Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Memiliki anak yang sehat, cerdas dengan bergizi yang seimbang adalah dambaan semua
orangtua. Gangguan gizi pada balita dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak,
misalnya stunting, wasting dan gangguan perkembangan mental (Wirawan S, 2014). Banyak
faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi kurang. Menurut UNICEF ada dua faktor
terjadinya masalah gizi, faktor langsung yaitu: kurangnya asupan gizi dari makanan, akibat
terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi dan faktor tidak langsung yaitu: ketersediaan
pangan tingkat rumah tangga, perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuh
anak, pengelolahan lingkungan yang buruk dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai
(WHO, 2015). Masalah gizi tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi mencakup sebagian
besar belahan dunia, sehingga masalah ini disebut sebagai masalah global. PBB menyerukan
agar pendekatan perbaikan gizi di setiap negara harus terbukti cost effective, mengedepankan
kerjasama lintas sektor baik pemerintah maupun non pemerintah, dan memfokuskan
intervensi 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu selama janin dalam kandungan sampai berusia
2 tahun (WHO, 2015).

ISI
A. Situasi Ibu dan Anak Global
Angka perempuan dan anak yang bertahan hidup pada hari ini lebih tinggi dari masa-masa
sebelumnya, sebagaimana dinyatakan oleh data baru berupa perkiraan mortalitas ibu dan anak
yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin oleh UNICEF dan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO, 2020). Sejak tahun 2000, angka kematian anak telah berhasil
diturunkan hampir separuhnya dan kematian ibu diturunkan lebih dari sepertiga. Hal ini
dicapai terutama melalui perbaikan akses pada layanan kesehatan yang terjangkau dan
berkualitas. “Di negara dengan layanan kesehatan yang aman, terjangkau, dan berkualitas,
ibu dan anak dapat bertahan hidup dan bertumbuh dengan baik. Angka perkiraan baru juga
mengungkap bahwa terdapat 6,2 juta anak di bawah 15 tahun yang meninggal pada tahun
2018 dan lebih dari 290.000 perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan dan
kelahiran pada tahun 2017. Dari total angka kematian anak tadi, 5,3 juta terjadi pada lima
tahun pertama kehidupan dan, dari angka ini, separuhnya terjadi pada beberapa bulan pertama
kehidupan. Dalam periode selama dan beberapa saat setelah kelahiran, perempuan dan anak
merupakan kelompok yang paling rentan.
Menurut perkiraan baru tersebut, terdapat 2,8 juta ibu hamil dan bayi baru lahir yang
meninggal setiap tahun, atau 1 kematian setiap 11 detik, dengan sebagian besar kematian
disebabkan oleh hal-hal yang bisa dicegah. Anak-anak menghadapi risiko kematian pada
bulan pertama kehidupan terutama jika kelahiran terjadi prematur atau berat lahir rendah,
mengalami komplikasi saat kelahiran, memiliki gangguan bawaan, atau terinfeksi penyakit.
Sekitar sepertiga kematian ini terjadi pada hari pertama dan hampir tiga perempatnya terjadi
pada pekan pertama kehidupan. Masalah serius kurang gizi pada ibu yang ditandai dengan
indeks massa tubuh kurang dari 18,5 kg di sebagian besar negara di sub-Sahara Afrika,
selatan-tengah dan tenggara Asia, dan di Yaman, di mana lebih dari 20% wanita memiliki
indeks massa tubuh kurang dari 18,5 kg /m². Dengan prevalensi rendah indeks massa tubuh
sekitar 40% pada perempuan, situasi dapat dianggap penting di India, Bangladesh, dan
Eritrea. Ibu bertubuh pendek dan rendah indeks massa tubuh memiliki pengaruh buruk pada
hasil kehamilan nanti. Status gizi seorang wanita sebelum dan selama kehamilan adalah
penting untuk hasil kehamilan yang sehat. Perawakan pendek ibu merupakan faktor risiko
untuk kehamilan caesar, terutama terkait dengan disproporsi cephalopelvic (Kramer MS,
1987). Kurang Gizi pada ibu memiliki efek pada volume atau komposisi ASI kecuali
malnutrisi parah. Konsentrasi dari beberapa mikronutrien (vitamin A, iodium, thiamin,
riboflavin, pyridoxine, dan cobalamin) dalam ASI tergantung dari asupan dan status ibu
sehingga risiko bayi kecil meningkat akibat defisiensi gizi pada ibu (Allen LH, 1994).
Masalah lain yang terkait dengan kematian ibu dan bayi antara lain: Gizi kurang, stunting,
dan wasting, Defisiensi Vitamin A (kekurangan Vitamin A), Defisiensi Seng, Anemia
Defisiensi Besi, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), ASI Ekslusif (United Nations, 2015).

B. Ketimpangan di Seluruh Dunia


Data perkiraan baru juga menunjukkan terdapat ketimpangan tinggi di seluruh dunia dengan
perempuan dan anak yang berada di kawasan Afrika Sub-Sahara menghadapi risiko kematian
yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kawasan lain. Bagi perempuan di Afrika
Sub-Sahara, angka kematian ibu adalah hampir 50 kali lebih tinggi dan bayi 10 kali lebih
berisiko mengalami kematian dalam bulan pertama kehidupan dibandingkan penduduk di
negara berpendapatan tinggi. Pada tahun 2018, satu dari 13 anak Afrika Sub-Sahara
mengalami kematian sebelum mencapai usia lima tahun—yaitu 15 kali lebih tinggi daripada
risiko yang dihadapi seorang anak di Eropa dengan angka kematian anak bawah lima tahun
sebesar 1 dari setiap 196 anak (Unicef, 2020). Setiap 1 dari 37 perempuan di Afrika Sub-
Sahara menghadapi risiko sepanjang hidup terjadi kematian saat kehamilan atau kelahiran.
Jika dibandingkan, risiko sepanjang hidup yang sama yang dihadapi perempuan di Eropa
adalah 1 dalam 6500 orang. Kawasan Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan menyumbang
sekitar 80% angka kematian ibu dan anak secara global.. Negara-negara yang menghadapi
konflik atau krisis kemanusiaan seringkali memiliki sistem kesehatan yang lemah, yang
artinya perempuan dan anak tidak bisa mengakses layanan kesehatan penting yang bisa
menyelamatkan nyawa mereka.

C. Kemajuan dalam penyediaan jaminan kesehatan universal


Secara global, telah terjadi kemajuan signifikan dalam penurunan angka  kematian ibu dan
anak. Sejak tahun 1990, kematian anak di bawah usia 15 tahun telah diturunkan sebesar 56%
dari 14,2 juta kematian menjadi 6,2 juta kematian pda 2018. Kemajuan terbesar diperlihatkan
oleh negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara yang berhasil mencatatkan penurunan
kematian anak balita sebesar 80%. Selain itu, dari 2000 hingga 2017, rasio kematian ibu
turun sebesar 38%. Dalam hal ini, Asia Tengah dan Selatan* menunjukkan kemajuan terbesar
meningkatkan ketahanan hidup ibu dengan menurunkan angka kematian ibu sebesar 60%
sejak tahun 2000. Belarusia, Bangladesh, Kamboja, Kazakhstan, Malawi, Maroko, Mongolia,
Rwanda, Timor-Leste, dan Zambia adalah beberapa negara yang telah menunjukkan
kemajuan berarti dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi. Keberhasilan ini dicapai
berkat adanya kemauan politik untuk meningkatkan akses pada layanan kesehatan berkualitas
melalui investasi pada tenaga kesehatan, penyediaan layanan kesehatan gratis untuk ibu hamil
dan anak, dan dukungan pada program keluarga berencana. Sebagian besar negara ini pun
berfokus pada layanan kesehatan tingkat primer dan jaminan kesehatan universal.

KESIMPULAN
Angka perkiraan mortalitas ibu dan anak saat ini lebih tinggi dari masa-masa sebelumnya,
sebagaimana dinyatakan oleh data baru dari WHO. Data perkiraan baru juga menunjukkan
terdapat ketimpangan tinggi di seluruh dunia dengan perempuan dan anak yang berada di
kawasan Afrika Sub-Sahara menghadapi risiko kematian yang secara signifikan lebih tinggi
dibandingkan kawasan lain. Masalah lain yang terkait dengan kematian ibu dan bayi antara
lain: gizi kurang, stunting, dan wasting, defisiensi vitamin A (kekurangan vitamin A),
defisiensi seng, anemia defisiensi besi, BBLR (berat badan lahir rendah), ASI ekslusif. Sejak
tahun 2000, angka kematian anak telah berhasil diturunkan hampir separuhnya dan kematian
ibu diturunkan lebih dari sepertiga. Hal ini dicapai terutama melalui perbaikan akses pada
layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Unicef, 2020. The Situation of Children and Women in Indonesia 2000-2020
Working Towards Progress With Equity Under Decentralisation.

http://arali 2008.files.wordpress.com/2008/08/asia_2008- kesehatan-final.pdf. Diakses pada :


14 Oktober 2020.

Uniter Nations, 2015. The Millennium Development Goals Report 2015.


http://www.un.org/millenniumgoals/11_MDG%20Report_EN.pdf. Diakses pada : 2 Oktober
2020.

United Nations, 2012. Trends in Maternal Mortality: 201 to 2020 WHO, UNICEF,
http://www.unfpa.org/webdav/site/global/shared/documents/publications/2012/Trends_in_ma
ternal_mortality_A4-1.pdf. DIakses pada : 4 Oktober 2020.