Anda di halaman 1dari 6

Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016

Profil hasil pemeriksaan CT-Scan pada pasien karsinoma nasofaring di


Bagian/SMF Radiologi FK Unsrat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
periode April 2015 – Agustus 2016

1
Matthew N. Ruslim
2
Ramli Hadji Ali
2
Elvie Loho

1
Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
2
Bagian/SMF Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
Email: matthewnathanaelruslim@gmail.com

Abstract: Nasopharyngeal carcinoma is the most common malignancy of the head and neck.
In Indonesia, the prevalence is 6/100.000 and Manado has become one of the regions with
the highest incidence of nasopharyngeal carcinoma. CT Scan imaging is a standard
radiologic modality in diagnosing and evaluating nasopharyngeal carcinoma. This study was
aimed to obtain the profile of CT Scan imaging in nasopharyngeal carcinoma patients. This
was a retrospective descriptive study conducted in October 2016. Data were obtained from
head and neck CT Scan request form and eventually there were 46 patients (63%) with the
radiologic diagnosis of tumor mass in the nasopharynx. The majority of patients were males
(30 patients; 65,2%); age group 50-59 years old (17 patients; 37%); and T4 as the size of the
primary tumor (18 cases; 39.1%). There were five anatomical structures most frequently
infiltrated, as follows: nasal cavity (39.1%), ethmoidal sinuses (30.4%), maxillary sinuses
(23.9%), sphenoidal sinuses (23.,9%), and intracranial areas (19.6%).
Keywords: nasopharyngeal carcinoma, computerized tomography scan.

Abstrak: Karsinoma nasofaring merupakan keganasan kepala dan leher yang paling sering
terjadi. Indonesia memiliki prevalensi sekitar 6/100.000 dan Manado menjadi salah satu
daerah dengan insidensi karsinoma nasofaring yang tinggi. Pemeriksaan radiologi CT Scan,
merupakan modalitas radiologis standar dalam mendiagnosis dan mengevaluasi karsinoma
nasofaring. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil pemeriksaan CT Scan pada
pasien karsinoma nasofaring. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif yang dilakukan
pada bulan November 2016. Data diperoleh melalui lembaran permintaan pemeriksaan CT
Scan kepala-leher dan didapatkan sebanyak 46 pasien (63%) dengan diagnosis radiologis
massa tumor di nasofaring. Mayoritas pasien ialah ialah laki-laki berjumlah 30 pasien
(65,2%), kelompok usia 50-59 tahun berjumlah 17 pasien (37%), dan ukuran tumor primer
T4, pada 18 pasien (39,1%). Didapatkan lima struktur anatomi yang paling sering diinfiltrasi,
yaitu kavum nasi (39,1%), sinus etmoidalis (30,4%), sinus maksilaris (23,9%), sinus
sfenoidalis (23,9%), dan area intrakranial (19,6%).
Kata kunci: karsinoma nasofaring, computerized tomography scan

Kanker adalah sekelompok penyakit yang eksternal (rokok, organisme infeksius, dan
dikarakteristikkan sebagai tidak terkontrol- makanan yang tidak sehat) dan internal
nya pertumbuhan dan penyebaran dari sel (mutasi genetik yang diwariskan, hormon,
yang abnormal. Bila penyebarannya tidak dan kondisi imun). Faktor-faktor risiko ini
dikendalikan maka dapat menyebabkan dapat menyebabkan kanker secara
kematian. Kanker disebabkan oleh faktor bersamaan atau bertahap. Kanker dapat
Ruslim, Ali, Loho: Profil hasil pemeriksaan...

terdeteksi setelah 10 tahun lebih sejak menentukan lokasi, karakteristik dan


terpaparnya faktor eksternal.1 Berdasarkan stadium pada pasien-pasien dengan tumor.
statistik GLOBOCAN 2012, penyakit Pada kasus karsinoma nasofaring, CT Scan
kanker telah mencapai sekitar 14,1 juta dapat memberikan informasi tentang
kasus baru dan terdapat 8,2 juta kematian,2 penyebaran kelenjar getah bening, infiltrasi
sebab itu kanker mendapatkan peringkat jaringan sekitarnya, dan destruksi tulang-
kedua penyebab kematian penduduk tulang terutama pada basis krani.
dunia.1 Penulis termotivasi untuk melakukan
Karsinoma nasofaring merupakan penelitian tentang karsinoma nasofaring
keganasan kepala dan leher yang paling yang didiagnosis melalui pemeriksaan
sering terjadi dengan etiologi yang radiologi CT Scan, karena penelitian ini
multifaktorial dan dibedakan menurut belum pernah dilakukan sebelumnya.
distribusi geografisnya.3 Etiologi yang Penelitian ini didukung dengan adanya
paling kuat menyebabkan karsinoma pasien karsinoma nasofaring serta
nasofaring ialah Epstein Barr virus, yang permintaan CT Scan di Bagian Radiologi
terbukti dari studi serologik dan terdeteksi- FK Unsrat/SMF RSUP Prof. Dr. R. D.
nya genom Epstein Barr virus pada sampel Kandou Manado selama periode April
tumor. Makanan dan genetik merupakan 2015-Agustus 2016.
faktor risiko yang masih menjadi kemung-
kinan penyebab terjadinya karsinoma METODE PENELITIAN
nasofaring.4 Rokok dan alkohol menjadi Jenis penelitian ini ialah deskriptif
faktor risiko yang kecil kontribusinya.5 retrospektif dengan memanfaatkan data
Secara global, karsinoma nasofaring sekunder berupa catatan medik yang ada di
sangat jarang terjadi karena hanya 80.000 lembaran permintaan pemeriksaan CT Scan
kasus baru yang dilaporkan, dengan di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF RSUP
demikian karsinoma nasofaring menjadi Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian
peringkat ke-23 diantara kasus kanker dilaksanakan pada bulan November 2016.
lainnya di dunia. Di Amerika Utara dan Populasi penelitian ini ialah seluruh
Eropa, insidensinya kurang dari 1 kasus per lembaran permintaan pemeriksaan CT Scan
100.000 penduduk, tetapi di daerah yang kepala-leher di Bagian Radiologi RSUP
endemik seperti Cina Selatan dan Asia Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode
Tenggara, insidensinya bisa mencapai 20 April 2015-Agustus 2016. Sampel
sampai 40 kasus per 100.000 penduduk pria penelitian ini ialah seluruh lembaran
dan 8 sampai 15 kasus per 100.000 permintaan pemeriksaan CT Scan pada
penduduk wanita.6 Negara-negara di Asia pasien dengan diagnosis radiologis massa
Tenggara juga mempunyai insidensi yang tumor di nasofaring di Bagian Radiologi
cukup tinggi, seperti Singapura FK Unsrat/SMF RSUP Prof. Dr. R. D.
(15/100.000), Malaysia (9,7/100.000), Kandou Manado periode April 2015 –
Vietnam (7,5/100.000), dan Filipina Agustus 2016. Kriteria inklusi yaitu
(6,4/100.000).7 Menurut salah satu lembaran permintaan pemeriksaan CT Scan
penelitian, Indonesia memiliki prevalensi kepala-leher dari pasien dengan klinis
sekitar 6/100.000, yang berhubungan mengarah karsinoma nasofaring yang
dengan estimasi yang dilaporkan dari mempunyai data berupa usia dan jenis
GLOBOCAN-International Agency for kelamin serta mempunyai hasil ekspertisi
Research on Cancer (GLOBOCAN- sedangkan kriteria eksklusi yaitu lembaran
IARC).7 permintaan CT Scan kepala-leher dari
Sarana penunjang radiologi yang pasien yang sudah melakukan terapi
menjadi standar dalam mendiagnosis tumor sebelumnya dan pasien yang mengalami
yaitu pemeriksaan Computerized rekurensi. Penelitian ini menggunakan 2
Tomography (CT) Scan. Pemeriksaan CT variabel yakni hasil ekspertise pemeriksaan
Scan ini dapat membantu dalam CT Scan kepala-leher dan karsinom
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016

nasofaring yang didistribusi menurut jenis Berdasarkan Tabel 2 didapatkan bahwa


kelamin, kelompok usia dan tumor karsinoma nasofaring paling banyak
primernya. ditemukan pada laki-laki dengan jumlah 30
Data yang diperoleh diolah pasien (65,2%) dan perempuan berjumlah
berdasarkan variabel penelitian dengan 16 pasien (34,8%).
menggunakan SPSS dan disajikan dalam
Tabel 2. Distribusi pasien karsinoma
bentuk teks dan tabel. nasofaring berdasarkan jenis kelamin
HASIL PENELITIAN Jenis kelamin n %
Pada bulan Oktober 2016 telah Laki-Laki 30 65,2
dilakukan penelitian dengan mengambil
Perempuan 16 34.8
data sekunder berupa lembaran permintaan
Total 46 100
pemeriksaan CT Scan kepala-leher pada
penderita dengan klinis yang mengarah
Pada data yang didapat dari 46 pasien
pada karsinoma nasofaring. Penelitian ini
dengan diagnosis radiologis massa tumor di
dilakukan secara retrospektif di
nasofaring ditemukan pasien termuda
Bagian/SMF Radiologi FK Unsrat RSUP
berusia 32 tahun dan tertua berusia 84
Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado periode
tahun. Berdasarkan Tabel 3, kasus
April 2015 – Agustus 2016. Berdasarkan
karsinoma nasofaring terbanyak didapatkan
hasil penelitian, ditemukan 73 lembar
pada kelompok usia 50-59 tahun yaitu 17
permintaan pemeriksaan CT Scan kepala-
pasien (37%) diikuti kelompok usia 60-69
leher pasien dengan klinis yang mengarah
tahun sebanyak 14 pasien (30,40%).
pada karsinoma nasofaring. Hasil
Kelompok usia 70-79 tahun dan kelompok
ekspertise dari 73 lembar permintaan CT
usia 80-90 tahun paling sedikit ditemukan
Scan pasien tersebut, terdapat 46 pasien
pasien karsinoma nasofaring, yaitu masing-
yang ditemukan massa di nasofaring.
masing didapatkan 1 pasien (2,2%).
Pasien dengan diagnosis radiologis
Hasil ekspertise dari 46 pasien dengan
massa tumor di nasofaring sebanyak 46
diagnosis radiologis massa tumor di
pasien (63%) dan pasien dengan diagnosis
nasofaring diklasifikasikan berdasarkan
radiologis lainnya sebanyak 16 pasien
tumor primer (T) menurut The
(21,9%). Pasien yang tidak ditemukan
International Union Against Cancer
kelainan pada hasil pemeriksaannya
(UICC) & American Joint Committee on
sebanyak 6 pasien (8,2%). Terdapat pasien
Cancer (AJCC), edisi ke-7 (2010).13
yang melakukan pemeriksaan CT Scan
untuk kontrol pasca kemoterapi sebanyak 3 Tabel 3. Distribusi pasien karsinoma
pasien (4,1%). Ditemukan juga pasien yang nasofaring berdasarkan umur
mengalami rekurensi sebanyak 1 pasien
(1,4%) dan yang tidak dilampirkan hasil Kelompok usia n %
ekspertise berjumlah 1 pasien (1,4%). 30-39 tahun 7 15,2
40-49 tahun 6 13
Tabel 1. Distribusi pasien karsinoma 50-59 tahun 17 37
nasofaring berdasarkan diagnosis radiologis
60-69 tahun 14 30,4
70-79 tahun 1 2,2
Diagnosis radiologis n %
80-90 tahun 1 2,2
Tumor primer di nasofaring 46 63
Total 46 100
Kelainan lainnya 16 21,9
Tidak ada kelainan 6 8,2
Pasien post kemoterapi 3 4,1 Berdasarkan Tabel 4, ukuran tumor
Pasien rekurensi 1 1,4 primer pasien yang tersering terdiagnosis
yaitu T4 dengan jumlah 18 pasien (39,1%),
Tidak ada hasil ekspertise 1 1,4
kemudian yang terdiagnosis dengan ukuran
Total 73 100
Ruslim, Ali, Loho: Profil hasil pemeriksaan...

T1 berjumlah 12 pasien (26,1%) dan yang BAHASAN


terdiagnosis dengan ukuran T2 dan T3 Berdasarkan hasil ekspertise dari 73
masing-masing memiliki jumlah yang lembar permintaan CT Scan pasien
sama, yaitu 8 pasien (17,4%). tersebut, terdapat 46 pasien dengan
diagnosis radiologis massa tumor di
Tabel 4. Distribusi pasien karsinoma nasofaring. Hal ini menunjukkan bahwa
nasofaring berdasarkan tumor primer (T) karsinoma nasofaring masih merupakan
Ukuran tumor n % kasus yang cukup sering ditemukan di
Primer
T1 12 26,1 dunia medis. CT Scan kepala-leher menjadi
T2 8 17,4 salah satu modalitas yang digunakan dalam
T3 8 17,4
mendiagnosis karsinoma nasofaring.1,8 Pada
hasil ekspertise dari 46 pasien, didapatkan
T4 18 39,1
gambaran massa yang berlokasi di
Total 46 100
nasofaring yang kebanyakan tampak
hipodens, dan ketika diberikan kontras
Berdasarkan Tabel 5 ditemukan lima tampak menyangat. Menurut Maharjan et
struktur anatomi yang paling sering al.9 karsinoma nasofaring merupakan massa
diinfiltrasi oleh massa di nasofaring, yaitu jaringan lunak yang nilai atenuasi CT Scan
kavum nasi (39,1%), sinus etmoidalis menunjukan 35-45 Hounsfield Unit (HU).
(30,4%), sinus maksilaris (23,9%), sinus Pemeriksaan dengan CT Scan kontras,
sfenoidalis (23,9%), dan area intrakranial massa karsinoma nasofaring menyangat
(19,6%). Pada penelitian ini telah kontras dengan cukup baik.
ditemukan struktur anatomi seperti clivus, Pasien karsinoma nasofaring terbanyak
fossa cranii posterior, foramen ovale, didapatkan pada laki-laki sebanyak 68,2%
foramen lacerum, lidah, tonsil, dan telinga dibandingkan pada perempuan 34,2%.
jarang mengalami infiltrasi yang masing- Hasil penelitian ini sesuai dengan
masing terdapat 1 pasien (2,2%). penelitian yang dilakukan oleh Adham et
al.7 di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun
Tabel 5. Struktur anatomi sekitar nasofaring
2012 bahwa dari 1121 data pasien
yang diinfiltrasi oleh massa tumor
terdiagnosis karsinoma Nasofaring dari
Struktur anatomi n % tahun 1995-2005, dijumpai lebih banyak
Kavum nasi 18 39,1 pada jenis kelamin laki-laki yaitu 789
Sinus maksilaris 11 23,9 pasien (70,4%) dan pada perempuan
Sinus etmoidalis 14 30,4 sebanyak 332 pasien (29,6%). Menurut Jia
Sinus sfenoidalis 11 23,9 et al.10 insidens karsinoma nasofaring yang
Sinus frontalis 4 8,7 ditemukan pada laki-laki dua sampai tiga
Kelenjar parotis 7 15,2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan
Intrakranial 9 19,6 perempuan. Perbedaan jumlah antara laki-
Fossa pterygoidea 3 6,5 laki dan perempuan menunjukan efek dari
Clivus 1 2,2 kebiasan dan gaya hidup, contohnya seperti
Fossa Cranii Posterior 1 2,2 merokok dan minum alkohol. Perbedaan ini
Otot mastikator 3 6,5 juga bisa disebabkan perbedaan biologis
Palatum durum 2 4,3
antara laki-laki dan perempuan.10
Kasus karsinoma nasofaring paling
Sella Turcica 2 4,3
sering didapatkan pada kelompok usia 50-
Foramen Ovale 1 2,2
59 tahun dengan jumlah 17 pasien (37%),
Lidah 1 2,2
diikuti dengan kelompok usia 60-69 tahun
Tonsil 1 2,2
dengan jumlah 14 pasien (30,4%).
Retrobulbar 2 4,3 Pernyataan Jia et al.10 menyatakan bahwa
Telinga 1 2,2 insidens karsinoma nasofaring meningkat
Foramen lacerum 1 2,2 pada orang dewasa dengan puncaknya pada
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016

kelompok usia 50-59 tahun yang sesuai Infiltrasi sinus maksilaris dapat melibatkan
dengan hasil penelitian ini. Penelitian yang cabang saraf aveolar superior yang
dilakukan oleh Ardham et al.7 merupakan salah satu cabang nervus
menunjukkan hasil yang berbeda. Pada kranial V2. Infiltrasi pada palatum dapat
penelitian yang dilakukan di RSUPN Cipto melibatkan cabang saraf palatinus mayor
Mangunkusumo juga menemukan bahwa dan minor yang merupakan cabang nervus
kasus karsinoma nasofaring paling sering kranial V2 yang berada di fosa
terjadi di kelompok usia 41-50 tahun. pterigopalatinus. Infiltrasi massa ke lidah
Tingginya insidens karsinoma nasofaring dapat menyebabkan gangguan nervus
juvenil menunjukkan kerentanan genetik kranial XII (nervus hypoglossus). Infiltrasi
dan paparan pada zat-zat karsinogen di pada kelenjar parotis dapat melibatkan
lingkungan. cabang nervus kranial VII dan saraf
Hasil ekspertise pemeriksaan CT Scan auriculotemporal cabang dari nervus
kepala-leher dari 46 pasien telah diklasifi- kranial V3 (divisi mandibular).14 Infiltrasi
kasikan berdasarkan tumor primer (T) ke intrakranial yang sering ditemukan pada
menurut The International Union Against pasien dengan ukuran tumor primer T4
Cancer (UICC) & American Joint akan memberikan gejala neurologik. Pasien
Committee on Cancer (AJCC) edisi ke-7.11 yang mengalami infiltrasi secara langsung
Ukuran tumor primer yang paling sering pada sinus cavernosus dapat menyebabkan
ditemukan ialah T4 dengan jumlah 18 multiple cranial palsies.15
pasien (39,1%), yang berarti banyak pasien Pada penelitian ini, ditemukan sebuah
datang sudah dengan stadium IV. Hasil ini kasus yang hasil ekspertisenya menunjuk-
sesuai dengan penelitian yang dilakukan di kan massa tumor di nasofaring dengan
Malaysia pada tahun 2007 dengan infiltrasi ke intrakranial tanpa ada destruksi
menggunakan klasifikasi AJCC edisi ke-6, tulang-tulang dan sinus paranasalis.
yaitu banyak pasien datang sudah dengan Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian
stadium IV berjumlah 78 pasien (47%).12 yang dilakukan Miura et al.16 bahwa
Pada penelitian ini, ditemukan lima penyebaran ke intrakranial dapat melalui
struktur anatomi yang paling sering foramen tanpa destruksi tulang-tulang
diinfiltrasi oleh massa di nasofaring, yaitu disekitarnya.
kavum nasi (39,1%), sinus etmoidalis
(30,4%), sinus maksilaris (23,9%), sinus SIMPULAN
sfenoidalis (23,9%), dan area intrakranial Dari hasil penelitian yang telah
(19,6%). Penelitian Sham et al.13 menemu- dilakukan di Bagian/SMF Radiologi
kan hasil yang berbeda yaitu struktur yang RSUP/SMF Radiologi RSUP Prof. R. D.
paling sering terlibat ialah sinus sfenoidalis Kandou Manado selama periode April
(26,7%), fosa nasal (21,8%), dan sinus 2015-Agustus 2016, dapat disimpulkan
etmoidalis (18,3%). bahwa dari 46 pasien dengan diagnosis
Infiltrasi pada struktur-struktur radiologis massa tumor di nasofaring,
anatomi disekitar nasofaring dapat didapatkan tersering ialah jenis kelamin
menyebabkan kelainan neurologis dengan laki-laki, usia 50-59 tahun. Ukuran tumor
melibatkan saraf-saraf yang melewati primer yang paling banyak terdiagnosis
struktur-struktur anatomi tersebut. Infiltrasi yaitu T4 dan lima struktur anatomi di
pada kavum nasi dapat melibatkan cabang sekitar nasofaring yang paling sering
nervus kranial V2 (divisi maksilaris) yang mengalami infiltrasi ialah kavum nasi,
berada di fosa pterigopalatinus melalui sinus etmoidalis, sinus maksilaris, sinus
foramen sfenopalatinus. Infiltrasi pada sfenoidalis, dan intrakranial.
sinus etmoidalis dapat melibatkan cabang
saraf nasosiliar dan saraf optik, dan nervus SARAN
kranial yang terlibat ialah nervus V1 (divisi Disarankan agar memperhatikan
oftalmikus), I, II,III, IV, dan abdusens. kelengkapan data klinis pasien untuk
Ruslim, Ali, Loho: Profil hasil pemeriksaan...

pertimbangan diagnosis radiologis. df?ua=1


Pelaporan hasil ekspertise harus sesuai 7. Adham M, Kurniawan AN, Muhtadi AI,
prosedur. Pencegahan terhadap faktor Roezin A, Hermani B,
resiko untuk menurunkan angka kejadian Gondhowiardjo S, et al.
penyakit karsinoma nasofaring dengan Nasopharyngeal carcinoma in
Indonesia: epidemiology,incidence,
memperbaiki kebiasaan gaya hidup seperti signs, and symptoms at presentation.
merokok, minuman beralkohol dan juga Chin J Cancer. 2012;1:185-96.
makan makanan yang bergizi. 8. Depkes. Protokol Kanker Nasofaring. PP. POI.
Penelitian yang lebih lanjut tentang 9. Maharjan R, Xiang ZW, Shi F, Wu KT, Li
karsinoma nasofaring sangat disarankan CX. Nasopharyngeal carcinoma:
karena penelitian ini masih kurang Imaging diagnosis and recent progress.
dilakukan di Indonesia. J Nasopharyng Carcinoma.
2014;1(1):e1.
DAFTAR PUSTAKA 10. Jia WH, Qin HD. Non-viral environmental
1. American Cancer Society. Global Cancer Facts risk factors for nasopharyngeal
& Figures (3rd ed). Atlanta: American carcinoma: A systematic review.
Cancer Society, 2015. [cited 2016 Seminars in Cancer Biology.
August 25 ] Available from: 2012;22:117-26.
www.cancer.org/acs/groups/content/@r 11. Li J, Zou X, Wu YL, Guo JC, Yun J-P, Xu
esearch/documents/.../acspc- M, et al. A comparison between the
044738.pdf sixth and seventh editions of the
2. Torre LA, Bray F, Siegel RL, Ferlay J, UICC/AJCC staging system for
Tieulent JL, Jemal A. Global cancer nasopharyngeal carcinoma in a Chinese
statistics 2012. Cancer J Clin. cohort. PLoS ONE. 2014;9(12):5.
2015;65:87-108. 12. Pua KC, Khoo ASB, Yap YY,
3. Argiris A, Eng C. Epidemiology, staging, and Subramaniam SK, Ong CA,
screening of head and neck cancer. In: Khrisnan GG, et al. Nasopharyngeal
Brockstein B, Masters G. Head and carcinoma database. Med J Malaysia.
Neck Cancer. Dordrecht: Kluwer 2008;63 Supplement C:59-62.
Academics Publishers, 2004; p. 15-31. 13. Sham JST, Cheung YK, Choy D, Chan FL,
4. Waes CV, Haglund KE, Conley BA. Head Leong L. Nasopharyngeal carcinoma:
and neck cancer. In: Abraham J, Gulley CT evaluation of patterns of tumor
JL, Allegra CJ. Bethesda Handbook of spread. AJNR. 1991;12:265-70.
Clinical Oncology (4th ed). Lippincott 14. Moonis G, Cunnane MB, Emerick K,
Williams & Wilkins; 2014; p. 19-20. Curtin H. Patterns of perineural tumor
5. Chang ET, Adami HO. The enigmatic spread in head and neck cancer. Magn
epidemiology of nasopharyngeal Reson Imaging Clin N Am.
carcinoma. Cancer Epidemiol 2012;20:435–446.
Biomarkers Prev. 2006;15(10):1765- 15. Razek AAKA, King A. MRI and CT of
77. nasopharyngeal carcinoma. AJR
6. Union for International Cancer Control, 2012;198:11–18.
Nasopharyngeal carcinoma. In: Review 16. Miura T, Hirabuki N, Nishiyama K,
of Cancer Medicines. WHO List of Hashimoto T, Kawai R, Yoshida J, et
Essential Medicines. 2014. [cited 2016 al. Computed Tomographic findings of
August 25] Available from: nasopharyngeal carcinoma with skull
www.who.int/selection_medicines/com base and intracranial involvement.
mittees/.../NasopharyngealCarcinoma.p Cancer. 1990;65:29-37.