Anda di halaman 1dari 35

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam thypoid merupakan suatu penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus

yang disebabkan oleh salmonella thypii. Penyakit ini dapat ditularkan melalui makanan,

atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypii (Hidayat, 2008,

hal:120). Demam thypoid dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang terutama

terletak di daerah tropis dan subtropis dengan angka kejadian masih sangat tinggi yaitu

500 per 100.000 (Widagdo,2011, hal: 218).

Menurut dataWorld Health Organization(WHO) tahun 2003, terdapat 17 juta

kasus demam thypoid di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 kasus.

Secara keseluruhan, demam tifoid diperkirakan menyebabkan 21,6 juta kasus dengan

216.500 kematian pada tahun 2000. Insidens demam tifoid tinggi (>100 kasus

per100.000 populasi per tahun) dicatat di AsiaTengah dan Selatan, Asia Tenggara, dan

kemungkinan Afrika Selatanyang tergolongsedang (10 – 100 kasus per 100.000

populasi pertahun) di Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin, dan Oceania (kecuali

Australia dan Selandia Baru), serta yang termasuk rendah (<10 kasus per100.000

populasi per tahun) di bagian dunialainnya.

Kejadian demam thypoid didunia sekitar 21,6 juta kasus dan terbanyak di Asia,

Afrika dan Amerika Latin dengan angka kematian sebesar 200.000. Setiap tahunnya, 7

juta kasus terjadi di Asia Tenggara, dengan angka kematian 600.000 orang. Hingga saat

ini penyakit demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis

termasuk Indonesia dengan angka kejadian sekitar 760 sampai 810 kasus pertahun, dan

1
2

angka kematian 3,1 sampai 10,4% (WHO, 2004).Sedangkan data World Health

Organization (WHO) tahun (2009), memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus

demam thypoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun.

Demam thypoid dan demam para thypoid adalah penyakit infeksi akut usus

halus yang disebabkan kuman Salmonella typhi dengan gejala demam lebih dari satu

minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Penyakit ini

termasuk penyakit menular endemik yang dapat menyerang banyak orang dan masih

merupakan masalah kesehatan di daerah tropis terutama di negara-negara sedang

berkembang (Maharani, 2012).

Indonesia merupakan negara endemik demam tifoid. Diperkirakan terdapat 800

penderita per 100.000 penduduk setiap tahun yang ditemukan sepanjang tahun. Penyakit

ini tersebar di seluruh wilayah dengan insiden yang tidak berbeda jauh antar daerah.

Serangan penyakit lebih bersifat sporadis dan bukan epidemik. Dalam suatu daerah

terjadi kasus yang berpencar-pencar dan tidak mengelompok. Sangat jarang ditemukan

beberapa kasus pada satu keluarga pada saat yang bersamaan (Widoyono,2011, hal:

144).

Dalam Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 demam thypoid

termasuk dalam kejadian luar biasa (KLB) dengan attack rate sebesar0,37% yang

menyerang 4 kecamatan dengan jumlah 4 desa dan jumlah penderita 51 jiwa. Pada

tahun 2009 terjadi peningkatan jumlah penderita demam thypoid sebesar 150 jiwa yang

menyerang 3 kecamatan dan jumlah 3 desa dengan attackrate sebesar 2,69%. Tahun

2010 kasus KLB demam tifoid kembali terjadi dengan attack rate sebesar 1,36% yang

menyerang 1 kecamatan dengan 1 desa dan jumlah penderita 26 jiwa (Dinkes Prop

Jateng, 2010).
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008,

demam thypoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap

di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan

pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%,

urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan jumlah kasus 77.539 dengan proporsi 3,01%

(Depkes RI, 2009).

Demam thypoid adalah penyakit infeksi yang lazim didapatkan di daerah tropis

dan subtropis dan sangat erat kaitannya dengan sanitasi yang jelek di suatu masyarakat.

Penularan penyakit ini lebih mudah terjadi di masyarakat yang padat seperti urbanisasi

di negara yang sedang berkembang dimana sarana kebersihan lingkungan dan air

minum bersih belum terpenuhi dan oleh karena itu penyakit demam thypoid mudah

menyebar melalui makanan dan minuman yang tercemar melalui lalat, dan serangga.

Sumber utamanya hanyalah manusia. Penularan terjadi melalui air atau makanan yang

tercemar kuman salmonella secara langsung maupun tidak langsung (dari orang yang

sakit maupun dari ‘’carrier’’) yang erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan dan

perorangan. Demikian juga cara mencuci bahan makanan (segala macam makanan)

dengan air yang tercemar akan mempermudah penularan demam tifoid apabila tidak

dimasak dengan baik (Ranuh, 2013, hal: 182).

Komplikasi yang dapat muncul akibat demam thypoid tidak segera ditangani

adalah dapat terjadi perdarahan dan perforasi usus, yaitu sebanyak 0,5 – 3% yang terjadi

setelah minggu pertama sakit. Komplikasi tersebut dapat ditengarai apabila suhu badan

dan tekanan darah mendadak turun dan kecepatan nadi meningkat. Perforasi dapat

ditunjukkan lokasinya dengan jelas, yaitu di daerah distal ileum disertai dengan nyeri

perut, tumpah-tumpah dan adanya gejala peritonitis. Selanjutnya gejala sepsis sering
kali timbul. Sekitar 10% pneumonia dan bronchitis ditemukan pada anak-anak dan

komplikasi yang lebih berat dengan akibat fatal adalah apabila mengenai jantung

(myocarditis) dengan arrhytmiasis, blok sinoarterial, perubahan ST-T pada

elektrokardiogram atau cardiogenic shock. Prognosa tergantung dari pengobatan yang

tepat dan cepat (Ranuh, 2013, hal: 184).

Pada tahun 2016, penyakit tifooid menduduki peringkat ke 5 terbanyak di

Sulawesi Tenggara yakni 4.641 kasus. Berdasarkan data yang diperoleh dari RSU

Bahteramas pada tahun 2017 ditemukan 410 kasus thypoid , sebanyak 175 kasus adalah

menyerang anak-anak. Dari bulan Januari sampai dengan Mei 2018 didapatkan kasus

demam thypoid sebanyak 75 anak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kasus demam

thypoid masih sangat tinggi. Berdasarkan keterangan data diatas, maka penulis tertarik

untuk menggali permasalahan tentang penyakit demam thypoid dan membuat karya

tulis ilmiah tentang “Asuhan Keperawatan Demam Thypoid pada Anak”

B. Tujuan

1. Umum

Tujuan umum dari penulisan karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan

Keperawatan Demam Thypoid pada Anak” adalah agar penulis dapat memahami

dan mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien anak dengan demam

Thypoid menggunakan pendekatan proses keperawatan.

2. Khusus

Tujuan khusus dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini diharapkan penulis mampu:

a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan masalah Demam Thypoid di

Ruang Lambu Barakati Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.


b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan masalah Demam

Thypoid di Ruang Lambu Barakati Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara.

c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan yang tepat pada klien dengan

Demam Thypoid di Ruang Lambu Barakati Anak RSU Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara.

d. Mampu mengimplementasikan rencana keperawatan pada klien dengan masalah

Demam Thypoid di Ruang Lambu Barakati Anak RSU Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara.

e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada klien dengan masalah Demam

Thypoid di Ruang Lambu Barakati Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara.

C. Manfaat

Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :

1. Bagi Ilmu Pengetahuan

Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam penanganan

demam thypoid pada anak

2. Bagi Penulis

a. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan demam

thypoid pada anak

b. Untuk meningkatkan ketrampilan dalam memberikan asuhan keperawatan

demam thypoid pada anak.

3. Bagi Institusi Pendidikan


Memberikan pengetahun dan ketrampilan mahasiswa lebih banyak lagi

terutama dalam kegiatan pembelajaran mengenai asuhan keperawatan pasien

demam thypoid.

4. Bagi Lahan Praktik

Sebagai referensi untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan agar

lebih baik khususnya pada anak dengan kasus demam thypoid.

5. Bagi Pasien

Dapat dijadikan sebagai bahan informasi atau pedoman untuk menangani kasus

demam thypoid pada anak dan keluarganya.


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Demam Thypoid atau thypoid fever ialah suatu sindrom sistemik yang
terutama disebabkan oleh salmonella typhi. Demam tifoid merupakan jenis
terbanyak dari salmonelosis. Jenis lain dari demam enterik adalah demam
paratifoid yang disebabkan oleh S. Paratyphi A, S. Schottmuelleri (semula S.
Paratyphi B), dan S. Hirschfeldii (semula S. Paratyphi C). Demam tifoid
memperlihatkan gejala lebih berat dibandingkan demam enterik yang lain
(Widagdo, 2011, hal: 197). Menurut Ngastiyah (2010, hal: 236) Tifus
abdominalis (demam tifoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang
biasanya mengenai saluran pencernaan dengan demam lebih dari satu minggu,
gangguan pada pencernaan,dan gangguan kesadaran.
Menurut Soedarto (2009, hal: 128) Penyakit infeksi usus yang disebut
juga sebagai Tifus abdominalis atau Typhoid Fever ini disebabkan oleh kuman
Salmonella typhiatauSalmonella paratyphi A, B, dan C. Demam tifoid
merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia maupun di daerah-
daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia.
Beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit demam
tifoid atau tifus abdominalis adalah suatu penyakit infeksi akut yang
menyerang manusia khususnya pada saluran pencernaan yaitu pada usus halus
yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi yang masuk melalui makanan
atau minuman yang tercemar dan ditandai dengan demam berkepanjangan
lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan lebih
diperburuk dengan gangguan penurunan kesadaran.
B. Etiologi
Menurut Widagdo (2011, hal: 197) Etiologi dari demam Thypoid
adalah Salmonella typhi, termasuk genus Salmonella yang tergolong dalam
famili Enterobacteriaceae. Salmonella bersifat bergerak, berbentuk spora,
tidak berkapsul, gram (-). Tahan terhadap berbagai bahan kimia, tahan

7
8

beberapa hari / minggu pada suhu kamar, bahan limbah, bahan makanan
kering, bahan farmasi, dan tinja. Salmonella mati pada suhu 54,4º C dalam 1
jam atau 60º C dalam 15 menit. Salmonella mempunyai antigen O (somatik)
adalah komponen dinding sel dari lipopolisakarida yang stabil pada panas dan
antigen H (flagelum) adalah protein yang labil terhadap panas. Pada S. typhi,
juga pada S. Dublin dan S. hirschfeldii terdapat antigen Vi yaitu polisakarida
kapsul.
C. Patofisiologi
Kuman masuk melalui mulut, sebagian kuman akan dimusnahkan
dalam lambung oleh asam lambung. Sebagian kuman lagi masuk ke usus
halus, ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang usus halus.
Kemudian kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer), dan
mencapai sel-sel retikulo endoteleal, hati, limpa dan organ lainnya.Proses ini
terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikulo endoteleal
melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia
untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ
tubuh terutama limpa, usus, dan kandung empedu (Suriadi &Yuliani, 2010,
hal: 254).
Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks player. Ini terjadi
pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada
minggu ketiga terjadi ulserasi plaks player. Pada minggu keempat terjadi
penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat
menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar,
kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar. Gejala demam disebabkan
oleh endotoksil, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh
kelainan pada usus halus (Suriadi &Yuliani, 2006, hal: 254).
D. Manifestasi Klinik
Menurut Ngastiyah (2005, hal: 237) Gambaran klinik demam tifoid
pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Penyakit ini masa
tunasnya 10-20 hari, tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan.
Sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi
mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu,
nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu makan berkurang.
Gambaran klinik yang biasa ditemukan menurut Ngastiyah (2005, hal: 237)
adalah:
1. Demam
Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris
remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama seminggu pertama, suhu
tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari
dan meningkat lagi pada sore hari dan malam hari. Dalam minggu kedua,
pasien terus berada dalam keadaan demam. Pada minggu ketiga, suhu
berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering, dan pecah-
pecah (ragaden), lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung
dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat
ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus), hati dan limpa
membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi
tetapi juga dapat terjadi diare atau normal
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis
sampai samnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah kecuali
penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan. Di samping
gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan
anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan
karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada
minggu pertama yaitu demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardi
dan epitaksis pada anak dewasa
4. Relaps
Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis,
akan tetapi berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada minggu
kedua setelah suhu badan normal kembali, terjadinya sukar diterangkan.
Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ
yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti.
Mungkin terjadi pada waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil
bersamaan dengan pembentukan jaringan fibrosis.
E. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Suriadi & Yuliani (2006, hal: 256) pemeriksaan penunjang demam
tifoid adalah:
1. Pemeriksaan darah tepi
Leukopenia, limfositosis, aneosinofilia, anemia, trombositopenia
2. Pemeriksaan sumsum tulang
Menunjukkan gambaran hiperaktif sumsum tulang
3. Biakan empedu
Terdapat basil salmonella typhosa pada urin dan tinja. Jika pada
pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil
salmonella typhosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan betul-
betul sembuh
4. Pemeriksaan widal
Didapatkan titer terhadap antigen 0 adalah 1/200 atau lebih, sedangkan
titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk
menegakkan diagnosis karema titer H dapat tetap tinggi setelah dilakukan
imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh.
F. Komplikasi
Menurut Widagdo (2011, hal: 220-221) Komplikasi dari demam tifoid dapat
digolongkan dalam intra dan ekstra intestinal.
1. Komplikasi intestinal diantaranya ialah :
a. Perdarahan
Dapat terjadi pada 1-10 % kasus, terjadi setelah minggu pertama
dengan ditandai antara lain oleh suhu yang turun disertai dengan
peningkatan denyut nadi.
b. Perforasi usus
Terjadi pada 0,5-3 % kasus, setelah minggu pertama didahului oleh
perdarahan berukuran sampai beberapa cm di bagian distal ileum
ditandai dengan nyeri abdomen yang kuat, muntah, dan gejala
peritonitis.
2. Komplikasi ekstraintestinal diantaranya ialah :
a. Sepsis
Ditemukan adanya kuman usus yang bersifat aerobik
b. Hepatitis dan kholesistitis
Ditandai dengan gangguan uji fungsi hati, pada pemeriksaan amilase
serum menunjukkan peningkatan sebagai petunjuk adanya komplikasi
pankreatitis
c. Pneumonia atau bronkhitis
Sering ditemukan yaitu kira-kira sebanyak 10 %, umumnya
disebabkan karena adanya superinfeksi selain oleh salmonella
d. Miokarditis toksik
Ditandai oleh adanya aritmia, blok sinoatrial, dan perubahan segmen
ST dan gelombang T, pada miokard dijumpai infiltrasi lemak dan
nekrosis
e. Trombosis dan flebitis
Jarang terjadi, komplikasi neurologis jarang menimbulkan gejala
residual yaitu termasuk tekanan intrakranial meningkat, trombosis
serebrum, ataksia serebelum akut, tuna wicara, tuna rungu, mielitis
tranversal, dan psikosis
f. Komplikasi lain
Pernah dilaporkan ialah nekrosis sumsum tulang, nefritis, sindrom
nefrotik, meningitis, parotitis, orkitis, limfadenitis, osteomilitis, dan
artritis.
G. Penatalaksanaan
Menurut Ngastiyah (2005, hal: 239) & Ranuh (2013, hal: 184-185)
pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus
dianggap dan diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan
diberikan pengobatan sebagai berikut :
1. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta
2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang
lama, lemah, anoreksia, dan lain-lain
3. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal
kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh
berdiri kemudian berjalan di ruangan
4. Diet
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein.
Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang
dan tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Apabila kesadaran pasien
menurun diberikan makanan cair, melalui sonde lambung. Jika kesadaran
dan nafsu makan anak baik dapat juga diberikan makanan lunak.
5. Pemberian antibiotik
Dengan tujuan menghentikan dan mencegah penyebaran bakteri. Obat
antibiotik yang sering digunakan adalah :
a. Chloramphenicol dengan dosis 50 mg/kg/24 jam per oral atau dengan
dosis 75 mg/kg/24 jam melalui IV dibagi dalam 4 dosis.
Chloramphenicol dapat menyembuhkan lebih cepat tetapi relapse
terjadi lebih cepat pula dan obat tersebut dapat memberikan efek
samping yang serius
b. Ampicillin dengan dosis 200 mg/kg/24 jam melalui IV dibagi dalam 6
dosis. Kemampuan obat ini menurunkan demam lebih rendah
dibandingkan dengan chloramphenicol
c. Amoxicillin dengan dosis 100 mg/kg/24 jam per os dalam 3 dosis
d. Trimethroprim-sulfamethoxazole masing-masing dengan dosis 50 mg
SMX/kg/24 jam per os dalam 2 dosis, merupakan pengobatan klinik
yang efisien
e. Kotrimoksazol dengan dosis 2x2 tablet (satu tablet mengandung 400
mg sulfamethoxazole dan 800 mg trimethroprim. Efektivitas obat ini
hampir sama dengan chloramphenicol.
H. Konsep Dasar Anak
1. Pengertian Anak
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk
anak yang masih dalam kandungan terdapat dalam Undang-undang No.23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut menjelaskan
bahwa, anak adalah siapa saja yang belum berusia 18 tahun dan termasuk
anak yang masih didalam kandungan, yang berarti segala kepentingan
akan pengupayaan perlindungan terhadap anak sudah dimulai sejak anak
tersebut berada didalam kandungan hingga berusia 18 tahun
(Hidayat,2008)
2. Kebutuhan Dasar Anak
Kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang anak secara umum
digolongkan menjadi kebutuhan fisik-biomedis (asuh) yang meliputi,
pangan atau gizi, perawatan kesehatan dasar, tempat tinggal yang layak,
sanitasi, sandang, kesegaran jasmani atau rekreasi. Kebutuhan emosi atau
kasih saying (Asih), pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang
erat, mesra dan selaras antara ibu atau pengganti ibu dengan anak
merupakansyarat yang mutlakuntuk menjamin tumbuh kembang yang
selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Kebutuhan akan stimulasi
mental (Asah), stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses
belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental ini
mengembangkan perkembangan mental psikososial diantaranya
kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreaktivitas, agama, kepribadian
dan sebagainya.
3. Tingkat perkembangan anak
Menurut Hidayat (2008), karakteristik anak sesuai tingkat perkembangan :

a. Usia bayi (0-1 tahun)


Pada masa ini bayi belum dapat mengekspresikan perasaan dan
pikirannya dengan kata-kata. Oleh karena itu, komunikasi dengan bayi
lebih banyak menggunakan jenis komunikasi non verbal. Pada saat
lapar, haus, basah dan perasaan tidak nyaman lainnya, bayi hanya bisa
mengekspresikan perasaannya dengan menangis. Walaupun demikian,
sebenarnya bayi dapat berespon terhadap tingkah laku orang dewasa
yang berkomunikasi dengannya secara non verbal, misalnya
memberikan sentuhan, dekapan, dan menggendong dan berbicara
lemah lembut. Ada beberapa respon non verbal yang biasa ditunjukkan
bayi misalnya menggerakkan badan, tangan dan kaki. Hal ini terutama
terjadi pada bayi kurang dari enam bulan sebagai cara menarik
perhatian orang. Oleh karena itu, perhatian saat berkomunikasi
dengannya. Jangan langsung menggendong atau memangkunya karena
bayi akan merasa takut. Lakukan komunikasi terlebih dahulu dengan
ibunya. Tunjukkan bahwa kita ingin membina hubungan yang baik
dengan ibunya.
b. Usia pra sekolah (2-5 tahun)
Karakteristik anak pada masa ini terutama pada anak dibawah 3
tahun adalah sangat egosentris. Selain itu anak juga mempunyai
perasaan takut oada ketidaktahuan sehingga anak perlu diberi tahu
tentang apa yang akan akan terjadi padanya. Misalnya, pada saat akan
diukur suhu, anak akan merasa melihat alat yang akan ditempelkan ke
tubuhnya. Oleh karena itu jelaskan bagaimana akan merasakannya.
Beri kesempatan padanya untuk memegang thermometer sampai ia
yakin bahwa alat tersebut tidak berbahaya untuknya. Dari hal bahasa,
anak belum mampu berbicara fasih. Hal ini disebabkan karena anak
belum mampu berkata-kata 900-1200 kata. Oleh karena itu saat
menjelaskan, gunakan kata-kata yang sederhana, singkat dan gunakan
istilah yang dikenalnya. Berkomunikasi dengan anak melalui objek
transisional seperti boneka. Berbicara dengan orangtua bila anak malu-
malu. Beri kesempatan pada yang lebih besar untuk berbicara tanpa
keberadaan orangtua. Satu hal yang akan mendorong anak untuk
meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi adalah dengan
memberikan pujian atas apa yang telah dicapainya.

c. Usia sekolah (6-12 tahun)


Anak pada usia ini sudah sangat peka terhadap stimulus yang
dirasakan yang mengancam keutuhan tubuhnya. Oleh karena itu,
apabila berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan anak diusia ini
harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti anak dan berikan
contoh yang jelas sesuai dengan kemampuan kognitifnya. Anak usia
sekolah sudah lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa.
Perbendaharaan katanya sudah banyak, sekitar 3000 kata dikuasi dan
anak sudah mampu berpikir secara konkret.
d. Usia remaja (13-18)
Fase remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari akhir
masa anak-anak menuju masa dewasa. Dengan demikian, pola piker
dan tingkah laku anak merupakan peralihan dari anak-anak menuju
orang dewasa. Anak harus diberi kesempatan untuk belajar
memecahkan masalah secara positif. Apabila anak merasa cemas atau
stress, jelaskan bahwa ia dapat mengajak bicara teman sebaya atau
orang dewasa yang ia percaya. Menghargai keberadaan identitas diri
dan harga diri merupakan hal yang prinsip dalam berkomunikasi.
Luangkan waktu bersama dan tunjukkan ekspresi wajah bahagia.
e. Tugas Perkembangan Anak
Tugas perkembangan menurut teori Havighurst (1961) dalam
Hidayat (2010) adalah tugas yang harus dilakukan dan dikuasai
individu pada tiap tahap perkembangannya. Tugas perkembangan bayi
0-2 adalah berjalan, berbicara,makan makanan padat, kestabilan
jasmani. Tugas perkembangan anak usia 3-5 tahun adalah mendapat
kesempatan bermain, berkesperimen dan berekplorasi, meniru,
mengenal jenis kelamin, membentuk pengertian sederhana mengenai
kenyataan social dan alam, belajar mengadakan hubungan emosional,
belajar membedakan salah dan benar serta mengembangkan kata hati
juga proses sosialisasi. Tugas perkembangan usia 6-12 tahun adalah
belajar menguasai keterampilan fisik dan motorik, membentuk sikap
yang sehat mengenai diri sendiri, belajar bergaul dengan teman sebaya,
memainkan peranan sesuai dengan jenis kelamin, mengembangkan
konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan
keterampilan yang fundamental, mengembangkan pembentukan kata
hati, moral dan sekala nilai, mengembangkan sikap yang sehat
terhadap kelompok sosial dan lembaga. Tugas perkembangan anak
usia 13-18 tahun adalah menerima keadaan fisiknya dan menerima
peranannya sebagai perempuan dan laki-laki, menyadari hubungan-
hubungan baru dengan teman sebaya dan kedua jenis kelamin,
menemukan diri sendiri berkat refleksi dan kritik terhadap diri sendiri,
serta mengembangkan nilai-nilai hidup.
I. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Pencernaan (Demam Thipoid)
1. Pengkajian
Menurut Nursalam (2008, hal: 154-155) adalah sebagai berikut:
a. Identitas klien
b. Keluhan utama
Perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing, dan kurang
bersemangat serta nafsu makan berkurang (terutama selama masa
inkubasi).
c. Suhu tubuh
Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama 3 minggu, bersifat
febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali. Selama minggu
pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik tiap harinya, biasanya
menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari.
Pada minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan demam. Pada
minggu ketiga, suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali pada
akhir minggu ketiga.
d. Kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun berapa dalam, yaitu
apatis sampai samnolen. Jarang terjadi sopor, koma, atau gelisah
(kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan
pengobatan). Disamping gejala-gejala tersebut mungkin terdapat gejala
lainnya. Pada punggung dan anggota gerak terdapat reseola, yaitu
bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang
ditemukan dalam minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan
pula bradikardi dan epitaksis pada anak besar.
e. Pemeriksaan fisik
1) Mulut
Terdapat nafas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan
pecah-pecah (ragaden), lidah tertutup selaput putih, sementara
ujung dan tepinya bewarna kemerahan, dan jarang disertai tremor
2) Abdomen
Dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus), bisa
terjadi konstipasi atau mungkin diare atau normal
3) Hati dan Limfe
Membesar disertai nyeri pada perabaan
f. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pada pameriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia,
limfositosis, relatif pada permukaan sakit
2) Darah untuk kultur (biakan, empedu) dan widal
3) Biakan empedu hasil salmonella typhi dapat ditemukan dalam
darah pasien pada minggu pertama sakit, selanjutnya lebih sering
ditemukan dalam feces dan urine
g. Pemeriksaan widal
Untuk membuat diagnosis, pemeriksaan yang diperlukan ialah titer zat
anti terhadap antigen 0, titer yang bernilai 1/200 atau lebih
menunjukkan kenaikan yang progresif.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang biasanya muncul pada demam tifoid menurut Nanda NIC-
NOC (2014) adalah sebagai berikut:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhi
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak
adekuat
c. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan malabsorbsi
nutrien
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
3. Intervensi Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan denganproses infeksi salmonella
typhi Tujuan: suhu tubuh kembali normal
Hasil yang diharapkan: Pasien mempertahankan suhu tubuh normal
yaitu 36ºC-37ºC dan bebas dari demam.
Intervensi:
1) Pantau suhu tubuh klien tiap 3 jam sekali
Rasional: suhu tubuh 38ºC-40ºC menunjukkan proses penyakit
infeksi akut
2) Beri kompres hangat
Rasional: kompres dengan air hangat akan menurunkan demam
3) Anjurkan kepada ibu klien agar klien memakai pakaian tipis dan
menyerap keringat
Rasional: memberi rasa nyaman, pakaian tipis membantu
mengurangi penguapan tubuh
4) Beri banyak minum 1.500-2.000 cc/hari
Rasional: membantu memelihara kebutuhan cairan dan
menurunkan resiko dehidrasi
5) Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik dan antibiotik
Rasional: antipiretik untuk mengurangi demam, antibiotik untuk
membunuh kuman infeksi.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak
adekuat
Tujuan: volume cairan terpenuhi
Hasil yang diharapkan: status cairan tubuh adekuat, ditandai dengan
membran mukosa lembab, turgor kulit elastis, tanda-tanda vital normal
Intervensi:
1) Monitor tanda-tanda vital
Rasional: mengetahui suhu, nadi, dan pernafasan
2) Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan
Rasonal: mengontrol keseimbangan cairan
3) Kaji status dehidrasi
Rasional: mengetahui derajat status dehidrasi
4) Beri banyak minum
Rasional: membantu memelihara kebutuhan cairan dan
menurunkan resiko dehidrasi
c. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera
biologis Tujuan: menunjukkan nyeri berkurang atau
hilang
Hasil yang diharapkan: terlihat tenang dan rileks dan tidak ada keluhan
nyeri
Intervensi:
1) Kaji tingkat, frekuensi, intensitas, dan reaksi nyeri
Rasional: suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi
yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang
diberikan
2) Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi nafas dalam
Rasional: menurunkan intensitas nyeri, meningkatkan oksigenasi
darah, dan menurunkan inflamasi.
3) Libatkan keluarga dalam tata laksana nyeri dengan memberikan
kompres hangat
Rasional: menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri, membuat
otot tubuh lebih rileks, dan memperlancar aliran darah.
4) Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien
Rasional: posisi yang nyaman membuat klien melupakan rasa
nyerinya.
5) Kolaborasi pemberian obat analgetik sesuai indikasi
Rasional: untuk membantu mengurangi rasa nyeri dan
mempercepat proses penyembuhan.
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan malabsorbsi
nutrien
Tujuan: tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Hasil yang diharapkan: nafsu makan meningkat, makan habis satu
porsi, berat badan klien meningkat
Intervensi:
1) Kaji status nutrisi anak
Rasional: mengetahui langkah pemenuhan nutrisi
2) Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan
teknik porsi kecil tapi sering
Rasional: meningkatkan jumlah masukan dan mengurangi mual
dan muntah
3) Timbang berat badan klien setiap 3 hari
Rasional: mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan
4) Pertahankan kebersihan mulut anak
Rasional: menghilangkan rasa tidak enak pada mulut atau lidah dan
dapat meningkatkan nafsu makan
5) Beri makanan lunak
Rasional: mencukupi kebutuhan nutrisi tanpa memberi beban yang
tinggi pada usus
6) Jelaskan pada keluarga pentingnya intake nutrisi yang adekuat
Rasional: memberikan motivasi pada keluarga untuk memberikan
makanan sesuai kebutuhan.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengankelemahan Tujuan: dapat beraktivitas secara
mandiri
Hasil yang diharapkan: memperlihatkan kemajuan khusus tingkat
aktivitas yang lebih tinggi dari mobilitas yang mugkin
Intervensi:
1) Kaji toleransi terhadap aktivitas
Rasional: menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres
aktivitas
2) Kaji kesiapan meningkatkan aktivitas
Rasional: stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk
memajukan tingkay aktivitas individual
3) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjuran menggunakan kursi
mandi, menyikat gigi atau rambut
Rasional: teknik penggunaan energi menurunkan penggunaan
energi
4) Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memiliki periode
aktivitas
Rasional: seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan
aktivitas dan mencegah kelemahan.
4. Pathway
Teori Skema 2.1
Pathway Teori

Salmonella typhi

Saluran pencernaan

Usus halus

Jaringan limfoid

Lamina frofia

Kelenjar limfa mesontreia

Aliran darah

Organ res (hati & limfa)

Tidak difagosit Imflamasi

Hati & limfa Endotoksin

Hepatomegali penurunan napsu lemah proses


infeksi

Solenomegali makan lesu demam


Merasangsang ujung saraf mual intoleransi hippertermi
Muntah aktivitas
Nyeri perabaan
Nutrisi kurang
Nyeri akut dari kebutuhan
tubuh
5. Implementasi Keperawatan
Setelah melakukan intervensi keperawatan, tahap selanjutnya
adalah mencatat intervensi yang telah dilakukan dan evaluasi respons
klien. Hal ini dilakukan karena pencatatan akan lebih akurat bila
dilakukan saat intervensi masih segar dalam ingatan. Tulislah apa yang
diobservasi dan apa yang dilakukan (Deswani, 2009).
Implementasi yang merupakan kategori dari proses keperawatan
adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari
asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry, 2005).
6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Namun,
evaluasi dapat dilakukan pada setiap tahap dari proses perawatan.
Evaluasi mengacu pada penilaian, tahapan dan perbaikan. Pada tahap ini,
perawat menemukan penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat
berhasil atau gagal (Alfaro-Lefevre, 1994 dalam Deswani, 2009).
Pada tahap evaluasi, perawat dapat menemukan reaksi klien
terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan dan menetapkan
apakah sasaran dari rencana keperawatan dasar mendukung proses
evaluasi. Selain itu juga dapat menetapkan kembali informasi baru yang
ditunjukkan oleh klien untuk mengganti atau menghapus diagnosa
keperawatan, tujuan atau intervensi keperawatan (Yura dan Walsh, 1988
dalam Deswani, 2009).
24

46
7
1
5
1
12

5
4

 Keterangan Genogram

= Laki-laki

= perempuan

= Tinggal serumah

= Keluarga yang sakit

= Hubungan keluarga

= Anggota keluarga yang meninggal karena sakit tapi tidak

diketahui penyebab sakitnya. Tidak ada penyakit keturunan dan

penyakit menular keluarga


Tabel 3.1
Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi

Paket Darah Otomatis Hasil Satuan Nilai Normal


Hemoglobin L 11.5 g/dL 11.3-15.5
Leukosit 5.1 10^3/uL 3.6- 11.0
Hematokrit 35 % 35-47
Eritrosit 4.6 10^6/uL 3.80-5.20
Trombosit 300 10^3/uL 150-400
MCH L 25 Pg 26-34
MCHC 33 g/dL 32-36
MCV L 76 Fl 4-8
DIFF COUNT
Eosinofil 1.80 % 1-6
Basofil 0.20 % 0-1
Netrofil 54.30 % 50-70
Limfosit 36.00 % 22-40
Monosit 7.70 % 4-8
Golongan Darah O
Imunologi
TYPHI O POS 1/400
TYPHI H Negatif
PARATYPHI Negatif
O-A
PARATYPHI Negatif
O-B
77
A. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah ada maka penulis memberi beberapa


saran, antara lain :
1. Bagi Instansi Rumah Sakit

Bagi RSU Bahteramas Sulawesi Tenggara, untuk meningkatkan mutu

pelayanan keperawatan yang ditunjang dengan pengadaan fasilitas-fasilitas

yang memadai berkaitan dengan pasien demam thypoid.

2. Bagi perawat

2.1 Diharapkan dalam melakukan pengkajian hendaknya menjalin hubungan

kerja sama yang baik antara klien dan perawat, agar data yang diperoleh

sesuai dengan kondisi klien. Diharapkan dalam perumusan masalah

sesuai dengan data yang diperoleh dari klien. Dapat mengaplikasikan

semua rencana dalam melaksanakan tindakan keperawatan. Kemudian

dapat memperoleh evaluasi sesuai yang diharapkan sebelumnya.

2.2 Diharapkan kepada perawat untuk dapat memberikan Health Education

pada pasien terkait hal-hal yang berhubungan dengan penyakitnya,

sehingga mampu mengurangi tingkat stres hospitalisasi.

3. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan agar lebih membekali mahasiswa didiknya tentang

pembuatan asuhan keperawatan baik itu yang terkait penyakit demam thypoid

maupun penyakit-penyakit lainnya.


4. Bagi klien dan keluarga klien

Diharapkan keterlibatan dan kerja sama antara klien dan keluarga klien

dengan perawat dalam proses keperawatan. Sehingga didapatkan proses

keperawatan yang berkesinambungan, cepat dan tepat kepada klien.

5. Bagi Mahasiswa

Untuk mahasiswa yang akan melakukan studi kasus selanjutnya agar

lebih memeperhatikan dalam menegakkan diagnosa keperawatan yang sesuai

dengan data yang diperoleh pada saat pengkajian.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. 2013. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Jakarta : EGC.

Deswani. 2009. Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta: Salemba Medika

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta. Salemba Medika

Internasional, NANDA,(2012). Diagnosis Keperawatan Difinisi dan Klasifikasi(2012-


2014). Jakarta : EGC

Maharani, Sabrina, 2012, Hingga Pertengahan Februari 485 Warga Jepara Terkena
Demam Tifoid, Diakses pada Tanggal 23 Februari 2015,
http://rlisafmjepara.com/2015/02.html.

Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, Jakarta: EGC

Nurarif. A.H. & Kusuma. H. 2015. Aplikasi NANDA NIC-NOC. Jilid 1, 2 dan 3.
Yogyakarta. Media Action.

Nursalam, R. S. & Utami, S. 2008,Asuhan Keperawtan Bayi dan Anak ( Untuk


Perawatan dan Anak), Jakarta:Salemba Medika

Potter & Perry. 2005. Buku ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. EGC, jakarta.

Ranuh, IG.N. Gde, 2013, Beberapa Catatan Kesehatan Anak, Jakarta: CV Sagung Seto

Rekam Medik RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Data Prevalensi


Demam Tifoid Pada Anak yang Dirawat di Ruang Falmboyan RSI PKU
Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. 2014. Tidak Dipublikasikan.

RSU Bahteramas. 2018. Profil RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun
2018. Kendari (Tidak dibublikasikan).

Soedarto, 2009, Penyakit Menular di Indonesia, Jakarta: CV Sagung Seto

Suriadi & Yuliani, R., 2006, Asuhan Keperawatan Pada Anak,Jakarta: PT. Percetakan
Penebar Swadaya,

Tarwoto&Wartonah, 2006, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan,


Jakarta: Salemba Medika
Widoyono, 2011, Penyakit Tropis Epidimologi, Penuluran, Pencegahan
& pemberantasannya. Jakarta: Erlangga

Widagdo, 2011, Masalah & TataLaksana Penyakit Infeksi Pada Anak, Jakarta: CV
Sagung Seto

Willkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : diagnosis NANDA,


Intervensi NIC, Kriteria Hasil / NOC. Alih bahasa : Esty Wahyuningsih,
editor edisi bahasa Indonesia: Dwi Widiarti. Edisi 9. Jakarta: EGC.