Anda di halaman 1dari 13

PAJAK

PENGHASILAN
PASAL 21/26
Manajemen Pajak
Our Team
Kelompok 4

Andi Maulina Andi Muhammad Mulifa Fitriana


A031181329 Ferdy Virgiawan A031181701
A031181531
PPh
Pengertian :
21
PPh 21 adalah pajak pemotongan yang dikenakan atas
penghasilan yang diterima oleh seorang Wajib Pajak
Orang Pribadi (WPOP) dalam negeri atas pekerjaan, jasa,
atau kegiatan yang dilakukannya.

Kategori jenis penghasilan yang dikenakan PPh 21 :


• Penghasilan bagi Pegawai Tetap
• Penghasilan bagi Pegawai Tidak Tetap
• Penghasilan bagi Bukan Pegawai
• Penghasilan yang dikenakan PPh 21 Final
• Penghasilan Lainnya
WAJIB PAJAK PPh 21
Wajib Pajak atas PPh Pasal 21 adalah pegawai,
penerima uang pesangon, pensiun, tunjangan hari
tua, jaminan hari tua, ahli waris dan Wajib Pajak
kategori bukan pegawai yang menerima atau
memperoleh penghasilan sehubungan dengan
pemberian jasa.
OBJEK PPh 21
Penghasilan yang Penghasilan yang tidak
dipotong PPh 21 dipotong PPh 21

• Pembayaran manfaat atau santunan asuransi


• Penghasilan yang diterima pegawai tetap dari perusahaan asuransi
• Penghasilan yang diterima penerima pensiun • Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau
• Penghasilan sehubungan dengan pemutusan kenikmatan dalam bentuk apapun diberikan
hubungan kerja dan penghasilan sehubungan oleh WP atau pemerintah
dengan pensiun • Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana
• Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga pensiun yang pendiriannya telah disahkan
kerja lepas Menteri Keuangan
• Imbalan kepada bukan pegawai • Zakat yang diterima oleh Orang Pribadi yang
• Imbalan kepada peserta kegiatan berhak dari Badan atau lembaga amil zakat
• Beasiswa
TARIF PPh 21
Penghasilan Kena Penghasilan Tidak Kena
Pajak (PKP) Pajak (PTKP)
Menurut Peraturan Direktorat Jenderal Pajak No. Menurut DJP, PTKP dijelaskan sebagai pengeluaran untuk
PER-32/PJ/2015 Penghasilan Kena Pajak adalah memenuhi kebutuhan dasar Wajib Pajak beserta keluarga,
pegawai tetap dan penerima pensiun berkala dalam satu tahun. Maka tidak termasuk dalam PPh Pasal 21.
dikenakan PKP sebesar Penghasilan Netto WP tidak dikenakan PPh apabila penghasilan WP sama
dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dengan atau tidak lebih dari Rp54.000.000,-.
terbaru. Sementara pegawai tidak tetap dikenakan Objek PTKP dipaparkan sebagai berikut:
PKP sebesar Penghasilan Bruto dikurangi • Rp54.000.000,- untuk diri Wajib Pajak Orang Pribadi.
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) terbaru. • Rp4.500.000,- tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.
Sedangkan untuk pegawai yang termuat dalam • Rp54.000.000,- untuk istri yang memiliki jumlah
Peraturan Direktorat Jenderal Pajak No. PER- penghasilan tersebut telah digabung dengan
32/PJ/2015 Pasal 3 huruf c, dikenakan sebesar 50% penghasilan suami.
atas PKP dari jumlah penghasilan bruto dikurangi • Rp4.500.000,- tambahan untuk setiap anggota keluarga
PTKP dalam satu bulan. kandung serta keluarga dalam garis keturunan serta anak
angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling
banyak 3 orang untuk setiap keluarga.
Perhitungan PPh 21
Perhitungan PPh 21 dilakukan dengan mengalikan tarif pajak dengan
Dasar Pengenaan Pajak atau jumlah bruto dari penghasilan ​yang
ditetapkan. Umumnya penghasilan yang diterima atau diperoleh
tersebut akan dikurangi dengan unsur pengurang yang juga
ditetapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Rumus cara menghitung PPh 21 sebagai berikut:


Bagi pihak penerima penghasilan yang belum memiliki NPWP,
PPh 21 = Tarif Pajak x (Penghasilan – Pengurang) perhitungan dilakukan dengan mengalikan 120% dengan total
pajak yang terutang.

PPh 21 yang harus dibayar = 120% x PPh 21 Terutang


PPh
26
Pengertian

Menurut Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008, PPh


Pasal 26 adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas
penghasilan yang diterima wajib pajak luar negeri dari
Indonesia selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia.
WAJIB PAJAK PPh 26
Hal yang menentukan individu atau perusahaan dikategorikan sebagai wajib pajak luar negeri :

• Seorang individu yang tidak • Seorang individu yang tidak


bertempat tinggal di Indonesia, bertempat tinggal di Indonesia,
individu yang tinggal di Indonesia individu yang tinggal di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam tidak lebih dari 183 hari dalam
setahun/12 bulan, dan setahun/12 bulan, dan perusahaan
perusahaan yang tidak didirikan yang tidak didirikan atau berada di
atau berada di Indonesia, yang Indonesia, yang dapat menerima
mengoperasikan usahanya atau memperoleh penghasilan dari
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia tidak melalui menjalankan
Indonesia. usaha melalui suatu bentuk usaha
tetap di Indonesia.

Semua badan usaha yang melakukan transaksi pembayaran (gaji, bunga, dividen, royalti
dan sejenisnya) kepada Wajib Pajak Luar Negeri, diwajibkan untuk memotong Pajak
Penghasilan Pasal 26 atas transaksi tersebut.
OBJEK dan TARIF PPh 26
Tarif 20% (final) atas jumlah bruto yang dikenakan atas:
Bunga, termasuk Royalti, sewa, dan Insentif yang
Dividen
premium, diskonto, pendapatan lain berkaitan

01 02 insentif yang terkait


dengan jaminan
03 yang terkait dengan
penggunaan aset 04 dengan jasa,
pekerjaan, dan
kegiatan
pembayaran pinjaman
Hadiah dan Pensiun dan Premi swap dan Perolehan
Penghargaan pembayaran transaksi lindung keuntungan dari
05 06 berkala
07 lainnya
08 penghapusan utang

Tarif 20% (final) dari laba bersih yang diharapkan dari:


1. Pendapatan dari penjualan aset di Indonesia.
2. Premi asuransi, premi reasuransi yang dibayarkan langsung maupun melalui pialang kepada perusahaan asuransi di luar negeri.
Ketentuan dari tarif 20% harus mengikuti kriteria sebagaimana berikut ini:
• Tarif 20% dari laba bersih juga berlaku atas penjualan atau pengalihan saham perusahaan yang didirikan atau bertempat di
negara yang memberikan perlindungan pajak, termasuk dalam BUT di Indonesia.
• Tarif 20% yang dipungut dari penghasilan kena pajak setelah dikurangi dengan pajak termasuk di dalam BUT di Indonesia.
Namun, tidak berlaku bagi Wajib Pajak yang penghasilannya tersebut ditanamkan kembali di Indonesia.
• Tax Treaty atau P3B antara Indonesia dan negara-negara lainnya yang berada di dalam perjanjian bisa saja berbeda dari satu
sama lain.
CARA MENGHITUNG PPh 26
Dalam memberikan lebih banyak pemahaman mengenai penjelasan PPh Pasal 26, maka berikut
contoh simulasi cara perhitungan pajak yang bisa dipelajari dan dijadikan gambaran.
Contoh Kasus
Mr X merupakan karyawan asing dari negara yang tidak memiliki tax treaty dengan Indonesia dan
baru bekerja kurang dari 183 hari. Pada bulan September 2019, ia akan menerima gaji sebesar USD
2200.
Kurs Menteri Keuangan pada saat pemotongan adalah Rp 14.072 untuk USD 1.00.
Maka, perhitungan tarif PPh Pasal 26 atas penghasilan Mr X dapat dilihat sebagaimana berikut ini:
Penghasilan bruto gaji sebulan: USD 2200 x Rp. 14.072 = Rp 30.958.400
PPh Pasal 26 terutang adalah: 20% x Rp. 30.958.400 = Rp 6.191.680
e-Filing PPh 21 & PPh 26
Ketentuan kewajiban e-Filing untuk PPh 21/PPh 26 ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
9/PMK.03/2018, yang berlaku sejak 1 April 2018. Melalui ketentuan ini, wajib pajak yang sebelumnya melaporkan
Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh 21 di Kantor Pelayanan Pajak (KPP), diwajibkan melakukan e-Filing PPh
21/PPh 26.
Sebelumnya, pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21/PPh Pasal 26 dilakukan wajib pajak badan dalam bentuk dokumen
elektronik (file CSV) yang disampaikan langsung ke KPP. Biasanya, file CSV ini dibawa oleh wajib pajak badan
menggunakan USB.
Namun, mengacu pada PMK Nomor 9/PMK.03/2018 Pasal 8 ayat (6), file CSV tidak dapat lagi disampaikan secara
langsung ke KPP. Melainkan, wajib disampaikan melalui saluran e-Filing yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal
Pajak (DJP).
Definisi saluran tertentu yang dimaksud dalam PMK ini terbagi menjadi 5, yakni:
1. Laman Direktorat Jenderal Pajak
2. Laman Penyalur SPT elektronik
3. Saluran suara digital yang ditetapkan oleh DJP untuk Wajib Pajak tertentu
4. Jaringan komunikasi data yang terhubung khusus antara DJP dengan wajib pajak Saluran lain yang ditetapkan
oleh DJP
Perubahan aturan ini tentu menjadi angin segar bagi wajib pajak PPh 21/PPh 26. Sebab, prosedur penyampaian SPT
yang semula memakan waktu, kini menjadi lebih cepat, karena pelaporan dilakukan secara online.
Thanks Do you have any questions?

CREDITS: This presentation template was created


by Slidesgo, including icons by Flaticon and
infographics & images by Freepik.

Anda mungkin juga menyukai