Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

FAKTOR-FAKTOR KONTINGENSI DARI PERENCANAAN

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Manajemen


Tahun Akademik 2020/2021

Dosen Mata Kuliah


Dr. Sri Suwarsi, S.E., M.SI., CGA.

Oleh:
RULIANSYAH
10090319203
MANAJEMEN E

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan hadirat kepada Tuhan Yang Maha Esa, di
mana kita masih diberi napas kehidupan hingga hari ini sehingga penulis masih
bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Faktor Kontingensi dari Perencanaan.
Tidak pula penulis juga berterima kasih kepada Dosen Manajemen yang
memberikan bimbingan kepada kita dalam melancarkan penyusunan sampai
penulisan makalah makalah ini dengan sebaik mungkin.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik dapat
membangun perbaikan makalah karya ilmiah ini pada waktu mendatang.

Bandung, Februari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I.......................................................................................................................1

PENDAHULUAN..................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................1

1.3 Tujuan............................................................................................................2

2.1 Definisi Perencanaan......................................................................................3

2.2 Fungsi perencanaan dalam manajemen..........................................................4

2.3 Tujuan perencanaan.......................................................................................4

2.4 Faktor yang mempengaruhi pengembangan rencana.....................................5

BAB III....................................................................................................................7

PEMBAHASAN.....................................................................................................7

3.1 Contoh Kasus Perusahaan..............................................................................7

BAB IV....................................................................................................................9

PENUTUP...............................................................................................................9

4.1 Kesimpulan....................................................................................................9

4.2 Saran.............................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................11

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menjelaskan apa yang dikerjakan oleh para manajer bukan hal yang
mudah. Sebagaimana halnya tidak ada dua organisasi yang persis sama, demikian
pula tidak ada pekerjaan dua orang manajer yang benar-benar sama. Meski begitu,
riset-riset di bidang manajemen telah berhasil mengambil intisari dari pekerjaan
seorang manajer dan menjabarkannya dalam tiga pendekatan: fungsi, peranan, dan
keahlian.
Menurut pendekatan dari sudut pandang fungsi seorang manajer
menjalankan fungsi-fungsi atau aktivitas-aktivitas dalam rangka mengelola
pekerjaan orang lain secara efisien dan efektif. Menurut Henry Fayol yang
merupakan seorang pengusaha Prancis mengatakan bahwa setiap manajer
menjalankan lima buah fungsi: perencanaan (planning), penataan (organizing),
penugasan (commanding), pengkoordinasian (coordinating), dan pengendalian
(controlling). Di masa kini, fungsi-fungsi itu telah dipadatkan menjadi empat buah
fungsi: perencanaan (planning), penataan (organizing), kepemimpinan (leading),
dan pengendalian (controlling).
Berdasarkan empat fungsi tersebut, makalah ini hanya akan membahas
fungsi manajemen sebagai perencanaan. Dengan demikian makalah ini diharapkan
dapat memberikan penjelasan umum mengenai perencanaan.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan-rumusan masalah yang terdapat pada makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apa itu perencanaan?
2. Apa fungsi perencanaan dalam manajemen?
3. Apa tujuan perencanaan dalam manajemen?
4. Apa faktor-faktor kontingensi dari sebuah perencanaan?

1
2
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu perencanaan.
2. Untuk mengetahui apa fungsi perencanaan dalam manajemen.
3. Untuk mengetahui tujuan dari perencanaan dalam manajemen.
4. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor kontingensi dari sebuah
perencanaan.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Perencanaan


Definisi perencanaan menurut beberapa ahli:
1. Harold Koontz dan Cyril O’Donnel
Perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan
memilih tujuan-tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, program-
program dari alternatif-alternatif yang ada.
2. Louis A.Allen
Perencanaan adalah menentukan serangkaian tindakan untuk mencapai
hasil yang diiginkan.
Berdasarkan pengertian perencanaan dari beberapa tokoh, dapat
dibuat pengertian perencanaan sebagai berikut:
Perencanaan adalah suatu proses pemilihan dan pemikiran yang
menghubungkan fakta-fakta berdasarkan asumsi-asumsi yang berkaitan
dengan masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-
kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu dan menguraikan bagaimana pencapaiannya.
Perencanaan (planning) merupakan fungsi dasar (fundamental)
manajemen, karena pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian pun
harus terlebih dahulu di rencanakan. Perencanaan bersifat dinamis dimana
perencanaan ditujukan pada masa depan yang penuh dengan
ketidakpastian, karena adanya perubahan kondisi dan situasi. Hasil
perencanaan baru akan diketahui pada masa depan. Agar resiko yang di
tanggung relatif kecil, hendaknya semua kegiatan, tindakan, dan kebijakan
direncanakan terlebih dahulu. Perencanaan adalah masalah ”memilih”,
artinya memilih tujuan dan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut
dari beberapa alternatif yang ada. Tanpa alternatif, perencanaan pun tidak
ada.

3
Perencanaan juga merupakan kumpulan dari beberapa keputusan
manajemen. Sehingga dengan demikian perencanaan adalah syarat mutlak
untuk dapat melaksanakan manajemen yang baik. Logikanya perencanaan
mendahului semua fungsi manajemen. Biarpun semua fungsi manajemen
saling terkait, perencanaan merupakan fungsi yang terpenting, karena
fungsi lain seperti pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian baru
dapat dilaksanakan apabila perencanaan sudah ditetapkan.
Dengan perencaan yang baik berati kita dapat memperkecil risiko
yang mungkin timbul baik resiko kekeliruan maupun resiko kegagalan.
Selain itu, kita dimungkinkan untuk dapat memilih tindakan yang paling
baik dalam arti yang paling ekonomis.

2.2 Fungsi perencanaan dalam manajemen


Stephen Robbins dan Mary Coulter menjelaskan bahwa paling
tidak ada empat fungsi dari perencanaan, yaitu:
1. Perencanaan sebagai pengarah
2. Perencanaan sebagai minimalisasi ketidakpastian
3. Perencanaan sebagai minimalisasi pemborosan sumber daya
4. Perencanaan sebagai penetapan standar dalam pengawasan

2.3 Tujuan perencanaan


Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan banyak tujuan
perencanaan, yaitu:
1. Untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun
karyawan non manajerial
Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai,
dengan siapa mereka harus bekerjasama, dan apa yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin
akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang
efesien.
2. Untuk mengurangi ketidakpastian

4
Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh
kedepan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut,
dan menyusun rencana untuk menghadapinya.

3. Untuk meminimalisir pemborosan


Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih
efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer
juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan
inefesiensi dalam perusahaan.
4. Untuk menetapkan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya
Yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian. Proses pengevaluasian atau
evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada.
Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan.

2.4 Faktor yang mempengaruhi pengembangan rencana


Proses pengembangan rencana dipengaruhi tiga faktor kontinjensi
dan oleh pendekatan perencanaan yang mendekatinya.
Tiga faktor kontinjensi yang dapat mempengaruhi pengembangan
rencana yaitu:
1. Tingkatan organisasi
Pada gambar menunjukkan hubungan antara tingkatan manajer dalam
organisasi dan jenis perencanaan yang dilakukan. Bagi hampir semua bagian,
manajer tingkat paling rendah melakukan perencanaan operasional sementara
manajer tingkat atas melakukan perencanaan strategik.

Perencanan
Operasional

Eksekutif Puncak

Manajer Tingkat
Menengah
Strategik
Manajer Tingkat Pertama
Perencanaan

5
2. Ketidakpastian lingkungan
Ketika ketidakpastian tinggi, rencana harus tetap spesifik tetapi fleksibel.
Manajer harus mempersiapkan untuk mengubah atau mengganti rencana setelah di
implementasikan. Kadangkala manajer harus melupakan rencana tersebut.
3. Lamanya komitmen masa depan
Konsep komitmen mengatakan bahwa rencana harus ditarik sejauh
mungkin untuk memenuhi komitmen yang dibuat pada saat rencana
dikembangkan. Perencanaan yang terlalu lama atau terlalu singkat tidak
akan efisien dan efektif.
Pendekatan perencanaan dapat dilakukan sepenuhnya oleh manajer
puncak yang seringkali dibantu oleh departemen perencanaan formal atau
melibatkan lebih banyak anggota organisasi dalam proses.
Dalam peerencanaan sepenuhnya oleh manajer puncak, rencana
dikembangkan oleh manajer puncak yang kemudian diturunkan melalui
tingkatan organisasi yang lain. Ketika diturunkan, rencana tersebutjuga
disesuaikan dengan kebutuhan tertentu dari setiap tingkatan. Walaupun
pendekatan ini membuat perencanaan manajerial mendalam, sistematis,
dan terkoordinasi, namun terlalu sering berfokus pada pengembangan
rencana, setumpuk informasi yang tak berguna, yang tercecer di rak dan
tidak pernah digunakan oleh siapapun untuk menuntun atau
mengoordinasikan usaha kerja. Pada kenyataannya, dalam survei terhadap
manajer mengenai proses formal perencanaan organisasi dari atas ke
bawah (top-down), lebih dari 75 persen mengatakan bahwa pendekatan
perencanaannya tidak memuaskan. Pendekatan ini hanya efektif jika
manajer memahami pentingmya menciptakan dokumen yang benar-benar
digunakan oleh anggota organisasi, bukan dokumen yang terlihat hebat
namun tidak pernah digunakan.

6
Pendekatan lain bagi perencanaan adalah melibatkan lebih banyak
anggota organisasi dalam proses. Dalam pendekatan ini, rencana tidak
diberikan ke bawah dari tingkat pertama ke tingkat berikutnya melainkan
dikembangkan oleh anggota organisasi pada berbagai tingkat dan unit
kerja yang beragam untuk memenuhi kebutuhan khususnya. Bila anggota
organisasi lebih aktif terlibat dalam perencanaan, mereka akan melihat
bahwa rencana tersebut digunakan untuk mengarahkan dan
mengoordinisikan pekerjaan.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Contoh Kasus Perusahaan


RUSUNAWA yang merupakan akronim dari rumah susun
sederhana sewa milik Politeknik Aceh di perbatasan Gampong Ilie-
Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh mencuat menjadi
pemberitaan media. Berita yang mencuat bukan karena cerita
sukses Rusunawa yang dibangun tahun 2009 tersebut tetapi karena
bangunan itu tak ubahnya ‘rumah hantu’ disebabkan tidak pernah
difungsikan.
Mengacu pada data yang dilansir Serambi Indonesia, patut
disayangkan karena uang negara sebesar Rp 7 miliar telah dihabiskan
untuk pembangunan gedung yang pada akhirnya tidak memberikan
manfaat bagi masyarakat. Dana untuk membangun gedung yang berdiri di
atas lahan Pemerintah Kota Banda Aceh seluas 4.500 meter tersebut
merupakan hibah Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera).
Kini, bangunan berlantai dua itu terancam hancur. Menurut kabar,
penyebab tidak difungsikannya gedung megah itu karena ada masalah
dengan konstruksinya. Jika itu benar, berarti persoalannya semakin serius.
Apa yang ‘dipertontonkan’ oleh pihak-pihak yang terlibat dengan
proyek Rusunawa tersebut menjadi bukti betapa lemahnya perencanaan untuk
membangun sesuatu. Kalau perencanaan matang tentu tidak terjadi kondisi seperti
yang kita saksikan sekarang.
Rusunawa Politeknik menjadi salah satu contoh tentang lemahnya
perencanaan pembangunan di negeri ini. Masih cukup banyak proyek-
proyek lainnya yang tidak fungsional sehingga menjadi bangunan
mubazir.
Pada tahun-tahun pertama pascatsunami, permohonan untuk membangun sesuatu
di Aceh, apalagi yang mengatasnamakan korban bencana begitu mudah. Peluang

8
itu sangat dinikmati oleh orang-orang yang hanya berorientasi proyek, bukan
berbasis penelitian atau perencanaan yang matang agar memberikan manfaat bagi
masyarakat.
Nah, kembali ke Rusunawa Politeknik yang berlokasi di wilayah
Kota Banda Aceh. Tampaknya memang ada persoalan serius pada
konstruksi bangunan sehingga muncul kekhawatiran untuk menempatinya.
Terkait dengan persoalan konstruksi, sebenarnya sudah pernah
turun tim dari laboratorium uji konstruksi dari Unsyiah. Namun menurut
Kepala Dinas PU Kota Banda Aceh, Ir Samsul Bahri, hingga saat ini
belum diketahui bagaimana hasilnya karena hasil tersebut belum pernah
diserahkan ke pihaknya. Akibatnya, dugaan tentang adanya masalah
konstruksi pada Rusunawa Politeknik masih sebatas dugaan.
Di tengah munculnya berbagai spekulasi menyangkut
proyek Rusunawa Politeknik, ternyata tahun ini pihak Pusat (sumber dana
APBN) kembali menganggarkan dana untuk pemeliharan/pembangunan
lanjutan. Tetapi pihak Pemko Banda Aceh melalui Dinas PU juga tidak
tahu apa-apa menyangkut hal itu. “Saya mendapat laporan tahun ini ada
turun dana lagi dari Pusat untuk Rusunawa tersebut. Tetapi kami selaku
pengawas berbagai proyek yang ada di Kota Banda Aceh tak tahu untuk
apa saja dana tersebut dan kapan dimulai pelaksanaan,” demikian
pengakuan Samsul sebagaimana dilansir koran ini.
Dari Ketua DPRK Banda Aceh, Arief Fadillah diperoleh
penjelasan tambahan bahwa penyebab belum
difungsikannya Rusunawa tersebut bukan saja karena masalah kontruksi
tetapi juga menyangkut peralihan hibah yang tak kunjung selesai. Pihak
DPRK berharap ada solusi secepatnya dari Pemko Banda Aceh supaya
bangunan itu bisa segera difungsikan.
Penjelasan dari berbagai pihak lainnya, termasuk Pengurus
Yayasan Politeknik Aceh di Banda Aceh juga menjadi suatu keharusan.
Pihak berwajib dituntut proaktif mengusut berbagai persoalan menyangkut
proyek Rusunawa tersebut. Ini menyangkut nilai uang yang tidak sedikit,
karenanya jangan pernah menyepelekan.

9
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Perencanaan adalah suatu proses pemilihan dan pemikiran yang
menghubungkan fakta-fakta berdasarkan asumsi-asumsi yang berkaitan dengan
masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan tertentu
yang diyakini diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan menguraikan
bagaimana pencapaiannya.
Terdapat empat fungsi perencaan, yaitu: perencanaan sebagai pengarah,
perencanaan sebagai minimalisasi ketidakpastian, perencanaan sebagai
minimalisasi pemborosan sumber daya, perencanaan sebagai penetapan standar
dalam pengawasan.
Beberapa alasan manajer melakukan perencaan karena perencanaan
memberikan arah, perencanaan mengurangi ketidakpastian, meminimalkan
pemborosan dan kekosongan, menetapkan tujuan atau standar yang digunakan
dalam pengendalian.
Adapun beberapa contoh tujuan perencaan ialah untuk memberikan
pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial, untuk
mengurangi ketidakpastian, untuk meminimalisir pemborosan, untuk menetapkan
standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya. Jenis-jenis rencana sendiri
dibagi manjadi dua, yaitu rencana straegik dan rencana operasional, yang mana
rencana operasional terdiri dari rencana tetap dan rencana sekali pakai.

10
Terdapat lima langkah dalam menetapkan tujuan yaitu: mereview misi
atau tujuan organisasi, mengevaluasi sumber daya yang tersedia, Menentukan
tujuan secara individu atau dengan masukan dari pihak lain, menulis tujuan dan
mengkomunikasikan kepada semua yang perlu tahu, mereview hasil dan apakah
tujuan telah tercapai. Adapula proses pengembangan rencana yang dipengaruhi
oleh pendekatan perencanaan yang mendekatinya dan tiga faktor kontinjensi yaitu
tingkat organisasi, tingkat ketidakpastian lingkungan, dan lamanya komitmen
masa depan.
Beberapa masalah kontemporer dalam perencanaan yaitu kritik
terhadap perencanaan dan cara manajer membuat rencana yang efektif
dalam lingkungan yang dinamis. Cara perencanaan yang efektif dalam
lingkungan yang dinamis dengan pemerataan hirarki organisasional
sebagai tanggung jawab untuk menentapkan tujuan dan mengembangkan
rencana sekaligus didorong pada tingkat organisasional yang rendah,
karena tinggal sedikit waktu tersisa untuk menyerap tujuan dan rencana
yang mengalir dari atas. Manajer harus melatih karyawan mereka dalam
menetapkan tujuan dan rencana, lalu memberi kepercayaan bahwa mereka
akan dapat melakukan hal yang sama.

4.2 Saran
Setiap perusahaan perlu adanya perencanaan, karna jika tidak ada
perencanaan dalam suatu perusahaan, struktural didalam organisasi tersebut tidak
akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya.

11
12
DAFTAR PUSTAKA

https://aceh.tribunnews.com/2016/07/26/kasus-rusunawa-bukti-kurangnya-
perencanaan
https://www.academia.edu/30797693/PEMECAHAN_KASUS_DALAM_DUNI
A_BISNIS

13

Anda mungkin juga menyukai