Anda di halaman 1dari 3

“Karena kalian Wonderful...


Oleh: Yovie Kyu

Saya merasa beruntung bisa bertemu dengan mereka yang usianya dibilang jauh lebih muda
dari saya akan tetapi telah kekuatan ruhiyah dan keimanan mereka yang begitu luar biasa.
Bahkan saya rasa tingkat keimanan saya tidaklah sebesar dan sebaik yang mereka punya.
Mereka benar-benar powerful saat tengah menghadapi ujian hidup yang ada. Mereka benar-
benar wonderful dengan cahaya keimanan menyilaukan yang ada dalam diri mereka.

Chapter 1

“Aku hanya ingin shalat...”

Sebut saja namanya Faris. Saya bertemu pertama kali dengannya saat ia duduk di kelas VII,
tepat diselenggarakannya kegiatan Pesantren Ramadhan di sekolahnya. Orang yang pertama
kali bertemu dengannya pasti akan menganggap bahwa Faris ini termasuk anak yang aneh.
Mungkin karena ia sulit bersosialisasi dan seringkali menyendiri. Saya pikir ia termasuk anak
yang mengidap autisme.

Satu tahun kemudian, saya bertemu kembali dengan Faris saat saya dalam perjalanan pulang
ke rumah. Saya melihat seragam sekolah Faris kini berbeda dengan yang ia kenakan dengan
tahun sebelumnya. Rupanya memang ia telah pindah sekolah ke sekolah yang lain. Awalnya
memang saya berpikir suatu hal yang biasa seorang anak sekolahan pindah ke sekolah yang
lain, apalagi sekolah yang baru merupakan sekolah terbaik di kotanya.

Akan tetapi rasa ingin tahu saya begitu kuat. Intuisi saya seolah memaksa saya untuk mencari
tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada sesuatu dibalik pindah sekolah Faris atau tidak.
Saya mulai mencari informasi dengan bertanya kepada teman-teman seangkatannya di
sekolahnya yang dulu.

Sesuatu yang tidak beres memang telah terjadi. Saya benar-benar kaget mendengar
penjelasan dari teman-teman seangkatan Faris yang memaparkan alasan Faris yang
sebenarnya dipindahkan oleh orangtuanya dari sekolah ini.

Faris adalah anak yang selalu mengerjakan shalat Dhuha ketika jam istirahat tiba. Ia selalu
menyempatkan shalat Dhuha di masjid sekolah yang benar-benar sudah tak terawat dan tak
karuan bentuknya.
Sampai suatu hari, ketika ia sedang khusyuk dalam shalat sunnahnya, ketika ia sedang
khusyuk dalam rukuknya, tiba-tiba saja ada salah seorang temannya dari belakang
menendang pantat Faris, sehingga Faris pun jatuh terjerembab ke arah depan!!

Faris yang memang berkarakter pendiam, tak mampu melawan. Bahkan tak ada sepatah kata
pun yang terlontar pada temannya yang sudah keterlaluan tersebut. ia hanya bisa mengadukan
kejadian ini kepada orang tuanya saat ia pulang sekolah.

Kasus ini menjadi #trendingtopic di sekolah saat itu. Orangtua Faris tidak menerima atas
kelakuan nakal yang sudah keterlaluan dari anak yang telah berbuat hina seperti itu. Dan
akhirnya orangtua Faris yang merasa tidak rela anaknya diperlakukan seperti itu memutuskan
untuk memindahkan Faris ke sekolah yang lebih baik dari sebelumnya, bertepatan dengan
waktu kenaikan kelas di akhir semester genap.

~Faris, betapa kau begitu spesial di hadapan-Nya dengan shalat Dhuha yang engkau
lakukan setiap harinya...Berapa banyak dari kami yang meremehkan shalat dhuha hanya
karena ia bukanlah shalat yang diwajibkan oleh-Nya.

Chapter 2

“Biarkan aku tetap berhijab”

Saat itu Anggi duduk di kelas VIII. Ia tidak tinggal di rumah kedua orangtuanya karena
keduanya bekerja di tempat yang jauh dari tempat dimana Anggi bersekolah. Maka ia pun
terpaksa untuk tinggal di rumah kakek dan neneknya. Bagi kita umumnya tentu tidak akan
menjumpai masalah saat kita tinggal dengan kakek dan nenek kita, namun itu berbeda sekali
dengan yang Anggi alami.

Masalah yang terjadi adalah karena Kakek dan Neneknya adalah pemeluk kristen yang taat.
Sedangkan Anggi adalah seorang Muslimah. Setelah bergabung di rohis, Anggi merasa
mantap untuk berhijab. Dan hal inilah yang menjadi tantangan besar buat Anggi.

Ketika Anggi mulai memakai hijab dan terlihat oleh Kakek dan Neneknya, dengan keras
keduanya meyuruh Anggi untuk segera melepaskannya. Anggi pun menolak. Kakeknya pun
tak bisa menahan amarahnya karena cucunya tak mau mendengarkannya. Kakeknya
melepaskan hijab Anggi secara paksa. Anggi pun menangis pagi itu sebelum ia berangkat ke
sekolah.
Keinginannya untuk berhijab benar-benar sangat kuat. Yang Anggi yakini bahwasanya
perintah Allah untuk berhijab bagi para muslimah tidak bisa ditawar. Anggi memohon
pertolongan Allah agar diberikan jalan keluar atas apa yang ia hadapi saat itu.

Akhirnya, Anggi berangkat dari rumah dengan pakaian seragam pendek seperti yang biasa ia
kenakan selama ini. Akan tetapi di tasnya, ia membawa seragam panjang yang menutupi
auratnya. Tak lupa ia pun membawa jilbab putihnya. Sebelum sampai di sekolah, Anggi
mengganti pakaiannya di masjid yang dekat dengan sekolahnya. Begitu pula jika ia pulang
dari sekolah. Ia menunggu sampai teman-temannya pulang terlebih dulu. Ia mengganti
pakaian seragam lagi dengan seragam pendek, lalu pulang ke rumah. Tentu saja Anggi tak
mau melakukan hal itu. Ia ingin benar-benar utuh berhijab secara sempurna seperti yang
lainnya. Semoga Allah memberikan keistiqamahan dan jalan keluar yang terbaik buat Anggi.
Insya Allah, pertolongan-Nya selalu hadir di saat yang tepat.

~Anggi, ketahuilah Allah kini tengah “tersenyum” kepadamu... Dia pun memberikan
cahaya-Nya yang indah untuk hamba spesial sepertimu...