adanya partisipasi
antara orangtua peserta didik, karena mereka dapat langsung mengawasi kegiatan belajar
mengajar anaknya.

Bab IV ( Mutu Pendidikan )

Mutu pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif dan
efisien untuk melahirkan keuggulan akademik dan ekstrakulikuler pada peserta didik yang
dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran
tertentu. Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Dinata Total Quality Manajemen merupakan
pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungannya. Penerapan TQM berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat. Kebebasan
berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa dan guru, antara siswa dan
kepala sekolah, antara guru dan kepala sekolah, singkatnya adanya kebebasan berpendapat dan
keterbukaan antara seluruh warga sekolah.

Indicator mutu pendidikan yaitu:

a. Hasil akhir pendidikan


6
b. Hasil langsung pendidikan

c. Proses pendidikan

d. Instrument input

e. Raw input dan lingkungan.

Manajemen Mutu Terpadu tujuan akhirnya dalam dunia adalah meningkatkan kualitas, daya
saing bagi output (lulusan) dengan indicator adanya kompetensi baik intelektual maupun skill
serta kompetensi social siswa/lulusan yang tinggi. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi
TQM di dalam organisasi pendidikan (sekolah) perlu dilakukan dengan sebenarnya tiak dengan
setengah hati. Dengan memanfaatkan semua entitas kualitas yang ada dalam organisasi, maka
pendidikan kita tidak akan jalan ditempat seperti saat ini. Kualitas pendidikan kita berada pada
urutan 101 dan masih berada di bawah Vietnam yang notabene Negara tersebut dapat dikatakan
baru saja merdeka dibandingkan dengan kemerdekaan bangsa kita Indonesia.

BAB V ( Mengelola Sekolah Berkuaitas dan Kompetensi Guru )

Sekolah unggulan yang sebenarnya dibangun dengan secara bersama-sama oleh seluruh warga
sekola, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Dalam konteks sekolah unggulan yang
saat ini diterapkan, untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi maka harus dirancang
kurrikulum yang baik yang diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. Keungulan sekolah
terletak pada bagaimana cara sekolah merancang bangunan sekolah sebagai organisasi.

Pengembangan sekolah ungulan pada hakikatknya berpijak di atas empat strategi dasar kebijakan
pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam GBHN 1993, yaitu: (1) pemerataan
kesempatan, (2) relevansi, (3) kualitas, dan (4) efektivitas.

Oleh karena itu, penyelenggaraan sekolah unggulan harus segera direstrukrisasi agar benar-benar
bisa melahirkan manusia unggul yang bermanfaat bagi negeri ini. Bibit-bibit manusia unggul di
Indonesia cukup besar karena prefalensi anak berbakat sekitar 2 persen, artinya setiap 1.000
orang tedapat 20 Anak berbakat. Berdasarkan prakiraan lembaga demokrafi UI (1991) penduduk
usia sekolah di Indonesia Tahun 2000 diperkirakan sebesar 76.478.249, maka kita akan memiliki

7
anak berbakat (baca:unggul) sebesar 1.529.565 orang. Jumlah ini cukup untuk memenuhi
pimpinan dari tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan.

BAB VI ( Supervisi Akademik dalam Membangun Mutu Pendidikan )

Pengawasan proses kegiatan pembelajara di sekolah atau di lembaga pendidikan yang dilakukan
dengan mengacu pada system dan mekanisme yang telah baku dsebut dengan supervise
akademik. Artinya, supervisi akademik dilakukan atau dilaksanakan atas dasar kaidah-kaidah
ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan kebutuhan
users.

Oleh sebab itu, supervise akademik dilakukan bukan untuk mencari kesalahan pada pelaksanaan
kinerja komponen sekolah melainkan untuk membantu komponen sekolah tersebut dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran dan unutk mengatasi berbagai hambatan yang ditemukan
dalam proses belajar mengajar.

Komponen supervise pendidikan yaitu:

a. Komponen siswa

b. Komponen guru dalam personel lainnya

c. Komponen kurikulum

d. Komponen sarana dan prasarana

e. Komponen pengelolaan (manajemen)

f. Komponen lingkungan dan situasi umum

Prinsip dari supervise yaitu:

a. Demokratis

b. Ilmiah

8
c. Kerja sama

d. Konstruktif

e. Terpusat pada guru

f. Didasarkan atas kebutuhan guru

g. Sebagai umpan balik

h. Professional

Jadi dapat disimpulakan bahwa tujuan umum supervise adalah memberikan bantuan teknis dan
bimbingan kepad guru ( dan staf sekolah yang lain ) agar personil tersebut mampu meningkatkan
kaitas kinerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses belajar
mengajar.dengan demikian, jelas bahwa tujuan supervise pendidikan ialah memberikan layanan
dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk
meningkatkan kuaitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki mengajar tapi juga untuk
pengembangan potensi kualitas guru.

BAB VII ( Membangun Manajemen Sekolah Efektif nan Unggulan )

Keberhasilan dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) akan berimplikasi pada system sekolah
khususnya pada peningkatan pembelajaran di sekolah yang merupakan esensi dari eksistensi
lembaga pendidikan. Sekolah efektif adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai
kepuasan (output) pendidikannya, yaitu orang tua stakeholders dan pengguna pendidikan lainnya.

Oleh sebab itu, implementasi manajemen dalam organisasi sekolah efektif sangat menentukan
terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Karena dalam pencapaian tujuan
organisasi sekolah efektif yang dalam hal ini adalah lembaga pendidikan, memerluka suatu
proses yang khas dan dinamis.

Dengan demikian, kemampuan manajerial pemimpin sekolah sangat menentukan gerak


organisasi sekolah dalam menciptakan iklim pembeajaran ynag kondusif dan menjadi pendidikan
yang efektif. Sehingga yang harus dimiliki oleh sekolah dalam membangun iklim pembelajaran

9
yang kondusif dengan suasana intelektual yang tinggi dan menjadi persyaratan untuk sekolah
efektif adalah seperti berikut ini:

a. Memiliki visi dan target mutu

b. Memiliki kepemimpinan yang kuat

c. Evaluasi aspek akademis dan administrasi

d. Harapan berprestasi yang tinggi dari personel sekolah

e. Pengembangan staff secara terus-menerus sesuai tuntutan IPTEK

f. Pemamfaatan hasil evaluasi

g. Komunikasi dan dukungan intensif orang tua

h. Lingkungan aman dan tertib

BAB VIII ( Budaya Sekolah dan Sekolah Efektif: Konstruksi Lembaga Pendidikan Islam Efektif
dan Efisien )

Budaya sekolah memiliki dampak yang sangat luar biasa terhadap efektifitas kinerja organisasi
sekolah yang bersumber pada tata nilai dan norma yang efek konkretnya pada mainstream
sumber daya manusia. Dalam salah satu riset yang dilakukan John P. Kotter & James L Heskett
menyimpulkan, organiasi yang menekankan pada budaya organisasi dapat meningkatkan
pendapatnya sebesar 682%, dibandigkan dengan organisasi yang tidak menekankan budaya
hanya mempu meningkatkan pendapatannya sebesar 166% dalam durasi waktu 11 tahun. Maka
ketika kesimpulan ini ditarik ke arah pendidikan memiliki benang merah terhadap peningkatan
prestasi (pada arah kogitif, afektif, ataupun psikomotorik) peserta didik.

Budaya organisasi yang dianut segenap sumber daya manusia mampu untuk mempengaruhi
organisais dalam melakukan aktivitas kerja secara makro termasuk juga dalam lingkup sekolah.
Budaya organisasi-baca budaya sekolah-bisa membantu menjaga stabilitas system social atau
mempromosikan stabilitas system social pada organisasi sekolah. Dengan budaya itu pula,

10
organisasi pendidikan bisa untuk menentukan polaritas kinerja yang mengantarkan pada
pencapaian tujuan pendidikan yang diamanahkan undang-undang (konstitusi) dan institusi.

BAB IX ( Penutup: Meretas Manajemen Sekolah Menuju Pedidikan Berkualitas )

TQM adalah pendekatan praktis dan startegis dalam menjalankan roda organisasi yang
memfokuskan diri pada kebutuhan pelanggan dan liennya. Sehingga pada ranah ini perlu suatu
komtmen dari komponen sekolah untuk meningkatan mutu sekolah tersebut. Dengan demikian
manajemen sekolah akan terus mencari bentuk yang sesuai dengan keinginan dari stakeholder.
Begitu pula dalam bentuk , pola serta dasar yang sesuai dengan perembangan lingkungan sekolah.

Buku II

Bab I ( Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah )

Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaii keluaran yang dihasilkan. Mutu
pendidikan yang dikmaksud di sini adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam
mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal
mungkin. Dalam konteks pendidikan, menurut Kementrian Pendidikan Nasional sebagaimana
dikutip Mulyasa, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan.

Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dapat didefinisikan sebagai model
manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk
melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah
atau untuk mencapai tujuan mutu sekolah dalam kerangkapendidikan nasional.

Teori yang digunakan MBS untuk mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu
prinsip ekuifinalitas (principle of equifinality), prinsip desentralisasi (principle of
decentralization), prinsip prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif manusia
(principle of human initiative). Dalam MPMBS diharapkan sekolah dapat bekerja dalam koridor-
koridor tertentu.koridor yang dimaksud adalah sumber daya, pertanggungjawaban, kurikulum
dan personel sekolah.

Penerapan Total Quality Management (TQM) di sekolah adalah upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Ada beberapa bagian yang harus diterapkan dalam kegiatan organisasi yang
11
merupakan unsur yang berfungsi daling mendukung dan membentuk bangunan TQM yaitu
sebagai berikut: 1) kerja tim (team work); 2) kepemimpinan (leadership); dan 3) adanya
komunikasi (communication).

BAB II ( Visi Misi Lembaga Pendidikan Profesional Dalam Total Quality Management )

Secara sederhana, visi dapat diartikan sebagai pandangan, keinginan, cita-cita, harapan, dan
impian-impian tentang masa depan. Pernyataan visi ini mengisyaratkan mengenai tujuan puncak
yang hendak dicapai oleh lembaga pendidikan atau sekolah. Misi adalah suatu cara yang
dilakukan untuk mewujudkan suatu visi tersebut. Misi dalam pendidikan sering kali diartikan
sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan dan berkaitan dengan visi pendidikan, atau bisa
dikatakan bahwa misi ini memberikan arahan yang jelas baik untuk masa sekarang maupun
untuk masa yang akan datang.

Dalam perumusan visi dan misis pendidikan harus mendapat pola dan rumusan yang jelas dan
sesuai dengan tatanan operasionalnya, serta diletakkan dalam konteks tatanan masyarakat yang
terus berubah (dinamis) dan menjangkau keseluruh lapisan masyarakat. Implementasi total
quality management (TQM) melalui visi dan misi lembaga pendidikan perlu memperhatikan hal-
hal berikut: 1) kerja sama tim (team work); 2) keterlibatan stakeholder; 3) keterlibatan siswa; dan
4) keterlibatan orang tua.

BAB III ( Sekolah Efektif )

Sekolah efektif dalam perspektif TQM merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya
sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik (mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan tindakan dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara
efektif dan efisien. Selanjutnya jika dilihat dalam perspektif ini, dimensi dan indikator sekolah
efektif dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) layanan belajar bagi siswa; 2) mutu mengajar guru; 3)
kelancaran layanan belajar mengajar; 4) umpan balik yang diterima siswa; 5) layanan keseharian
guru terhadap siswa; dan 6) kenyamanan ruang kelas.

Beberapa cara yang ditempuh untuk mewujudkan sekolah efektif: 1) adanya program mutu; 2)
adanya komunikasi dilikngkungan sekolah; 3) memiliki sarana dan prasarana yang memadai; 4)
adanya perubahan atau inovasi; 5) pengutamaan layanan; dan 6) adanya persiapan studi lanjut.
12
BAB IV ( Implementasi Total Quality Management Di Lembaga Pendidikan )

Total Qualiy Management (TQM) ialah suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya
saing melalui perbaikan terus menerus atas jasa, manusia, produk dan lingkungan. Berdasarkan
beberapa pengertian TQM di atas, paling tidak terdapat empat konsep dalam TQM, antara lain:
quality, kepuasan pelanggan, perbaikan terus-menerus, dan menyeluruh di semua komponen
organisai. Implementasi TQM di lemabaga pendidikan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
pertama adanya perbaikan secara terus menerus, kedua adanya standar mutu, ketiga adanya
perubahan budaya atau kultur (change of culture), keempat adanya perubahan organisasi, dan
kelima adanya usaha untuk mempertahankan hubungan baik kepada pelanggan. Prosedur dalam
pengimplementasan TQM pada dasarnya menempuh tiga tahapan sebagai berikut: 1) persiapan 2)
pengembangan sistem; dan 3) implementasi sistem. Setidaknya ada dua faktor yang dapat
menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil.
Pertama, strategi pembangunan lebih bersifat input oriented. Dan kedua, pengelolaan pendidikan
selama ini masih bersifat macro oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat.

Dewan sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam
meningatkan mutu,pemerataan, efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. peran
dewan sekolah secara umum dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah: pertama, pemberi
pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di
tingkat satuan pendidikan; kedua, pendukung (supporting agency), baik yang erwujud finansial,
pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan; ketiga,
pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan
dan keluaran (output) pendidikan di satuan pendidikan; dan keempat, mediator antara pemerintah
(eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan.

Manajemen sumber daya manusia (MSDM) adalah manajemen yang berfungsi dalam proses
pengadaan tenaga pendidik di lembaga pendidikan atau sekolah mulai dari perencanaan pegawai,
pengadaan pegawai, pembinaan dan pengembangan pegawai, promosi dan mutasi,
pemberhentian pegawai, kompensasi dan penilaian pegawai yang semuanya dilakukan secara
objektif dan transparan.

13
Peran TQM di lembaga pendidikan atau sekolah akan dikelola dan diatur dengan baik, mulai dari
masalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang lebih diarahkan pada
keaktifan siswa, dan tahap terakhir, yaitu pengadaan evaluasi pembelajaran.

Bab V ( Efektivitas, Efisiensi Dan Produktivitas Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan )

Dalam pengelolaan sekolah, efektivitas menunjukkan ketercapain sasaran serta tujuan yang telah
ditetapkan. Sementara itu, maksud efisiensi pendidikan adalah dengan memanfaatkan tenaga,
fasilitas, dan waktu sedikit mungkin yang mampu menghasilkan sesuatu yang banyak, bermutu,
relevan, dan bernilai ekonomi tinggi. Efisiensi pendidikan memiliki arti sebagai hubungan antara
pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang
tinggi. Kalau efektivitas membandingkan antara rencana dengan tujuan yang dicapai, efisiensi
membandingkan antara input atau sumber daya dengan output. Produktivitas menurut
Engkoswara dalam Buchori Alma bahwa produktivitas pendidikan dapat dilihat pada: 1)
efektivitas berupa masukan yang merata, keluaran yang bermutu, ilmu dan keluaran yang
berkaitan dengan kebutuhan, pendapatan tamatan yang memadai; 2) efisiensi berupa kegairahan
motivasi belajar yang tinggi,semangat kerja besar, kepercayaan berbagai pihak, pembiayaan
sekecil mungkin tapi hasil yang besar.

Kajian dari pendidikan secara lebih komprehensif berupa hasil keluaran/lulusan yang banyak dan
bermutu dari tiap-tiap fungsi atau peranan penyelenggaraan sekolah, seperti dijelaskan Thomas
yang mengemukakan tiga pendekatan mengukur produktivitas, sebagai berikut: 1) the
administrator’s product function; 2) the psychology production function; dan 3) the economist’s
function.

BAB VI ( Manajemen Keuagan Dan Penggalian Sumber Dana Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan Di Sekolah )

Manajemen keuangan dalam lembaga pendidikan atau sekolah adalah menggali dana secara
kreatif dan maksimal, menggunakan dana secara jujur dan terbuka, mengembangkan dana secara
produktitif, dan mempertanggungjawabkan dana secara objektif. Bila ini benar-benar diterapkan,
manajemen keuangan akan membantu kemajuan lembaga pendidikan atau sekolah tersebut.
Standarisasi pengelolaan keuangan dalam pengembangan pendidikan dapat dilakukan dengan
14
langkah-langkah sebagai berikut: 1) perencanaan; 2) sumber daya manusia yang jujur, loyal, dan
berkualitas; dan 3) manager keuangan yang terbuka, tegas, dan transparan.

Kelancaran dalam pelaksanaan dan operasional manajemen keuangan di lembaga pendidikan


atau sekolah meliatkan berbagai komponen. Komponen manajemen keuangan meliputi: prosedur
anggaran, prosedur akuntansi keuangan, pembelajaran, pergudangan, prosedur pendistribusian,
prosedur investasi, dan prosedur pemeriksaan. Agar operasionalisasi keuangan di lembaga
pendidikan atau sekolah bisa berjalan secara efektif, ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
yaitu pelaksanaan keuangan harus objektif, tepat pada waktunya, dan sesuai dengan yang
diinginkan atau sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari sebuah lembaga pendidikan atau
sekolah. Sumber keuangan pada suatu lembaga pendidikan atau sekolah secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi tiga sumber, yaitu: 1) pemerintah, baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah; 2) orang tua siswa; dan 3) masyarakat.

BAB VII( Penambilan Keputusan Dalam Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management)

Pengambilan keputusan adalah proses memilih sejumlah alternatif yang ditawarkan dari hasil
rapat atau diskusi. Alternatif tersebut adalah sebagai berikut: 1) keputusan terprogram
(programmed dicision); dan 2) keputusan tidak terprogram (nonprogrammed dicision). Dalam
proses pengambilan keputusan, setidaknya mengacu pada salah satu dari model klasik, model
administratif, dan model politik atau malah menggabungkan dari ketiga model tersebut.

BAB VIII ( Enterpreneurship Jasa Pendidikan Yang Berfokus Pada Mutu Pendidikan )

Secara sederhana, arti wirausahawan (enterpreneur) adalah orang yang berjiwa berani
mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil
resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas
sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Ada empat unsur yang membentuk pola dasar
kewirausahaan yang benar dan luhur, yaitu sikap mental, kepemimpinan, ketatalaksanaan, dan
keterampilan.

Puncak karir seorang individu dapat digambarkan seperti delapan anak tangga. Kedelapan anak
tangga yang dimaksud adalah: 1) mau bekerja keras; 2) mau bekerja sama dengan orang lain; 3)
berpenampilan yang baik; 4) percaya diri; 5) pandai membuat keputusan; 6) mau menambah
15
ilmu pengetahuan; 7) ambisi untuk maju; 8) pandai berkomunikasi. Dengan kedelapan anak
tangga inilah, seseorang kepala sekolah selaku wirausaha berusaha mengembangkan pendidikan
kewirausahaan pada sebuah lembaga pendidikan atau sekolah yang ia impikan. Selain sebagai
kepala sekolah, kepala sekolah harus mampu berfungsi sebagai inovator wirausaha bagi para
siswa, guru, dan karyawan di lingkungan lembaga pendidikan atau sekolah tersebut.

Penerapan pendidikan kewirausahaan pada dunia pendidikan khususnya sekolah mendapat


tanggapan sangat positif, baik dari siswa, guru, kepala sekolah, maupun orang tua atau wali
siswa. Pada awalnya, pendidikan kewirausahaan hanya diterapkan pada Sekolah Menegah
Kejuruan (SMK). Para siswa SMK merupakan siswa yang memang secara khusus dibekali
dengan pendidikan berwirausaha, di samping mendapat pelajaran lain sebagaimana para siswa di
Sekolah Menengah Atas (SMA).

16
BAB III

ANALISIS BUKU

A. Buku I

Kekhasan dan Kemutakhiran Buku

Kekhasan dari buku ini adalah buku ini membahas tentang manajemen mutu pendidikan.
Dimana pembahasan dalam setiap bab buku ini yang saling berkaitan. Yang dimulai dari
pendahuluan yang membahas permasalahan-permasalahan mutu pendidikan hingga adanya
solusi yang dapat digunakan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Buku ini juga memilik kemutakhiran atau hubungan yang erat, karena seiring dengan
perkembangan zaman maka peningkatan mutu pendidikan juga harus berkembang. Salah satu
cara yang dapat meningkatkan mtu pendidikan di Indonesia adalah dengan menggunakan
manajemen berbasis sekolah. Dimana dengan menggunakan manajemen berbasis sekolah ini
sekolah memiliki otonomi (hak dan tanggung jawab) untuk mengelola sekolahnya sendiri
secara mandiri, sehinga diharapkan mutu pendidikan dapat meningkat.

Kelebihan dan Kelemahan Buku

Kelebihan dari buku ini adalah sistematika penulisan bukunya baik, menggunakan bahasa
yang mudah dipahami, dilengkapi dengan footnote dan daftar pustaka, banyak menggunakan
teori para ahli. Dilihat dari segi isi, menurut saya isi buku ini sangat lengkap di karenakan
telah di beri penjelasan secara rinci dengan adanya pembagian pembagian yg jelas.
Sedangkan untuk kelemahannya, saya tidak menemukan kekurangan pada buku ini, karena
pembahasan dari buku ini sudah baik dan telah dapat digunakan sebagai bahan literasi bacaan
untuk para mahasiswa.

B. Buku II

Kekhasan dan Kemutakhiran Buku

Kekhasan dari buku ini adalah buku ini membahas tentang total quality management.
Dimana pembahasan pertama mengenai manajemen peningkatan mutu pendidikan Pada buku
17
ini memberikan kita pemahaman tentang besarnya pengaruh dari manajemen berbasis
sekolah terhada peningkatkan mutu pendidikan di Indonesia jika dilakukan dengan baik.

Dan kemutakhiran dari buku ini, saya mengangap bahwa buku ini sangat mutakhir, Karena
buku ini membahas cara meningkatkan mutu pendidikan dengan penerapan manajemen
berbasis sekolah. Dimana masalah ini sangat mutakhir untuk dibahas, karena sangat
bermanfaat untuk pendidikan di Indonesia.

Kelebihan dan Kelemahan Buku

Kelebihan dari buku ini adalah sistematika penulisan bukunya baik, dilengkapi dengan daftar
pustaka, menggunakan teori para ahli, menggunakan ayat-ayat al-qur’an dan menggunakan
footnote. Sedangkan kelemahan, saya tidak menemukan kekurangan pada buku ini, karena
pembahasan dari buku ini sudah baik dan telah dapat digunakan sebagai bahan literasi bacaan
untuk para mahasiswa.

18
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jadi disini dapat saya tarik kesimpulan bahwasanya di dalam buku ini memberikan
pemahaman tentang bagaiman meningkatkan mutu pendidikan. Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) adalah pemberian otonomi penuh kepada kepala sekolah untuk secara
aktif-kreatif serta mandiri dalam pengembangan dan melakukan inovasi dalam berbagai
program untuk meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri
yang tidak lepas dari kerangka tujuan pendidikan nasional dengan melibatkan yang
berkepentingan (stakeholder) serta sekolah harus pula mempertanggung jawabkan kepada
masyarakat (yang berkepentingan).

Mutu pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif
dan efisien untuk melahirkan keuggulan akademik dan ekstrakulikuler pada peserta didik
yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program
pembelajaran tertentu. Penerapan Total Quality Management (TQM) di sekolah adalah
upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ada beberapa bagian yang harus diterapkan
dalam kegiatan organisasi yang merupakan unsur yang berfungsi daling mendukung dan
membentuk bangunan TQM yaitu sebagai berikut: 1) kerja tim (team work); 2)
kepemimpinan (leadership); dan 3) adanya komunikasi (communication).

B. Saran

Dari hasil analisis yang saya lakukan pada buku ini, Mungkin akan jauh lebih baik
apabila menggunakan kata-kata yang sederhana mungkin guna mencapai pemahaman
yang lebih luas oleh para si pembaca. Serta buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman
untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan. Serta di dalam buku ini juga di cantumkan
rangkuman di setiap babnya. Supaya bisa memudahkan dan mengerti pembaca dalam
memahami isi buku tersebut.

19
DAFTAR PUSTAKA

Arbangi,dkk.2016. Manajeme Mutu Pendidikan.Kencana

Zahro,Aminatul.2014.TOTAL QUALITY MANAJEMENT.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media

20