Anda di halaman 1dari 6

Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A 227-232

https://doi.org/10.32315/sem.1.a227

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur


Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta
Indah Mega Ashari

Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembanngan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.
Korespondensi : indahmega19@gmail.com

Abstrak

Bangunan bersejarah merupakan bangunan yang dapat mewakili zamannya dan mempunyai arti dan
kaitan sejarah dengan masa tersebut. Masjid Cut Meutia meruapakan salah satu dari bangunan
bersejarah yang terdapat di Kota Jakarta. Bangunan Masjid Cut Meutia awalnya tidak diperuntukan
untuk masjid, melainkan untuk kantor sebuah biro arsitek di zaman kolonial. Seiring berjalannya
waktu, fungsi bangunan terus berubah hingga menjadi masjid pada tahun 1987. Setelah
beralihfungsi menjadi masjid, muncul perpaduan antara unsur arsitektur islam dengan gaya
arsitektur kolinial pada Masjid Cut Meutia. Perpaduan tersebut dapat dilihat dari adanya lukisan
kaligrafi pada interior masjid, keberadaan mimbar, dan sekat kayu dengan ukiran kaligrafi.
Perpaduan tersebut dirasa cukup seimbang dan tidak merusak citra utama bangunan bersejarah.
Tujuan dari artikel diskursus ini adalah mengetahui bentuk nyata perpaduan arsitektur kolonial
dengan unsur-unsur arsitektur islam. Data terkait perpaduan kebuadayaan tersebut dikumpulkan
melalui studi literatur.

Kata-kunci : bangunan, bersejarah, budaya, islam, kolonial

Pendahuluan

Bangunan bersejarah (heritage building) ialah bangunan yang telah berumur 50 tahun atau lebih,
yang kekunoannya atau antiquity dan keasliannya telah teruji. Demikian pula ditinjaui dari segi
estetika dan seni bangunan, memiliki mutu cukup tinggi ( master piece) dan mewakili gaya corak-
bentuk seni arsitektur yang langka. Bangunan atau monumen tersebut tentu bisa mewakili
zamannya dan juga mempunyai arti dan kaitan sejarah dengan kota maupun peristiwa
nasiona/internasional (Francis B. Affandi, 2017). Menurut pengertian di tersebut, Masjid Cut Meutia
dapat digolongkan sebagai banguan bersejarah dengan gaya Art Nouveau khas arsitektur kolonial.

Diperkirakan bahwa bangunan yang dahulu bernama De Bouwploeg ini dibangun dengan fungsi
utama sebagai kantor para arsitek dari Belanda, bukan untuk tempat ibadah. Seiring berjalannya
waktu, bangunan tersebut terus berganti fungsi hingga akhirnya menjadi masjid secara resmi pada
tahun 1987. Arsitektur dari Masjid Cut Meutia cukup unik karena apabila hanya dilihat sekilas tidak
terdapat unsur arsitektur islam pada umumnya. Masjid tersebut menggunakan gaya arsitektur
kolonial atau Art Nouveau yang umum digunakan untuk bangunan peribadatan gereja.

Tujuan penulisan artikel diskursus ini adalah untuk mengetahui bentuk nyata perpaduan arsitektur
kolonial dengan unsur-unsur arsitektur islam dan bagaimana budaya islam beradaptasi dengan
budaya kolonial yang terdapat pada bangunan Masjid Cut Meutia. Dalam memahaminya penulis
membaca dokumen dan artikel yang terkait arsitektur Masjid Cut Meutia.

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon, Universitas Indraprasta, Universitas Trisakti Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017 | A 227
ISBN 978-602-17090-5-4 E-ISBN 978-602-17090-4-7
Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitetur Kolonial pada Masjid Cut Meutia
Masjid Cut Meutia Secara Umum

Masjid Cut Meutia terletak di Kota Jakarta dengan alamat lengkap Jalan Taman Cut Meutia Nomor 1,
Jakarta Pusat. Masjid tersebut berdiri tepat di jantung Kota Jakarta, sehingga masjid ini sering sekali
dijadikan persinggahan masyarakat untuk menjalankan ibadah sehari-hari. Setiap waktu shalat,
halaman masjid ini kerap kali terlihat ramai dengan parah jemaah yang ingin beribadah.

Apabila ditelusuri lebih jauh, sejarah dari Masjid Cut Meutia cukup mengejutkan. Pada awalnya,
bangunan Masjid Cut Meutia dibangun untuk fungsi yang sangat berbeda. Diperkirakan pada tahun
1912, sebuah biro arsitek dan developer pada masa itu, N.V (Naamloze vennootschap), menginisiasi
dimulainya pembangunan gedung bertingkat untuk dijadikan kantor. Gedung bertingkat itulah yang
kemudian diberi nama Gedung De Bouwploeg. Setelah digunakan sebagai kantor, gedung tersebut
mengalami pengubahan fungsi yang beragam. Mulai dari Kantos Pos, Kantor Perusahaan Air Minum,
Kantor Walikota Jakarta, Kantor Dinas Urusan Perumahan Jakarta, hingga kantor Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Gambar 1. Bangunan Masjid Cut Meutia yang dahulu merupakan Kantor Biro Arsitek Belanda.
Sumber : http://www.wikiwand.com/id/Masjid_Cut_Meutia diakses pada 4 Maret 2017.

Pengubahan fungsi yang terus terjadi sejak masa kolonial menyebabkan para pengelola bangunan di
setiap masa harus beradaptasi terhadap bangunan asli. Gaya kolonial yang sangat khas dari
bangunan tersebut tetap dipertahankan karena merupakan sebuah warisan budaya yang penting.
Pada tahun 1961, bangunan tersebut ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya. Ketetetapan
tersebut yang membuat pengelola bangunan ini tidak dapat merenovasinya secara total, hanya
boleh dilakukan pada hal-hal minor.

Diskusi

Telah dijelaskan pada bagian pendahuluan bahwa Masjid Cut Meutia merupakan masjid dengan
bangunan dengan gaya arsitektur kolonial (Art Nouveau) yang cukup berbeda dengan bangunan
masjid pada umumnya. Sebagai masjid yang menggunakan gaya arsitektur kolonial yang sangat
khas, pengelola masjid perlu melakukan beberapa renovasi untuk menyeseuaikan bangunan dengan
fungsi bangunan tersebut sejak tahun 1987.

A 228 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017


Indah Mega Ashari
Pada umumnya, gedung dengan gaya arsitektur kolonial (Art Nouveau) sangat erat kaitannya
dengan gereja. Penggunaan bangunan bergaya kolonial sebagai masjid dinilai sangat jarang. Masjid
Cut Meutia merupakan salah satu bukti penggunaan bangunan bergaya arsitektur kolonial yang
dialihfungsikan menjadi masjid. Pada bangunan Masjid Cut Meutia, tidak terdapat beberapa elemen
khas masjid di Indonesia. Bangunan Masjid Cut Meutia tidak memiliki menara yang dinilai
merupakan salah satu elemen penting sebuah masjid. Bagian atap masjid juga tidak berbentuk
kubah, padahal kubah merupakan salah satu elemen arsitektur islam di Indonesia yang cukup iconic.
Tetapi, ketiadaan kedua elemen tersebut justru berdampak baik karena tidak merusak konteks
utama bangunan masjid bergaya kolonial tersebut.

Gambar 2. Eksterior Masjid Cut Meutia


Sumber : dokumen pribadi penulis

Tampilan eksterior bangunan Masjid Cut Meutia masih kental dengan gaya Art Nouveau. Terdapat
ornamen khas arsitektur kolonial yang menghiasi bagian fasad depan dan balkon yang terletak di sisi
utara bangunan. Ukuran jendela pada bangunan tersebut masih terlampau besar, menggunakan
kaca yang diberi hiasan bergaya art deco dengan gambar tanaman dan mozaik geometri. Sebagai
penutup atap, bangunan tersebut menggunakan atap berbentuk kubus yang merupakan salah satu
ciri khas arsitektur kolonial. Unsur arch atau lengkungan pada setiap pintu, jendela, bahkan gerbang
utama semakin memperkuat gaya arsitektur kolonial pada bangunan masjid tersebut.

Perpaduan unsur arsitektur islam dan arsitektur kolonial akan mulai terlihat ketika memasuki masjid.
Terdapat unsur arsitektur islam yang khas pada interior Masjid Cut Meutia, yaitu tulisan kaligrafi di
bagian dinding, jendela, dan balkon pembatas void. Dua kaligrafi utama, yaitu tulisan Allah dan Nabi
Muhammad terpajang jelas di focal point masjid, yaitu dekat dengan mihrab utama. Kaligrafi ayat-
ayat Al Quran tersebut sengaja dibuat tidak mendominasi agar nuansa interior yang “antik” tetap
menonjol.

Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017 | A 229


Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitetur Kolonial pada Masjid Cut Meutia

Gambar 3. Interior Masjid Cut Meutia. Gambar 4. Dekorasi khas art deco
Sumber : dokumen pribadi penulis Sumber : dokumen pribadi penulis

Selain kaligrafi di dinding, unsur yang mencerminkan arsitektur islam di dalam Masjid Cut Meutia
adalah mihrab utamanya. Mihrab merupakan ruang cekung di mana khatib memberikan khotbah.
Posisi Mihrab masjid cukup unik karena tidak mengarah langsung ke Kota Mekkah. Hal tersebut
disebabkan oleh orientasi bangunan yang tidak mengacu kepada kiblat, sehingga posisi mihrab
harus menyesuaikan dengan denah bangunan. Imam masjid memimpin shalat dengan posisi tidak di
mihrab, namun di sisi barat mengikuti arah kiblat.

Di dekat mihrab utama terdapat beberapa ruangan yang memiliki fungsi utama sebagai tempat
iktikaf. Ruang kecil tersebut diberikan dekorasi kaligrafi ayat-ayat Al Quran yang serupa dengan
dinding bagian mihrab. Sebagai pemisah ruang iktikaf dengan ruang shalat utama, diberikan sekat
yang terbuat dari kayu dengan ukiran ayat-ayat Al-Quran. Di atas sekat kayu tersebut diberi hiasan
kubah yang merupakan salah satu unsur arsitektur islam yang umum di Indonesia. Sekat kayu ini
merupakan salah satu bagian di dalam Masjid Cut Meutia yang merupakan hasil perpaduan arsitektur
kolonial dengan unsur arsitektur islam, dibuktikan dengan penambahan seni kaligrafi pada material
kayu.

Gambar 6. Hiasan pada sekat ruangan Gambar 7. Ruang iktikaf Masjid Cut Meutia
Sumber : dokumen pribadi penulis Sumber : dokumen pribadi penulis

A 230 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017


Indah Mega Ashari
Terlepas dari adanya unsurnya arsitekur islam seperti kaligrafi pada interior masjid, suasana yang
diberikan oleh gaya arsitektur kolonial masih terasa dengan adanya void besar dengan langit-langit
yang cukup tinggi tepat di bagian ruang utama. Void tersebut memperlancar aliran udara dari sistem
cross ventilation yang terdapat pada bangunan masjid. Di tengah void terdapat lampu kaca yang
semakin menambah nuansa arsitektur kolonial dari bangunan tersebut. Bagian langit-langit
bangunan dihiasi ceiling yang terbuat dari kayu dan berbentuk persegi, menyesuaikan bentuk
dengan penutup atap masjid.

Gambar 8. Langit-Langit Masjid Cut Meutia Gambar 9. Interior Langit-Langit Masjid Cut Meutia
Sumber : dokumen pribadi penulis Sumber : dokumen pribadi penulis

Kesimpulan

Bangunan Masjid Cut Meutia merupakan bangunan dengan perpaduan gaya arsitektur kolonial (Art
Nouveau) dan unsur-unsur arsitektur islam. Unsur arsitektur islam mulai ditambahkan pada
banguann sejak bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi masjid pada Tahun 1987. Perpaduan
unsur arsitektur islam dengan gaya arsitektur kolonial pada Masjid Cut Meutia dapat dilihat pada
dinding interior masjid yang diberi kaligrafi, keberadaan mihrab, dan sekat kayu dengan ukiran
kaligrafi. Keberadaan dari unsur-unsur arsitektur islam tersebut tidak mengurangi kesan masjid
tersebut sebagai salah satu bangunan bergaya kolonial.

Tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan karena bahan penelitian yang dimiliki oleh penulis
kurang mencukupi. Akan lebih baik apabila penulis langsung mencari bahan penelitian ke
perpustakaan yang lebih lengkap koleksinya agar lebih banyak memeroleh ilmu terkait topik yang
dibahas.

Acknowledgment

Penulis berterimakasih kepada Dr.Eng. Bambang Setiabudi, ST., MT. selaku dosen pengajar
mata kuliah AR4232 Arsitektur Islam, Institut Teknologi Bandung, untuk bimbingan yang telah
diberikan sehingga artikel ini dapat selesai. Makalah ini ditulis oleh Indah Mega Ashari dengan
NIM 15214071.

Daftar Pustaka

Masjid Cut Meutia, diakses pada Sabtu 4 Maret 2017 dari http://www.wikiwand.com/id/Masjid_Cut_Meutia.
Identifikasi Tranformasi Fungsi Bangunan Indische Pada Masjid Cut Meutia, Menteng (2015), diakses pada Sabtu
4 Maret 2017 dari http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/533/jbptunikompp-gdl-eviearisan-26612-3-unikom_e-i.pdf.
Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017 | A 231
Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitetur Kolonial pada Masjid Cut Meutia
Masjid Cut Meutia : Gedung Belanda yang Jadi Rumah Tuhan (20 Juli 2010), diakses pada Sabtu 4 Maret 2017
dari http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/masjid-cut-meutia-gedung-belanda-yang-jadi-rumah-tuhan.
Bhawa, N. (2013). Conservation of Heritage Buildings – A Guide. New Delhi. Directorate General Central Public
Works Department.
Amanah, M. (2013). Ciri gaya art nouveau pada arsitektur bangunan kolonial Belanda “Masjid Cut Meutia ”. Depok.
Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

A 232 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017