Anda di halaman 1dari 41

ARTIKEL TEMA KEISLAMAN:

1. TAUHID: KEISTIMEWAAN DAN KEBENARAN KONSEP KETUHANAN


DALAM ISLAM
2. SAINS&TEKNOLOGI DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
3. 3 GENERASI TERBAIK MENURUT AL-HADITS
4. PENGERTIAN DAN JEJAK SALAFUSSOLEH (REFERENSI AL-HADITS)
5. AJARAN DAN TUNTUNAN TENTANG BERBAGI, KEADILAN SERTA
PENEGAKAN HUKUM DALAM ISLAM.

Disusun sebagai tugas terstruktur Mata Kuliah: Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampuh:

Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos

Disusun Oleh:

Nama : PADILA WAHDANI


NIM : C1G020206
Fakultas&Prodi : PERTANIAN / AGRIBISNIS
Semester : 1 (satu)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM 2020
T.A. 2020/2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis haturkan kepada ALLAH SWT atas selesainya tugas
ini, berkat limpahan rahmatnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas yang telah
diberikan kepada kami.

Sholawat dan Salam semoga ALLAH limpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW
atas karunianya yang menjadi suri tauladan bagi umat Islam di seluruh dunia.

Terima kasih saya sampaikan atas bimbingan Bapak Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I.,
M.Sos sebagai dosen pengampuh mata Kuliah Pendidkan Agama Islam sehingga
tugas yang diberikan ini dapat saya selesaikan.

Besar harapan saya tugas ini akan memberi manfaat kepada semua pihak yang
membaca dan meberikan kritikkan maupun saran. Penulis menyadari bahwa tulisan ini
jauh dari kata sempurna.

Penyusun, Mataram, Oktober-15- 2020

Nama: Padila Wahdani


NIM : C1G020206

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER.................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I TAUHID: Keistimewaan & Kebenaran Konsep Islam .................. 1


1.1 Pengertian Tuhan...................................................................... 1
1.2 Pembuktian Wujud Tuhan ......................................................... 2
BAB II Sains & Teknologi dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist .................... 5
2.1 Pengertian Sain & Teknologi.................................................... 5
2.2 Konsep Ilmu ............................................................................. 6
2.3 Langkah-langkah mengembangkan Sains dalam Al-Qur’an..... 8
BAB III 3 Generasi Terbaik menurut Al-Hadits........................................ 10
3.1 Hadits-hadits Generasi Terbaik................................................ 10
3.2 Pandangan Para Ulama tentang Generasi Terbaik.................. 10
BAB IV Pengertian & Jejak SALAFUSSOLEH (Refrensi Al-Hadits)....... 13
4.1 Pengetian Salaf ....................................................................... 13
4.2 Aqidah Salaf............................................................................. 18
4.3 Dalil-dalil dari Al-Qur’an............................................................ 20
4.4 Dalil-dalil dari As-Sunnah.......................................................... 26
4.5 Dalil-dalil dari Ulama................................................................. 29
BAB V Ajaran & Tuntunan Berbagi, Penegakan serta Keadilan
Hukum dalam Islam.................................................................................. 33
5.1 Manfaat Bersedekah................................................................. 33
5.2 Penegakan Hukum atas Keadilan dalam Pandangan Islam...... 34
5.3 Penegakan Hukum.................................................................... 34
5.4 Keadilan ................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... iv
LAMPIRAN................................................................................................. v
01 Lampiran 1 : Gambar salah satu Bersedekah ....................................... v
02 lampiran 2 : Gambar Lafadz Nabi Muhammad SAW.............................. v

iii
BAB I

 Tauhid : Keistimewaan & Kebenaran Konsep Ketuhanan dalam Islam

Pengertian Tuhan
Tuhan menurut Islam adalah Allah, Esa, Ahad, Dia adalah dirinya sendiri,
Tunggal dalam sifatnya maupaun Fa’alnya. Dia unsur yang berdiri sendiri tidak
berbilang. Ayat kedua yaitu Allah tidak bergantung pada siapa-siapa melainkan
ciptaan-Nyalah yang bergantung pada-Nya seperti malaikat, manusia, iblis, jin,
hewan, benda mati, cair, gas, padat, cahaya dan sebagainya adalah ciptaan. Dialah
Sang pencipta Sang kholik, semua makhluk berdo’a meminta kepada-Nya, hidup
matinya tergantung kepada-Nya, tidak ada makhluk yang tidak tegantung kepada-
Nya demikian juga manusia sejak zaman Adam hingga Muhammad. Ayat ketiga
yaitu Allah tiak beranak dan tidak diberanakkan, maksudnya Allah tidak beranak dan
tidak mempunyai orang tua, ia Tunggal, Esa. Dan ayat yang keempat yaitu tidak
ada sesuatupun yang setara dengan dia. Maksudnya Allah itu Maha sempurna dan
tidak ada yang menandingi kesempurnaannya dan dia tidak ada yang
menyeratakan dengannya walaupun nabi, malaikat atau makhluk gaib yang pintar
pun kalah dengannya. Dia Maha segalanya Allah itu Tunggal, Esa. Wujudnya ya
dirinya sendiri bukan Zdat lain.
Dalam keimanan Islam, diajarkan bahwa untuk mengenal Tuhannya orang-orang
Islam, kita harus mengenal ciptaan-Nya, pencipta dikenal melalui ciptaan-Nya.
Karena Tuhan Maha pencipta, maka untuk mengenal Tuhan, kita harus mengenal
ciptaan-Nya. Dalam tinjauan Islam, konsep ke-Tuhan-an tidak dapat dipisahkan dari
pengertian tentang Tuhan yang termuat dalam sumber-Nya. Yaitu Al-Qur’an yang
oleh umat Islam diyakini sebagai wahyu, dan menurut Al-Qur’an ajaran Islam yang
terpenting adalah perintah dan seruan kepada manusia untuk menyembah hanya
kepada Allah dan ini merupakan kredo inti. Al-Qur’an menyatakan bahwa yang
Tuhan itu hanyalah Allah. Karena yang Tuhan hanyalah Allah maka manusia benar
kalau menyembah Allah semesta.
Sehubungan dengan ke-Tuhan-an, Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan tentang
Tuhan saja, akan tetapi juga tentang sifat-sifatnya, lewat sifat-sifat Allah dapat
diketahui corak hubungan antara Allah selaku pencipta alam sebagai ciptaan-Nya.
Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu
menyamai dan menyertai Allah. Dari sini juga dapat dipahami kata Allah itu adalah

1
nama Tuhan bagi kalangan muslim. Allah bagi mereka adalah Tuhan langit dan
bumi begitu juga Ka‘bah sebagaimana dalam Al-Qur’an Artinya:
“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka
akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan
yang benar)”.
Pengukuhan kepada kenyataan ini adalah firman Allah Artinya:
“katakanlah, wahai Muhammad Tuhanku ialah Allah yang Maha Esa”.
Allah menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat; Dia tiada
beranak; dan Dia pula tidak diperanakkan; dan tidak ada sesiapapun yang setara
dengan-Nya. Hujah di atas memperlihatkan bahwa Allah adalah satu pada hakikat
sebenarnya, dzat Allah secara mutlaknya tidak ada kena-mengena dengan apapun
juga selain dari pada ke-Esa-an-Nya dan sebaliknya segala sesuatu yang selain
dari-Nya juga tidak ada kena-mengena dengan dzat Allah.

Pembuktian Wujud Tuhan

1. Metode Pembuktian Ilmiah

Tantangan zaman modern terhadap agama terletak dalam masalah metode


pembuktian. Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan pengamatan,
sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar indera, yang tidak mungkin
dilakukan percobaan (agama didasarkan pada analogi dan induksi). Hal inilah yang
menyebabkan menurut metode ini agama batal, sebab agama tidak mempunyai
landasan ilmiah.
Sebenarnya sebagian ilmu modern juga batal, sebab juga tidak mempunyai
landasan ilmiah. Metode baru tidak mengingkari wujud sesuatu, walaupun belum
diuji secara empiris. Di samping itu metode ini juga tidak menolak analogi antara
sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang telah diamati secara empiris. Hal
ini disebut dengan “analogi ilmiah” dan dianggap sama dengan percobaan empiris.
Suatu percobaan dipandang sebagai kenyataan ilmiah, tidak hanya karena
percobaan itu dapat diamati secara langsung. Demikian pula suatu analogi tidak
dapat dianggap salah, hanya karena dia analogi. Kemungkinan benar dan salah dari
keduanya berada pada tingkat yang sama.
Percobaan dan pengamatan bukanlah metode sains yang pasti, karena ilmu
pengetahuan tidak terbatas pada persoalan yang dapat diamati dengan hanya
penelitian secara empiris saja. Teori yang disimpulkan dari pengamatan merupakan

2
hal-hal yang tidak punya jalan untuk mengobservasi. Orang yang mempelajari ilmu
pengetahuan modern berpendapat bahwa kebanyakan pandangan pengetahuan
modern, hanya merupakan interpretasi terhadap pengamatan dan pandangan
tersebut belum dicoba secara empiris. Oleh karena itu banyak sarjana percaya
padanya hakikat yang tidak dapat diindera secara langsung. Sarjana mana pun
tidak mampu melangkah lebih jauh tanpa berpegang pada kata-kata seperti: “Gaya”
(force), “Energy”, “alam” (nature), dan “hukum alam”. Padahal tidak ada seorang
sarjana pun yang mengenal apa itu: “Gaya, energi, alam, dan hukum alam”. Sarjana
tersebut tidak mampu memberikan penjelasan terhadap kata-kata tersebut secara
sempurna, sama seperti ahli teologi yang tidak mampu memberikan penjelasan
tentang sifat Tuhan. Keduanya percaya sesuai dengan bidangnya pada sebab-
sebab yang tidak diketahui.
Dengan demikian tidak berarti bahwa agama adalah “iman kepada yang ghaib”
dan ilmu pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab, baik
agama maupun ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada keimanan
pada yang ghaib. Hanya saja ruang lingkup agama yang sebenarnya adalah ruang
lingkup “penentuan hakikat” terakhir dan asli, sedang ruang lingkup ilmu
pengetahuan terbatas pada pembahasan ciri-ciri luar saja. Kalau ilmu pengtahuan
memasuki bidang penentuan hakikat, yang sebenarnya adalah bidang agama,
berarti ilmu pengetahuan telah menempuh jalan iman kepada yang ghaib. Oleh
sebab itu harus ditempuh bidang lain.
Para sarjana masih menganggap bahwa hipotesis yang menafsirkan
pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat yang diamati. Mereka tidak dapat
mengatakan:  Kenyataan yang diamati adalah satu-satunya “ilmu” dan semua hal
yang berada di luar kenyataan bukan ilmu, sebab tidak dapat diamati. Sebenarnya
apa yang disebut dengan iman kepada yang ghaib oleh orang mukmin, adalah iman
kepada hakikat yang tidak dapat diamati. Hal ini tidak berarti satu kepercayaan buta,
tetapi justru merupakan interpretasi yang terbaik terhadap kenyataan yang tidak
dapat diamati oleh para sarjana.

2. Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan

Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik,
tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah
menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak ada batasnya. Setiap manusia normal
percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar

3
itu dan dengan kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan
kehidupan.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya tentang
adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan: “Percaya adanya makhluk,
tetapi menolak adanya Khaliq” adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum
pernah diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan.
Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu
bagaimana akan percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan
sendirinya tanpa pencipta?

3. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika

Sampai abad ke-19 pendapat yang mengatakan bahwa alam menciptakan


dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih banyak pengikutnya. Tetapi setelah
ditemukan “hukum kedua termodinamika” (Second law of Thermodynamics),
pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak.
Hukum tersebut yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori
pembatasan perubahan energi panas membuktikan bahwa adanya alam tidak
mungkin bersifat azali. Hukum tersebut menerangkan bahwa energi panas selalu
berpindah dari keadaan panas beralih menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya
tidak mungkin, yakni energi panas tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak
panas menjadi panas. Perubahan energi panas dikendalikan oleh keseimbangan
antara “energi yang ada” dengan “energi yang tidak ada”.
Bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di alam terus
berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan. Hal itu membuktikan secara pasti
bahwa alam bukan bersifat azali. Seandainya alam ini azali, maka sejak dulu alam
sudah kehilangan energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan tidak akan ada lagi
kehidupan di alam ini. Oleh karena itu pasti ada yang menciptakan alam yaitu
Tuhan.

4. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi

Benda alam yang paling dekat dengan bumi adalah bulan, yang jaraknya dari
bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak mengelilingi bumi dan menyelesaikan
setiap edarannya selama dua puluh sembilan hari sekali. Demikian pula bumi yang
terletak 93.000.000.000 mil dari matahari berputar pada porosnya dengan
kecepatan seribu mil per jam dan menempuh garis edarnya sepanjang 190.000.000

4
mil setiap setahun sekali. Di samping bumi terdapat gugus sembilan planet tata
surya, termasuk bumi, yang mengelilingi matahari dengan kecepatan luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama-
sama dengan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis edarnya dengan
kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada ribuan sistem selain
“sistem tata surya” kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-
sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis edarnya. Galaxy dimana
terletak sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan menyelesaikan
edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.
Logika manusia dengan memperhatikan sistem yang luar biasa dan organisasi
yang teliti, akan berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi dengan
sendirinya, bahkan akan menyimpulkan bahwa di balik semuanya itu ada kekuatan
maha besar yang membuat dan mengendalikan sistem yang luar biasa tersebut,
kekuatan maha besar tersebut adalah Tuhan.
Metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan
keserasian alam tersebut oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “dalil ikhtira”. Di samping itu
Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “dalil inayah”. Dalil ‘inayah adalah
metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan manfaat
alam bagi kehidupan manusia.

5
BAB II

 Sains dan Teknologi dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist

Pengertian sains dan tekhnologi


Sains, menurut Baiquni, adalah himpunan pengetahuan manusia tentang alam
yang diperoleh sebagai konsensus para pakar, melalui penyimpulan secara rasional
mengenai hasil-hasil analisis yang kritis terhadap data pengukuran yang diperoleh
dari observasi pada gejala-gejala alam. Sedangkan teknologi adalah himpunan
pengetahuan manusia tentang proses-proses pemanfaatan alam yang diperoleh
dari penerapan sains, dalam kerangka kegiatan yang produktif ekonomis.
Pandangan al-Qur’an tentang sains dan teknologi dapat ditelusuri dari
pandangan al-Qur’an tentang ilmu. Al-Qur’an telah meletakkan posisi ilmu pada
tingkatan yang hampir sama dengan iman seperti tercermin dalam surat al-
Mujadalah ayat 11: Artinya: “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.”
Sedangkan pandangan al-Qur’an tentang sains dan teknologi, dapat diketahui
dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. : “Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca). Dia Mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya.” (QS al-‘Alaq: 1-5).
1) Kata iqra’, menurut Quraish Shihab, diambil dari akar kata yang berarti
menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan,
menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik
yang tertulis maupun tidak. Sedangkan dari segi obyeknya, perintah iqra’ itu
mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia. Atas dasar
itu, sebenarnya tidak ada alasan untuk membuat dikotomi ilmu agama dan
ilmu non agama. Sebab, sebagai agama yang memandang dirinya paling
lengkap tidak mungkin memisahkan diri dari persoalan-persoalan yang
bereperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan umatnya.
Konsep ilmu
1. Dalam sebagian besar ayat al-Qur’an, konsep ilmu secara mutlak muncul
dalam maknanya yang umum, seperti pada ayat 9 surat al-Zumar:

6
Artinya: “Katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui.”
2) Beberapa ayat al-Qur’an secara eksplisit menunjukkan bahwa ilmu itu tidak
hanya berupa prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama saja. Misalnya,
firman Allah pada surat Fathir ayat 27-28: Artinya: “Tidakkah kamu melihat
bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan
hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara
gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam
warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara
manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah “ulama”. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." Dengan jelas kata ulama
(pemilik pengetahuan) pada ayat di atas dihubungkan dengan orang yang
menyadari sunnatullah (dalam bahasa sains: “hukum-hukum alam”) dan
misteri-misteri penciptaan, serta merasa rendah diri di hadapan Allah Yang
Maha Mulia.
3) Di dalam al-Qur’an terdapat rujukan pada kisah Qarun. “Qarun berkata:
Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS al-
Qashash: 78) ,itu hanya diberikan oleh Allah swt. kepada jenis makhluk ini.
Pemberian potensi ini tentunya tidak terlepas dari fungsi dan tanggung jawab
manusia sebagai khalifah Allah di atas muka bumi. Sedangkan bumi dan
langit beserta isinya telah ‘ditundukkan’ bagi kepentingan manusia. Mari
perhatikan firman Allah di dalam surat al-Jatsiyah ayat 13, Artinya: “Dan Dia
menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
semuanya (sebagai rahmat dari-Nya). Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”
Kata sakhkhara (menundukkan) pada ayat di atas atau kata yang semakna
dengan itu banyak ditemukan di dalam al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah
swt. menundukkan semua ciptaan-Nya sesuai dengan peraturan-peraturan
(sunnatullah) Nya, sehingga manusia dapat mengambil manfaat sepanjang manusia
mau menggunakan akal dan pikirannya serta mengikuti langkah dan prosedur yang
sesuai dengan sunnatullah itu. Misalnya, tertiupnya sehelai daun yang kering dan
pipih oleh angin yang membawanya membumbung tinggi ke atas adalah karena
aliran udara di sekitarnya. Orang yang melakukan pengamatan dan penelitian untuk

7
menemukan jawaban atas pertanyaan: “bagaimana daun itu diterbangkan?”,
niscaya akan sampai kepada sunnatullah yang menyebabkan daun itu bertingkah
laku seperti yang tampak dalam pengamatannya.
Pada dasarnya, sebuah benda yang bentuknya seperti daun itu, yang panjang
dan bagian pinggir dan lebarnya melengkung ke bawah, akan mengganggu aliran
udara karena pada bagian yang melengkung itu aliran udara tidak selancar di
tempat lain. Akibatnya, tekanan udara di lengkungan itu lebih tinggi dari pada
bagian lainnya sehingga benda itu terangkat. Orang yang melakukan pengamatan
dan penelitian itu menemukan sunnatullah yang dalam ilmu pengetahuan disebut
aerodinamika.
Dengan pengetahuan yang lengkap dalam bidang aerodinamika dan
pengetahuan tentang sifat-sifat material tertentu manusia mampu menerapkan
ilmunya itu untuk membuat pesawat terbang yang dapat melaju dengan kecepatan
tertentu. Untuk dapat memahami sunnatullah yang beraturan di alam semesta ini,
manusia telah dibekali oleh Allah SWT dua potensi penting, yaitu potensi fitriyah (di
dalam diri manusia) dan potensi sumber daya alam (di luar diri manusia). Di
samping itu, al-Qur’an juga memberikan tuntunan praktis bagi manusia berupa
langkah-langkah penting bagaimana memahami alam agar dicapai manfaat yang
maksimal. Suatu cara penghampiran yang sederhana dalam mempelajari ilmu
pengetahuan ditunjukkan al-Qur’an dalam surat al-Mulk ayat 3-4 yang intinya
mencakup proses kagum, mengamati, dan memahami.

Langkah-langkah mengembangkan Sains dalam Al-quran


1. Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia untuk mengenali secara seksama
alam sekitarnya seraya mengetahui sifat-sifat dan proses-proses alamiah yang
terjadi di dalamnya. Perintah ini tampak lebih jelas lagi di dalam firman Allah di
surat al-Ghasyiyah ayat 17-20: Artinya: “Maka apakah mereka tidak
memperhatikan (dengan nazhor) onta bagaimana ia diciptakan. Dan langit
bagaimana ia diangkat. Dan gunung-gunung bagaimana mereka ditegakkan.
Dan bumi bagaimana ia dibentangkan.”
2. Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk mengadakan pengukuran
terhadap gejala-gejala alam. Hal ini diisyaratkan di dalam surat al-Qamar ayat
149. Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan
ukuran.”

8
3. Al-Qur’an menekankan pentingnya analisis yang mendalam terhadap fenomena
alam melalui proses penalaran yang kritis dan sehat untuk mencapai
kesimpulan yang rasional. Persoalan ini dinyatakan dalam surat al-Nahl ayat
1112. Artinya: “Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanaman-
tanaman zaitun, korma, anggur, dan segala macam buahbuahan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berpikir. Dan Dia menundukkan
malam dan siang, matahari dan bulan untukmu; dan bintang-bintang itu
ditundukkan (bagimu) dengan perintah-Nya. Sebenarnya pada yang demikian
itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang menalar.”
Tiga langkah yang dikembangkan oleh al-Qur’an itulah yang sesungguhnya
yang dijalankan oleh sains hingga saat ini, yaitu observasi (pengamatan),
pengukuran-pengukuran, lalu menarik kesimpulan (hukum-hukum) berdasarkan
observasi dan pengukuran itu. Meskipun demikian, dalam perspektif al-Qur’an,
kesimpulan-kesimpulan ilmiah rasional bukanlah tujuan akhir dan kebenaran mutlak
dari proses penyelidikan terhadap gejala-gejala alamiah di alam semesta. Sebab,
seperti pada penghujung ayat yang menjelaskan gejala-gejala alamiah, kesadaran
adanya Allah dengan sifat-sifat-Nya Yang Maha Sempurna menjadi tujuan hakiki di
balik fakta-fakta alamiah yang dinampakkan. Memahami tanda-tanda kekuasaan
Pencipta hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang terdidik dan bijak yang
berusaha menggali rahasia-rahasia alam serta memiliki ilmu (keahlian) dalam
bidang tertentu. Ilmu-ilmu kealaman seperti matematika, fisika, kimia, astronomi,
biologi, geologi dan lainnya merupakan perangkat yang dapat digunakan untuk
memahami fenomena alam semesta secara tepat. Dengan bantuan ilmu-ilmu serta
didorong oleh semangat dan sikap rasional, maka sunnatullah dalam wujud
keteraturan tatanan (order) di alam ini tersingkap.

9
BAB III

 3 Generasi Terbaik menurut Al-Hadist

Hadist-hadits Generasi Terbaik


ُ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َم َث ُل أ ُ َّمتِي َم َث ُل ْال َم َط ِر اَل ي ُْد َرى أَ َّولُ ُه َخ ْي ٌر أَ ْم آ ِخ ُره‬ ٍ ‫َعنْ أَ َن‬
َ ِ ‫س َقا َل َقا َل َرسُو ُل هَّللا‬
Riwayat dari Anas r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan
umatku seperti perumpamaan hujan, tidak diketahui apakah yang terbaik itu ada
pada permulaan atau pada akhirnya.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

‫ِيه ْم‬
ِ ‫تف‬ُ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َقا َل َخ ْي ُر َه ِذ ِه اأْل ُ َّم ِة ْال َقرْ نُ الَّذِي ُبع ِْث‬
َ ِ ‫ْن أَنَّ َرسُو َل هَّللا‬
ٍ ‫صي‬
َ ‫ْن ُح‬ َ ‫َعنْ عِ ْم َر‬
ِ ‫ان ب‬
Riwayat dari Imran Ibn Hushain bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik
umat ini adalah generasi yang aku di utus pada mereka.” (H.R. Ahmad).

َ ‫ِين َيلُو َن ُه ْم ُث َّم الَّذ‬


‫ِين َيلُو َن ُه ْم‬ َ ‫اس َقرْ نِي ُث َّم الَّذ‬
ِ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َقا َل َخ ْي ُر ال َّن‬
َ ِّ‫َعنْ َع ْب ِد هَّللا ِ َرضِ َي هَّللا ُ َع ْن ُه َعنْ ال َّن ِبي‬
Riwayat dari ‘Abdullah r.a. dari Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia
adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku), kemudian orang-orang
setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. (H.R. Bukhari Muslim).

Ibn Qutaibah dalam karyanya Ta’wil Mukhtalif al-Hadits, memberikan


tanggapan terkait persoalan ini. Menurutnya, ketika Nabi menetapkan bahwa yang
terbaik adalah generasi pada masanya, itu mengindikasikan bahwa para sahabat
merupakan produk pertama umat Islam yang dididik langsung oleh Nabi
Muhammad saw, di samping mereka juga merasakan penderitaan bersama Nabi,
berjihad, membantu memelihara Al-Qur’an dan lain sebagainya, di mana hal
tersebut tidak didapati oleh generasi setelahnya. Namun, Nabi saw. juga tidak
mengabaikan bahwa di akhir zaman nanti, ada generasi yang memiliki kontribusi
yang sebanding dengan kontribusi yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.

Pandangan Para Ulama tentang Generasi Terbaik


a. Pandangan Ibn Qutaibah di atas kemudian dikembangkan oleh para pemikir
Islam, seperti Muhammad Abduh, Syahrur, Abu Rayyah dan Harun
Nasution. Menurut mereka, generasi terbaik tidak mesti dispesifikasikan
hanya kepada generasi Nabi (para sahabat) dan umat Islam akhir zaman

10
semua generasi dapat menjadi generasi terbaik, dengan catatan mereka
patuh dan taat kepada aturan-aturan Islam. Allah swt. sudah mengisyaratkan
dalam Q.S. al-Hujurat [49]: 13, ‫هللا أَ ْت َقا ُك ْم‬
ِ َ‫ إِنَّ أَ ْك َر َم ُك ْم عِ ْند‬, artinya: “Yang terbaik di
sisi-Nya adalah dia yang paling bertakwa”. Dan orang-orang yang bertakwa,
tidak hanya ada di masa Nabi dan akhir zaman, namun juga ada di masa
setelahnya pun di masa kita. Bahwa potongan hadis-hadis yang
membicarakan generasi terbaik (hadis kedua dan ketiga) di atas, memiliki
teks lengkap, yaitu “kemudian akan datang setelah masa kalian, suatu kaum
yang mereka bersaksi padahal tidak diminta bersaksi, dan mereka
berkhianat sehingga tidak bisa dipercaya, mereka memberi peringatan tanpa
diminta memberikan fatwa dan ciri dari mereka itu berbadan gemuk.”
b. Menurut Nadir, keterangan ini memberikan kita pemahaman bahwa 3
generasi awal dikatakan terbaik itu bukan semata-mata soal keimanan
mereka, tetapi juga soal penegakkan hukum dan moral. Generasi
selanjutnya menjadi redup sinarnya karena mereka telah memainkan
kesaksian, nazar, dan fatwa sehingga mereka bergelimang harta duniawi
yang dicirikan dengan tubuh mereka yang gemuk sebagai simbol
kemakmuran. Namun, kita juga tidak menafikan bahwa ada segelintir orang
di masa Nabi yang dinilai Munafiq dan banyak melakukan kesalahan, seperti
saling membunuh, mabuk-mabukan dan berzina. Begitu pula di akhir zaman,
digambarkan banyak umat manusia yang terkecoh kehidupan dunia yang
megah sehingga mengabaikan nilai-nilai agama. Berdasarkan hal ini,
selayaknya generasi terbaik itu harus ditinjau dari segi individunya. Oleh
karena itu, maka setiap generasi bisa mendapatkan predikat generasi
terbaik, termasuk kita hari ini.
Misalnya di abad ke-2, ada beberapa Imam Mazhab, seperti Abu Hanifah, Malik
Ibn Anas dan al-Syafi’i, atau di abad ke-3 H, lahir beberapa pakar hadis, seperti
Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan lainnya. Mereka semua layak disebut
sebagai generasi terbaik. Bahkan, apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita di
Uigur, India, Afrika dan lainnya yang sedang mengalami penindasan dan
penderitaan, namun tetap berpegang teguh dengan agama Islam, mereka juga
layak disebut sebagai generasi terbaik. Oleh karena itu, tak mengherankan jika
Muhammad Syahrur dalam karyanya al-Sunnah al-Rasuliyyah wa al-Sunnah al-
Nabawiyyah mengatakan, “Andaikan kita terus menerus merasa rendah dan selalu
beranggapan bahwa yang terbaik hanya ada di masa Nabi (para sahabat), maka

11
hal itu akan membuat kita berhenti untuk berpikir, takut untuk berijtihad, dan lebih
memilih menyerahkan dan mengait-ngaitkan problematika hari ini kepada mereka,
padahal mereka sendiri tidak merasakan apa yang tengah kita rasakan.”
Demikianlah kehidupan seorang alim, keberadaannya senantiasa memberi
manfaat kepada umat. Dia menebar ilmu, menebar cahaya di tengah keterpurukan
manusia. Dia laksana rembulan purnama di tengah bertaburnya bintang gemilang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan keutamaan antara
seorang alim dengan seorang abid (ahli ibadah). Dari Abud Darda’ radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َ‫ إِنَّ اأْل َ ْن ِب َيا َء لَـ ْم ي َُورِّ ُثوا ِد ْي َنارً ا َوال‬،‫ إِنَّ ْال ُعلَ َما َء َو َر َث ُة اأْل َ ْن ِب َيا َء‬،ِ‫َو َفضْ ُل ْال َعال ِِم َعلَى ْال َع ِاب ِد َك َفضْ ِل ْال َق َم ِر َعلَى َسائ ِِر ْال َك َوا ِكب‬
‫ إِ َّن َما َورَّ ُثوا ْالع ِْل َم َف َمنْ أَ َخ َذهُ أَ َخ َذ ِب َح ٍّظ َواف ٍِر‬،‫دِرْ َهمًا‬
“Dan keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah, bagai rembulan
atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya
para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu.
Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan
yang banyak.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2682, Sunan Abi Dawud no. 3641, Asy-
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini).

12
Bab IV

 Pengertian dan Jejak Salafussoleh ( refrensi Al-Hadist)

Pengertian Salaf
Definisi Salaf secara etimologi dan terminologi : As-Salaf ‫“ اﻟﺴﻠﻒ‬memiliki arti : ‫ﻣﺎ‬
‫( ” ﻣﻀﻰ وﺗﻘﺪم‬yang telah berlalu dan terdahulu). Jika dikatakan ‫َﺱﻠﻔﺎ‬
َ ‫ ﺱﻠﻒ اﻟﺸﻲء‬: artinya
adalah “ ‫( ”ﻣﻀﻰ‬yang telah lewat), jika dikatakan “‫ ” ﺱﻠﻒ ﻓﻼن ﺱﻠﻔﺎ‬artinya adalah “‫”اﻟﻤﺘﻘﺪم‬
(yang telah berlalu/terdahulu), dan as-Salif “‫ ”اﻟﺴﺎﻟﻒ‬berarti : ‫( اﻟﻤﺘﻘﺪم‬pendahulu).
Sedangkan as-Salaf bermakna : ‫( اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻮن‬sekumpulan orang yang
terdahulu). Salaf juga berarti : ‫( اﻟﻘﻮم اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻮن ﻓﻲ اﻟﺴﻴﺮ‬orang-orang yang mendahului di
dalam perjalanan hidup). Allah Ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang Aziz : ‫ﻓﻠﻤﺎ‬
‫ ﻓﺠﻌﻠﻨﺎهﻢ ﺱﻠﻔﺎ وﻣﺜﻼ ﻟﻶﺧﺮیﻦ‬،‫ ﺁﺱﻔﻮﻧﺎ اﻧﺘﻘﻤﻨﺎ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﺄﻏﺮﻗﻨﺎهﻢ أﺝﻤﻌﻴﻦ‬yang artinya : “Maka tatkala
mereka membuat kami murka, kami hukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka
semuanya, dan kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi
orang-orang kemudian.” (az-Zukhruf : 55-56), yang maknanya : “Tatkala mereka
menyebabkan kami marah maka kami hukum mereka dan kami tenggelamkan
mereka semuanya, dan kami jadikan mereka sebagai salafan mutaqodiimiin (contoh
orang-orang terdahulu) bagi orang-orang yang melakukan perbuatan mereka, agar
orang-orang setelah mereka dapat mengambil pelajaran dan menjadikan mereka
sebagai peringatan bagi lainnya”. Salaf juga berarti : ‫( آﻞ ﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ ّﻗﺪﻣﺘﻪ‬Setiap amal
shalih yang terdahulu), jika dikatakan : “‫ ”ﻗﺪ ﺱﻠﻒ ﻟﻪ ﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ‬amal shalihnya telah
berlalu. Dan salaf adalah ‫ ﻣﻦ ﺗﻘﺪﻣﻚ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻚ وذوي ﻗﺮاﺑﺘﻚ اﻟﺬیﻦ هﻢ ﻓﻮﻗﻚ ﻓﻲ اﻟﺴﻦ واﻟﻔﻀﻞ‬orang-
orang yang mendahuluimu dari bapak-bapakmu dan kaum kerabatmu yang mereka
di atasmu dalam hal usia dan keutamaan, seorang dari mereka disebut ‫ﺱﺎﻟﻒ‬
saalifun.
Seperti perkataan Thufail al-Ghonawi yang meratapi kaumnya : ‫ﻣﻀﻮا ﺱﻠﻔﺎ ﻗﺼﺪ‬
‫ اﻟﺴﺒﻴﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ وﺻﺮف اﻟﻤﻨﺎیﺎ ﺑﺎﻟﺮﺝﺎل ﺗ ّﻘﻠﺐ‬, pendahulu kita telah lewat dan kitapun akan
mengikuti mereka, kita akan menjadi sepertinya terhadap orang-orang setelah kita.
Yaitu, kita akan mati sebagaimana mereka mati, dan kita akan menjadi salaf
(pendahulu) bagi orang-orang setelah kita sebagaimana mereka menjadi salaf bagi
kita. Dari Al-Hasan Al-Bashri, beliau berdo’a di dalam sholat jenazah terhadap anak
kecil : ‫“ اﻟﻠﻬﻢ اﺝﻌﻠﻪ ﻟﻨﺎ ﺱﻠﻔﺎ‬Ya Allah jadikanlah dia salaf bagi kami.” Oleh karena itulah,
generasi pertama dinamakan dengan as-Salaf ash-Sholih.
Rasulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, mereka adalah salaful ummah (pendahulu ummat), dan siapa saja yang

13
menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam,
para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka
juga salaful ummah. Serta siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan
oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, para sahabatnya dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, maka mereka berada di atas manhaj as-Salaf
ash-Sholih, maka wajib bagi setiap muslim untuk ittiba’ (mengikuti) al-Qur'an al-
Karim dan as-Sunnah al-Muthoharoh dengan mengembalikannya kepada
pemahaman as-Salaf ash-Shalih ridlwanullahu ‘alaihim ajma’in, karena mereka
adalah kaum yang lebih berhak untuk ditiru/diikuti, karena mereka adalah orang-
orang yang paling benar keimanannya, yang kuat aqidahnya dan yang paling
ikhlash ibadahnya.
Imamnya as-Salaf ash-Shalih adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi
wa Sallam yang mana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti beliau di
dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya : ‫ وﻣﺎ ﻧﻬﺎآﻢ ﻋﻨﻪ ﻓﺎﻧﺘﻬﻮا‬،‫ وﻣﺎ ﺁﺗﺎآﻢ اﻟﺮﺱﻮل ﻓﺨﺬوﻩ‬yang
artinya : “Apa yang diberikan Rasul padamu maka ambillah dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (al-Hasyr : 7). Beliau adalah Uswah
Hasanah (suri tauladan yang baik) dan Qudwah Shalihah (suri tauladan yang
shalih),
Allah Ta’ala berfirman : ‫ﻟﻘﺪ آﺎن ﻟﻜﻢ ﻓﻲ رﺱﻮل اﷲ أﺱﻮة ﺣﺴﻨﺔ ﻟﻤﻦ آﺎن یﺮﺝﻮ اﷲ واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ وذآﺮ‬
‫ اﷲ آﺜﻴﺮا‬yang artinya : “Telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri
Rasulullah bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari
akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab : 21).
Beliau adalah orang yang berbicara dengan wahyu dari langit, Allah Ta”ala
berfirman : ‫ وﻣﺎ یﻨﻄﻖ ﻋﻦ اﻟﻬﻮى إن هﻮ إﻻ وﺣﻲ یﻮﺣﻰ‬yang artinya : “Dia tidaklah berbicara
dari hawa nafsu melainkan dengan wahyu yang diwahyukan padanya”. (an-Najm :
3-4).
Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk menjadikan diri beliau sebagai hakim
di dalam segala perkara hidup kita, firman-Nya : ‫ﻓﻼ ورﺑﻚ ﻻ یﺆﻣﻨﻮن ﺣﺘﻰ یﺤﻜﻤﻮك ﻓﻴﻤﺎ ﺷﺠﺮ‬
‫ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺙﻢ ﻻ یﺠﺪوا ﻓﻲ أﻧﻔﺴﻬﻢ ﺣﺮﺝﺎ ﻣﻤﺎﻗﻀﻴﺖـ ویﺴﻠﻤﻮا ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ‬yang artinya : “Maka demi Tuhanmu,
sesungguhnya pada hakikatnya mereka tidak beriman hingga mereka
menjadikanmu sebagai hakim terhadap perselisihan yang terjadi diantara mereka,
kemudian mereka tidak merasa berat di dalam hati dan mereka menerima dengan
pasrah.” (an-Nisa” : 65).
Allah Ta’ala juga memperingatkan kita supaya tidak menyelisihinya dengan
firman-Nya : ‫ ﻓﻠﻴﺤﺬر اﻟﺬیﻦ یﺨﺎﻟﻔﻮن ﻋﻦ أﻣﺮﻩ أن ﺗﺼﻴﺒﻬﻢ ﻓﺘﻨﺔ أو یﺼﻴﺒﻬﻢ ﻋﺬاب أﻟﻴﻢ‬yang artinya :

14
“Maka hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpakan adzab yang pedih.” (an-Nuur : 63).
Adapun referensi para salaf shalih ketika berselisih adalah Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman : ‫ﻓﺈن ﺗﻨﺎزﻋﺘﻢ ﻓﻲ‬
‫ ﺷﻲء ﻓﺮدوﻩ إﻟﻰ اﷲ واﻟﺮﺱﻮل إن آﻨﺘﻢ ﺗﺆﻣﻨﻮن ﺑﺎﷲ واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ ذﻟﻚ ﺧﻴﺮ وأﺣﺴﻦ ﺗﺄویﻼ‬yang artinya : “Jika
kalian berselisih tentang segala sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan
Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang
demikian ini lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa” : 59).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah penyampai risalah dari Rab-nya
dan pemberi penjelasan bagi Kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman : ‫وأﻧﺰﻟﻨﺎ إﻟﻴﻚ اﻟﺬآﺮ ﻟﺘﺒﻴﻦ‬
‫ ﻟﻠﻨﺎس ﻣﺎ ّﻧﺰل إﻟﻴﻬﻢ‬yang artinya : “Dan kami turunkan al-Qur'an kepadamu, supaya
engkau menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada
mereka.” (an-Nahl : 44).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : ‫ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺴﻨﺘﻲ وﺱﻨﺔ اﻟﺨﻠﻔﺎء اﻟﺮاﺷﺪیﻦ‬
‫ ﻓﺈن آﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺽﻼﻟﺔ‬،‫ وإیﺎآﻢ وﻣﺤﺪﺙﺎتـ اﻷﻣﻮر‬،‫ ﻋّﻀﻮا ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺎﻟﻨﻮاﺝﺬ‬،‫ اﻟﻤﻬﺪیﻴﻦ‬yang artinya : “Maka
peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk,
gigitlah dengan gigi gerahammu, dan jauhilah olehmu perkara-perkara yang baru,
karena setiap bid’ah itu sesat.” Seutama-utama salaf setelah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Sallam adalah para sahabat, yang mereka mengambil agama mereka
langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan kejujuran dan
keikhlasan, sebagaimana Allah mensifati mereka di dalam kitab-Nya dengan firman-
Nya : ‫ ﻣﻦ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ رﺝﺎل ﺻﺪﻗﻮا ﻣﺎ ﻋﺎهﺪوا اﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻤﻨﻬﻢـ ﻣﻦ ﻗﻀﻰ ﻧﺤﺒﻪ وﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ یﻨﺘﻈﺮ وﻣﺎ ﺑﺪﻟﻮا ﺗﺒﺪیﻼ‬yang
artinya : “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa
yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur
dan ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah
janjinya.” (al-Ahzab :23).
Mereka adalah orang yang mengamalkan perbuatan kebajikan sebagaimana
yang Allah Ta”ala sebutkan di dalam Kitab-Nya dalam firman-Nya : ‫وﻟﻜﻦ اﻟﺒﺮ ﻣﻦ ﺁﻣﻦ ﺑﺎﷲ‬
‫ وﺁﺗﻰ اﻟﻤﺎل ﻋﻠﻰ ﺣﺒﻪ ذوي اﻟﻘﺮﺑﻰ واﻟﻴﺘﺎﻣﻰ واﻟﻤﺴﺎآﻴﻦ واﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴﻞ واﻟﺴﺎﺋﻠﻴﻦ‬،‫واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ واﻟﻤﻼﺋﻜﺔ واﻟﻜﺘﺎب واﻟﻨﺒﻴﻴﻦ‬
‫وﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎب وأﻗﺎم اﻟﺼﻼة وﺁﺗﻰ اﻟﺰآﺎة واﻟﻤﻮﻓﻮن ﺑﻌﻬﺪهﻢ إذا ﻋﺎهﺪوا واﻟﺼﺎﺑﺮیﻦ ﻓﻲ اﻟﺒﺄﺱﺎء واﻟﻀﺮاء وﺣﻴﻦ اﻟﺒﺄس أوﻟﺌﻚ‬
‫اﻟﺬیﻦ ﺻﺪﻗﻮا وأوﻟﺌﻚ هﻢ اﻟﻤﺘﻘﻮن‬, yang artinya : “Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta, dan
memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan orang-

15
orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bena
imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “ (al-Baqoroh : 177).
Ayat ini adalah ayat tadayyun yang menunjukkan cara beragama yang benar
yang para sahabat radhiyallahu ‘anhum mensifatkannya. Kitabullah adalah dustur
(undang-undang) dan nizham (peraturan) mereka, kemudian setelah itu as-Sunnah,
yang merupakan ilmu yang paling berkah, yang paling utama dan paling banyak
manfaatnya baik di dunia dan akhirat setelah Kitabullah Azza wa Jalla. As-Sunnah
bagaikan taman-taman dan kebun-kebun, yang kau dapatkan di dalamnya kebaikan
dan kebajikan. Kemudian setelah as-Sunnah adalah apa yang disepakati atasnya
(ijma’) salaful ummah dan para imam mereka. As-Salaf ash-Shalih juga merupakan
generasi (kurun) terbaik yang paling utama sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam haditsnya : ‫ﺧﻴﺮ اﻟﻨﺎس ﻗﺮﻧﻲ ﺙﻢ اﻟﺬیﻦ‬
‫ یﻠﻮﻧﻬﻢ ﺙﻢ اﻟﺬیﻦ یﻠﻮﻧﻬﻢ‬yang artinya : “Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku,
kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” Dan sabdanya : ‫ﺙﻢ‬
‫ ویﻈﻬﺮ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺴـَﱢﻤُﻦ‬،‫ ویﻨﺬرون وﻻ یﻮﻓﻮن‬،‫ ویﺨﻮﻧﻮن وﻻ ُیﺆﺗﻤﻨﻮن‬،‫یﻜﻮن ﺑﻌﺪهﻢ ﻗﻮم یﺸﻬﺪون وﻻ یﺴﺘﺸﻬﺪون‬
yang artinya : “Kemudian akan datang suatu kaum setelah mereka bersaksi namun
tidak diminta kesaksiannya, mereka berkhianat dan tidak dipercaya, mereka
bernadzar namun tak pernah memenuhinya, dan tampak kegemukan pada
mereka.”
Ushuluddin (pokok agama) yang dipegang teguh oleh para imam agama, ulama
islam dan salaf shalih yang terdahulu, dan menyeru manusia kepadanya, adalah :
mereka mengimani al-Kitab dan as-Sunnah secara global (ijmal) dan terperinci
(tafshil), mereka bersaksi akan keesaan (wahdaniyah) Allah Azza wa Jalla dan
bersaksi akan Nubuwah dan Risalah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Mereka mengenal Rabb mereka dengan sifat-Nya yang dipaparkan oleh wahyu-Nya
dan risalah-Nya, atau yang dipersaksikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam dari berita yang datang dari khobar shahih dan dinukil oleh orang yang adil
dan tsiqot. Mereka menetapkan bagi Allah Azza wa Jalla apa yang Allah tetapkan
bagi diri-Nya sendiri di dalam Kitab-Nya, atau yang ditetapkan lisan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam, tanpa melakukan tasybih (penyerupaan) terhadap
makhluk-Nya, tanpa takyif (menggambarkan kaifiyatnya), tanpa ta’thil (meniadakan
seluruh sifat-Nya), tanpa tahrif (memalingkan makna-Nya kepada makna yang
bathil), tanpa tabdil (merubah maknanya) dan tanpa tamtsil (membuat contoh
seperti makhluk). Allah Ta’ala berfirman : ‫ ﻟﻴﺲ آﻤﺜﻠﻪ ﺷﻲء وهﻮ اﻟﺴﻤﻴﻊ اﻟﺒﺼﻴﺮ‬yang artinya :

16
“Tiada yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(asy-Syuraa : 11)
Imam az-Zuhri berkata : ‫ وﻋﻠﻴﻨﺎ اﻟﺘﺴﻠﻴﻢ‬،‫ وﻋﻠﻰ اﻟﺮﺱﻮل اﻟﺒﻼغ‬،‫ ﻋﻠﻰ اﷲ اﻟﺒﻴﺎن‬Artinya : “Hak
Allah untuk menerangkan, dan hak Rasul untuk menyampaikan dan kewajiban kita
untuk menerima pasrah.”
Imam Sufyan bin Uyainah berkata : ‫ ﻓﺘﻔﺴﻴﺮﻩ ﺗﻼوﺗﻪ‬،‫آﻞ ﻣﺎ وﺻﻒ اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻲ آﺘﺎﺑﻪ‬
‫ واﻟﺴﻜﻮت ﻋﻨﻪ‬Artinya : “Setiap apa yang disifatkan oleh Allah Ta”ala terhadap diri-Nya
di dalam KitabNya maka penjelasannya (tafsirnya) adalah bacaannya dan kita diam
dari (memperbincangkan)nya.”
Imam asy-Syafi”i berkata : ‫ وﺑﻤﺎ ﺝﺎء‬،‫ وﺁﻣﻨﺖ ﺑﺮﺱﻮل اﷲ‬،‫ ﻋﻠﻰ ﻣﺮاد اﷲ‬،‫ وﺑﻤﺎ ﺝﺎء ﻋﻦ اﷲ‬،‫ﺁﻣﻨﺖ ﺑﺎﷲ‬
‫ ﻋﻠﻰ ﻣﺮاد رﺱﻮل اﷲ‬،‫ ﻋﻦ رﺱﻮل اﷲ‬Artinya : “Aku beriman kepada Allah, dan terhadap
apapun yang datang dari Allah dengan apa yang dikehendaki Allah. Dan aku
beriman kepada Rasulullah, dan terhadap apapun yang datang dari Rasulullah
dengan apa yang dikehendaki Rasulullah.”
Di atas inilah para salaf dan para imam kholaf Radhiyallahu ‘anhum berjalan,
seluruhnya bersepakat untuk mengikrarkan dan menetapkan segala sifat Allah yang
datang dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya tanpa menentang dengan
mentakwilnya, kita diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka dan berpedoman
dengan cahaya mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah
memperingatkan kita dari perkara-perkara baru (muhdats), dan memberitakannya
bahwa hal tersebut termasuk kesesatan, beliau bersabda di dalam haditsnya : ‫ﻋﻠﻴﻜﻢ‬
‫ ﻓﺈن آﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺽﻼﻟﺔ‬،‫ وإیﺎآﻢ وﻣﺤﺪﺙﺎتـ اﻷﻣﻮر‬،‫ ﻋّﻀﻮا ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺎﻟﻨﻮاﺝﺬ‬،‫ﺑﺴﻨﺘﻲ وﺱﻨﺔ اﻟﺨﻠﻔﺎء اﻟﺮاﺷﺪیﻦ اﻟﻤﻬﺪیﻴﻦ‬
yang artinya : “Maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan
mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu, dan jauhilah olehmu perkara-
perkara yang baru, karena setiap bid”ah itu sesat.” Yang telah disebutkan hadits
dan takhrijnya.
Abdullah bin Mas’ud berkata : ‫ اﺗﺒﻌﻮا وﻻ ﺗﺒﺘﺪﻋﻮا ﻓﻘﺪ آﻔﻴﺘﻢ‬Artinya : “Ittiba’lah dan jangan
membuat bid’ah karena kalian telah dicukupi.” Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu
berkata : ‫ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻋﻦ ﻋﻠﻢ وﻗﻔﻮا وﺑﺒﺼﺮ ﻧﺎﻓﺬ آﻔﻮا‬،‫ ﻗﻒ ﺣﻴﺚ وﻗﻒ اﻟﻘﻮم‬Artinya : “Berhentilah dimana
kaum salaf- itu berhenti, mereka berhenti karena berangkat dari dasar ilmu serta
mampu untuk membahas namun mereka menahan diri darinya.”
Imam al-Auza’i Rahimahullahu berkata : ‫ وإیﺎك وﺁراء‬،‫ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺂﺙﺎر ﻣﻦ ﺱﻠﻒ وإن رﻓﻀﻚ اﻟﻨﺎس‬
‫ اﻟﺮﺝﺎل وإن زﺧﺮﻓﻮﻩ ﻟﻚ ﺑﺎﻟﻘﻮل‬Artinya : “Peganglah atsar dari salaf walaupun manusia
menentangnya, jauhilah oleh kalian pemikiran-pemikiran manusia walaupun mereka
menghiasinya dengan perkataan.”

17
Aqidah Salaf
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, pendapat mereka bahwa Iman adalah
ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota tubuh, dan keyakinan dengan hati,
serta iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, bahwasanya kebaikan dan kejahatan
adalah dengan keputusan (Qoda’) Allah dan ketentuan-Nya (Qodar), namun Dia
tidaklah memerintahkan keburukan. Sebagaimana perkataan sebagian salaf :
Seluruhnya adalah dengan perintah Allah, karena Allah Ta’ala memerintahkan
kebaikan dan melarang dari keburukan, Dia tidak memerintahkan kepada kekejian
namun ia melarangnya. Dan manusia tidaklah dipaksa, ia mampu memilih
perbuatan dan keyakinannya, dan ia berhak atas siksaan dan pahala sesuai dengan
ikhtiarnya, ia dapat memilih perintah dan larangan. Allah Ta’ala berfirman : ‫ﻓﻤﻦ ﺷﺎء‬
‫ ﻓﻠﻴﺆﻣﻦ وﻣﻦ ﺷﺎء ﻓﻠﻴﻜﻔﺮ‬yang artinya : “Barangsiapa yang berkehendak beriman maka
hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang berkehendak kafir biarlah ia kafir.” (al-
Kahfi : 29).
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, mereka tidak mengkafirkan seorangpun
dari kaum muslimin yang berdosa, walaupun mereka melakukan dosa besar,
kecuali jika ia menentang sesuatu dari agama yang telah diketahui akan urgensinya,
dan ia mengetahui mana yang khusus dan mana yang umum, dan perkara ini telah
tetap dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ salaful ummah dan para imamnya.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, mereka beribadah kepada Allah Ta’ala
semata dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tidaklah mereka
meminta melainkan hanya kepada Allah, mereka tidak pula beristighotsah dan
beristi’anah melainkan kepada-Nya Subhanahu. Mereka tidak bertawakal melainkan
kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dan mereka bertawasul kepada Allah dengan
ketaatannya, ibadahnya, dan amal-amal shalihnya. Sebagaimana firman Allah
Ta’ala : ‫ یﺎ أیﻬﺎ اﻟﺬیﻦ ﺁﻣﻨﻮا اﺗﻘﻮا اﷲ واﺑﺘﻐﻮا إﻟﻴﻪ اﻟﻮﺱﻴﻠﺔ‬yang artinya : “Wahai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan-jalan yang mendekatkan
diri kepada-Nya.” (al-Maidah : 35) yaitu, dekatlah kepada-Nya dengan ketaatan dan
ibadah kepada-Nya.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, sholat boleh di belakang setiap orang
yang baik maupun yang fajir selama zhahirnya masih benar. Dan kita tidak
menetapkan seorangpun siapapun dia dengan surga atau neraka kecuali terhadap
orang-orang yang telah ditetapkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Akan
tetapi kami mengharapkan kebaikan dan takut akan keburukan, kami

18
mempersaksikan sepuluh orang yang diberitakan masuk surga sebagaimana Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Sallam mempersaksikan mereka. Dan setiap orang yang
dipersaksikan oleh Nabi dengan surga maka kami turut mempersaksikannya,
karena beliau tidaklah berucap dari hawa nafsu kecuali wahyu yang diwahyukan.
Kami memberikan loyalitas/kecintaan kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Sallam dan menahan diri dari memperbincangkan percekcokan dan
perselisihan dinatara mereka. Dan urusannya adalah pada Rabb mereka. Kami
tidak mencela salah seorang dari sahabat, sebagai pengejawantahan sabdanya : ‫ﻻ‬
‫ ﻓﻮ اﻟﺬي ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻮ أﻧﻔﻖ أﺣﺪآﻢ ﻣﺜﻞ أﺣﺪ ذهﺒﺎ ﻣﺎ ﺑﻠﻎ ﻣّﺪ أﺣﺪهﻢ وﻻ ﻧﺼﻴﻔﻪ‬،‫ ﺗﺴﺒﻮا أﺻﺤﺎﺑﻲ‬Yang artinya :
“Janganlah kalian mencela sahabatku, demi dzat yang jiwaku berada di tangannya,
seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan hartanya sebanyak gunung
uhud, tidak akan mampu mencapai satu mud infaq mereka maupun setengahnya.”
Para sahabat tidaklah maksum dari kesalahan, karena ishmah (kemaksuman)
adalah milik Allah dan rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam
menyampaikan. Dan Allah Ta’ala memelihara ijma’ ummat dari kesalahan, bukan
satu individu, sebagaimana sabda nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam
haditsnya : ‫ ویﺪ اﷲ ﻋﻠﻰ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ‬،‫ إن اﷲ ﻻ یﺠﻤﻊ أﻣﺘﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻀﻼﻟﺔ‬yang artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan ummatku di atas kesesatan, dan
tangan Allah di atas jama’ah.” Kami memohon Ridha Allah bagi isteri-isteri
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Ummahatul Mukminin, dan kami
berkeyakinan bahwa mereka suci terbebas dari segala keburukan.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, tidak wajib bagi seorang muslim untuk
mengikatkan dirinya kepada madzhab fikih tertentu, dan boleh baginya keluar dari
satu madzhab ke madzhab lainnya berdasarkan kekuatan dalil. Tidak ada madzhab
bagi orang awam, madzhabnya adalah madzhab muftinya. Bagi penuntut ilmu, jika
dia memiliki keahlian dan mampu untuk mengetahui dalil-dalil para imam maka
hendaklah ia melakukannya, dan berpindah dari madzhabnya seorang imam dalam
suatu masalah kepada madzhab imam lain yang memiliki dalil lebih kuat dan
pemahaman lebih rajih di dalam masalah lainnya. Yang demikian ini dikatakan
sebagai muttabi’ bukanlah mujtahid, karena ijtihad adalah menggali hukum
langsung dari Kitabullah dan as-Sunnah sebagaimana para imam yang empat
melakukannya ataupun selain mereka dari para ahli fikih dan ahli hadits.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, bahwasanya para sahabat yang empat,
yaitu : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah para
khalifah yang lurus lagi mendapatkan petunjuk (Khulafa’ur Rasyidin al-Mahdiyin).

19
Mereka yang memegang kekhalifahan nubuwah selama 30 tahun ditambah
kekhilafahan Husain Radhiyallahu ‘anhum, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu
'alaihi wa Sallam : ‫ ﺙﻢ ُﻣﻠﻚ ﺑﻌﺪ ذﻟﻚ‬،‫ اﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﻲ أﻣﺘﻲ ﺙﻼﺙﻮن ﺱﻨﺔ‬yang artinya : “Kekhilafahan
pada ummatku selama 30 tahun, kemudian akan berbentuk kerajaan setelahnya.”
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, wajib mengimani seluruh yang berada di
dalam al-Qur'an dan Allah Ta’ala memerintahkan kita dengannya, dan
meninggalkan setiap apa yang dilarang Allah kepada kita baik secara global
maupun terperinci. Kami mengimani segala apa yang diberitakan oleh Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan yang telah shahih penulisan darinya baik yang
dapat kita saksikan maupun yang tidak dapat, sama saja baik yang dapat kita nalar
maupun yang tidak kita ketahui dan tidak pula dapat kita telaah hakikat maknanya.
Kita melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa
Sallam dan kita menjauhi terhadap segala apa yang Allah dan RasulNya
melarangnya. Kita berhenti pada batasan-batasan (Hudud) Kitabullah Ta’ala dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan yang datang dari Khalifah ar-
Rasyidin al-Mahdiyin. Wajib bagi kita mengikuti segala apa yang datang dari
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam baik berupa keyakinan, amal perbuatan,
dan ucapan, serta meniti jalannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan
jalannya para Khalifah ar-Rasyidin al-Mahdiyin yang empat baik berupa keyakinan,
amal perbuatan mapun ucapan. Inilah dia sunnah yang sempurna itu, dikarenakan
sunnah Khalifah ar-Rasyidin diikuti sebagaimana mengikuti Sunnah Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Umar bin Abdul Aziz berkata : ‫ ﺱﻦ ﻟﻨﺎ رﺱﻮل اﷲ‬ ‫ووﻻة‬
‫ وﻻ اﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ‬،‫ ﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺗﺒﺪیﻠﻬﺎ وﻻ ﺗﻐﻴﻴﺮهﺎ‬،‫ وﻗﻮة ﻋﻠﻰ دیﻦ اﷲ‬،‫ اﻷﺧﺬ ﺑﻬﺎ اﻋﺘﺼﺎم ﺑﻜﺘﺎب اﷲ‬،‫اﻷﻣﺮ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﺱﻨﻨﺎ‬
‫ وﻣﻦ ﺗﺮآﻬﺎ واﺗﺒﻊ ﻏﻴﺮ ﺱﺒﻴﻞ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ّوﻻﻩ‬،‫ وﻣﻦ اﺱﺘﻨﺼﺮ ﺑﻬﺎ ﻓﻬﻮ اﻟﻤﻨﺼﻮر‬،‫ ﻣﻦ اهﺘﺪى ﺑﻬﺎ ﻓﻬﻮ اﻟﻤﻬﺘﺪي‬،‫أﻣٍﺮ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ‬
‫اﷲ ﻣﺎ ﺗﻮﻟﻰ وأﺻﻼﻩ ﺝﻬﻨﻢ وﺱﺎءت ﻣﺼﻴﺮًا‬, artinya : “Rasulullah meninggalkan sunnah bagi kita
demikian pula para pemimpin setelah beliau, mengambil sunnah dengan berpegang
terhadap Kitabullah dan memperkuat agama Allah. Tidak ada seorangpun yang
merubah maupun menggantinya, tidak pula ada pandangan terhadap sesuatu yang
menyelisihinya. Barangsiapa yang berpetunjuk dengannya maka ia akan
mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang menolongnya maka ia akan ditolong.
Namun barangsiapa yang meninggalkannya dan mengikuti selain jalannya orang
yang beriman maka Allah akan membiarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang ia
condong padanya dan baginya jahannam seburuk-buruk tempat kembali.” Sebagai
saksi kebenaran terhadap hal ini adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :
‫ وإیﺎآﻢ وﻣﺤﺪﺙﺎتـ اﻷﻣﻮر ﻓﺈن آﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺽﻼﻟﺔ‬yang artinya : “Jauhilah oleh kalian perkara-

20
perkara yang baru karena setiap bid”ah itu sesat.” Hadits ini merupakan pokok yang
agung dari pokok-pokok agama, dan hadits ini semakna dengan hadits : ‫ﻣﻦ أﺣﺪث ﻓﻲ‬
‫ أﻣﺮﻧﺎ هﺬا ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ رّد‬yang artinya : “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam
urusan kami yang tidak ada perintahnya maka tertolak.” Di dalam hadits ini terdapat
suatu peringatan dari mengikuti perkaraperkara yang baru (muhdats) di dalam
agama dan ibadah. Yang dimaksud dengan bid’ah adalah segala perkara yang
diada-adakan tanpa ada dasarnya dari syariat yang menunjukkan pensyariatannya.
Adapun jika suatu perkara memiliki asal di dalam syariat yang menunjukkan
pensyariatannya maka bukanlah hal ini termasuk bid’ah secara syariat, namun
dimutlakkan sebagai bid’ah secara bahasa. Maka setiap orang yang mengada-
adakan sesuatu dan menyandarkannya kepada agama padahal tidak ada asal yang
yang menunjukkannya maka ia termasuk kesesatan, dan agama ini berlepas diri
darinya baik itu dalam masalah keyakinan, perbuatan maupun ucapan. Adapun
yang terdapat pada ucapan salaf yang menyatakan kebaikan beberapa bid’ah,
maka sesungguhnya yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa tidak secara
syar’i (istilah), diantaranya adalah ucapan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu
tatkala beliau mengumpulkan manusia pada saat sholat Tarawih di bulan
Ramadhan pada imam yang satu di Masjid, beliau keluar dan melihat mereka
sedang sholat, beliau berkata : ‫ ﻧﻌﻤﺖ اﻟﺒﺪﻋﺔ هﺬﻩ‬yang artinya : “Ini adalah sebaik-baik
bid’ah”, namun amalan ini memiliki dasar di dalam syariat, karena Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah sholat Tarawih secara berjama’ah di Masjid,
kemudian beliau meninggalkannya karena takut akan diwajibkan kepada ummatnya
sedangkan ummatnya tidak mampu mengamalkannya. Ketakutan ini sirna setelah
wafatnya beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam, oleh karena itu Umar
menghidupkannya kembali.
Adapun ibadah yang telah tetap di dalam syariat maka tidak boleh menambah-
nambahinya. Misalnya adzan, telah baku kaifiyatnya yang disyariatkan tanpa perlu
menambah-nambah maupun mengurang-ngurangi. Demikian pula sholat, telah
baku kaifiyatnya yang disyariatkan, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam
bersabda : ‫ ﺻﻠﻮا آﻤﺎ رأیﺘﻤﻮﻧﻲ أﺻﻠﻲ‬yang artinya : “Sholatlah kamu sebagaimana aku
sholat.” Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahih”-nya. Haji pun
juga telah baku kaifiyatnya dari syariat, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam bersabda : ‫ ﺧﺬوا ﻋﻨﻲ ﻣﻨﺎﺱﻜﻜﻢـ‬yang artinya : “Ambillah dariku manasik hajimu.”
Ada beberapa perkara yang dilakukan oleh kaum muslimin yang tidak pernah
dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Namun perkara-perkara ini

21
merupakan suatu keharusan (dharuriyah) dalam rangka memelihara Islam, mereka
memperbolehkanya dan mendiamkannya, seperti Utsman bin Affan yang
mengumpulkan mushaf menjadi satu karena khawatir ummat akan berpecah belah,
dan para sahabat lainpun menganggap hal ini baik, karena padanya terdapat
maslahat yang sangat jelas. Juga seperti penulisan hadits Nabi yang mulia
dikarenakan khawatir akan sirna karena kematian para penghafalnya. Demikan pula
penulisan tafsir al-Qur'an, al-Hadits, penulisan ilmu nahwu untuk menjaga Bahasa
Arab yang merupakan sarana dalam memahami Islam, penulisan ilmu mustholah
hadits. Semua ini diperbolehkan dalam rangka menjaga syariat Islam dan Allah
Ta”ala sendiri bertanggung jawab dalam memelihara syariat ini sebagaimana dalam
firman-Nya : ‫ إﻧﺎ ﻧﺤﻦ ﻧﺰﻟﻨﺎ اﻟﺬآﺮ وإﻧﺎ ﻟﻪ ﻟﺤﺎﻓﻈﻮن‬yang artinya : “Sesungguhnya kami yang
menurunkan al-Qur'an dan sesungguhnya kami pula yang bertanggung jawab
memeliharanya.” (al-Hijr : 9). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
‫ وﺗﺄویﻞ اﻟﺠﺎهﻠﻴﻦ‬،‫ واﻧﺘﺤﺎل اﻟُﻤﺒﻄﻠﻴﻦ‬،‫ یﻨﻔﻮن ﻋﻨﻪ ﺗﺤﺮیﻒ اﻟﻐﺎﻟﻴﻦ‬،‫ یﺤﻤﻞ هﺬا اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ آﻞ ََﺧﻠﻒ ُﻋﺪوﻟﻪ‬yang
artinya : “Ilmu ini diemban pada tiap generasi oleh orang-orang adilnya, mereka
menghilangkan perubahan orang-orang yang ekstrim, penyelewengan orang-orang
yang bathil dan penakwilan orang-orang yang bodoh.” Hadits ini hasan dengan
jalanjalannya dan syawahid (penguat)-nya.
Inilah aqidah generasi pertama dari ummat ini, dan aqidah ini adalah aqidah
yang murni seperti murninya air tawar, aqidah yang kuat seperti kuatnya gunung
yang menjulang tinggi, aqidah yang kokoh seperti kokohnya tali simpul yang kuat,
dan ia adalah aqidah yang selamat, jalan yang lurus di atas manhaj al-Kitab dan as-
Sunnah serta di atas ucapan Salaful Ummah dan para imamnya. Dan ia adalah
jalan yang mampu menghidupkan hati generasi pertama ummat ini, ia merupakan
aqidah Salafush Shalih, Firqoh Najiyah (golongan yang selamat) dan Ahlus Sunnah
wal Jama’ah. Aqidah ini merupakan aqidahnya para imam yang empat dan
pemegang madzhab yang masyhur serta para pengkutnya, aqidahnya jumhur ahli
fikih dan ahli hadits serta para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan aqidahnya
orang-orang yang meniti jalan mereka hingga saat ini dan hingga hari kiamat.
Sesungguhnya telah berubah orang-orang yang merubah ucapan-ucapan mereka,
oleh sebagian mutaakhirin (orang-orang generasi terakhir) yang menyandarkan diri
mereka kepada madzhab mereka, maka wajib atas kita kembali kepada aqidah
salafiyah yang murni, kepada sumbernya yang telah direguk oleh orang-orang
terbaik dari Salaf Sholih. Maka kita diam terhadap apa yang mereka diamkan, kita
menjalankan ibadah sebagaimana mereka menjalankannya, dan kita berpegang

22
dengan al-Kitab, asSunnah dan Ijma’ Salaful Ummah dan para imamnya serta qiyas
yang shahih pada perkara-perkara yang baru (kontemporer).
Imam an-Nawawi berkata di dalam al-Adzkar : ‫واﻋﻠﻢ أن اﻟﺼﻮاب اﻟﻤﺨﺘﺎر ﻣﺎ آﺎن ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻠﻒ‬
‫ وﻻ ﺗﻐﺘﺮن ﺑﻜﺜﺮة ﻣﻦ یﺨﺎﻟﻔﻪ‬،‫ وهﺬا هﻮ اﻟﺤﻖ‬،‫ رﺽﻲ اﷲ ﻋﻨﻬﻢ‬yang artinya : “Ketahuilah, bahwa
kebenaran yang terpilih adalah apa yang para salaf Radhiyallahu “anhum berada di
atasnya.”
Demikian pula Abu Ali al-Fudhail bin ‘Iyyadh berkata : ‫اﻟﺰم ﻃﺮق اﻟﻬﺪى وﻻ یﻀﺮك ِﻗﻠﺔ‬
‫ وﻻ ﺗﻐﺘﺮن ﺑﻜﺜﺮة اﻟﻬﺎﻟﻜﻴﻦ‬،‫ وإیﺎك وﻃﺮق اﻟﻀﻼﻟﺔ‬،‫ اﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ‬yang artinya : “Tetapilah jalan-jalan
petunjuk dan tidaklah akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menitinya.
Jauhilah olehmu jalan-jalan kesesatan, dan janganlah dirimu terpedaya dengan
banyaknya orang yang binasa.”
Inilah satu-satunya jalan yang akan memperbaiki keadaan ummat ini. Telah
benar apa yang dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullahu, seorang
penduduk Madinah al-Munawarah ketika berkata : ‫ﻟﻦ یﺼﻠﺢ ﺁﺧﺮ هﺬﻩ اﻷﻣﺔ إﻻ ﺑﻤﺎ ﺻﻠﺢ ﺑﻪ أوﻟﻬﺎ‬
yang artinya : “Tidaklah akan baik akhir ummat ini kecuali mereka mengikuti
baiknya awal ummat ini.” Tidaklah akan musnah kebaikan di dalam ummat ini,
karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda di dalam haditsnya :
‫ ﻻ ﺗﺰال ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ أﻣﺘﻲ ﻇﺎهﺮیﻦ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻖ ﻻ یﻀﺮهﻢ ﻣﻦ ﺧﺬﻟﻬﻢ ﺣﺘﻰ یﺄﺗﻲ أﻣﺮ اﷲ وهﻢ آﺬﻟﻚ‬yang artinya :
“Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang menampakkan kebenaran,
tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang mencela, mereka tetap dalam
keadaan demikian sampai datangnya hari kiamat.”
Inilah Aqidah Salaf Sholih yang telah disepakati oleh sejumlah besar para ulama,
diantaranya adalah Abu Ja’far ath-Thahawi, yang telah disyarah aqidahnya oleh
Ibnu Abil Izz al-Hanafi salah seorang murid Ibnu Katsir adDimasyqi, yang
dinamakan dengan “Syarh Aqidah ath-Thahawiyah”. Diantara mereka juga Abul
Hasan al-Asy’ari di dalam kitabnya “al-Ibanah’an Ushulid Diyaanah”, yang di
dalamnya terhimpun aqidah beliau yang terakhir, beliau berkata : ،‫ﻗﻮﻟﻨﺎ اﻟﺬي ﻧﻘﻮل ﺑﻪ‬
‫ وﺑﺴﻨﺔ ﻧﺒﻴﻨﺎ‬،‫اﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﻜﺘﺎب اﷲ ﻋﺰ وﺝﻞ‬: ‫ ودیﺎﻧﺘﻨﺎ اﻟﺘﻲ ﻧﺪیﻦ ﺑﻬﺎ‬ ، ‫وﻣﺎ روي ﻋﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ واﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ وأﺋﻤﺔ‬
‫ وﻟﻤﻦ ﺧﺎﻟﻒ ﻗﻮﻟﻪ ﻣﺠﺎﻧﺒﻮن‬،‫ وﺑﻤﺎ آﺎن یﻘﻮل ﺑﻪ أﺑﻮ ﻋﺒﺪ اﷲ أﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻗﺎﺋﻠﻮن‬،‫ وﻧﺤﻦ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﻌﺘﺼﻤﻮن‬،‫اﻟﺤﺪیﺚ‬
yang artinya : “Pendapat yang kita berpendapat dengannya dan agama yang kita
beragama dengannya adalah : kita berpegang dengan Kitabullah Azza wa Jalla dan
dengan Sunnah Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa Sallam, serta dengan apa yang
diriwayatkna dari para sahabat, tabi”in dan para imam hadits. Kami berpegang
dengan itu semuanya, dan dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad

23
bin Hanbal, dan orang-orang yang menyelisihi ucapannya adalah orang yang
sesat.”
Termasuk pula tulisan tentang aqidah salafus shalih adalah apa yang ditulis oleh
Ash-Shabuni dalam kitabnya “Aqidah Salaf Ashabul hadits”, dan juga diantaranya
adalah Muwafiquddin Abu Qudamah al-Maqdisy al-Hanbali dalam kitabnya
“Lum’atul I’tiqod al-Haadi ila Sabilir Rosyad”, dan selain mereka dari para ulama
yang mulia. Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan. Kami
memohon kepada Allah untuk menunjuki kami kepada Aqidah yang murni, jalan
yang terang benderang lagi suci dan akhlak yang mulia terpuji. Dan kita memohon
supaya menghidupkan kita di atas Islam dan mematikan kita di atas syariat nabi kita
Muhammad alaihi Sholatu wa Salam.
Dalil-dalil dari Al-Qur’an
1. Allah berfirman: ‫اق ۖ َف َس َي ْكفِي َك ُه ُـم هَّللا ُ ۚ َوه َُو‬ ْ ‫َفإِنْ آ َم ُنوا ِبم ِْث ِل َما آ َم ْن ُت ْم ِب ِه َف َق ِد اهْ َت‬
ٍ ‫دَوا ۖ َوإِنْ َت َولَّ ْوا َفإِ َّن َما ُه ْم فِي شِ َق‬
‫“ ال َّسمِي ُع ْال َعلِي ُم‬Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman
kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka
berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu).
Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha
mendengar lagi Maha mengetahui.” [Al-Baqarah: 137]. Al-Imam Ibnu Qayyim
al-Jauziyyah rahimahullah (wafat th. 751 H) berkata: Kemudian beliau
rahimahullah melanjutkan: “Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-
besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi
mengikuti (manhaj) Sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
kewajiban yang paling wajib (utama).” ‫َوأَنَّ ٰ َه َذا صِ َراطِ ي مُسْ َتقِيمًا َفا َّت ِبعُوهُ ۖ َواَل َت َّت ِبعُوا ال ُّس ُب َل‬
َ ُ‫“ َف َت َفرَّ قَ ِب ُك ْم َعنْ َس ِبيلِ ِه ۚ ٰ َذلِ ُك ْم َوصَّا ُك ْم ِب ِه لَ َعلَّ ُك ْم َت َّتق‬Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini)
‫ون‬
adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepada-mu agar kamu
bertaqwa.” [Al-An’aam: 153]. Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan
selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya
ahli bid’ah. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam
Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang
telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim
yang wajib atas setiap Muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan

24
mengantarkan kepada Allah Azza wa Jalla. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa
jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya satu, Tidak ada
seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu
ini.
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:‫ُدَى َو َي َّت ِبعْ غَ ي َْر‬ ٰ ‫َو َمنْ ُي َشاق ِِق الرَّ سُو َل مِنْ َبعْ ِد َما َت َبي ََّن َل ُه ْاله‬
‫ت مَصِ يرً ا‬ َ ‫يل ْالم ُْؤ ِمن‬
‫ِين ُن َولِّ ِه َما َت َولَّ ٰى َو ُنصْ لِ ِه َج َه َّن َم ۖ َو َسا َء ْـ‬ ِ ‫“ َس ِب‬Dan barangsiapa yang menentang
Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang Mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang
telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisaa’: 115]. Ayat ini
menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum Mukminin sebagai sebab
seseorang terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan
masuk Neraka Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebesar-besar prinsip dalam
Islam yang mempunyai konsekuensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti
jalannya kaum Mukminin sedangkan jalannya kaum Mukminin pada ayat ini
adalah keyakinan, perkataan dan perbuatan para Sahabat Radhiyallahu
anhum. Karena, ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali
para Sahabat.
َ ‫آ َم َن الرَّ سُو ُل ِب َما أُ ْن ِز َل إِلَ ْي ِه مِنْ َر ِّب ِه َو ْالم ُْؤ ِم ُن‬
3. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‫ون‬
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur-an yang diturunkan kepada-nya dari
Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah: 285].
Orang-orang Mukmin ketika itu hanyalah para Sahabat Radhiyallahu anhum,
tidak ada yang lain. Ayat di atas menunjukkan bahwasanya mengikuti jalan
para Sahabat dalam memahami syari’at adalah wajib dan menyalahinya
adalah kesesatan.
ٍ ‫ان َرضِ َي هَّللا ُ َع ْن ُه ْم َو َرضُوا َع ْن ُه َوأَ َع َّد لَ ُه ْم َج َّنا‬
‫ت‬ َ ‫ار َوالَّذ‬
ٍ ‫ِين ا َّت َبعُو ُه ْم ِبإِحْ َس‬ ِ ‫ص‬َ ‫ين َواأْل َ ْن‬ َ ُ‫ون اأْل َ َّول‬
َ ‫ون م َِن ْال ُم َها ِج ِر‬ َ ُ‫َّابق‬
ِ ‫َوالس‬
ٰ َ ‫“ َتجْ ِري َتحْ َت َها اأْل َ ْن َها ُر َخالِد‬Orang-orang yang terdahulu lagi yang
َ ِ‫ِين فِي َها أَ َب ًدا ۚ َذل‬
‫ك ْال َف ْو ُز ْال َعظِ ي ُم‬
pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan
mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya,
Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100].
Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Sahabat Radhiyallahu anhum
adalah benar. Orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridhaan dari

25
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan disediakan bagi mereka Surga. Mengikuti manhaj
mereka adalah wajib atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti maka
mereka akan mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan keridhaan Allah Azza
wa Jalla.
َ ‫اس َتأْ ُمر‬
َ ‫ُون ِب ْال َمعْ رُوفِ َو َت ْن َه ْو َن َع ِن ْال ُم ْن َك ِر َو ُت ْؤ ِم ُن‬
Hal ini harus diperhatikan ‫ون‬ ْ ‫ُك ْن ُت ْم َخي َْر أ ُ َّم ٍة أ ُ ْخ ِر َج‬
ِ ‫ت لِل َّن‬
ِ ‫“ ِباهَّلل‬Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada
Allah…” [Ali ‘Imran: 110]. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla telah
menetapkan keutamaan atas sekalian ummat-ummat yang ada dan hal ini
menunjukkan keistiqamahan para Sahabat dalam setiap keadaan karena mereka
tidak menyimpang dari syari’at yang terang benderang, sehingga Allah Azza wa
Jalla mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap kema’rufan (kebaikan)
dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa
pemahaman mereka (Sahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka
sampai Allah Azza wa Jalla mewariskan bumi dan seisinya.
Dalil-dalil dari As-Sunnah
1. ‘Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu anhu berkata : ‫صلَّى هللاُ َع َل ْي ِه َو َسلَّ َم‬ َ ‫هللا‬ِ ‫َخ َّط َل َنا َرس ُْو ُل‬
َ ‫ ه ِذ ِه ُس ُب ٌل ] ُم َت َفرِّ َق ٌة[ َلي‬:‫ ُث َّم َقا َل‬،ِ‫ط ْو ًطا َعنْ َي ِم ْي ِن ِه َوشِ َمالِه‬
‫ْس ِم ْن َها‬ ِ ‫ َه َذا َس ِب ْي ُل‬:‫ ُث َّم َقا َل‬،ِ‫َخ ًّطا ِب َي ِده‬
ُ ‫ َو َخ َّط ُخ‬،‫هللا مُسْ َتقِ ْيمًا‬
َ‫ َوأَنَّ ٰ َه َذا صِ َراطِ ي مُسْ َتقِيمًا َفا َّت ِبعُوهُ ۖ َواَل َت َّت ِبعُوا ال ُّس ُب َل َف َت َفرَّ ق‬:‫ ُث َّم َق َرأَ َق ْولَ ُه َت َعالَى‬،ِ‫ْطانٌ َي ْدع ُْو إِلَ ْيه‬
َ ‫َس ِب ْي ٌل إِالَّ َعلَ ْي ِه َشي‬
َ ُ‫“ ِب ُك ْم َعنْ َس ِبيلِ ِه ۚ ٰ َذلِ ُك ْم َوصَّا ُك ْم ِب ِه َل َعلَّ ُك ْم َت َّتق‬Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
‫ون‬
membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang
lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda:
‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tidak satupun dari jalan-jalan
ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.”
Selanjutnya beliau membaca firman Allah Azza wa Jalla: “Dan bahwa (yang
Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah
kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan
kamu dari jalan-Nya.”Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu
agar kamu bertaqwa.” [Al-An’aam: 153][6].
2. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُ‫ ُث َّم َي ِجئ‬،‫ ُث َّم الَّ ِذي َْن َيلُ ْو َن ُه ْم‬،‫اس َقرْ نِيْ ُث َّم الَّ ِذي َْن َيلُ ْو َن ُه ْم‬
ِ ‫َخ ْي ُر ال َّن‬
‫ َو َي ِم ْي ُن ُه َش َها َد َت ُه‬،ُ‫ َق ْو ٌم َتسْ ِب ُق َش َها َدةُ أَ َح ِد ِه ْم َي ِم ْي َنه‬. ”Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini
(yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang
sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah
seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului

26
persaksiannya.” Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengisyaratkan tentang kebaikan dan keutamaan mereka, yang merupakan
sebaik-baik manusia. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang
‘aqidahnya, manhajnya, akhlaknya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena
itu mereka dikatakan sebaik-baik manusia. Dalam riwayat lain disebutkan
dengan kata (‫)خ ْي ُر ُك ْم‬ َ ‘sebaik-baik kalian’ dan dalam riwayat yang lain disebutkan
( ْ‫‘)خ ْي ُر أُ َّمتِي‬sebaik-baik
َ ummatku.
3. ’Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: ‫ب‬ َ ‫ َف َو َجدَ َق ْل‬،ِ‫ب ْال ِع َباد‬ِ ‫إِنَّ هللاَ َن َظ َر إِلَى قُلُ ْو‬
‫ب‬ ِ ‫ ُث َّم َن َظ َر فِي قُلُ ْو‬،ِ‫ َفا ْب َت َع َث ُه ِب ِر َسالَ ِته‬،ِ‫ب ْال ِع َبا ِد َفاصْ َط َفاهُ لِ َن ْفسِ ه‬
ِ ‫ب ْال ِع َبا ِد َبعْ َد َق ْل‬ ِ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َخي َْر قُلُ ْو‬ َ ‫م َُح َّم ٍد‬
‫ َف َما َرأَى ْالمُسْ لِم ُْو َن َح َسنا ً َفه َُو‬،ِ‫ ُي َقاتِلُ ْو َن َعلَى ِد ْي ِنه‬،ِ‫ب ْال ِع َبا ِد َف َج َعلَ ُه ْـم وُ َز َرا َء َن ِب ِّيه‬ ِ ‫ب أَصْ َح ِاب ِه َخي َْر قُلُ ْو‬ َ ‫ َف َو َجدَ قُلُ ْو‬،ٍ‫م َُح َّمد‬
ِ ‫ َو َما َرأَ ْوا َسيِّئا ً َفه َُو عِ ْن َد‬، ٌ‫هللا َح َسن‬
‫هللا َس ِّي ٌئ‬ ِ َ‫عِ ْند‬. “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-
hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya dan Allah memberikan risalah
kepadanya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya
setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para Sahabat merupakan hati
yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping
Nabi-Nya yang mereka berperang untuk agama-Nya. Apa yang dipandang
kaum Mus-limin (para Sahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah
dan apa yang mereka (para Sahabat Rasul) pandang buruk, maka di sisi Allah
hal itu adalah buruk.”
4. Dalam hadits lain pun disebutkan tentang kewajiban kita mengikuti manhaj
Salafush Shalih (para Sahabat), yaitu hadits yang terkenal dengan hadits
‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arba’in an-Nawawiyyah
(no. 28) : ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َذاتَ َي ْو ٍم ُث َّم أَ ْق َب َل َعلَ ْي َنا‬ َ ‫هللا‬ ِ ‫صلَّى ِب َنا َرس ُْو ُل‬ َ : ‫َقا َل ْالعِرْ َباضُ َرضِ َي هللاُ َع ْن ُه‬
،‫هللا َكأَنَّ َه ِذ ِه َم ْوعِ َظ ُة م َُو ِّد ٍع‬
ِ ‫ َيا َرس ُْو َل‬:ٌ‫ َف َقا َل َقا ِئل‬، ُ‫ت ِم ْن َها ْالقُلُ ْوب‬ ْ َ‫ت ِم ْن َها ْال ُعي ُْونُ َو َو ِجل‬ ً ‫َف َو َع َظنا َ َم ْوعِ َظ ًة َبلِي‬
ْ ‫ْغَة َذ َر َف‬
‫ َفإِ َّن ُه َمنْ َيعِشْ ِم ْن ُك ْم َبعْ دِي َف َس َي َرى‬،‫الطا َع ِة َوإِنْ َعب ًْدا َحبَشِ ًّيا‬ َّ ‫هللا َوالسَّمْ ع َو‬
ِ ِ ‫ أ ُ ْوصِ ْي ُك ْم ِب َت ْق َوى‬:‫َف َم َاذا َتعْ َه ُد إِلَيْنا َ َف َقا َل‬
‫ت‬ ِ ‫ َوإِيَّا ُك ْم َومُحْ َد َثا‬،ِ‫ َت َم َّس ُك ْوا ِب َها َو َعض ُّْوا َعلَ ْي َها ِبال َّن َوا ِجذ‬،‫ َف َعلَ ْي ُك ْم ِب ُس َّنتِي َو ُس َّن ِة ْال ُخلَ َفا ِء ْال َم ْه ِد ِّيي َْن الرَّ اشِ ِدي َْن‬،ً‫اخ ِتالَفا ً َك ِثيْرا‬
ْ
‫ضالَ َل ٌة‬َ ‫ َو ُك َّل ِب ْد َع ٍة‬،‫ ْاألُم ُْو ِر َفإِنَّ ُك َّل مُحْ َد َث ٍة ِب ْد َع ٌة‬. Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu
anhu : “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat
bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan
nasihat kepada kami dengan nasihat yang menjadikan air mata berlinang dan
membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah nasihat ini
seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami
wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Aku

27
wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah
mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak
dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku
akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang
teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat
petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan
jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena
sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu
adalah sesat.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang akan terjadinya
perpecahan dan perselisihan pada ummatnya, kemudian Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar untuk selamat dunia dan akhirat, yaitu
dengan mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.
Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan Sunnah para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.
Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyebutkan tentang hadits iftiraq (akan terpecahnya umat ini menjadi 73
golongan), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‫ب‬ ِ ‫أَالَ إِنَّ َمنْ َق ْبلَ ُك ْم مِنْ أَهْ ِل ْال ِك َتا‬
،ِ‫ َو َوا ِح َدةٌ فِي ْال َج َّنة‬،‫ار‬ ٍ َ‫ َوإِنَّ َه ِذ ِه ْال ِملَّ َة َس َت ْف َت ِر ُق َعلَى َثال‬،‫ـة‬
ِ ‫ ِث ْن َت‬:‫ث َو َس ْب ِعي َْن‬
ِ ‫ان َو َس ْبع ُْو َن فِي ال َّن‬ ً َّ‫ْن َو َس ْب ِعي َْن ِمل‬
ِ ‫ِا ْف َت َرقُ ْوا َعلَى ِث ْن َتي‬
‫ِي ْال َج َما َع ُة‬
َ ‫وه‬.َ “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab
telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sesungguhnya (ummat)
agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh
puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam
Surga, yaitu al-Jama’ah.”
Dalam riwayat lain disebutkan: ْ‫ َما أَ َنا َعلَ ْي ِه َوأَصْ َح ِابي‬:‫ار إِالَّ ِملَّ ًة َواحِدَ ًة‬
ِ ‫ ُكلُّ ُه ْم فِي ال َّن‬. “Semua
golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para
Sahabatku berjalan di atasnya.”
Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa umat Islam akan terpecah
menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan, yaitu yang mengikuti
apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Jadi, jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti
Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (para Sahabat).
Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap orang yang mengikuti Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun
Naajiyah (golongan yang selamat). Sedangkan yang menyelisihi (tidak mengikuti)

28
para Sahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat
ancaman dengan masuk ke dalam Neraka.
Dalil-dalil dari Para Ulama
1. Penjelasan Para Ulama ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
‫ضالَلَ ٌة‬
َ ‫ ِا َّت ِبع ُْوا َوالَ َت ْب َت ِدع ُْوا َف َق ْد ُكفِ ْي ُت ْم َو ُك ُّل ِب ْد َع ٍة‬. “Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah
kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini, dan
setiap bid’ah adalah sesat.”
2. Kembali ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan : ً ‫ان ِم ْن ُك ْم ُم َتأَسِّيا‬ َ ‫َمنْ َك‬
،‫ َوأَ َقلَّ َها َت َكلُّ ًفا‬،‫ َوأَعْ َم َق َها عِ ْلمًا‬،ً‫ َفإِ َّن ُه ْم َكا ُن ْوا أَبَرَّ َه ِذ ِه ْاأل ُ َّم ِة قُلُ ْوبا‬، ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬ ِ ‫َف ْل َي َتأَسَّ ِبأَصْ َحا‬
ِ ‫ب َرس ُْو ِل‬
َ ‫هللا‬
‫ َوا َّت ِبع ُْو ُه ْم فِي‬،‫ َفاعْ ِرفُ ْوا لَ ُه ْم َفضْ لَ ُه ْم‬،ِ‫إل َقا َم ِة ِد ْي ِنه‬ َ ‫ َق ْو ٌم ا ِْخ َت‬،ً‫ َوأَحْ َس َن َها َحاال‬،‫َوأَ ْق َو َم َها َه ْديًا‬
ِ ‫ار ُه ُم هللاُ لِصُحْ َب ِة َن ِب ِّي ِه َ ِو‬
‫ َفإِ َّن ُه ْم َكا ُن ْوا َعلَى ْال ُهدَى ْالمُسْ َتقِي ِْم‬،‫ار ِه ْم‬
ِ ‫آ َث‬. “Barangsiapa di antara kalian yang ingin
meneladani, hendaklah meneladani para Sahabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling
baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus
petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah
memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya,
maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena
mereka berada di jalan yang lurus.”
َ ‫اِصْ ِبرْ َن ْف َس‬
3. Imam al-Auza’i (wafat tahun 157 H) rahimahullah mengatakan : ‫ك َعلَى‬
َ ِ‫ َواسْ لُكْ َس ِب ْي َل َسلَف‬،ُ‫ َو ُكفَّ َعمَّا ُك ُّف ْوا َع ْنه‬،‫ َوقُ ْل ِب َما َقالُو ْا‬،‫ف ْال َق ْو ُم‬
َ ‫ َفإِ َّن ُه َي َس ُع‬،‫ك الصَّال ِِح‬
‫ك‬ ُ ‫ َوقِفْ َحي‬،ِ‫ال ُّس َّنة‬
َ ‫ْث َو َق‬
‫ َم َاوسِ َع ُه ْم‬. “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para
Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan,
tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah
jalan Salafush Shalih karena ia akan mencukupimu apa saja yang mencukupi
mereka.” Beliau rahimahullah juga berkata : ‫ك‬ َ ‫ َوإِيَّا‬، ُ‫ك ال َّناس‬ َ ‫ف َوإِنْ َر َف‬
َ ‫ض‬ ِ ‫ْك ِبآ َث‬
َ ‫ار َمنْ َس َل‬ َ ‫َعلَي‬
‫ك ِب ْال َق ْو ِل‬
َ َ‫ال َوإِنْ َز ْخ َرفُ ْوهُ ل‬
ِ ‫آرا َء الرِّ َج‬
َ ‫و‬.َ “Hendaklah engkau berpegang kepada atsar
Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah dirimu
dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya
yang indah.”
4. Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H) rahimahullah berkata : ‫ إِ َذا‬:‫َكا ُن ْوا َيقُ ْولُ ْو َن‬
‫ْق‬ َّ ‫ان الرَّ ُج ُل َعلَى ْاألَ َث ِر َفه َُو َعلَى‬
ِ ‫الط ِري‬ َ ‫ َك‬. “Mereka mengatakan : ‘Jika ada seseorang
berada di atas atsar (Sunnah), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan
yang lurus.”
5. Imam Ahmad (wafat tahun 241 H) rahimahullah berkata : ‫ك‬ ُ ‫ ال َّت َم ُّس‬:‫أُص ُْو ُل ال ُّس َّن ِة عِ ْندَ َنا‬
‫ضالَلَ ٌة‬
َ ‫ك ْال ِب َد ِع َو ُك ُّل ِب ْد َع ٍة َف ِه َي‬ ِ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َو ْا‬
ُ ْ‫إل ْقتِدَ ا ُء ِب ِه ْم َو َتر‬ ِ ‫ان َعلَ ْي ِه أَصْ َحابُ َرس ُْو ِل‬
َ ‫هللا‬ َ ‫ب َما َك‬. ِ

29
“Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan
oleh para Sahabat Radhiyallahu anhum dan mengikuti jejak mereka,
meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Jadi dari penjelasan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Ahlus Sunnah
meyakini bahwa kema’shuman dan keselamatan hanya ada pada manhaj Salaf.
Bahwasanya seluruh manhaj yang tidak berlandaskan kepada Al-Qur-an dan As-
Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih adalah menyimpang dari ash-Shirath
al-Mustaqiim, penyimpangan itu sesuai dengan kadar jauhnya mereka dari manhaj
Salaf. Kebenaran yang ada pada mereka juga sesuai dengan kadar kedekatan
mereka dengan manhaj Salaf. Sekiranya para pengikut manhaj-manhaj
menyimpang itu mengikuti pedoman manhaj mereka, niscaya mereka tidak akan
dapat mewujudkan hakekat penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla
sebagaimana mestinya selama mereka jauh dari manhaj Salaf. Sekiranya mereka
berhasil meraih tampuk kekuasaan tidak berdasarkan pada manhaj yang lurus ini,
maka janganlah terpedaya dengan hasil yang mereka peroleh itu. Karena
kekuasaan hakiki yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
hanyalah bagi orang-orang yang berada di atas manhaj Salaf ini. Janganlah kita
merasa terasing karena sedikitnya orang-orang yang mengikuti kebenaran dan
jangan pula kita terpedaya karena banyaknya orang-orang yang tersesat .
Ahlus Sunnah meyakini bahwa generasi akhir ummat ini hanya akan menjadi
baik dengan apa yang menjadikan baik generasi awalnya. Alangkah meruginya
orang-orang yang terpedaya dengan manhaj (metode) baru yang menyelisihi
syari’at dan melupakan jerih payah Salafush Shalih. Manhaj (metode) baru itu
semestinya dilihat dengan kacamata syari’at bukan sebaliknya. Fudhail bin ‘Iyadh
rahimahullah berkata : ‫ضالَلَ ِة َوالَ َت ْغ َترْ ِب َك ْث َر ِة‬ ُ ‫ك َو‬
َّ ‫طرُقَ ال‬ ُ ْ‫ِا َّت ِبع‬
َ ُّ‫طرُقَ ْالهُدَى َوالَ َيضُر‬
َ ‫ك قِلَّ ُة السَّالِ ِكي َْن َوإِيَّا‬
ْ “Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah), tidak membahayakanmu sedikitnya
‫ال َهالِ ِكي َْن‬.
orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan
dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan
kebinasaan.”
ِ ‫َمنْ َعدَ َل َعنْ َم َذا ِه‬
6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, ‫ب الص ََّحا َب ِة‬
.ُ‫ان مُجْ َت ِه ًدا َم ْغفُ ْورً ا َل ُه َخ َطؤُ ه‬ َ ‫ َوإِنْ َك‬،‫ َب ْل ُم ْب َت ِد ًعا‬،‫ان م ُْخطِ ًئا فِيْ َذل َِك‬ َ ‫ك َك‬ َ ‫َوال َّت ِاب ِعي َْن َو َت ْفسِ ي ِْر ِه ْم إِ َلى َما ي َُخالِفُ َذ ِل‬
‫ َوأَ َّن ُه ْم َكا ُن ْوا أَعْ لَ َم ِب َت ْفسِ ي ِْر ِه َو َم َعا ِن ْي ِه َك َما َأ َّن ُه ْم أَعْ لَ ُم ِب ْال َح ِّق‬،‫آن َق َرأَهُ الص ََّحا َب ُة َوال َّت ِابع ُْو َن َو َت ِابع ُْو ُه ْم‬
َ ْ‫َو َنحْ نُ َنعْ لَ ُم أَنَّ ْالقُر‬
‫ث هللاُ ِب ِه َرس ُْولَ ُه‬ َ ‫الَّذِى َب َع‬. “Barangsiapa yang berpaling dari madzhab Sahabat dan
Tabi’in dan penafsiran mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah
salah bahkan (disebut) Ahlul Bid’ah. Jika ia sebagai mujtahid, maka

30
kesalahannya akan diampuni. Kita mengetahui bahwa Al-Qur-an telah dibaca
oleh para Sahabat, Tabi’in dan yang mengikuti mereka, dan sungguh mereka
lebih mengetahui tentang penafsiran Al-Qur-an dan makna-maknanya,
sebagaimana mereka lebih mengetahui tentang kebenaran yang dengannya
Allah mengutus Rasul-Nya.”
1. Perhatian Para Ulama Terhadap ‘Aqidah Salafush Shalih. Sesungguhnya para
ulama mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ‘aqidah Salafush
Shalih. Mereka menulis kitab-kitab yang banyak sekali untuk menjelaskan dan
menerangkan ‘aqidah Salaf ini, serta membantah orang-orang yang menentang
dan menyalahi ‘aqidah ini dari berbagai macam firqah dan golongan yang
sesat. Karena sesungguhnya ‘aqidah dan manhaj Salaf ini dikenal dengan
riwayat bersambung yang sampai kepada imam-imam Ahlus Sunnah dan ditulis
dengan penjelasan yang benar dan akurat.
Adapun untuk mengetahui ‘aqidah dan manhaj Salaf ini, maka kita bisa melihat:
a. Penyebutan lafazh-lafazh tentang ‘aqidah dan manhaj Salaf yang
diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Hadits dengan sanad-sanad yang
shahih.
b. Yang meriwayatkan ‘aqidah dan manhaj Salaf adalah seluruh ulama kaum
Muslimin dari berbagai macam disiplin ilmu: Ahlul Ushul, Ahlul Fiqh, Ahlul
Hadits, Ahlut Tafsir, dan yang lainnya.
Sehingga ‘aqidah dan manhaj Salaf ini diriwayatkan oleh para ulama dari
berbagai disiplin ilmu secara mutawatir. Penulisan dan pembukuan masalah ‘aqidah
dan manhaj Salaf (seiring) bersamaan dengan penulisan dan pembukuan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pentingnya ‘aqidah Salaf ini di antara ‘aqidah-‘aqidah yang lainnya, yaitu antara
lain:
1. Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini, seorang Muslim akan meng-agungkan Al-
Qur-an dan As-Sunnah, adapun ‘aqidah yang lain karena mashdarnya (sumbernya)
hawa nafsu, maka mereka akan mempermainkan dalil, sedang dalil dan tafsirnya
mengikuti hawa nafsu.
2. Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini akan mengikat seorang Muslim dengan
generasi yang pertama, yaitu para Sahabat Radhiyallahu anhum yang mereka itu
adalah sebaik-baik manusia dan ummat.
3. Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini, kaum Muslimin dan da’i-da’inya akan bersatu,
sehingga dapat mencapai kemuliaan serta menjadi sebaik-baik ummat. Hal ini

31
karena ‘aqidah Salaf ini berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut
pemahaman para Sahabat. Adapun ‘aqidah selain ‘aqidah Salaf ini, maka
dengannya tidak akan tercapai persatuan bahkan yang akan terjadi adalah
perpecahan dan kehancuran. Imam Malik rahimahullah berkata : َّ‫لَنْ يُصْ ل َِح آخ َِر َه ِذ ِه ْاأل ُ َّم ِة إِال‬
‫ َما أَصْ لَ َح أَ َّولَ َها‬. “Tidak akan dapat memperbaiki ummat ini melainkan dengan apa yang
telah membuat baik generasi pertama ummat ini (Sahabat)”.
4. ‘Aqidah Salaf ini jelas, mudah dan jauh dari ta’wil, ta’thil dan tasybih.[24]. Oleh
karena itu, dengan kemudahan ini setiap Muslim akan mengagungkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan akan merasa tenang dengan qadha’ dan qadar Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

32
BAB V

 Ajaran dan Tuntunan Berbagi, Penegakan serta Keadilan Hukum dalam Islam

Manfaat Bersedekah
Islam mengajarkan untuk menyisihkan sebagian harta yang dimiliki umatnya,
salah satunya melalui sedekah. Sedekah bertujuan untuk menyucikan harta,
membantu sesama serta bekal pahala di akhirat kelak.
Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Misalnya dengan
memberi pertolongan baik dengan harta maupun tenaga, melafalkan zikir,
menafkahi keluarga, menyingkirkan batu dari jalan dan masih banyak lagi. Bahkan,
menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain juga termasuk sedekah. Hal ini
merupakan bukti bahwa umat Islam diberi banyak sekali kesempatan untuk
menimbun pahala dari amalan sedekah. Tak hanya itu, melalui sedekah manusia
tak hanya mendapatkan pahala dari Allah, melainkan juga dapat meningkatkan
hubungan baik dengan sesama manusia.
Seperti yang tertulis dalam Hadis Riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda,
"Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah dan kepada kerabat ada
dua (kebaikan), yaitu sedekah dan silaturrahim."
Dalam bersedekah, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyakiti perasaan orang
yang diberi sedekah serta lebih baik menyembunyikan amalan sedekahnya
tersebut. Hal ini untuk menghindari sifat riya yang dapat menghapus pahala
sedekah.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 264, "Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-
nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah."
Tak hanya itu, umat Islam juga harus menyisihkan uangnya dari hasil yang halal.
Berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 267, "Hai orang-orang yang
beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik
dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah
kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu
sendiri tidak mau mengambilnya."

33
 Penegakan Hukum Atas Keadilan Dalam Pandangan Islam
Peraturan itu sendiri, apakah cukup sistematis, cukup sinkron, secara kualitatif
dan kuantitatif apakah sudah cukup mengatur bidang kehidupan tertentu. Dalam hal
penegakan hukum mungkin sekali para petugas itu menghadapi masalah seperti
sejauh mana dia terikat oleh peraturan yang ada, sebatas mana petugas
diperkenankan memberi kebijaksanaan. Kemudian teladan macam apa yang
diberikan petugas kepada masyarakat. Selain selalu timbul masalah jika
peraturannya baik tetapi petugasnya malah kurang baik. Demikian pula jika
peraturannya buruk, maka kualitas petugas baik.
Fasilitas merupakan sarana dalam proses penegakan hukum. Jika sarana tidak
cukup memadai, maka penegakan hukum pun jauh dari optimal. Mengenai warga
negara atau warga masyarakat dalam hal ini tentang derajat kepatuhan kepada
peraturan. Indikator berfungsinya hukum adalah kepatuhan warga. Jika derajat
kepatuhan rendah, hal itu lebih disebabkan oleh keteladanan dari petugas hukum.
 Penegakan Hukum
Terdapat beberapa faktor yang dapat mendukung tegaknya hukum di suatu
Negara antara lain: Kaidah hukum, Penegak hukum, Fasilitas dan Kesadaran
hukum warga Negara. Dalam pelaksanaannya masih tergantung pada sistem politik
Negara yang bersangkutan. Jika sistem politik Negara itu otoriter maka sangat
tergantung penguasa bagaimana kaidah hukum, penegak hukum dan fasilitas yang
ada. Adapun warga Negara ikut saja kehendak penguasa. Pada sistem politik
demokratis juga tidak semulus yang kita bayangkan. Meski warga Negara berdaulat,
jika sistem pemerintahannya masih berat pada eksekutif dan birokrasi pemerintahan
belum direformasi, birokratnya masih “kegemukan” dan bermental mumpung, maka
penegakan hukum masih mengalami kepincangan dan kelambanan (kasus “hotel
bintang” di Lapas).
 Keadilan
Pengertian keadilan dapat ditinjau dari dua segi yakni keadilan hukum dan
keadilan sosial. Adapun keadilan mengandung asas kesamaan hukum artinya
setiap orang harus diperlakukan sama di hadapan hukum. Dengan kata lain hukum
harus diterapkan secara adil. Keadilan hukum ternyata sangat erat kaitannya
dengan implementasi hukum di tengah masyarakat. Untuk mencapai penerapan
dan pelaksanaan hukum secara adil diperlukan kesadaran hukum bagi para
penegak hukum.

34
Dengan demikian guna mencapai keadilan hukum itu, maka faktor manusia
sangat penting. Keadilan hukum sangat didambakan oleh siapa saja termasuk
penjahat (pembunuh, pemerkosa, dan koruptor). Jika dalam suatu negara ada yang
cenderung bertindak tidak adil secara hukum, termasuk hakim, maka pemerintah
harus bertindak mencegahnya. Pemerintah harus menegakkan keadilan hukum,
bukan malah berlaku zalim terhadap rakyatnya. Keadilan sosial terdapat dalam
kehidupan masyarakat, terdapat saling tolong-menolong sesamanya dalam berbuat
kebaikan. Terdapat naluri saling ketergantungan satu dengan yang lain dalam
kehidupan sosial (interdependensi).
Keadilan sosial itu diwujudkan dalam bentuk upah yang seimbang, untuk
mencegah diskriminasi ekonomi. Keadilan sosial adalah persamaan kemanusiaan,
suatu penyesuaian semua nilai, nilai-nilai yang termasuk dalam pengertian keadilan.
Kepemilikan atas harta seharusnya tidak bersifat mutlak. Perlu dilakukan
pemerataan, distribusi kekayaan anggota masyarakat. Bagaimana pemilik harta
seharusnya menggunakan hartanya. Penimbunan atau konsentrasi kekayaan,
sehingga tidak dimanfaatkan dalam sirkulasi dan distribusi akan merugikan
kepentingan umum. Sebaiknya harta kekayaan itu digunakan sebaik mungkin dan
memberikan manfaat bagi pemiliknya maupun bagi masyarakat.

35
DAFTAR PUSTAKA

Abdussakir. SAINS DAN TEKNOLOGI DALAM AL QUR’AN.


http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/sumbula/article/download/3976/29
43.

Al-Jibauri, Yasin T. 2005, Konsep Tuhan Menurut Islam, Jakarta. Lentera Basritama.

Fakir, Jamal. 2010. SAINS DAN TEKNOLOGI DALAM AL-QUR’AN DAN


IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN.
https://core.ac.uk/download/pdf/297921818.pdf.

https://almanhaj.or.id/2960-kewajiban-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-
sallam-2.html.

https://bincangsyariah.com/kalam/siapa-generasi-islam-terbaik-itu/.

https://republika.co.id/berita/q955i1458/siapa-saja-manusia-terbaik-menurut-rasulullah-
saw.

https://www.liputan6.com/ramadan/read/2969131/bersedekah-dalam-islam-sebaiknya-
seperti-apa.

Mizan; Jurnal Ilmu Syariah, FAI Universitas Ibn Khaldun (UIKA) BOGOR Vol. 1 No. 2
(2013), pp. 143-148, link: https://www.academia.edu/31651189.

Qodir , Asy-Syaikh Abdul. 2019. ‫ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدراﻷرﻥﺎؤوط‬: ‫ ﻟﻠﺸﻴﺦ‬AL-WAJIZ FI MANHAJIS SALAF


(KERINGKASAN DI DALAM MANHAJ SALAF).
https://www.researchgate.net/publication/335617543_alwjyz_fy_mnhj_alslf_AL-
WAJIZ_FI_MANHAJIS_SALAF_KERINGKASAN_DI_DALAM_MANHAJ_SALAF.

Wahyudin. 2017. Filosofis Ketuhanan dalam Konsep Islam Menuju ketauhidan. IAIN
Metro. https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/riayah/article/download/966/807.
LAMPIRAN GAMBAR

Lampiran 1 : Gambar salah satu Bersedakah.


Lampiran 2 : Gambar Lafadz Nabi Muhammad SAW.