Anda di halaman 1dari 29

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

COVID 19
Pengampuh : Naomi F. Jober., S.Kep., Ns., MPH

DISUSUN OLEH:
Nama Mahasiswa NIM

Devi Indah Arum Sari 20180811024024


Dita Faradila Apraystia 20180811024041
Hesti Elvina 20180811024012
Maria Magdalena Udam 20180811024002
Muhammad Zainul Wafa 20180811024040
Rahmanita Mega S.O Termas 20180811024028
Viona Marthalisa Nussy 20180811024003
Maikel Tatogo 201808110240
Rosaliyan F. Maitimu 20180811024036
Pitaria Bawi 201808110240

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2019 / 2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Pokok pembahasan : Covid 19

Sub pokok pembahasan : Pencegahan Covid 19

Sasaran : Masyarakat daerah waena gang anggrek IV RT 01/RW 02

Hari / Tanggal : Sabtu , 4 juni 2020

Tempat : Puskesmas waena

Pukul : 10.00 – 10.55 wit

Penyuluhan : Kelompok 1

A. Latar Belakang
Berdasarkan data yang diperoleh dari ketua RT 01 wilayah waena, diketahui
bahwa ada beberapa warga yang menderita penyakit Covid 19. Hal ini perlu
mendapatkan perhatian khusus karena penyakit Covid ini merupakan salah satu
penyakit yang dapat menyebabkan kematian . Oleh karena itu untuk mencegah
semakin luasnya penyakit Covid ini, kami melakukan penyuluhan ini.

B. Tujuan Instruksional umum


1. Tujuan umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama ± 30 menit, masyarakat dapat mengerti dan
mamahami tentang pencegahan Covid 19.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama ± 30 menit masyarakat mengetahui dan
mampu :
 Menyebutkan pengertian Covid
 Menyebutkan penyebab Covid
 Menyebutkan tanda dan gejala Covid
 Menyebutkan stadium dari Covid
 Menyebutkan penatalaksanaan Covid
 Mengetahui cara pencegahan Covid
3. Sasaran
Sasaran pada promosi kesehatan ditujukan kepada masyarakat daerah Waena
 Materi
a. Pengertian Covid
b. Penyebab Covid
c. Tanda dan gejala Covid
d. Pencegahan Covid
e. Penatalaksanaan Covid

 Metode
 Diskusi
 Tanya jawab

 Media
a. LCD / Flipchart
b. Power Point (ppt)
c. Laptop/Notebook

 Pengorganisasian
Penyaji : Viona Marthalisa Nussy
Moderator : Devi Indah Arum Sari
Observer : Hesti Elvina
Fasilitator : Dita Faradilla Aprastya

 Job Description
a. Moderator : Mengarahkan jalannya acara
b. Penyaji : Menyampaikan materi penyuluhan dan menjawab pertanyaan
c. Fasilitator : Membantu mengarahkan peserta untuk bergerak secara aktif
dalam diskusi
d. Observer :Mengamati dan mencatat proses jalannya penyuluhan,
mengevaluasi jalannya penyuluhan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 Pembukaan :
 membuka kegiatan dengan Mendengarkan pembukaan
5 menit mengucapkan salam yang disampaikan oleh
 Memperkenalkan diri moderator.
 Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan
 Menyebutkan materi yang akan
diberikan
 Menyampaikan kontrak waktu

2 Inti :
 Menjelaskan Pengertian Covid Mendangarkan dan
25 menit  Mengetahui Penyebab Covid memperhatikan
 Mengenal Tanda dan gejala Covid
 Mengetahui Pencegahan Covid
 Mengetahui Penatalaksanaan
Covid

3 Diskusi :
 Meminta peserta mengajukan Mengajukan pertanyaan
15 menit pertanyaan bila belum jelas

4 Penutup :
 Menyimpulkan hasil penyuluhan Peserta memahami materi
5 menit  Memberi saran - saran serta memberi salam
 Memberi salam dan meminta
maaf bila ada kesalahan
 Mengucapkan terimakasih

 Evaluasi
Dengan memberi pertanyaan :
a. Jelaskan Pengertian Covid
b. Jelaskan Penyebab Covid
c. Sebutkan Tanda dan gejala Covid
d. Jelaskan Stadium Covid
e. Jelaskan Pencegahan Covid
f. Jelaskan Penatalaksanaan Covid
Materi Penyuluhan
Pencegahan Novel Coronavirus (Covid 19)

A. Pengertian Covid
Menurut kemenkes RI corona virus merupakan keluarga besar virus yang
menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan
penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti
middle east respiratory syndrome (MERS) dan sindrom pernafasan akut berat/ severe
acute respiratory syndrome (SARS).

B. Penyebab Covid
Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun,
kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia ke manusia.

Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu :


a. Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita
COVID-19 batuk atau bersin.
b. Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah
menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19.
c. Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19
Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau
bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil, orang yang
memiliki penyakit tertentu, perokok, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah,
misalnya pada penderita kanker.
Karena mudah menular, virus Corona juga berisiko tinggi menginfeksi para tenaga
medis yang merawat pasien COVID-19. Oleh karena itu, para tenaga medis dan orang-
orang yang memiliki kontak dengan pasien COVID-19 perlu menggunakan alat
pelindung diri (APD).

C. Tanda dan gejala Covid


1. Demam
2. Batuk dan pilek
3. Gangguan pernafasan
4. Sakit tenggorokan
5. Letih dan lesu

D. Pencegahan Covid
Saat ini upaya pemerintah untuk mencegah penularan dengan menghimbau
masyarakatnya agar menjaga pola hidup sehat seperti :
1. Physical distancing
2. Rajin mrncuci tangan dengan sabun
3. Rajin membersihkan diri serta lingkungan rumah
4. Olahraga teratur dan berjemur dibawah sinar matahari jam 9 selama 10-15 menit
5. Makan – makanan bergizi
6. Tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak
7. Menggunakan masker dan sarung tangan ketika bepergian
8. Tidak menyentuh apapun serta mencuci tangan/mandi setelah bepergian
9. Menutup mulut dengan siku, sapu tangan atau tisu ketika bersin atau batuk
10. Mengkonsumsi vitamin dan selalu berfikir positif

E. Komplikasi Covid
Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi
serius berikut ini :
1. Pneumonia
2. Infeksi sekunder pada organ lain
3. Gagal ginjal
4. Acute cardiac injury
5. Acute respiratory distress syndrome
6. Kematian

F. Pengobatan Covid
Infeksi virus Corona atau COVID-19 belum bisa diobati, tetapi ada beberapa langkah
yang dapat dilakukan dokter untuk meredakan gejalanya, yaitu :
1. Memberikan obat pereda demam dan nyeri. Namun, dokter tidak akan memberikan
aspirin kepada penderita COVID-19 yang masih kanak-kanak.
2. Menganjurkan penderita COVID-19 untuk mandi air hangat dan menggunakan
humidifier (pelembab udara), untuk meredakan batuk dan sakit tenggorokan.
3. Menganjurkan penderita COVID-19 untuk istirahat yang cukup dan tidak keluar
rumah untuk mencegah penyebaran virus.
4. Menganjurkan penderita COVID-19 untuk banyak minum air putih guna menjaga
kadar cairan tubuh.
ATM
TENTANG

PENYAKKIT MALARIA

Dosen pengampuh : Naomi F. Jober., S.Kep., Ns., MPH

DISUSUN OLEH:
Nama Mahasiswa NIM
DEVI INDAH ARUM SARI 20180811024024
DITA FARADILA APRAYSTIA 20180811024041
HESTI ELVINA 20180811024012
MARIA MAGDALENA UDAM 20180811024002
MUHAMMAD ZAINUL WAFA 201808110240
RAHMANITA MEGA S.O TERMAS 201808110240
VIONA MARTHALISA NUSSY 20180811024003
MAIKEL TATOGO 201808110240
ROSALIYAN F. MAITIMU 20180811024036
PITARIA BAWI 201808110240

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2019 / 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ASUHAN KEPERAWATAN
MALARIA

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada : Ibu
Naomi F. Jober S.Kep Ns.,M.Ph Selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan
memberikan bimbingan sehingga asuhan keperawatan dengan diagnosa malaria bisa selesai tepat
waktu.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik di masa kini ataupun masa yang
akan datang bagi pembaca umumnya dan tenaga kesehatan khususnya.

Jayapura, 04 juni 2020


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG .............................................................................. 1


B. RUMUSAN MASALAH.......................................................................... 3
C. TUJUAN PENULISAN............................................................................ 3
D. MANFAAT............................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 4

a. DEFINISI.................................................................................................. 4
b. ETIOLOGI ................................................................................................ 4
c. MANIFESTASI KLINIS .......................................................................... 7
d. PATOFISIOLOGI .................................................................................... 9
e. PATHWAY .............................................................................................. 10
f. PEMERIKSAAN PENUNJANG ............................................................. 11
g. KOMPLIKASI .......................................................................................... 12
h. DIAGNOSA BANDING .......................................................................... 12
i. PENATALAKSANAAN MEDIS ............................................................ 13
a. KEPERAWATAN ...................................................................... 13
b. MEDIS ........................................................................................ 13
j. PEMECAHAN MASALAH……………………………………….…...14
k. KOMUNITAS SASARAN……………………………………….…….14
l. METODE………………………………………………………………...15
m. KETERKAITAN…………………………………………………….….15
n. JADWAL PELAKSANAAN………………………………………...…16
BAB III PENUTUP
a. KESIMPULAN…………………………………………………1
b. SARAN………………… ……………………………………..2
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Malaria merupakan penyakit infeksi yang paling sering di temukan di negara tropik. Di
laporkan lebih dari 2400 juta manusia atau lebih dari 40% penduduk dunia terinfeksi malaria
dengan kematian 1,5-3 juta per tahun. Di Afrika, seorang anak meninggal karena malaria
setiap satu menit dan di belahan dunia lain seorang anak meninggal karena malaria setiap 12
detik.
Malaria adalah penyakit akibat infeksi protozoa genus Plasmodium yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Gejala umumnya muncul 10
hingga 15 hari setelah tergigit nyamuk Anopheles berupa demam ringan yang hilang-timbul,
sakit kepala, sakit otot dan menggigil bersamaan dengan perasaan tidak enak badan
(malaise). Parasit malaria ditemukan pada sel darah merah penderita yang terinfeksi sehinga
malaria dapat ditularkan melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik bersama, ibu
hamil kepada janinnya dan transplantasi organ (WHO, 2016; CDC, 2016; NIAID, 2007).
Pada tahun 2013, terdapat 104 negara yang merupakan daerah endemik malaria dimana
terdapat 3,4 milyar jiwa termasuk kategori risiko tinggi malaria. Diperkirakan terdapat 207
juta kasus malaria terjadi diberbagai belahan dunia dengan 627 ribu kematian. Penyebaran
malaria tersebar luas di berbagai negara beberapa diantaranya adalah Afrika, Asia Selatan,
Asia Tenggara, Oceania, Amerika Tengah, Haiti, Republik Dominika, Brazil serta negara
Amerika Latin lainnya (World Malaria Report, 2013).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi malaria di
Indonesia pada tahun 2013 adalah 6,0%. Terdapat 5 provinsi yang mempunyai insidensi dan
prevalensi tertinggi yaitu Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan
Maluku.Beberapa provinsi di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Sumatera merupakan provinsi
dengan kategori sedang sementara provinsi di Jawa dan Bali masuk dalam kategori rendah
(Riskesdas, 2013). Pada daerah hiperendemis atau imunitas tinggi apabila dilakukan
pemeriksaan hapus darah sering dijumpai hasil positif tanpa gejala klinis pada penduduknya
(Doolanet al., 2009)
Prevalensi malaria di daerah Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2007 adalah sebesar
1,65% sementara di Kota Padang prevalensinya sebesar 0,17% (Riskesdas, 2007). Tahun
2013 terjadi peningkatan prevalensi malaria di Provinsi Sumatera Barat sebesar 4,3%.
Khusus untuk Kota Padang, prevalensi malaria mengalami peningkatan menjadi 1,8%
(Riskesdas, 2013). Transfusi darah adalah tindakan medis memberikan darah melalui jalur
intravena (NHLBI, 2012). Transfusi darah diindikasikan untuk menangani kondisi gawat
darurat yang tidak dapat digantikan dengan metode lain karena transfusi darah merupakan
tindakan risiko tinggi akibat adanya reaksi transfusi dan kemungkinan penyebaran infeksi
melalui darah. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), hepatitis B, hepatitis C,
syphilis, malaria dan Chagas disease merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan
melalui transfusi darah (Clinical Use of Blood WHO, 2002).
Transmisi malaria melalui transfusi darah merupakan kasus infeksi transmisi melalui
transfusi pertama yang dikenal di dunia, dilaporkan pada tahun 1911.Berdasarkan data tahun
1911-1979, diseluruh dunia, insidensi terjadinya kasus malaria melalui transfusi adalah
sebesar 145 kasus per tahun terutama di daerah endemik (Bruce-Chwatt, 1982). Penelitian
yang dilakukan oleh Epidi TT dan kawan-kawan di Abakaliki Metropolis Nigeria pada tahun
2008 memperlihatkan bahwa 51,5% dari 200 darah donor mengandung parasit malaria. Pada
negara bukan endemik prevalensi transmisi malaria melalui transfusi adalah sebesar 0,2
kasus per juta resipien dan pada negara endemik terdapat 50 kasus per juta resipien (Lakshmi
S et al., 2015). Menurut CDC, setiap tahun terdapat 1.500 kasus baru transmisi malaria
melalui transfusi di Amerika Serikat.
Parasit malaria dapat bertahan hidup paling sedikit satu minggu pada komponen-
komponen darah yang disimpan pada suhu kamar atau pada suhu dua hingga enam derajat
Celcius.Transmisi malaria terutama terjadi melalui produk darah donor tunggal seperti
konsentrat sel darah merah, trombosit, leukosit, sementara dari kriopresipitat dan Fresh
Frozen Plasma (FFP) jarang terjadi (Scuracchio et al., 2011).Penderita karier malaria yang
tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) umumnya menjadi sumber transmisi malaria
melalui transfusi darah.Pada pasien ini biasanya densitas parasit sangat rendah.Masa dormant
plasmodium yang lama dalam darah menyebabkan bahayanya transmisi malaria melalui
transfusi darah.Kasus malaria melalui transfusi darah terutama akibat Plasmodium
falciparum dapat mengakibatkan kejadian yang sangat fatal apabila tidak ditangani dalam 24
jam setelah onset gejala muncul karena menimbulkan malaria berat (WHO, 2015; Harijanto,
2000).

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana konsep dari malaria itu sendiri ?

C. TUJUAN PENULISAN
Dari rumusan di atas maka diharapkan pembaca dapat mengetahui beberapa hal tentang
“MALARIA” sebagai berikut:
1. Mengetahui Definisi dari Malaria.
2. Mengetahui Etiologi dari Malaria.
3. Mengetahui Manifestasi klinis dari Malaria.
4. Mengetahui Patofisiologi dari Malaria
5. Mengetahui Pathway dari Malaria.
6. Mengetahui Pemeriksaan penunjang dari Malaria.
7. Mengetahui Komplikasi dari Malaria.
8. Mengetahui Diagnosa banding pada Malaria.
9. Mengetahui Penatalaksanaan dari Malaria.
10. Untuk mengetahui pemecahan masalah
11. Untuk mengetahui komunitas sasaran penyuluhan
12. Untuk mengetahui metode penyuluhan
13. Untuk mengetahui kerterkaitan antara dosen dan mahasiswa begitupun sebaliknya
14. Untuk mengetahui jadwal pelaksanaan penyuluhan

D. MANFAAT
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai penyakit
malaria serta pengobatan yang dilakukan saat penyakit malaria.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Definisi penyakit malaria menurut World Health Orgnization (WHO) adalah
penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria ( plasmodium) bentuk aseksual yang masuk
kedalam tubuh manusia yang ditularkan oleh nyamuk malaria ( Anopheles SPP ) betina. Definisi
lainnya adalah suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh agen tertentu yang
infektif dengan perantara suatu vektor dan dapat disebarkan dari satu sumber infeksi kepada host.
Penyakit malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasite
plasmodium antara lain plasmodium malariae, plasmodium vivax, plasmodium
falciparum, plasmodium ovale yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop yang
ditularkan oleh nyamuk malaia (anopheles), penyakit malaria dapat menyerang semua
orang baik laki-laki maupun perempuan, pada semua golongan umur (dari bayi, anak-anak,
sampai dewasa), apapun pekerjaannya, penyakit malaria biasanya menyerang yang tinggal didaerah yang
mempunyai banyak genangan air yang sesuai untuk tempat perkembangbiakan nyamuk
malaria seperti persawahan, pantai, perbukitan dan pinggiran hutan (Depkes RI, 2012).
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari
genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.Istilah
malaria diambil dari dua kata bahasa Italia yaitu mal (buruk) dan area (udara) atau udara
buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk.
Penyakit ini juga mempunyai nama lain, seperti demam roma, demam rawa, demam
tropik, demam pantai, demam charges, demam kura dan paludisme.

B. ETIOLOGI
Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium.
Pada manusia plasmodium terdiri dari 4 spesies yaitu :
 Plasmodium falciparum, penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan
malaria yang berat (malaria serebral dengan kematian).
 Plasmodium vivax, penyebab malaria tertiana.
 Plasmodium malariae, penyebab malaria quartana.
 Plasmodium ovale, menyebabkan malaria ovale tetapi jenis ini jarang dijumpai
(Harijanto, dkk 2010).
a. Siklus Hidup Plasmodium
Parasit malaria (plasmodium) mempunyai dua siklus daur hidup, yaitu pada tubuh
manusia dan didalam tubuh nyamuk Anopheles betina (Soedarto, 2011).

b. Siklus didalam tubuh manusia


Pada waktu nyamuk Anopheles spp infeksi menghisap darah manusia,
sporozoit yang berada dalam kelenjar ludah nyamuk Anopheles masuk kedalam
aliran darah selama lebih kurang 30 menit.Setelah itu sporozoit menuju ke hati
dan menembus hepatosit, dan menjadi tropozoit.Kemudian berkembang menjadi
skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit hati.Siklus ini disebut
siklus eksoeritrositik yang berlangsung selama 9-16 hari.Pada plasmodium
falciparum dan plasmodium malariae siklus skizogoni berlangsung lebih cepat
sedangkan plasmodium vivax dan plasmodium ovale siklus ada yang cepat dan
ada yang lambat. Sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi
skizon, akan tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut bentuk
hipnozoit. Bentuk hipnozoit dapat tinggal didalam sel hati selama berbulan-bulan
bahkan sampai bertahun-tahun yang pada suatu saat bila penderita mengalami
penurunan imunitas tubuh, maka parasit menjadi aktif sehingga menimbulkan
kekambuhan.
c. Siklus didalam tubuh nyamuk Anopheles betina
Apabila nyamuk Anopheles betina mengisap darah yang mengandung
gematosit, didalam tubuh nyamuk gematosit akan membesar ukurannya dan
meninggalkan eritrosit. Pada tahap gematogenesis ini, mikrogamet akan
mengalami eksflagelasi dan diikuti fertilasi makrogametosit. Sesudah
terbentuknya ookinet, parasit menembus dinding sel midgut, dimana parasit
berkembang menjadi ookista.Setelah ookista pecah, sporozoit akan memasuki
homokel dan pindah menuju kelenjar ludah. Dengan kemampuan bergeraknya,
sporozoit infektif segera menginvasi sel-sel dan keluar dari kelenjar ludah.
Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk kedalam tubuh
sampai timbulnya gejala klinis berupa demam. Lama masa inkubasi bervariasi
tergantung spesies plasmodium.
Masa prapaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai parasit
dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik.

d. Tahapan Siklus Plasmodium


Dalam tahapan siklus plasmodium dapat berlangsung keadaan-keadaan sebagai
berikut:
1) Siklus preeritrositik: periode mulai dari masuknya parasit ke dalam darah
sampai merozoit dilepaskan oleh skizon hati dan menginfeksi eritrosit.
2) Periode prepaten: waktu antara terjadinya infeksi dan ditemukannya
parasit didalam darah perifer.
3) Masa inkubasi: waktu antara terjadinya infeksi dengan mulai terlihatnya
gejala penyakit.
4) Siklus eksoeritrositik: siklus yang terjadi sesudah merozoit terbetuk di
skizoit hepatik, merozoit menginfeksi ulang sel hati dan terulangnya
kembali skizogoni.
5) Siklus eritrositik: waktu yang berlangsung mulai masuknya merozoit
kedalam eritrosit, terjadinya reproduksi aseksual didalam eritrosit dan
pecahnya eritrosit yang melepaskan lebih banyak merozoit.
6) Demam paroksismal: Serangan demam yang berulang pada malaria akibat
pecahnya skizoit matang dan masuknya merozoit kedalam aliran darah.
7) Rekuren: Kambuhnya malaria sesudah beberapa bulan tanpa gejala.
C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala malaria terdiri dari beberapa serangan demam dengan interval tertentu
(disebut paroksisme), diselingi oleh suatu periode yang penderitanya bebas sama sekali
dari demam (disebut periode laten).Gejala yang khas tersebut biasanya ditemukan pada
penderita non-imun.Sebelum timbulnya demam, biasanya penderita merasa lemah,
mengeluh sakit kepala, kehilangan nafsu makan, merasa mual di ulu hati, atau muntah.
Masa tunas malaria sangat tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi. Masa
tunas paling pendek dijumpai pada malaria falciparum, yang terpanjang pada malaria
kuartana (Plasmodium malariae). Masa tunas parasit malaria adalah 12 hari untuk malaria
falciparum, 14 hari untuk malaria vivax, 28 hari untuk malaria kuartana, dan 17 hari
untuk malaria ovale. Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik,
anemia, dan splenomegali. Gejala yang klasik yaitu terjadinya ’Trias Malaria’ secara
berurutan ; periode dingin, periode demam, dan periode berkeringat.
a. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria. Beberapa
mekanisme terjadinya anemia adalah : pengrusakan eritrosit oleh parasit, hambatan
eritropoiesis sementara, hemolisis oleh karena proses complement mediated immune
complex, eritrofagositosis, penghambatan pengeluaran retikulosit, dan pengaruh
sitokin.
b. Splenomegali sering dijumpai pada penderita malaria, limpa akan teraba setelah tiga
hari dari serangan infeksi akut, limpa menjadi bengkak, nyeri dan hiperemis. Limpa
merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria.
c. Pola demam malaria. Demam pada malaria ditandai dengan adanya paroksisme,
yang berhubungan dengan perkembangan parasit malaria dalam sel darah merah.
Puncak serangan panas terjadi berbarengan dengan lepasnya merozoit-merozoit ke
dalam peredaran darah (proses sporulasi). Untuk beberapa hari pertama, pola panas
tidak beraturan, baru kemudian polanya yang klasik tampak sesuai spesiesnya. Pada
malaria falciparum, pola panas yang ireguler itu mungkin berlanjut sepanjang
perjalanan penyakitnya sehingga tahapan-tahapannya yang klasik tidak begitu nyata
terlihat.Suatu paroksisme demam biasanya mempunyai tiga stadium yang berurutan
sebagai berikut :
1) Stadium dingin/cold stage Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan
sangat dingin. Nadi penderita cepat, tetapi lemah. Bibir dan jari-jari sianotik.
Kulitnya kering dan pucat, penderita mungkin muntah dan pada penderita anak
sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung selama 15 menit-1 jam.
2) Stadium demam/hot stage Setelah menggigil/ merasa dingin, pada stadium ini
penderita mengalami serangan demam. Muka penderita menjadi merah, kulitnya
kering dan dirasakan sangat panas seperti terbakar, sakit kepala bertambah keras,
dan sering disertai dengan rasa mual atau muntah-muntah. Nadi penderita
menjadi kuat kembali. Biasanyapenderita merasa sangat haus dan suhu badan
bisa meningkat sampai 41 derajat celcius. Stadium ini berlangsung selama 2-6
jam.
3) Stadium berkeringat/sweating stage, Pada stadium ini penderita berkeringat
banyak sekali, sampai membasahi tempat tidur. Namun suhu badan pada fase ini
turun dengan cepat, kadang-kadang sampai di bawah normal. Biasanya penderita
tertidur nyenyak dan pada saat terjaga, ia merasa lemah, tapi tanpa gejala lain.
Stadium ini berlangsung 2-4 jam.Sesudah serangan panas pertama, terjadi
interval bebas panas selama antara 48-72 jam, lalu diikuti dengan serangan panas
berikutnya seperti yang pertama; dan demikian selanjutnya. Gejala-gejala
malaria ‟klasik’ seperti yang telah diuraikan tidak selalu ditemukan pada setiap
penderita, dan ini tergantung pada spesies parasit, umur dan tingkat imunitas
penderita.

Malaria berat ( NANDA NIC-NOC 2015 )


a. Malaria selebral dengan kesadaran menurun (delirium, stupor, koma)
b. Anemia berat, kadar hemoglobin <5g/dl
c. Dehidrasi, gangguan asam basa (asidosis meabolik) dan gangguan elektrolit
d. Hipoglikemia berat
e. Gagal ginjal
f. Edema paru akut
g. Kegagalan sirkulasi (algid malaria)
h. Kecenderungan terjadi perdarahan
i. Hiperpireksia/hyperthermia
j. Hemoglobinuria/balck water fever
k. Ikterus
l. Hiperparasitemia
D. PATOFiSIOLOGI
Demam adalah manifestasi klinis tentunya sering terjadi pada penderita akibat
infeksi malaria , biasanya demam mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizoon
darah yang mengeluarkan berbagai macam antigen .Antigen akan merangsang sel-sel
makrofag, monosit, atau limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin, antaralain
TNF . TNF akan dibawah aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur
suhu dan terjadi demam, proses skizogoni pada keempat plasmodium memerlukan waktu
yang berbeda-beda plasmodium falciparum memerlukan waktu 36-48 jam, plasmodium
vivax/ovale 48 jam, dan plasmodium malariae 72 jam.Demam pada plasmodium
falciparum dapat terjadi setiap hari, plasmodium vivax/ovale selang waktu satu hari, dan
plasmodium malariae demam timbul selang waktu 2 hari (Tooy,Bernadus and
sorisi,2013).
Sebagian pasien malaria mengalami anemia, anemia terjadi karena pecahnya sel
darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi.Plasmodium falciparum
menginfeksi semua jenis sel darah merah , sehingga anemia dapat terjadi pada infeksi
akut dan kronis, Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale hanya menginfeksi sel darah
merah muda, yang jumlahnya hanya 2% dari seluruh jumlah sel darah merah, sedangkan
Plasmodium malariae menginfeksi sel darah merah, sehingga anemia yang disebabkan
oleh plasmodium vivax, plasmodium ovale, plasmodium malariae umumnya terjadi pada
keadaan kronis (C Daneshvar et al ,.2009).
Splenomegali kadang terjadi pada pasien malaria, limpa merupakan organ
retikuloendhothelial, dimana plasmodium dihancurkan oleh sel-sel makrofag dan
limfosit penambahan sel-sel radang ini akan menyebabkan limpa membesar
(Depkes,2008).
E. PATHWAY

Sporozoa masuk ke tubuh Gigitan nyamuk anopheles


betina
Eritrosit yg mengandung
parasit melekat di
endothelium kapiler

Berkembang menjadi Eritrosit mengandung ribuan Hb menurun


tropozoid merozoit pecah

Skizon pecah (sporulasi)

Skizon masuk eritosit baru Membentuk mikro & makro


gametosid
Induksi sitolisis sel darah
merah
O2 dalam darah turun O2 dalam otak turun
Pelepasan produk metabolit
toksik ke dalam aliran darah
Anemia dan hipovolemi TIK

Respon inflamasi sistemik


Respon system saraf pusat
Mesencepalon tertekan

Intek cairan Perubahan kesadaran Gangguan kesadaran


(delirium,kejang dan
kardiorespirasi)
Nyeri
Diaphoresis poliuri
Kelemahan

Rasio ketidakseimbangan Resiko syok (hipovolemik)


elektrolit Intoleransi aktivitas
Mialgia dan atralgia
Hipertermia Resiko penurunan perfusi
jaringan otak

Gangguan orientasi Mual muntah, anoreksia


Ketidak seimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh Intake nutrisi turun
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosa malaria didasarkan atas manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji
imunoserologis dan menemukan parasit (Plasmodium) malaria dalam darah penderita.
Penegakan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium memerlukan persyaratan tertentu
agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi yaitu : waktu pengambilan sampel harus
tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki periode berkeringat, karena pada
periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi mencapai maksimal dan cukup matur
sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit. Volume darah yang diambil sebagai
sampel cukup, yaitu darah kapiler.Kualitas preparat harus baik untuk menjamin
identifikasi spesies Plasmodium yang tepat (Purwaningsih, 2000). Diagnosa malaria
dibagi dua (Departemen Kesehatan RI., 2000), yaitu :
a. Secara laboratorium (Dengan Pemeriksaan Sediaan Darah)
Darah Lengkap dilakukan guna mengetahui kadar eritrosit, leukosit, dan
trombosit. Biasanya pada kasus-kasus malaria, dijumpai kadar eritrosit dan
hemoglobin yang menurun. Hal ini disebabkan karena pengrusakan eritrosit oleh
parasit, penekanan eritropoesis dan mungkin sangat penting adalah hemolisis oleh
proses imunologis. Pada malaria akut juga terjadi penghambatan eritropoesis pada
sumsum tulang, dapat dijumpai trombositopenia yang dapat mengganggu proses
koagulasi. Pada malaria tropika yang berat maka plasma fibrinogen dapat menurun
yang disebabkan peningkatan konsumsi fibrinogen karena terjadinya koagulasi
intravskuler.
b. Tes Antigen : p-f test
Yaitu mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II).Deteksi
sangat cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik,
tidak memerlukan alat khusus.Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar dipasaran
yaitu dengan metode ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari
plasmodium (pLDH) dengan cara immunochromatographic telah dipasarkan dengan
nama tes OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0-200 parasit/ul darah dan dapat
membedakan apakah infeksi P.falciparum atau P.vivax.Sensitivitas sampai 95 % dan
hasil positif salah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal
sebagai tes cepat (Rapid test)
G. KOMPLIKASI
Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita malaria, antara lain:
a. Anemia parah :Komplikasi ini terjadi karena banyaknya sel darah merah yang hancur
atau rusak (hemolisis) akibat parasit malaria.
b. Malaria otak :Komplikasi ini terjadi saat sel darah dipenuhi parasit, sehingga
menghambat pembuluh darah kecil pada otak. Akibatnya, otak menjadi bengkak atau
rusak. Gejalanya berupa kejang dan koma.
c. Gagal fungsi organ tubuh :Ada beberapa organ yang dapat terganggu karena parasit
malaria, antara lain ginjal, hati, atau limpa. Kondisi tersebut dapat membahayakan
nyawa penderita.
d. Gangguan pernapasan :Komplikasi ini terjadi saat cairan menumpuk pada paru-paru
(edema paru), sehingga membuat penderita sulit bernapas.
e. Hipoglikemia :Malaria yang parah bisa menyebabkan hipoglikemia atau kadar gula
darah rendah. Gula darah yang sangat rendah bisa berakibat koma atau bahkan
kematian.

H. DIAGNOSA BANDING
 Malaria tanpa komplikasi
 Demam tifoid
 Demam dengue
 Leptospirosis ringan
 Infeksi saluran pernafasan aku (ISPA)
 Infeksi virus lainnya

 Malaria berat/ Malaria dengan komplikasi


 Radang otak (meningitis/ensefalitis)
 Stroke (gangguan serebrocaskuler)
 Tifoid ensefalopati
 Hepatitis
 Leptospirosis berat
 Glomerulonephritis akut atau kronik
 Sepsis
 Dengue shock syndrome

I. PENATALAKSANAN
1. Penata Laksanaan Keperawatan
a. Pertahankan fungsi vital (sirkulasi, kebutuhan cairan dan infuse)
b. Hindari trauma (bagaimana tindakan yang dilakukan supaya klien tidak
mengalami trauma)
c. Hati-hati komplikasi (perhatikan keadaan klien agar tidak terjadi akibat lanjut)
d. Posisi tidur sesuai dengan kebutuhan (mengatur posisi klien agar lebih nyaman)
e. Monitoring (temperatur, nadi, TD, dan respirasi)
f. Perhatikan diet (diet yang digunakan pada pasien)
Selain itu juga dilaksanakan pencegahan malaria dengan cara:
a. Mengguanakan kelambu
b. Menggunkan pembasmi nyamuk
c. Tempat tinggal jauhkan dari kandang ternak
d. Membersihkan srang nyamuk dan tempat hinggap nyamuk
e. Memasang kawat kassa pada jendela dan ventilasi
f. Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprot (bubuk obat)
g. Jangan biarkan air tergenang lama di got, bak mandi, bekas kaleng atau tempat
lain yang bisa menjadi sarang nyamuk

2. Penata Laksanaan Medis


1) Malaria falsiparum dan Malaria vivaks
Pengobatan malaria falsiparum dan vivaks saat ini menggunakan ACT ditambah
primakuin.
Dosis ACT untuk malaria falsiparum sama dengan malaria vivaks, Primakuin
untuk malaria falsiparum hanya diberikan pada hari pertama saja dengan dosis
0,25 mg/kgBB, dan untuk malaria vivaks selama 14 hari dengan dosis 0,25 mg
/kgBB. Primakuin tidak boleh diberikan pada bayi usia< 6 bulan. Pengobatan
malaria falsiparum dan malaria vivaks adalah seperti yang tertera di bawah ini:
Dihidroartemisinin-Piperakuin(DHP) + Primakuin
 Pengobatan Malaria falsiparum menurut berat badan dengan DHP dan Primakuin

Hari Jenis Jumlah tablet per hari menurut berat badan


Obat
<4 kg 4-6kg >6-10 11-17 k 18-30 kg 31-40 41-59 kg ≥60kg
kg kg

0-1 2-5 <6-11 1-4 5-9 10-14 ≥15 ≥15


bulan bulan bulan tahun tahun tahun tahun tahun

1-3 DHP 1/3 1/2 1/2 1 1.,1/2 2 3 4

1 PQ - - 1/4 1/4 1/2 3/4 1 1

 Pengobatan Malaria vivaks menurut berat badan dengan DHP dan Primakuin

Hari Jenis Jumlah tablet per hari menurut berat badan


Obat
<4 kg 4-6kg >6-10 11-17 k 18-30 kg 31-40 41-59 kg ≥60kg
kg kg

0-1 2-5 <6-11 1-4 5-9 10-14 ≥15 ≥15


bulan bulan bulan tahun tahun tahun tahun tahun

1-3 DHP 1/3 1/2 1/2 1 1.,1/2 2 3 4

1-14 PQ - - 1/4 1/4 1/2 3/4 1 1

Catatan :

Sebaiknya dosis pemberian DHP berdasarkan berat badan, apabila penimbangan berat badan
tidak dapat dilakukan maka pemberian obat dapat berdasarkan kelompok umur.

a. Apabila ada ketidaksesuaian antara umur dan berat badan (pada tabel pengobatan), maka
dosis yang dipakai adalah berdasarkan berat badan.
b. Apabila pasien P.falciparum dengan BB >80 kg datang kembali dalam waktu 2 bulan
setelah pemberian obat dan pemeriksaan Sediaan Darah masih positif P.falciparum, maka
diberikan DHP dengan dosis ditingkatkan menjadi 5 tablet/hari selama 3 hari.
2) Pengobatan malaria vivaks yang relaps
Pengobatan kasus malaria vivaks relaps (kambuh) diberikan dengan regimen ACT
yang sama tapi dosis Primakuin ditingkatkan menjadi 0,5 mg/kgBB/hari.

3) Pengobatan malaria ovale


Pengobatan malaria ovale saat ini menggunakan ACT yaitu DHP ditambah
dengan Primakuin selama 14 hari. Dosis pemberian obatnya sama dengan untuk
malaria vivaks.

4) Pengobatan malaria malariae


Pengobatan P. malariae cukup diberikan ACT 1 kali perhari selama 3 hari, dengan
dosis sama dengan pengobatan malaria lainnya dan tidak diberikan primakuin

5) Pengobatan infeksi campur P. falciparum + P. vivax/P.ovale


Pada penderita dengan infeksi campur diberikan ACT selama 3 hari serta
primakuin dengan dosis 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari.

 Pengobatan infeksi campur P.falciparum P.vivax/P.ovale dengan DHP + Primakuin

Hari Jenis Jumlah tablet per hari menurut berat badan


Obat
<4 kg 4-6kg >6-10 11-17 k 18-30 kg 31-40 41-59 kg ≥60kg
kg kg

0-1 2-5 <6-11 1-4 5-9 10-14 ≥15 ≥15


bulan bulan bulan tahun tahun tahun tahun tahun

1-3 DHP 1/3 1/2 1/2 1 1.,1/2 2 3 4

1-14 PQ - - 1/4 1/4 1/2 3/4 1 1


Catatan :

a. Sebaiknya dosis pemberian obat berdasarkan berat badan, apabila penimbangan berat
badan tidak dapat dilakukan maka pemberian obat dapat berdasarkan kelompok umur.
b. Apabila ada ketidaksesuaian antara umur dan berat badan (pada tabel pengobatan), maka
dosis yang dipakai adalah berdasarkan berat badan.
c. Untuk anak dengan obesitas gunakan dosis berdasarkan berat badan ideal.
d. Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil.

PENGOBATAN MALARIA PADA IBU HAMIL

Pada prinsipnya pengobatan malaria pada ibu hamil sama dengan pengobatan pada orang dewasa
lainnya. Pada ibu hamil tidak diberikan Primakuin.

 Pengobatan malaria falsiparum dan malaria vivaks pada ibu hamil


UMUR KEHAMILAN PENGOBATAN
Trimester I-III (0-9 bulan) ACT tablet selama 3 hari

Semua obat anti malaria tidak boleh diberikan dalam


keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung.
Oleh sebab itu penderita harus makan terlebih dahulu
setiap akan minum obat anti malaria

J. Pemacahan Masalah
Jadi pemecahan masalah dari malaria adalah kita harus melakukan hidup sehat contohnya
seperti kita harus menjaga lingkungan yang sehat, memasang kelambu , menyemprotan
pestisida disekitar rumah- rumah, pasang obat nyamuk ketika mau tidur,hindari kebiasaan
menggantung pakaian didalam rumah yang bisa menyebabkan tempat persembunyian
nyamuk,dan gunakan pakaian tidur atau selimut yang bisa menutupi kulit tubuh.
K. Komunitas Sasaran
Ditujukan kepada Mahasiswa Semester IV Regular Keperawatan Universitas
Cenderawasih, agar mahasiswa dapat memahami tentang Malaria.

L. Metode
1. Metode darling
2. Diskusi
3. Tanya jawab

M. Keterkaitan
Keterkaitan antara Dosen dan mahasiswa anatara lain yaitu :
1. Dosen : dosen tersebut menjelaskan tentang sistematika penulisan makalah yang
berjudul
„‟ Malaria”untuk memenuhi tugas ATM dan nilai ujian.

2. Mahasiswa : Setelah dosen tersebut menjelaskan, kita sebagai mahasiswa dapat


memahami tentang Malari dan kita dapat mengerti tentang sistematika penulisa
makalah.

N. Jadwal Penatalaksanaan
1. Tanggal 5 maret, Minggu pertama :
Dosen menjelaskan tentang materi ATM.

2. Tanggal 20 Mei, Minggu kedua :


Dosen memberikan tugas dan pembagian kelompok serta pemberian materi.

3. Tanggal 28 Mei, Minggu ketiga :


Dosen menjelaskan tentang sistematika penulisan makalah.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Malaria sendiri adalah suatu infeksi parasit yang di akibatkan oleh Plasmodium
dan di tularkan oleh nyamuk Anopheles sp betina.Plasmodium mempunyai 4 (empat)
spesies yaitu Plasmodium palcifarum, Plasmodium vivaks, Plasmodium malariae, dan
Plasmodium ovale.Plasmodium yang dapat menyebabkan kematian adalah parasit
Plasmodium palcifarum dan Plasmodium vivaks.
Manifestasi Klinik yaitu Meriang ,Panas dingin ,Keringat dingin ,Kejang-
kejangPerasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi
Adapun diagnose keperawatan yang muncul adalah Hipertermia, Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, dan Kecemasan orang tua

B. SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa mampu memahami tentang
penyakit malaria dan mampu melaksanakan pemberian asuhan keperawatan pada pasien
malaria yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuna. 2015. Aplikasi Asuhhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc Jilid 2. Jogjakarta: Mediaction

https://www.academia.edu/9296962/makalah_tentang_penyakit_malaria. Diakses Tanggal 19-02-


2020.Pukul 18.00 WIT

https://www.academia.edu/8580087/Makalah_Mikrobiologi_Malaria. Diakses Tanggal 19-02-


2020.Pukul 18.00 WIT

https://www.scribd.com/doc/117142892/Makalah-Malaria. Diakses Tanggal 19-02-2020.Pukul


18.00 WIT