Anda di halaman 1dari 16

Rangkuman biofarmasetika

"Pengaruh fisiologis terhadap biovailabilotas"

Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari hubungan sifat


fisikokimia formulasi obat terhadap bioavailabilitas obat. Bioavailabilitas
menyatakan kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai sirkulasi
sistemik. Biofarmasetika bertujuan untuk mengatur pelepasan obat
sedemikian rupa ke sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang
optimal pada kondisi klinik tertentu.
Obat adalah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh
semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar guna mencegah,
meringankan ataupun menyembuhkan penyakit.
Apabila pemakaian obat harus secara oral dalam bentuk kering, maka
bentuk kapsul dan tablet yang paling sering digunakan. Keduanya efektif
memberikan kenyamanan dan kemantapan dalam penanganan, pengenalan,
dan pemakaian oleh pasien. Dari sudut pandang farmasetika bentuk sediaan
padat pada umumnya lebih stabil dari pada bentuk sediaan cair, sehingga
bentuk sediaan padat ini lebih cocok untuk obat-obat yang kurang stabil.
Tablet efektif memberikan kenyamanan dan kemantapan dalam
penanganan, penegnalan dan pemakaian oleh pasien. Dari sudut pandang
farmasetika tablet (sediaan padat)  lebih stabil daripada bentuk cair,
sehingga lebih cocok untuk obat – obat yang kurang stabil (Ansel, 1989).
Respon biologis tehadap suatu obat merupakan hasil interaksi antara
zat obat dengan molekul-molekul yang penting secara fungsioanl dalam
sistem hidup atau reseptor. Respon disebabkan oleh perubahan dalam proses
biologis yang ada sebelum pemberian obat. Besarnya respon berhubungan
dengan konsentrasi obat yang dicapai pada tempat obat tersebut bekerja.
Konsentrasi ini tergantung pada banyaknya dosis obat yang diberikan,
besarnya absorpsi dan distribusi ke tempat tersebut, dan laju serta besarnya
obta yang dieliminasikan dari tubuh. Sifat fisika kimia dari zat obat
terutama kelarutannya dalam lemak, derajat ionisasi dan ukuran molekul
menentukan besarnya kemampuan untuk mempengaruhi aktivitas biologi.
Umumnya agar suatu obat dapat mengeluarkan efek biologisnya, obat
tersebut harus larut dan ditransfortasikan oleh cairan tubuh, menembus batas
lapisan membran biologis, membebaskan distribusinya secara luas ke
daerah-daerah yang tidak diinginkan, mengalami serangan metabolit,
mempenetrasi ke tempat-tempat kerjanya dalam konsentrasi yang memadai,
dan berinteraksi secara spesifik, menyebabkan perubahan-perubahan fungsi
sel.
Absorpsi, distribusi, biotransformasi (metabolisme), dan eliminasi
suatu obat dari tubuh merupakan proses dinamis yang kontunyu dari saat
suatu obat dimakan sampai semua obat tersebut hilang dari tubuh. Laju
terjadinya proses-proses ini mempengaruhi onset intensitas dan lamanya
kerja obat dalam tubuh.

Anatomi dan Fisiologi

Gambar 1 Proses anatomi dan fisiologi


1.      Mulut
a.      Anatomi
Mulut terbuka kearah belakang
menuju cavum pharyngis. Bagian atas
dibatasi olehpalatum, bagian bawah oleh
dinding dasar mulut, bagian samping
oleh pipi. Dasar mulut bertumpu pada
ligamen otot.
b.      Fisiologi
-       Mukosa
Permukaan bagian dalam mulut lebih sempit, ditutupi oleh lapisan mukosa yang
sangat tipis, bening dan agak melekat : adanya ayaman kapiler “ tight junction”
pada mukosa yang tipis tersebut memudahkan penyerapan. Selanjutnya prinsip ini
digunakan untuk pemberian zat aktif per lingual.
-       Pengeluaran air liur (saliva)
Air liur terutama mengandung enzim ptyalin yang merupakan suatu amylase
dengan pH aktivitas optimum 6,7. Proses hidrolisa ptyalin terhadap amilum akan
berlanjut sekitar 30 menit didalam lambung, walaupun pH-nya menurun karena
bercampur dengan cairan lambung.
2.      Lambung
a.      Anatomi

Lambung merupakan sebuah kantong


dengan panjang sekitar 25 cm dan 10 cm
saat kosong, volume 1 – 1,5 liter pada
dewasa normal.
b.      Fisiologi
Pengeluaran cairan lambung terjadi karena
tiga proses yaitu : proses mekanik (kontak
makanan dengan dinding lambung), proses
hormonal (sekresi lambung) dan persarafan.
3.      Usus halus
a.      Anatomi
Usus halus merupakan lanjutan
lambung yang terdiri atas 3
bagian yaitu duodenum yang
terfiksasi, jejunum dan ileum
yang bebas bergerak. Diameter
usus halus tergantung pada
letaknya (2-3 cm) dan panjang
keseluruhan antara 5-9 cm.
b.      Fisiologi
Usus halus terdiri atas 5 lapisan melingkar, berupa jaringan otot (musculus) dan
lapisan lender (mukosa). Lapisan yang paling dalam (lapisan mukosa) sangat
berperan pada proses penyerapan obat.
4.      Usus besar (Kolon)
a.      Anatomi
Ileum dipisahkan dari usus besar oleh valvula ileocaecal atau valvula
BAUCHI, serabut-serabut lipatan otot menonjol ke dalam lubang saluran yang
berfungsi mencegah aliran dari usus besar menuju usus halus.
Posisi usus besar seperti kerangka pigura. Berukuran panjang 1,4-1,8 meter dan
diameternya kea rah distal semakin membesar. Usus besar dibedakan atas :
-       Usus besar menaik (Colon ascendens) dimulai dari caecum, segmen yang
membesar dengan bentukan vertikel berupa appendix/ usus buntu. Colon
ascendens ini pendek berukuran sekitar 15 cm dan berdiameter cukup besar (6
cm) dan terfiksasi.
-       Usus besar melintang  (Colon transfersum), mengambang dan berukuran
panjang sekitar 50 cm  dan berdiameter 4-5 cm. muncul dari sudut hepatic
(flexura hepatica) menuju sudut limpa (lien) dan sebagian besar menempel pada
lengkungan  lambung
-       Usus besar menurun (Colon descendens), melekat dan relatifpendek (12 cm),
berdiameter kecil (3 cm)
-       Colon ileocaecal, dilanjutkan dengan Colon pelvinal atau signoida yang
muaranya lebih lebar.
b.      Fisiologi
Bila usus halus merupakan organ penyerapan maka usus besar merupakan agen
penyerapan air, penampungan dan pengeluaran bahan-bahan feces.
B.   VASKULARISASI LINTASAN PENYERAPAN
1. Mulut

a. Vaskularisasi darah
Vaskularisasi daerah lidah terutama dilakukan oleh arteria
lingualis dan arteria facialis yang merupakan cabang arteria carotis.
Pembuluh nadi balik terdiri atas :
- Vena facialis dan kolateralnya
- Vena lingualis, terutama vena raninus
Vena-vena tersebut bergabung membentuk vena besar dan masuk
ke vena jugularis interna. Lengkungan palatum mendapat darah
dari arteri maxilaris interna. Sedangkan vena maxilaris
bertanggung jawab terhadap pembuluh darah balik yang bermuara
di vena jugularis internal. Darah vena dari daerah mulut mengalir
ke jantung dan selanjutnya mengalir ke organ-organ tubuh lainnya
dan kemudian memasuki hati. Jadi semua zat aktif yang diserap
pada jalur ini tidak segera mengalami metabolism hepatic yang
dapat berakibat inaktivasi sebelum diedarkan ke seluruh tubuh
atau yang kita kenal sebagai “efek lintasan pertama hepatik”.
b. Vaskularisasi getah bening
Pembuluh getah bening berasal dari semua bagian mulut. Pembuluh
ini dapat mencapai limfonoduli yang sangat tersebar dan dengan
demikian membantu penyerapan dan pembagian zat aktif tertentu.
1. Lambung
a. Vaskularisasi darah
Debit darah pada lambung adalah 250 ml/menit. Pembuluh darah arteri
yang mengalir ke lambung berasal dari arteria coeliaca yang mengikuti
dua lekukan lambung. Sejalan dengan vena,darah arteri tersebut
menuju hati dengan perantaraan vena porta, sehingga dengan demikian
darah akan mengaliri lambung. Jadi zat aktif yang diserap di lambung
akan melewati hati lalu di metabolism dan hal ini sering menyebabkan
ketidakaktifan obat (efek lintasan hepar pertama).

b. Vaskularisasi getah bening (limfe)


Pembuluh getah bening pada saluran cerna berasal dari jaringan sub
mukosa dan sub serosa. Pembuluh tersebut berkumpul lagi dalam
limfonoduli di sekitar pembuluh arteri besar dan dalam simpul yang
lebih kecil di dekat collateral.
2. Usus halus
a. Vaskularisasi darah
Usus halus mendapatkan aliran darah dari pembuluh nadi (arteri) yang
berasal dari ketiga cabang aorta abdominal dan kolateralnya. Pembuluh
nadi balik (vena) berada pada batasan yang kurang lebih sama dengan
pembuluh nadi. Jadi semua darah vena yang mengalir dari usus
mengumpul pada vena aorta seperti saat mengalir dari lambung. Jadi
zat aktif yang diberikan melalui mulut, penyerapannya pasti akan
melewati hati (lintasan pertama hepatik) dan mengalami perubahan.
b. Vaskularisasi getah bening
Usus halus mempunyai struktur anatomi yang menunjang fungsi
penyerapan tersebut.
3. Usus Besar (Kolon)
a. Vaskularisasi darah
Usus besar mendapatkan aliran darah dari arteria mesentericum
superior dan inferior.
Pembuluh darah balik pada usus besar adalah :
- Vena mesentericum superior yang mengalirkan darah
dari caecumdan usus besar sebelah kanan.
- Vena mesentericum inferior yang mengalirkan darah
dari sigmoidatau signoida. Bila akan dirancang suatu obat per oral
dengan penyerapan efektif pada saluran cerna, maka harus
dipertimbangkan kemungkinan lewatnya obat melalui hati dan
akibat-akibat yang ditimbulkan.
-
b. Vaskularisasi getah bening (limfe)
Seperti pada semua saluran cerna , terdapat dua rangkaian pembuluh
getah bening yaitu yang sub mukosa  dan sub serosa. Jaringan ini
dikeluarkan oleh limfonoduli coeliaca sub mukosa. Disamping kanan
terdapat ileocoeliaca yang sangat penting.
I.3 Aspek Biofarmasetik Obat Dalam Tubuh (Per Oral)

Gambar 2 Skema Mekanisme Obat dalam Tubuh (Tablet)


Keterangan Skema (Shargel, Leon, 2005) :
1. Fasa Biofarmasi atau Farmasetika adalah fase yang meliputi waktu
mulai penggunaan obat melalui mulut sampai pelepasan zat aktifnya
kedalam cairan tubuh. Fase ini berhubungan dengan ketersediaan
farmasi dari zat aktifnya dimana obat siap diabsorbsi. Fase
biofarmasetik melibatkan seluruh unsur-unsur yang terkait mulai saat
pemberian obat hingga terjadinya penyerapan zat aktif. Kerumitan
peristiwa tersebut tergantung pada cara pemberian dan bentuk sediaan,
yang secara keseluruhan berperan pada proses predisposisizat aktif
dalam tubuh. Seperti diketahui fase farmakodinamik dan
farmakokinetik mempunyai sifat individual spesifik dalam interaksi
tubuh dan zat aktif. Hal tersebut selanjutnya mempengaruhi intensitas
farmakologik dan kinetik zat aktif suatu obat di dalam tubuh. Dengan
demikian fase biofarmasetik merupakan salh satu kunci penting untuk
memperbaiki aktivitas terapetik.
Fase bioarmasi dapat diuraikan dalam tiga tahap utama, yaitu
L.D.A yang berarti Liberasi (pelepasan), Disolusi (Pelarutan), dan
Absorpsi (penyerapan. Seperti halnya dengan sistem A.D.M.E pada
nasib zat aktif in vivo, maka ketiga tahap L.D.A berbeda pada setiap
jalur.
1.  Liberasi (Pelepasan)
Apabila seorang penderita menerima obat berarti ia mendapatkan
zat aktif yang diformula dalam bentuk sediaan dan dengan dosis
tertentu. Obat pada mulanya merupakan depot zat aktif yang jika
mencapai tempat penyerapan akan segera diserap (Drug delivery
system dalam istilah anglo-sakson). Proses pelepasan zat aktif
dari bentuk sediaan cukup rumit dan tergantung pada jalur
pemberian dan bentuk sediaan, serta dapat terjadi secara cepat dan
lengkap. Pelepasan zat aktif dipengruhi oleh keadaaan lingkungan
biologis dan mekanis pada tempat pemasukan obat, misalnya
gerak peristaltic usus, dan hal ini penting untuk bentuk sediaan
yang keras atau kenyal (tablet, suppositoria dll). Sebagaimana
diketahui, tahap pelepasan ini dapat dibagi dalam dua tahap yaitu
tahap pemecahan dan peluruhan misalnya untuk sebuah tablet.
Dari tahap pertama ini diperoleh suatu disperse halus padatan zat
aktif dalam cairan di tempat obat masuk ke dalam tubuh.
2. Disolusi (Pelarutan)
Setelah terjadi pelepasan yang bersifat setempat, maka tahap
kedua adalah pelarutan zat aktif yang terjadi secara progresif,
yaitu pembentukan disperse molekuler dalam air. Tahap kedua ini
merupakan keharusan agar selanjutnya terjadi penyerapan. Tahap
ini juga diterapkan pada obat-obtan yang dibuat dalam bentuk
larutan zat aktif dalam minyak, tetapi yang terjadi adalah proses
ekstraksi (penyarian). Setelah pemberian sediaan larutan, secara
in situ dapat timul endapan zat aktif yang biasanya berbentuk
amorf sebagai akibat perubahan pH dan endapan tersebut
selanjutnya akan melarut lagi.
3. Absorpsi (Penyerapan)
Tahap ini merupakan bagian dari fase biofarmasetik dan awal fase
farmakokinetik, jadi tahap ini benar-benar merupakan masuknya
zat aktif dalam tubuh yang aturan-aturannya ditengarai oleh
pemahaman ketersediaan hayati (bioavabilitas). Penyerapan zat
aktif tergantung pada bagian parameter, terutama sifat fisika-
kimia molekul obat. Absorpsi ini tergantung juga pada tahap
sebelumnya yairu saat zat aktifnya berada dalam fase
biofarmasetik. Dengan demikian proses penyerapan zat aktif
terjadi apabila sebelumnya sudah dibebaskan dari sediaan dan
sudah melarut dalam cairan biologi setempat. Tahap pelepasan
dan pelarutan zat aktif merupakan tahap penentu pada proses
penyerapan zat aktif, baik dalam hal jumlah yang diserap maupun
laju penyerapannya.
4. Bioavabilitas (Ketersediaan hayati)
Gabungan pengertian laju penyerapan dan jumlah yang diserap
pada fase disposisi obat dalam tubuh menghasilkan konsep
keersediaan hayati. Profil keberadaan bahan obat di dalam darah
fungsi dari waktu disebut pula “profil bioavabilitas” atau profil
ketersediaan hayati”. Profil ini menggambarkan interaksi antara
fase ketersediaan zat aktif dan fase disposisinya. Selain itu profil
tersebut juga mengungkapkan nasib obat di dalam tubuh yang
tidak diketahui sebelumnya.
2. Fase farmakokinetik berkaitan dengan masuknya zat aktif ke dalam
tubuh. Pemasukan in vivo tersebut secara keseluruhan merupakan
fenomena fisiko-kimia yang terpadu di dalam organ penerima obat.
Fase farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur penting yang
menentukan profil keberadaan zat aktif pada tingkat biofase dan yang
selanjutnya menentukan aktivitas terapetik obat. Perjalanan obat dalam
tubuh terdiri dari empat tahap, yaitu : Absorpsi (penyerapan),
Distribusi (Penyebaran), Metabolisme dan Ekskresi (pengeluaran)
yang keseluruhannya memebentuk sistem yang lebih dikenal dengan
singkatan A.D.M.E
a. Absorpsi (Penyerapan)
Yang dengan absorpsi atau penyerapan suatu zat aktif adalah
masuknya molekul-molekul obat ke dalam tubuh atau menuju ke
peredaran darah tubuh setelah melewati sawar biologik.
Penyerapan ini hanya dapat terjadi bila molekul zat aktif berada
dalam bentuk terlarut.
b. Distribusi (Penyebaran)
Setelah molekul zat aktif masuk ke dalam peredaran darah, maka
selanjutnya zat aktif tersebut akan disebarkan ke seluruh bagian
tubuh, sama halnya dengan molekul lain dalam fase aquous mampu
menyaring secara ultra dan melewati sawar membran. Dalam
penyebarannya, secara kualitatif dan kuantitatif sifat fisiko-kimia
zat aktif sangat menentukan afinitasnya, sedangkan peredaran
darah yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh menunjukkan jalur
penyebarannya. Seperti pada setiap tahap sistem ADME, maka
tahap penyebaran zat aktif mmerupakan fenomena dinamik, yang
selalu terdiri dari fase peningkatan dan penurunan kadar zat aktif
(kecuali jika terjadi proses keseimbangan semu akibat pemberian
obat terus menerus). Pengertian akumulasi atau penimbunan,
terutama penimbunan bahan toksik, harus dijajagi dari sudut
pandang dinamik, maksudnya melihat perbedaan antara kecepatan
“masuk” dan kecepatan “keluar”.sebenarnya penimbunan bahan
toksik merupakan efek racun atau hasil fatal sebagai akibat lambat
atau sangat lambatnya laju pengeluaran dibandingkan dengan laju
penerapan. Pengertian keadaan tunak atau keadaan seimbang dalam
farmakokinetik, berarti laju penyerapan sama dengan laju
peniadaan. Pada laju yang sedang, usaha keseimbangan itu sama
dengan pemberian yang diulang-ulang. Keseimbangan juga dapat
diperoleh dengan cara pemberian obat yang menghasilkan laju yag
tetap misalnya dengan cara perfusi.
c. Metabolisme dan Ekskresi (Pengeluaran)
Adanya molekul asing di dalam tubuh akan memaksa organ tubuh
agar melenyapkan molekul asing tersebut. Pengeluaran molekul zat
aktif yang tidak berubah merupakan proses peniadaan melalui jalan
keluar tubuh yaitu melalui saluran seperti halnya molekul endogen.
Ginjal dan air kemih merupakan sistem pengeluran yang klasik,
tetapi harus diingat peranan pengeluaran feses (baik secara
langsung atau melalui empedu) juga jangan dilupakan peranan
khusus paru, kulit (keringat dan penggantian kulit) serta peranan
kelnjar susu dan air susu. Metabolisme trejadi secara kimiawi dan
kinetik metabolisme dan kinetik pengeluarannya merupakan kinetik
peniadaan.
3. Fasa Farmakodinamika adalah fase dimana obat telah berinteraksi
dengan sisi reseptor dan siap memberikan efek.
Dalam biofarmasi ini kita akan mengenal beberapa istilah yang
berhubungan dengan aspek-aspek yang kita pelajari :
a. Ketersediaan farmasi  (Farmaceutical Availability)
Adalah ukuran waktu yang diperlukan oleh obat untuk melepaskan
diri dari bentuk sediaannya dan siap untuk proses resorpsi.
Kecepatan melarut obat tergantung dari berbagai bentuk sediaan
dengan urutan sebagai berikut: Larutan – suspensi – emulsi –
serbuk – kapsul – tablet – enterik coated – long acting.
b. Ketersediaan hayati (Biological Availability)
Adalah prosentase obat yang diresorpsi tubuh dari suatu dosis yang
diberikan dan tersedia untuk melakukan efek terapeutiknya.
c. Kesetaraan terapeutik (Therapeutical Equivalent)
Adalah syarat yang harus dipenuhi oleh suatu obat paten yang
meliputi kecepatan melarut dan jumlah kadar zat berkhasiat yang
harus dicapai di dalam darah. Kesetaraan terapeutik dapat terjadi
pada pabrik yang berbeda atau pada batch yang berbeda dari
produksi suatu pabrik.
d. Bioassay dan standardisasi
Bioassay adalah cara menentukan aktivitas obat dengan
menggunakan binatang percobaan seperti kelinci, tikus, kodok dan
lain-lain. Standarisasi ialah kekuatan obat yang dinyatakan dalam
Satuan Internasional atau IU (International Unit) yang bersamaan
dengan standart-standart internasional biologi dikeluarkan oleh
WHO. Ukuran-ukuran standart ini disimpan di London dan
Copenhagen.
I.4 Aspek biofarmasetik Obat
 OFLOKSASIN
Ofloksasin adalah senyawa antibakteri sintetik dari golongan
kuinolon dan bersifat bakterisida. Ofloksasin aktif terhadap bakteri
aerobik gram positif termasuk penghasil penisilinase dan bukan
penghasil penisilinase, terhadap sebagian besar bakteri aerobik gram
negatif termasuk Enterobakteria dan Pseudomonas aeruginosa, dan
terhadap Stafilokokus yang resisten terhadap metisilina. Mekanisme
kerja ofloksasin ialah menghambat enzim DNA topoisomerase (ATP-
hydrolyzing), suatu DNA topoisomerase tipe II yang dikenal sebagai
DNA gyrase. Diperkirakan, sasaran ofloksasin adalah sub unit A dari
enzim tersebut. Aktivitas antibakteri ofloksasin dengan jalan
menghambat DNA girase, suatu enzim essensial yang merupakan katalis
penting dalam duplikasi dan transkripsi DNA bakteri. Berbeda dengan
golongan kuinolon lain, ofloksasin memiliki mekanisme aksi tambahan
yaitu aksinya tidak tergantung pada RNA dan sintesis protein (Gunawan,
S.G. 2009).
Ofloksasin adalah golongan kuinolon dan fluorokuinolon ,(±)-9-
fluoro-2, 3-dihidro-3-metil-10-(4 - metil-1-piperazinil)-7-okso-7H-pyrido
[1,2,3-de] -1, 4 - benzosaksine-6-asam karboksilat. Oflosaksin dan
kuinolon baru lainnya, diserap baik secara oral kecuali norfloksasin.
Ofloksasin dengan cepat diserap dalam dosis, tergantung dengan
metodenya. Bioavailabilitas ofloksasin setelah pemberian oral,
administrasi yang dibutuhkan menjadi 80 sampai 90% dan secara luas
didistribusikan ke dalam jaringan tubuh. Volume distribusi (Vd)
bervariasi antara 1,0 dan 1,5 L.kg-1 setelah oral atau pemberian intravena
(M. Ahmad, H. Raza,Dkk. 2008).
Ofloksasin seperti nortfloksasin, ofloksasin terutama digunakan
dalam pengobatan prostatitis yang disebabkan oleh E Coli dan penyakit-
penyakit hubungan seksual kecukai sifilis.ofloksasin bisa digunakan
sebagai terapi alternatif pada penderita gonorea. Ofloksasin mempunyai
beberapa manfaat dalam pengobatan infeksi kulit dan saluran napas
bawah (Mycek, M.J. 1999).
 Farmakokinetik
1. Absorpsi
Hanya 35-70% norfloksasin oral yang diabsorpsi tetapi, 70-90%
fluorokuinolon lainnya diserap setelah pemberian oral. Ketersediaan
hayati terbesar pada ofloksasin dan lomefloksasin. Preparat-preparat
intravena siprofloksasin dan ofloksasin sudah tersedia. Minum obat
fluorokuinolon bersamaan dengan sukralfat, antasid-antasid yang
mengandung aluminium atau magnesium atau makanan tambahan yang
mengandung besi atau seng dapat menganggu absorbsi obat-obat anti
bakteri ini.
2. Distribusi
Pengikatan dengan protein plasma berkisar dari 10-40% (catatan: kadar
plasma norfloksasin bebas tidak cukup untuk pengobatan infeksi
sistemik). Semua fluorokuinolon berdistribusi baik kedalam semua cairan
jaringan dan tubuh. Kadarnya tinggi dalam tulang, urine, ginjal dan
prostat (tetapi tidak dicairan prostat) dan konsentrasinya di paru-paru
melebihi konsentrasinya dalam serum. Penetrasi kedalam cairan
serebrospinalis rendah, kecuali untuk ofloksasin dengan konsentrasi
sebesar 90% seperti dalam serum. Fluorokuinolon juga berakumulasi
dalam makrofag dan leukosit polimorfonuklear, sehingga efektif terhadap
organisme intrasel seperti legionella.
3. Metabolisme
Kecuali untuk ofloksasin dan lemefloksasin, obat-obat ini sebagian
dimetabolisme menjadi senyawa-senyawa yang kurang aktivitas
antimikrobanya.
4. Ekskresi
Obat asli dan metabolitnya diekskresikan kedalam urine dan terjadi
konsentasi tinggi disini. Ini adalah jalan ekskresi utama untuk ofloksasin.
Gagal ginjal memperpanjang waktu paruh dari masing-masing obat.
Fluorokuinolon lainnya mengalami bersihan hepar dan ginjal: rute ini di
anggap penting pada gagal ginjal. Waktu-paruh fluorokuinolon berkisar
dari 3-5 jam kecuali lomefloksasin yang mempunyai waktu paruh 8 jam
(Mycek, M.J. 1999).
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisikeempat.Universitas


Indonesia: Jakarta
Gunawan, S.G. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi
dan Terapeutik FK UI: Jakarta.

M. Ahmad, H. Raza,DKK. 2008. Pharmacokinetic Variations Of Ofloxacin In


Normal And Febrile Rabbits (JURNAL). Pakistan Vet: The Islamia
University of Bahawalpur.
Mycek, M.J. 1999. Farmakologi Ulasan Bergambar. Widya Medica: Jakarta. 
Shargel, L dan Andrew B. C. Yu, 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan, Airlangga University Press : Surabaya.Siregar M. Sc.,Apt,
Prof. Dr. Charles J.P, 2010,