Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pencemaran Air Sungai


1. Pencemaran Air
Pencemaran air merupakan suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan
air seperti sungai, danau, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Sungai, danau,
lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan
merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi.
Definisi pencemaran air menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan
dan Lingkungan Hidup Nomor : KEP-02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku
Mutu Lingkungan adalah : masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan
atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan air menjadi kurang alau sudah tidak berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukkannya (pasal 1 ). Dalam pasal 2, air pada sumber air menurut kegunaan/
peruntukkannya digolongkan menjadi :
a. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung
tanpa pengolahan terlebih dahulu.
b. Golongan B, yaitu air yang dapat dipergunakan sebagai air baku untuk diolah
sebagai air minum dan keperluan rumah tangga.
c. Golongan C,yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan.
d. Golongan D, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan pertanian, dan
dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, dan listrik negara.

Pencemaran air terdiri dari bermacam-macam jenis, dan pengaruhnya terhadap


lingkungan serta makhluk hidup juga bermacam-macam. Jenis pencemaran air yang
walaupun air merupakan sumber daya alam yang dapat di-perbarui, tetapi air akan
dapat dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia. Indikator atau tanda
bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat
diamati yang dapat digolongkan menjadi :
a. Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat
kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna,
bau dan rasa.
b. Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat
kimia yang terlarut, perubahan pH .
c. Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan
mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen.
2. Pencemaran Air Sungai
Di Indonesia, sungai dapat dijumpai di setiap tempat dengan kelasnya masing masing.
Sungai di manfaatkan untuk memenuhi keperluan sehari-hari, baik transportasi,
mandi, mencuci dan sebagainya bahkan untuk diwilayah tertentu sungai dapat
dimanfaatkan untuk menunjang makan dan minum. Sungai sebagai sumber air, sangat
penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, sebagai sarana
penunjang utama dalam meningkatkan pembangunan nasional dan sebagai sarana
transportasi yang relatif aman untuk menghubungkan wilayah satu dengan lainnya.
Sungai sebagai sumber air merupakan salah satu sumber daya alam berfungsi
serbaguna bagi kehidupan dan penghidupan makhluk hidup. Air merupakan
segalanya dalam kehidupan ini yang fungsinya tidak dapat digantikan dengan zat atau
benda lainnya, namun dapat pula sebaliknya, apabila air tidak dijaga nilainya akan
sangat membahayakan dalam kehidupan ini. Maka sungai sebagaimana dimaksudkan
harus selalu berada pada kondisinya dengan cara(Joko Subagyo;1992) :
1. Dilindungi dan dijaga kelestariannya.
2. Ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya.
3. Dikendalikan daya rusaknya terhadap lingkungan.
Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Daerah Aliran
Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai
dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan
air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di
darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan
yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Beberapa sumber pencemar menjadi
penyebab timbulnya kerusakan kualitas air Sungai Dengan beban pencemaran yang
cukup tinggi, senyawa pencemar yang masuk ke dalam air sungai akan
mempengaruhi kualitas air sungai. Beban pencemaran yang berasal dari kegiatan
domestik memberikan kecenderungan peningkatan seiring dengan pertambahan
jumlah penduduk. pencemaran yang berasal dari industri perlu diperhatikan, karena
sifat dan jumlahnya yang sangat mempengaruhi kondisi air sungai.
Fenomena-fenomena pencemaran yang terjadi yaitu akibat dari pencemaran itu
masyarakat yang bermukim dipinggir Sungai menderita penyakit gatal-gatal dan
diare. Ini disebabkan karena lingkungan mereka tidak higienis karena air yang dipakai
untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK) juga digunakan untuk minum. Banyak
penyebab sumber pencemaran air, tetapi secara umum dapat dikategorikan
menjadi 2 (dua) yaitu sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber
langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA sampah, rumah tangga dan
sebagainya. Sumber tak langsung adalah kontaminan yang memasuki badan air dari
tanah, air tanah atau atmosfir berupa hujan (Pencemaran Ling. Online, 2003).
Komponen pencemaran air Sungai yang berasal dari industri, rumah tangga
(pemukiman) dan pertanian dapat dikelompokkan sebagai bahan buangan:
a. Bahan buangan padat
Yang dimaksud bahan buangan padat adalah adalah bahan buangan yang
berbentuk padat, baik yang kasar atau yang halus, misalnya sampah. Buangan
tersebut bila dibuang ke air menjadi pencemaran dan akan menimbulkan
pelarutan, pengendapan atau pun pembentukan koloidal. Apabila bahan buangan
padat tersebut menimbulkan pelarutan, maka kepekatan atau berat jenis air akan
naik. Kadang-kadang pelarutan ini disertai pula dengan perubahan warna air. Air
yang mengandung larutan pekat dan berwarna gelap akan mengurangi penetrasi
sinar matahari ke dalam air. Sehingga proses fotosintesa tanaman dalam air akan
terganggu. Jumlah oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang, kehidupan
organisme dalam air juga terganggu. Terjadinya endapan di dasar perairan akan
sangat mengganggu kehidupan organisme dalam air, karena endapan akan
menutup permukaan dasar air yang mungkin mengandung telur ikan sehingga
tidak dapat menetas. Selain itu, endapan juga dapat menghalangi sumber makanan
ikan dalam air serta menghalangi datangnya sinar matahari.
Pembentukan koloidal terjadi bila buangan tersebut berbentuk halus, sehingga
sebagian ada yang larut dan sebagian lagi ada yang melayang-layang sehingga air
menjadi keruh. Kekeruhan ini juga menghalangi penetrasi sinar matahari,
sehingga menghambat fotosintesa dan berkurangnya kadar oksigen dalam air.
b. Bahan buangan organic dan olahan bahan makanan
Bahan buangan organic umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau
terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga bila dibuang ke perairan akan
menaikkan populasi mikroorganisme. Kadar BOD dalam hal ini akan naik. Tidak
tertutup kemungkinan dengan berambahnya mikroorganisme dapat berkembang
pula bakteri pathogen yang berbahaya bagi manusia. Demikian pula untuk
buangan olahan bahan makanan yang sebenarnya adalah juga bahan buangan
organic yang baunya lebih menyengat. Umumnya buangan olahan makanan
mengandung protein dan gugus amin, maka bila didegradasi akan terurai menjadi
senyawa yang mudah menguap dan berbau busuk.
c. Bahan buangan anorganik
Bahan buangan anorganik sukar didegradasi oleh mikroorganisme, umumnya
adalah logam. Apabila masuk ke perairan, maka akan terjadi peningkatan jumlah
ion logam dalam air. Bahan buangan anorganik ini biasanya berasal dari limbah
industri yag melibatkan penggunaan unsure-unsur logam seperti timbal (Pb),
Arsen (As), Cadmium (Cd), air raksa atau merkuri (Hg), Nikel (Ni), Calsium
(Ca), Magnesium (Mg) dll. Kandungan ion Mg dan Ca dalam air akan
menyebabkan air bersifat sadah. Kesadahan air yang tinggi dapat merugikan
karena dapat merusak peralatan yang terbuat dari besi melalui proses pengkaratan
(korosi). Juga dapat menimbulkan endapan atau kerak pada peralatan. Apabila
ion-ion logam berasal dari logam berat maupun yang bersifat racun seperti Pb, Cd
ataupun Hg, maka air yang mengandung ion-ion logam tersebut sangat berbahaya
bagi tubuh manusia, air tersebut tidak layak minum.
d. Bahan buangan cairan berminyak
Bahan buangan berminyak yang dibuang ke air lingkungan akan mengapung
menutupi permukaan air. Jika bahan buangan minyak mengandung senyawa yang
volatile, maka akan terjadi penguapan dan luas permukaan minyak yang menutupi
permukaan air akan menyusut. Penyusutan minyak ini tergantung pada jenis
minyak dan waktu. Lapisan minyak pada permukaan air dapat terdegradasi oleh
mikroorganisme tertentu, tetapi membutuhkan waktu yang lama. Lapisan minyak
di permukaan akan mengganggu mikroorganisme dalam air. Ini disebabkan
lapisan tersebut akan menghalangi diffusi oksigen dari udara ke dalam air,
sehingga oksigen terlarut akan berkurang. Juga lapisan tersebut akan menghalangi
masuknya sinar matahari ke dalam air, sehingga fotosintesapun terganggu. Selain
itu,burungpun ikut terganggu, karena bulunya jadi lengket, tidak dapat
mengembang lagi akibat kena minyak.
e. Bahan buangan berupa panas (polusi thermal)
Perubahan kecil pada temperatur air lingkungan bukan saja dapat menghalau ikan
atau spesies lainnya, namun juga akan mempercepat proses biologis pada
tumbuhan dan hewan bahkan akan menurunkan tingkat oksigen dalam air.
Akibatnya akan terjadi kematian pada ikan atau akan terjadi kerusakan ekosistem.
Untuk itu, polusi thermal inipun harus dihindari. Sebaiknya industri-industri jika
akan membuang air buangan ke perairan harus memperhatikan hal ini.
f. Bahan buangan zat kimia
Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, tetapi dalam bahan pencemar air ini
akan dikelompokkan menjadi :
 Sabun (deterjen, sampo dan bahan pembersih lainnya)
 Bahan pemberantas hama (insektisida)
 Zat warna kimia
 Zat radioaktif
Salah satu contoh kasus pencemaran air sungai yaitu Pencemaran Air Sungai Siak ( studi pada
Daerah Aliran Sungai Siak Bagian Hilir) yang di teliti oleh N.A Dwi Putri.

Daerah Aliran Sungai Siak sebagai bagian dari ruang yang memiliki karakteristik tersendiri,
wilayahnya melintasi 4 kabupaten dan 1 kota yang merupakan satu kesatuan ekologis yang tidak
dapat dipisahkan. Keempat kabupaten dan kota yang termasuk ke dalam wilayah DAS Siak
adalah Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru, Kabupaten Bengkalis dan
Kabupaten Siak. Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan di DAS Siak sudah mengarah
pada taraf yang dapat mengancam keberlanjutan pasokan sumberdaya alam untuk pembangunan
di masa mendatang atau dengan kata lain sudah dalam tahap kritis. Banjir, kekeringan, erosi,
sedimentasi, dan pencemaran air sungai, merupakan respon atas pengelolaan lahan di DAS Siak
(Bapedal Propinsi Riau:2005). Beberapa isu penting kerusakan sumber daya alam dan
lingkungan di DAS Siak seperti yang dipaparkan Menteri Pekerjaan Umum dalam seminar
penyelamatan dan pelestarian DAS Siak dan dapat dijadikan indicator kritisnya DAS tersebut
adalah sebagai berikut :

1. Penurunan kualitas dan kuantitas sungai Siak yang sudah berada di bawah ambang batas
ketentuan sungai yang lestari.
2. Tingginya Konversi Lahan
3. Kerusakan Lingkungan
a. Penggundulan Hutan
b. Abrasi Tebing
c. Sedimentasi
d. Pencemaran Air

Sebagai dampak dari pengelolaan lingkungan yang masih belum optimal, pencemaran air Sungai
Siak akan terus terjadi dan dapat menimbulkan kualitas air sungai yang makin besar. Selama ini
DAS Siak sangat berguna untuk berbagai kepentingan seperti industri, pemukiman, pertanian,
perikanan, dan transportasi. Kerusakan dan pencemaran air sungai akhirnya akan menjadikan
fungsi sungai semakin kecil/rendah. Dan dalam menangani pencemaran sungai ini pemerintah
memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam pengendalian pencemaran sungai siak ini.
Menurut Undang-Undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 15,Wewenang dan
tanggung jawab pemerintah propinsi dalam pengelolaan sumber daya air meliputi:

a. Menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan


nasional sumber daya air dengan memperhatikan kepentingan propinsi sekitarnya.
b. Menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas
kabupaten/kota.
c. Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/
kota dengan memperhatikan kepentingan propinsi sekitarnya.
d. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas
kabupaten/kota.
e. Melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota
dengan memperhatikan kepentingan propinsi sekitarnya.
f. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan,
dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
g. Mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan,
peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas

Pelaksanaan Program Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak


Program Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak terdiri dari 12 program. Berdasarkan hasil
penelitian dilapangan dari 12 Program yang dilaksanakan ternyata hanya 9 program yang
terlaksana dan 3 Program tidak terlaksana sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan,
adapun waktu pelaksanaan dari program pengendalian pencemaran air sungai siak ini dimulai
pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Adapun 9 Program pengendalian pencemaran air
sungai siak yang terlaksana yaitu:

1. Program pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah komunal,


2. Penyediaan sarana sanitasi pedesaan,
3. Pelatihan pengelolaan lingkungan untuk masyarakat,
4. Pengembangan tempat pengolahan samah terpadu,
5. Peningkatan kinerja pengolahan air limbah industri,
6. Pengembangan dan penerapan Teknik Produksi Bersih untuk industri
7. Pengendalian limbah cair dan sludge kegiatan pertambangan,
8. Pengembangan sistem informasi lingkungan,
9. Pengawasan dan evaluasi implementasi program dan revisi program

Tiga Program pengendalian pencemaran air sungai siak yang tidak terlaksana yaitu :

1. Program pengembangan Instalasi pengolahan air limbah terpadu untuk industri kecil/
menengah,
2. Evaluasi dan penyempurnaan implementasi pemantauan kualitas air yang telah berjalan,
3. Pemantauan rutin kualitas limbah cair dan Pengembangan sarana dan prasarana
pemantauan kualitas air dan limbah cair, serta laboratorium terakreditasi.

Faktor-Faktor Penghambat Pelaksanaan Program Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak.


Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa faktor-faktor penghambat pelaksanaan
program pengendalian pencemaran air Sungai Siak adalah sebagai berikut :

1. Koordinasi tidak berjalan lancar antara pemerintah Propinsi dengan Kabupaten/ Kota.
Dari hasil penelitian dan pengamatan penulis sewaktu melakukan wawancara, untuk
pihak Bapedalda Kota Pekanbaru memang tidak mengetahui sama sekali tentang
program-program diatas.
2. Rapat koordinasi tidak berjalan lancar antar pemerintah kabupaten/kota dengan pihak
propinsi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan rapat koordinasi tidak berjalan lancar. Hasil
wawancara dengan Pihak Bapedalda Kabupaten Siak (Ibu Zulmaniyetti) rapat koordinasi
hanya dijalankan apabila ada masalah, kalau tidak ada masalah maka rapat tidak akan
diadakan. Sehingga dari pengamatan peneliti disini mereka harus menunggu suatu
masalah terlebih dahulu timbul. sehingga sifatnya mengendalikan dampak yang sudah
terjadi bukan mencegahnya.
3. Kurangnya sumber daya manusia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Bapedalda Kabupaten Siak yaitu dengan Ibu
Zulmaniyetti (Sekretaris Bapedalda Kabupaten Siak) salah satu factor yang menyebabkan
ketidakteraturan mereka dalam melakukan program pemantauan kualitas air Sungai Siak
adalah dikarenakan kurangnya sumber daya manusia yang ahli di bidang tersebut.
4. Keterbatasan Dana.
Dari hasil wawancara dengan ketiga instansi tersebut yaitu pihak Bapedal Propinsi
dengan Bpk. Makruf Siregar dan Ibu Ristauli, Kota Pekanbaru dengan Ibu Jasmiati, dan
Kabupaten Siak dengan Ibu Zulamniyetti salah satu penyebab program pengendalian
pencemaran air Sungai Siak dalam hal ini pemantauan kualitas air Sungai Siak kurang
berjalan lancar adalah karena faktor keterbatasan dana.
5. Sumber daya alam yang belum tersedia.
Yaitu belum tersedianya tanah untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah
untuk industri kecil dan menengah. Maksud dari belum adanya tanah yang tersedia
adalah belum adanya lokasi yang sesuai dan tepat untuk pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Limbah, ada yang tepat tetapi tanah atau lokasi tersebut merupakan tanah
warga.

3.Dampak Pencemaran Air

Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni
makanan hewan, menjadi penyebab ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, peng
rusakan hutan akibat hujan asam . Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat dari
kegiatan pertanian telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali yang
disebut eutrofikasi (eutrofication). Ledakan pertumbuhan tersebut menyebabkan oksigen yang
seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika
tanaman air tersebut mati, dekomposisinya menyedot lebih banyak oksigen. Akibatnya ikan akan

mati dan aktivitas bakteri akan menurun.


Dampak pencemaran air pada umumnya dibagi dalam 4 kategori (KLH, 2004)

a. Dampak terhadap kehidupan biota air


Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen
terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan mengakibatkan kehidupan dalam air yang
membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itu
kematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun yang juga menyebabkan kerusakan
pada tanaman dan tumbuhan air.Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan
air secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air
limbah menjadi sulit terurai. Panas dari industri juaga akan membawa dampak bagi
kematian organisme, apabila air limbah tidak didinginkan dahulu.
b. Dampak terhadap kualitas air tanah
Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform telah terjadi
dalam skala yang luas, hal ini telah dibuktikan oleh suatu survey sumur dangkal di
Jakarta. Banyak penelitian yang mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut.
c. Dampak terhadap kesehatan
Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain :
 air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen
 air sebagai sarang insekta penyebar penyakit
 jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat
membersihkan diri air sebagai media untuk hidup vector penyakit

Ada beberapa penyakit yang masuk dalam katagori water-borne diseases, atau
penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak terdapat di daerah-
daerah. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk
ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain, bakteri,
protozoa dan metazoa.

d. Dampak terhadap estetika lingkungan


Dengan semakin banyaknya zat organic yang dibuang ke lingkungan perairan, maka
perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang
menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah
limbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika. Selain bau, limbah tersebut
juga menyebabkan tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau
sabun akan menyebabkan penumpukan busa yang sangat banyak. Inipun dapat
mengurangi estetika.
B. Upaya Penanggulangan Pencemaran Air Sungai
Pengendalian/penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui Peraturan
Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian
Pencemaran Air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik oleh instansi ataupun
non-instansi. Salah satu upaya serius yang telah dilakukan Pemerintah dalam
pengendalian pencemaran air adalah melalui Program Kali Bersih (PROKASIH).
Program ini merupakan upaya untuk menurunkan beban limbah cair khususnya yang
berasal dari kegiatan usaha skala menengah dan besar, serta dilakukan secara bertahap
untuk mengendalikan beban pencemaran dari sumber-sumber lainnya.Pada prinsipnya
ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu penanggulangan secara non-
teknis dan secara teknis.
1. Penanggulangan secara non-teknis
yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara
menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan
mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak
terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat memberikan
gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan dilaksanakan, misalnya
meliputi AMDAL, pengaturan dan pengawasan dan menanamkan perilaku disiplin.
2. Penanggulangan secara teknis
Bersumber pada perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan
mengubah proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat
mengurangi pencemaran.Sebenarnya penanggulangan pencemaran air dapat dimulai
dari diri kita sendiri.Dalam keseharian, kita dapat mengurangi pencemaran air dengan
cara mengurangi produksi sampah (minimize) yang kita hasilkan setiap hari. Selain
itu, kita dapat pula mendaur ulang (recycle) dan mendaur pakai (reuse) sampah
tersebut.
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang
berbeda-beda.Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.Sampah
organik seperti air comberan menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang
menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah
terhadap seluruh ekosistem.
Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin
organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang
dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.Seperti
limbah pabrik yang mengalir ke sungai seperti di Sungai Citarum.

1. Pencemaran air oleh sampah.


2. Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan.
3. Kandang hewan peliharaan yang berdekatan dengan sungai membuat air tercemar karena
kotoran hewan dibuang ke sungai.

Berdasarkan pantauan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (LH RI) tahun 2014,
sebanyak 75% sungai di Indonesia tercemar berat akibat buangan air limbah rumah tangga . Agar
air yang digunakan untuk kegiatan manusia tidak berdampak negatif bagi manusia, maka perlu
diketahui kualitas sumber air.Selain dari segi kualitas, jumlah air juga harus memadai dalam
rangka pemenuhan kebutuhan manusia. Usaha untuk pengendalian
pencemaran sungai antara lain :

1. Limbah-limbah industri sebelum dibuang kesungai harus dinetralkan dahulu sehingga


tidak lagi mengandung unsur-unsur yang mencemari perairan.
2. Melarang membuang sampah ke sungai, sampah harus dibuang ditempat-tempat yang
telah ditentukan.
3. Mengurangi penggunaan pestisida dalam membasmi hama tanaman.
4. Setiap perusahaan minyak diwajibkan memiliki peralatan yang dapat membendung
tumpahan minyak dan menyedotnya kembali.

Dengan demikian tumpahan minyak tidak akan menyebar luas sehingga pengaruhnya terhadap
pencemaran dapat berkurang.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Sutriyani,Yani.2014.Pencemaran Lingkungan.Ciputat
Machdar,Izarul.2018.Pengantar Pengendalian Pencemaran.Yogyakarta:CV Budi Utama
Warlina,Lina.2004.Pencemaran Air:Sumber,Dampak dan Penanggulangannya.IPB
Ketut,Irianto.2015.Pencemaran Lingkungan.Bali:Universitas Warmadewa
Dawud,Muhammad.dkk.2016.Analisis Sistem Pengendalian Pencemaran Air Sungai
Cisadane Kota Tangerang Berbasis Masyarakat.Jakarta:Universitas Muhammadiyah
Jakarta
Putri,Dwi.2011.Kebijakan Pemerintah Dalam Pengendalian Pencemaran Air Sungai
Siak ( studi pada Daerah Aliran Sungai Siak Bagian Hilir).Universitas Maritim Raja Ali
Haji
Marganingrum,Dyah.dkk.2013.Diferensiasi Sumber Pencemar Sungai Menggunakan
Pendekatan Metode Indeks Pencemar (IP)(studi kasus : Hulu DAS Citarum).ITB