Anda di halaman 1dari 21

ARTIKEL TEMA KEISLAMAN: 

1. TAUHID: KEISTIMEWAAN DAN KEBENARAN KONSEP KETUHANAN DALAM


ISLAM
2. SAINS&TEKNOLOGI DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
3. 3 GENERASI TERBAIK MENURUT AL-HADITS
4. PENGERTIAN DAN JEJAK SALAFUSSOLEH (REFERENSI AL-HADITS)
5. AJARAN DAN TUNTUNAN TENTANG BERBAGI, KEADILAN SERTA PENEGAKAN
HUKUM DALAM ISLAM.

Disusun sebagai tugas terstruktur Mata Kuliah: Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampuh:

Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos

Disusun Oleh:

Nama : Muhammad Rizki Putra Irawan


NIM : G1A020042
Fakultas&Prodi : FMIPA Biologi
Semester :1

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
T.A. 2020/2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis haturkan kepada ALLAH SWT atas selesainya tugas ini.
Penyusunan tugas ini selalu memperhatikan kaidah/standar penyusunan yang baik

Sholawat dan Salam semoga ALLAH limpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW atas
segala rahmat dan karunianya agar tugas ini dapat dikerjakan dengan sebaik baiknya

Terima kasih saya sampaikan atas bimbingan Bapak Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos
sebagai dosen pengampuh mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Semoga tugas ini akan
menanamkan kompetensi pengetahuan, sikap sosial, sikap spiritual, dan kompetensi
keterampilan.

Besar harapan saya tugas ini akan memberi manfaat dan menjadi sarana belajar yang
efektif bagi peserta didik maupun pegangan bagi pengajar. Tugas ini tentu masih banyak
kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik dosen pengajar sangat saya harapkan.

Akhir kata semoga tugas ini dapat berkontribusi dan bermanfaat bagi dunia Pendidikan
Indonesia.

Penyusun, Mataram, 17 Oktober 2020

Nama: Muhammad Rizki Putra Irawan


NIM G1A020042

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I. Tauhid: Keistimewaan&Kebenaran Konsep Ketuhanan dalam Islam 1
BAB II. Sains dan Teknologi dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits 4
BAB III. 3 Generasi Terbaik Menurut Al-Hadits 7
BAB IV. Pengertian dan Jejak Salafussoleh (Referesnsi Al-Hadits) 9
BAB V.  Ajaran dan Tuntunan tentang Berbagi, Penegakan serta 
 Keadilan Hukum dalam Islam 11
DAFTAR PUSTAKA 16
LAMPIRAN 17

iii
BAB 1
TAUHID : KEISTIMEWAAN & KEBENARAN KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM

 Pengertian Tauhid
Tauhid berasal dari bahasa Arab dan diambil dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan yang
berarti menjadikan sesuatu satu saja. Jadi, tauhid bermakna menjadikan Allah SWT sebagai
satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatul
Ushul, 39).

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia bisa saja
cenderung menyembah yang lain selain Allah SWT. Namun, bagi mereka, orang-orang yang
bertauhid, Allah SWT adalah satu-satunya sesembahan yang wajib untuk disembah.

Tauhid dibagi menjadi 3, yaitu:

- Tauhid Rububiyyah, keyakinan bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya yang dapat
menciptakan bumi dan langit beserta dengan isinya. Hanya Allah yang mampu
memberikan rezeki, menggerakkan matahari dan bulan, mendatangkan badai dan
hujan, serta apa pun yang terjadi di alam semesta ini sesuai dengan kehendak-Nya.

Jِ ‫الظلُ َما‬
َ ‫ت َوال ُّن‬
‫ور‬ َ ْ‫ت َواأْل َر‬
ُّ ‫ض َو َج َع َل‬ ِ ‫ْال َحمْ ُد هَّلِل ِ الَّذِي َخلَقَ ال َّس َم َاوا‬

Artinya:

"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan
gelap dan terang." (QS. Al An'am: 1)

- Tauhid Uluhiyyah, dapat diartikan sebagai tauhid ibadah. Maksudnya, mengesakan


Allah dalam hal ibadah dan hanya Allah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.

ُ‫ك َنسْ َتعِين‬


َ ‫ك َنعْ ُب ُد َوإِيَّا‬
َ ‫إِيَّا‬

Artinya:

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta
pertolongan." (Al Fatihah: 5)

- Tauhid Al Aswa was Sifat, menetapkan nama dan sifat Allah sesuai dengan yang
sudah Allah tetapkan bagi diri-Nya, dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan
dari diri-Nya dengan tanpa tahrif, tanpa ta'thil, dan tanpa takyif.

‫َوهَّلِل ِ اأْل َسْ َما ُء ْالحُسْ َنى َف ْادعُوهُ ِب َها‬

Artinya:

"Hanya milik Allah nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan
menyebut nama-nama-Nya." (QS. Al A'raf: 180)

 Konsep Ketuhanan dalam Islam

a) Siapakah Tuhan itu?

Perkataan ilah, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam al-Qur’an dipakai untuk
menyatakan berbagai objek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam
surat al-Furqan ayat 43.

1
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya ?

Dalam surat al-Qashash ayat 38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri:

Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu
selain aku’.

Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti
berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun
atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam al-Qur’an juga dipakai dalam
bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna: ilaahaini), dan banyak (jama’:
aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti tentang definisi
Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika al-Qur’an adalah sebagai berikut:

Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian
rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya.

Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja,
dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan,
dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.

Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:

Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya, merendahkan
diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika
berada dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri,
meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya
dan terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin, 1989: 56).

Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat dipahami, bahwa Tuhan itu bisa berbentuk apa
saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheis, tidak
mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika al-Qur’an setiap manusia pasti mempunyai
sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, orang-orang komunis pada hakikatnya
ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.

Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat tersebut
dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan suatu
penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan
dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya hanya satu Tuhan yang
bernama Allah.

b) Konsep Ketuhanan dalam Islam

Istilah Tuhan dalam sebutan Al-Quran digunakan kata ilaahun, yaitu setiap yang menjadi
penggerak atau motivator, sehingga dikagumi dan dipatuhi oleh manusia. Orang yang
mematuhinya di sebut abdun (hamba). Kata ilaah (tuhan) di dalam Al-Quran konotasinya
ada dua kemungkinan, yaitu Allah, dan selain Allah. Subjektif (hawa nafsu) dapat menjadi
ilah (tuhan). Benda-benda seperti : patung, pohon, binatang, dan lain-lain dapat pula
berperan sebagai ilah. Demikianlah seperti dikemukakan pada surat Al-Baqarah (2) : 165,
sebagai berikut:

‫ُون هَّللا ِ أَ ْن َدا ًدا ُي ِحبُّو َن ُه ْم َكحُبِّ ال َّل‬


ِ ‫اس َمنْ َي َّتخ ُِذ مِنْ د‬
ِ ‫َوم َِن ال َّن‬

2
Artinya: “Diantara manusia ada yang bertuhan kepada selain Allah, sebagai tandingan
terhadap Allah. Mereka mencintai tuhannya itu sebagaimana mencintai Allah.”

Sebelum turun Al-Quran dikalangan masyarakat Arab telah menganut konsep tauhid
(monoteisme). Allah sebagai Tuhan mereka. Hal ini diketahui dari ungkapan-ungkapan yang
mereka cetuskan, baik dalam do’a maupun acara-acara ritual. Abu Thalib, ketika
memberikan khutbah nikah Nabi Muhammad dengan Khadijah (sekitar 15 tahun sebelum
turunya Al-Quran) ia mengungkapkan kata-kata Alhamdulillah. (Lihat Al-Wasith,hal 29).
Adanya nama Abdullah (hamba Allah) telah lazim dipakai di kalangan masyarakat Arab
sebelum turunnya Al-Quran. Keyakinan akan adanya Allah, kemaha besaran Allah,
kekuasaan Allah dan lain-lain, telah mantap. Dari kenyataan tersebut timbul pertanyaan
apakah konsep ketuhanan yang dibawakan Nabi Muhammad? Pertanyaan ini muncul
karena Nabi Muhammad dalam mendakwahkan konsep ilahiyah mendapat tantangan keras
dari kalangan masyarakat. Jika konsep ketuhanan yang dibawa Muhammad sama dengan
konsep ketuhanan yang mereka yakini tentu tidak demikian kejadiannya.

Pengakuan mereka bahwa Allah sebagai pencipta semesta alam dikemukakan dalam Al-
Quran surat Al-Ankabut (29) ayat 61 sebagai berikut;

َ ‫مْس َو ْال َق َم َر لَ َيقُولُنَّ هَّللا ُ َفأ َ َّنى ي ُْؤ َف ُك‬


‫ون‬ َ ْ‫ت َواأْل َر‬
َ ‫ض َو َس َّخ َر ال َّش‬ ِ ‫َولَئِنْ َسأ َ ْل َت ُه ْم َمنْ َخلَقَ ال َّس َم َوا‬

Artinya: “Jika kepada mereka ditanyakan, “Siapa yang menciptakan lagit dan bumi, dan
menundukkan matahari dan bulan?” Mereka pasti akan menjawab Allah.

Dengan demikian seseorang yang mempercayai adanya Allah, belum tentu berarti orang itu
beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Seseorang baru laik dinyatakan bertuhan kepada Allah
jika ia telah memenuhi segala yang dimaui oleh Allah. Atas dasar itu inti konsep ketuhanan
Yang Maha Esa dalam Islam adalah memerankan ajaran Allah yaitu Al-Quran dalam
kehidupan sehari-hari. Tuhan berperan bukan sekedar Pencipta, melainkan juga pengatur
alam semesta.

Pernyataan lugas dan sederhana cermin manusia bertuhan Allah sebagaimana dinyatakan
dalam surat Al-Ikhlas. Kalimat syahadat adalah pernyataan lain sebagai jawaban atas
perintah yang dijaukan pada surat Al-Ikhlas tersebut. Ringkasnya jika Allah yang harus
terbayang dalam kesadaran manusia yang bertuhan Allah adalah disamping Allah sebagai
Zat, juga Al-Quran sebagai ajaran serta Rasullullah sebagai Uswah hasanah.

RANGKUMAN
1. Tauhid bermakna menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan yang benar
dengan segala kekhususannya.

2. Istilah Tuhan dalam sebutan Al-Quran digunakan kata ilaahun, yaitu setiap yang menjadi
penggerak atau motivator, sehingga dikagumi dan dipatuhi oleh manusia. Orang yang
mematuhinya di sebut abdun (hamba). Kata ilaah (tuhan) di dalam Al-Quran konotasinya
ada dua kemungkinan, yaitu Allah, dan selain Allah. Subjektif (hawa nafsu) dapat menjadi
ilah (tuhan). Benda-benda seperti : patung, pohon, binatang, dan lain-lain dapat pula
berperan sebagai ilah.

3
BAB 2
SAINS DAN TEKNOLOGI DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST

 Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an dan Hadist

Ilmu pengetahuan tanpa dilandasi agama akan buta dan agama tanpa dilandasi ilmu
pengetahuan akan menjadi lumpuh. Pendapat Einstein ini sangat penting untuk umat
beragama, karena ilmu pengetahuan yang dikuasai dengan baik akan menjadi bermanfaat
bagi umat manusia berkat adanya tuntunan agama. Dalam hal ini agama akan menjadi
pelita yang menerangi pemanfaatan ilmu pengetahuan bagi kesejahteraan umat manusia.

Dalam Al-Qur’an surat Al ‘Alaq ayat 1-5, Tuhan telah mengisyaratkan agar manusia mau
belajar mengusai ilmu pengetahuan. Perintah Tuhan ini dalam firman-Nya berbunyi :

“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah mencipatakan. Dia menciptakan
manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhamnulah Yang Maha Pemurah. Yang
mengajari manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia apa yang belum
diketahuinya.”

Apa yang harus dibaca? Yang harus dibaca adalah alam semesta yang diciptakan Tuhan ini
yang banyak mengandung ilmu pengetahuan. Tuhan sengaja menciptakan alam semesta ini
agar dipelajari oleh manusia sebagai suatu ilmu pengetahuan. Tuhan juga memberikan ilmu
pengetahuan kepada manusia sejak awal penciptaan manusia sebagai pembeda dengan
makhluk lainnya. Hal ini dapat dilihat pada surat Al Baqarah ayat 31-33.

Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Tuhan mengajari (memberi) suatu ilmu kepada
manusia yang tidak diberikannya kepada malaikat. Tuhan mengetahui segala yang terlahir
maupun yang tersembunyi (di dalam hati) dan ilmu Tuhan sangat luas, meliputi segala
rahasia yang ada dilangit dan di bumi. Ilmu yang diberikan Tuhan kepada manusia hanya
sebagian kecil saja dari seluruh ilmu Tuhan, seperti yg tercermin dalam firman Allah :

“............dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”(QS. Al Israa’, 17:85)

Jadi, dalam Al-Qur’an selain beribadah Tuhan juga menyuruh kita untuk mebaca dan belajar
atau mencari ilmu. Ilmu akan membawa manusia kepada pengakuan akan kebesaran Allah
SWT dan hanya orang-orang berilmu sajalah yang mudah menerima kenyataan akan
kebesaran Allah SWT tersebut.

Lalu bagaimana hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan teknologi? Hubungan
Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kaitannya sangat erat. Ilmu-ilmu yang
terdapat dalam Al-Qur’an ada yang langsung mudah dipahami karena tersurat langsung
pada ayat-ayatnya, namun ada pula ilmu-ilmu yang dimaksud harus direnungkan terlebih
dahulu, perlu pemikiran lebih lanjut karena hanya tersirat pada ayat-ayatnya.

Ayat-ayat dalam Al-Qur’an selalu merangsang akal manusia untuk berpikir lebih lanjut
tentang isi ayat-ayatnya yang banyak menyangkut tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ayat-ayat Al-Qur’an juga tidak ada yang menghambat kemauan ilmu pengetahuan dan
teknologi, bahkan sebaliknya Al-Qur’an selalu menantang manusia untuk menggunakan
akalnya agar mendapatkan pelajaran dari ayat-ayatnya, contoh dalam Surat Ar Rahman,
55:33 :

“Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan
bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”

4
Ayat diatas mengandung isyarat bahwa manusia harus mempunyai kekuatan untuk
mengalahkan gaya tarik bumi, mana kala manusia ingin menembus penjuru langit
meninggalkan bumi. Kekuatan apa yang dimaksud ini? Untuk manusia yang hidup pada
zaman maju sekarang ini, tentulah tidak sulit untuk mengatakan bahwa kekuatan yang
dimaksudkan adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang peroketan yang
dapat mengantarkan manusia ke luar angkasa. Seperti contohnya pesawat luar angkasa
Apollo 11 milik Amerika Serikat dan Soyuz milik Rusia yang dapat mengalahkan gaya tarik
bumi dengan dorongan roket.

Contoh ayat lainnya adalah dalam surat Al Anbiyaa’, 21:80 yang berbunyi :
“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi (perisai) untuk kamu, guna
memelihara kamu dalam pepranganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).”

Ayat diatas menyiratkan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi tentang bagaimana
mengerjakan logam (besi) agar bisa dibuat baju besi (perisai) sehingga pemakainya tahan
terhadap sebetan pedang dan juga tidak tembus panah. Pada saat ini juga telah dibuat baju
(rompi) tahan peluru yang diakai pejabat negara dan petugas keamanan demi keselamatan
dari tembakan. Ternyata dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang juga mengisyaratkannya,
dapat dibaca pada surat Al Hadid, 57:25.

Masih banyak lagi pembahasan mengenai ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi dlam Al-
Qur’an yang pada zaman ini telah ditemukan dan dimanfaatkan. Karena tidak ada satu kitab
pun di dunia ini yang lengkap dan sempurna seperti halnya kitab Al-Qur’an.

 Paradigma Islam terhadap Sains dan Ilmu Pengetahuan

Pandangan islam terhadap sains dan teknologi adalah bahwa islam tidak pernah
mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru islam sangat mendukung umatnya
untuk melakukan penelitian dalam bidang apapun, termasuk sains dan teknologi.
Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan sains dan teknologi canggih untuk
mengatasi berbagai masalah kehidupannya, namun disisi lain sains dan teknologi canggih
tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (akhlak) yang mulia. Untuk itu, munculnya
gagasan tentang Islamisasi Sains dan Teknologi. Tujuan gagasan tersebut adalah agar
sains dan teknologi dapat membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Epistimologi islam
tersebut pada hakikatnya menghendaki, bahwa sains dan teknologi harus mengakui adanya
nilai - nilai kemanusiaan yang universal.

Al - Quran adalah inspirator, maknanya bahwa dalam Al - Quran banyak terkandung teks -
teks (ayat - ayat) yang mendorong manusia untuk melihat, memandang, berpikir, serta
mencermati fenomena - fenomena alam semesta ciptaan Tuhan yang menarik untuk
diselidiki, diteliti dan dikembangkan. Al - Quran menantang manusia untuk menggunakan
akal pikirannya seoptimal mungkin.

Al - Quran memuat segala informasi yang dibutuhkan manusia, baik yang sudah diketahui
maupun belum diketahui. Innormasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi disebutkan
berulang - ulang dengan tujuan agar manusia bertindak untuk melakukan nazhar. Nazhar
adalah mempraktekkan metode, mengadakan observasi dan penelitian ilmiah terhadap
segala macam peristiwa alam di seluruh jagad ini, juga terhadap lingkungan keadaan
masyarakat dan historisitas bangsa - bangsa zaman dahulu. Menurut firman Allah SWT :
"Katakanlah (Muhammad): lakukanlah nadzar (penelitian dengan menggunakan metode
ilmiah) mengenai apa yang ada di langit dan di bumi ..." ( QS. Yunus ayat 101).

Memahami lebih dalam tentang sains dan teknologi adalah satu -- satunya alat untuk
mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang Allah SWT dan menyelesaikan

5
berbagai permasalahan masyarakat islam. Oleh sebab itu sains dipelajari untuk
mendapatkan keridhaan Allah SWT dengan mencoba memahami ayat - ayatNya.

Prinsip - prinsip pandangan islam tentang sains dan teknologi dapat diketahui dari analisis
wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW : "Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam (tulis baca). Dia Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
(QS al-'Alaq: 1-5)

Kata Iqra' diambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka
makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu,
dan membaca baik yang tertulis maupun tidak. Sedangkan dari segi obyeknya, perintah iqra'
itu mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia.

Ayat tersebut merupakan suatu dukungan yang Allah berikan kepada hambanya untuk terus
menggali, memperdalam dan memperhatikan apa yang ada di alam semesta termasuk sains
dan teknologi. Selain memuat banyak tentang pengembangan sains, Al-Quran juga
dijadikan inspirasi ilmu dan pedoman dalam pengembangan pemikiran sehingga dapat
terciptanya penemuan - penemuan baru yang bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam pandangan Islam sains dan teknologi juga di gambarkan sebagai cara mengubah
suatu sumber daya menjadi sumber daya lain yang lebih tinggi nilainya hal ini tercermin
dalam surat Ar Ra'd ayat 11 yaitu : "

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya Al-Quran telah mendorong
manusia untuk berteknologi supaya kehidupan mereka meningkat. Upaya ini harus
merupakan rasa syukur atas keberhasilannya dalam merubah nasibnya. Dengan perkataan
lain rasa syukur atas keberhasilannya dimanifestasikan dengan mengembangkan terus
keberhasilan itu sehingga dari waktu ke waktu keberhasilan itu akan selalu maningkat terus.

Di dalam Al-Quran disebutkan juga secara garis besar tentang teknologi. Yaitu tentang
kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya tentang penciptaan mahluk
hidup termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dipacu akalnya untuk
menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya.

RANGKUMAN
1. Ilmu pengetahuan tanpa dilandasi agama akan buta dan agama tanpa dilandasi ilmu
pengetahuan akan menjadi lumpuh.

2. Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan sains dan teknologi canggih untuk
mengatasi berbagai masalah kehidupannya, namun disisi lain sains dan teknologi canggih
tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (akhlak) yang mulia. Untuk itu, munculnya
gagasan tentang Islamisasi Sains dan Teknologi. Tujuan gagasan tersebut adalah agar
sains dan teknologi dapat membawa kesejahteraan bagi umat manusia.

6
BAB 3
TIGA GENERASI TERBAIK MENURUT AL-HADIST

Umat Rasulullah merupakan umat terbaik dari seluruh umat-umat para Nabi yang diutus
sebelum beliau. Meskipun umat Rasulullah datang sebagai yang terakhir diantara umat-
umat lainnya, tetapi di akhirat kelak umat Rasulullah-lah yang akan memasuki Surga terlebih
dahulu di bandingkan dengan umat-umat lainnya.

Allah telah memberikan pujian kepada umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalam
firman-Nya :

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (QS. Ali Imran : 110)

Tetapi diantara umat Rasulullah, terdapat beberapa generasi terbaik, sebagaimana beliau
sebutkan dalam sebuah hadits mutawatir, beliau bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku (yakni sahabat), kemudian orang-orang yang
mengiringinya (yakni tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yakni generasi
tabi’ut tabi’in).” (mutawatir. HR. Bukhari dan yang lainnya)

 Sahabat

Sahabat adalah orang-orang beriman yang bertemu dan melihat Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam secara langsung serta membantu perjuangan beliau. Menurut Imam Ahmad,
siapa saja diantara orang beriman yang bertemu dan melihat Rasulullah, baik sebulan,
sepekan, sehari atau bahkan cuma sesaat maka ia dikatakan sebagai sahabat. Derajatnya
masing-masing ditentukan dengan seberapa lama ia menyertai Rasulullah.

Para sahabat merupakan orang-orang yang mewariskan ilmu dari Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam. Diantara sahabat yang terbaik adalah para Khulafaur Rasyidin, kemudian
10 orang sahabat yang namanya disebutkan oleh Rasulullah yang mendapatkan jaminan
surga.

 TABI’IN

Tabi’in adalah orang-orang beriman yang hidup pada masa Rasulullah atau setelah beliau
wafat tetapi tidak bertemu dengan Rasulullah dan bertemu serta melihat para sahabat.
Tabi’in merupakan orang-orang yang belajar dan mewariskan ilmu dari para sahabat
Rasulullah.

Salah seorang terbaik dari generasi Tabi’in adalah Uwais Al Qarn, yang pernah mendatangi
rumah Rasulullah untuk mendapatkan kemuliaan menjadi sahabat, tetapi tidak berhasil
bertemu dengan beliau. Uwais Al Qarn, pernah disebutkan secara langsung melalui lisan
Rasulullah sebagai orang yang asing di bumi tapi terkenal di langit. Bahkan Rasulullah
memerintahkan sahabatnya, Umar dan Ali, untuk mencari Uwais dan meminta untuk di
doakan, karena ia merupakan orang yang memiliki doa yang diijabah oleh Allah.

Adapun diantara orang-orang yang tergolong generasi tabi’in lainnya yakni Umar bin Abdul
Aziz, Urwah bin Zubair, Ali Zainal Abidin bin Al Husein, Muhammad bin Al Hanafiyah, Hasan
Al Bashri dan yang lainnya.

7
 TABI’UT TABI’IN

Tabi’ut tabi’in adalah orang beriman yang hidup pada masa sahabat atau setelah mereka
wafat tetapi tidak bertemu dengan sahabat dan bertemu dengan generasi tabi’in. Tabi’ut
tabi’in merupakan orang-orang yang belajar dan mewariskan ilmu dari para tabi’in.

Diantara orang-orang yang termasuk dalam generasi ini adalah Imam Malik bin Anas,
Sufyan bin Uyainah, Sufyan Ats-Tsauri, Al Auza’i, Al Laits bin Saad dan yang lainnya.

RANGKUMAN
1. Sahabat adalah orang-orang beriman yang bertemu dan melihat Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam secara langsung serta membantu perjuangan beliau.

2. Tabi’in adalah orang-orang beriman yang hidup pada masa Rasulullah atau setelah beliau
wafat tetapi tidak bertemu dengan Rasulullah dan bertemu serta melihat para sahabat.

3. Tabi’ut tabi’in adalah orang beriman yang hidup pada masa sahabat atau setelah mereka
wafat tetapi tidak bertemu dengan sahabat dan bertemu dengan generasi tabi’in.

8
BAB 4
PENGERTIAN DAN JEJAK SALAFUSSOLEH

 Siapa itu Salafussoleh?

Salaf, artinya adalah orang-orang terdahulu. Adapun yang dimaksud dengan Salafush
Shalih, dalam istilah ulama adalah orang-orang terdahulu yang shalih, dari generasi sahabat
dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dari generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in,
dan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah setelah mereka. Salafush Shalih adalah
generasi terbaik umat Islam. Oleh karenanya, merupakan kewajiban bagi kita untuk
mengikuti pemahaman mereka dalam beragama. Sehingga berbagai macam bid’ah,
perpecahan dan kesesatan dapat dijauhi. Karena adanya berbagai macam bid’ah,
perpecahan, dan kesesatan tersebut, berawal dari menyelisihi pemahaman Salafush Shalih.
Menjadi keniscayaan, jika seluruh umat Islam, dari yayasan atau organisasi atau lembaga
apapun, wajib mengikuti pemahaman Salafush Shalih dalam beragama. Banyak dalil-dalil
dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman
Salafush Shalih. Para ulama telah banyak menulis masalah besar ini di dalam karya-karya
mereka.

 Salafussholeh menurut Al-Hadist

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

َ ‫ِين َيلُو َن ُه ْم ُث َّم الَّذ‬


‫ِين َيلُو َن ُه ْم‬ َ ‫اس َقرْ نِي ُث َّم الَّذ‬
ِ ‫َخ ْي ُر ال َّن‬

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang


yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya
(yaitu generasi tabi’ut tabi’in)” [Hadits mutawatir, riwayat Bukhari dan lainnya].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,
sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah generasi Beliau secara mutlak. Itu
mengharuskan (untuk) mendahulukan mereka dalam seluruh masalah (berkaitan dengan)
masalah-masalah kebaikan”.

Para sahabat adalah manusia terbaik, karena mereka merupakan murid-murid Rasulullah n .
Dibandingkan dengan generasi-generasi sesudahnya, mereka lebih memahami Al Qur’an.
Mengapa? Karena mereka menghadiri turunnya Al Qur’an, mengetahui sebab-sebab
turunnya. Dan mereka, juga bertanya kepada Rasulullah tentang ayat yang sulit mereka
fahami.

Al Qur’an juga turun untuk menjawab pertanyaan mereka, memberikan jalan keluar problem
yang mereka hadapi, dan mengikuti kehidupan mereka yang umum maupun yang khusus.
Mereka juga sebagai orang-orang yang paling mengetahui bahasa Al Qur’an, karena Al
Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Dengan demikian, mengikuti pemahaman
mereka merupakan hujjah terhadap generasi setelahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫ت َو ُس َّن ِة ْال ُخلَ َفا ِء‬ ْ ‫الطا َع ِة َوإِنْ َع ْب ًدا َحبَشِ ًّيا َفإِ َّن ُه َمنْ َيعِشْ ِم ْن ُك ْم َبعْ دِي َف َس َي َرى‬
ِ ‫اخ ِتاَل ًفا َكثِيرً ا َف َعلَ ْي ُك ْم ِب ُس َّن‬ َّ ‫أُوصِ ي ُك ْم ِب َت ْق َوى هَّللا ِ َوالسَّمْ ع َو‬
ُ ِ
‫ضاَل لَ ٌة‬ َ ‫ُور َفإِنَّ ُك َّل مُحْ َد َث ٍة ِب ْد َع ٌة َو ُك َّل ِب ْد َع ٍة‬ ِ ‫ت اأْل م‬
ِ ‫ِين َت َم َّس ُكوا ِب َها َو َعضُّوا َعلَ ْي َها ِبال َّن َوا ِج ِذ َوإِيَّا ُك ْم َومُحْ َد َثا‬ َ ‫ْال َم ْه ِدي‬
َ ‫ِّين الرَّ اشِ د‬

“Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada
penguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya,
barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi

9
kamu berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk
dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru
(dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua
bid’ah adalah sesat.” [HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad, dan
lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah].’

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam


menggabungkan sunnah (jalan, ajaran) para khalifah Beliau dengan Sunnahnya. Beliau
Shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah,
sebagaimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti
Sunnahnya. Dalam memerintahkan hal itu, Beliau bersungguh-sungguh, sampai-sampai
memerintahkan agar menggigitnya dengan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang
para khalifah fatwakan dan mereka sunnahkan (tetapkan) bagi umat, walaupun tidak datang
keterangan dari Nabi, namun hal itu dianggap sebagai sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Demikian juga dengan yang difatwakan oleh keseluruhan mereka atau mayoritas
mereka, atau sebagian mereka. Karena Beliau mensyaratkan hal itu dengan yang menjadi
ketetapan Al Khulafa’ur Rasyidun. Dan telah diketahui, bahwa mereka tidaklah
mensunnahkannya ketika mereka menjadi kholifah pada waktu yang sama, dengan
demikian diketahui bahwa apa yang disunnahkan tiap-tiap seorang dari mereka pada
waktunya, maka itu termasuk sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫ِي َيا‬َ ‫ار إِاَّل ِملَّ ًة َوا ِح َد ًة َقالُوا َو َمنْ ه‬


ِ ‫ِين ِملَّ ًة ُكلُّ ُه ْم فِي ال َّن‬ ٍ ‫ِين ِملَّ ًة َو َت ْف َت ِر ُق أ ُ َّمتِي َعلَى ثَاَل‬
َ ‫ث َو َس ْبع‬ ِ ‫ت َعلَى ِث ْن َتي‬
َ ‫ْن َو َس ْبع‬ ْ ‫َوإِنَّ َبنِي إِسْ َرائِي َل َت َفرَّ َق‬
َ َ ‫هَّللا‬
‫َرسُو َل ِ َقا َل َما أ َنا َعلَ ْي ِه َوأصْ َح ِابي‬

“ Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya


umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali
satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku.”. Ketika menjelaskan
hubungan hadits ke-3 dengan hadits ke-2 ini, Syaikh Salim Al Hilali berkata,”Barangsiapa
yang memperhatikan dua hadits itu, ia pasti mendapatkan keduanya membicarakan tentang
satu masalah. Dan solusinya sama, yaitu jalan keselamatan, kekuatan kehidupan, ketika
umat (Islam) menjadi jalan yang berbeda-beda, maka pemahaman yang haq adalah apa
yang ada pada Nabi dan para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum“

RANGKUMAN
1. Salaf, artinya adalah orang-orang terdahulu. Adapun yang dimaksud dengan Salafush
Shalih, dalam istilah ulama adalah orang-orang terdahulu yang shalih, dari generasi sahabat
dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dari generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in,
dan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah setelah mereka.

2. Salafush Shalih adalah generasi terbaik umat Islam. Oleh karenanya, merupakan
kewajiban bagi kita untuk mengikuti pemahaman mereka dalam beragama. Sehingga
berbagai macam bid’ah, perpecahan dan kesesatan dapat dijauhi.

10
00
BAB 5
AJARAN DAN TUNTUNAN TENTANG BERBAGI, KEADILAN SERTA PENEGAKAN
HUKUM DALAM ISLAM

 Berbagi dalam Islam

Islam mengajarkan untuk menyisihkan sebagian harta yang dimiliki umatnya, salah satunya
melalui sedekah. Sedekah bertujuan untuk menyucikan harta, membantu sesama serta
bekal pahala di akhirat kelak.

Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Misalnya dengan memberi
pertolongan baik dengan harta maupun tenaga, melafalkan zikir, menafkahi keluarga,
menyingkirkan batu dari jalan dan masih banyak lagi. Bahkan, menahan diri untuk tidak
menyakiti orang lain juga termasuk sedekah.

Hal ini merupakan bukti bahwa umat Islam diberi banyak sekali kesempatan untuk
menimbun pahala dari amalan sedekah. Tak hanya itu, melalui sedekah manusia tak hanya
mendapatkan pahala dari Allah, melainkan juga dapat meningkatkan hubungan baik dengan
sesama manusia.

Seperti yang tertulis dalam Hadis Riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, "Bersedekah
kepada orang miskin adalah satu sedekah dan kepada kerabat ada dua (kebaikan), yaitu
sedekah dan silaturrahim."

Dalam bersedekah, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyakiti perasaan orang yang diberi
sedekah serta lebih baik menyembunyikan amalan sedekahnya tersebut. Hal ini untuk
menghindari sifat riya yang dapat menghapus pahala sedekah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 264, "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah."

Tak hanya itu, umat Islam juga harus menyisihkan uangnya dari hasil yang halal.
Berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 267, "Hai orang-orang yang
beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan
sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih
yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau
mengambilnya."

Dalam Islam sedekah atau berbagi kepada sesama adalah salah satu bukti bahwa
hambanya bertakwa kepada Allah SWT. Karena Rasulullah dalam Hadis HR. Tirmidzi dan
Hadis Hasan Shahih bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah SWT di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan
kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan keburukan. Dan pergauilah
manusia dengan akhlak yang mulia.” Hadis tersebut mengandung tiga wasiat Nabi yang
sangat penting, yakni wasiat tentang hubungan secara vertikal manusia kepada Allah
(habluminallah) dan hubungan secara horizontal sesama manusia (habluminannas).”

Tidak menunda melakukan amal soleh adalah wasiat Nabi yang kedua. Dosa kecil dapat
terhapuskan dengan perbuatan baik, yakni bersedekah. Ketika kamu terjerumus dalam dosa
dan maksiat wajib bagimu untuk segera bertaubat. Dengan cara tidak melakukannya lagi
dan salah satunya dengan bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

11
00
Wasiat Nabi yang ketiga adalah memiliki akhlak mulia. Akhlak mulia dalam arti hubungan
antar sesama manusia (habluminannas). Cara yang paling mudah adalah dengan
tersenyum diiringi wajah yang berseri ketika bertemu dengan orang lain dan bertegur sapa.
Karena itu, Rasulullah mengaitkan antara akhlak mulia dengan iman yang sempurna.

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya,” HR. Tirmidzi
dan hadis Shahih. Dengan memiliki akhlak yang mulia, otomatis akan dicintai oleh manusia
lainnya, terlebih lagi Allah dan Rasulullah.

Bukhari juga menyebutkan Rasulullah bersabda:

“Menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan adalah sedekah bagimu.” Lalu,
Rasulullah bersabda dalam HR Ibnu Majah, “tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia
dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan
tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya
melainkan akan menjadi sedekah.”

Keuntungan bersedekah:

1. Menghapus dosa-dosa.

“Sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api,” HR Tirmidzi,


shahih Al Albani, 614.

2. Mendapat perlindungan oleh Allah SWT dihari akhir.

Rasulullah menceritakan tentang tujuh jenis manusia yang mendapat perlindungan atau
naungan dari Allah SWT pada hari akhir. Salah satu manusia yang mendapatkannya adalah
“seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu
sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa saja yang disedekahkan oleh
tangankanannya.” (HR Bukhari no. 1421)

3. Keberkahan hidup dan Harta tidak berkurang.

Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan dua hal, yakni hartanya diberkahi dan
dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi impas tertutupi oleh berkah yang
abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan.

4. Dilipatgandakan pahalanya.

Secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut impas tertutupi
pahala yang didapat dan pahala ini akan dilipat-gandakan. Allah berfirman “sesungguhnya
orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada
Allah pinjaman yang baik niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka, dan
bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

5. Dimasukkan ke dalam surga khusus untuk hamba yang bersedekah.

“Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan salat, ia akan dipanggil
dari pintu salat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad,
jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
“(HR. Bukhari no. 3666).

12
00
6. Membebaskan dari siksa kubur dan api neraka.

Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan dari api
neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita dari api nereka. “Jauhilah api neraka,
walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan
kalimah thayyibah.” (HR. Bukhari 6539, Muslim 1016). Rasulullah juga bersabda “sedekah
akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Tabrani, Shahih At Targhib, 873).

7. Hati yang bahagia.

Rasulullah menjelaskan perumpaan antara orang yang pelit dan dermawan atau
bersedekah. “Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua
orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya.
Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di
kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan
bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap
lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak
bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

8. Amalan yang tak terputus hingga akhir hayat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda “apabila anak cucu adam itu
mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara, yakni amal jariyah, anak yang
soleh yang memohonkan ampunan untuknya (ibu dan bapaknya) dan ilmu yang berguna
setelahnya.”

9. Dapat memanjangkan umur.

Nabi SAW bersabda “sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah
umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su’ul khotimah), Allah akan
menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri.” (HR.
Tabrani)

10. Menghindarkan dari segala marabahaya.

Sedekah itu merupakan penolak bala, penyubur pahala, menahan musibah, dan kejahatan
serta rezeki yang dilipat-gandakan oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda “bersegeralah
untuk bersedekah. Karena musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.” Dari Nabi
SAW bersabda “sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan.”

 Keadilan dan Penegakan Hukum dalam Islam

Menegakkan keadilan dapat dilakukan siapa saja, bukan saja oleh hakim di pengadilan,
polisi, jaksa, atau pun pejabat negara. Paling tidak, kita bisa dengan selalu berkata benar,
memberitakan atau memberikan keterangan dan kesaksian yang benar dalam suatu
perkara.

Jangan karena benci atau terlalu senang dengan seseorang, kita berlaku tidak jujur, berkata
tidak benar, dan berbuat tidak adil, apalagi menjadi saksi di pengadilan untuk suatu perkara
yang dilakukan di bawah sumpah 'Demi Allah'. Sungguh besar dosanya jika memberikan
keterangan yang tidak benar.

Alquran menggunakan beberapa kata yang berbeda untuk makna keadilan, yaitu kata qist,
mizan, haq, wasatha, dan adl. Kesemua kata tersebut dalam makna yang berbeda dapat
ditujukan pada makna adil atau keadilan.

13
00
Dengan demikian, keadilan haruslah berdasarkan kebenaran, keseimbangan, perlakuan
sama, serta sikap tengah dan tidak memihak. Keadilan tidak bisa ditegakkan apabila
mengabaikan kebenaran. Demikian juga sebaliknya, mengabaikan kebenaran sama dengan
mengorbankan keadilan.

Menjadi saksi atau memberikan keterangan yang tidak benar ialah mencederai keadilan.
Sikap yang memihak dan berat sebelah serta tidak memperlakukan secara seimbang dalam
memutuskan suatu urusan (perkara), dalam memberikan keterangan atau dalam menuliskan
suatu berita, juga ialah sikap yang mencederai keadilan.

- Ikuti Jalan Kebenaran

Keadilan merupakan salah satu esensi dari ajaran Islam. Ada lebih dari 53 kata adil atau
mengandung kata adil dalam Alquran. Sebagian ahli fikih memaknai keadilan, yaitu
'menempatkan sesuatu pada tempatnya' yang artinya memberikan orang sesuai dengan
porsi dan bagiannya yang sebenarnya.

Menegakkan keadilan dalam hubungan antara sesama manusia harus dilakukan dengan
hati yang bening dan bersih. Janganlah karena kebencian atau ketidaksukaan terhadap
suatu kaum atau kelompok, kita berlaku tidak adil. Allah mengingatkan dalam Alquran;

'Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil (qist). Dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak
adil (adl). Berlaku adillah karena adil (adl) itu lebih dekat kepada takwa. Dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan' (QS Al Maidah:8).

- Saksi yang Adil

Allah pun mengingatkan agar kita tetap menjadi saksi yang adil dan berkata benar
walaupun terhadap diri sendiri, ibu/bapak, atau keluarga dekat. Janganlah karena demi
membela diri sendiri, ibu/bapak, atau keluarga dekat, kita berbuat tidak adil terhadap
orang lain dengan memberikan kesaksian yang tidak benar. Allah mengingatkan:

'Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan
keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu
bapak atau kaum kerabatmu, jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kata-kata karena tidak
hendak menjadi saksi maka sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan segala apa
yang kamu lakukan' (QS An Nisa:135).

Rasulullah telah mencontohkan bagaimana ketegasannya menegakkan keadilan


walaupun terhadap putrinya sendiri. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Al-
Bukhari dan Muslim, suatu ketika orang-orang Qurais sangat mengkhawatirkan seorang
wanita dari bani Makhzumiyyah yang tertangkap mencuri.

- Ketajaman Hukum

Islam melarang keras hukum yang tajam ke bawah (yaitu tajam dan berlaku penuh
kepada orang-orang miskin dan kekurangan), tetapi tumpul ke atas (yaitu tidak berlaku
penuh kepada pejabat, pemegang kuasa, dan kaum kaya raya). Sungguh, kalau sudah
terjadi hukum yang demikian, Rasulullah telah mengingatkan kepada kita semua bahwa

14
00
tindakan demikianlah yang mengakibatkan hancurnya umat-umat terdahulu. Tindakan
yang demikianlah yang mengakibatkan pemimpin jatuh dan tidak berharga.

Bahkan, dalam hubungan keperdataan di antara sesama manusia dalam hal utang
piutang dalam jangka tertentu, Allah memerintahkan untuk menuliskannya dengan benar
dan adil, sesuai dengan firman Allah,

'Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengikat utang untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaknya seorang di antara kamu
menuliskannya dengan benar dan adil' (QS Al Baqarah:282).

- Tanggung Jawab Pemimpin

Untuk keadilan dalam urusan pemerintahan, Allah memerintahkan kepada para pejabat
atau pemimpin untuk melaksanakan amanat dan tanggung jawab mereka dan
memutuskan suatu perkara hukum dengan adil. Allah berfirman,

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak


menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha
melihat." (QS An Nisa:58).

- Nilai Pancasila

Keadilan ialah cita-cita kemerdekaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial
dan kebangsaan kita. Dalam perspektif Pembukaan UUD 1945, ada tiga aspek keadilan
yang harus ditegakkan, yaitu pertama; keadilan individual yang harus ditegakkan dalam
kehidupan pribadi yang harus didasarkan pada penghormatan atas prinsip-prinsip dan
hak-hak dasar kemanusiaan yang bersumber dari sila ke-2 Pancasila, kemanusiaan
yang adil dan beradab.

Nilai Pancasila yang tidak boleh diabaikan untuk kita tegakkan pada saat sekarang ini
ialah masalah keadilan karena ketidakadilan berakibat sangat fatal bagi kehidupan
bangsa Indonesia. Karena ketidakadilan, seseorang bisa berbuat nekat melawan,
hukum-hukum sosial yang mapan bisa hancur dalam sekejap oleh kekacauan.

RANGKUMAN
1. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Misalnya dengan memberi
pertolongan baik dengan harta maupun tenaga, melafalkan zikir, menafkahi keluarga,
menyingkirkan batu dari jalan dan masih banyak lagi. Bahkan, menahan diri untuk tidak
menyakiti orang lain juga termasuk sedekah.

2. Manfaat bersedekah antara lain menghapus dosa, mendapat perlindungan Allah di Hari
Akhir, mendapatkan keberkahan hidup, dilipatgandakan pahalanya, diberikan tempat khusus
di dalam surga, dijauhkan dari siksa neraka, hati berbahagia, sebagai amalan jariyah,
dipanjangkan umurnya, dan dihindarkan dari musibah.

3. Keadilan haruslah berdasarkan kebenaran, keseimbangan, perlakuan sama, serta sikap


tengah dan tidak memihak. Keadilan tidak bisa ditegakkan apabila mengabaikan kebenaran.
Demikian juga sebaliknya, mengabaikan kebenaran sama dengan mengorbankan keadilan.

15
00
DAFTAR PUSTAKA

Hakim, M. Saifudin. 2018. Keistimewaan dan Keutamaan Tauhid (Bag. 1).


https://muslim.or.id/44481-keistimewaan-dan-keutamaan-tauhid-bag-1.html. Diakses pada
17 Oktober 2020.

Ekawati, Diana. 2020. Pengertian, Jenis, dan Keutamaan Tauhid Bagi Umat Islam.
https://www.idntimes.com/life/inspiration/diana-ekawati/jenis-dan-keutamaan-tauhid/2.
Diakses pada 17 Oktober 2020.

Penulis Google Sites. 2013. Konsep Ketuhanan dalam Islam.


https://sites.google.com/site/ujppai/materi-kuliah/materi-03. Diakses pada 17 Oktober 2020.

Rosa, Alifah Tahta. 2016. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Al Qur'an.
https://www.kompasiana.com/alifah97/57d754f2db22bd1e0751ef9d/ilmu-pengetahuan-dan-
teknologi-dalam-al-quran?page=all. Diakses pada 17 Oktober 2020.

Siregar, Dinda Boru. 2019. Paradigma Islam terhadap Sains dan Teknologi.
https://www.kompasiana.com/dindaborumufarrokhahsiregar2275/5d25e1d9097f3634b204b2
32/paradigma-islam-terhadap-sains-dan-teknologi. Diakses pada 17 Oktober 2020.

Penulis Umma. 2019. Inilah Generasi Terbaik Umat Islam.


https://umma.id/article/share/id/1002/272772. Diakses pada 18 Oktober 2020.

Ust. Muslim Al Atsari. 2013. KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.


https://almanhaj.or.id/3013-kewajiban-mengikuti-pemahaman-salafush-shalih.html. Diakses
pada 18 Oktober 2020.

Septia, Umi. 2017. Bersedekah dalam Islam, Sebaiknya Seperti Apa?.


https://www.liputan6.com/ramadan/read/2969131/bersedekah-dalam-islam-sebaiknya-
seperti-apa. Diakses pada 18 Oktober 2020.

Tim CNN Indonesia. 2020. Cara Berbagi yang Dianjurkan Islam.


https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200515132525-289-503720/cara-berbagi-
yang-dianjurkan-islam. Diakses pada 18 Oktober 2020.

Wuri, Ageng. 2019. Cara Bersedekah: Sederhana Membawa Berkah.


https://blog.kitabisa.com/cara-bersedekah-sederhana-membawa-berkah/. Diakses pada 18
Oktober 2020.

16
00
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Pengertian Tauhid

Lampiran 2: Konsep Ketuhanan dalam Islam

Lampiran 3: Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an dan Hadist

Lampiran 4: Paradigma Islam terhadap Sains dan Ilmu Pengetahuan

Lampiran 5: Generasi Sahabat

Lampiran 6: Generasi Tabi’in

Lampiran 7: Generasi Tabi’ul Tabi’in

Lampiran 8: Pengertian Salafussholeh

Lampiran 9: Salafussholeh menurut Al- Hadist

Lampiran 10: Berbagi dalam Islam

Lampiran 11: Keadilan dan Penegakan Hukum dalam Islam

17
00