Anda di halaman 1dari 47

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI

“PRODUKSI SEDIAAN SALEP LUKA BAKAR YANG BAIK”


Dosen : Prof. Dr. Teti Indrawati, M.S., Apt.

Apoteker 40 A

Kelompok 9 :
Nadya Amelia (20340031)
Anindya Mutiara Sari (20340032)
Sang Ayu Hutami Putri Wibmantari (20340033)
Nindyasti Prameswari Ismanto (20340034)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
Karena atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Penlisan makalah ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas mata Kuliah
Teknologi Sediaan Farmasi tentang “Produksi Sediaan Salep Luka Bakar Yang
Baik” sesuai tepat waktunya.
Dalam penulisan makalan ini penulis banyak menerima bantuan dan
masukkan, untuk itu dengan penuh kerendahan hati dan hormat, penulis
menyampaikan terimakasih kepada Prof. Dr. Teti Indrawati, M.Si., Apt selaku
dosen Mata Kuliah Teknologi Sediaan Farmasi dan teman-teman kelompok yang
telah banyak membantu dalam penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalh ini masih jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya karena keterbatasan
ilmu dan kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis sangat membutuhkan
segala kritik dan saran yang membangun guna menghasilkan Makalah yang jauh
lebih baik lagi dari yang sekarang

Jakarta, 7 Oktober 2020

Penulis

ii
Institut Sains dan Teknologi Nasional
DAFTAR ISI

COVER....................................................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................2
1.3. Tujuan........................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................3
2.1. Luka Bakar................................................................................................3
2.1.1. Definisi Luka Bakar...........................................................................3
2.1.2. Patofisiologi.......................................................................................3
2.1.3. Penyembuhan Luka Bakar.................................................................4
2.2. Sediaan Topikal.........................................................................................4
2.2.1. Sediaan Salep.....................................................................................5
2.2.2. Karakteristik Salep Yang Baik...........................................................5
2.2.3. Kelebihan dan Kekurangan................................................................6
2.2.4. Persyaratan Salep...............................................................................6
2.2.5. Penggolongan Salep...........................................................................7
2.2.6. Basis Salep.........................................................................................8
2.2.7. Dasar Salep yang Baik.......................................................................9
2.2.8. Macam-macam Basis Salep...............................................................9
2.2.9. Peraturan-Peraturan Pembuatan Salep.............................................10
2.2.10. Cara Pembuatan Salep.....................................................................11
2.3. Evaluasi Sediaan......................................................................................11
2.4. Pengemasan dan Penyimpanan...............................................................13
2.5. Penandaan................................................................................................14
2.6. Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB)..............................................15
2.7. Tata Letak Ruang Produksi.....................................................................21
2.8. Praformulasi............................................................................................21

iii
Institut Sains dan Teknologi Nasional
BAB 3PEMBAHASAN........................................................................................24
3.1. Formulasi Sediaan Salep.........................................................................24
3.2. Perhitungan dan Penimbangan Bahan.....................................................29
3.3. Alur Kerja Sumber Daya Manusia (SDM)..............................................29
3.4. Alur Pengadaan Bahan Baku...................................................................30
3.5. Alur Barang.............................................................................................31
3.6. Alur Produksi Bahan Baku......................................................................32
3.7. Alur Produksi Sediaan Salep...................................................................33
3.8. Metodologi..................................................................................................38
3.8.1 Penyiapan Ruangan...............................................................................38
3.8.2 Alat dan Bahan......................................................................................38
3.8.3. Cara Pembuatan....................................................................................38
BAB 4 PENUTUP.................................................................................................40
4.1. Kesimpulan..................................................................................................40
4.2. Saran............................................................................................................41
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................42

iv
Institut Sains dan Teknologi Nasional
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar, Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep
yang cocok. Salep merupakan bentuk sediaan dengan konsistensi semisolida yang
berminyak dan pada umumnya tidak mengandung air dan mengandung bahan
aktif yang dilarutkan atau didispersikan dalam suatu pembawa (Dirjen POM,
1995) .
Luka bakar adalah salah satu insiden yang terjadi di masyarakat khususnya
rumah tangga. Luka bakar terjadi pada kulit, selaput lendir, saluran pernafasan
dan saluran cerna. Gejalanya berupa sakit,bengkak, merah dan melepuh karena
permeabilitas pembuluh darah meningkat. Dapat diartikan sebagai cedera yang
mengakibatkan morbiditas dan derajat cacat yang relative tinggi dibandingkan
dengan cedera oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganan luka
bakar pun ternyata cukup tinggi.
Obat yang sering digunakan oleh masyarakat dalam menangani luka bakar
adalah sediaan salep. Salep merupakan salah satu sediaan semi padat yang
mudah dioleskan yang di dalamnya terkandung berbagai zat kimia dan
berbagai obat, yang umumnya digunakan secara topikal pada bagian tubuh
kulit yang mengalami gangguan, seperti luka, pegal-pegal maupun gatal-gatal
(Anief, 2005). Basis salep yang digunakan adalah basis salep serap (adeps
lanae) yang bersifat hidrofil yang dapat menyerap kelebihan air. Selain itu
pemakaian pada kulit dapat merupakan lapisan penutup, melunakkan kulit
hingga salep dapat dengan mudah untuk dipakai (Anief, 1993).
Proses produksi sediaan salep telah diatur dalam Cara Pembuatan Obat yang
Baik (CPOB) Indonesia, dengan memperhatikan standar-standar mutu, sehingga
kualitas sediaan dapat terjamin selama waktu yang telah ditentukan (sebelum
tanggal kadaluarsa). Setiap memproduksi satu bets, ada dokumen-dokumen yang
harus dilengkapi untuk mencapai standar sediaan yang efektif dan aman. Suatu
produksi harus berjalan sesuai dengan CPOB untuk menjamin bahwa tingkat
kualitas dapat terpelihara, dan tidak rusak oleh proses apapun. Dalam pembuatan

1
Institut Sains dan Teknologi Nasional
2

obat, pengawasan yang menyeluruh disertai pemantauan sangat penting untuk


menjamin agar konsumen memperoleh produk yang memenuhi persyaratan mutu
yang ditetapkan. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi dan
pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia yang menangani. Hal ini
berkaitan dengan seluruh aspek produksi dan pemeriksaan mutu.
Setiap proses produksi sediaan farmasi diawasi oleh apoteker, karenanya
pengetahuan tentang produksi sediaan farmasi harus dipahami oleh apoteker,
sehingga apoteker dapat memastikan mutu suatu sediaan farmasi. Dengan
demikian pada makalah ini penulis akan membahas lebih dalam lagi tentang
sediaan salep luka bakar dengan metode pembuatan sesuai dengan CPOB.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana memproduksi sediaan salep luka bakar dengan cara yang baik?
2. Apa komponen sediaan dan bagaimana rancangan formulasi sediaan salep
luka bakar?
3. Bagaimana pengadaan barang dan alur pada sediaaan salep luka bakar?
4. Bagaimana alur, proses, produksi, evaluasi, pengemasan, penyimpanan dan
distribusi pada sediaan salep luka bakar?

1.3. Tujuan
1. Untuk memahami dalam memproduksi sediaan luka bakar dengan cara yang
baik
2. Untuk memahami komponen dan rancangan formula yang digunakan dalam
sediaan salep luka bakar
3. Untuk memahami pengadaan barang dan alur pada sediaan salep luka bakar
4. Untuk memahami alur, proses, produksi, evaluasi, pengemasan, penyimpanan
dan distribusi pada sediaan salep luka bakar

Institut Sains dan Teknologi Nasional


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Luka Bakar


2.1.1. Definisi Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan adanya kontak dengan sumber panas seperti api, air panas,
bahan kimia, listrik dan radiasi. Kerusakan jaringan yang disebabakan api
dan cairan panas lebih berat dibandingkan air panas. Ledakan dapat
menimbulkan luka bakar dan menyebabkan kerusakan organ. Bahan kimia
terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan
sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses
penyembuhan. Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas
dan kedalaman kerusakan jaringan. Semakin lama waktu kontak, semakin
luad dan dalam kerusakan jaringan yang terjadi (Moenadjat, 2003).
2.1.2. Patofisiologi
Luka bakar dikategorikan sebagai luka bakar termal, radiasi atau luka
bakar kimiawi. Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah sehingga air, natrium, klorida dan protein tubuh akan keluar
dari dalam sel dan menyebabkan terjadinya edema yang dapat berlanjut pada
keadaan hipofalaemi dan hemokonsentrasi.
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan
kesakitan.Pembuluh kapiler yang terpejan suhu tinggi rusak dan
permeabilitas meninggi.Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga
dapat terjadi anemia (Syamsu dan Jong, 1997).
Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara
lain:keluasan luka bakar, kedalaman luka bakar, umur pasien, agen
penyebab, fraktur atau luka – luka lain yang menyertai, penyakit yang
dialami terdahulu seperti : diabetes, jantung, ginjal, dan lain – lain, obesitas,
adanya trauma inhalasi.

3
Institut Sains dan Teknologi Nasional
4

2.1.3. Penyembuhan Luka Bakar


Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini
dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu,
zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan (Syamsu dan
Jong,1997). Proses yang kemudian pada jaringan rusak ini adalah
penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam 3 fase:
1. Fase inflamasi
Fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca
luka bakar. Dalam fase ini terjadi perubahan vaskuler dan proliferasi
seluler.Daerah luka mengalami agregasi trombosit dan mengeluarkan
serotonin.Mulai timbul epitelisasi.
2. Fase Fibroblastik
Fase yang dimulai pada hari ke 4-20 pasca luka bakar.Pada fase ini
timbul serabut fibroblast yang membentuk kolagen yang tampak
secara klinis sebagai jaringan granulasi yang berwarna kemerahan.
3. Fase maturasi
Terjadi proses pematangan kolagen. Pada fase ini terjadi pula
penurunan aktivitas seluler dan vaskuler, berlangsung hingga 8
bulan sampai lebih dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada
tanda-tanda radang.Bentuk akhir dari fase ini berupa jaringan parut
yang berwarna pucat, tipis, lemas tanpa rasa nyeri atau gatal.

2.1.4. Faktor-faktor yang mempercepat penyembuhan luka bakar


Dalam kondisi bersih, sikap mental positif, kesehatan baik,
usia muda, nutrisi baik, dan keseimbangan antara gerak dan
latihan. Faktor-faktor yang menghambat penyembuhan luka bakar
adalah faktor psikologi (takut dan stres), kurang mobilisasi, nutrisi
kurang baik, usia tua dan sirkulasi udara kurang baik.

2.2. Sediaan Topikal


Sediaan topikal adalah obat-obat yang diberikan atau digunakan pada kulit,
terutama untuk pemakaian lokal maupun sistemik dari suatu obat. Sediaan farmasi

4
yang digunakan pada kulit biasanya digunakan untuk membantu kerja lokal dari
suatu obat, untuk bisa membuat suatu obat dalam sediaan topikal dibutuhkan
suatu formulasi yang dapat membantu zat aktif dalam memberikan efek terapi di
kulit. Formulasi sediaan topikal menggunakan basis sebagai bahan yang dapat
membawa zat aktif, penggunaan basis pada sediaan topikal disesuaikan dengan
beberapa parameter, anatara lain : homogenitas zat aktif dan basis, lamanya
pelepasan zat aktif, kestabilan zat aktif dalam suatu basis, basis yang mudah
dicuci dengan air atau yang sukar dicuci dengan air, dan tergantung dari
permukaan tempat pengolesan (Ansel, 1989).
2.2.1. Sediaan Salep
Sediaan salep merupakan sediaan setengah padat yang zat aktifnya
terdapat dalam basis salep, basis salep ini dapat bersifat hidrofil maupun
hidrofob. Basis memegang peran penting dalam formula salep yang baik.
Basis sediaan salep dibedakan menjadi basis hidrokarbon, basis salep serap,
basis salep mudah dibilas, dan basis salep larut air (Ansel, 1989).
Menurut FI. Ed III, Salep adalah sediaan semi padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Menurut FI.ed IV, salep adalah
sediaan setengah padat ditunjukan untuk pemakaian topikal pada kulit
atau selaput lendir. Salep tidak boleh  berbau tengik. Kecuali
dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep mengandung obat keras atau
narkotika adalah 10%.
2.2.2. Karakteristik Salep Yang Baik
1. Stabil, selama masih dipakai dalam masa pengobatan. Maka salep harus
bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban
yang ada dalam kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi
lunak dan homogen, sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,
inflamasi dan ekskoriasi.
3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit.
4. Dasar salep yang cocok adalah dasar salep yang kompatibel secara fisika
dan kimia dengan obat yang dikandungnya.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


5. Terdistribusi secara merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar
salep padat atauu cair pada pengobatan.
2.2.3. Kelebihan dan Kekurangan
a.Kelebihan Salep
1. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit .
2. Sebagai bahan pelumas pada kulit.
3. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit
dengan larutan berair dan rangsang kulit .
4. Sebagai obat luar.
5. Salep dengan dasar salep lanolin mempunyai sifat yang lebih mudah
tercuci dengan air dibandingkan dasar salep berminyak.
b. Kekurangan Salep
Berdasarkan Basis :
1. Kekurangan Basis Hidrokarbon
Sifatnya yang berminyak dapat meninggalkan noda pada pakaian serta
sulit tercuci dan sulit dibersihkan dari permukaan kulit.
2. Kekurangan Basis Absorpsi
Kurang tepat bila di pakai sebagai pendukung bahan bahan antibiotik
dan bahan bahan kurang stabil dengan adanya air dan mempunyai sifat
hidrofil atau dapat mengikat air .
2.2.4. Persyaratan Salep
1. Pemerian yang tidak boleh berbau tengik.
2. Kadar yaitu kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung
obat keras atau obat narkotik, kadar bahan obat adalah 10%.
3. Dasar salep yaitu kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep
(basis salep) digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung dari
sifat bahan obat dan tujuan pemakaian salep.
4. Homogenitas yaitu jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan
transparan lain yang cocok, harus menunjukan susunan yang homogen.
5. Penandaan: pada etiket harus tertera “obat luar”.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


2.2.5. Penggolongan Salep
1. Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi:
a. Unguenta, adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti
mentega, tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan
tanpa memakai tenaga.
b. Cream, adalah salep yang banyak mengandung air, mudah diserap
kulit. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
c. Pasta, adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat
(serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau
pelindung bagian kulit yang diberi.
d. Cerata, adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase
tinggi lilin (waxes), sehingga konsistensinya lebih keras.
e. Gelones Spumae, adalah suatu salep yang lebih halus. Umumnya
cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama
pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Biasanya terdiri
dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang
rendah.
2. Menurut efek terapinya, salep dibagi atas:
a. Salep Epidermis (salep penutup)
Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk
melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal, karena bahan obat
tidak diabsorpsi. Kadang – kadang ditambahkan antiseptik, astringen
untuk meredakan rangsangan. Dasar salep yang terbaik adalah
senyawa hidrokarbon (vaselin).
b. Salep Endodermic
Salep dimana bahan obatnya menembus dalam tetapi tidak melalui
kulit dan terabsorbsi sebagian.Untuk melunakkan kulit atau selaput
lender diberi local iritan.Dasar salep yang baik adalah minyak
lemak.
c. Salep Diadermic (salep serap)
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan
mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi

Institut Sains dan Teknologi Nasional


seluruhnya,misalnya pada salep yang mengandung senyawa
Mercuri,Iodida,Belladonae.Dasar salep yang baik adalah adeps lanae
dan Oleum Cacao.
3.Menurut dasar salepnya, salep dibagi atas:
a. Salep hydrophobic , yaitu salep – salep dengan bahan dasar
berlemak, misalnya campuran dari lemak-lemak, minyak lemak,
malam yang tak tercuci dengan air.
b. Salep hydrophilic, yaitu salep yang kuat menarik air, biasanya dasar
salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic, tetapi konsistensinya
lebih lembek, kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran
sterol dan petrolatum.
2.2.6. Basis Salep
Basis salep adalah komponen yang sangat penting dalam sediaan salep.
Basis salep berfungsi sebagai pembawa, pelindung, dan pelunak kulit, basis salep
harus dapat melepaskan obat ke dalam kulit. Menurut Farmakope Indonesia IV
basis salep dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
1. Dasar Salep Hidrokarbon
Dasar salep hidrokarbon dikenal juga sebagai dasar salep berlemak. Tujuan
dari salep hidrokarbon yaitu untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan
kulit, dan juga dapat berfungsi untuk pembalut penutup luka. Dasar salep yang
berminyak dapat digunakan untuk efek emollient (melembutkan), dasar salep
ini dapat bertahan lama dikulit dan sukar dicuci. Contoh dasar salep
hidrokarbon adalah vaselin, paraffin dan jelene.
2. Dasar Salep Serap
Dasar salep serap, terdiri dari 2 kelompok. Kelompok 1 dasar salep serap yang
dapat bercampur dengan air dengan membentuk emulsi air dalam minyak
(W/O), contohnya seperti paraffin hidrofilik dan lanolin anhidrat. Dan
kelompok 2 yaitu emulsi minyak dalam air (O/W). Dasar salep serap juga
berfungsi sebagai emollient, akan tetapi tidak dapat menutup luka seperti pada
dasar salep hidrokarbon. Contoh dasar salep serap yaitu adeps lanae,
unguentum simplex, dan lanolin.
3. Dasar Salep Yang Dapat Dicuci Dengan Air

Institut Sains dan Teknologi Nasional


Yaitu dasar salep yang bercampur antara minyak didalam air, antara lain
adalah salep hidrofilik (krim). Dasar salep ini adalah dasar salep yang mudah
dicuci dengan air, karena mudah dicuci dengan air dapat diterima sebagai
dasar untuk pembuatan kosmetik. Contoh dasar salep yang dapat dicuci
dengan air adalah hydrophylic ointment yang terbuat dari minyak mineral,
stearil alkohol, dan mrjy 52 tipe M/A, dan aquadest.
4. Dasar Salep Yang Larut Dalam Air
Dasar salep ini disebut juga sebagai dasar salep yang tidak berlemak dan
terdiri dari konstituen yang larut dalam air. Disebut juga sebagai gel. Contoh
dasar salep yang larut dalam air yaitu salep polietilen glikol atau campuran
PEG. Keuntungan penggunaan PEG yaitu tidak mengiritasi kulit, memiliki
daya lekat, distribusi yang baik terhadap kulit, tidak menghambat pertukaran
gas dan produksi keringat, sehingga efektivitas lebih lama.
2.2.7. Dasar Salep yang Baik
1. Tidak menghambat proses penyembuhan luka/penyakit pada kulit
tersebut.
2. Di dalam sediaan secara fisik cukup halus dan kental.
3. Tidak merangsang kulit.
4. Reaksi netral, pH mendekati pH kulit yaitu sekitar 6-7.
5. Stabil dalam penyimpanan.
6. Tercampur baik dengan bahan berkhasiat.
7. Mudah melepaskan bahan berkhasiat pada bagian yang diobati.
8. Mudah dicuci dengan air.
9. Komponen-komponen dasar salep sesedikit mungkin macamnya.
10. Mudah diformulasikan/diracik
2.2.8. Macam-macam Basis Salep
1. Vaselin Album
Vaselin album merupakan basis salep campuran yang dimurnikan dari
hidrokarbon setengah padat, diambil dari minyak bumi dan dihilangkan
warnanya. Pemeriaan dari vaselin putih yaitu putih atau kuning pucat,
massa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah dilakukan
pendinginan dengan suhu 0˚c. Vaselin dengan warna kekuning-

Institut Sains dan Teknologi Nasional


kuningan, kuning muda melebur dengan temperature 38˚c dan 60˚c.
Vaselin album bersifat tidak larut dalam air, sukar larut didalam etanol
dingin dan panas, mudah larut dalam benzene, karbo disulfida,
kloroform, heksana, dan dalam sebagian minyak lemak. Vaselin album
berkhasiat sebagai pembawa atau basis.
2. Adeps Lanae
Adeps lanae merupakan lemak bulu domba,mengandung kolesterol yang
tinggi, kadar tinggi dalam bentuk ester dan alkohol sehingga dapat
mengabsorbsi air. Bila digunakan pada kulit dapat merupakan lapisan
penutup dan melunakkan kulit. Adeps lanae baunya kurang
menyenangkan.
2.2.9. Peraturan-Peraturan Pembuatan Salep
Peraturan-peraturan pembuatan salep terdiri dari (Depkes, 1995):
1. Peraturan salep pertama
“Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak, dilarutkan
kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan”.
2. Peraturan salep kedua
“Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada peraturan
peraturanlain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, diharapkan jumlah air
yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep, jumlah air
yang dipakai dikurangi dari basis”.
3. Peraturan salep ketiga
“Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam
lemakdan air harus diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan
ayakan no.B.40(no.100)”.
5. Peraturan salep keempat
“Salep-salep yang dibuat dengan melelehkan, campurannya harusdiaduk
sampai dingin”.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


2.2.10. Cara Pembuatan Salep
Salep umumnya dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan obat
ke dalam salep dasar. Ada beberapa metode pembuatan salep. Yaitu :
1. Metode pelelehan
Zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk
sampai membentuk fase yang homogen.
2. Metode triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai
atau dengan salah satu zat pembantu,kemudian dilanjutkan dengan
penambahan sisa basis.
3. Salep yang dibuat dengan cara peleburan

2.3. Evaluasi Sediaan


1. Uji Organoleptik
Pengamatan yang dilakukan oleh dalam uji ini adalah bentuk sediaan, bau dan
warna sediaan. Parameter kualitas salep yang baik adalah bentuk sediaan
setengah padat, salep berbau khas ekstrak yang digunakan dan berwarna
seperti ekstrak (Anief,1997).
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas sediaan salep dilakukan untuk melihat perpaduan bahan-
bahan (basis dan zat aktif) sehingga menjadi bentuk salep yang homogen.
Jika terdapat perbedaan sifat pada basis dan zat aktif akan terjadi proses
penggumpalan sehingga mengakibatkan bentuk sediaan yang memiliki
partikel lebih besar dari sediaan (Lachman, 1994). Uji homogenitas dilakukan
dengan cara mengamati hasil pengolesan salep pada plat kaca. Salep yang
homogen ditandai dengan tidak terdapatnya gumpalan pada hasil pengolesan
sampai titik akhir pengolesan. Salep yang diuji diambil dari tiga tempat yaitu
bagian atas, tengah dan bawah dari wadah salep (Depkes, 1995).
3. Uji Pengukuran pH
Pengujian pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Pengukuran pH
dimaksudkan untuk mengetahui sifat dari salep dalam mengiritasi kulit. Kulit
normal berkisar antara pH 4,5-6,5. Nilai pH yang melampaui 7 dikhawatirkan

Institut Sains dan Teknologi Nasional


dapat menyebabkan iritasi kulit. Pengukuran nilai pH menggunakan alat
bantu stik pH atau dengan menggunakan kertas kertas pH universal yang
dicelupkan ke dalam 0,5 gram salep yang telah diencerkan dengan 5ml
aquadest. Nilai pH salep yang baik adalah 4,5-6,5 atau sesuai dengan nilai pH
kulit manusia.
4. Uji Daya Sebar
Pengujian daya sebar tiap sediaan dengan variasi tipe basis dilakukan untuk
melihat kemampuan sediaan menyebar pada kulit, dimana suatu basis salep
sebaiknya memiliki daya sebar yang baik untuk menjamin pemberian obat
yang memuaskan. Perbedaan daya sebar sangat berpengaruh terhadap
kecepatan difusi zat aktif dalam melewati membran. Semakin luas membran
tempat sediaan menyebar maka koefisiendifusi makin besar yang
mengakibatkan difusi obat pun semakin meningkat, sehingga semakin besar
daya sebar suatu sediaan maka semakin baik (Hasyim, 2012).
5. Uji konsistensi
Uji konsistensi merupakan suatu cara untuk menentukan sifat berulang,
seperti sifat lunak dari setiap jenis salep. Melalui sebuah angka ukur untuk
memperoleh konsistensi dapat digunakan alat metode penetrometer
(R.voight,1995).
6. Uji Viskositas
Viskositas sediaan salep diukur dengan menggunakan alat viskometer rion.
salep dimasukkan kedalam cup italic dan rotor dipasang. Kemudian alat
dihidupkan dan viskositas yang terbaca dicatat.
7. Uji Daya Lekat
Pengujian daya lekat dilakukan dengan cara menimbang salep 0,25 g
diletakkan di atas gelas obyek yang telah ditentukan luasnya, lalu diletakkan
gelas obyek yang lain di atas salep tersebut dan ditekan dengan beban 1 kg
selama 5 menit. Selanjutnya dipasang gelas obyek pada alat tes. Dilepas
beban seberat 80 gram,dan dicatat waktunya hingga kedua gelas obyek
tersebut terlepas.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


2.4. Pengemasan dan Penyimpanan
Sediaan setengah padat harus pula dilindungi melalui kemasan penyimpanan
yang sesuai dan pengaruh pengerusakan oleh udara, cahaya, uap air (lembab) dan
panas serta kemungkinan terjadinya interaksi kimia antara preparat dengan wadah.
Salep biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube, botol dapat dibuat
dan gelas tidak berwarna, warna hijau, amber atau biru atau buram dan porselin
putih. Botol plastik juga dapat digunakan. Wadah dan gelas buram dan berwarna
berguna untuk salep yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya. Tube
dibuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi tambahan kemasan
dengan alat bantu khusus bila salep akan digunakan untuk dipakai melalui rektum,
mata, vagina, telinga atau hidung. Tube dan salep untuk pemakaian pada mata
kebanyakan dikemas dalam kaleng atau plastik kecil dan dapat dilipat yang dapat
menampung sekitar 1 sampai 5 gram salep. Tube salep untuk pemakaian topikal
lebih sering dari ukuran 5 sampai 30 gram. Botol untuk salep juga berbeda – beda
mulai dari ukuran terkecil ½ ounce sampai 1 pound atau lebih.
Botol salep dapat diisi dalam skala kecil oleh seorang ahli farmasi dengan
mengemas sejumlah salep yang sudah ditimbang ke dalam botol dengan memakai
spatula yang fleksibel dan menekannya ke bawah sejajar melalui tepi botol guna
menghindari kemungkinan terperangkapnya udara didalam botol. Mengemas
salep dalam botol perlu diperhatikan bahwa isi sedapat mungkin mendekati bagian
atas botol, tetapi tidak begitu tinggi sampai tutupnya kena salep apabila ditutup.
Salep yang dibuat dengan cara melebur dapat dituangkan langsung kedalam botol
salep untuk dibekukan dalam botol. Hal ini tentunya akan diperoleh hasil akhir
yang lebih bagus. Pembuatan salep dalam skala besar, pengisian sejumlah tertentu
dan salep masuk kedalam botol dengan tekanan.
Tube umumnya diisi dengan bertekanan alat pengisi dan bagian ujung
belakang yang terbuka (ujung yang berlawanan dan ujung tutup) dan tube yang
kemudian ditutup dengan segel. Salep yang dibuat dengan cara peleburan dapat
dituangkan langsung kedalam tube. Pada skala kecil seperti yang dibuat
berdasarkan resep dokter, pengisian dan tube salep oleh ahli farmasi di apotek,
dapat diisi dengan cara sebagai berikut:

Institut Sains dan Teknologi Nasional


1. Salep yang telah dibuat digulung diatas kertas perkamen menjadi bentuk
silinder, diameter sedikit lebih kecil dan tube supaya dapat diisikan dengan
panjang kertas yang lebih dari tube.
2. Tutup tube dilepas supaya udara keluar, silinder dan salep dengan kertas
dimasukkan ke dalam bagian ujung bawah tube yang terbuka.
3. Potongan kertas yang melipat salep dipegang oleh salah satu tangan sedang
lainnya menekan dengan spatula yang berat kearah tutup tube sampai tube
tadi penuh dan sambil menarik perlahan – lahan kertas salep tadi dilepaskan,
ratakan permukaan salep dengan spatula, kurang lebih ½ inci dari ujung
bawah.
4. Bagian bawah yang disisakan, dilipat 2 x 1/8 inci dan dibuat dan ujung bawah
tube yang dipipihkan, ditekan/ dijepit dengan penyesalep luka bakartepat
diatas lipatan untuk menyakini bahwa sudah betul – betul tertutup.
Penjepit dapat digunakan dari tang tangan atau dengan mesin lipat yang
dijalankan dengan tangan atau kaki. Salep dalam tube lebih menguntungkan
pemakaiannya dari pada botol, disebabkan lebih muda dan menyenangkan
digunakan oleh pasien dan tidak mudah menimbulkan keracunan. Pengisian dalam
tube juga mengurangi terkena udara dan menghindari terkontaminasi dari mikroba
yang potensial, oleh karena itu akan stabil dan dapat tahan lama pada pemakaian
dibanding dengan salep dalam botol. Kebanyakan salep harus disimpan pada
temperatur dibawah 30o C untuk mencegah melembek apalagi dasar salepnya
bersifat dapat mencair. Contoh Beberapa Tube Salep: Tube Salep Kulit dan Tube
Salep Mata.

2.5. Penandaan
Pada etiket tertera nama sediaan, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan
tanggal kadaluarsa, nama pabrik pembuat dan atau pengimpor  serta nomor lot
atau bets yang menunjukkan identitas. Nomor lot dan nomor bets dapat
memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh
proses pengolahan, pengisian, pengemasan, dan penandaan, cara penyimpanan
dan tanggal kadualarsa.Pemberian etiket pada wadah sedemikian  rupa sehingga 

Institut Sains dan Teknologi Nasional


sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan
secara visual dan penandaan pada etiket harus tertera “ obat luar”

2.6. Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB)


Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk menjamin obat
dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan
tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan
pengendalian mutu.
1. Manajemen Mutu
Unsur dasar manajemen mutu adalah:
a. suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat mencakup struktur
organisasi, prosedur, proses dan sumber daya.
b. tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian
dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau jasa
pelayanan) yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan. Keseluruhan tindakan tersebut disebut Pemastian Mutu.

Semua bagian sistem Pemastian Mutu hendaklah didukung dengan


ketersediaan personil yang kompeten, bangunan dan sarana serta peralatan yang
cukup dan memadai. Tambahan tanggung jawab legal hendaklah diberikan kepada
kepala Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Sistem Pemastian Mutu yang benar
dan tepat bagi pembuatan obat hendaklah memastikan bahwa:

a. desain dan pengembangan obat dilakukan dengan cara yang


memerhatikan persyaratan CPOB;
b. semua langkah produksi dan pengawasan diuraikan secara jelas dan
CPOB diterapkan;
c. tanggung jawab manajerial diuraikan dengan jelas dalam uraian jabatan;
d. pengaturan disiapkan untuk pembuatan, pemasokan dan penggunaan
bahan awal dan pengemas yang benar;
e. semua pengawasan terhadap produk antara dan pengawasan selama-
proses lain serta dilakukan validasi;

Institut Sains dan Teknologi Nasional


f. pengkajian terhadap semua dokumen terkait dengan proses, pengemasan
dan pengujian tiap bets, dilakukan sebelum memberikan pengesahan
pelulusan untuk distribusi produk jadi. Penilaian hendaklah meliputi
semua faktor yang relevan termasuk kondisi produksi, hasil pengujian
selama-proses, pengkajian dokumen pembuatan (termasuk pengemasan),
pengkajian penyimpangan dari prosedur yang telah ditetapkan,
pemenuhan persyaratan dari Spesifikasi Produk Jadi dan pemeriksaan
produk dalam kemasan akhir;
g. obat tidak dijual atau didistribusikan sebelum kepala Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu) menyatakan bahwa tiap bets produksi dibuat dan
dikendalikan sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam izin edar
dan peraturan lain yang berkaitan dengan aspek produksi, pengawasan
mutu dan pelulusan produk;
h. tersedia pengaturan yang memadai untuk memastikan bahwa, sedapat
mungkin, produk disimpan, didistribusikan dan selanjutnya ditangani
sedemikian rupa agar mutu tetap dijaga selama masa simpan obat;
i. tersedia prosedur inspeksi diri dan/atau audit mutu yang secara berkala
mengevaluasi efektivitas dan penerapan sistem Pemastian Mutu;
j. pemasok bahan awal dan bahan pengemas dievaluasi dan disetujui untuk
memenuhi spesifikasi mutu yang telah ditentukan oleh perusahaan;
k. penyimpangan dilaporkan, diselidiki dan dicatat;
l. tersedia sistem persetujuan terhadap perubahan yang berdampak pada
mutu produk;
m. prosedur pengolahan ulang produk dievaluasi dan disetujui; dan
n. evaluasi berkala mutu obat dilakukan untuk verifikasi konsistensi proses
dan memastikan perbaikan proses yang berkesinambungan
2. Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan
penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang
benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan
personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan
semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-

Institut Sains dan Teknologi Nasional


masing dan dicatat. Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPOB
serta memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi
mengenai higiene yang berkaitan dengan pekerjaannya.
3. Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain,
konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat
dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak
dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko
terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan
pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan
pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang
dapat menurunkan mutu obat.
Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk menghindarkan
pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara,
tanah dan air serta dari kegiatan industri lain yang berdekatan. Apabila letak
bangunan tidak sesuai, hendaklah diambil tindakan pencegahan yang efektif
terhadap pencemaran tersebut.
Bangunan dan fasilitas hendaklah didesain, dikonstruksi, dilengkapi dan
dirawat sedemikian agar memperoleh perlindungan maksimal terhadap
pengaruh cuaca, banjir, rembesan dari tanah serta masuk dan bersarang
serangga, burung, binatang pengerat, kutu atau hewan lain. Hendaklah
tersedia prosedur untuk pengendalian binatang pengerat dan hama.
area penyimpanan, koridor dan lingkungan sekeliling bangunan
hendaklah dirawat dalam kondisi bersih dan rapi. Kondisi bangunan
hendaklah ditinjau secara teratur dan diperbaiki di mana perlu. Perbaikan
serta perawatan bangunan dan fasilitas hendaklah dilakukan hati-hati agar
kegiatan tersebut tidak memengaruhi mutu obat.
Area penimbangan. Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata
produk dengan cara penimbangan hendaklah dilakukan di area penimbangan
terpisah yang didesain khusus untuk kegiatan tersebut. Area ini dapat menjadi
bagian dari area penyimpanan atau area produksi.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


Area produksi. Untuk memperkecil risiko bahaya medis yang serius
akibat terjadi pencemaran silang, suatu sarana khusus dan self-contained
harus disediakan untuk produksi obat tertentu seperti produk yang dapat
menimbulkan sensitisasi tinggi (misal golongan penisilin) atau preparat
biologis (misal mikroorganisme hidup). Produk lain seperti antibiotika
tertentu, hormon tertentu (misal hormon seks), sitotoksika tertentu, produk
mengandung bahan aktif tertentu berpotensi tinggi, dan produk nonobat
hendaklah diproduksi di bangunan terpisah. Dalam kasus pengecualian, bagi
produk tersebut di atas, prinsip memproduksi bets produk secara ‘campaign’
di dalam fasilitas yang sama dapat dibenarkan asal telah mengambil tindakan
pencegahan yang spesifik dan validasi yang diperlukan telah dilakukan.
Area pengawasan mutu. Laboratorium pengawasan mutu hendaklah
terpisah dari area produksi. Area pengujian biologi, mikrobiologi dan
radioisotop hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain.
4. Peralatan
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan
konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan
dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta
seragam dari bets-ke-bets dan untuk memudahkan pembersihan serta
perawatan agar dapat mencegah kontaminasi silang, penumpukan debu atau
kotoran dan, hal-hal yang umumnya berdampak buruk pada mutu produk.
5. Sanitasi dan hygiene
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada
setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi
personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta
wadahnya, bahan pembersih dan desinfeksi, dan segala sesuatu yang dapat
merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial
hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang
menyeluruh dan terpadu.
6. Produksi
Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang
telah ditetapkan; dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa

Institut Sains dan Teknologi Nasional


menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi
ketentuan izin pembuatan dan izin edar.
7. Pengawasan mutu
Pengawasan Mutu merupakan bagian yang esensial dari Cara
Pembuatan Obat yang Baik untuk memberikan kepastian bahwa produk
secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.
Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua
tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal
pembuatan sampai kepada distribusi produk jadi.
Pengawasan Mutu mencakup pengambilan sampel, spesifikasi,
pengujian serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan
yang memastikan bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan
bahan tidak diluluskan untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual,
sampai mutunya telah dibuktikan memenuhi persyaratan.
8. Inspeksi diri, audit mutu dan audit & persetujuan pemasok
Mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu
industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB. Dirancang untuk mendeteksi
kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan 8
perbaikan yang diperlukan. Dilakukan secara independen dan rinci oleh
petugas yang kompeten dari perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan
CPOB secara obyektif Audit mutu dimana sebagai pelengkap inspeksi diri.
Pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu
dengan tujuan spesifik untuk meningkatkannya. Audit mutu umumnya
dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau independen atau suatu tim yang
dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan. Audit dan
Persetujuan Pemasok. Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)
hendaklah bertanggung jawab bersama bagian lain yang terkait untuk
memberi persetujuan pemasok yang dapat diandalkan memasok bahan awal
dan bahan pengemas yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.
Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi
kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan
perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara

Institut Sains dan Teknologi Nasional


independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari perusahaan yang dapat
mengevaluasi penerapan CPOB secara obyektif.
Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin dan, di samping itu, pada
situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau
terjadi penolakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan
supaya dilaksanakan. Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah
didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif.
9. Penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan
Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan
terjadi kerusakan obat harus dikaji dengan teliti sesuai dengan prosedur
tertulis. Untuk menangani semua kasus yang mendesak, hendaklah disusun
suatu sistem, bila perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui
atau diduga cacat dari peredaran secara cepat dan efektif.
10. Dokumentasi
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan
dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu.
Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap
personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga
memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul
karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, Dokumen
Produksi Induk/Formula Pembuatan, prosedur, metode dan instruksi, laporan
dan catatan harus bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis.
Keterbacaan dokumen adalah sangat penting.
11. Pembuatan dan analisa berdasarkan kontrak
Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar,
disetujui dan dikendalikan untuk menghindarkan kesalahpahaman yang dapat
menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan.
Kontrak tertulis antara Pemberi Kontrak dan Penerima Kontrak harus dibuat
secara jelas yang menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing
pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets
produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).

Institut Sains dan Teknologi Nasional


12. Kualifikasi dan validasi
menguraikan prinsip kualifikasi dan validasi yang dilakukan di industri
farmasi. CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi
validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek
kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas,
peralatan dan proses yang dapat memengaruhi mutu produk hendaklah
divalidasi. Pendekatan dengan kajian risiko hendaklah digunakan untuk
menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi.

2.7. Tata Letak Ruang Produksi

Gambar 1. Ruang Pembuatan Sediaan Salep

2.8. Praformulasi
1. Gentamisin
- Nama Lain : Gentamisin
- Struktur Molekul : C21H43N5O7
- Berat Molekul : 575,67
- Pemerian : serbuk; putih sampai kuning gading (Depkes RI, 1979)
- Kelarutan : larut dalam air, praktis tidak larut dalam alkohol dan eter
(Abe et all, 2002, hal.179)

Institut Sains dan Teknologi Nasional


2. Nipagin
- Nama Lain : E218; 4-hydroxybenzoic acid methyl ester; methyl p-
hydroxybenzoate;Nipagin M; Uniphen P-23, metilparaben
- Struktur Molekul : C8H8O3
- Berat Molekul : 152.15
- Pemerian : Kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih.
Tidak berbau atau sedikit rasa terbakar.
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam aseton, etanol (95%),
eter, dan toluena. Mudah tersebar dalam air pada semua suhu, membentuk
jelas, solusi koloid. Kelarutan air bervariasi dengan derajat substitusi
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
- Titik Lebur : 125–128°C

3. Vaselin Album
- Nama Resmi : Vaselin Album
- Nama Lain : Vaselin Putih
- Titik Leleh : 38-60oC
- Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai
kuning; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin
tanpa diaduk.
- Kelarutan : Tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzene,
dalam karbon disulfide, dalam kloroform, larut dalam heksana dan dalam
Sebagian besar minyak lemak dan minyak atsiri, sukar larut dalam etanol
dingin dan etanol panas.
- Stabilitas : Bila terkena cahaya, menyebabkan warna vaselin
menjadi pudar dan menghasilkan bau yang tidak enak.
- Khasiat : Zat tambahan, Basis salep

Institut Sains dan Teknologi Nasional


4. Parafin Liquidum
- Nama Lain : Avatech; Drakeol; heavy mineral oil; heavy liquid
petrolatum; liquid petrolatum; paraffin oil; Sirius; white mineral oil.
- Pemerian : Transparan, tidak berwarna, minyak kental cair,
tanpa floresensi pada cahaya matahari. Praktis tidak berbau saat dingin,
dan memiliki bau lemah vaselin saat dipanaskan.
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol (95%), gliserin,
dan air; larut dalam aseton, benzene, kloroform, carbon disulfida, eter, dan
petroleum eter. Tidak dapat bercampur dengan minyak atsiri dan fixed oil,
dengan bahan tambahan minyak jarak.
- Penyimpanan : Dalam wadah kedap udara, terlindung dari cahaya, tempat
sejuk, tempat kering.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


BAB 3
PEMBAHASAN

3.1. Formulasi Sediaan Salep


Tabel Pembahasan
Jumlah (%)
Komponen Karakteristik Bahan
F1 F2 F3
Bahan Aktif Ekstrak Daun Gentamisin Gentamisin a. Nama Lain : Gentamisin
Kelor 15% Sulfat 0,1 Sulfat 0,1% b. Struktur Molekul : C21H43N5O7
% c. Berat Molekul : 575,67
d. Pemerian : serbuk; putih sampai kuning
gading (Depkes RI, 1979)
e. Kelarutan : larut dalam air, praktis tidak
larut dalam alkohol dan eter (Abe et all,
2002, hal.179)
f. Penyimpanan : Kemasan kedap udara
(Abe et all, 2002, hal. 179)
g. pH : 3.5-5.5 (Abe et all, 2002, hal. 179)
h. Tidak aktif secara in vitro oleh golongan
penicillin dan sefalosporin karena
berinteraksi dengan cincin beta laktam,
perpanjangan dari inaktivasi tergantung
pada temperature,konsentrasi dan durasi
ikatannya.perbedaan varian
aminoglikosida terletak pada stabilitasnya
dengan amikacin secara nyata lebih
resisten dan tobramycin lebih rentan untuk
mengaktivasi; gentamycin dan netilmycin
cukup stabil. Beta laktam juga bervariasi
dalam kemampuannya untuk
menghasilkan inaktivasi, dengan
ampicilin, benzilpenicilin, dan
antipseudomonal penicillin seperti
karbenicilin dan tikarcilin menghasilkan
inaktivasi yang berpengaruh. Inaktivasi
juga dilaporkan dengan asam
klavulanat.gentamycin juga inkomptible
dengan furosemid,heparin, natrium
bikarbonat (pH asam dari larutan
gentamycin dapat menguraikan
karbondioksida), beberapa larutan untuk
nutrisi parenteral. Interaksi dengan
sediaan yang memiliki pH alkali
(contohnya sulfadiazine sodium), atau
obat yang tidak stabil pada pH asam
(contohnya garam eritromycin), dapat
layak untuk diperhatikan (Abe et all,
2002, hal. 210).
Bahan 1. Adeps 1. Adeps 1. Nipagin Vaselin Album
Tambahan Lanae Lanae (0,2%) a. Nama Lain: Merkur; mineral jelly;
(12,27 %) (14,9%) (Pengawet) petroleum jelly; Silkolene; Snow white;
2. Vaselin 2. Vaselin 2. Paraffin Soft white; yellow petrolatum; yellow

24
Album Album Liquidum petroleum jelly (Rowe, 2006, hal 509).
(72,25%) (85%) (10%) b. Pemerian : Petrolatum/vaselin album
Basis salep berwrna putih hinga kuning pucat,
3. Vaselin transparan, lembut, massa lebut. Berbau
Album lemah,tidak berasa, dan tidak lebih dari
(89,7%) sedikit floresensi karena cahaya,meskipun
Basis salep saat meleleh (Rowe, 2006, hal 509).
c. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam
aseton, etanol, ethanol (95%) panas atau
dingin, gliserin, dan air larut dalam
benzen, carbon disulfida, kloroform, ether,
hexane, dan dalam minyak atsiri (Rowe,
2006, hal 509).
d. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
baik, terlindung dari cahaya, tempat sejuk,
dan kering (Rowe, 2006, hal 509).
e. Titik Lebur : 38–60°C (Rowe, 2006, hal
509).
f. Inkompatibilitas : Petrolatum adalam
material inert dengan sedikit
inkompatibilitas (Rowe, 2006, hal 509).

Paraffin Liquidum
a. Nama Lain : Avatech; Drakeol; heavy
mineral oil; heavy liquid petrolatum;
liquid petrolatum; paraffin oil; Sirius;
white mineral oil (Rowe, 2006, hal 509).
b. Pemerian : Transparan, tidak berwarna,
minyak kental cair, tanpa floresensi pada
cahaya matahari. Praktis tidak berbau saat
dingin, dan memiliki bau lemah vaselin
saat dipanaskan.
c. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam
etanol (95%), gliserin, dan air; larut dalam
aseton, benzene, kloroform, carbon
disulfida, eter, dan petroleum eter. Tidak
dapat bercampur dengan minyak atsiri dan
fixed oil, dengan bahan tambahan minyak
jarak.
d. Penyimpanan : Dalam wadah kedap udara,
terlindung dari cahaya, tempat sejuk,
tempat kering.
e. Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan
agen pengoksidasi kuat (Rowe, 2006, hal
509).

Nipagin
a. Lain : E218; 4-hydroxybenzoic acid
methyl ester; methyl p-
hydroxybenzoate;Nipagin M; Uniphen P-
23, metilparaben
b. Struktur Molekul : C8H8O3
c. Berat Molekul : 152.15 (Rowe, 2006, hal-
466)
d. Pemerian : Kristal tidak berwarna atau
serbuk kristal putih. Tidak berbau atau
sedikit rasa terbakar (Rowe, 2006, Hal
465).

Institut Sains dan Teknologi Nasional


e. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam
aseton, etanol (95%), eter, dan toluena.
Mudah tersebar dalam air pada semua
suhu, membentuk jelas, solusi koloid.
Kelarutan air bervariasi dengan derajat
substitusi (Rowe, 2006, Hal 466).
f. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
(Depkes RI, 1979)
g. Titik Lebur: 125–128°C (Depkes RI,
1979)
h. Inkompatibilitas : Aktivitas antimikroba
metil paraben dan paraben lainnya
berkurang denga adanya surfakta
nonionic, seperti polisorbat 80, sebagai
hasil dari micellization.namun propilen
glikol telah menunjukkan potensi activitas
antimikroba dari parabean dengan
penambahan surfaktan nonionik dan
mencegah interaksi antara metilparabean
dan polisorbat 80. Inkompatibilitas dengan
subtansi lain,seperti bentonite, magnesium
trisilikat, talk, tragankan, natrium alginate,
minyak essensial, sorbitol, dan atropine
telah dilaporkan. Juga dilaporkan bereaksi
dengan bermacam-macam gula dan yang
berhubugan dengan gula alkohol.
Penyerapan methylparaben dengan plastik
juga telah dilaporkan; jumlah yang diserap
tergantung pada jenis plastik. Telah
diklaim bahwa kepadatan rendah dan
kepadatan tinggi polyethylene botol tidak
menyerap metilparabean. Methylparaben
tidak berwarna dengan penambahan besi
dan terhidrolisis oleh basa lemah dan asam
kuat substitusi (Rowe, 2006, Hal 466).
Karakteristik a. Bentuk Sediaan : Salep
Sediaan b. Organoleptis : Salep Berwarna putih
c. Persyaratan Kadar ; Tiap 5 g mendangung gentamisin 0,1%
d. pH ; 3,5-5,5
e. Penyimpanan : Dalam kemasan tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Metode Peleburan
Evaluasi 1. Pemeriksaan Organoleptis
Pengamatan dilakukan pada setiap sediaan salep secara organoleptis selama waktu
penyimpanan pada suhu kamar menunjukkan ada tidaknya perubahan warna maupun bau
yang dilakukan pada minggu ke 0,1,2,3,4,5,6,7 dan 8.
2. Pengujian Sifat Fisik Salep
a. Tes Daya Menyebar Salep
(1) Ditimbang 0,5 gram sediaan salep yang telah dibuat, kemudian salep diletakkan
ditengah alat (kaca bulat).
(2) Ditimbang terlebih da-hulu kaca penutup, meletakkan kaca tersebut diatas massa
salep dan biarkan selama 1 menit.
(3) Diukur diameter salep yang menyebar (me-ngambil panjang rata-rata dari beberapa
sisi).
(4) Ditambah 50 gram be-ban tambahan, diam-kan selama 1 menit dan diameter salep
yang menyebar dicatat seperti sebelumnya.
(5) Teruskan penambahan 50 gram beban seperti No.4.
(6) Gambar dalam grafik antara beban dan luas salep yang menyebar.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


(7) Dilakukan lagi perco-baan ini untuk tiap formulasi salep yang diperiksa (Miranti,
2009).
Daya sebar salep yang baik adalah 5,4-6,4 cm.g/s (Rajalakshmi et al., 2009)

b. Tes Daya Lekat


(1) Diletakkan salep se-cukupnya diatas gelas objek.
(2) Diletakkan gelas objek yang lain diatas salep tersebut, tekanlah dengan beban 1 kg
selama 5 menit.
(3) Gelas objek alat uji dipasang.
(4) Dilepaskan beban se-berat 80 gram dan mencatat waktunya hingga kedua gelas
objek tersebut ter-lepas.
(5) Dilakukan lagi perco-baan ini untuk tiap formulasi salep yang diperiksa (Miranti,
2009).
Daya lekat salep yang baik adalah 5-7 detik (SNI,1996)

c. Kemampuan Proteksi
(1) Diambil sepotong ker-tas saring (10 x 10 cm). Basahi dengan larutan fenolplatein
untuk indikator, kemu-dian kertas di-keringkan.
(2) Kertas tersebut di-oleskan dengan se-diaan salep yang akan dicoba ( pada salah satu
per-mukaan) seperti la-zimnya orang me-nggunakan salep.
(3) Sementara itu pada kertas saring yang lain, dibuat satu area ( 3 x 3 cm) dengan
parafin padat yang dileleh-kan. Setelah ke-ring, didapatkan area yang dibatasi
dengan parafin padat.
(4) Ditempelkan kertas tersebut (No.3) di atas kertas se-belumnya (No.2).
(5) Area ini ditetesi de-ngan larutan KOH 0,1 N kemudian lihat se-belah kertas yang
dibasahi dengan larutan fenolplatein pada waktu 15,30, 40,45,60 detik, 3 dan 5
menit. Apakah ada noda merah pada kertas tersebut. Bila tidak terdapat noda me-rah
berarti salep yang dibuat dapat memberikan pro-teksi terhadap cairan (laru-tan
KOH).
(6) Dilakukan lagi perco-baan ini untuk tiap for-mulasi salep yang di periksa (Miranti,
2009).
Jika tidak ada noda merah pada kertas saring tersebut berarti salep dapat
memberikan proteksi terhadap cairan (larutan KOH) (SNI, 1996)

d. Pengukuran pH
(1) Diencerkan 1 gram sediaan salep dengan air suling hingga 10 mL.
(2) Dicelupkan elektroda pH-meter kedalam larutan salep yang telah diencerkan se-
belumnya.
(3) Dibaca pH larutan sa-lep yang terlihat pada layar pH-meter.
(4) Dilakukan lagi perco-baan ini untuk tiap salep yang diperiksa (Voight, 1995).

e. Tes Viskositas
Pengukuran Viskositas dilakukan dengan vis-kometer Stormer
Langkah kerjanya yaitu
(1) Isi mangkuk dengan cairan yang diukur viskositasnya.
(2) Naikan alas sehingga silinder berada tepat di tengah mangkuk.
(3) Atur skala hingga menunjukkan angka nol.
(4) Berikan beban ter-tentu dan lepaskan kunci sehingga ban-dul silinder berputar
sampai arah tertentu.
(5) Catat waktu yang diperlukan bandul untuk mencapai skala tertentu, hitung rpm.
Untuk menghitung vis-kositas digunakan
Aliran Newton :

keterangan:
Kv = konstanta

Institut Sains dan Teknologi Nasional


W = beban yang diberikan
RPM = jumlah putaran per menit
(Suardi dkk, 2008, hal.3-4
Rentang viskositas sediaan yang memenuhi persyaratan yaitu 2.000 – 50.000 cps (SNI,
1996)

3. Pengujian Keamanan Sediaan Salep


(1) Dioleskan sejumlah salep pada pung gung tangan suka relawan.
(2) Dibiarkan terbuka selama 5 menit.
(3) Diolesi punggung tangan kiri dengan sediaan basis salep tanpa zat aktif sebagai
pembanding.
(4) Selanjutnya diamati perubahan warna yang terjadi pada punggung tangan kanan masing-
masing sukarelawan.
(5) Jika tidak terjadi reaksi (tidak merah, tidak gatal, dan tidak bengkak) diberi tanda (-),
jika terjadi reaksi (kulit memerah) dibei tanda (+), jika terjadi gatal diberi tanda (++),
selanjutnya jika terjadi pembengka kan diberi tanda (+++).
(6) Dilakukan lagi per cobaan ini untuk tiap salep yang diperiksa pada minggu ke
0,1,2,3,4,5,6,7, dan 8 setelah pembuatan sediaan salep (Pad madisastra et al, 2007).
Tidak terjadi iritasi kulit

4. Uji Stabilitas
(1) Semua salep yang telah dibuat di simpan pada suhu kamar.
(2) Salep diambil, di amati perubahan or-ganoleptis, diuji kembali fisik salep meliputi daya
sebar melekat, proteksi, pH, viskositas.
(3) Pengamatan dilaku- kan pada minggu ke 0,1,2,3,4,5,6,7,8 se-telah pembuatan sediaan
salep (Ansel, 1989).
Salep tidak me-nunjukkan perubahan selama penyimpanan
Pembahasan:
f. pada formulasi sediaan salep lupa bakar dipilih bahan aktif yaitu gentamisin
karena gologan aminoglikosida, efektif terhadap bakteri gram negatif. Efek
samping lebih ringan dari pada streptomisin dan kanamisin) pada formulasi ini
menggunakan pengawet yaitu nipagin atau metilparaben sebagai pengawet
fasa air dipilih nipagin karena pada kadar 0.02–0.3 % Methylparaben secara
umum digunakan sebagai pengawet antibikroba dalam kosmetik, produk
makanan, dan formulasi sediaan farmasi (Rowe, 2006, hal 466). Memiliki pH
4-8 (Lachman, 1994), sehingga sesuai dengan pH zat aktif dan untuk basis
salep digunakan vaselin album dan paraffin liquid karena vaselin album
utamanya digunakan dalam formulasi topikal dan umumnya dianggap lebih
bersifat tidak mengiritasi dan tidak toksik (Rowe, 2006, hal 510) dan paraffin
liquid utamanya digunakan sebagai bahan tambahan dalam formulasi topical,
sebagai emolien pada bahan tambahan basis salep (3.0–60.%) (Rowe, 2006,
hal 471) Paraffin digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan titik leleh dan
dapat menambah daya lekat pada kulit.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


3.2. Perhitungan dan Penimbangan Bahan

1. Gentamicin Sulfat = x 10 g = 0,01 gram

2. Nipagin = x 10 g = 0,02 gram

3. Paraffin Liquid = x 10 g = 1 gram


4. Vaselin Album = 10 gram – (0,01 gram + 0,02 gram + 1 gram)
= 8,97 gram

3.3. Alur Kerja Sumber Daya Manusia (SDM)


Kualifikasi SDM bagian produksi Sediaan salep luka bakar harus sesuai
dengan personalia sesuai CPOB yang meliputi:
1. QA (Quality Assurance)
Dibutuhkan kualifikasi minimal S2 Apoteker sebanyak 2 orang minimal
pengalaman kerja 2 tahun di bagian QC
2. QC (Quality Control)
Dibutuhkan kualifikasi minimal S1 Apoteker sebanyak 2 orang minimal
pengalaman kerja 2 tahun di bagian di bagian produksi
3. Produksi
Dibutuhkan kualifikasi minimal D3 Farmasi sebanyak 2 orang minimal
pengalaman kerja 1 tahun di bagian produksi
4. Packaging
Dibutuhkan kualifikasi Minimal SMA sederajat sebanyak 100 orang

Gambar 2. Konsep Alur Barang dan Personil

Institut Sains dan Teknologi Nasional


3.4. Alur Pengadaan Bahan Baku
1. Barang diperoleh dari supplier
2. Barang diterima bagian gudang, lalu disimpan sementara di area karantina,
diberi label karantina (label kuning) dicek fisik secara visual sesuai dengan
surat pesanan barang yang meliputi kebenaran label bahan, nomer catch/lot,
asal negara, tanggal pembuatan, tanggal kadarluarsa), jumlah dan CoA.
3. Apabila sudah selesai , maka dibuatkan bukti titipan barang sementara
(BTBS ). BTBS dibuat tiga rangkap, lembar asli untuk supplier, copy 1
utntuk arsip gudang, copy 2 sebagai surat permohonan pemeriksaan kepada
QC.
4. Barang diterima oleh supervisor penyimpanan bahan baku dan disetujui oleh
asisten manager penyimpanan.dilakukan pemeriksaan oleh laboratorium QC,
selama masa pemeriksaan QC memberi label karantina berwarna kuning pada
laebl tersebut.
5. QC akan melakukan sampling terhadap bahan baku yang datang, barang
diterima atau ditolak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
6. Setelah bahan baku diluluskan, bagian penyimpanan akan membuat bukti
penerimaan bahan baku (BPBB). Bahan baku akan disimpan dalam gudang
sesuai dengan stabilitas bahan baku. Bahan baku yang diluluskan diberi label
hijau dengan tulisan diluluskan dan ditempel diatas label karantina.
7. Jika bahan baku ditolak, maka gudang akan membuat surat pemberitahuan
kepada bagian pembelian bahwa barang yang dikirim oleh pemasok tidak
memenuhi sayarat dengan melampirkan HPL ( Hasil Pemeriksaan
Labortaorium) dan surat pengembalian barang ke supplier dan pemasok
( retur ). Bahan baku yang ditolak diberinlabel merah dan ditempel diatas
label karantina.
8. Bahan baku akan diperiksa ulang 1 tahun sekali maksimal 12 hari sebelum
jatuh tempo bagian penyimpanan bahan baku harus mengajukan surat
permohonan pemeriksaan ke laboratorium QC. Selama pemeriksaan ulang
berlangsung, status bahan baku adalah karantina ( label kuning ).

Institut Sains dan Teknologi Nasional


9. Untuk bahan baku maupun bahan jadi yang diimpor dari manufacturing asing
langsung dilakukan pemeriksaan QC. Jika bahan baku ditolak, maka barang
bisa dikembalikan, tergantung negosiai manager impor.

3.5. Alur Barang


Bahan yang baru datang akan diperiksa meliputi, nama bahan, keseuaian
bahan yang dipesan dengan surat pemesanan yang dikirimkan dan COA. Apabila
pesanan sudah sesuai maka pihak Gudang akan memberikan bukti bahwa pesanan
sudah diterima. Pesanan yang sudah di terima disimpan didalam gudang bahan
baku untuk nantinya di cek sesuai spesifikasi yang sudah tertera oleh QC, pada
pengecekan bahan diberi label warna kuning dan setelah pengecekan ini akan
dihasilkan bahan dengan 2 label, bahan dengan label warna merah adalah untuk
bahan yang tidak dapat digunakan dapat dikembalikan kepada pemasok atau
dimusnahkan, label berwarna hijau yang artinya bahan lolos untuk dapat
digunakan untuk produksi.
Bahan yang sudah lolos dapat masuk ke area penimbangan untuk dapat
ditimbang sebanyak bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat salep luka
bakar, setelah ditimbang masuk ke area pengolahan untuk dapat menghasilkan
produk antara, produk antra masuk ke area pengisian kedalam tube untuk dapat
menghasilkan produk ½ jadi, setelah itu dikemas dan menghasilkan produk jadi.
Pihak Quality Control akan me lakukan pengecekan untuk menjamin mutu
produk.

Gambar 3. Alur Barang

Institut Sains dan Teknologi Nasional


3.6. Alur Produksi Bahan Baku
Menurut Cara Pembuatan Obat yang Baik, produksi Sediaan salep terdapat
beberapa aspek, diantaranya :
1) Sistem yang digunakan untuk membuat sediaan salep dan krim adalah system
tertutup. Sistem tertutup adalah suatu sistem di mana produk hampir tidak
terpapar ke lingkungan selama proses dan sedikit sekali melibatkan operator.
Produk cair disaring dan ditransfer ke holding tank melalui pipa sebelum
produk tersebut diisikan ke dalam wadah akhirnya (misal botol dan tube) dan
ditutup.
2) Untuk mencegah ada “sambungan mati” (deadlegs), sambungan hendaklah
tidak lebih panjang dari 1,5 kali diameter pipa sampai katup. Hendaklah
menggunakan jenis katup diafragma atau katup kupu-kupu dan bukan katup
bola.
3) Air yang digunakan untuk produksi hendaklah memenuhi persyaratan
minimal kualitas Air Murni (Purified Water). Parameter kimia dan
mikrobiologi hendaklah dipantau secara teratur, minimal seminggu sekali,
sedangkan pH dan konduktivitas hendaklah dipantau tiap hari. Terhadap data
hasil pemantauan hendaklah dilakukan analisis kecenderungan (trend
analysis). Lihat Persyaratan Air Untuk Produksi : Sanitasi Sistem Pengolahan
Air dapat dilakukan dengan cara:
1) Pemanasan
2) Kimiawi
3) Pemeriksaan mutu bahan yang diterima sebelum dipindahkan ke dalam
tangki penyimpanan adalah untuk mencegah agar bahan yang masih
tersisa di dalam tangki penyimpanan (yang sudah memenuhi persyaratan
mutu) tidak tercampur dengan bahan yang sama dari tangki pemasok
yang belum diketahui mutunya.
4) Tiap pipa transfer hendaklah diberi penandaan yang jelas dengan
mencantumkan identitas produk.
5) Homogenitas hendaklah dipertahankan selama pengisian dengan
pengadukan terus-menerus sejak awal sampai akhir proses pengisian.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


6) Kondisi penyimpanan produk antara dan produk ruahan hendaklah
disesuaikan untuk menghindarkan perubahan mutu produk. Jangka
waktu dan kondisi penyimpanan produk antara hendaklah divalidasi

3.7. Alur Produksi Sediaan Salep

Gambar 4. Alur Produksi Sediaan Salep

Untuk alur proses produksi salep diawali pada ruang bahan baku. Pada proses
pembuatannya, setiap bahan baku diperiksa terlebih dahulu oleh tim QC dengan
mengambil sampel di ruang sampling, pemeriksaan yang dilakukan oleh tim QC
meliputi pemerian, kelarutan, bilangan asam, dan bilangan penyabunan, dari hasil
uji tersebut tim QC dapat memutuskan apakah bahan baku tersebut memenuhi
kriteria yang berstandarkan CPOB atau tidak. Lalu petugas yang bertanggung
jawab terhadap bahan baku menimbang bahan-bahan apa saja yang akan
dibutuhkan dalam proses produksi sediaan salep. Penimbangan bahan dilakukan
untuk produksi sediaan per satu bets. Setelah bahan baku ini dinyatakan lulus uji
kriteria, bahan baku tersebut dicampur dan diolah menjadi produk antara.
Kemudian petugas bagian produksi mengambil bahan baku yang telah ditimbang
dengan melakukan serah terima yang disertai dengan dokumen CPB (Catatan
Pengolahan Bets) yang telah melampirkan tanda tangan petugas.
Proses produksi dilanjutkan di ruang pencampuran. Pada ruang ini, awalnya
air ditampung di dalam alat pemanas (Double Jacket). Air yang digunakan dalam

Institut Sains dan Teknologi Nasional


proses produksi menggunakan air Aquadem (Aqua demineralisasi). Air yang
dipakai adalah air yang diambil dari pipa yang telah diatur penyalurannya, yang
mana sebelumnya air ini telah melewati serangkaian proses pernyaringan.
Kemudian proses dilanjutkan di tangki Oil Pot, tangki ini berfungsi untuk melebur
fase minyak dari sediaan, lalu dilanjutkan proses pencampuran bahan dengan
menggunakan alat Vacum emulsifier Mixer. Pada alat ini proses pencampuran
dimulai dari pembuatan basis hingga membentuk masa salep.
Selanjutnya masa yang telah jadi disimpan dalam wadah kemudian di
tempatkan di ruang Ruang karantina produk antara. Produk yang telah jadi di
lakukan kembali proses IPC oleh QC, pemeriksaan pemerian, pH, homogenitas,
koefisien variasi, dan stabilitas krim jika dinyatatakan lulus maka produk tersebut
dimasukkan ke dalam wadah. selama proses pengisian sediaan krim/salep operator
melakukan proses penimbangan setiap 15 menit sekali, proses ini bertujuan untuk
memastikan bobot per tube sesuai dengan bobot yang diinginkan dari kemasan.
kemudian produk yang telah diisi ditempatkan di ruang karantina produk ruahan
untuk selanjutnya melewati tahap pemeriksaan oleh QC, pemeriksaan itu meliputi
pemerian, identifikasi, pH, kadar zat berkhasiat, homogenitas, koefisien variasi
dan keseragaman sediaan,. Waktu yang dibutuhkan untuk menuggu hasil
pemeriksaan ini yaitu 1-2 hari.
1. In Process Control
Pengawasan selama proses produksi (in process control) merupakan hal yang
yang penting dalam pemastian mutu produk. Untuk memastikan keseragaman bets
dan keutuhan obat, prosedur tertulis yang menjelaskan pengambilan sampel,
pengujian atau pemeriksaan yang harus dilakukan selama proses dari tiap bets
produk hendaklah dilaksanakan sesuai dengan metode yang telah disetujui oleh
kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan hasilnya dicatat.
Pengawasan tersebut dimaksudkan untuk memantau hasil dan memvalidasi
kinerja dari proses produksi yang mungkin menjadi penyebab variasi karakteristik
produk selama proses berjalan.
Prosedur tertulis untuk pengawasan-selama-proses hendaklah dipatuhi.
Prosedur tersebut hendaklah menjelaskan titik pengambilan sampel, frekuensi

Institut Sains dan Teknologi Nasional


pengambilan sampel, jumlah sampel yang diambil, spesifikasi yang harus
diperiksa dan batas penerimaan untuk tiap spesifikasi.
Di samping itu, pengawasan-selama proses hendaklah mencakup, tapi tidak
terbatas pada prosedur umum sebagai berikut:
1) Semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk hendaklah diperiksa
pada saat awal dan selama proses pengolahan atau pengemasan; dan
2) kemasan akhir hendaklah diperiksa selama proses pengemasan dengan selang
waktu yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi dan
memastikan semua komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam Prosedur
Pengemasan Induk.
Dalam proses produksi produk semisolid, dilakukan pemeriksaan selama
proses produksi (In Process Control) oleh personil produksi. IPC dilakukan pada
tahap-tahap kritis selama proses pembuatan salep dan krim, misal :
a. Mixting Process : pH, homogenitas, kehalusan
b. Filling Process : bobot isi tube, penampilan,termasuk pencetakan expired
date dan nomor bets.
2. Kontrol Kualitas (Quality Control)
Produk yang berkualitas dihasilkan dengan melakukan serangkaian
pengujianyang dilakukan oleh bagian Quality Control (QC). QC merupakan
bagian yangesensial pada proses pembuatan produk obat agar produk yang
dihasilkan dapatmemenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan. Bagian QC
memiliki kewenangankhusus untuk memberikan keputusan akhir atas mutu obat
ataupun hal lain yangmempengaruhi mutu obat.
QC dilakukan sejak barang datang, selamaproses, pada produk yang
dihasilkan, serta pada masa penyimpanan produk.QCberperan dalam pemeriksaan
bahan awal, pemeriksaan selama proses produksi danpemeriksaan produk jadi.
QC memastikan bahwa bahan, produk, dan metode dalamproses produksi telah
memenuhi kriteria yang telah ditentukan sehingga hasilnyadapat memenuhi
persyaratan secara konsisten. Selain itu juga dilakukan kalibrasi dankualifikasi
alat serta validasi terhadap metode analisa dan proses produksi. Namun, tidak ada
jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan memiliki kualitas sebagaimanayang

Institut Sains dan Teknologi Nasional


diinginkan. Kualitas produk harus dibangun sejak awal dan dijamin oleh Quality
Assurance (QA).
Kontrol kualitas dari salep dan krim meliputi :
1) Pemeriksaan kestabilan fisik
2) Sediaan salep diamati organoleptis untuk mengetahui homogenitas, warna,
dan bau.
3) Uji pelepasan obat, sesuai kadar obatnya.
4) Uji proteksi.
5) Uji daya lekat.
6) Uji menyebar.
Produksi sediaan salep hendaknya dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang
telah ditetapkan agar senantiasa diperoleh produk jadi yang memenuhi spesifikasi
yang ditentukan. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam kegiatan produksi
meliputi:
1) Bahan awal
Pemeriksaan bahan awal dilakukan oleh bagian pemastian mutu berdasarkan
spesifikasi yang ditentukan dan dikarantina, sampai diluluskan untuk dipakai.
Bahan awal yang tidak memenuhi syarat disimpan terpisah untuk
dikembalikan kepada pemasok atau dimusnahkan.
2) Validasi proses
Semua prosedur produksi hendaklah divalidasi dengan tetap dan dilaksanakan
menurut prosedur yang telah ditentukan.
3) Pencemaran
Pencemaran kimiawi atau mikroba terhadap suatu obat yang dapat merugikan
kesehatan atau mempengaruhi daya terapeutik serta mempengaruhi kualitas
produk tidak dapat diterima.
4) Sistem penomoran batch atau lot
Suatu sistem yang menjabarkan cara penomoran batch dan lot secara rinci
diperlukan untuk memastikan bahwa produk antara, produk ruahan atau obat
jadi suatu batch dan lot dapat dikenali dengan nomor batch dan lot tertentu
tidak digunakan secara berulang.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


5) Penimbangan dan penyerahan
Penimbangan atau perhitungan dan penyerahan bahan baku, bahan pengemas,
produk antara dan produk ruahan dianggap suatu bagian dari siklus produksi
dan memerlukan dokumentasi yang lengkap.
6) Pengembalian
Semua bahan baku, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang
dikembalikan ditempat penyimpanan hendaklah didokumentasikan dan dicek
dengan baik.
7) Pengelolaan
Pemeriksaan awal pada pengolahan baik bahan, kondisi daerah pengolahan,
wadah dan peralatan harus mengikuti prosedur tertulis yang telah ditetapkan..
8) Pengemasan
Produk ruahan menjadi obat jadi, yang dilaksanakan dengan pengawasan yang
tepat untuk menjaga identitas, keutuhan dan kualitas barang yang sudah
dikemas.
9) Bahan atau Produk Pulihan
Bahan atau produk dapat diolah ulang atau dipulihkan asal bahan tersebut
layak untuk diolah ulang melalui prosedur tertentu yang telah disahkan serta
hasilnya masih memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditentukan dan tidak
terjadi perubahan yang berarti terhadap mutunya.
10) Obat Kembalian
Obat jadi yang dikembalikan dari gudang pabrik jika ditemukan adanya
kerusakan kualitas teknis obat atau adanya reaksi merugikan dari obat.
11) Karantina
Karantina obat jadi merupakan titik akhir pengawasan sebelum obat jadi
diserahkan ke gudang dan siap didistribusikan.
12) Pengawasan Distribusi Obat
Sistem distribusi hendaknya dirancang dengan tepat sehingga menjadi obat
jadi yang pertama masuk didistribusikan terlebih dahulu.
13) Penyimpanan Bahan Awal, Produk Antara, Produk Ruahan dan Obat
Jadi.Bahan tersebut disimpan rapi dan teratur untuk mencegah resiko

Institut Sains dan Teknologi Nasional


tercampur baur atau pencemaran sera memudahkan pemeriksaan dan
pemeliharaan.

3.8. Metodologi
3.8.1 Penyiapan Ruangan
Ruangan dirancang khusus untuk menghindari kontaminasi: Proses penimbangan
dilakukan di ruangan B, proses pencampuran dilakukan di ruangan C, untuk proses
sterilisasi sediaan dilakukan di ruangan A. Area kelas C, ruangan ataupun area yang
masuk dalam kelas ini adalah ruang produksi produk non steril.
3.8.2 Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang dibutuhkan : 1 kaki tiga, 1 bunsen, 2 batang pengaduk, 2 cawan porselen,
1 sendok tanduk, 1 korek api, 1 timbangan elektrik, beberapa kain lap secukupnya,
kertas perkamen.
2. Bahan
Bahan yang digunakan : Benzocain, Vaselin flavum, oleum lecoris aseri, dan cera
flava
3.8.3. Cara Pembuatan
Pembuatan sediaan salep luka bakar yang baik harus memenuhi persyaratan Cara
Pembuatan Obat yang Baik yang mencakup manajemen mutu, personalia, bangunan dan
fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit
mutu dan audit & persetujuan pemasok, dokumentasi, pembuatan analisis berdasarkan
kontrak kualifikasi dan validasi.
Pada proses produksi sediaan salep luka bakar, alur proses produksi diawali dengan
menentukan formula yang tepat dalam proses produksi sediaan salep luka bakar. Hal ini
meliputi dalam penentuan bahan sediaan yang digunakan dalam pembuatan sediaan salep
luka bakar, sehingga sediaan salep luka bakar yang diproduksi dapat digunakan secara
aman dan efektif. Kemudian untuk bahan baku pada proses pembuatannya yang dibeli
dari supplayer, setiap bahan baku diperiksa terlebih dahulu oleh tim QC (biasanya
dipimpin oleh apoteker) dengan mengambil bahan di gudang penyimpanan, pemeriksaan
yang dilakukan oleh tim QC meliputi pemeriksaan mutu dan pemerikasaan dilakukan
secara laboratoris dari sediaan tersebut yang sesuai dengan kriteria dari bahan tersebut
sesuai dengan CPOB, serta terbebas nya dari bahan-bahan yang berbahaya dan tidak
layak pakai.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


Dari hasil uji tersebut tim QC dapat memutuskan apakah bahan baku tersebut
memenuhi kriteria yang berstandarkan Cara Pembuatan Obat Yang Baik atau tidak.
Setiap bahan yang akan digunakan harus dipilih bahan yang aman dan tidak berbahaya..
Proses produksi harus melakukan pengecekan kondisi ruangan, peralatan, prosedur
pengolahan, bahan dan hal lain yang diperlukan dalam proses produksi.
Proses formulator di bagian RnD dilakukan atau dikerjakan oleh apoteker. Proses
pertama penimbangan bahan dilakukan untuk produksi sediaan. Setelah bahan baku ini
dinyatakan lulus uji kriteria, bahan baku tersebut dapat dicampur dan diolah menjadi
produk antara. Kemudian proses produksi dilanjutkan di ruang pencampuran. Pada ruang
ini, pencairan vaselin flavum kedalam tangki pencampuran stainless steel. Setelah vaselin
flavum mencair tambahkan cera flava pada campuran Vaselin flavum, campur hingga
semua terlarut.
Langkah selanjutnya tambahkan zat aktif kedalam tangki pencampuran, campur
selama 10 menit hingga semua terlarut semua. Kemudian setelah selesai masukan
kedalam tube aluminium yang cocok. Setelah semua proses selesai barulah dilakukan
proses pengemasan dan penyortiran produk yang gagal. Proses produksi dilakukan di
gedung dan ruangan yang bersih, terpelihara dengan baik dan memenuhi standar CPOB,
dengan menggunakan peralatan yang digunakan yang tidak bereaksi dengan bahan yang
diolah atau menyerap bahan dan mudah dibersihkan. Secara garis besar peralatan yang
digunakan memenuhi persyaratan CPOB.
Ketika produk tersebut layak atau telah memenuhi persyaratan cara pembuatan
sediaan salep luka bakar yang baik, dilakukan tahapan proses labeling yakni penampilan
kelengkapan penandaan hal ini dilakukan untuk memastikan diketahuinya riwayat suatu
bets atau lot secara lengkap. Dengan diketahuinya asal usul produk jadi tersebut akan
mempermudah tindak lanjut pengawasannya yang dilakukan oleh QC (apoteker).
Kemudian hasil dari proses tersebut di dokumentasi, fungsi dari dokumentasi ini adalah
untuk sistem informasi manajemen yang meliputi spesifikasi, label/etiket, prosedur,
metoda dan instruksi, catatan dan laporan serta jenis dokumentasi lain yang diperlukan
dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan
pembuatan produk. Produk sediaan salep luka bakar siap untuk diedarkan.

Institut Sains dan Teknologi Nasional


BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Cara Pembuatan Obat yang Baik pada salep luka bakar : memperhatikan
manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan
higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit mutu dan audit &
persetujuan pemasok, dokumentasi, pembuatan analisis berdasarkan kontrak
kualifikasi dan validasi.
2. Komponen dari sediaan salep luka bakar ini, terdiri dari Gentamicin Zat aktif
obat luka bakar, Paraffin liquidum dan Vaselin flavum sebagai bahan dasar
atau basis salep, dan Nipagin sebagai pengawet.
3. Alur pengadaan bahan baku dilakukan oleh PPIC yang di kepalai oleh
Apoteker untuk mengetahui stabilitas bahan baku layak atau tidak untuk
digunakan. PPIC (rancangan produksi dan perencanaan pesanan) permintaan
pemesanan ke pada departemen purchasing pemilihinan suplaye pemesanan
dan pemasok. Penerimaan barang akan diterima oleh pihak Quality Control,
yang dipimpin oleh seorang apoteker. disimpan di gudang dan ruang
pengemasn (oleh QC). Quality Control yang dikepalai oleh seorang apoteker
akan melakukan pemeriksaan dan pengujian bahan baku. Bahan yang tidak
masuk spesifikasi akan dikembalikan pada supplier dan bahan baku yang
bagus akan dirubah labelnya dari karantina menjadi release dan bisa
dilanjutkan tahap produksi.
4. Proses Produksi
a. Alur Kerja Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum SDM melakukan
pekerjaan terlebih dahulu masuk keruang antara untuk menggunakan
APD (Alat Pelindung Diri). Kemudian petugas masuk ke ruang bersih
untuk persiapan komponen dan pembuatan.
b. Proses produksi salep luka bakar yang baik dimulai dari pemilihan bahan
baku yang dibeli dari supplayer, setiap bahan baku diperiksa terlebih
dahulu oleh tim QC dipimpin oleh Apoteker. Kemudian mengambil
bahan di gudang, penimbangan bahan sesuai dengan SOP,setelah

40
penimbangan selesai dilanjut pada proses mixing ata penacampuran
dilakukann diruanagan mixing pada proses mixing dilakukan
pengawasan pada proses pencampuran oleh karyawan bagian QC
dibawah tanggung jawab manager QC, pengembangan basis, pengadukan
bahan bahan sampai mendapat homogenitas produk yang baik,
penyimpanan.
c. Sebelum dipasarkan produk jadi di cek kembali oleh bagian QA untuk
memastikan mutu produk sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
oleh Manager QA.
d. Alur produksi pembuatan sediaan salep luka bakar yang baik, yaitu
dimulai dari formula bahan, pengambilan bahan, penimbangan,
pencampuran (Paraffin liquidum, vaselin flavum, nipagin dan
gentamicin), yang semua tahaan tersebut menjadi tanggung jawab dari
manajemen produksi dan Manager QC.
e. Evaluasi (Uji Organoleptis, Uji Homogenitas, Uji PH, Uji Stabilitas, Uji
daya sebar) yang diawasi oleh personel QC, sampai dengan pengemasan,
pelabelan, desain menjadi tanggung jawab manajemen produksi dalam
hal ini Manajer QC.

4.2. Saran
1. Pada formulasi selanjutnya disarankan untuk melakukan perbaikan formula
dengan penambahan adeps lanae untuk memperbaiki kepadatan salep.
2. Kepadatan salep perlu diperbaiki dengan cara pengadukan secara terus
menerus sehingga daya sebar salep dapat ditingkatkan.
3. Sebaiknya dilakukan evaluasi Sediaan salep luka bakar dengan menggunakan
metode pelepasan obat dari basis yang dapat dilakukan dengan metode in-
vitro dan metode in-vivo

Institut Sains dan Teknologi Nasional


DAFTAR PUSTAKA

Abe, O.B, A.Brayfield, C.R.M. Cadart, K. Eager, J.C. Flatman, P. Gotecha, S.L.
Hamdy, C.L. Iskandar, C.R. Lee, V.A. Lee, G.C. Neathercoat, K.S. Relay,
C.R. Ryan, L.M. Sheridan, G.W. Viedge. 2002. Martindale the Complete
Drug Reference. Diedit oleh Sean C. S. Pharmaceutical Press. London.
Halaman 179
Anief, M., 1997, Formula Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit, 80-83,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Anief, M., 2005, Farmasetika, 29-30, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Terjemahan dari
Introduction to Pharmaceutical Design Forms oleh Farida Ibrahim. UI Press.
Jakarta.
BPOM RI.2012.Cara Pembuatan Obat yang Baik.Jakarta,Badan POM RI.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Depertemen
Kesehatan Republik Indonesia
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta: Depertemen Kesehatan
Republik Indonesia
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV, Jakarta: Depertemen
Kesehatan Republik Indonesia
Kaplan NE, Hentz VR. 1992. Emergency Management of Skin and Soft Tissue
Wounds, An Illustrated Guide, LittleBrown. Boston : USA
Kibbe, A.H., (1994), Handbook of Pharmaceutical Excipient, The Pharmaceutical
Press, London.
Lachman, L.., Lieberman H. A., Kanig, J. L.., 1994., Teori dan Praktek Farmasi
Industri, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, edisi III, Universitas Indonesia,
Jakarta, 760-779.
Miranti, L. 2009. Pengaruh Konsentrasi Minyak Atsiri Kencur (Kaempferia
galanga L) dengan Basis Salep Larut Air Terhadap Sifat Fisik Salep dan
Daya Hambat Bakteri Staphylococus aureus secara In Vitro. Skripsi.

42
Institut Sains dan Teknologi Nasional
Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
(dipublikasikan).
Moenadjat, Yefta. 2003. Luka Bakar : Pengetahuan Klinis Praktis. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition,
Pharmacy Press.
Parrot, L.E., (1971), Pharmaceutical Technologi Fundamental Pharmaceutics,
Burgess Publishing Co, USA
Rajalakshmi, G., N. Damodharan, C.V.K.V. Bhai & P.J. Rajh 2009. Formulation
and Evaluation of Clotrimazole and Ichthammol Oinment. Internasional
Journal of Pharma and Bio Science.4: 10-12.
Rowe, R, Shewskey, P., & Quinn, M., 2009, Handbook of Pharmaceutical
Excipients, 6th, 120-122;155-156;624-625;662-663, Pharmaceutical Press
and American Pharmacist Association, USA
Standar Nasional Indonesia 164399. 1996. Sediaan Tabir Surya. Badan
Standarisasi Nasional, Jakarta.
Suardi, Armenia, Maryawati, A. 2008. Formulasi Dan Uji Klinik Gel Anti
Jerawat Benzoil Peroksida-HPMC. Fakultas Farmasi FMIPA UNAND.
Yogyakarta.
Syamsuhidayat dan Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, 73-87, EGC Press,
Jakarta.
Syamsuri, 2007; Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press. Yogyakarta.

Institut Sains dan Teknologi Nasional

Anda mungkin juga menyukai