Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL REVIEW

KIMIA BAHAN ALAM DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN


PEMBUATAN OBAT-OBATAN

Oleh Kelompok 5
Siti Nurhalizah H031181008
Andi Nurul Annisa Amir H031181011
Siti Syara Ramadani H031181023
Heryanti H031181324
Maghfirah Sulaiman H031181501
Viny Ery Widyastuti H031181502

KIMIA ORGANIK BAHAN ALAM


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara terbesar kedua setelah Brazil untuk hutan tropis
dan subtropis, apabila digabung dengan sumber daya kelautan maka Indonesia
adalah yang terkaya di dunia. Hampir seluruh wilayah Indonesia sangat kaya dengan
tumbuhan obat dan tumbuhan penghasil senyawa aromatik. Keanekaragaman nabati
ini merupakan aset nasional yang menjanjikan peluang sangat besar bagi
pendayagunaan sumber daya alam untuk berbagai keperluan antara lain sumber bahan
kimia (chemicalprospecting) yang potensial. Sejak zaman dahulu, masyarakat
Indonesia memang sudah mengenal dan mengaplikasian berbagai tanaman terutama
untuk keperluan pengobatan dan dalam aspek kehidupan yang lain.
Pada hakekatnya senyawa kimia hasil alam sangat luas, meliputi senyawa
organik dan anorganik. Namun pengertian Kimia bahan alam (Natural Product
Chemistry) pada umumnya dimaksudkan untuk Kimia Organik yang berasal dari
tumbuhan dan binatang, baik yang ada di daratan maupun lautan. Senyawa kimia
hasil alam biasa disebut metablit sekunder.
Kata nature (alami) sangat banyak dijumpai pada senyawa organik, karena
perkembangan ilmu kimia organik sangat banya berhubungan dengan perkembangan
penelitian kimia hasil alam. sel organisme mahkluk hidup seperti tanaman, jamur,
bakteri, (tumbuhan lumut laut), serangga dan binatang adlaah merupakan tempat
keaktifan sintesis yang sangat rumit dan kompleks di mana dihasilkan senyawa
organik yang sangat luar biasa dan sanagat berguna bagi umat manusia.
Penelitian dengan memanfaatkan kimia bahan alam sebagai bahan baku obat,
dalam makalah ini kami akan membahas pengaplikasian kimia bahan alam sebagai
bahan obat-obatan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah pemanfaatan bahan alam sebagai bahan baku obat?
2. Apa itu metabolit sekunder?
3. Apa saja sumber metabolit sekunder yang berasal dari tumbuhan dan
penggunaannya sebagai bahan obat?
4. Apa saja sumber metabolit sekunder yang berasal dari mikroorganisme dan
penggunaannya sebagai bahan obat?
5. Apa saja sumber metabolit sekunder yang berasal dari bahan alam kelautan
dan potensinya sebagai bahan obat?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui sejarah pemanfaatan bahan alam sebagai bahan baku obat
2. Mengetahui apa itu metabolit sekunder
3. Mengetahui apa saja sumber metabolit sekunder yang berasal dari tumbuhan
dan penggunaannya sebagai bahan obat
4. Mengetahui apa saja sumber metabolit sekunder yang berasal dari
mikroorganisme dan penggunaannya sebagai bahan obat
5. Mengetahui apa saja sumber metabolit sekunder yang berasal dari bahan alam
kelautan dan potensinya sebagai bahan obat
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Pemanfaatan Kimia Bahan Alam Sebagai Bahan Obat


Sepanjang sejarah, penggunaan senyawa bahan alam sebagai sumber utama
obat-obatan telah berkembang dengan pesat. Perkembangan ini disertai dengan
seleksi yang ketat dalam hal proses, ekstraksi, keampuhan dalam mengobati penyakit,
dan interaksi biokimianya dengan makhluk hidup. Rangkaian proses yang panjang ini
pada gilirannya menghasilkan suatu bentuk obat baru dengan struktur yang khas serta
efek samping yang terukur.
Beberapa bukti awal sejarah penggunaan senyawa bahan alam untuk
kebutuhan medis antara lain penggunaan ekstrak  foxglove (Digitalis purpurea)
sebagai obat jantung pada sekitar abad ke-18, penggunaan batang dedalu dan kina
untuk pengobatan demam, dan penggunaan ekstrak opium dalam pengobatan disentri.
Pada tahun 1804, morfin yang menunjukkan efek analgesik dan sedatif berhasil
diisolasi dalam keadaan murninya dari biji tumbuhan opium (Papaver somniferum).
Sejak tahun 1970-an, perhatian mulai tertuju pada penemuan obat-obatan dari
laut. Hal ini ditandai dengan adanya kolaborasi antara peneliti dari berbagai institusi
dengan farmakolog yang menghasilkan suatu kemajuan besar dalam penemuan obat-
obatan dari biota laut. Sepanjang abad ke-19, beberapa ilmuwan berhasil mengisolasi
beberapa senyawa aktif tanaman dalam keadaan murninya, seperti kuinina yang
berasal dari kina, kokaina yang berasal dari koka (Erythroxylon coca), dan beberapa
senyawa lainnya terutama dari jaringan tumbuhan. Pada tahun 1829, ilmuwan
berhasil mengisolasi salisina yang berasal dari dedalu (willow tree) yang memiliki
efek pereda nyeri, dan pada tahun 1838, asam salisilat berhasil diisolasi dari sumber
yang sama. Masalah yang timbul dari penggunaan asam salisilat adalah sifatnya yang
mengiritasi lambung sehingga pada abad ke-19 ilmuwan kemudian mensintesis
turunan senyawa ini, asam asetil salisilat, yang lebih dikenal sebagai aspirin yang
menunjukkan efek iritan yang rendah.
Gambar 1. Senyawa-senyawa yang berhasil diisolasi dari tumbuhan: (1) morfina,
(2) kuinina, (3) kokaina, (4) salisina, (5) asam salisilat, (6) asam asetil
salisilat / aspirin, (7) penisilin, (8) paklitaksel / taxol, (9) artemisina

Di Indnesia sendiri, tanaman obat atau obat herbal telah lama dikenal oleh
masyarakat dan digunakan secara turun temurun untuk mengatasi berbagai masalah
kesehatan. Bahan Alam Indonesia merupakan sumber senyawa kimia dengan
aktivitas biologis yang potensial. Tumbuhan dari hutan tropis maupun yang telah
dibudidayakan serta mikroorganisme golongan jamur, aktinobakteria maupun
miksobakteria merupakan sumber potensial senyawa metabolit sekunder dengan
aktivitas biologis yang bermanfaat untuk penyakit infeksi maupun degenerative.

2.2 Metabolit Sekunder


Obat-obat dari sumber bahan alam dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu (i)
senyawa bahan alam, (ii) senyawa yang diperoleh dari hasil sintesis dari senyawa
bahan alam, dan (iii) senyawa hasil sintesis yang berdasarkan pada struktur senyawa
bahan alam.
Senyawa organic yang dihasilkan oleh alam terdiri dari senyawa metabolit
primer dan senyawa metabolit sekunder. Tetapi yang biasa disebut sebagai senyawa
hasil alam (natural products) adalah senyawa metabolit sekunder. Metabolit sekunder
tidak dimanfaatkan langsung oleh yang menghasilkannya (tumbuhan dan binatang).
Biosintesis metabolit sekunder diturunkan dari metabolit primer (gula, asam amino,
lemak, dan nukleotida). Pada tumbuhan, pembentukan metabolit sekunder dimulai
dari asam piruvat dan asam shikimat yaitu senyawa yang dihasilkan dari glikolisis
glukosa dari hasil fotosintesis. Dari kedua senyawa inilah berbagai metabolit
sekunder diturunkan.
Secara keseluruhan, sekitar 244 prototipe struktur kimia (80% berasal dari
hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme) telah digunakan sebagai “cetakan” dalam
produksi obat-obatan hingga 1995. Sekitar setengah dari obat-obatan yang beredar di
pasaran terinspirasi dari struktur alam, baik senyawa langsung maupun turunannya,
yang sebagian besar berasal dari organisme terestrial. Senyawa-senyawa bahan alam
ini kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu senyawa metabolit sekunder
dan senyawa metabolit primer.
Metabolit sekunder dibedakan dengan metabolit primer berdasarkan kriteria
berikut. Metabolit sekunder distribusinya pada tanaman tidak universal artinya tidak
terdapat pada seluruh bagian tanaman penghasil, sedangkan metabolit primer
terdistribusi secara universal. Metabolit primer memberikan keterlibatan langsung
pada metabolisme di dalam sel, sedangkan metabolit sekunder tidak terlibat langsung
pada metabolisme di dalam sel organisme yang menghasilkannya. Metabolit sekunder
jauh lebih sedikit terkandung di dalam tumbuhan atau binatang dibandingkan
metabolit primer.

2.3 Sumber Metabolit Sekunder dari Tumbuhan Sebagai Bahan Obat


Tumbuh-tumbuhan telah lama diketahui dan dimanfaatkan oleh umat manusia
sebagai bahan obat-obatan dan berbagai keperluan lainnya. Tanaman obat merupakan
salah satu sumber bahan baku obat. Sebagian besar komponen kimia yang berasal
dari tamanan yang digunakan sebagai obat atau bahan obat adalah merupakan
metobolit sekunder.
Ada beberapa senyawa organik bahan alam penting yang berhasil diisolasi
dari berbagai spesies tumbuhan, sekitar tahun 1820-an berhasil dilakukan isolasi
striknin dari Strychnos ignatii (Loganiaceae) yang dapat merangsang sistem saraf
pusat, emetin dari Cephaelis ipecacuanha (Rubiaceae) yang memiliki sifat amebisida,
kafein dari Cqffeaarabica (Rubiaceae) yang dapat menaikkan aktivitas sistem saraf
pusat, serta kuinin dari Cinchona ledgeriana (Rubiaceae) yang memiliki aktivitas
antimalaria. Sebelumnya pada tahun 1805, morfin berhasil diisolasi dari Papaver
somniferum (Papaveraceae) yang bersifat narkotik analgesik. Kemudian pada tahun
1862, Wohler berhasil mengisolasi kokain dari Erythroxylon coca (Erythroxylaceae)
yang memiliki aktivitas farmakologi sebagai anestesi lokal.
Perkembangan kimia organik bahan alam semakin pesat dengan semakin
banyaknya ditemukan senyawa-senyawa organik dari sumber tumbuh-tumbuhan yang
sangat berkhasiat untuk pengobatan. Reserpin, suatu senyawa alkaloid triptopan
berhasil diisolasi dari tumbuhan Rauvolfia serpentina (Apocynaceae) tahun 1952 dan
digunakan sebagai obat antihipertensi.

Gambar 2. Struktur beberapa metabolit sekunder dari tumbuhan


Senyawa bioaktif lain yang berhasil ditemukan adalah yang memiliki aktivitas
analgesik dan struktumya berhasil ditentukan tahun 1962. Produk sintesis galantamin
telah diluncurkan dengan nama Nivalin dan secara serentak di Amerika dan Eropa
tahun 2002 dengan nama Reminyl untuk pengobatan penyakit Alzheimer. Vmblastin
dan vinkristin, senyawa organik bahan alam dari jenis alkaloid bisindol, telah berhasil
diisolasi dari tumbuhan Catharanthusroseus (Apocynaceae) dan sangat terkenal
sebagai obat antikanker. Vinkristin digunakan pada kemoterapi penyakit leukemia,
sedangkan vinblastin digunakan pada kemoterapi kanker kandung kemih dan
payudara.
Senyawa antikanker lain yang berhasil ditemukan adalah taksol yang diisolasi
dari Tcccus brevifolia (Taxaceae), taksol memiliki struktur unik yang termasuk
anggota kelompok senyawa diterpenoid taksan. Taksol dikenal juga dengan nama
generik untuk pengobatan kanker ovarium, kanker payudara. Satu lagi senyawa
antimalaria, artemisinin, telah berhasil diisolasi dari Artemisia annua (Asteraceae).
Artemisinin mempakan senyawa seskuiterpen lakton dan telah resmi digunakan
sebagai obat antimalarial.
Selain spesies tumbuhan diatas juga terdapat beberapa spesies tumbuhan lain
yang dapat menghasilkan senyawa organik yang berpotensi sebagai bahan obat
seperti tumbuhan genus Curcuma (Zingiberaceae) yang kaya akan kandungan
senyawa organik kurkuminoid yang berkhasiat sebagai antioksidan, gems Morinda
(Rubiaceae) sebagai sumber senyawa antrakuinon yang memiliki potensi sebagai obat
antitumor, genus Callophyllum (Guttiferae) sebagai penghasil senyawa tumnan
kumarin yang dikenal dengan kalanolida yang berpotensi digunakan sebagai anti-
HIV. Kemudian, berbagai spesies tumbuhan genus Artocarpus (Moraceae) yang
banyak mengandung senyawa tumnan 3-prenilflavon yang memilki berbagai aktivitas
biologi seperti antiinflamasi, antihipertensi dan antitum.
Gambar 3. Struktur senyawa metabolit sekunder tumbuhan lainnya

2.4 Sumber Metabolit Sekunder dari mikroorganisme


Selain metabolit sekunder dari tumbuhan, pemanfaatan metabolit sekunder
dari mikroorganisme juga berkembang dengan pesat, mikroorganisme telah dan akan
menjadi sumber potensial dalam pemanfaatan metabolit sekunder sebagai bahan baku
pembuatan obat-obatan baru terutama antibiotik.

Sejarah panjang penemuan obat dari mikroba diawali pada tahun 1928, ketika
Alexander Fleming menemukan suatu senyawa yang dihasilkan oleh suatu bakteri
pada cawan petri yang ditumbuhi oleh Staphylococcus aureus. Bakteri tersebut adalah
Penicillium notatum dan zat aktif yang dihasilkannya dinamakan penisilin. Penisilin
merupakan antibotik a-laktam. Dengan menggunakan metoda Fleming, sejumlah
senyawa lain berhasil diisolasi dari mikroba, kebanyakan diantaranya sebagai
antibiotik, seperti streptomisin, kloramfenikol, klortetrasiklin, sepalosporin,
eritromisin, dan vankomisin.
Gambar 4. Struktur Metabolit Sekunder dari beberapa mikroorganisme

Senyawa metabolit sekunder telah lama diketahui sebagai senyawa anti


tumor, dan beberapa telah digunakan sebagai kemoterapi dalam pengobatan kanker.
Obat-obat dari sumber mikroba yang telah disetujui penggunaannya sebagai
antikanker adalah aktinomisin D, antrasiklin (daunorubisin, doksorubisin, epirubisin,
pirarubisin dan valrubisin), bleomisin, mitomisin C, dan antrasenon (mitramisin,
streptozotosin dan pentostati).

2.5 Potensi Bahan Alam Kelautan Sebagai Bahan Obat


Sebagai negara kepulauan Indnesia sangat kaya akan sumber bahan alam
kelautan. Sumber daya alam kelautan memiliki potensi besar sebagai sumber
penghasil obat-obatan. Walaupun belum ada obat yang berasal dari sumber bahan
alam kelautan yang telah disetujui penggunaannya dan telah dikomersialkan, namun
cukup banyak senyawa-senyawa bioaktif yang telah berhasil ditemukan dari sumber
tersebut melalui prnrlitian dan uji praklinis.
Manusia telah memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan sebagai bahan baku
obat sejak jaman purbakala walaupun senyawa-senyawa yang terkandung di
dalamnya tidak diketahui secara pasti. Dengan demikian bertambahnya jumlah
penduduk, permintaan akan obat-obatan baru untuk menanggulangi berbagai jenis
penyakit yang mengerikan seperti AIDS, SARS, dan sebagainya juga semakin
meningkat. Selain itu, peningkatan jumlah penyakit yang resisten terhadap obat-obat
yang ada memerlukan biaya yang sangat besar dalam pencarian obat-obat baru yang
lebih manjur.
Sejak tahun 1970-an perhatian mulai tertuju pada penemuan obat-obatan
dari laut. Hal ini ditandai dengan adanya kolaborasi antara peneliti dari berbagai
institusi dengan farmakolog yang menghasilkan suatu kemajuan besar dalam
penemuan obat-obatan dari biota laut. Sebagai gambaran lebih dari 10.000 senyawa
bioaktif telah berhasil diisolasi dari biota laut dan sekitar 300 paten dari senyawa
tersebut telah berhasil dipublikasi selama kurun waktu 30 tahun.
Beberapa contoh sumber bahan alam laut yang memiliki senyawa bioaktif
yang berpotensi sebagai antikanker diantaranya adalah laulimalida {Cacospongia
mycofijiensis), kurasin A {Lyngbya majuscula), vitilevuamida {Didemnum
cuciiferum), diazonamida {Diazona angulata), sarkodiktiin {Sarcodictyon roseum),
pelorusida A {Mycale hentscheli), tiokoralin {Micromonospora marina) dan variolin
B {Kirpatrickia variolosa).
Senyawa bioaktif lain dari sumber bahan alam kelautan adalah: manoalida
{Luffariella variabilis), pseudopterosin (Pseudopterogorgia elisabethae) dan
kontignasterol (Petrosia contignata) yang memiliki aktivitas antiimflamasi, serta
gallinamida Ayang memiliki aktivitas antimalaria.
Beberapa senyawa utama yang digunakan untuk penanganan tuberkulosis
diantaranya (+)-8-hydroxymanzamine A yang pertama kali diisolasi dari spons
Pachypelina sp. yang sangat manjur untuk mengatasi Mycobacterium tuberculosis
H37Rv. Axisonitrile-3 yang diisolasi dari spons Achantella klethra, juga sangat
manjur untuk mengatasi M. tuberculosis. Pseudopteroxazole (Gambar 5) dan
ergorgiaene merupakan senyawa yang diisolasi dari gorgonian Pseudopterogorgia
elisabetae, terbukti mampu menghambat pertumbuhan M. tuberculosis.

Gambar 5. Struktur kimia pseudopteroxazole

Nematode merupakan salaj satu masalah kesehatan yang selalu


mendapat perhatian serius karena dapat berjangkit pada manusia dan hewan. Daya
tahan pertumbuhan nematoda terhadap obat-obat anthelmintik yang ada saat ini
mendorong usaha pencarian senyawa baru dan lebih manjur dalam menangani
nematoda. Dihroxytetrahydrofuran yang diisolasi dari algae coklat, Notheia anomala
asal Australia menunjukkan aktivitas terhadap nematocidal tertentu. Amphilactams
yang berhasil diisolasi dari spons Amphimedon sp. sangat efektif digunakan untuk
mengatasi parasit nematoda. Sayang sekali amphilactams tidak mampu mengatasi
telur nematoda. Senyawa lainnya yaitu geodin A magnesium salt (Gambar 6) yang
berhasil diisolasi dari spons Geodia sp. (YAN, 2004). Menurut CAPON et al. (1999),
geodin A magnesium salt sangat efektif mengatasi nematocidal tertentu.

Gambar 6. Struktur kimia geodin A Mg salt


Parasit protozoa telah menjangkiti manusia dan hewan dalam skala dunia.
Berbagai percobaan telah dilakukan untuk menangani protozoa. Senyawa-senyawa
produk alam laut yang menunjukkan sifat anti protozoa, misalnya peroksida yang
dihasilkan oleh spons Plakortis telah terbukti memiliki aktivitas terhadap protozoa
Leishmonia mexicama yang menyebabkan penyakit "cutaneous ulcer" dan infeksi
"nasopharyngeal". Obat-obatan yang digunakan dalam menangani Trypanosoma
cruzi dan T. brucei yang menyebabkan penyakit "chagas" di Amerika Selatan dan
penyakit tidur di Afrika ternyata memiliki efek samping. Ascosalipyrrolidinone A
yang berhasil diisolasi dari jamur Ascochyta salicorniae menunjukkan aktivitas
menghambat pertumbuhan T. cruzi. Cara untuk mengurangi pengaruh sitotoksik
masih dalam tahap penelitian. Chloroquine, mefloquine, quinine dan sulfadoxin-
pyrimethaminemerupakanjenis-jenis obat yang dianggap efektif dalam penanganan
penyakit malaria yang disebabkan oleh protozoa Plasmodium falcifarum. Namun
dalam perkembangannya, kemanjuran obat-obat tersebut menjadi berkurang akibat
peningkatan resistensi dari protozoa itu sendiri. Manzamine (Gambar 7) merupakan
alkaloid yang berhasil diisolasi dari spons asal Indonesia menunjukkan aktivitas
sebagai antimalaria (YAN, 2004). Senyawa lainnya yang memiliki aktivitas sebagai
antimalaria adalah axisonitril-3 (sesquiterpenid isocyanide) yang diisolasi dari spons
Acanthella klethra dan kalihinol-A (isonitril yang mengandung kalahinane
diterpenoid) yang diisoalsi dari spons Acanthella sp.

Gambar 7. Struktur kimia manzamine A

Sampai saat ini kebanyakan antibiotik yang digunakan dalam menangani


infeksi akibat bakteri merupakan senyawa yang berasal dari mikroba-mikroba tanah.
Namun penggunaan antibiotik tersebut untuk jangka panjang ternyata menyebabkan
khasiatnya semakin berkurang, bahkan terjadinya resistensi terhadap antibiotik itu
sendiri. Senyawa dari biota laut yang menunjukkan efek bioaktif terhadap bakteri
(antibakteri), misalnya squalamine yang diisolasi dari ikan hiu Squalus achantias
menunjukkan sifat bioaktif sebagai antibakteri. Squalamine juga memiliki manfaat
dalam penanganan jenis kanker tertentu. Beberapa senyawa lainnya yang memiliki
sifat sebagai antimikroba, misalnya cribrostatins yang diisolasi dari spons
Cribrichalina sp., bromosphaerone yang diisolasi dari algae merah asal Maroko dan
jorumycin (Gambar 8) yang diisolasi dari nudibranch Jorunna finebris.
Sampai dengan tahun 2004 sekitar 12 jenis senyawa antikanker yang berbeda
sedang dalam berbagai tahap uji klinis yaitu : LAF389 asam amino yang diisolasi dari
spons Jaspis cf. coriacea; bryostatin-1 yaitu asam amino yang diisolasi dari spons
Bugula neritina; dolastatin-10 (peptide yang diisolasi dari moluska Dolabella
auricularia); ILX651 (peptide yang diisolasi dari moluska); cemadotin (peptide yang
diisolasi dari moluska); discodermolide (Gambar 10) (poliketida yang diisolasi dari
spons Discoderma sp.); HTT286 (tripeptida yang diisolasi dari spons); yondelis
(alkaloid yang diisolasi dari tunikata Ecteniascedia turbinate); aplidin depsipeptida
yang diisolasi dari tunikata Aplidium albicans), kahalalide F (depsipeptida yang
diisolasi dari moluska Elysia ruferesces); KRN7000 (a-galactosylceramide yang
diisolasi dari spons Agelas mauritianus), squalamine lactate (aminosteroid yang
diisolasi dari ikan hiu Squalus acanthias); IPL512602 (steroid yang diisolasi dari
spons) dan ET743 (alkaloid yang diisolasi dari tunikata).

Gambar 8. Struktur kimia discodermolide

Beberapa jenis senyawa antiinflamasi yang sedang dalam tahap uji klinis, misalnya
IPL 576092 (steroid yang diisolasi dari spons Petrosia contignata). Pseudopterosins
(diterpen glycoside yang diisolasi dari gorgonian Pseudopterogorgia elisabethae.
Daftar Pustaka

Capon, R.J. C. Skene; E. Lacey; J.H. Gill; D. Wadsworth And T. Friedel1999.


Geodin A Magnesium Salt: A Novel Nematocide From A Southern
Australian Marine Sponge, Geodia. J. Nat. Prod., 62(9): 1256-1259.
Dewick, P. M. 2009. Medicinal Natural Products a Biosynthetic Approach. Third
Edition. John Wiley & Sons. London.
Jasri, 2009, Bahan Alam Organik Sebagai Sumber Obat Moderen, repository unri.
Krause, J. & Tobin, G. 2013. Chapter 1 : Discovery, Development, and Regulation of
Natural Products. Dalam buku Using Old Solutions to New Problems –
Natural Drug Discovery in the 21st Century. InTech Open.
Harjo, B., Wibowo, C., & Ng, K. M. 2004. Development of Natural Product
Manufacturing Processes Phytochemicals. Chemical Engineering Research
and Design, 82(A8): 1010–1028
Matsjeh, S., 2009, Pemanfaatan Bahan Alam Nabati Sebagai Bahan Baku Senyawa
Obat, Seminar Nasional Pengembangan Farmasi, UGM, Yogyakarta.
Radji, M.,2005, Peranan Bioteknlogi dan Mikroba Endofit Dalam Pengembangan
Obat Herbal, Jurnal Ilmu Kefarmasian, 11(3), 113-126.
Rasyid, A., 2008, Biota Laut Sebagai Sumber Obat-Obatan, Jurnal Oseana,
9(1): 11-18.
Yan, H.Y. 2004. Harvesting drags from the seas and how Taiwan could contribute to
this effort. Chonghua J. Med. 9(1): 1-7.