Anda di halaman 1dari 27

Makalah Kimia Analisis Lingkungan Laut

ANALISIS KANDUNGAN LOGAM BERAT (Cd, Hg dan Zn)

KELOMPOK I

DEWI FATIMAH KM H031 18 1013


ZULFADYANTI RAIS H031 18 1014
WILDAWATI H031 18 1017
WINDA SARI H031 18 1019
YINDRIANI MOGHURI H031 18 1021
NURWAHDAWIAH H031 18 1022
SITTI SYARA RAMADHANI H031 18 1023

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya serta taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “ANALISIS KANDUNGAN
LOGAM BERAT (Cd, Hg dan Zn)”. Salawat dan salam tidak lupa penulis
kirimkan kepada baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari alam kebodohan menuju zaman yang serba modern dengan perkembangan
ilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini.

Ucapan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam


penyusunan makalah ini. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Ucapan terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Abdul Wahid Wahab,
M.Sc selaku dosen pengampu yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas pada mata kuliah “Kimia
Analisis Lingkungan Laut”.

Penulis menyadari tidak ada manusia yang sempurna. Penyusunan makalah


ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari para pembaca untuk perbaikan
di masa yang akan datang. Akhir kata, penulis mohon maaf apabila ada kesalahan
dalam penulisan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Makassar, 23 Oktober 2020

PENULIS

ii
DAFTAR ISI

i
iii

2
2
3
2.1 3
8
11
22
29
29
29
30

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Secara umum kadar logam berat diperairan dapat membahayakan kehidupan
biota laut. Adanya akumulasi logam berat dalam sedimen dapat menimbulkan
akumulasi pada tubuh biota yang hidup dan mencari makan di dalam air maupun
disekitar sedimen atau dasar perairan, dan akan mencemari kehidupan biota laut,
yang pada gilirannya akan berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsinya.
Pencemaran akibat kegiatan industrI dapat menyebabkan kerugian besar,karena
umumnya buangan/limbah mengandung zat beracun antara lain raksa (Hg), kadmium
(Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu), perak (Ag), dan seng (Zn) yang sering
digunakan dalam proses produksi suatu industri baik sebagai bahan baku, katalisator
ataupun bahan utama. Logam–logam ini akan membentuk senyawa organik dan
anorganik yang berperan dalam merusak kehidupan makhluk hidup yang ada di
dalam perairan (Kristian, 2010).
Logam berat masuk ke dalam tubuh organisme laut sebagian besar melalui
rantai makanan fitoplankton merupakan awal dari rantai makanan yang akan
dimangsa oleh zooplankton, zooplankton dimangsa oleh ikan-ikan kecil, ikan kecil
dimangsa oleh ikan besar dan akhirnya ikandikonsumsi oleh manusia. Proses ini
berlangsung secara terus-menerus maka jumlah dari logam yang terkonsumsi juga
semakin banyak dan termasuk terakumulasi dalam tubuh manusia. Logam berat jika
sudah terserap kedalam tubuh maka tidak dapat dihancurkan, bersifat toksik dan
mengganggu kehidupan mikroorganisme. Pada manusia logam berat dapat
menimbulkan efekkesehatan tergantung pada bagian mana logam berat tersebut
terikat di dalam tubuh. Daya racun yang dimiliki akanbekerja sebagai penghalang
kerja enzim, sehingga proses metabolisme tubuh terputus (Darmono, 1995).
Dengan kondisi lingkungan terkini dari kandungan logam berat dalam air dan
sedimen, diharapkan menjadi rona awal yang perlu diperhatikan ketika terjadi
kecenderungan peningkatan dalam pengembangan kawasan ini dikemudian hari agar
tidak terjadi penurunan status mutu air laut maupun sedimen di perairan. Berdasarkan
pemaparan tersebut, untuk mengetahui informasi lebih mendalam diatas maka
disusunlah makalah ini.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan masalah dari makalah ini
yaitu:
1. Apa itu logam berat?
2. Bagaimana metode penentuan kadar kadmium (Cd)?
3. Bagaimana metode penentuan kadar merkuri (Hg)?
4. Bagaimana metode penentuan kadar seng (Zn)?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pengertian logam berat.
2. Mengetahui cara menentukan kadar kadmium (Cd).
3. Mengetahui cara menentukan kadar merkuri (Hg).
4. Mengetahui cara menentukan kadar seng (Zn).

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendahuluan
Logam berat adalah istilah yang digunakan secara umum untuk kelompok
logam berat dan metaloid yang densitasnya lebih besar dari 5 g/cm3, terutama pada
unsur seperti Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb dan Zn (Hutagalung et al., 1997). Logam berat
merupakan komponen alami tanah. Elemen ini tidak dapat didegradasi maupun
dihancurkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan,
air minum, atau udara. Logam berat seperti tembaga, selenium, atau seng dibutuhkan
tubuh manusia untuk membantu kinerja metabolisme tubuh. Akan tetapi, dapat
berpotensi menjadi racun jika konsentrasi yang terakumulasi dalam tubuh melebihi
ambang batas. Logam berat menjadi berbahaya disebabkan sistem bioakumulasi,
yaitu peningkatan konsentrasi unsur kimia di dalam tubuh makhluk hidup. Disebut
logam berat berbahaya karena umumnya memiliki rapat massa tinggi (5 g/cm 3) dan
sejumlah konsentrasi kecil dapat bersifat racun dan berbahaya. Di antara semua unsur
logam berat, Hg menduduki urutan pertama dalam hal sifat racunnya, kemudian
diikuti oleh logam berat antara lain Cd, Ag, Ni, Pb, As, Cr, Sn, Zn dan Cu.
Agen Lingkungan Amerika Serikat (EPA) melaporkan, terdapat 13 elemen
logam berat yang diketahui berbahaya bagi lingkungan. Di antaranya arsenik (As),
timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd) dan tembaga (Cu). Logam berat sendiri
sebenarnya merupakan unsur esensial yang sangat dibutuhkan setiap makhluk hidup,
namun beberapa di antaranya (dalam kadar tertentu) bersifat racun. Di alam, unsur
ini biasanya terdapat dalam bentuk terlarut atau tersuspensi (terikat dengan zat padat)
serta terdapat sebagai bentuk ionik (Mursyidin, 2006).Secara ilmiah logam berat
telah ada dalam air laut yang dihasilkan dari erosi batuan dan aktivitas gunung.
Dalam perairan, logam biasanyaberikatan dengan senyawa kimia atau dalam bentuk
ion, bergantung pada kompartemen tempat logam berada. Selain itu, tingkat
kandungan logam pada setiap kompartemen sangat bervariasi bergantung pada lokasi
dan tingkat pencemarannya. Logam berat yang terdapat dalam perairan biasanya
dalam bentuk ion seperti Hg2+, Pb2+, Cd2+ jarang sekali yang berbentuk molekul.
Logam berat tidak dapat dihancurkan secara alami dan cenderung terakumulasi

3
dalam rantai makanan melalui proses biomagnifikasi. Pencemaran logam berat ini
menimbulkan berbagai permasalahan diantaranya:
1. Berhubungan dengan estetika ( perubahan bau, warna dan rasa air),
2. Berbahaya bagi kehidupan tanaman dan binatang
3. Berbahaya bagi kesehatan manusia
4. Menyebabkan kerusakan pada ekosistem (Darmono, 1995).
Logam berat umumnya memiliki racun yang mematikan terhadap organisme
yang berbeda-beda. Mekanisme tersebut diawali dengan akumulasi logam berat
dalam tubuh biota, lalu selanjutnya diikuti oleh akumulasi pada organ sasaran yang
melebihi daya toleransi biota.
Tabel 1. Klasifikasi Unsur Logam berdasarkan Toksitas dan Keberadaannya
(Kennish, 2000)
Nonkritikal Toksik dan relatif tidak Sangat toksik dan relatif banyak
larut dalam air keberadaannya
Na Si Ti Os Ta Be Co As Au
Fe Li Zr Ir La Se Hg Ni Te
Al Ca Nb Ba Rh Tl Cu Pb Pd
K Mg Re Hf Ru Zn Ag Sb Sn
Rb Sr Ga W Cd Bi Pt

Adanya logam berat di perairan berbahaya baik secara langsung terhadap


kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan
manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat yaitu sulit terurai, sehingga
mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit
terurai. Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria yang sama
dengan logam-logam lain. Perbedaannya terletak pada pengaruh yang diakibatkan
bila logam ini diberikan dan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Meskipun
semua logam berat dapat mengakibatkan keracunan pada makhluk hidup, namun
sebagian dari logam berat tersebut tetap dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil.
Bila kebutuhan yang sangat sedikit itu tidak dipenuhi, maka dapat berakibat fatal
bagi kelangsungan hidup organisme Faktor yang menyebabkan logam tersebut
dikelompokkan ke dalam zat pencemar yaitu logam berat tidak dapat terurai melalui
biodegradasi seperti pencemar organik, logam berat dapat terakumulasi dalam

4
lingkungan terutama sedimen sungai dan laut, karena dapat terikat dengan senyawa
organik dan anorganik, melalui proses adsorpsi dan pembentukan senyawa komplek .
Kandungan logam berat yang menumpuk pada air laut dan sedimen akan
masuk ke dalam sistem rantai makanan dan berpengaruh pada kehidupan organisme.
Logam berat ini dapat menimbulkan efek kesehatan bagi manusia tergantung pada
bagian mana logam berat tersebut terikat dalam tubuh. Daya racun yang dimiliki
akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim, sehingga proses metabolisme tubuh
terputus. Lebih jauh lagi, logam berat ini akan bertindak sebagai alergen, mutagen,
atau karsinogen bagi manusia. Jalur masuknya adalah melalui kulit, pernafasan, dan
pencernaan. Masing-masing logam berat tersebut memiliki dampak negatif terhadap
manusia jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama.Kegiatan
atau aktivitas di laut yang berpotensi mencemari lingkungan pesisir dan laut antara
lain: perkapalan, dumping di laut, pertambangan, eksplorasi dan eksploitasi minyak,
budidaya laut, dan perikanan.

2.1.1 Logam Kadmium (Cd)


Kadmium adalah produk sampingan dari produksi seng. Tanah dan batuan,
termasuk batu bara dan mineral pupuk, mengandung beberapa jumlah kadmium.
Kadmium memiliki banyak aplikasi, misalnya dalam baterai, pigmen, plastik dan
coating logam dan secara luas digunakan dalam elektroplating (Martin & Griswold,
2009). Kadmium dan senyawanya diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia
oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (Henson & Chedrese,2004).
Kadmium dilepaskan ke lingkungan melalui kegiatan alam seperti letusan
gunung berapi, pelapukan, transportasi sungai dan beberapa aktivitas manusia
seperti pertambangan, peleburan, merokok tembakau, pembakaran limbah, dan
pembuatan pupuk. Meskipun emisi kadmium telah terasa berkurang di
negaranegara yang paling maju, itu adalah sumber tersisa ketakutan bagi para
pekerja dan orang-orang tinggal yang di daerah tercemar. Kadmium dapat
menyebabkan intoksikasi baik yang akut dan kronis (Chakraborty et al.,2013).
Kadmium sangat beracun ke ginjal dan terakumulasi dalam sel tubulus
proksimal dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Kadmium dapat menyebabkan
mineralisasi tulang baik melalui kerusakan tulang atau gangguan fungsi ginjal.
Studi pada manusia dan hewan telah menunjukkan bahwa osteoporosis (kerusakan

5
tulang) adalah efek penting dari paparan kadmium bersama dengan gangguan
dalam metabolisme kalsium, pembentukan batu ginjal dan hiperkalsiuria (Arao,
2006). Menghirup tingkat yang lebih tinggi kadmium dapat menyebabkan
kerusakan parah pada paru-paru. Jika kadmium yang tertelan dalam jumlah yang
lebih tinggi, dapat menyebabkan iritasi lambung dan mengakibatkan muntah dan
diare. Pada waktu pemaparan yang sangat lama pada konsentrasi yang lebih rendah,
dapat menjadi disimpan di ginjal dan akhirnya menyebabkan penyakit ginjal, tulang
rapuh dan kerusakan paruparu (Bernard, 2008).
Kadmium dan senyawanya sangat larut dalam air dibandingkan dengan
logam lain. Bioavailabilitas mereka sangat tinggi dan karena itu cenderung
bioakumulasi. Paparan jangka panjang untuk kadmium dapat mengakibatkan
perubahan morphopathological pada ginjal. Perokok lebih rentan untuk keracunan
kadmium dibandingkan non-perokok. Tembakau adalah sumber utama penyerapan
kadmium pada perokok seperti tembakau. Non-perokok terkena kadmium melalui
makanan dan beberapa jalur lainnya. Namun kadmium penyerapan melalui jalur
lain jauh lebih rendah” (Mudgal et al.,2010). Kadmium berinteraksi melalui nutrisi
yang menyebabkan efek toksisitas. Analisis eksperimental pada hewan telah
menunjukkan bahwa 50% dari kadmium akan diserap di paru-paru dan sisanya
dalam saluran pencernaan. Selama kehamilan manusia jika paparan kadmium yang
tinggi maka bayi akan lahir prematur dan mengurangi berat badan lahir bayi
(Henson & Chedrese, 2004).

2.1.2 Logam Tembaga (Cu)


Air raksa atau merkuri (Hg) adalah logam yang ada secara alami, merupakan
satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair. Logam murni berwarna
keperakan/putih keabu-abuan, cairan tak berbau, dan mengkilap. Bila dipanaskan
sampai suhu 3570C, Hg akan menguap. Walaupun Hg hanya terdapat dalam
konsentrasi 0,08 mg/kg kerak bumi, logam ini banyak tertimbun di daerah
pertambangan. Merkuri dianggap logam berat paling beracun di lingkungan.
Keracunan merkuri disebut sebagai acrodynia atau penyakit pink. Merkuri dilepaskan
ke lingkungan oleh kegiatan industri seperti farmasi, kertas dan pengawet pulp,
industri pertanian, dan klorin serta industri produksi soda kaustik (Morais et
al.,2012). Merkuri memiliki kemampuan untuk menggabungkan dengan unsur-unsur

6
lain dan membentuk merkuri organik dan anorganik. Paparan peningkatan
kadarlogam, merkuri organik dan anorganik dapat merusak otak, ginjal dan janin
yang sedang berkembang (Alina et al.,2012).
Merkuri hadir di sebagian besar makanan dan minuman di kisaran < 1 sampai
50 mg/kg. Dalam makanan laut sering terlihat di tingkat yang lebih tinggi. Merkuri
organik dapat dengan mudah menyerap seluruh biomembranes dan karena mereka
lipofilik di alam, merkuri hadir dalam konsentrasi yang lebih tinggi di sebagian besar
spesies ikan berlemak dan dalam hati ikan ramping (Reilly, 2007).
Mikro-organisme mengkonversi hadir merkuri di dalam tanah dan air menjadi
metil merkuri, racun yang dapat terakumulasi dengan usia ikan dan dengan
meningkatnya tingkat tropik. EPA telah menyatakan merkuri klorida dan metil
merkuri menjadi sangat karsinogenik. Sistem saraf sangat sensitif terhadap semua
jenis merkuri. Peningkatan paparan merkuri dapat mengubah fungsi otak dan
menyebabkan rasa malu, tremor, masalah memori, mudahmarah, dan perubahan
dalam penglihatan ataupendengaran” (Martin & Griswold, 2009). Paparan uap
merkuri logam pada yang lebih tinggi tingkat untuk jangka waktu yang lebih singkat
dapat menyebabkan kerusakan paruparu, muntah, diare, mual, ruam kulit,
peningkatan jantung denyut atau tekanan darah. Gejala keracunan merkuri organik
termasuk depresi, masalah memori,tremor,kelelahan, sakit kepala,rambut rontok, dll.
Sejak gejala ini umum juga dalam kondisi lain, mungkin sulit untuk mendiagnosa
kasus tersebut (Martin & Griswold, 2009). Karena efek kesehatan kelebihan yang
berhubungan dengan paparan merkuri, standar hadir untuk air minum telah
ditetapkan pada tingkat yang lebih rendah dari 0,002 mg/L dan 0,001 mg/L dengan
Undang-Undang Perlindungan Lingkungan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO,
2004).
2.1.3 Logam Seng (Zn)
Logam zink adalah yang putih kebiru-biruan; Logam ini cukup mudah
ditempa dan liat pada 110-150˚C. Zink melebur pada 410˚C dan mendidih pada
906 ˚C. Logamnya yang murni, melarut lambat sekali dalam asam dan dalam alkali;
adanya zat-zat pencemar atau kontak dengan platinum atau tembaga, yang dihasilkan
oleh penambahan beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini, mempercepat
reaksi (Vogel, 1985). Unsur yang berwarna putih-kebiruan mengkilap, rapuh pada

7
suhu biasa tetapi liat pada suhu 100-150˚C, konduktor listrik, pada suhu tinggi
terbakar disertai asap putih oksidanya. Sifat lainnya adalah unsur elektropositif,
mudah bereaksi dengan O2 tetapi oksida yang terbentuk bersifat melapisi dan
menghambat oksidasi selanjutnya; bereaksi dengan belerang dan unsur logam
lainnya (Kristian, 2010).
Rata-rata tubuh orang dewasa mengandung 1,4-2,5 g Zn yang tersebar hampir
disemua sel. Sebahagian besar seng berada di dalam hati, prankeas, ginjal, otot dan
tulang. Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian mata, kelenjar prostat,
spermatozoa, kulit, rambut dan kuku. Kelebihan seng disimpan di dalam hati dalam
bentuk metalotionein. Lainnya dibawa ke pankreas dan jaringan tubuh lain. Bentuk
simpanan ini akan dibuang bersama sel-sel dinding usus halus yang umurnya 2-5
hari. Logam seng berperan pula dalam sintesis dan degradasi kalogen, pembentukan
kulit, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka. Unsur ini juga berfungsi
dalam pengembangan reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma, selain itu
sebagai pengangkut sintesis vitamin A, pembentukan antibodi sel, metabolisme
tulang, transpor oksigen, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses
penggumpalan darah (Kristian, 2010).

2.2 Penentuan Kadar Kadmium (Cd)


A. KANDUNGAN KADMIUM DAN SENG PADA IKAN BAUNG (Hemibagrus
nemurus) DI PERAIRAN TRISAKTI BANJARMASIN KALIMANTAN
SELATAN
Noer Komari, Utami Irawati, Etty Novita
Metodologi penelitian
Pengambilan sampel ikan Pengambilan sampel ikan dilakukan pada tiga titik
sungai di Sungai Barito sekitar pelabuhan Trisakti Banjarmasin yaitu, dermaga
Trisakti Banjarmasin, di Basirih Sungai Martapura dan depan Banjar Raya. Sampel
diambil sebanyak tiga kali pada bulan April dan Mei 2012.
Penentuan kadar kadmium
ikan Sampel ikan baung dibersihkan, diambil dagingnya dan ditimbang.
Kemudian dicuci bersih lalu ditiriskan selama 15 menit. Kemudian diblender hingga
halus. Sampel yang telah dihaluskan ditimbang masingmasing 25 gram. Sampel yang
telah diketahui beratnya selanjutnya ditambahkan asam nitrat pekat sebanyak 25 ml

8
hingga sampel terendam. Lalu didiamkan selama satu malam (24 jam) dengan tujuan
agar dapat mempercepat proses destruksi yang dilakukan. Setelah 24 jam, sampel di
destruksi pada hot plate selama 30 menit hingga sampel berwarna kuning muda
jernih. Sampel dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan ditepatkan sampai tanda
garis dengan aquades. Larutan di saring dengan kertas saring Whatman no.42.
Sampel siap untuk diukur kandungan kadmium dan seng dengan menggunakan
spektrofotometer serapan atom (SNI 06- 6992.4-2004 dan SNI 06-6992.8-2004).
Hasil dan Pembahasan
Penentuan kandungan kadmium Hasil analisis kandungan kadmium pada
sampel ikan baung disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1(a) menunjukkan rata-rata kandungan kadmium pada ikan baung


pengambilan sampel di bulan April di setiap lokasi pengambilan sampel. Kandungan
kadmium tertinggi terdapat pada lokasi I, yaitu Basirih sebesar 0,115 ppm. Tingginya
kadar kadmium di sebabkan adanya berbagai aktivitas industri, transportasi maupun
bongkar muat di perairan sekitar pelabuhan Trisakti. Salah satu aktivitas yang
menyumbang cukup banyak limbah logam Cd di perairan sekitar pelabuhan Trisakti
adalah banyaknya galangan-galangan kapal yang bergerak di bidang perawatan kapal
dan perbaikan, dimana bahan baku yang digunakan salah satunya adalah cat.
Sedangkan bahan baku yang terdapat dalam cat adalah logam berat Cd, Cu dan Zn
yang berguna sebagai zat pewarnaan (pigmen) dan pelapis agar mudah kering.
Gambar 1(b) menunjukkan kandungan kadmium pada ikan baung pada
pengambilan sampel di bulan Mei. Kandungan kadmium tertinggi ditemukan pada
lokasi II, yaitu di Basirih sebesar 0,171 ppm. Jika dibandingkan pengambilan sampel

9
bulan April dan Mei, kadar kadmium pada bulan Mei mengalami kenaikan pada
setiap titik lokasi. Hal ini diduga karena sifat dari logam yang bioakumulatif, juga
bisa dikarenakan adanya peningkatan berbagai aktivitas disekitar lokasi yang
mengakibatkan bahan pencemar lebih banyak terdapat pada bulan Mei.

Kesimpulan
Secara kuantitas kandungan kadmium di semua lokasi pengambilan sampel pada
bulan April dan Mei masih dibawah nilai ambang batas cemaran logam berat untuk
biota konsumsi yaitu sebesar 1,0 ppm berdasarkan SK Dirjen POM No.
03725/B/SK/VII/89. Dengan demikian ikan baung di perairan sekitar pelabuhan
Trisakti masih tergolong aman dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi
manusia.
2.3 Penentuan Kadar Merkuri (Hg)
A. Analisis Kandungan Merkuri (Hg) dalam Krim Pemutih yang Beredar di
Bolaang Mongondow Menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (Ssa)
Moh. Adam Mustapa, Monalisa Manoppo
Metode
1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan yaitu batang pengaduk, botol polypropylene, cawan
porselin, corong gelas, gelas kimia, labu takar, pipet tetes, penangas listrik,
penyangga dan statip, pipet volumetrik, sendok plastik, seperangkat alat
spektrofotometer serapan atom, timbangan analitik dan wadah polystyrene.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu aquadest, SnCl2, HCL, HNO3, H2SO4, KI,
NaOH, 5 sampel krim pemutih dan larutan standar merkuri.
2. Pembuatan Larutan Uji
1. Ditimbang dengan teliti sampel sebanyak 2 gram
2. Dimasukkan kedalam cawan porselin
3. Ditambahkan 5 mL HNO3 (P)
4. Dipanaskan dan disaring.

3. Analisis Kualitatif

10
Larutan uji sebanyak 1 mL ditambahkan 1-2 tetes larutan KI 0,5 N, HCL dan
NaOH 2 N. Hasil menunjukkan positif Hg jika terbentuk endapan merah orange,
endapan putih dan endapan kuning.
4. Analisis Kuantitatif
a. Pembuatan larutan uji
Sampel sebanyak 0,5 g dimasukkan kedalam cawan porselin, kemudian
ditambahkan HNO3 (P) 5 mL, lalu dipanaskan dan disaring. Dimasukkan kedalam
labu takar 100 mL kemudian cukupkan dengan aquadest sampai pada tanda batas.

a. Pembuatan Larutan Induk / Baku Merkuri (Hg)


Dibuat larutan standar 5 ppb, 10 ppb, 20 ppb dan 25 ppb dari sediaan larutan
stok primer 1000 bpj. Pertama larutan stok 1000 bpj terlebih dahulu dijadikan
100 bpj dengan cara dipipet 10 mL dari larutan stok primer 1000 bpj dan
encerkan dengan larutan HNO3- H2SO4 (1:1) 20%/1 sampai 100 mL sehingga
konsentrasi menjadi 100 bpj. Kemudian dipipet 1 mL dari 100 bpj dan encerkan
dengan larutan HNO3-H2SO4 (1:1) 20%/1 sampai 100 mL sehingga konsentrasi
menjadi 1 bpj yang setara dengan 1000 bpm. Dipipet 0,5 mL, 1 mL, 2 mL dan
2,5 mL dan masing-masing dimasukkan kedalam labu takar 100 mL dan
diencerkan dengan larutan HNO3- H2SO4 (1:1) 20%/1 sampai 100 mL,
sehingga konsentrasi masingmasing menjadi 5 ppb, 10 ppb, 20 ppb dan 25 ppb.

b. Pembuatan Kurva Kalibrasi


Kurva kalibrasi diperoleh dengan mengukur arus puncak dari larutan standar
merkuri pada berbagai konsentrasi yaitu 5 ppb, 10 ppb, 20 ppb dan 25 ppb.

c. Analisis kadar merkuri

Sampel A1, A2, A3, B1, B2, B3, C1, C2 dan C3 yang telah didestruksi,
direduksi menggunakan SnCl2 kemudian dianalisis kadar merkuri satupersatu
menggunakan metode SSA, akan terbaca konsentrasi dan absorban masing-
masing sampel.

11
Hasil dan pembahasan
Tabel 1. Hasil uji kualitatif

Tabel 4.2 Hasil analisis kuantitatif (perhitungan kadar memakai konsentrasi alat)

Tabel 4.3 Hasil analisis kuantitatif (perhitungan kadar memakai persamaan regresi
linier)

12
Telah dilakukan penelitian Analisis Kandungan Merkuri dalam Krim Pemutih
yang beredar di Bolaang Mongondow pada tanggal 27 November sampai tanggal 6
Desember 2017 dengan dua tahap pengujian yaitu secara kualitatif dan kuantitatif.
Sebelum sampel diuji secara kualitatif dan kuantitatif terlebih dahulu dilakukan
pengolahan sampel dengan cara digesti basah. Metode digesti dipilih untuk
penyiapan sampel karena didasarkan pada sifat merkuri (Hg) yang mudah menguap
(Connors, 1982). Pada metode ini, digunakan larutan asam nitrat pekat karena asam
nitrat pekat merupakan asam yang paling efektif dan paling sering digunakan dalam
destruksi (Dewi, 2011). Reaksi yang terjadi antara logam merkuri dan asam nitrat
pekat adalah : Hg + 2NO3 + 4H+ Hg2+ + 2NO2 + 2H2O.
1. Kualitatif
Pada uji kualitatif, ada tiga reagen yang digunakan yaitu dengan
menambahkan larutan KI 0,5 N, NaOH 2 N dan HCl 6 M. Cara pengujiannya yang
pertama yaitu masing–masing sampel dibuat larutan uji, kemudian larutan uji
tersebut ditambahkan 1-5 tetes larutan KI 0,5 N, hasil menunjukkan positif Hg
apabila terbentuk endapan merah merkurium (II) Iodida. Reaksi yang terjadi : Hg2+
+ 2I– HgI2 (Svehla, 1979). Pengujian yang kedua yaitu larutan uji ditambahkan 1-5
tetes larutan NaOH 2 N, terbentuk endapan kuning. Hal ini menandakan bahwa
larutan uji positif mengandung merkuri karena natrium hidroksida encer P apabila
ditambahkan secara perlahan akan menghasilkan endapan kuning merkurium (II)
Oksida. Reaksi yang terjadi : Hg2+ + 2OH– HgO + H2O (Svehla, 1979). Pengujian
yang ketiga yaitu larutan uji ditambahkan 1-5 tetes HCl 6 M, terbentuk endapan
putih, hal ini menunjukkan bahwa larutan uji positif mengandung merkuri karena
untuk memisahkan merkuri dari larutan uji dengan menambahkan HCl 6 M, maka
akan mengendap sebagai garam klorida yang berwarna putih. Reaksi yang terjadi : 2
Hg+ + 2 Cl– Hg2Cl2 (Widiarto, 2011). Berdasarkan tabel 1. Hasil analisis kualitatif
menunjukkan bahwa dari kelima sampel yaitu A, B, C, D dan E yang diuji
menggunakan tiga reagen yaitu larutan KI 0,5 N, NaOH 2 N dan HCl 6 M terdapat
tiga sampel hasil yang menunjukkan bahwa terjadi perubahan warna atau positif
mengandung merkuri. Ketiga sampel tersebut yaitu yang diberi kode A, B dan C.

13
2. Kuantitatif
Ketiga sampel yang positif mengandung merkuri pada uji kualitatif dilanjutkan
dengan uji kuantitatif dengan mengunakan alat spektrofotometri serapan atom. Dasar
pemilihan metode ini disebabkan karena sifat logam merkuri yang mudah menguap
sehingga analisis dalam mesin SSA dilakukan dengan sistem tanpa nyala dan juga
dipilih metode ini karena menggunakan metode sederhana dan memerlukan waktu
analisis yang cukup singkat serta sangat sensitif untuk konsentrasi sangat kecil
(Robinson, 1996). Dilakukan pengukuran larutan baku merkuri (Hg).
Fungsi dari larutan baku yaitu digunakan sebagai larutan pembanding merkuri
(Hg) yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan baku merkuri dibuat dengan
konsentrasi 5 bpm (berat per milion), 10 bpm (berat per milion), 15 bpm (berat per
milion) dan 20 bpm (berat per milion). Kemudian didapatkan hasil pengukuran
larutan baku dan dibuat kuva kalibrasi antara konsentrasi larutan baku dengan
serapan, sehingga didapat persamaan regresi linier y = 0,05412x + 0,2949 dengan
nilai koefisien korelasinya (r) yaitu 0,9980. Koefisien korelasi ini menunjkkan hasil
yang linier, karena memenuhi kriteria penerimaan yaitu 0,99 ≤ r < 1, sehingga
penggunaan tersebut dapat digunakan untuk analisis merkuri dengan hasil yang baik
(Priyambodo, 2007). Kemudian sampel dianalisis dengan menggunakan
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dengan tiga kali pengujian.
Dari hasil analisis yang diperoleh menunjukkan adanya senyawa merkuri yang
terkandung pada krim tersebut (dapat dilihat pada tabel 2). Dihitung kadar
merkurinya dengan menggunakan konsentrasi yang diperoleh secara otomatis dari
alat spektrofotometri serapan atom (SSA). Hasil rata–rata yang didapat dari
pembacaan alat yaitu 0,1625 mg/kg (ppm) setiap 0,5 g, untuk sampel A dalam 1 pot
mengandung 15 g krim pemutih. Jadi, dalam 1 pot krim pemutih mengandung
merkuri sebanyak 4,875 mg/kg (ppm). Selanjutnya sampel B Hasil rata–rata yang
didapat dari pembacaan alat yaitu 0,2013 mg/kg (ppm) setiap 0,5 g, dalam 1 pot
mengandung 15 g krim pemutih. Jadi, dalam 1 pot krim pemutih mengandung
merkuri sebanyak 6,039 mg/kg (ppm). Kemudian sampel C Hasil rata–rata yang
didapat dari pembacaan alat yaitu 0, 1283 mg/kg (ppm) setiap 0,5 g, dalam 1 pot

14
mengandung 10 g krim pemutih. Jadi, dalam 1 pot krim pemutih mengandung
merkuri sebanyak 5,132 mg/kg (ppm).
Berdasarkan PERMENKES RI No.445/MENKES/PER/1998 tentang daftar
bahan, zat warna, substratum, zat pengawet dan tabir surya pada kosmetik
menyatakan bahwa raksa dan senyawanya dilarang digunakan dalam kosmetik dan
juga peraturan kepala BPOM RI Nomor Hk.03.1.23.07.11.6662 tahun 2011 tentang
persyaratan cemaran mikroba dan logam berat dalam kosmetik menyatakan bahwa
cemaran logam berat Hg dalam kosmetik tidak lebih dari 1 mg/kg atau 1 mg/L
(ppm). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, membuktikan bahwa krim yang beredar
di Bolaang Mongondow mengandung merkuri dengan kadar melebihi batas
persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah Badan Pengawas Obat dan Mankanan
Republik Indonesia. Adanya merkuri dalam krim pemutih yang digunakan setiap hari
dan berulang kali akan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan. Pemakaian merkuri
pada krim juga dapat menimbulkan banyak hal, mulai dari perubahan warna kulit
yang pada akhirnya dapat menyebabkan bintikbintik hitam pada kulit, alergi, iritasi
kulit serta pemakaian dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanen
pada susunan syaraf otak, ginjal dan gangguan perkembangan janin (BPOM, 2007).

2.4 Penentuan Kadar Seng (Zn)


A. Analisis Kandungan Logam Berat dari Beberapa Jenis Ikan Hasil Budidata
Karamba sebagai Sumber Olahan Pangan
Hadinoto, S. dan Setyadewi, M.N
a. Metode
1. Pengambilan Sampel
1) Pengambilan sampel ikan baronang (Siganus) menggunakan serok di
lokasi karamba jaring apung pada jarak  10 meter dari pantai
2) Pengambilan sampel dilakuka pada siang hari
3) Ikan kemudian disimpan di coolbox yang sudah diberi es batu
2. Preparasi sampel
1) Lumatkan/haluskan contoh dengan blender/homogenizer hingga
homogen dan tempatkan contoh dalam wadah polystyrene yang bersih
dan tertutup.

15
2) Jika contoh tidak langsung dianalisis, simpan contoh dalam refrigerator
atau freezer sampai saatnya untuk dianalisis.
3) Pastikan contoh masih tetap homogen sebelum ditimbang. Jika terjadi
pemisahan antara cairan dan contoh maka dilakukan blender ulang
sebelum dilakukan analisis.
4) Timbang contoh sebanyak ± 5 gram dalam cawan porselen dan catat
beratnya.
5) Masukkan contoh dalam tanur dan tutup separuh permukaannya, naikkan
suhu tanur secara bertahap 100C setiap 30 menit sampai mencapai
450C dan pertahankan selama 18 jam, kemudian keluarkan contoh dari
tanur dan dinginkan pada suhu kamar. Abu harus berwarna putih dan
pada dasarnya harus bebas karbon.
6) Jika abu masih mengandung kelebihan partikel-partikel karbon (misalnya
abu berwarna keabu-abuan), di basahkan abu dengan aquabidest
sesedikit mungkin sehingga semua abu terlarut dalam asam
7) Uapkan di atas hotplate pada suhu 1000 C sampai kering
8) Tambahkan 10 mL HNO3 0,1 M
9) Dinginkan pada suhu ruang selama 1 jam
10) Saring larutan dengan menggunakan kertas saring
11) Encerkan dengan aquabidest hingga mencapai 100 mL
Hasil

Kurva baku perak (Ag) menghasilkan persamaan regresi linear y = 0,17600x


+ 0,0010500 dengan nilai r = 0,9790, untuk kurva baku kalsium (Ca) menghasilkan
persamaan regresi linear y = 0,038855x + 0,0073450 dengan nilai r = 0,9967,

16
sedangkan kurva baku seng (Zn) menghasilkan persamaan regresi linear y =
0,54110x + 0,025450 dengan nilai r = 0,9998. Persamaan regresi linear diperoleh
dari hubungan antara konsentrasi (ppm) dan absorban. Berdasarkan kurva kalibrasi
dan persamaan regresi linear yang diperoleh dapat digunakan sebagai evaluasi nilai
serapan dari larutan sampel untuk mengetahui kadar unsur salam cuplikan.
Konsentrasi sampel akan terbaca setelah nilai serapan sampel diinterpolasikan ke
dalam persamaan regresi linear.

Gambar 1. Kandungan Logam Berat Ag pada Ikan Budidaya di Galala


Berdasarkan penelitian didapatkan hasil konsentrasi logam berat Ag (Gambar
1) pada ikan baronang (Siganus canaliculatus) terbesar terdapat pada jeroan yaitu
0,0213 ppm kemudian kepala 0,0202 ppm dan konsentrasi terendah pada bagian
daging yaitu sebesar 0,0048 ppm. Untuk konsentrasi logam berat Ag pada ikan
bubara (Trachinotus Carolinus) terbesar juga terdapat pada bagian jeroan sebesar
0,0219 ppm, kepala 0,0207 ppm dan yang terendah pada daging 0,0088 ppm.

17
Gambar 2. Kandungan Logam Berat Zn pada Ikan Budidaya di Galala
Pada Gambar 2. dapat dilihat bahwa akumulasi logam berat Zn pada ikan baronang
(Siganus canaliculatus) yang terbesar terdapat pada bagian kepala 2,1492 ppm
diikuti bagian jeroan 1,5146 ppm dan terendah pada bagian daging 0,6931 ppm.
Sedangkan konsentrasi logam berat Zn pada ikan bubara (Trachinotus Carolinus)
1,0616 ppm pada bagian daging, kepala 1,0005 ppm dan jeroan 0,6386 ppm.
Dalam preparasi sampel proses pencucian sebaiknya diperhatikan suhu air
yang akan digunakan untuk proses pencucian. Suhu yang digunakan untuk pencucian
biasanya kurang lebih 50 C. Penggunaan suhu rendah pada air yang digunakan
dimaksudkan untuk menjaga tekstur daging dan kandungan enzim proteolisisnya.
Selain suhu, perbandingan volume air yang digunakan juga harus diperhatikan.
Efisiensi pencucian dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya penambahan air,
daging ikan, umur panen ikan, kecepatan agitasi, bentuk agitator dan suhu air.
Bentuk wadah yang sebaiknya digunakan adalah bentuk persegi. Kecepatan agitator
yang baik digunakan saat pencucian surimi adalah 20-40 rpm.

B. Kandungan Logam Berat (Cu, Pb, Zn, Cd, dan Cr) dalam Air dan Sedimen
Di Perairan Teluk Jakarta
Yani Permanawati, Rina Zuraida dan Andrian Ibrahim
Abstrak
Penelitian Lingkungan dan Kebencanaan Geologi Kelautan Perairan Teluk
Jakarta (Tanjung Kait – Muara Gembong) dilakukan pada bulan Oktober - November
2010. Uji logam berat (Cu, Pb, Zn, Cd, dan Cr) dilakukan terhadap 28 contoh air laut

18
dan 28 contoh sedimen dasar laut menggunakan metoda Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan
informasi kondisi lingkungan terkini dari kandungan logam berat dalam air laut dan
sedimen dasar laut.
Kandungan logam berat (air laut dalam mg/l : sedimen dasar laut dalam ppm)
terukur sebagai berikut : Cu ( <0.005 : 15.000-169.500 ); Pb (0.005-0.011 : 14.000-
58.100); Zn (0.005-0.007 : 95.800 333.000); Cd (0.006-0.015 : 0.012-0.750); Cr
(<0.001 : 45.320-139.180). Berdasarkan Metode Storet dapat dilihat nilai status mutu
air laut perairan ini adalah -12, berarti bahwa kualitas air laut di perairan termasuk
kelas C (tercemar sedang). Sedangkan status mutu sedimen di perairan menunjukkan
skor nilai status mutu sedimen adalah 0, yang berarti bahwa kualitas sedimen
termasuk kelas A (tidak tercemar/memenuhi baku mutu). Jelas terlihat bahwa nilai
ambang batas (NAB) logam berat dalam sedimen jauh lebih tinggi dari NAB logam
berat dalam air.
a. Metodologi
Penelitian Lingkungan dan Kebencanaan Geologi Kelautan Perairan Teluk
Jakarta (Tanjung Kait - Muara Gembong) P3GL dilakukan pada bulan Oktober -
November 2010 menggunakan kapal Geomarin 1.
1) Pengambilan sampel
Sebanyak 28 contoh air diambil pada lokasi yang sama dengan pengambilan
contoh sedimen. Pengambilan contoh air dilaksanakan dengan menggunakan water
sampler Nennsen yang sudah dimodifikasi. Pengambilan contoh air dilakukan pada
kedalaman 5 m dari permukaan laut sebanyak 1 liter, dengan pertimbangan bahwa
suhu dan salinitas air laut di perairan dangkal tidak banyak berubah hingga
kedalaman 50 m dan untuk menghindari terambilnya sampah padat. Dari 28 contoh
sedimen yang didapat hanya 15 yang dilakukan analisis laboratorium. Inti sedimen
hasil pemercontohan gaya berat diambil pada lapisan permukaan (1-5 cm).
2) Analisa Kadar
Analisa contoh air dilakukan di laboratorium IPB sedangkan analisa contoh
sedimen di Badan Geologi ESDM. Analisis Cu, Pb, Zn, dan Cr menggunakan metoda
AAS-Flame yang memiliki deteksi limit 0.01 ppm sedangkan analisa Cd
menggunakan metoda AAS-Grafit dengan deteksi limit hingga 0.01 ppb (Zuraida,

19
drr., 2010). Penentuan Nilai Ambang Batas air laut menggunakan Kep-
51/KMNLH/2004. Penentuan untuk sedimen dengan menggunakan Nilai Ambang
Batas berdasarkan Sediment Quality Standards, WAC 172-204-320. Penentuan status
mutu air dan sedimen dilakukan menggunakan Metode Storet berdasarkan skor
(KMNLH no 115, 2003).

b. Hasil Penelitian
1) Kadar Logam Berat dalam Air Laut

Hasil penelitian menunjukan kandungan Cu dan Cr dalam air laut memiliki


nilai yang homogen, yaitu Cu sebesar 0,005 mg/L dan Cr sebesar 0,001 mg/L.
Sedangkan kandungan Pb, Zn dan Cd menunjukkan nilai yang bervariasi, dimana
Pb sekitar 0,005 - 0,011 mg/L, Zn sekitar 0,005 - 0,007 mg/L, dan Cd sekitar
0,005 – 0,015 mg/L Dengan Deteksi Limit (DL) terhitung 0,005mg/L untuk Cu,
Pb, Zn, dan Cd, sedangkan Cr terhitung 0,001 mg/L.
2) Kadar Logam Berat dalam Sedimen Laut

20
Hasil penelitian menunjukan kandungan logam berat sedimen dasar laut
dalam ppm terukur sebagai berikut : Cu sekitar 15.000-169.500, Pb sekitar
14.000-58.100, Zn sekitar 95.800 - 333.000,Cd sekitar 0.012-0.750, dan Cr
sekitar45.320-139.180.
Sedimen berperan penting dalam menentukan kualitas air dikarenakan
peranannya sebagai tujuan akhir limbah. Selain itu sedimen mempunyai potensi
penglepasan zat-zat tercemar ke dalam kolom air disertai perubahan kondisi fisik
kimiawi.
Kadar Logam Berat dalam Sedimen Laut Sedimen yang merupakan
kumpulan hasil rombakan batuan sekitarnya akan mempunyai kandungan logam
berat yang ditentukan oleh mineralogi batuan asal. Di daerah yang dipengaruhi oleh
aktifitas manusia, kandungan logam berat yang terekam dalam sedimen akan terdiri
atas geokimia alami ditambah hasil aktifitas manusia. Kondisi ini merupakan input
kontaminan logam berat masih cenderung dari darat. Secara umum kadar logam berat
diperairan dapat membahayakan kehidupan biota laut. Adanya akumulasi logam
berat dalam sedimen dapat menimbulkan akumulasi pada tubuh biota yangBhidup
dan mencari makan di dalam air maupun di sekitar sedimen atau dasar perairan, dan
akan mencemari kehidupan biota laut, yang pada gilirannya akan berbahaya bagi
manusia yang mengkonsumsinya.
Kadar logam berat dalam sedimen permukaan lebih tinggi dibandingkan
dalam air laut. Hal ini terjadi karena logam berat mengalami proses pengenceran
dalam air dan terendapkan sehingga terjadi akumulasi dalam sedimen. Rendahnya
kadar logam berat dalam air laut, bukan berarti bahan cemaran yang mengandung
logam berat tidak berdampak negatif terhadap perairan. Dengan berjalannya waktu,

21
akumulasi logam berat dalam sedimen menimbulkan akumulasi pada tubuh biota
yang hidup dan mencari makan di air maupun di sekitar sedimen atau dasar perairan,
yang pada gilirannya akan berbahaya pula bagi manusia yang mengkonsumsi biota
tersebut.

22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

23
DAFTAR PUSTAKA

24