Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INDIVIDU

FARMAKOTERAPI I

“PENYELESAIAN KASUS KANKER PAYUDARA”

OLEH :

NAMA : SUCI RAMDAYANI

NIM : O1A1 17 065

KELAS :C

DOSEN : Apt. SUNANDAR IHSAN, S.Farm., M.Sc.

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
A. PENDAHULUAN
Kanker adalah penyakit tidak menular yang ditandai dengan pertumbuhan sel
tidak normal/terus-menerus dan tidak terkendali yang dapat merusak jaringan
sekitarnya serta dapat menjalar ke tempat yang jauh dari asalnya yang disebut
metastasis. Sel kanker bersifat ganas dapat berasal atau tumbuh dari setiap jenis sel di
tubuh manusia (Depkes RI, 2009). Kanker hingga saat ini menjadi masalah kesehatan
di dunia termasuk Indonesia. Jenis kanker yang banyak diderita dan ditakuti oleh
perempuan adalah kanker payudara. Pada umumnya kanker payudara menyerang
kaum wanita, kemungkinan menyerang kaum laki-laki sangat kecil yaitu 1 : 1000.
Fase awal kanker payudara adalah asimtomatik (tanpa ada gejala dan tanda). Adanya
benjolan atau penebalan pada payudara merupakan tanda dan gejala yang paling
umum, sedangkan tanda dan gejala tingkat lanjut kanker payudara meliputi kulit
cekung, retraksi atau deviasi puting susu dan nyeri, nyeri tekan atau rabas khususnya
berdarah dari puting. Kulit tebal dengan pori-pori menonjol sama dengan kulit jeruk
dan atau ulserasi pada payudara merupakan tanda lanjut dari penyakit. Jika ada
keterlibatan nodul, mungkin menjadi keras, pembesaran nodul limfa aksilaris
membesar dan atau nodus supraklavikula teraba pada daerah leher. Metastasis yang
luas meliputi gejala dan tanda seperti anoreksia atau berat badan menurun; nyeri pada
bahu, pinggang, punggung bagian bawah atau pelvis; batu menetap; gangguan
pencernaan; pusing; penglihatan kabur dan sakit kepala (Briliana,A.,dkk,2017).
Kanker pada stadium lanjut dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang
mengakibatkan diperlukannya perawatan intensif pada penderita tersebut. Jenis-jenis
terapi yang dapat digunakan dalam penanganan kanker diantaranya adalah operasi,
radiasi, dan kemoterapi. Kondisi kanker yang sudah terjadi metastase atau berada
pada stadium lanjut, terapi yang tepat yang dapat diberikan adalah kemoterapi.
Kemoterapi yang dimaksudkan adalah kemoterapi yang bersifat paliatif, dimana
kesembuhan bukanlah tujuan utama pengobatan melainkan peningkatan kualitas
hidup pasien dan meringankan gejala yang dialami pasien akibat progresif
penyakitnya (Sitio, 2019).
B. TATA LAKSANA TERAPI KANKER PAYUDARA
 Contoh Kasus
Ny. Mn umur 65 tahun telah menopause didiagnosis kanker payudara saat belum
menopause di umur 48 tahun. Terapi yang telah didapat adalah bedah radikal
mastektomi yang telah dimodifikasi untuk massa sel 1,5 cm ductus carcinoma in
situ bagian kanan payudara. Sel positif telah mencapai kelenjar limfe 2 dari 10
bagian. Hasil tes patologi menunjukan ER / PR (+) dengan HER2 (-). Ny Mn telah
menyelesaikan terapi dengan regimen kemoterapi AC 4 siklus ditambah
paklitaksel tiap minggu selama 12 minggu. Setelah kemoterapi komplit,
dilanjutkan tamoksifen selama 5 tahun. 10 tahun kemudian setelah komplit
seluruh terapi, Ny. Mn mengalami nyeri di lengan bagian kanan dan tulang rusuk.
Hasil scan tulang sel kanker telah metastase (mencapai tulang).
Bagaimana tatalaksana terapi pada Ny. Mn?
Jika Ny. Mn mendapat terapi hormon, apa yang harus diberikan?
Apa yang harus di monitoring?
Jika Ny. Mn menerima golongan Aromatase Inhibitor / Al, apa terapi suportif
yang harus diberikan?

 Penyelesaian Kasus
1) Identitas Pasien
- Nama Pasien : Ny. Mn
- Umur : 65 tahun
- Jenis Kelamin : Perempuan
2) Data Subjektif
- Keluhan : Ny. Mn mengalami nyeri di lengan bagian kanan dan tulang rusuk
- Riwayat Penyakit : Ny. Mn (65 tahun) yang telah menopause menderita kanker
payudara saat belum menopause di usia 48 tahun.
- Riwayat Pengobatan : Terapi yang telah didapatkan Ny. Mn sebelumnya adalah
bedah radikal mastektomi yang telah dimodifikasi dan terapi dengan regimen
kemoterapi AC 4 siklus ditambah paklitaksel tiap minggu selama 12 minggu.
Setelah kemoterapi komplit, dilanjutkan tamoksifen selama 5 tahun.
- Riwayat Sosial : -
- Riwayat Keluarga : -
3) Data Objektif
- Dari pemeriksaan tes patologi Ny. Mn sebelum menopause (48 tahun)
menunjukan hasil ER / PR (+) dengan HER2 (-).
- Dari hasil scan pemeriksaan tulang Ny.Mn, sel kanker telah mengalami
metastase (mencapai tulang).

4) Assesment
- Setelah komplit seluruh terapi, Ny. Mn mengalami nyeri di lengan bagian
kanan dan tulang rusuk
- Sel kanker Ny. Mn telah mengalami metastase (mencapai tulang).
5) Planning
 Terapi radiasi
Terapi radiasi memainkan peranan penting dalam penatalaksanaan kanker
primer dan metastatik. Penelitian telah memperlihatkan bahwa radiasi dan reseksi
tumor konservatif (lumpektomi, reseksi segmental atau kuadarantektomi)
memberikan hasil serupa dengan yang terlihat setelah maktektomi radikal pada
pasien tumor primer kecil.
Terapi radiasi dapat digunakan untuk menargetkan metastasis tulang yang
menyakitkan, untuk mencegah pertumbuhan tumor lebih lanjut, dan untuk
menghilangkan rasa sakit.
 Terapi hormon
Obat-obatan anti-estrogen (tamoksifen. toremifen), inhibitor aromatase selektif
(anastrazol, letrozol) atau agen progestasional (imegesterol asetat). Dapat
diberikan terutama untuk pasien dengan reseptor ER (+) atau PR (+).
Pada kasus ini, digunakan aromatase inhibitor (anastrazol). Anastrozole
digunakan untuk pengobatan kanker payudara metastatik lanjut yang tergantung
pada estrogen pada wanita yang telah melewati masa menopause atau yang
ovariumnya diangkat. Banyak sel kanker payudara bergantung pada kadar
estrogen tertentu untuk multiplikasi.
Anastrozole adalah obat yang diindikasikan dalam pengobatan kanker
payudara pada wanita pasca-menopause. Ini digunakan baik dalam terapi ajuvan
(yaitu setelah operasi) dan kanker payudara metastatik. Obat ini mengurangi
jumlah estrogen yang dibuat tubuh. Anastrozole termasuk dalam kelas obat yang
dikenal sebagai aromatase inhibitor. Ini menghambat enzim aromatase, yang
bertanggung jawab untuk mengubah androgen (diproduksi oleh wanita di kelenjar
adrenal) menjadi estrogen.

Obat terpilih :
Anastrozole®
Indikasi : Untuk pengobatan hormonal kanker payudara stadium lanjut pada
wanita pasca-menopause. Juga digunakan untuk mengobati ginekomastia pubertas
dan sindrom McCune-Albright; Namun, pabrikan menyatakan bahwa kemanjuran
untuk indikasi ini belum ditetapkan.
Dosis : 1 mg
Aturan pakai : 1 mg/ hari
Efek samping : Kekeringan pada vagina, rambut tipis, anoreksia, mual, muntah,
diare, hot flashes, mialgia, sakit kepala, artralgia, retak tulang, kemerahan
(termasuk sindrom Stevens-Johnson); astenia dan mengantuk.
 Terapi Suportif
Efek sampng dari obat golongan Aromatae Inhibitor mungkin dapat
sedikit diatasi dengan pengobatan dengan bisfosfonat. Untuk wanita yang
kanker payudaranya telah menyebar ke tulang, bifosfonat direkomendasikan,
selain kemoterapi atau terapi endokrin, untuk mengurangi nyeri dan kerusakan
tulang. Pemberian bisfosfonat berfungsi menghambat perluasan metastasis dan
kerusakan tulang. Bisfosfonat dapat diberikan intravena maupun pemberian
oral. Tergantung dari luasnya lesi tulang yang ditemukan (Dipiro, 2016).
Obat terpilih :
Zometa® (Zoledronate)
Indikasi : Bisfosfonat ini digunakan pada pengobatan penyakit Paget,
hiperkalsemia karena keganasan dan metastase tulang pada kanker payudara.
Dosis : 4 mg
Aturan pakai : 4 mg diberikan dalam bentuk infus selama 15 menit selama
sebulan sekali (pengobatan hiperkalsemia akibat komplikasi kanker).
Bifosfonat ini diberikan dalam kombinasi dengan kalsium dan vitamin D.
 KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) & Mentoring
 Obat zometa® diminum 1 tablet sekali sehari
 Efek samping obat zometa dapat menyebabkan kekeringan pada vagina,
rambut tipis, anoreksia, mual, muntah, diare, sakit kepala, artralgia, retak
tulang, kemerahan (termasuk sindrom Stevens-Johnson); astenia dan
mengantuk.

DAFTAR PUSTAKA
Brilliana,A.R.,Arafah,dan Hari,B.N.,2017, faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu
Rumah Tangga Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri(SADARI),The
Indonesian Journal Of Public Health, Vol.12(2).

Chisholm-Burns, M.A., Schwinghammer T.L., Wells B.G., Malone P.M., Koloesar J.M., dan
Dipiro J.T., 2016, Pharmacotherapy Principles and Practice, Mc Graw-Hill.

Sitio R, 2019, Pengalaman Psikososial Pasien Kanker Payudara Yang Menjalani Terapi
Kemoterapi Di Blud Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, Jurnal Keperawatan Priority,
Vol 2, No. 1.