Anda di halaman 1dari 38

PELATIHAN PENYELESAIAN

SENGKETA KONTRAK KONSTRUKSI

MODUL

6 ANALISIS PENYELESAIAN
SENGKETA
KONTRAK KONSTRUKSI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI


BAD AN PENGEMBANG AN SUMBERDAYA M ANUSI A
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

BANDUNG, 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas selesainya penyusunan modul 6 tentang Analisis
Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi ini. Modul ini adalah modul ke-6 dari 7 modul
yang harus diselesaikan dalam Pelatihan Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi.
Pelatihan tersebut diadakan mengingat dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, yang lazim
dilakukan di Indonesia akan melibatkan pihak pengguna jasa konstruksi dan penyedia
konstruksi serta tertuang dalam kontrak konstruksi yang dipergunakan sebagai dasar
hubungan hukum kedua belah pihak. Setiap tahun, puluhan ribu kontrak konstruksi
ditandatangani dan diimplementasikan sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi
sengketa kontrak konstruksi. Dalam menyelesaikan sengketa kontrak konstruksi ada dua
pilihan penyelesaian yaitu penyelesaian melalui jalur peradilan dan penyelesaian di luar
peradilan. Pelatihan penyelesaian sengketa kontrak konstruksi ini dimaksudkan untuk
membekali para ASN di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, khususnya
yang terkait dalam penanganan kontrak konstruksi dalam melaksanakan tugasnya, untuk
mengantisipasi bila terjadi kemungkinan sengketa.
Modul Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi ini bertujuan untuk memberikan
pemahaman dan pengetahuan kepada peserta pelatihan mengenai metode analisis secara
sederhana tentang penyelesaian sengketa kontrak konstruksi. Dalam modul ini akan dibahas
tentang :identifikasi dampak penyelesaian sengketa kontrak konstruksi, analisa penyelesaian
sengketa kontrak konstruksi melalui jalur litigasi dan non litigasi dan studi kasus terkait
analisa penyelesaian sengketa kontrak konstruksi.
Modul analisis penyelesaian sengketa kontrak konstruksi ini masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh Karena itu masukan dan kritikan yang membangun dari berbagai pihak
sangat diharapkan demi kesempurnaan modul ini di masa yang akan datang. Akhirnya
semoga modul ini dapat bermanfaat.

Bandung, 2017

Kepala
Pusdiklat Sumber Daya Air dan Konstruksi

Modul 6
i
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................ii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL .................................................................................... iii
PENDAHULUAN.................................................................................................................... iv
MATERI 1 ANALISA PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI MELALUI
JALUR LITIGASI Dan NON LITIGASI ......................................................... 1
1.1 Identifikasi Dampak Sengketa Kontrak Konstruksi ............................................... 1
1.2 Analisa Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi ............................................ 5
MATERI 2 STUDI KASUS : PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI
MELALUI JALUR LITIGASI ....................................................................... 17
A. CONTOH KASUS PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI PENGADILAN....... 18
Para Pihak ................................................................................................................ 18
Gugatan .................................................................................................................... 18
PUTUSAN ................................................................................................................. 19
Pertimbangan Hakim ................................................................................................. 21
B. CONTOH KASUS PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBRITASE ......... 24
Para Pihak ................................................................................................................ 24
Gugatan .................................................................................................................... 24
PUTUSAN ................................................................................................................. 24
Pertimbangan Hakim ................................................................................................. 25
PENUTUP ........................................................................................................................... 28
KUNCI JAWABAN ............................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 30
GLOSARI............................................................................................................................. 32

Modul 6
ii
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
PETUNJUK PENGGUNAAN
MODUL
Peserta “Pelatihan Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi” yang berbahagia.
Modul Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi ini adalah modul keenam dari
tujuh modul yang harus Anda selesaikan dalam pelatihan ini.Modul ini teknik penyajiannya
dilakukan secara andragogi dibarengi dengan metoda pembelajaran lebih banyak diskusi
dari ceramah. Hal ini dilakukan untuk memberikan keleluasaan pada para peserta
mengungkapkan apa yang sudah diketahuinya
Seperti layaknya sebuah modul, maka pembahasan dimulai dengan menjelaskan tujuan
yang hendak dicapai dan disertai dengan soal pre test yang mengukur tingkat penguasaan
materi setiap topik. Dengan demikian pengguna modul ini secara mandiri dapat mengukur
tingkat pemahaman yang dicapainya.
Dalam mempelajari modul ini, seyogyanya Anda lakukan secara berurutan mulai dari materi
pertama sampai materi terakhir, agar pengetahuan yang Anda miliki menjadi lengkap.
Dengan mempelajari modul ini, Anda diharapkan akan memahami cara melakukan analisa
secara sederhana terhadap kasus penyelesaian sengketa kontrak konstruksi termasuk
kebijakan penyelesaian sengketa kontak konstruksi.
Modul ini terdiri dari dua materi pokok, yaitu analisa penyelesaian sengketa kontrak
konstruksi melalui jalur litigasi dan non-litigasi dan studi kasus terkait penyelesaian sengketa
kontrak konstruksi melalui jalur litigasi dan non-litigasi. Modul ini akan diawali dengan
pembahasan terkait identifikasi dampak sengketa kontrak konstruksi dan dilanjutkan sub
materi tentang analisa penyelesaian sengketa kontrak konstruksi. Materi analisis
penyelesaian sengketa kontrak konstruksi ini sebagai prespektif yang akan melandasi
proses pembelajaran studi kasus pada materi berikutnya. Pada sesi pembahasan materi ini
lebih ditekankan pada pemahaman tentang cara menganalisa penyelesaian sengketa
kontrak konstruksi.
Pada akhir pembahasan tiap materi akan diberikan tes, untuk mengukur kemampuan Anda
dalam memahami tiap-tiap materi. Anda dapat melihat kemampuan Anda dengan
mencocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban yang ada pada akhir modul ini. Apabila
Anda belum dapat menjawab pertanyaan (soal) dengan benar, Anda harus mengulangi
mempelajari materi tersebut.
Apabila ada tugas-tugas, harap dikerjakan baik secara individual maupun kelompok. Untuk
hal-hal yang kurang jelas, Anda dapat menghubungi nara sumber di Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi.
.
Akhirnya, selamat mempelajari modul ini, semoga sukses.

Modul 6
iii
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setiap tahun, puluhan ribu kontrak konstruksi ditandatangani dan diimplementasikan. Dalam
hal ini sudah hampir pasti akan terjadi sengketa konstruksi akibat perbedaan intrepretasi
maupun akibat lain yang bersifat fisik maupun non fisik. Dalam menyelesaikan sengketa
kontrak konstruksi, dapat ditempuh berbagai cara. Di Indonesia penyelesaian sengketa
terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu: (1) litigasi dan (2) non-litigasi.
Litigasi adalah bentuk penyelesaian sengketa dalam acara persidangan di peradilan
umum.Sedangkan non-litigasi adalah bentuk penyelesaian sengketa di luar peradilan umum.
Non-litigasi menurut Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:
(1) arbitrase dan (2) alternatif penyelesaian sengketa.
Penyelesaian dengan cara arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa terbukti efektif
dalam penyelesaian sengketa pada umumnya dan demikian juga tentunya sengketa
konstruksi pada khususnya.
Sengketa kontrak konstruksi akan selalu terjadi dalam perjalanan suatu kontrak, meskipun
sengketa ini bukan merupakan sesuatu yang direncanakan, karena masing-masing pihak
akan mempertahankan agar pihaknya tidak merugi. Kontraktor sebagai salah satu pihak
mempunyai tugas untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak, tentunya dengan tujuan
mendapatkan keuntungan yang sudah diperhitungkan sebelumnya, sedang pihak pengguna
jasa akan bertahan agar biaya yang telah disepakati dalam kontrak, sebagai harga kontrak,
sedapat mungkin tidak terlampaui.
Dari sisi penyelenggaraan konstruksi, kesadaran hukum dalam kepatuhan para pihak, yakni
pengguna jasa dan penyedia jasa, dalam pemenuhan kewajibannya serta pemenuhan
terhadap ketentuan yang terkait dengan aspek keamanan, keselamatan, kesehatan dan
lingkungan, agar dapat mewujudkan bangunan yang berkualitas dan mampu berfungsi
sebagaimana yang direncanakan..

B. DESKRIPSI SINGKAT

Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain karena klaim yang tidak dilayani misalnya
keterlambatan pembayaran, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, perbedaan penafsiran
dokumen kontrak, ketidak mampuan baik teknis maupun manajerial dari para pihak. Selain
itu sengketa konstruksi dapat pula terjadi apabila pengguna jasa ternyata tidak
melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dengan baik dan mungkin tidak memiliki dukungan
dana yang cukup.

Penyelesaian sengketa melalui arbitrase lebih disukai, dalam Undang-Undang Arbitrase


Baru 1999, dinyatakan antara lain bahwa dibandingkan dengan berperkara biasa melalui

Modul 6
iv
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
pengadilan negeri, arbitrase lebih diutamakan oleh pelaku bisnis internasional. Salah satu
sebab adalah karena “lebih cepat, murah dan sederhana”.

Pengadilan tidak berwenang memeriksa kembali perkara yang sudah dijatuhkan putusan
arbitrasenya, kecuali apabila ada perbuatan melawan hukum terkait dengan pengambilan
putusan arbitrase dengan itikad tidak baik, dan apabila putusan arbitrase itu melanggar
ketertiban umum.

Peradilan harus menghormati lembaga arbitrase, tidak turut campur, dan dalam pelaksanaan
suatu putusan arbitrase masih diperlukan peran pengadilan, untuk arbitrase asing dalam hal
permohonan eksekuator ke pengadilan negeri.

Pada prakteknya walaupun pengaturan arbitrase sudah jelas dan pelaksanaannya bisa
berjalan tanpa kendala namun dalam eksekusinya sering mengalami hambatan dari
pengadilan negeri.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu:


 Mengidentifikasi dampak sengketa kontrak konstruksi
 Menjelaskan cara mengalisa Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
 Menganalisa Kasus Penyelesaian Sengketa kontrak Konstruksi

D. MATERI POKOK
Modul ini terdiri dari dua materi pokok, yaitu analisa penyelesaian sengketa kontrak
konstruksi melalui jalur litigasi dan non-litigasi dan studi kasus terkait penyelesaian sengketa
kontrak konstruksi melalui jalur litigasi dan non-litigasi. Modul ini akan diawali dengan
pembahasan terkait identifikasi dampak sengketa kontrak konstruksi dan dilanjutkan sub
materi tentang analisa penyelesaian sengketa kontrak konstruksi. Materi analisis
penyelesaian sengketa kontrak konstruksi ini sebagai prespektif yang akan melandasi
proses pembelajaran studi kasus pada materi berikutnya. Materi kedua dalam modul ini yaitu
studi kasus terkait analisis penyelesaian sengketa. Pada sesi pembahasan materi ini lebih
ditekankan pada pemahaman tentang cara menganalisa penyelesaian sengketa kontrak
konstruksi.

Modul 6
v
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
MATERI

ANALISA PENYELESAIAN

1 SENGKETA KONSTRUKSI
MELALUI JALUR LITIGASI

Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi 1 tentang analisa penyelesaian sengketa kontrak
kerja konstruksi ini indikator ke keberhasilan adalah apabila anda dapat :
1. mengidentifikasi dampak sengketa kontrak kerja konstruksi
2. menjelaskan cara menganalisa penyelesaian sengketa kontrak konstruksi,
dan
3. menganaiisa penyelesaian sengketa kontrak kerja konstruksi

MATERI 1 ANALISA PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI MELALUI JALUR


LITIGASI Dan NON LITIGASI

1.1 IDENTIFIKASI DAMPAK SENGKETA KONTRAK KONSTRUKSI

Industri jasa konstruksi memiliki faktor risiko dengan tingkat ketidak pastian yang lebih tinggi
dibandingkan dengan industri lainnya (Flanagan dan Norman, 1993).Hal tersebut merupakan
pemicu terjadinya sengketa. Semakin besar nilai dan panjang durasi dari suatu proyek, maka
akan semakin tinggi pula probabilitas terjadinya sengketa (Pang, 2011; Gebken, 2006; Love,
2005).

Dalam suatu hubungan hukum atau perikatan selalu dimungkinkan terjadi perselisihan di
antara para pihak yang pada akhirnya menimbulkan sengketa. Sengketa dapat bermula dari
berbagai sumber potensi sengketa. Sumber potensi sengketa dapat berupa masalah
perbatasan, sumber daya alam, kerusakan lingkungan, perdagangan, dan lain-lain.

Sengketa dapat terjadi setiap saat disebabkan oleh keadaan yang sekilas tampak tidak
berarti dan kecil sehingga terabaikan atau tanpa diperhitungkan sebelumnya. Sengketa
secara umum dapat berkenaan dengan hak-hak, status, gaya hidup, reputasi, atau aspek
lain dalam kegiatan perdagangan atau tingkah laku pribadi antara lain :

a) Kenyataan yang mungkin timbul akibat kredibilitas para pihak itu sendiri, atau dari
data yang diberikan oleh pihak ketiga termasuk penjelasan-penjelasan tentang
kenyataan-kenyataan data tersebut;

Modul 6
1
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
b) Masalah hukum yang pada umumnya akibat dari pendapat atau tafsiran
penyelesaian sengketa yang diberikan oleh para ahli hukum yang terkait;

c) Akibat perbedaan teknis termasuk perbedaan pendapat dari para ahli teknik dan
profesionalisme dari para pihak;

d) Perbedaan pemahaman tentang sesuatu hal yang muncul, misalnya dalam


penggunaan kata-kata yang membingungkan atau adanya perbedaan asumsi; dan

e) Perbedaan persepsi mengenai keadilan, konsep keadilan dan moralitas, budaya,


nilainilai dan sikap. Sengketa Jasa Konstruksi terjadi disebabkan karena adanya
klaim konstruksi yang tidak terselesaikan secara sempurna.

Menurut Blacks Law Dictionary : “ Claim to demand as one’s own or as one’s right; to assert,
to urge; to insist, cause of action. Means by or through which claimant possession or
enjoyment of privilege or thing. Femand for money or property, e.g. insurance claim ”.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, WJS Purwadarminta klaim adalah tuntutan
pengakuan atas suatu fakta bahwa seseorang berhak (untuk memiliki atau mempunyai) atas
sesuatu, “ pemerintah Indonesia akan mengajukan klaim ganti rugi kepada pemilik kapal
asing itu “..

Bahwa dari dua definisi pengertian tersebut di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa klaim
adalah suatu tuntutan ataupun permohonan atas suatu keadaan dan apabila dihubungkan
dengan pengertian dalam dunia jasa konstruksi maka dapat diartikan secara sederhana
bahwa klaim konstruksi adalah permohonan atau tuntutan yang timbul dari atau sehubungan
dengan pelaksanaan suatu pekerjaan jasa konstruksi antara pengguna jasa dan penyedia
jasa atau antara penyedia jasa utama dengan sub-penyedia jasa atau pemasok bahan atau
antara pihak luar dengan pengguna jasa / penyedia jasa yang bisaanya mengenai
permintaan tambahan waktu, biaya atau kompensasi lain “

Menurut pendapat Prof. H. Priatna Abdulrasyid, ada beberapa sebab terjadinya klaim yaitu:

a. Informasi desain yang tidak tepat ( delayed design information )

b. Informasi design yang tidak sempurna ( Inadequate design information )

c. Investigasi lokasi yang tidak sempurna ( Inadequate site insvetigation )

d. Reaksi client yang lambat ( Slow client response )

e. Komunikasi yang buruk ( Poor Communication )

f. Sasaran waktu yang tidak realistis ( Unrealistic time targets )

g. Administrasi kontrak yang tidak sempurna ( Inadequate contract administration )

h. Kejadian ekstern yang tidak terkendali ( Uncontrollabe external events )

i. Informasi tender yang tidak lengkap ( incomplete tender information ) j. Alokasi resiko

Modul 6
2
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
yang tidak jelas ( Unclear risk allocation )

j. Keterlambatan – ingkar membayar ( Lateness-non payment ) .

Dari uraian diatas jelas terlihat bahwa klaim dapat terjadi karena sebab- sebab yang
datangnya baik dari pengguna jasa maupun dari penyedia jasa atau sebab-sebab lain.
Sebab-sebab inilah yang menjadi dasar filosofi atau pandangan bahwa klaim sesungguhnya
adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam dunia jasa konstruksi sehingga klaim haruslah
dipandang sebagai sesuatu yang biasa terjadi dengan demikian kita dapat mempersiapkan
segala sesuatunya dengan baik.

Untuk mempersiapkan sebuah klaim tentunya pengguna maupun penyedia jasa harus
mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan benar terutama mengenai data dan
keadaan yang mendasari terjadinya sebuah klaim sehinggga klaim tersebut dapat tertangani
dengan baik dan benar serta tidak menimbulkan suatu kerugian bagi para pihak baik bagi
yang mengajukan maupun yang menerima klaim dan akan menjadi sebuah persoalan
berbeda apabila klaim tersebut tidak tertangani dengan baik karena klaim yang tidak
tertangani dengan baik jelas akan menimbulkan sebuah akibat hukum berupa sengketa atau
perselisihan. Apabila klaim yang diajukan baik oleh pengguna jasa maupun penyedia jasa
disetujui maka timbullah perintah kerja baru apabila menyangkut perubahan pekerjaaan dan
apabila klaim tersebut tidak tertangani dengan baik maka akan menjadi sebuah sengketa
atau perselisihan yang harus diselesaikan melalui jalur hukum yang telah dipilih oleh para
pihak dalam kontrak baik melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa, Arbitrase, maupun
melaui Pengadilan.

Didalam pelaksanaan pekerjaan pemborongan, khususnya pemborongan bangunan pada


proyek pemerintah maupun swasta. Walaupun di dalam perjanjian pemborongan tersebut
diatur mengenai sanksi atau denda yang akan dikenakan apabila terjadi pelanggaran
perjanjian, akan tetapi hal tersebut tidak menjamin bahwa dalam tahap pelaksaannya tidak
terjadi pelanggaran atau wanprestasi, baik itu berasal dari kesalahan pemborong sendiri
ataupun berasal dari faktor diluar pemborong.

Mitropoulos dan Howell menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat tiga akar permasalahan
penyebab persengketaan dalam penyelenggaraan proyek konstruksi yaitu :

a. Adanya faktor ketidakpastian dalam setiap proyek konstruksi.

b. Masalah yang berhubungan dengan kontrak konstruksi.

c. Perilaku oportunis dari para pihak yang terlibat dalam suatu proyek konstruksi.

Sengketa menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang bertikai. Kerugian tersebut antara
lain :

a. Biaya dan Waktu.

Allen pada tahun 2010, dalam penelitiannya menyampaikan bahwa negara di Asia
menduduki peringkat tertinggi dalam nilai sengketa, yaitu sebesar USD. 64.500.000,-
/tahun, dan waktu penyelesaian sengketa, yaitu selama 11,4 bulan.

Modul 6
3
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
b. Produktivitas.

Australian Bureau of Statistics (ABS) menyampaikan bahwa pada tahun 2007,


tercatat lebih dari 7.000 hari kerja hilang karena adanya sengketa di industri
konstruksi (New South Wales Department of Commerce, 2008).

c. Popularitas dan Relasi.

Dengan adanya sengketa, popularitas dan relasi antar pihak yang bertikai, akan
memburuk, terlebih ketika sengketa mencapai tingkat litigasi dimana tingkat
ketegangan sudah mencapai titik tertinggi, dibandingkan dengan metode
penyelesaian lainnya (Gebken, 2006; Love, 2005).

Tahukah Anda, berapa kerugian yang ditimbulkan dari sengketa konstruksi?

Waktu penyelesaian sengketa membuat proses konstruksi menjadi jauh lebih lama dari
waktu kontrak yang disepakati. Selain itu, sengketa konstruksi mengakibatkan tidak
optimalnya sumber daya dan juga pembiayaan yang rawan melebihi dana yang dianggarkan.

Klaim, konflik dan sengketa konstruksi merupakan hal yang umum terjadi pada proyek
konstruksi. Klaim muncul ketika permintaan dari satu pihak kepada pihak lain tidak
terfasilitasi. Hal ini dapat menimbulkan konflik dan pada akhirnya berujung sengketa.
Sengketa yang terjadi pada proyek konstruksi merupakan hal yang merugikan bagi pihak-
pihak yang bersengketa. Maka dari itu, upaya untuk mencegah terjadinya sengketa
merupakan tantangan bagi pelaku industri jasa kontruksi. Pada umumnya metode yang
digunakan masih mengacu pada pengetahuan dan pengalaman personal, belum didukung
oleh kerangka kerja dengan metode yang telah teruji.

Dalam pembahasan modul ini Anda akan diminta mendiskusikan bersama peserta lainnya
mengenai berbagai macam dampak sengketa kontrak konstruksi. Mengenai pegertian
sengketa kontrak konstruksi, faktor-faktor yang menyebabkan sengketa kontak konstruksi
serta macam-macam sengketa sudah dibahas dalam modul 4. Sebagai panduan diskusi ini,
Anda diminta mengikuti instruksi sesuai lembar kerja dibawah ini :

Lembar Kerja

Matrik Diskusi identifikasi Sengketa Kontrak Konstruksi dan Dampaknya

No Sengketa Kontrak Konstruksi

1. Macam-macam

2. Dasar Hukum

3. Penyebab

4. Dampak yang ditimbulkan

5 Bagamaina cara penyelesaiannya

Modul 6
4
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
1) Format di atas hanya sebagai panduan diskusi saja,
kelompok dapat memberikantambahan atau menyesuaikan
sesuai kebutuhan;
2) Anda bersama peserta lain melakukan diskusi dengan
mengidentifikasi macam-macam sengketa, Dasar hukum pengaturan, penyebab
sengketa, dan dampak yang ditimbulkan.
3) Memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk mengungkapkan pemahaman
dan pengalamannya tentang sengketa kontrak konstruksi;
4) Anda menulis hasil kesepakatan dengan mengklarifikasi hal-hal yang perlu
penegasan dan kesepakatan bersama.

1.2 Analisa Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Dalam pembahasan materi selanjutnya akan memberikan gambaran singkat cara


penyelesaian sengketa kontrak kerja konstruksi dan cara menganalisa secara sederhana
terhadap suatu kasus sengketa kontak kerja konstruksi.

Semakin berkembangnya proyek konstruksi di Indonesia berisiko maka akan muncul


berbagai masalah sengketa antara para pelaku konstruksi. Berbagai metode penyelesaian
sengketa telah dikembangkan untuk mangatasi masalah tersebut. Dalam upaya
menyelesaikan sengketa, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu negosiasi, mediasi,
konsiliasi,penilaian ahli, arbitrase, dan litigasi.

Kesuksesan penyelesaian sebuah sengketa dapat diindikasikan


oleh 5 (lima) buah faktor, yaitu : biaya dan waktu, tingkat
ketegangan, kekuatan individual dalam menentukan keputusan
akhir, tingkat paksaan, dan tingkat kepentingan hubungan/relasi
pihak-pihak yang bersengketa.

Dunia dagang, terutama Internasional selalu “takut” untuk berperkara dihadapan badan-
badan peradilan. Para pedagang umumnya takut untuk berperkara bertahun-tahun lamanya
(Sudargo, 1999).

Pada proses litigasi, penyelesaian sengketa harus menunggu hingga lembaga peradilan
mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah. Litigasi merupakan salah satu metode
penyelesaian sengketa yang banyak dipilih, namun dalam beberapa tahun terakhir muncul
berbagai pendapat yang mengemukakan bahwa metode penyelesaian sengketa ini tidak lagi
efektif terutama apabila mencapai tingkat Mahkamah Agung, namun pada kenyataannya,
metode ini masih banyak digunakan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana gambaran

Modul 6
5
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
penyelesaian sengketa konstruksi di Indonesia yang ditempuh melalui jalur litigasi?

Proses tersebut terkadang memakan waktu yang lama. Dalam penyelesaian sengketa
melalui proses litigasi, pihak-pihak yang bersengketa akan mengajukan diri pada badan
peradilan negara. Pada proses ini pihak yang bersengketa harus menjalani proses peradilan
yang sah sesuai ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang. Apabila salah satu pihak
kurang puas pada putusan peradilan, pihak tersebut berhak melakukan banding ke tingkat
yang lebih tinggi hingga mencapai ke Mahkamah Agung.

Dengan berkembangnya metode alternatif penyelesaian sengketa, banyak pendapat yang


mengemukakan bahwa metode penyelesaian sengketa melalui proses litigasi tidak lagi
efektif.

Salahsatu metode alternatif penyelesaian sengketa kontrak konstruksi dilakukan dengan


arbitras. Arbitrase adalah metode penyelesaian masalah yang dibentuk melalui kontrak dan
melibatkan para ahli dibidang konstruksi.Para ahli tersebut bergabung dalam badan
arbitrase. Badan ini akan mengatur pihak-pihak yang telah menandatangani kontrak dengan
klausul arbitrasi didalamnya untuk melakukan arbitrasi dan menegakkan keputusan
arbitrator. Hal yang menguntungkan dari cara arbitrasi ini adalah sifat penyelesaiannya yang
cepat dan murah jika dibandingkan dengan litigasi. Selain itu, cara arbitrasi ini dilakukan
secara tertutup serta dilakukan oleh seorang arbitrator yang dipilih berdasarkan keahlian.

Keputusan arbitrasi yang bersifat final dan mengikat merupakan alasan penting
digunakannya cara ini untukmenyelesaikan masalah. Keputusan pengadilan biasanya
terbuka untuk proses peradilan yang lebih panjang. Hal ini menghasilkan penundaan yang
lama dan memakan biaya dalam penyelesaian masalah.Sedangkan keputusan dari arbitrasi
ini tidak dapat dirubah tanpa semua pihak setuju untuk membuka kembali kasusnya.

Berikut di bawah ini penjelasan mengenai kelebihan dan kelemahan dari penyelesaian
sengketa yang ditempuh melalui jalan arbitrase: Kelebihan penyelesaian sengketa melalui
arbitrase:

1. Kerahasiaan sengketa para pihak terjamin;


2. Dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif;
3. Para pihak dapat memilih arbiter yang memiliki pengalaman dan latar belakang yang
cukup mengenai masalah yang disengketakan, secara jujur dan adil;
4. Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalah serta
proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase; dan
5. Putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur
sederhana dan langsung dapat dilaksanakan.

Kelemahan penyelesaian sengketa melalui arbitrase:

1. Putusan arbitrase sangat tergantung pada kemampuan teknis arbiter untuk


memberikan putusan yang memuaskan kepada kedua belah pihak. Karena walaupun
arbiter adalah seorang ahli, namun belum tentu dapat memuaskan para pihak;
2. Tidak terikat dengan putusan arbitrase sebelumnya, atau tidak mengenal legal
precedence. Oleh karenanya, bisa saja terjadi putusan arbitrase yang berlawanan
dan bertolak belakang;

Modul 6
6
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
3. Pengakuan dan pelaksanaan atau eksekusi putusan arbitrase bergantung pada
pengakuan dan kepercayaan terhadap lembaga arbitrase itu sendiri;
4. Proses arbitrase ini akan memakan waktu, tenaga serta biaya yang lebih mahal, jika
ada salah satu pihak yang belum puas dan masih ingin memperkarakan putusan
arbitrase.

Berikut uraian mengenai perbandingan kelebihan dan kelemahan penyelesaian sengketa


kontruksi melalui arbitrase dan jalur pengadilan.

Tabel 1. Matrik Kelebihan Arbitrase dibandingkan dengan Pengadilan

ARBITRASE PENGADILAN
Bebas dan otonommenentukan rules dan institusi Mutlak terikat pada hukum acara
arbitrase yang berlaku
Menghindari ketidakpastian (uncertainty) akibat
perbedaan sistem hukum dengan negara tempat
Yang berlaku mutlak adalah sistem
sengketa diperiksa, maupun kemungkinan adanya
hukum dari Negara tempat sengketa
keputusan Hakim yang kurang unfair dengan
diperiksa
maksud apa pun, termasuk melindungi
kepentingan domestik yang terlibat sengketa
Keleluasan memilih arbiter profesional, pakar
(expert) dalam bidang yang menjadi objek Majelis Hakim Pengadilan ditentukan
sengketa, dan independen dalam memeriksa oleh Administrasi Pengadilan
sengketa.
Waktu prosedur dan biaya arbiter lebih efisien.
Putusan pengadilan ditentukan oleh
Putusan bersifat final dan binding, dan tertutup
Administrasi pengadilan
untuk upaya hukum banding atau kasasi;
Persidangan tertutup (non-publicity) dan
karenanya memberi perlindungan untuk informasi Terbuka untuk umum (kecuali kasus
atau data usaha yang bersifat rahasia atau tidak cerai)
boleh diketahui umum.
Pertimbangan hukum lebih mengutamakan Pola pertimbangan Pengadilan dan
aspek privat dengan win-win solution Putusan hakim adalah win loose

Tabel 2. Kelemahan Arbitrase dibandingkan dengan Pengadilan

ARBITRASE PENGADILAN
Honorarium arbiter, panitera, dan administrasi
relatif mahal. Tolak ukur jumlah umumnya
Biaya perkara relatif murah dan telah
ditentukan oleh nilai klaim (sengketa). Apabila
ditentukan oleh MARI
biaya ditolak atau tidak dibayar oleh salah satu
pihak, pihak yang lain wajib membayarnya lebih

Modul 6
7
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
ARBITRASE PENGADILAN
dulu agar sengketa diperiksa oleh arbitrase
Tidak ada hambatan berarti dalam
Relatif sulit untuk membentuk Majelis Arbitrase
pembentukan Majelis Hakim yang
Ad Hoc
memiksa perkara
Tidak memiliki juru sita sendiri sehingga
Majelis juru sita dan atau sarana
menghambat penerapan prosedur dan
pelaksanaan prosedur hukum acara
mekanisme Arbitrase secara efektif
Putusan arbitrase tidak memiliki daya paksa
Pelaksanaan putusan dapat
yang efektif, dan sangat bergantung kepada
dipaksakan secara efektif terhadap
Pengadilan jika putusan tidak dijalankan dengan
pihak yang kalah dalam perkara
sukarela
Eksekusi Putusan Arbitrase cenderung mudah
Eksekusi Putusan yang telah
dan diintervensi pihak yang kalah melalui
memiliki kekuatan hukum yang pasti,
lembaga peradilan (Bantahan, Verzet) sehingga
dapat dilaksanakan meskipun
waktu realisasi pembayaran ganti rugi menjadi
kemudian ada bantahan atau Verzet
relative bertambah lama

Salah satu masalah utama dalam pelaksanaan konstruksi di Indonesia adalah adanya
sengketa konstruksi yang terjadi antara pengguna jasa dengan pihak kontraktor selaku
penyedia jasa. Kecenderungan terjadinya sengketa ini mengingat kontrak konstruksi bersifat
dinamis dan berbeda dengan kontrak-kontrak yang lain.

Durasi proyek yang relatif panjang, kompleks, ukuran dan harga yang disepakati, serta
jumlah pekerjaan dapat berubah setiap saat selama masa kontrak pelaksanaan konstruksi,
adalah beberapa contoh faktor yang menyebabkan kontrak konstruksi rawan sengketa dan
penyelesaiannya pun cenderung lama.

Dalam menghadapai masalah sengketa kontrak konstruksi haruslah diingat bahwa


penyelesaian dengan musyawarah jauh lebih baik dari pada mengajuan klaim.Tujuan yang
hendak dicapai bukanlah untuk membuktikan siapa yang benar melainkan penyelesaian
masalah yang ada. Banyak cara untuk menyelesaikan perselisihan dalam suatu proyek.
Diperlukan sikap terbuka (open minded) dan keinginan yang kuat dalam menyelesaikan
masalah dari pihak terlibat. Adanya kesadaran bahwa dalam menyelesaikan proyek tepat
waku, cost dan standar mutu dan spesifikasi sesuai dengan perjanjian sebelumnya adalah
tujuan utamanya Bila salah satu pihak tidak memenuhi syarat yang sudah dipenuhi, maka
perselisihan tersebut tidak akan selesai.

Apabila sengketa kontrak kerja konstruksi tidak dapat diselesaikan dengan segera, pihak-
pihak yang terlibat harus dilanjutkan ke forum penyelesaian masalah lebih formal. Yang
termasuk dalam hal ini adalah : Negosiasi, Mediasi, konsiliasi,dan Dewan Sengketa.

Yang dimaksud dengan negosiasi adalah cara penyelesaian yang hanya melibatkan kedua
belah pihak yang bersengketa, tanpa melibatkan pihak-pihak yang lain. Hal ini mirip dengan
musyawarah dan mufakat yang ada di Indonesia, dimana keinginan untuk berkompromi,
adanya unsur saling memberi dan menerima serta kesediaan untuk sedikit menyingkirkan

Modul 6
8
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
ukuran kuat dan lemah adalah persyaratan keberhasilan cara ini. Di dalam negosiasi ini
kontraktor dan pemilik memakai arsitek dan insinyur sebagai penengah.Biasanya kontraktor
diminta mengajukan klaim kepada arsitek/insinyur yang diangkat menjadi negosiator.
Arsitek/Insinyur ini akan mengambil keputusan yang sifatnya tidak mengikat, kecuali
keputusan tentang ‘efek arstistik’ yang konsisten dengan apa yang telah ada dalam
dokumen kontrak.

Mediasi merupakan cara penyelesaian masalah di awal perselisihan berlangsung. Mediasi


ini melibatkan pihak ketiga yang tidak memihak dan dapat diterima kedua belah pihak yang
bersengketa. Pihak ketiga ini akan berusaha menolong pihak-pihak yang berselisih untuk
mencapai persetujuan penyelesaian, meskipun mediator ini tidak mempunyai kekuatan untuk
memutuskan penyelesaian masalah tersebut. Mediasi sama menguntungkannya dengan
arbitrasi. Mediasi dapat menyelesaikan masalah dengan cepat, murah, tertutup dan
ditangani oleh para ahli.Tetapi yang menjadi masalah adalah keputusan mediasi ini tidak
mengikat. Jadi apabila persetujuan tidak dapat dicapai, seluruh usaha mediasi hanya akan
membuang-buang uang dan waktu.

Dalam Undang-Undang Nomer 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi disebutkan bahwa
salah satu cara dalam penyelesaian sengketa adalah melalui upaya Konsiliasi. Istilah
konsiliasi diatur dalam Pasal 1 butir 10 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

Konsiliasi diartikan sebagai upaya perdamaian atau langkah awal perdamaian sebelum
sidang pengadilan (litigasi) dilaksanakan dan ketentuan perdamaian yang diatur dalam
Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Proses konsiliasi dalam sengeketa konstruksi wajib
dipimpin oleh seorang ahli dan berkompeten dalam melaksanakan kegiatan mediasi dan
juga ahli dan berpengalaman dalam penyelanggaraan jasa konstruksi.
Hal ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan akan dasar pemikiran pihak pihak lawan dan
memperoleh titik temu yang dinilai paling sedikit merugikan para pihak. Sorang ahli yang
bertindak sebagai konsiliator adalah pihak ketiga yang netral dan dipercaya oleh semua
pihak bersengketa karena dalam proses konsiliasii tidak hanya memfasilitasi pertemuan
antara para pihak, akan tetapi juga memberikan saran solusi berdasarkan fakta dan
mekanisme penyelesainnya.
Permasalahan sengketa seringkali diselesaikan melalui jalur litigasi yang di tangani oleh
bukan ahli bidang konstruksi sehingga menghasilkan putusan yang kurang adil. Oleh karena
itu perlu dibentuk dewan sengketa pada setiap pekerjaan konstruksi terutama Kementerian
PUPR, agar iklim bisnis konstruksi di Indonesia lebih kondusif

Terkait penyelesaian sengketa kontrak konstruksi mengacu pada pasal 88 UU Nomor


2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi yaitu dalam hal upaya penyelesaian sengketa tidak
tercantum dalam kontrak kerja konstruksi para pihak yang bersengketa membuat suatu
persetujuan tertulis mengenai tata cara penyelesaian sengketa yang akan dipilih. Tahapan
upaya penyelesaian sengketa meliputi:Mediasi; Konsiliasi; dan Arbitrase yaitu BADAPSKI.
Selain upaya penyelesaian sengketa para pihak dapat membentuk dewan sengketa. Dalam
hal upaya penyelesaian sengketa dilakukan dengan membentuk dewan sengketa pemilihan
keanggotaan dewan sengketa dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas dan tidak
menjadi bagian dari salah satu pihak.

Modul 6
9
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Perbedaan pendapat dari para pihak dalam menginterpretasikan dokumen kontrak seringkali
berkembang menjadi sengketa yang serius. Jika para pihak gagal menyelesaikan sengketa melalui
negosiasi, mereka dapat maju ke arbitrase atau litigasi (pengadilan). Setiap pihak ingin menghindari
arbitrase maupun litigasi karena mereka paham bahwa arbitrase dan/atau litigasi memakan waktu dan
memerlukan biaya yang cukup besar. Apalagi, dalam proses arbitrase dan litigasi, hubungan antara
para pihak memburuk dan proyek tidak berhasil diselesaikan (dan salah satu pihak akhirnya akan
kehilangan muka). Cara terbaik untuk memecahkan ketidaksetujuan adalah menghindarinya menjadi
sengketa resmi. Tugas utama DB adalah menghindari ketidaksetujuan menjadi sengketa. Membuat
keputusan atau "rekomendasi" adalah tugas sekunder DB. Suatu DB terdiri atas tiga (atau satu,
tergantung pada ukuran dan kompleksitas proyek) anggota yang berpengalaman dan memiliki
pengetahuan tentang jenis konstruksi, interpretasi dokumen kontrak, proses DB dan benar-benar
independen dan tidak memihak. Suatu DB dibentuk pada permulaan suatu proyek dan kepada
anggota DB harus diberikan Dokumen Kontrak seperti Persyaratan Kontrak, Gambar, Spesifikasi dan
Program Kerja sehingga para Anggota menjadi terbiasa dengan proyek. DB mengunjungi lapangan
secara teratur, katakanlah tiga bulanan, untuk bertemu dengan orang lapangan dan mengamati
kemajuan dan permasalahan proyek, jika ada. Di antara kunjungan-kunjungan lapangan, Enjinir atau
para Pihak mengirimkan Laporan Bulanan Kemajuan Proyek, Pemberitahuan Klaim dan
korespondensi penting lainnya kepada anggota DB agar anggota DB tetap terinformasikan. DB
merupakan bagian dari tim pelaksanaan yang membantu para pihak menghindari sengketa dan
menyelesaikan sengketa melalui negosiasi yang bersifat kekeluargaan. Jika para pihak gagal
menyelesaikan sengketa, sengketa dirujuk ke DB untuk dimintakan penetapannya. Karena anggota
DB sudah terbiasa dengan dokumen kontrak dan pelaksanaan di lapangan serta kemajuan proyek,
tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk mempertimbangkan suatu sengketa. Meskipun jika
penetapan ditolak oleh satu atau kedua pihak, ini akan menjadi dasar bagi negosiasi selanjutnya
dalam suasana kekeluargaan. Jadi, manfaat dari DB adalah pencegahan terjadinya sengketa dan
penyelesaian sengketa secara dini tanpa menyimpan sikap permusuhan.

Terdapat tiga jenis utama DB, Dispute Review Board (DRB), Dispute Adjudication Board(DAB)
dan Combined Dispute Board (CDB).

Modul 6
10
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
ANALISA KASUS SENGKETA KONTRAK KONSTRUKSI DAN PENYELESAIANNYA

Penelusuran kasus-kasus dilakukan melalui penelaahan dokumen, dan selanjutnya akan


diolah untuk menggambarkan realitas/fenomena mengenai sengketa yang terjadi pada
industri jasa konstruksi di Indonesia.

Analisis kasus sengketa konstruksi melalui dokumen putusan pengadilan untuk


mendapatkan bentuk dasar dari anatomi sengketa konstruksi dan menguji pola yang
terbentuk berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhi.Analisa studi kasus ini menggunakan
sampel kasus konstruksi lalu dianalisis kasus perdata yang dapat mewakili jenis proyek
dengan penyelesaian litigasi dan non litigasi. Penyelesaian litigasi yang dimaksudkan adalah
gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat melalui pengadilan

Data putusan tersebut untuk selanjutnya diolah menjadi suatu diagram alir putusan
Mahkamah Agung yang berisi ringkasan masing-masing kasus dari awal sengketa tersebut
terjadi hingga putusan Mahkamah Agung diambil. Diagram alir tersebut kemudian dianalisis
hingga mencapai suatu kesimpulan.

Analisis pada studi kasus ini dibagi menjadi empat bagian yaitu analisis pihak bersengketa
dan jenis proyek, analisis karakteristik penyebab sengketa,manalisis jangka waktu
penyelesaian sengketa, dan analisa biaya yang digugat.

Misal: Pihak bersengketa terdiri dari kontraktor BUMN sebagai penyedia jasa, pemerintah
atau swasta sebagai penggunajasa, dan warga sebagai pihak lain yang terlibat dalam suatu
proyek. Pihak pihak ini yang akan dianalisis secara kualitatif hingga dapat diketahui pihak
mana yang berpengaruh dalam suatu kasus sengketa.

Jenis proyek dalam studi kasus n ini diklasifikasikan menurut Grace (2010), yang membagi
tipe proyek konstruksi menjadi tujuh bagian, yaitu pemukiman, bangunan, kelembagaan atau
komersil, industri, industri khusus, jalan, dan heavy construction.

Analisis karakteristik penyebab sengketa konstruksi memuat analisis mengenai penyebab


atau akar permasalahansuatu sengketa yang diselesaikan melalui jalur litigasi hingga
mencapai tingkat Mahkamah Agung. Pengelompokan faktor penyebab sengketa konstruksi
diambil dari penelitian terdahulu oleh Yan (2011), yaitu :

a) faktor pekerjaan,

Faktor pekerjaan menunjukkan permasalahan yang muncul akibat faktor eksternal dan
faktor internal. Faktor ketidak lengkapan kontrak terdiri dari permasalahan klausul yang
bermakna dua, kurangnya klausul dalam kontrak, serta permasalahan lain yang berasal
dari kontrak konstruksi ketidak lengkapan kontrak, dan

b) faktor manusia.

Faktor manusia menunjukkan permasalahan yang muncul akibat dari faktor tingkah laku
manusia ataupun dari faktor psikologis.

Modul 6
11
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Analisis jangka waktu penyelesaian sengketa didefinisikan sebagai lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah sengketa tersebut yang ditempuh melalui jalur
litigasi hingga mencapai tingkat Mahkamah Agung.Jangka waktu penyelesaian sengketa
pada studi kasus ini dibagi menjadi dua bagian.Bagian pertama adalah jangka waktu dari
Perjanjian hingga adanya Putusan Mahkamah Agung.Sedangkan yang kedua adalah jangka
waktu dari Putusan Pengadilan Negeri hingga adanya Putusan Mahkamah Agung.

Alasan analisis dibagi menjadi dua bagian adalah untuk memberi gambaran lamanya proses
penyelesaian sengketa melalui peradilan pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu pada tingkat
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.

Analisis biaya digugat didefinisikan sebagai biaya yang diperjuangkan oleh kedua bela
sengketa. Besarnya biaya ini diperoleh dari angka dalam satuan Rupiah, yang dijadikan
dasar pengajuan tuntutan oleh salah satu pihak kepada pihak lain. Analisis biaya digugat
diperlukan untuk memberi gambaran mengenai hasil putusan Mahkamah Agung Indonesia.

Pada studi kasus sengketa konstruksi ini juga dapat dilihat jenis sengketa pada tahap
pelaksanaan konstruksi atau pada tahap pelelangan.

TAHAPAN ANALISA

Peserta pelatihan didorong untuk dapat mengidentifikasi para pihak yang bersengketa.Misal
pihak bersengketa dibagi menjadi tiga, yaitu pemerintah /kontraktor BUMN, pihak swasta,
dan masyarakat.Peserta pelatihan juga didorong untuk dapat mengidentifikasi pokok perkara
yang digugat oleh salah satu pihak yang bersengketa.

Hasil analisa sengketa kontrak konstruksi umumnya yang terjadi di tingkat litigasi melibatkan
pihak pribadi memiliki proyek berbadan hukum dan pihak kontraktor swasta lokal berbadan
hukum, khusus untuk jenis proyek kompleks.Sedang analisa sengketa kontrak kunstruksi
infrastruktur didominasi oleh pihak pemerintah dan untuk jenis proyek sederhana pengguna
jasa didominasi oleh pengguna jasa perorangan.

Indikator penyebab terjadinya sengketa pada umumnya dikarenakan waktu penyelesaian


pekerjaan terlambat di luar kontrak dan pengguna jasa tidak memenuhi kewajiban
pembayaran prestasi (capaian pengerjaan proyek) kepada kontraktor. Selain itu apabila
membedah kasus terkait proses sengketa, diketahui secara umum sengketa terjadi pada
saat prestasi pekerjaan memasuki tingkat akhir. Maka dari prestasi tersebut, sengketa
seringkali muncul seiring dengan adanya klaim-klaim sebelum sengketa terjadi.

Untuk analisa kasus penyelesaian sengketa, pada umumnya sengketa yang diselesaikan di
tingkat litigasi, mengalami banding. Selain itu pihak yang memiliki inisiatif membawa kasus
ke tingkat litigasi adalah pihak penyedia jasa terutama pada proyek bangunan
infrastruktur.Sedangkan di tingkat banding, pihak pengguna jasa memiliki inisiatif lebih pada
jenis proyek bangunan sederhana dan bangunan kompleks.Untuk rasio waktu penyelesaian
sengketa terhadap waktu kontrak terbesar pada jenis bangunan sederhana yang rata-rata
memakan waktu 11 kali lebih lama dari waktu kontrak semestinya. Dan waktu tersingkat
pada jenis proyek bangunan infrastruktur yang rata-rata menghabiskan waktu 2,6 kali dari
waktu kontrak yang disepakati di awal.

Modul 6
12
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Penggambaran faktor penyebab sengketa konstruksi dapat memberikan pengetahuan
bahwa setiap jenis proyek konstruksi memiliki karakteristik berbeda.. Melalui modul ini,
diharapakan peserta dapat mengetahui proses penyelesaian sengketa dan dapat
mengidentifikasi potensi kelemahan-kelemahan kontrak yang digunakan saat ini, sehingga
dapat merekomendasikan perbaikannya dan dapat juga digunakan sebagai rekomendasi
perbaikan standar kontrak yang berlaku di Indonesia.

Untuk jenis proyek, bahwa proyek yang paling banyak menjadi permasalahan sengketa
adalah proyek pembangunan mall atau yang termasuk building construction.

Proyek untuk mencari keuntungan, sehingga pada proyek ini akan banyak menimbulkan
konflik akibat tuntutan yang tinggi. Tuntutan ini pada umumnya dari sisi tampilan, efisiensi
bangunan, keamanan maupun pemengembangkan.Proyek bangunan dan industri khusus
tidak memiliki pengaruh pada penelitian ini. Hal ini dikarenakan proyek bangunan umumnya
memiliki tingkat kompleksitas yang relatif rendah karena hanya mencakup renovasi ataupun
instalasi, sedangkan untuk industri khusus, walaupun memiliki tingkat kompleksitas yang
tinggi,namun belum banyak dibangun di Indonesia.

Hasil penelitian lebih lanjut antara para pihak yang bersengketa, pihak yang mengajukan
gugatan, serta jenis proyek menghasilkan suatu kesimpulan baru.Proyek bangunan
merupakan jenis proyek yang paling dominan dominan bersengketa. Dari lima kasus proyek
bangunan, empat diantaranya merupakan sengketa antara pihak BUMN dan swasta. Apabila
dihubungkan antara jenis proyek dengan pihak lima kasus proyek bangunan, seluruhnya
merupakan permohonan pihak penyedia jasa, namun empat diantaranya dimenangkan oleh
pengguna jasa.

Penyebab sengketa paling dominan yang ditempuh melalui jalur litigasi adalah faktor
pekerjaan (task factors memberi pengaruh besar adalah komponen internalAnalisis biaya
digugat didefinisikan sebagai biaya yang diperjuangkan oleh kedua belah

Pihak yang sengketa. Besarnya biaya ini diperoleh dari angka dalam satuan Rupiah, yang
dijadikan dasar pengajuan tuntutanoleh salah satu pihak kepada pihak lain. Analisis biaya
digugat diperlukan untuk memberi gambaran mengenai hasil putusan Mahkamah Agung
Indonesia.

Setelah mengikuti lembar kerja tersebut di atas dan menyepakati hasil dari diskusi tersebut
berarti .Anda telah menyelesaikan materi identifikasi dampak sengketa kontrak konstruksi..
Silahkan mencoba latihan berikut untuk mengingat kembali dan mengukur tingkat
kerberhasilan anda sampai pada tahap pembelajaran ini.

Modul 6
13
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
LATIHAN SOAL 1
1. Sebutkan jenis-jenis sengketa!
2. Dampak apa saja yang ditimbulkan setelah terjadinya sengketa?
3. Bagaimana cara menganalisa suatu sengketa kontrak kerja konstuksi?
4. Bagaimana cara penyelesaian sengketa kontrak konstruksi untuk mengurangi dampak
yang ditimbulkan akibat adanya sengketa tersebut?

Apabila belum berhasil menjawab silahkan pelajari kembali materi terkait pengertian
sengketa kontrak konstruksi pada modul sebelumnya dan identifikasi dampak sengketa
kontrak kerja konstruksi pada modul ini. Selamat berlatih.

RANGKUMAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :

Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain karena klaim yang tidak dilayani misalnya
keterlambatan pembayaran, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, perbedaan penafsiran
dokumen kontrak, ketidak mampuan baik teknis maupun manajerial dari para pihak. Selain
itu sengketa konstruksi dapat pula terjadi apabila pengguna jasa ternyata tidak
melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dengan baik dan mungkin tidak memiliki dukungan
dana yang cukup.

Klaim adalah suatu tuntutan ataupun permohonan atas suatu keadaan dan apabila
dihubungkan dengan pengertian dalam dunia jasa konstruksi maka dapat diartikan secara
sederhana bahwa klaim konstruksi adalah permohonan atau tuntutan yang timbul dari atau
sehubungan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan jasa konstruksi antara pengguna jasa
dan penyedia jasa atau antara penyedia jasa utama dengan sub-penyedia jasa atau
pemasok bahan atau antara pihak luar dengan pengguna jasa / penyedia jasa yang
bisaanya mengenai permintaan tambahan waktu, biaya atau kompensasi lain “

Dalam menghadapai masalah konstruksi haruslah diingat bahwa penyelesaian dengan


musyawarah jauh lebih baik dari pada mengajuan klaim.Tujuan yang hendak dicapai
bukanlah untuk membuktikan siapa yang benar melainkan penyelesaian masalah yang ada.
Banyak cara untuk menyelesaikan perselisihan dalam suatu proyek. Diperlukan sikap
terbuka (open minded) dan keinginan yang kuat dalam menyelesaikan masalah dari pihak
terlibat. Adanya kesadaran bahwa dalam menyelesaikan proyek tepat waku, cost dan
standar mutu dan spesifikasi sesuai dengan perjanjian sebelumnya adalah tujuan utamanya
(Wahyuni, 1996). Bila salah satu pihak tidak memenuhi syarat yang sudah dipenuhi, maka
perselisihan tersebut tidak akan selesai.

Jika klaim konstruksi tidak dapat diselesaikan dengan segera, pihak-pihak yang terlibat
harus dilanjutkan ke forum penyelesaian masalah lebih formal. Yang termasuk dalam hal ini
adalah : Negosiasi, Mediasi, Arbitrasi dan Litigasi.

Modul 6
14
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Penyelesaian sengketa melalui arbitrase lebih disukai, dalam Undang-Undang Arbitrase
Baru 1999, dinyatakan antara lain bahwa dibandingkan dengan berperkara biasa memalui
pengadilan negeri, arbitrase lebih diutamakan oleh pelaku bisnis internasional. Salah satu
sebab adalah karena “lebih cepat, murah dan sederhana”.

.Pada prakteknya walaupun pengaturan arbitrase sudah jelas dan pelaksanaannya bisa
berjalan tanpa kendala namun dalam eksekusinya sering mengalami hambatan dari
pengadilan negeri.

EVALUASI MATERI 1
Pilihlah salah satu jawaban dari soal evaluasi materi berikut dengan dilingkari atau
disilang.
1. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan memiliki keuntungan. Di bawah ini yang
merupakan keuntungan pengadilan adalah ……
a. Mutlak terikat pada hukum acara yang berlaku
b. Majelis hakim pengadilan ditentukan oleh pemerintah
c. Pola pertimbangan pengadilan dan putusan hakim adalah win win
d. Tertutup untuk umum (kecuali kasus cerai)
2. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan memiliki kelemahan. Di bawah ini yang
merupakan kelemahan pengadilan adalah ……
a. Biaya perkara relative mahal dan telah ditentukan oleh MARI
b. Adanya hambatan berarti dalam pembentukan majelis hakim yang memeriksa
perkara
c. Memiliki juru sita dan atau sarana pelaksanaan prosedur hukum acara
d. Pelaksanaan putusan tidak dapat dipaksakan secara efektif terhadap pihak yang
kalah dalam perkara
3. Berikutini yang merupakanbentuk Arbitrase adalah ….
a. arbitrase sementara (ad-hoc)
b. arbitrasipermanen (intitusi)
c. arbitrase semipermanen
d. jawaban a dan b benar
4. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase memiliki keunggulan. Di bawah ini yang
merupakan keunggulan arbitrase adalah …..
a. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif tidak dapat
dihindari
b. kerahasiaan sengketa para pihak terjamin
c. tempat penyelenggaraan arbitrase ditentukan
d. putusan arbitrase merupakan putusan yang tidak mengikat para pihak
5. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase memiliki kelemahan. Di bawah ini yang
merupakan kelemahan arbitrase adalah …..

Modul 6
15
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
a. Honorarium arbiter, panitera dan administrasi relative murah
b. Relative sulit untuk membentuk majelis arbitrase lembaga Arbitrase Ad hoc
c. Memiliki juru sita sendiri sehingga menghambat penetapan prosedur
d. Putusan arbitrase memiliki daya paksa yang efektif

Umpan Balik
Cocokan jawaban anda dengan Kunci Jawaban. Hitunglah jawaban anda yang benar,
kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap
materi Modul
Untuk latihan soal, setiap soal memiliki bobot nilai yang sama, yaitu 20/soal.
Tes formatif:
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 – 100 % = baik sekali
80 – 89 % = baik
70 – 79 % = cukup
< 70 % = kurang

Tindak Lanjut
Bila anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan ke materi
selanjutnya. Tetapi bila tingkat penguasaan anda masih di bawah 80%, Anda harus
mengulangi materi modul 6, terutama bagian yang belum anda kuasai.

Modul 6
16
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
MATERI
STUDI KASUS :
PENYELESAIAN SENGKETA
2 KONSTRUKSI MELALUI
JALUR LITIGASI
MATERI 2 STUDI KASUS : PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI MELALUI
JALUR LITIGASI

Indikator keberhasilan

Setelah mempelajari materi 2 tentang studi kasus penyelesaian sengketa


kontrak kerja konstruksi ini indikator ke keberhasilan adalah apabila anda
dapat :
1. Mengidentifikasi unsur-unsur hukum yang ada pada kasus sengketa
kontrak kerja konstruksi
2. Menganalisa penyelesaian sengketa kontrak konstruksi pada studi kasus
tersebut, dan
3. Menjelaskan metode penyelesaian sengketa konstruksi mana yang
paling efektif

Pada pembelajaran modul ini anda beserta kelompok diminta untuk prkatik langsung
bagaimana menganalisa suatu kasus penyelesaian sengketa kontrak konstruksi. Dalam
Kegiatan studi kasus ini Anda bersama kelompok diminta untuk :

1. Menjelaskan tentang proses menganalisa suatu penyelesaian sengketa konstruksi


mengkaitkan kegiatan belajar sebelumnya;

2. Mendikusikan baik secara pleno atau berkelompok tentang hasil studi kasus
penyelesaian sengketa konstruksi;

3. Membuat catatan berupa pokok-pokok pikiran yang dikemukakan peserta dalam


kelompok terkait analisa kasus yang ada;

4. Memberikan penegasan dengan memaparkan pokok-pokok pikiran penting tentang


hasil studi kasus dari contoh kasus penyelesaian sengketa kontrak konstruksi;

5. Buatlah kesimpulan dari analisa studi kasus penyelesaian sengketa kontrak konstruksi
yang telah dilakukan.

Modul 6
17
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
A. CONTOH KASUS PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI
PENGADILAN

Para Pihak

Para Pihak

PT. Gajah Muda Perkasa, berkedudukan di Jl. Sirnaresmi No. 161 Pelabuhan Ratu,
Sukabumi, Jawa Barat selaku Penggugat

melawan

1. Ambasador Gading Serpong

2. Paramount Serpong, keduanya berkedudukan di Jl. Boulevard Gading Serpong, Blok


BA 4/40-45 Gading Serpong, Tangerang, selaku para Tergugat.

Gugatan

Kontrak Konstruksi

No. 160/AGS/TEK-SP3/V/2006 tanggal 3 Mei 2006

No. 277/AGS/TEK-SP3/I/2007 tanggal 25 September 2006

No. 025/PS/TEK-SP3/2007 tanggal 17 Januari 2007

Tentang Pekerjaan Pembangunan Ruko Fifth Avenus ex Astadia No. 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 10,


11, 12 dan No. 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27;

Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Putusan Nomor 366/ Pdt.G/2009/PN.Tng,


tanggal 8 Juni 2010

Bahwa PT. Gajah Muda Perkasa (Penggugat) telah menyelesaikan semua kewajibannya
seperti yang diminta baik oleh Ambasador Gading Serpong (Tergugat I) maupun
Paramount Serpong (Tergugat II) baik berdasarkan SPK, SPK Tambah Kurang, Side
Memo, Minutes of Meeting , maka proyek pembangunan di atas Tergugat I dan Tergugat II
mempunyai kewajiban pembayaran penyelesaian proyek tersebut dengan perincian
sebagai berikut:

 Pekerjaan yang termasuk dalam Surat Perintah Kerja Rp. 172.821.911.89,-

 Pekerjaan tambahan yang tidak termasuk dalam Surat Perintah Kerja Rp.
835.640.000,-

Total kewajiban Tergugat I dan Tergugat II sebesar Rp. 1.008.461.911,89,- (satu milyar
delapan ratus juta empat ratu enam puluh satu ribu Sembilan ratus sebelas koma delapan
puluh Sembilan rupiah).

Modul 6
18
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
PUTUSAN

Terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Tangerang telah mengambil putusan, yaitu
nomor 366/Pdt.G/2009/PN.Tng. tanggal 8 Juni 2010 yang amarnya sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan Tergugat I dan Tergugat II berkewajiban untuk membayar sisa


pembayaran pekerjaan pokok sebesar Rp. 172.821.911,89 kepada penggugat;

3. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II secara tanggung renteng memanayar kepada


Penggugat uang sejumlah Rp. Rp. 172.821.911,89Rp. 172.821.911,89;

4. Menolak gugat Peggugat untuk selebihnya;

5. Menghukun Penggugat untuk membayar biaya yang timbul akibat perkara ini yang
hingga kini dihitung sejumlah Rp. 266.000,- (dua ratus enam puluh enam ribu rupiah).

Putusan Pengadilan Tinggi Banten Nomor 85/Pdt/2010/PT.Btn., tanggal 24 Februari


2011

Dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat putusan Pengadilan Negeri tersebut
telah dinyatakan tidak dapat diterima oleh Pengadilan Tinggi Banten dengan ptusaun
Nomor 85/Pdt/2010/Pt.Btn, tanggal 24 Februari 2011yang marnya sebagai berikut:

1. Menyatakan permohonan banding yang dimohonkan oleh PT. gajah MAda Persada
(Pembanding semula Penggugat) tidak dapat diterima;

2. Menghukum Pembanding semula Pengugat untuk membayar biaya perkara dalam


kedua tingkat peradilan yang dalam tingkat banding sebesar Rp.150.000,- (seratus
lima puluh ribu rupiah)

Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1586 K/Pdt/2011

PT. Gajah Mada Persada mengajukan permohonan kasasi dengan memori kasasi yang
pokoknya adalah:

1. Judex Facti salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku; Bahwa Majelis
Hakim Pengadilan Tinggi Banten telah salah atau lalai dalam menerapkan undang-
undang khususnya pasal 50Undang-undang No, 48 tahun 2009 tentang kekuasaan
Kehakiman yangmenyatakan “Putusan Pengadilan selain harus memuat alasan dan
dasr putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perudang-undangan yang
bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasr untuk mengadilu”,
bahwa didalam memutuskan perkara tersebut Majelis Hakim Pengadilan Tinggi
Banten tidak memuat satu pasalpun dari peraturan Perundang-udangan yang
berlaku;

2. Bahwa Pemohon kasasi sangat keberatan dengan pertimbangan Majelis Hakim


Pengadilan Negeri Tangerang pada halam 34 alinea 3 (tiga) yang menyatakan:’

Modul 6
19
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
menimbang bahwa bukti-bukti tersebut di atas dari segi formil nilai bukti dari alat bukti
surat adalah merupakan surat-surat biasa, yang baru dianggap sebagai permulaan
pembuktian dengan surat, sehingga dibutuhkan alat bukti lain sebagai pendukung
untuk memberikannya mempunyai nilai bukti menurut hukum…”, Dan pada halaman
29 alenia 4 (empat) Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang menyatakan:
“Menimbang, bahwa ternyata selama proses persidangan perkara ini tidak ada alat
bukti lain yang diajukan oleh Penggugat untuk mendukung alat bukti surat
sebagaimana dijelaskan di atas, maka dengan demikian surat-surat dimaksud
tidaklah mempunyai nilai untuk membuktikan dalil yang menjadi beban pembuktian
Penggugat.

3. Bahwa dalam pertimbangan pada point 2 (dua) di atas, Majelis Hakim Pengadilan
Negeri Tangerang, telah lalai atau salah menerapkan hukum/peraturan, karena sudah
sangat jelas selain mengajukan bukti-bukti tersebut di atas Pemohon Kasasi telah
pula mengajukan saksi yaitu sdr. Agus Hartriyanto yang memebrikan eternagn di
depan persidangan di bawah sumpah sebagai berikut: menerangkan bahwa dalam
pengerjaan proyek embangunan ruko Fifth Avenue ex MPU, Fifth Avenue ex astadia
dan renovasi kantor pemasaran, terdapat pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan
Penggugat di luar dari pekerjaan pokok dan pekerjaan ini tentunya menjadi pekerjaan
tambah dan dalam pembangunan ruko tersebut ada 3 kontraktor yang mempunyai
keajiban pekerjaan yang seharusnya ikerjakan oleh kontrator lain, tetapi tidak
dikerjakan dan Tergugta I memerintahkan Penggugat melalui site memo, surta resmi
atau bahkan hanya dengan lisan, untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut;

4. Bahwa terbukti berdasarkansaksi Agung Hartriyanto yang memberikan keterangan di


hadapan persidangan di bawah sumpah, menerangkan bahwa perintah-perintah kerja
tambahan tersebut diberikan langsung oleh para Tergugat dengan menggunakan site
memo, surat resmi, atau bahkan hanya dengan lisan, jadi tidak benar apabila
diakatakan Pemohon Kasasi/Pembanding/Penggugat tidak mengajukan bukti
pendukung lain;

5. Bahwa apabila Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang mempertimbangkan alat-


alat bukti berupa saksi yang Penggugat ajukan tersebut, jelas terlihat bahwa alat-alat
bukti surat miliki Pemohon Kasasi/Pembanding/Penggugat telah mempunyai nilai
pembuktian yang sempurna;

6. Bahwa dengan demikian telah sempuranya bukti-bukti surat Penggugat ajukan yaitu
P-6, P-7, P-8, P-9, P-14, P-15, P-16, P-17, P-18, P-19, P-23 maka pertimbangan
judexfactipada halaman 35 alenia 4 seharusnya manjadi suatu pertimbangan yang
cacat hukum;

7. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang telah salah atau lalai dalam
penerapan hukum karena telah tidak mempertimbangkan alat bukti
Penggugat/Pemohon Kasasi/Pembanding yaitu saksi Agus Hartriyanto, yang apabila
bukti tersebut dipertimbangkan tentunya akan sampai pada suatu kesimpulan yang
menyatakan bahwa memang benar pekerjaan-pekerjaan Pemohon Kasasi/Penggugat
yang dikerjakan berdasarkan perintah-perintah dari Termohon Kasasi/Tergugat
melalui surat, site memo, tanda tangan gambar dll. sebagaimana Pemohon

Modul 6
20
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Kasasi/Penggugat ajukan sebagai bukti yaituP-6, P-7, P-8, P-9, P-14, P-15, P-16, P-
17, P-18, P-19, P-23, merupakan pekerjaan tambah diluar dari Surat Perintah Kerja
Pokok;

8. Bahwa berkaitan dengan itu maka pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri
Tangerang dalam halaman 36 alenia 7 (tujuh) pun seharusnya menjadi berbeda,
karena dengan telah terbuktinya dalil Penggugat/Pembanding, maka terbukti pula
Tergugat/Termohon Kasasi/Terbanding, telah melakukan wanprestasi dan
dibebankan untuk membayar sisa tagihan pokok sebesar Rp172.821.811,89 dan
pekerjaan tambah senilai Rp835.640.000,-

Pertimbangan Hakim

Mahkamah Agung berpendapat:

Mengenai alasan ke-1 sampai dengan ke-8:

Bahwa alasan-alasan ini tidak dapat dibenarkan, karena judex facti tidak salah menerapkan
hukum dengan pertimbangan Penggugat/Pembanding terlambat mengajukan banding,
sehingga permohonan banding tidak dapat diterima;

Bahwa alasan-alasan kasasi pada hakekatnya mengenai penilaian hasil pembuktian yang
bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan
dalam pemeriksaan dalam tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya
berkenaan dengan adanya kesalahan penerapan hukum, adanya pelanggaran hukum yang
berlaku, adanya kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan
perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang
bersangkutan atau pengadilan tidak berwenang atau melampaui batas wewenangnya
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan
perubahan kedua dangan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, lagi pula ternyata bahwa putusan
judex facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang,
maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi PT. GAJAH MUDA
PERSADA tersebut ditolak;

Modul 6
21
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
PEMBELAJARAN

Berdasarkan kasus perdata tersebut di atas,

a. Menurut saudara pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus perdata tersebut di atas?

b. Apakah putusan hakim MA yang dijatuhkan terhadap salah satu pihak sudah sesuai
dengan harapan masyarakat?

Modul 6
22
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Kesimpulan

Rangkuman

Buatlah rangkuman dari apa yang sudah Anda pelajari dari Studi Kasus Penyelesaian
Sengketa Melalui Pengadilan tersebut diatas. Terrmasuk unsur hukum kontrak konstruksi
yang ada pada kasus tersebut.

Modul 6
23
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
B. CONTOH KASUS PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI
ARBRITASE

Para Pihak

PT. Putra Semesta Baruga,

Berkedudukan di Komplek BTN. Makkio Baji D 8/9 Makassar, (dahulu Berkedudukan di


jalan Ahmad Yani No. 35 E Makasar ) ;

Selaku Pemohon Perkara arbitase di BANI

Melawan

Muh. Djafaral Saihal, Ketua Umum DPC HIPPI Kabupaten Mamuja Bertempat tinggal di
Lumba- Lumba Nomor 27 Bulukumba ;

Selaku Termohon perkara Arbitase di BANI

Gugatan

Kontrak Kontruksi :

No 006/PSB/ADM/X/1998 tanggal 8 Oktober 1998 tentang pembangunan Lods Pasar


Sentral Mamuja, di Kabupaten Mamuju

PUTUSAN

Terhadap gugatan tersebut Badan Arbitase Nasional telah Mengambil keputusan No.
229/VII/ARBBANI/2006Tanggal 12 juli 2007 yang isinya mengabulkan tuntutan ganti rugi
yang di ajukan oleh pemohon, PT Putra semesta Baruga, sehubungan dengan
pembangunan Lods Pasar Sentral Mamuju, dengan dasar termohon telah melakukan
wanprestasi, akibat tidak dipenuhinya batas waktu penyelesaian.

Putusan Pengadilan Negeri Mamuju No 09/Pdt, ARB. BANI/2007/PN.MU tanggal 2


oktober 2007 putusan lembaga arbitase di atas ternyata tidak final, karena pihak yang
kalah dalam putusan arbitase dalam hal ini, Muh Djafaral Saihal, menyatakan
ketidaksetujuannya dan mengajukan gugatan ke pengadilan Negeri Mamuju danpihak
pengadilan negeri menerima serta mengadili perkaranya. Setelah memlaui suatu proses,
pengadilan negeri mamuju menjatuhkan putusannya No.09/Pdt, ARB.BANI/2007/PN.MU
tanggal 2 Oktober 2007 yang isinya mengukuhkan putusan lembaga arbitase,

Modul 6
24
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
229/VII/ARBBANI/2006 tanggal 17 juli 2007

Putusan Mahkamah Agung No 259.K/Pdt.Sus/2008 tanggal 28 juli 2008 Pihak yang


kalah dalam perkara di pengadilan Negeri Mamuju, dalam hal ini Muh.Djafaral Saihal,
mengajukan banding ke Mahkamah agung, dengan alasan tidak dipenuhinya ketentuan
pasal 72 ayat 2 dan pasal 72 ayat 3 UU no 30 tahun 1999. Atas perjanjian pemborongan
tersebut, kedua belah pihak telah melakukan kesepakatan bersama pada tanggal 16
agustus 1999, disepakatinya suatu perubahan status kedua belah pihak yakni kedua
belah pihak justru bekerja sama dalam disepakatinya pula kalau pihak kedua menjadi ikut
sebagai penjual bangunan Lods Pasar sebagaimana termuat dalam kesaksian tertulis
Ketua KSU satria 45 Soppeng, Putusan Mahkamah Agung No 259.K/Pdt.Sus/2008
tanggal 28 juli 2008 tanggal 28 juli 2008, menyatakan menguatkan putusan pengadilan
negeri mamuju. No 09/Pdt, ARB. BANI/2007/PN.MU tanggal 2 oktober 2007 , yang
mengukuhkan putusan lembaga Arbitase No 229/VII/ARBBANI/2006 tanggal 17 Juli 2007.

Pertimbangan Hakim

Menyatakan menguatkan putusan pengadilan negeri mamuju. No 09/Pdt, ARB.


BANI/2007/PN.MU tanggal 2 oktober 2007 , yang mengukuhkan putusan lembaga Arbitase
No 229/VII/ARBBANI/2006 tanggal 17 Juli 2007.

PEMBELAJARAN

Berdasarkan kasus perdata tersebut di atas,

a. Menurut saudara pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus perdata tersebut di atas?

Modul 6
25
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
b. Apakah putusan hakim MA yang dijatuhkan terhadap salah satu pihak sudah sesuai
dengan harapan masyarakat?

Modul 6
26
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Kesimpulan

Rangkuman

Buatlah rangkuman dari apa yang sudah Anda pelajari dari Studi Kasus Penyelesaian
Sengketa Melalui Pengadilan tersebut diatas. Terrmasuk unsur hukum kontrak konstruksi
yang ada pada kasus tersebut.

Modul 6
27
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
PENUTUP

Dalam menghadapai masalah sengketa kontrak konstruksi haruslah diingat bahwa


penyelesaian dengan musyawarah jauh lebih baik dari pada mengajuan klaim.Tujuan yang
hendak dicapai bukanlah untuk membuktikan siapa yang benar melainkan penyelesaian
masalah yang ada. Banyak cara untuk menyelesaikan perselisihan dalam suatu proyek.
Diperlukan sikap terbuka (open minded) dan keinginan yang kuat dalam menyelesaikan
masalah dari pihak terlibat. Adanya kesadaran bahwa dalam menyelesaikan proyek tepat
waku, cost dan standar mutu dan spesifikasi sesuai dengan perjanjian sebelumnya adalah
tujuan utamanya Bila salah satu pihak tidak memenuhi syarat yang sudah dipenuhi, maka
perselisihan tersebut tidak akan selesai.

Apabila sengketa kontrak kerja konstruksi tidak dapat diselesaikan dengan segera, pihak-
pihak yang terlibat harus dilanjutkan ke forum penyelesaian masalah lebih formal. Yang
termasuk dalam hal ini adalah : Negosiasi, Mediasi, Arbitrasi dan Litigasi. Jalur litigasi
merupakan pilihan terkahir karena berbagai kelemahan yang melekat pada badan
pengadilan dalam menyelesaikan sengketa, baik kelemahan yang dapat diperbaiki ataupun
tidak, maka banyak kalangan yang ingin mencari cara lain atau institusi lain dalam
menyelesaikan sengketa di luar badan-badan pengadilan..

Dalam hal upaya penyelesaian sengketa tidak tercantum dalam kontrak kerja konstruksi para
pihak yang bersengketa membuat suatu persetujuan tertulis mengenai tata cara
penyelesaian sengketa yang akan dipilih. Tahapan upaya penyelesaian sengketa
meliputi:Mediasi; Konsiliasi; dan Arbitrase yaitu BADAPSKI. Selain upaya penyelesaian
sengketa para pihak dapat membentuk dewan sengketa. Dalam hal upaya penyelesaian
sengketa dilakukan dengan membentuk dewan sengketa pemilihan keanggotaan dewan
sengketa dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas dan tidak menjadi bagian dari
salah satu pihak.

Dari pembelajaran modul ini peserta diharapkan dapat menganalisa contoh kasus sengketa
kontrak konstruksi yang ada sehingga menghasilkan suatu hasil analisa kasus tersebut.

Modul 6
28
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
KUNCI JAWABAN

Jawaban Evaluasi
1. B
2. D
3. D
4. A
5. C

Modul 6
29
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
DAFTAR PUSTAKA
Buku Referensi

Abdurrasyid, P (2002) Pengusaha Indonesia Perlu Meningkatkan Minatnya Terhadap


Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (Alternative Disputes
Resolution – ADR/ Arbitration) Suatu Kajian, dalam Jurnal : Hukum Bisnis, Vol
21/ Oktober-November 2002

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia,


www.putusan.mahkamahagung.go.id

“Different Types of Construction Contracts and Projects” Sudargo, G. (1999).

Fisher, R, et.al. (1991) Getting To Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa
Memaksakan Kehendak, dalam Hariyanto, D dan Situmorang G (Terj.), Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta

Fuady, M (2002) Penyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Arbitrase, dalam Jurnal :


Hukum Bisnis, Vol 21/ Oktober-November 2002

Goetz, J., Gibson G. (2009), Quantification of Transactional Dispute Resolution Costs


for the U.S. Construction Industry”.Dissertation. University of Texas..

Goodpaster (1999) Panduan Negosiasi dan Mediasi, dalam Togar Simanjuntak (Terj.),
Ellips

Grace, F. (2010), American Society of Civil Engineers.

Harahap, M.Y (2002) Beberapa Catatan Yang Perlu Mendapat Perhatian atas UU No. 30
tahun 1999, dalam Jurnal : Hukum Bisnis, Vol 21/ Oktober-November 2002

Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Jakarta, Sinar Grafika, 2008,
hal.1

Henry Campbel Black, Black’s Law Dictionary 5th ed, st. Paul MN, West publishing Co.
1979, hal. 224

Munir, M (1997). Penggunaan Pengadilan Negeri Sebagai Lembaga Untuk


Menyelesaikan Sengketa Dalam Masyarakat Kasus penyelesaian sengketa
yang berkaitan dengan tanah dalam masyarakat di Kabupaten Bangkalan,
Madura.Surabaya :Disertasi,Universitas Airlangga Program Pascasarjana.

Nugroho, J (1998) Diktat Kuliah : Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, STIH
Jenderal Sudirman, Lumajang

Modul 6
30
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
Oxford.Gebken, R. (2006), “Risk Managemen and Construction”. Blackwell.

Prof. H. Priatna Abdulrasyid, Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Suatu


Pengantar,PT. Fikhahati Aneka, Jakarta, 2002, hal. iii Universitas Sumatera Utara 2.

Prodjodikoro, Wirjono. 1984.Hukum Acara Perdata di Indonesia. Bandung. Sumur


Bandung.

Situmorang, Victor m. .1993.Perdamaian dan Perwasitan dalam Hukum Acara


Perdata.Jakarta. PT Rineka Cipta

Syahrani, Riduan. 1988. Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan


Umum.Jakarta.Pustaka Kartini

Yan (2011), “Anatomy of Construction Disputes”. Run Run Shaw Library.

Yasin, Nazarkhan. 2004. Mengenal Klaim Konstruksi & Penyelesaian Sengketa


Konstruksi.PT. Gramedia Pustaka Utama.

Yasin,Nazarkhan.2006.Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia.PT.Gramedia Pustaka


Utama

W.J.S. Poewodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka, 1976, hal. 506
Universitas Sumatera Utara “

Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-Undang Perdata

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017Tentang Jasa Kontruksi.

Peraturan Pemerintah Nomor. 29 Tahun 2000 Tentang Peyelenggaraan Jasa Kontruksi

Undang-Undang Arbitrase Baru”, PT. Citra Aditya Bakti. Jakarta.

Website Referensi

Http:id.wikipedia.org/wiki/mediasi di akses pada tanggal 16 Oktober 2012

Http:://fourseasonnews.blogspot.com/2012/04/pengertian-konsiliasi.html diakses pada


tanggal 17 Oktober 2012 Cipta.1993.hlm 85

http://jurnal.uajy.ac.id/download/8/1/Alternatif%Penyelesaian%20Sengketa%20Jasa%20Kon
struksi.pcMirip, diakses pada tanggal 16 Oktober 2012, Pukul 13:15 WITA

Modul 6
31
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi
GLOSARI

Legal Procedence : Keterikatan putusan-putusan arbitrase sebelumnya

Badapski : Badan Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Heavy Consruction : Konstruksi Berat

BUMN : Badan Usaha Milik Negara

Open minded : Sikap Terbuka

Kasasi : Pembatalan atas keputusan-keputusan pengadilan

Modul 6
32
Analisis Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi