Anda di halaman 1dari 15

MINI RISET

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

Analisis Perkembangan Budaya Jual Beli/Perdagangan Dari Masa Ke Masa

Mini Riset Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar Yang
Diampu Oleh :

Drs. Mangatas Pasaribu, M.Sn

Oleh: Kelompok 2

Dinda Nadia Siregar (4193141021)

Elsa Cenora Simatupang (4193141019)

Harmenita Tampubolon (4193341028)

Jessica Sonia Pasaribu (4193341031)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENDIDIKAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
SEPTEMBER 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya laporan mini riset
ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih
atas bantuan dari pihak yang telah membantu dengan memberi saran dalam pengambilan
materi. Dengan harapan yang besar, semoga makalah ini dapat membantu para pembaca
untuk dijadikan pengetahuan ataupun sebagai pedoman.

            Demikianlah pengantar tugas ini dan penulis berharap semoga tugas ini dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Medan, 13 Oktober 2020

Kelompok II

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................................ii

BAB I

PENDAHULUAN..............................................................................................................1

1.1 Latar Belakang Masalah...............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................................2

1.3 Tujuan...........................................................................................................................2

BAB II

KAJIAN TEORI ...............................................................................................................4

BAB III

METODE...........................................................................................................................5

BAB IV

PEMBAHASAN.................................................................................................................6

BAB V PENUTUP

4.1 KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................................11

4.2 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam perdagangan yang ada manusia telah menggunakan berbagai cara


untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada tingkat peradaban yang masih sederhana
manusia melakukan jual-beli dengan sistem barang tukar barang (barter). Akan tetapi
dalam sistem barter ini mensyaratkan adanya double coincidence of want1 dari pihak-
pihak yang melakukan barter tersebut. Semakin banyak dan kompleksnya kebutuhan
manusia, semakin sulit dalam melakukan jual-beli dengan sistem barter sehingga
mempersulit transaksi antar manusia dalam bermuamalah. Dari sinilah manusia mulai
memikirkan perlunya suatu alat tukar yang dapat diterima oleh semua pihak dalam
jualbeli. Alat tukar demikian disebut uang. Keberadaan uang memberikan alternatif
transaksi jual-beli yang lebih mudah dari pada barter. Dengan adanya alat tukar yaitu
uang berbagai macam transaksi akan semakin mudah yaitu dalam penentuan nilai
suatu barang yang akan dipertukarkan. Oleh karena itu jual-beli menggunakan alat
tukar uang pun semakin berkembang dari zaman ke zaman hingga sekarang.

Saat muncul uang sebagai alat tukar, terciptalah transaksi jual beli antara
penjual dan pembeli. Untuk memudahkan kegiatan ini berlangsung, muncullah pasar
tradisional untuk memudahkan transaksi ini. Pembeli harus pergi ke pasar dan
memilih barang yang diinginkan, penjual pun harus melayani pembelinya. Penjual
biasanya menawarkan harga, lalu ditawar oleh pembeli. Seiring dengan
perkembangan zaman, muncullah pasar modern seperti supermarket yang
membebaskan pembeli untuk memilih dan mengambil barang sendiri. Harga yang
diberikan oleh penjual pun tidak boleh ditawar. Namun, ada diskon dan promo
menarik yang bisa dinikmati. Pembayaran dilakukan di kasir dengan metode
pembayaran tunai, debit, atau dengan kartu kredit.Sayangnya, cara belanja ini dinilai
kurang praktis. Pasalnya harus mengatur waktu untuk datang dan memilih produk
yang dibutuhkan sendiri.Dan semakin berkembangnya jaman makin memanjakan
pembeli di mana pun berada. Nggak perlu datang ke supermarket atau pasar, belanja
bisa lewat aplikasi smartphone atau website saja.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu perdagangan?
2. Bagaimana perkembangan perdagangan dari masa ke masa?
3. Bagaimana keefektifan belanja online?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu perdagangan


2. Untuk mengetahui perkembangan perdagangan dari masa ke masa
3. Untuk mengetahui seberapa efektifnya belanja online

1.4 Manfaat

Untuk menganalisis dan menambah wawasan tentang perkembangan jualbeli yang


terjadi di Indonesia dan untuk mengetahui ke-efektifan belanja online yang saat
ini menjadi trend baru.

2
BAB II

KAJIAN TEORI

Dalam kajian antropologi kontemporer suatu kasus tidak hanya dilihat pada posisi
yang oposisi biner, antar benar dan salah, ataupun tua dan muda, dulu dan sekarang. Tetapi
perlu dilihat dalam kajian nilai dan kebermanfaatan kepada masyarakat. Dalam hal barter
dapat dilihat sebagai media interaksi sosial, budaya dan agama. Dalam persepktif sejarah,
sistem barter ikut serta membangun interaksi sosial antar masyarakat yang melibatkan
seseorang ke dalam lokasi yang sama. Adapun kelebihan yang dapat didapatkan dari kegiatan
barter adalah tidak melibatkan uang, di mana setiap orang dapat menikmati setiap barang
yang mereka inginkan, dengan cara ditukarkan dengan barang lainnya. (Dalton, 1982:99;
Davies, 2010)
Dalam pandangan ekonomi, barter masih dikategorisasikan sebagai sistem ekonomi
tradisional yang diterapkan oleh masyarakat tradisional secara turun temurun dengan hanya
mengandalkan alam dan tenaga kerja. Dalam hal ini, sistem ekonomi tradisional dapat
dimaknai sebagai sistem ekonomi yang dijalankan secara bersama untuk kepentingan
bersama (demokrasi), yang biasa ditempuh oleh nenek moyang.(Latifah, 2017:26).
Kajian perihal sistem barter telah dilakukan oleh beberapa peneliti, terutama yang
ditulis oleh Andri Kisroh Sunyigono yang menitibratkan tema pada “Sistem Barter pada
Warga NTT (Studi Kasus Masyarakat NTT daerah Desa Alor dan Dili Nusan Tenggara
Timur).(Andri Kisroh Sunyigono, 2010:40) Andri menemukan bahwa adanya sistem barter
disebabkan karena adanya sistem kekeluargaan yang tidak mementingkan pada kegiatan
individu tetapi dilakukan dengan usaha bersama. Namun di daerah lain di belahan Nusa
Tenggara Timur yaitu di daerah Labala, kegiatan barter tetap karena faktor kebutuhan, dari
kebutuhan yang terus berlangsung secara budaya, sehingga memunculkan interaksi sosial
yang sedianya mampu melahirkan harmoni baik dari sosial, budaya adan keagamaan.
Sebelum adanya sistem perdagangan dengan uang, manusia masih menggunakan
sistem barter. Orang yang satu menukarkan hasil alam yang dia punya dengan hasil alam
milik orang lain yang dia butuhkan. Sistem ini berjalan sangat lama, namun dinilai kurang
efektif dalam pemenuhan kebutuhan. Karena barang yang kita tukarkan bisa saja lebih
berharga dari pada yang kita tukarkan. Atau barang yang kita inginkan lebih bernilai dari
pada barang yang kita miliki, sehingga sulit untuk mendapatkannya. Ahirnya sistem barter
diubah menjadi sistem uang yang awalnya adalah uang barang atau uang komoditas. Dimana
barang dasar yang hampir dimiliki oleh semua orang seperti garam, teh, tembakau, dan biji-
3
bijian yang dijadikan sebagai standar atau alat pembayaran. Semakin lama hal ini juga dinilai
kurang efektif dan ahirnya manusia membuat uang yang memiliki nilai tetap. (Andri Kisroh
Sunyigono, 2010:40)
Perkembangan transaksi dalam kehidupan sehari-hari juga terus mengalami
peningkatan serta mengubah kondisi sistem pembayaran dalam transaksi ekonomi. Transaksi
ekonomi sekarang ini tidak hanya difasilitasi dengan uang tunai saja tapi telah merambah
dengan menggunakan instrumen non tunai secara elektronik. Kemajuan teknologi dalam
pembayaran menggeser peranan uang tunai sebagai alat pembayaran dalam bentuk
pembayaran non tunai yang lebih efisien dan ekonomis. Pembayaran non tunai umumnya
tidak dilakukan dengan menggunakan uang sebagai alat pembayaran, akan tetapi dapat
dilakukan dengan menggunakan kartu ATM, uang elektronik, kartu debet ataupun dengan
menggunakan kartu kredit (Pramono. et. Al, 2006).

Bisnis online berkembang pesat tanpa terbatas waktu dan tempat. Jual beli dengan
internet sebagai media penghubung dan website sebagai katalog pemasaran, lebih praktis dan
efisien karena tidak mengharuskan pertemuan langsung antara penjual dengan pembeli.
Pembelian produk ataupun jasa secara online menjadi alternatif yang berkembang pesat
dewasa ini. Bahkan bisnis online memiliki banyak kelebihan yaitu dari segi pelayanan,
efektifitas, keamanan, dan juga popularitas (Laohapensang, 2009).

4
BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah n metode kualitatif. Dalam hal ini, metode ini
menganalisis yang dapat menjelaskan peristiwa, fenomena, sikap, filosofis dan pemikiran
seseorang atau kelompok orang. Menurut Strauss dan Corbin, penelitian kualitatif dapat
menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan
menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran).
Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk meneliti tentang kehidupan
masyarakat, sejarah, tingka laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain.
(Strauss and Corbin, 1997:70) Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah
pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan
memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang seringkali suling diungkap secara
tuntas. Penulis memilih penelitian di Labala, Nusa Tenggara Timur untuk melihat budaya
barter masyarakat antara orang yang tinggal di pesisir dan pegunungan. Hal ini cocok untuk
melihat interaksi sosial antar ummat beragama, diketahui bahwa orang pesisir beragama
Islam dan orang pegunungan beragama Kristiani. Dengan adanya pasar barter maka terjalin
interaksi sosial, budaya dan terpenting keagamaan. Terjadi harmoni dalam sebuah perbedaan,
barter dapat mempersatukan antar ummat yang berbeda agama. Teknik pengumpulan data
melalui observasi dengan mendatangi pasar dan memperhatikan kebersamaan dan traksasi
yang terjadi.

5
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Sejarah Perdagangan Dengan Sistem Barter

Pada zaman sebelum manusia menemukan uang (baik uang secara logam, kertas,
maupun barang) manusia pada zaman dahulu menggunakan sistem barter. Barter sendiri
memiliki arti kegiatan tukar menukar barang dengan barang maupun jasa dengan jasa atau
dengan kata lain sistem tukar menukar secara innatura. Perekonomian barter merupakan suatu
sistem kegiatan ekonomi masyarakat dimana kegiatan produksi dan perdagangan masih
sangat sederhana. Sistem ini digunakan selama berabad-abad sebelum penemuan uang.
Namun seiring dengan penemuan uang, tidak berarti sistem barter hilang begitu saja. Sampai
saat ini barter tetap digunakan dengan bantuan internet secara global (mendunia). Selama
zaman kuno, sistem barter merupakan satu- satunya transaksi yang bisa dilakukan.
Keuntungan dari sistem barter ini adalah transaksi ini tidak memerlukan uang. Barter
merupakan salah satu bentuk awal perdagangan. Sistem ini memfasilitasi pertukaran barang
ataupu jasa saat manusia belum menemukan uang. Sejarah barter dapat ditelusuri kembali
hingga 6000 sebelum masehi. Diyakini bahwa sistem barter diperkenalkan oleh suku-suku
Mesopotamia. Sistem ini kemudian diadopsi oleh orang Fenisia yang menukarkan barang
barang mereka kepada orang orang di kota kota lain yang terletak di seberang lautan. Sebuah
sistem yang lebih baik dari barter dikembangkan di Babilonia. Kelemahan utama dari barter
adalah tidak adanya kriteria standar untuk menentukan nilai barang dan jasa yang rawan
mengakibatkan perselisihan bahkan bentrokan.

4.2 Perdagangan Dengan Sistem Barter di Indonesia

Salah satu contoh perdagangan dengan sistem barter di Indonesia terjadi di pasar
barter di Lamalera yaitu: pada awalnya merupakan proses tukar-menukar barang atau barter
dengan menjual hasil laut ke daerah pedalaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh
perempuan dari desa Lamalera yang menjajakan hasil ikan ke pedalaman. Barang yang biasa
dijajakan adalah jenis-jenis ikan (terutama ikan paus), garam dan kapur yang ditukar dengan
bahan makanan (jagung, ubi, pisang, kelapa, sirih pinang, dan bahan kebutuhan lainnya).
Kegiatan tersebut dilakukan karena ada suatu perjanjian yang disebut dengan Habba Ellu/
Habba Prewo, dan kemudian dengan persetujuan tersebut maka kedua belah pihak
menentukan waktu dan tempat untuk bertemu melakukan barter. Karena dilihat bahwa

6
pertemuan itu sangat baik, maka pada ahkirnya ditetapkan sebagai pasar dengan waktu yang
ditentukan: datang bersama-sama untuk bertemu. Kesepakatan yang terjadi antara dua orang
yang disebut habba ini terjadi karena adanya keseringan bertemu di pasar sehingga
melakukan perjanjian. Seiring berkembangnya waktu, sekarang orang melakukan pasar barter
sesuai dengan tata cara yang benar yaitu semua peserta wule yang dari gunung dan yang dari
pantai datang dan duduk menunggu sambil mempersiapkan barang-barang pasarnya, sampai
waktu pasar tiba baru memulai pasar. Biasanya ditandai dengan tiupan pluit dari mandor
pasar yang bertugas.

4.3 Perdagangan Dengan Uang

Sebelum adanya sistem perdagangan dengan uang, manusia masih menggunakan


sistem barter. Orang yang satu menukarkan hasil alam yang dia punya dengan hasil alam
milik orang lain yang dia butuhkan. Sistem ini berjalan sangat lama, namun dinilai kurang
efektif dalam pemenuhan kebutuhan. Karena barang yang kita tukarkan bisa saja lebih
berharga dari pada yang kita tukarkan. Atau barang yang kita inginkan lebih bernilai dari
pada barang yang kita miliki, sehingga sulit untuk mendapatkannya. Ahirnya sistem barter
diubah menjadi sistem uang yang awalnya adalah uang barang atau uang komoditas. Dimana
barang dasar yang hampir dimiliki oleh semua orang seperti garam, teh, tembakau, dan biji-
bijian yang dijadikan sebagai standar atau alat pembayaran. Semakin lama hal ini juga dinilai
kurang efektif dan ahirnya manusia membuat uang yang memiliki nilai tetap.

Berdasarkan ilmu ekonomi tradisional, uang adalah alat tukar yang bisa diterima dan
dipakai secara umum. Kehadiran uang memudahkan semua transaksi baik barang maupun
jasa sehingga menjadi lebih efektif dan efisien. Nilai uang juga terus berkembang dari semula
sebagai alat tukar menjadi alat ukur hingga menjadi pendorong transaksi. Uang pertama kali
diprakarsai oleh bangsa Lydia pada abad ke-6 sebelum masehi. Uang tersebut terbuat dari
campuran emas dan perak yang disebut elektrum berbentuk seperti kacang polong. Pada
tahun 560-546 sebelum masehi, Croesus menciptakan uang logam yang dipakai oleh Bangsa
Yunani. Bangsa ini mendesain uang logam dengan berbagai gambar menarik dan nilainya
ditentukan oleh bahan pembuatnya. Kemudian dikenal uang kertas yang diciptakan oleh
orang Tiongkok pada abad pertama masehi tepatnya pada masa Dinasti Tang. Pembuatan
uang kertas dilakukan karena adanya kesulitan yang dihadapi. Pasokan logam mulia (emas
dan perak) sebagai bahan baku uang berjumlah pada masa itu sangat terbatas dan bertransaksi
dalam jumlah besar sangat sulit dilakukan dengan uang logam. Berdasarkan sejarah, usaha
7
untuk membuat uang kertas sebenarnya telah beberapa kali dilakukan sebelum masa Dinasti
Tang, tetapi gagal. Kegagalan terjadi karena sulit menemukan bahan pembuat kertas yang
bisa bertahan lama. Pada masa Dinasti Tang akhirnya uang kertas berhasil diciptakan oleh
Ts’ai Lun dengan memakai kulit kayu murbei.

Sejak masa itu, mulai terbentuk negara-negara setelah mengalami perjalanan sejarah
yang panjang. Terjadilah kegiatan-kegiatan ekonomi di setiap negara sehingga membutuhkan
mata uang sebagai alat transaksi yang sah. Berawal dari sana, setiap negara menciptakan
nama untuk mata uangnya sendiri, kemudian kabarnya disiarkan ke seluruh dunia. Hingga
saat ini pada akhirnya mata uang Dollar Amerika Serikat menjadi patokan perdagangan
antarnegara karena negara ini telah menjadi negara adidaya di dunia.

4.4 Perdagangan Dengan Menggunakan Kartu Kredit

Timbulnya Kartu Kredit/Credit Card sebagai alat pembayaran jenis baru, adalah
merupakan salah satu usaha perkembangan dari potensi, inisiatif dan daya kreasi di bidang
alat-alat pembayaran yang ada di dalam masyarakat. Di Indonesia penggunaan Kartu Kredit
mulai diperkenalkan tahun 1980-an oleh bank-bank tertentu di Amerika (Contoh: Bank Of
America). Perkembangan penggunaan Kartu Kredit boleh dikatakan sangat pesat.
Perkembangan tersebut sebenarnya didorong oleh berbagai faktor yang berkenaan dengan
pengunaan kemudahan, kepraktisan dan citra diri pemegang kartu. Sebagai salah satu
alat/sarana pembayaran, Kartu Kredit relatif mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu
dibandingkan dengan alat pembayaran tunai.

Bank Duta lah yang menjadi bank pertama yang mengeluarkan, memasarkan, dan
memperkenalkan kartu kredit di Indonesia. Kartu kredit yang di terbitkan Bank Duta ini
ditujukan khusus bagi nasabahnya, tidak ditujukan untuk khalayak ramai. Pada saat itu kartu
kredit dipasarkan hanya untuk kalangan tertentu. Status sosial menjadi nilai ukur seseorang
dapat memiliki kartu kredit. Kartu kredit yang dipasarkan hanya menyasar orang-orang kaya,
pengusaha, pejabat atau orang-orang kelas tertentu yang sering melancong ke luar negeri.
Kartu kredit dinilai lebih aman daripada membawa banyak uang tunai.

Dengan sebuah kartu, transaksi jauh lebih mudah dan nyaman. Tetapi beberapa tahun
kemudian Bank Duta tinggalah nama. Walaupun Bank Duta adalah bank pertama yang
menerbitkan kartu kredit di Indonesia, namun umurnya tidak bertahan lama. Bank-bank lain

8
pun perlahan bermunculan seperti seperti BCA, Citibank, HSBC, dan lainnya. Lalu seiring
berjalannya waktu industri kartu kredit semakin berkembang hingga sekarang. Saat ini semua
orang kebanyakan memiliki kartu kredit bahkan lebih dari satu, kartu kredit sudah menjadi
gaya hidup. 

Penggunaan Kartu Kredit dalam fungsinya sebagai alat/sarana pembayaran, telah


memberikan suatu substitusi alat pembayaran yang sah (uang kertas dan logam). Oleh karena
itu dapat dikatakan bahwa Kartu redit merupakan instrumen baru dalam dunia perdagangan
dan merupakan surat-surat berharga yang mempunyai nilai uang.

4.5 Perdagangan Dengan Sistem Online Shop

Online Shop merupakan salah satu bentuk alternatif yang dapat digunakan para
pebisnis untuk menawarkan produk atau jasa kepada konsumen. Seiring dengan terus
bertambahnya pengguna layanan internet, yang disebabkan karena murah dan mudah, maka
bisnis yang dilakukan secara online shop semakin berkembang. Perkembangan bisnis online
shop juga didukung oleh peningkatan produktifitas dari industri yang menyediakan berbagai
macam produk untuk dipasarkan melalui media internet. Hal inilah yang memicu maraknya
usaha jual beli melalui internet (online shop) karena mudah untuk dijalankan, tidak
memerlukan modal yang besar dan tidak harus membutuhkan sistem manajemen yang rumit
untuk mengelolanya. Sekarang ini cukup dengan adanya foto produk dan akses internet untuk
memasarkannya kedalam situs jual beli maupun situs jejaring sosial, usaha ini sudah dapat
berjalan.

4.6 Perkembangan online shop

Bisnis online berkembang pesat tanpa terbatas waktu dan tempat. Jual beli dengan
internet sebagai media penghubung dan website sebagai katalog pemasaran, lebih praktis dan
efisien karena tidak mengharuskan pertemuan langsung antara penjual dengan pembeli.
Pembelian produk ataupun jasa secara online menjadi alternatif yang berkembang pesat
dewasa ini. Bahkan bisnis online memiliki banyak kelebihan yaitu dari segi pelayanan,
efektifitas, keamanan, dan juga popularitas (Laohapensang, 2009). Internet berkembang pesat
pada saat ini, apa lagi dengan semakin banyaknya situs jejaring sosial dan website yang
menawarkan produk atau jasa membuat masyarakat menjadikan internet sebagai suatu
kebutuhan. Pertimbangan dunia bisnis bagi perusahaan atau pelaku usaha perorangan
menggunakan internet untuk menjangkau pelanggan secara global, membawa dampak positif

9
pada beberapa aspek kehidupan manusia termasuk perkembangan dunia bisnis. Perubahan
teknologi komunikasi yang sangat cepat dan global, telah memberikan kesempatan para
pemasar yang lebih luas dan efesien. Dunia bisnis saat ini mewajibkan seluruh perusahaan
untuk menggunakan internet sebagai cara untuk menjangkau pelanggan secara global yang
telah membawa beberapa dampak transformasional pada beberapa aspek kehidupan termasuk
perkembangan dunia bisnis (Laohapensang, 2009).

4.7 Kelebihan Perdagangan Dengan Online Shop

Media pemasaran lewat internet sangat efektif dan tanpa biaya promosi yang
membuat online shop menjadi budaya baru dalam berbelanja. Namun dibalik fenomena
tersebut terdapat ancaman yang dapat merugikan pembeli. Harga yang bervariasi, bahkan
tergolong lebih murah dibandingkan harga yang ditawarkan toko offline bisa membuat sektor
bisnis offline menjadi sepi pembeli dan merubah pola pikir masyarakat di Indonesia untuk
tidak lagi belanja secara offline atau on the spot. Jika dilakukan perbandingan antara belanja
secara online dengan offline, masyarakat dapat merasakan keuntungan yang lebih banyak
contohnya dalam mencari produk yang ingin dibeli, mencari informasi harga untuk
melakukan perbandingan, mudahnya produk didapat dari dalam negeri maupun luar negeri,
kualitas produk yang sama baiknya dengan toko offline, kemasan yang lebih bagus, mudah
mendapatkan merek produk tertentu yang sulit didapatkan secara offline, penghematan biaya,
efisiensi waktu dan tenaga serta mudahnya transaksi dilakukan dengan canggihnya teknologi
sekarang ini seperti pembayaran melalui (transfer) pengiriman uang via ATM bank (anjungan
tunai mandiri), menggunakan kartu kredit dan cash on delievery (bayar di tempat).

10
BAB V

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari mini riset ini penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Perdagangan
adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya yang berdasarkan
kesepakatan bersama bukan pemaksaan. Pada masa sekarang jual beli secara online,
dimana menggunakan teknologi yang berkembang pesat. Pada sektor manapun pasti
teknologi tidak pernah absen. Sampai-sampai kegiatan keseharian kita berbelanja pun
diusik dengan kemajuan teknologi lewat kepraktisan belanja via online. Belanja lewat
online sendiri sering disebut dengan e-Commerce. Keefektifan dari perdagangan
secara online dapat kita nikmati dan kita rasakan dampaknya. Yang mana pada e-
Commerce harga produk dan barang – barang lebih murah dan mudah. Kenapa lebih
murah dan mudah?? Karena dalam belanja online pedagang tidak perlu menyewa
nyewa lapak yang berarti tidak banyak mengeluarkan modal dan harga penjualannya
pun bisa lebih murah dan kita sekarang dapat mengakses jaringan dengan sangat
mudah dan kemudahan tersebut juga berlaku untuk e-Commerce yang dasarnya
menggunakan fasilitas internet.

3.2 SARAN

Saran dari penulis untuk penjual, hendaknya penjual selalu mengikuti


perkembangan perdagangan dari massa ke massa. Agar teknik jual yang dilakukan
para pedagang tidak ketinggalan zaman dan tetap dapat menarik minat pembeli. Saran
dari penulis untuk pembeli, jika membeli barang secara online, konsumen harus lebih
berhati – hati karena keadaan barangnya belum tentu sesuai dengan foto yang
ditampilkan di aplikasinya. Agar lebih aman, hendaknya konsumen membeli barang
langsung dari penjualnya, misalnya pasar ataupun toko. Belanja online dapat
dilakukan jika pembeli tidak dapat keluar rumah (tergantung kondisi si pembeli)
ataupun harga di e-commerce lebih murah dibadningkan di toko. Semoga makalah ini
dapat membantu pembaca memahami perkembangan perdagangan dari massa ke
massa.

11
DAFTAR PUSTAKA

Irawan. J. 2014. Surat Berharga: Suatu Tinjauan Yuridis dan Praktis. Kencana.

Minorno. E. A. Ekonomi Tradisional. Jakarta: Selemba Humanika.

Savira. N. 2019. Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) sebagai Salah Satu Sistem Pebayaran
Di Indonesia. Jurnal Jurist Diction. 2 (3) : 1067 – 1082.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II. Pembinaan Bahasa Depdikbud, Jakarta :Balai
Pustaka.

Stanton. 2001. Manusia dan Pasar, Jakarta : Buku Kompas. Hlm. 25

12