Anda di halaman 1dari 7

Mencari dan Menjelaskan Konsep Spesiasi,Macam-Macam Isolasi, dan Model Spesiasi

Tugas Ke-11
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evolusi yang Dibimbing oleh Siti Imroatul
Maslikah, S.Si., M.Si. dan Indra Kurniawan Saputra, S.Si., M.Si.

Oleh:
Offering C
Lisa Meidya 180341617515

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2020
A. Konsep Spesiasi
Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya dalam
kerangka evolusi. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung lama hingga puluhan
juta tahun. Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan menempati
suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah dan masing-masing
mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru. Dalam jangka waktu yang lama,
populasi yang saling terpisah itu masing-masing berkembang menjadi spesies baru sehingga
tidak dapat lagi mengadakan perkawinan yang menghasilkan keturunan fertil. Terbentuknya
spesies baru (spesiasi) dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan
perubahan genetika.
B. Macam – Macam Isolasi
- Macam Mekanisme Isolasi
a. Premating Isolating
Premating Isolating Mechanisme merupakan usaha pencegahan gamet bertemu
untuk membentuk zigot atau bisa dikatakan mencegah terjadinya
persilangan. Premating Isolating Mechanisme terkadang mempunyai dasar ekologis
seperti spesies Spadefoot toads (Scphiopus) yang jarang bertemu sebab tipe tempat
hidup yang berbeda dan pada parasit yang bertemu di spesies inang yang berbeda.
(Campbell, 2003).
b. Postmating Isolation: adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi
keberhasilan persilangan.

- Klasifikasi Mekanisme Isolasi


a. Isolasi Geografi
Menurut pendapat Campbel dalam buku evolusi molekuler mengemukakan
bahwa proses geologis dapat membedakan suatu populasi menjadi dua atau lebih
terisolasi. Misalnya suatu daerah pegunungan dapat muncul dan perlahan memisahkan
populasi organisme yang hanya bisa tinggal di dataran rendah, suatu danau besar bisa
surut sampai terbentuk hambatan bagi penyebaran spesies. Maka dari itu, populasi
yang demikian tidak akan bertukar susunan gennya serta proses evolusinya terjadi
bersifat sendiri-sendiri. Seiring waktu, kedua populasi itu akan mati berbeda karena
masing-masing populasi mengalami evolusi yang berbeda.
b. Isolasi Reproduksi
Isolasi reproduksi merupakan dua populasi atau spesies yang terdapat di daerah
tetapi tidak bisa melangsungkan perkawinan. Isolasi reproduksi bisa dibagi menjadi
isolasi prazigot dan poszigot.
1. Isolasi Prazigot: merupakan isolasi yang menjadi sebab dua spesies tidak
dapat melangsungkan perkawinan, meliputi:
1) Isolasi Ekologi, yaitu jika di sautu daerah terdapat dua spesies simpartik
yang tinggal di habitat yang berbeda. Contohnya yaitu seperti katak banten
kawin di danau atau badan air permanen yang lebih besar, sedangkan katak
pohon kawin di danau yang tidak permanen (kubangan).
2) Isolasi Musim, terjadi jika kelamin pada dua spesies simpatik memiliki
waktu pemasakan kelamin yang berbeda. Contohnya yaitu masa kawin
Drosophila pseumilis pada pagi hari, sedangkan masa kawin lalat buah
drosophila pseudoobscura pada sore hari.
3) Isolasi Tingkah Laku, terjadi jika dua spesies simpatik memiliki bentuk
morfologi yang berbeda. Contohnya yaitu pada berbagai jenis ikan ternyata
kelakuan meminang ikan betina oleh ikan jantan berbeda.
4) Isolasi Mekanik, yaitu apabila dua spesies simpatik terdapat sel gamet
jantan yang tidak memiliki viabilitas pada saluran kelamin betina.
Contohnya yaitu tanaman sage hitam memiliki bunga kecil yang hanya
dapat diserbukan oleh lebah kecil. Berbeda dengan tanaman sage putih
yang memiliki struktur bunga yang besar yang hanya dapat diserbukan oleh
lebah besar.
5) Isolasi Gamet adalah terhalangnya pembuahan karena adanya susunan
kimiawi dan molekul yang berbeda antara dua sel gamet. Contohnya yaitu
di ikan, telur ikan yang berada di air tidak akan dibuahi sperma dari spesies
lain sebab selapu sel telur mengandung protein khusus yang hanya bisa
mengikat molekul sel dari sperma spesies yang sama.
2. Isolasi Poszigot: Isolasi poszigot terjadi apabila isolasi prazigot tidak berhasil.
Isolasi poszigot akan menghambat perkembangan zigot atau bisa juga zigot
yang telah terbentuk akan bersifat steril atau mandul. Isolasi poszigot dibagi
menjadi beberapa jenis yaitu:
1) Hibrid Inviability: Gugurnya embrio yang terbentuk dari dua spesies yang
berbeda. Hal ini disebabkan karena gen dari kedua induk dengan spesies
yang berbeda tidak bisa bekerja sama dalam membentuk embrio yang
normal.
2) Hibrid Infertility: Terjadinya fenomena ini disebabkan karena induk
memiliki jumlah kromosom yang berbeda, sehingga sinapsis kromosom
homolog dalam meiosis tidak akan dapat terjadi.
3) Hibrid Breakdown: Terkadang hybrid berkembang baik dan
menghasilkan generasi F2 dari perilangan antara dua hybrid atau hybrid
terhadap galur induk. Filial 2 hal yang dihasilkan itulah yang disebut
hybrid breakdown.
c. Isolasi Ekologi
Apabila penghambat luar telah dihilangkan, akan tetapi jika ada keadaan
lingkungan maka keduanya tetap tidak akan simpatik. Contohnya, pada pohon Plantus
occidentalis yang terdapat di Timur laut Tengah, kedua spesies ini dapat disilangkan
dan menghasilkan hibrid yang kuat dan fertil. Kedua spesies ini terpisah tempat yang
berbeda dan fertilisasi alami tidak dapat terjadi (Waluyo, 2005).
d. Isolasi Poliploidi
Poliploidi merupakan suatu kondisi pada makhluk hidup, dimana makhluk
hidup tersebut mempunyai set kromosom lebih dari sepasang. Upaya untuk
memperoleh organisme yang poliploidi disebut poliploidisasi. Secara umum suatu
organisme memiliki sepasang set kromosom atau biasa dikenal dengan 2n atau diploid.
Sedangkan jika organisme memiliki lebih dari sepasang set kromosom maka inilah
yang dikenal dengan sebutan poliploidi. Umumnya poliploidi terjadi pada tumbuhan.
Akan tetapi, pada hewan tingkat rendah juga bisa ditemukan poliploidi yaitu
contohnya pada cacing pipih, lintah, fungi, dan beberapa jenis udang. Tipe dari
poliploidi yaitu triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n), dan seterusnya.
C. Model Spesiasi
Menurut Starr dan Taggart (1984), model spesiasi dibedakan menjadi tiga jenis yaitu
spesiasi allopatrik, parapatrik, dan simpatrik.

Gambar 1. Dua Model Utama Spesiasi, Spesias Allopatrik (Kiri) Dan Sesiasi Sympatrik
(Kanan) (Campbell, 2009)

a. Spesiasi Allopatrik
Spesiasi allopatrik merupakan pembentukan jenis baru yang terjadi melalui
pemisahan populasi-populasi yang diturunkan dari nenek moyang bersama dengan
geografis yang berbeda (Wallace, 1992). Proses spesiasi allopatrik diawali dengan
dengan pemisahan suatu populasi menjadi subpopulasi karena adanya barier ruang,
subpopulasi tersebut akan menempuh rute evolusi yang berbeda sesuai dengan kondisi
lingkungan habitat dan membentuk subpopulasi yang berbeda antara satu dengan
lainnya, sehingga saat subpopulasi tersebut bertemu, tidak dapat melakukan perkawinan
atau pertukaran gen. Aliran gen terinterupsi ketika suatu populasi terpisah secara
geografis menjadi populasi yang terisolasi (Campbell, 2009).
b. Spesiasi Parapatrik
Spesiasi parapatrik merupakan evolusi populasi secara geografis bersebrangan
menjadi spesies yang berbeda. Perbedaan genetik terbentuk meskipun terjadi
perkawinan antara dua anggota kelompok yang terpisah secara geografis. Dalam
spesiasi ini tidak ada batasan geografis yang mempersulit perkawinan (Campbell,
2009).
Apabila pada wilayah yang baru ini terjadi seleksi dan mengalami perubahan
menjadi spesies yang berbeda maka perbatasan tersebut diakui dengan zona dihibrid,
dan secara otomatis populasi tersebut akan terpisah. Dalam spesiasi ini tidak ada barier
ekstrinsik yang spesifik untuk gene flow. Populasi tidak kawin secara acak dan individu
akan lebih mudah kawin apabila dengan individu pada populasi yang sama dibadingkan
dengan populasi yang berbeda. Isolasi reproduksi berkembang dalam beberapa gene
flow pada populasi, terdapat suatu alela yang akan mengakibatkan isolasi reproduksi
tersebut, sehingga spesies-spesies dalam populasi tersebut tidak dapat melakukan
perkawian atau peryukan gen (Widodo et al., 2003).
c. Spesiasi Simpatrik
Spesiasi simpatrik ini terjadi pemisahan morfologi yang sangat kuat, sehingga
dapat dengan mudah dibedakan antara satu dengan yang lain (Odum, 1993).
Mekanisme spesiasi ini diawali dengan adanya suatu opulasi, lalu bagian dari populasi
tersebut mengalami perbedaan genetik, dari perbendaan tersebut terbentuklah isolasi
reproduksi. Spesiasi simpatrik dapat terjadi apabila aliran gen berkurang karena
beberapa faktor seperti poliploidi, diferensiasi habitat, dan seleksi seksual (Campbell, 2
009).
Salah satu faktor terjadinya spesiasi simpatrik adalah poliploidi, di mana selama
pembelaha sel menghasilkan ekstraset kromosom. Poliploidi dibedakan menjadi dua
bentuk yaitu autoploidi dan alloploidi. Autoploidi merupakan individu yang memiliki
lebih dari dua set kromosom di mana semuanya berasal dari satu spesies.
Selain autoploidi, terdapat allopoliploidi yang memiliki sifat fertil apabila
melakukan perkawinan dengan dengan sesama alloploidi. Apabila dua spesies berbeda
melakukan perkawinan, maka akan dihasilkan keturunan hibrid. Sebagian besar hibrid
ini bersifat steril akibat satu set kromosom dalam satu spesies tidak mendapat pasangan
selama meiosis dengan kromosom spesies lain, namun hibrid infertile dapat
memperbanyak diri secara aseksual. Meknisme bervariasi yang mampu mengubah
hibrid steril menjadi poliploidi yang fertil atau disebut dengan allopolyploidi (Campbell
2009).
DAFTAR RUJUKAN

Campbell, N.A., Jane B.R., Lawrence G.M. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Campbell, N. A. & J. B. Reece. (2008). Biologi, Edisi Kedelapan Jilid 3. Terjemahan: Damaring
Tyas Wulandari. Jakarta: Erlangga.
Corebima, A.D. 2000. Genetika Mutasi dan rekombinasi. Malang: UM.

Odum, Eugene. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi.  Yogyakarta: UGM press

Starr, Cecie dan Ralph Taggart. 1984. Biology the Unity and Diversity of Life. California:
Wadsworth Publishing company.

Wallace, A. 1992. Biology the World of Life. USA: Harper Collins Publisher Inc.

Waluyo, L. 2005. Evolusi Organik. Malang: UMM Press.


Widodo, H., Lestari, U., & Amin, M. 2003. Bahan Ajar: Evolusi. Malang: Universitas Negeri
Malang.