Anda di halaman 1dari 12

2.

1 Sejarah Es Krim Aice

Awalnya perusahaan memproduksi es krim dengan merek dagang Baronet pada 2012. Dari
penuturan Maria margaretha, direktur PT Mandiri Putra Bangsa – perusahaan outsorching
berbasis di Tangerang yang memasok buruh kontrak kepada PT Alpen Food Industri –
perusahaan ini dibentuk oleh pengusaha Indonesia bernama Indra Koesumadi, yang
bekerjasama dengan rekanan kerja dari Cina bernama Mr. Guo. Konsepnya sama dengan Aice
sekarang: menjual es krim dengan harga Rp 2.000,- hingga Rp 10.000,-. Lantaran tak
memperoleh izin, lantas Indra menjual sahamnya kepada Aice Group Holdings Pte. Ltd. Aice
adalah perusahaan lisensi dari Singapura yaitu Aice Group Holdings Ptd. Ltd.,. Tahun 2015
Aice mendirikan pabrik pertamanya di Bekasi, yaitu PT Alpen Food Industri yang menerima
sertifikasi tingkat tertinggi A-level halal. Kemudian pada awal tahun 2019 Aice mendirikan
pabrik keduanya PT Aice Ice Cream Jatim Industry di Mojokerto.

2.2. Filosofi Es Krim Aice

Es krim Aice memiliki filosofi “Have An Aice Day”, yang memiliki makna “Jadikan hari-
harimu lebih indah”. Berikut logo es krim Aice:

Logo es krim Aice terdapat kata Aice, dimana A berarti the best (paling bagus, paling
popular), dan Ice yang merupakan singkatan dari kata ice cream atau es krim. Logo es krim
Aice mengandung misi Aice untuk dapat memberikan kualitas, kenikmatan, kesegaran,
kebahagiaan, inovasi produk es krim kepada konsumen.

2.3 Sertifikat dan Penghargaan yang Pernah Diterima Es Krim Aice.

Aice mendapatkan banyak penghargaan sejak pertama kali muncul, antara lain:

1. Sertifikat halal dengan kategori sangat baik/Excellent.


2. Halal Award 2017 dari MUI dalam kategori Produk Halal Pendatang Baru Terbaik.
3. Excecutive Brand Award 2017 dari TATV kategori Ice Cream tahun 2017. Penghargaan
ini didapatkan karena kualitas terbaik dan program bantuan usaha kecil yang diberikan
oleh Aice kepada para konsumen setianya. Aice mendapat nilai predikat tertinggi di
industri es krim dari penghargaan ini.
4. Sertifikat Kesesuaian Sistem HACCP untuk ruang lingkup produk es krim dan es stik.
5. TOP Brand for Kids 2019 oleh Frontier Group. TOP Brand for Kids dilakukan di lima
kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, 94 Semarang, Surabaya, dan Medan
dengan melibatkan lebih dari 2.500 responden. TOP Brand merupakan sarana
benchmarking dari para pemilik merek untuk mengetahui kekuatan merek mereka di
mata masyarakat. TOP Brand juga menjadi preferensi bagi masyarakat dalam memilih
produk yang akan dikonsumsi.
6. Brand For Good di ajang WOW Brand 2019 oleh MarkPlus, Inc. Aice masuk ke dalam
jajaran WOW Brand 300 2019. WOW Brand diberikan kepada merek yang memiliki
kontribusi terhadap isu sosial dan kelestarian planet. Apresiasi ini juga
mempertimbangkan tingkat keberhasilan mengubah brand awareness menjadi brand
purchase dan brand loyalty yang dilakukan berdasarkan hasil survey terhadap 5.600
responden di lima daerah di Indonesia, mulai dari Jabodetabek, Bandung, Surabaya,
Medan, dan Makassar.
7. Better Brand 2019 oleh MRI (Marketing Research Indonesia) dan biro riset Infobank.
Infobank melakukan survey kepada 1.500 responden terhadap 175 merek di enam kota
besar di Indonesia dengan nilai 67% sebagai es krim yang terus mengalami peningkatan
kualitas produk dengan harga bersaing. Pemberian penghargaan didasarkan pada hasil
survey di enam kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar).
Survey dilakukan terhadap 176 merek dan 41 produk dari empat kategori besar, yakni
consumer good, public service, financial service, dan service dengan metode interview
langsung dengan 1.500 responden.

2.4 Varian Rasa Es Krim Aice

Es krim Aice memiliki 24 varian rasa yang tersaji dalam berbagai bentuk terdiri dari cup,
stick,cone maupun mochi.
2.5 Kronologi Es Krim Aice

1. Penurunan Upah

Pada tahun 2014-2016, PT AFI menggunakan KBLI 1520 (makan terbuat dari susu) yang
diubah menjadi KBLI es krim pada tahun 2017, sehingga nilai upah buruh mengalami
penurunan dari upah sektor II menjadi upah minimum kabupaten (UMK). Jika mengacu pada
upah minimum tahun 2019, maka buruh kehilangan upah sebesar Rp280 ribuan. Oleh karena
itu, sejak tahun 2018, buruh telah memperjuangkan agar perusahaan memberikan tambahan
upah, namun setiap tahun perusahaan hanya menaikkan upah sebesar Rp.5.000 saja. Pada
tahun 2019, upah yang berlaku di PT AFI adalah UMK + Rp10.000.

Dalam PP No. 78/2015 tentang Pengupahan dijelaskan bahwa upah minimum adalah upah
yang didesain untuk pekerja lajang (Pasal 43) dan upah bagi pekerja dengan masa kerja lebih
dari satu tahun atau lebih dirundingkan secara bipartit (Pasal 42). Penetapan besarnya upah
berpedoman pada struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa
kerja, pendidikan, dan kompetensi (Pasal 14). Namun, dalam perkembangan perundingan,
pengusaha memberikan nilai yang besar pada golongan yakni Rp30 ribu x jumlah golongan,
sedangkan masa kerja hanya dihargai Rp. 5.000 per tahun, pendidikan yang dihargai hanya
untuk S1 dan tidak ada perhitungan kompetensi. Sebagai akibatnya, sebagian besar buruh PT
AFI yang adalah operator produksi hanya merasakan manfaat kenaikan yang sangat kecil.

Bagi buruh, kompetensi (kinerja/penilaian) sangat penting karena dapat memicu produktivitas
kerja. Biasanya bobot penilaian dihitung dari kehadiran kerja tahun sebelumnya, sehingga
pekerja akan terpacu untuk memperbaiki absen agar menjadi lebih baik dan produktif. Di sisi
lain, pekerja yang memiliki jabatan merasakan kenaikan upah yang besar sehingga alih-alih
memperbaiki kinerja, pekerja lebih cenderung mengejar posisi.

Kami tidak menuntut upah sebesar Rp.11 juta maupun Rp. 8 juta sebagaimana yang selama
ini dinyatakan oleh pihak pengusaha. Justru kami terus-menerus menurunkan nilai tuntutan
dan terakhir hanya berakhir di formula dengan catatan selisih upah kembali mencapai jumlah
sebelum terjadinya penurunan upah akibat perubahan KBLI. Kami berharap agar
mendapatkan tambahan upah sebesar Rp280-300 ribu dari UMK.

Pengusaha juga menyatakan adanya tambahan upah sebesar Rp.700 ribu per bulan, yang kami
nilai sebagai penyesatan, karena yang dimaksud dengan upah Rp700 ribu per bulan itu adalah
uang makan (karena perusahaan tidak menyediakan catering) sebesar Rp.15 ribu per hari dan
uang transport sebesar Rp. 5.000 per hari. Ditambah dengan tunjangan kehadiran sebesar
Rp.200 ribu per bulan yang hanya dapat diambil apabila tingkat kehadiran mencapai 100
persen tanpa sakit, izin apalagi alpa. Hal ini sangat sulit dicapai oleh buruh operator biasa
yang bekerja di bawah tekanan target, sistem rolling dan kondisi kerja yang tidak memadai.
Yang paling mungkin mendapatkan tunjangan kehadiran adalah para atasan yang lebih bisa
menjaga kesehatan dn kehadiran.
2. Mutasi, Demosi dan Sanksi yang Tidak Proporsional

Sebagai serikat pekerja independen, SGBBI telah berupaya untuk menjalankan fungsi
kontrolnya demi meningkatkan kondisi kerja buruh di pabrik es krim AICE. Namun, sejak
tahun 2018, buruh mengalami berbagai mutasi dan bahkan demosi. Pemindahan ini dilakukan
secara sepihak dan seringkali ditempatkan di posisi yang lebih berat, yakni ke bagian
produksi. Ada juga yang didemosi setelah ikut mogok sehingga upah dan tunjangannya
diturunkan. Pengusaha tidak peduli buruh memiliki penyakit tertentu, misalnya endometriosis
yang diidap oleh saudari Er. Dia tetap dipindahkan beberapa kali hingga ke bagian produksi
yang semakin memperburuk kondisinya dan upahnya pun diturunkan.
Bukannya serikat menolak perintah kerja, tetapi mutasi seharusnya dibicarakan terlebih
dahulu, diberikan training/pelatihan yang memadai serta diberikan surat tugas baru secara
tertulis dan langsung ke pekerja. Selama ini, pengusaha selalu melakukan sepihak tanpa
mendengarkan kondisi buruh yang bersangkutan.

Permasalahan lainnya adalah surat peringatan (SP) yang terlalu mudah diberikan kepada
pekerja tanpa pembinaan terlebih dahulu. Hal ini khususnya dialami oleh buruh yang menjadi
anggota SGBBI. Salah seorang anggota kami yang menjadi leader dikenai SP 2 karena
menolak untuk memberikan SP langsung kepada pekerja. Dia sudah menjelaskan bahwa
sanksi harusnya ada tahapan berupa teguran lisan terlebih dahulu, tetapi atasannya tidak
peduli. Karena tidak mau terus-menerus harus menindas ke bawah, dia terpaksa melepaskan
jabatannya sebagai leader.

Pada Desember 2019, 71 buruh anggota kami dipindahkan ke bagian cone. Kami sempat
menolak karena meminta training dan surat tugas langsung per orang, namun akhirnya kami
menerima mutasi tersebut dan bekerja di bagian produksi. Namun, perusahaan kemudian
mengenakan SP 3 kepada buruh dan melakukan PHK. Perusahaan menyediakan buruh
outsourcing yang didatangkan dari Jawa Timur untuk menggantikan buruh-buruh tersebut.

3. Pekerja sulit Mengambil Cuti

Pada awalnya, prosedur pengambilan cuti sakit maupun izin di PT. AFI lebih mudah karena
pekerja hanya menyerahkan formulir kepada leader bagian dan perusahaan menerima surat
keterangan dokter (SKD) dari klinik lain (non faskes) yang menggunakan biaya sendiri. Lalu,
kondisi ini diubah secara sepihak oleh perusahaan pada tahun 2018, cuti harus diurus sendiri
oleh pekerja dan SKD yang diakui hanya yang dari faskes. Perusahaan mengharuskan buruh
mengurus sendiri formulir cuti dengan prosedur sebagai berikut:

1. Mengambil formulir di Office dan menandatangani permohonan cuti.


2. Meminta tanda tangan leader atau leader grup.
3. Meminta tanda tangan supervisor.
4. Meminta tanda tangan manajer produksi atau asisten/penerjemahnya.
5. Meminta tanda tangan HRD
6. Menyerahkan kembali ke office.

Bisa dibayangkan prosedur ini sangat menyulitkan buruh operator yang harus bekerja dan
hanya punya waktu saat istirahat atau pulang kerja. Seringkali orang-orang yang harus
dimintai tanda tangan tidak berada satu lokasi dengan pekerja. Ditambah lagi, buruh kerap
dicecar pertanyaan, khususnya saat berhadapan dengan asisten dan translator. Bagi yang
dalam kondisi sakit, tentu lebih sulit. Kondisi baru saja pulih dan masih harus direpotkan
dengan prosedur mengurus cuti sakit.

Klinik perusahaan maupun faskes sangat membatasi dikeluarkannya SKD. Ketika pekerja
sakit, klinik atau faskes memberikan Surat Keterangan Berobat (SKB) yang berarti pekerja
dianggap kuat untuk bekerja di pabrik. Pekerja boleh beristirahat di loker atau pulang, apabila
benar-benar tidak merasa kuat lagi. Pekerja yang beristirahat di loker kerap diinspeksi oleh
asisten manajer produksi dan dicecar pertanyaan, bahkan dimarahi karena mengalami sakit.
Cuti haid nyaris tidak dapat diambil sama sekali, bahkan dianggap penyakit karena pekerja
harus mendapatkan izin dari dokter klinik perusahaan untuk mendapatkan cuti haid. Dokter
klinik biasanya tidak memberikan cuti haid, tetapi obat penghilang rasa sakit.

Kasus buruh perempuan berinisial Er yang divonis endometriosis bisa menjadi contoh
bagaimana buruh tidak memiliki pilihan pengobatan. Er seringkali meminta cuti haid, tetapi
tidak diberikan oleh dokter klinik perusahaan, kemudian Er harus dioperasi (kronologi
terlampir).

4. Buruh Perempuan Hamil Dipekerjakan pada Malam Hari

Sepanjang tahun 2019, terjadi 13 kasus keguguran dan 5 kematian bayi sebelum dilahirkan.
Kasus bertambah menjadi satu kasus keguguran dan satu kasus kematian bayi pada awal
tahun 2020. Minggu ini, terjadi satu kasus keguguran lagi. Total kasus keguguran yang kami
terdata sebanyak 21 kasus.

Permasalahan kondisi kerja buruh perempuan hamil telah kami laporkan ke pengawasan dan
Komnas Perempuan sebagai berikut:

Bahwa PT. ALPEN FOOD INDUSTRY bergerak dibidang industry food and beverage yang
memproduksi es krim dengan Merk Aice dengan alamat di Jl. Selayar II Blok H, No.10
Telajung, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat 17530;

Bahwa pengaduan kami dilatarbelakangi oleh kondisi pekerjaan buruh perempuan hamil di
PT. ALPEN FOOD INDUSTRY masih dikenakan shif (1, 2 dan 3) dan juga target produksi
serta kondisi lingkungan kerja kurang kondusif dan sehat untuk kesehatan buruh perempuan
hamil;

Bahwa PT. ALPEN FOOD INDUSTRY menyediakan klinik di dalam perusahaan tetapi
hanya melayani kesehatan pada shift 1 dan 2, sedangkan shift 3 klinik tidak ada petugasnya
dan tidak ada pelayanan kesehatan, serta di PT. ALPEN FOOD INDUSTRY tidak disediakan
fasilitas mobil ambulance;

Bahwa pekerja/buruh perempuan yang bermaksud untuk meminta cuti haid karena merasakan
sakit diharuskan diperiksa di klinik terlebih dahulu oleh dokter perusahaan dan hanya
diberikan obat pereda nyeri, serta permohonan izin cuti biasanya tidak diberikan oleh pihak
pengusaha;

Bahwa jam kerja umum yang berlaku di PT. ALPEN FOOD INDUSTRY adalah sebagai
berikut:

Shift 1 : Jam 07.00 – 15.00 WIB

Shift 2 : Jam 15.00 – 23.00 WIB

Shift 3 : Jam 23.00 – 07.00 WIB

Bahwa di PT. ALPEN FOOD INDUSTRY tidak ada fasilitas jemputan untuk karyawan yang
bekerja pada shift 3, hanya diganti dengan uang transport sebesar Rp. 5000,00 perhari;

Bahwa di PT. ALPEN FOOD INDUSTRY untuk karyawan perempuan yang bekerja pada
shift 3 mendapatkan tambahan asupan gizi berupa susu kemasan botol cair 190 ml dan 1 pcs
roti yang bernilai kurang lebih Rp. 5000,00;

Bahwa di PT. ALPEN FOOD INDUSTRY jam istirahatnya diberlakukan system rolling yang
mana mesin tetap beroperasi selama 24 jam penuh, setiap pekerja/karyawan mendapatkan
jatah jam istirahatnya dengan system rolling yaitu : istirahat jam pertama dimulai setelah
bekerja selama 2 jam dengan jatah istirahat selama 1 jam diteruskan bekerja sampai jam
pulang kerja, iistirahat jam keduan dimulai setelah bekerja selama 3 jam dengan jatah istirahat
selama 1 jam diteruskan bekerja sampai jam pulang kerja, istirahat jam ketiga dimulai setelah
bekerja selama 4 jam dengan jatah istirahat selama 1 jam diteruskan sampai jam pulang
kerjahal tersebut berlaku untuk shift 1, 2 dan 3;

Bahwa pekerja/buruh perempuan hamil masih dikenakan target produksi seperti biasa dan
tidak mendapatkan keringanan atau pembebasan target meskipun kehamilan telah dilaporkan
kepada atasan/pihak pengusaha;

Bahwa pekerja/buruh perempuan hamil masih dikenakan pekerjaan yang tergolong, di


antaranya dengan posisi kerja berdiri dan mengangkat beban berat, seperti:

1. Pekerjaan di bagian mesin packing dengan mengoperasikan mesin packing selama jam
kerja dilakukan dengan posisi berdiri dan setiap 40 menit sekali mengganti gulungan
plastik (plactic roll) kemasan es krim dengan mengangkat gulungan tersebut dan
memasangkan ke mesin packing yang mana berat gulungan plastik kurang lebih 12 kg
per satu gulungan.
2. Pekerjaan di manual packing dengan pekerjaan menyusun es krim ke dalam kotak
(box) dengan posisi bekerja berdiri.
3. Pekerjaan di bagian sanitasi dengan mengepel dan menyapu lantai di mana mengepel
dilakukan dengan menggunakan kain dan jongkok serta bau cairan pel yang
menyengat dan membuat mual.
4. Pekerjaan di bagian statistik (inti) dengan pekerjaan menyetempel karton kurang lebih
2200 karton/hari, serat menurunkan stik dengan cara mengangkat satu persatu kurang
lebih 11 dus per hari stik yang beratnya kurang lebih 13 kg per dus, lalu ditambah
menurunkan kurang lebih 15 rol plastic/hari yang beratnya kurang lebih 12 kg per roll
plastic.
5. Di bagian operator packing mesin jagung dengan cara sebelum memulai produksi
mesin dipanaskan dan diminyakin sehingga menimbulkan asap yang sangat pekat dan
ruang produksi di bawah tanah. Dari awal masuk sampai pulang pekerjaan tersebut
dilakukan dengan posisi duduk setengah membungkuk dalam rentang waktu 30 menit
per box. Kemudian memindahkan box jagung tersebut dengan cara mengangkat yang
beratnya kurang lebih 2 kg per box jagung dengan target 13 box per hari;
6. Bahwa untuk mendapatkan pindah kerja ke bagian lain yang lebih ringan seringkali
pekerja/buruh harus menunggu selama beberapa hari atau minggu atau menunggu
buruh/pekerja lain yang mengambil cuti melahirkan, kembali pekerja;

Buruh perempuan hamil juga tidak dapat mengambil kerja non shift karena dipersulit dengan
syarat harus ada keterangan dari dokter spesialis kandungan dan harus ada kelainan
kandungan.

Sebelum mengambil cuti melahirkan, buruh dimintai membuat pernyataan ditulis tangan
dengan materai yang salah satu isinya adalah tidak akan menuntut kepada perusahaan di
kemudian hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
5. Bonus Dibayarkan dengan Cek Kosong
Pada pemogokan penghujung 2017, pengusaha melakukan diskriminasi dengan memberikan
bonus kepada pekerja yang tidak melakukan mogok sebesar Rp 1.000.000,- per orang. Karena
itu, pekerja yang berserikat juga menuntut haknya atas bonus sebesar Rp. 1.000.000,-. Selama
satu tahun atau sepanjang 2018, kami menuntut hal ini, kemudian terjadi perjanjian bersama
pada 4 Januari 2019 yang isinya bonus sebesar Rp.600 juta untuk 600 orang akan dibayarkan
dengan cek yang dapat dicairkan setelah satu tahun sebesar Rp300 juta dan sisanya dicairkan
dengan cara dicicil yakni sebesar Rp25 juta per bulan. Kami menerima penawaran tersebut
karena berusaha memahami kondisi perusahaan. Kami sudah tidak mempedulikan inflasi dan
kami percaya karena diberikan cek sebagai pembayaran. Cek ini diberikan oleh Komite
Distributor AICE oleh Saudari Liliana Gao, yang juga menjabat sebagai Direktur PT. AFI
pada 2018. Ternyata saat kami berusaha mencairkan pada 5 Januari 2020, cek tersebu tidak
terdaftar resinya dan kami berusaha mengonfirmasi kepada pihak perusahaan, dia mengatakan
perusahaan pembayar sudah tutup. Bayangkan saja, kami menunggu selama satu tahun dan
tanpa mempedulikan inflasi, tetapi cek tersebut ternyata zonk!

6. Buruh Kontrak

Ada 22 buruh anggota kami yang dipekerjakan sebagai pekerja kontrak yang kami nilai
bertentangan dengan Pasal 59 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan
Kepmenakertrans Nomor 100 Tahun 2004 karena buruh dipekerjakan di bagian produksi
bersifat tetap bersama dengan karyawan tetap. Buruh-buruh banyak berasal dari Jawa Timur
yang dulunya direkrut oleh penyalur dengan dikenai biaya administrasi sebesar Rp4-5 juta
dan dijanjikan setelah bekerja selama enam bulan akan diangkat menjadi karyawan tetap di
PT AFI.

Kasus ini sekarang sedang dalam proses mediasi dan pengusaha tidak pernah menghadiri dua
kali panggilan mediasi.

Sanksi dan PHK bagi anggota yang mogok pada Desember 2019

Pemogokan kami pada bulan Desember, oleh pihak pengusaha, dianggap tidak sah dan
mangkir, padahal belum ada putusan pengadilan yang menyatakan demikian. Buruh yang
mengikuti dikenai SP1 dan diakumulasikan dengan kesalahan sebelumnya, sehingga ada 10
orang anggota yang diskorsing menuju PHK.

Perusahaan berdalih tidak risalah deadlock, padahal perundingan telah dilakukan sebanyak 5
kali tanpa kesepakatan dalam kurun waktu lebih dari 30 hari. Pihak pengusaha tidak
memahami frasa “mengalami jalan buntu” sebagai suatu kondisi dihasilkan ketidaksepakatan-
ketidaksepakatan dalam perundingan. Definisi perundingan gagal dalam Kepmenakertrans
Nomor 232/2004 dan UU Nomor 2 Tahun 2002 telah kami jelaskan secara gamblang dalam
pendapat-pendapat hukum yang kami berikan kepada pihak pengusaha.

Lebih dari itu, pemogokan yang kami lakukan hanyalah tiga hari kerja saja dan pemogokan
apapun tidak dapat dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 144 UU Ketenagakerjaan
yang menerangkan pemogokan yang memenuhi ketentuan Pasal 140 UU Ketenagakerjaan
tidak boleh dikenai tindakan balasan dari pengusaha. Seluruh prosedur dalam Pasal 140 telah
kami penuhi dengan memberikan pemberitahuan kepada Disnaker dan Pengusaha tujuh dari
kerja sebelum pemogokan dan format surat pemberitahuan tersebut telah sesuai dengan Pasal
140.

7. Nasib Buruh Outsourcing

Untuk menggantikan pekerja yang dikenai PHK, pengusaha PT. AFI mendatangkan buruh
outsourcing dari Jawa Timur yang ditempatkan di penampungan yang dihuni sekitar 40
pekerja. Kondisi rumah terdiri dari dua kamar dan satu kamar mandi. Pekerja hidup
berhimpit-himpitan dan kondisi makanan yang tidak layak.

Penggunaan buruh outsourcing (alih daya) ini juga bertentangan dengan ketentuan yang diatur
dalam Pasal 65 dan 66 UU Ketenagakerjaan jo. Permenaker No. 19 Tahun 2012 yang
mengatur penggunaan pekerja alih daya hanya diperbolehkan di bagian penunjang.
Kenyataannya, buruh outsourcing dipekerjakan di bagian produksi utama.
Daftar Pustaka

19 Maret 2020 – Kasus Aice: Dilema Buruh Perempuan & Minimnya Kesetaraan Gender di
Tempat Kerja: https://www.vice.com/id_id/article/884bd4/dugaan-pelanggaran-hak-buruh-
pabrik-es-krim-aice-bekasi-memicu-keguguran

https://www.aice.co.id/about

3 April 2020 – Aksi buruh di depan pabrik AICE:


https://twitter.com/sherrrinn/status/1246099546091843585?s=20

30 Maret 2020 – Fakta bahwa pabrik es krim AICE bisa digunakan sebagai tempat bermain-
main pekerja: https://twitter.com/sherrrinn/status/1244352466692407297?s=20

30 Maret 2020 – Pengusiran sekuriti AICE terhadap


buruh: https://twitter.com/sherrrinn/status/1244544762863964160?s=20

29 Maret 2020 – Seruan boikot AICE telah sampai ke grup WA warga


perumahan: https://twitter.com/sherrrinn/status/1244022469867868164?s=20

28 Maret 2020 – AICE mengizinkan buruh hamil untuk kerja non shift 3 setelah kandungan
memasuki lima bulan: https://twitter.com/sherrrinn/status/1243883055506272256?s=20

28 Maret 2020 – Atasan yang melabrak buruh karena statusnya dibagikan di


WhatsApp: https://twitter.com/sherrrinn/status/1243796724990111746

Februari 2020 – Upaya rekrutmen Buzzer untuk


AICE: https://twitter.com/sherrrinn/status/1244255089654501376?s=20

Februari 2020 – Fakta bahwa ruangan loker yang sudah termasuk ruang GMP bisa masukan
makanan (kontaminasi): https://twitter.com/sherrrinn/status/1237629135628820480?s=20

Anda mungkin juga menyukai