Anda di halaman 1dari 14

ARTIKEL HASIL PRAKTIKUM

ANALISIS PRODUK MAKANAN, MINUMAN, DAN KOSMETIK

Diajukan oleh:
YUYUN SAPUTRI NINGSI
15020170196

Laboratorium Mikrobiologi Farmasi


Program Studi S1 Ilmu Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muslim Indonesia
Makassar
2019
ARTIKEL HASIL PRAKTIKUM
ANALISIS PRODUK MAKANAN, MINUMAN, DAN KOSMETIK

Dipersiapkan dan disusun oleh


Yuyun Saputri Ningsi
15020170196

Telah dipertahankan didepan asisten pendamping


Pada tanggal...............................................

Telah disetujui oleh :

Asisten Pendamping

Andi Suci Rahmadani Tanggal......................


ANALISIS PRODUK MAKANAN, MINUMAN, DAN KOSMETIK

Yuyun Saputri Ningsi1 dan Andi Suci Rahmadani2


1
Mahasiswa Fakultas Farmasi, UMI.
2
Asisten Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi, UMI
Email: yuyunningsi17@gmail.com

INTISARI

Kualitas mikrobiologis dari produk sediaan farmasi merupakan suatu masalah


yang penting untuk diperhatikan. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu
identifikasi terhadap cemaran mikroba pada produk tersebut. Dimana salah
produk tersebut adalah makanan, minuman, dan kosmetik. Pada tahap selanjutnya
pemeriksaan mikrobiologis terhadap produk-produk yang langsung dimakan
dilakukan terhadap bakteri-bakteri penyebab infeksi dan keracunan makan seperti
yang disebutkan diatas dan juga terhadap angka lempeng total sebagai indikasi
tentang kebersihan dan sanitasi pada proses pengolahan produk tersebut. Tujuan
dilakukannya praktikum ini yaitu untuk menentukan tingkat cemaran
mikroorganisme pada sampel makanan, minuman, dan kosmetik dengan
menggunakan metode ALT bakteri dan Angka kapang. Pada percobaan yang
dilakukan, dari uji ALT bakteri yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa setelah
sampel diinkubasi (sampel kosmetik) tidak positive mengalami pencemaran
mikroorganisme dan diperoleh hasil 0 pada perhitungan yaitu karena tidak
ditumbuhi mikroorganisme. Sedangkan untuk uji ALT kapang (sampel teh pucuk)
tidak mengalami pencemaran mikroorganisme, dan uji patogen pada
Staphylococcus aureus dan Eschericia choli tidak ditumbuhi mikroorganisme.
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sampel minuman dan
kosmetik layak dikonsumsi, karena dinyatakan masih memenuhi standar SNI.

Kata Kunci : Sediaan Farmasi, ALT Bakteri, Angka Kapang,Bakteri Patogen


PENDAHULUAN
Mikroorganisme ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan.
Mikroorganisme yang merugikan yaitu mikroorganisme yang dapat menyebabkan
infeksi, menghasilkan racun, dan merusak bahan dengan cara menyebabkan
pembusukan, menguraikan bahan-bahan. Terdapatnya mikroorganisme dalam
sediaan farmasi, makanan, minuman, sebagai kontaminan, kemungkinan
disebabkan oleh cara pengolahan yang tidak bersih dan sehat, cara pengepakan
yang kurang bagus, cara penyimpanan yang tidak baik dan lain-lain. Sedangkan
sumbernya kemungkinan dari udara, tanah, air, peralatan yang digunakan.1
Kualitas mikrobiologis dari obat-obatan merupakan suatu masalah yang
penting untuk diperhatikan. Obat-obatan steril sudah lama dikenal syarat kualitas
mikrobiologisnya, tetapi preparat farmasi non steril baru beberapa tahun terakhir
ini mendapatkan perhatian dan mulai diadakannya persyaratan. Pada umumnya
obat-obatan dibuat oleh industry secara besar-besaran. Sediaan tadi memakan
waktu yang cukup lama dalam penyimpanan, dan hal ini selama dalam
penyimpanan atau peredarannya kemungkinan dapat terjadi pertumbuhan
mikroba di dalamnya.2
Berbagai macam uji mikrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan
pangan,  meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu
makanan, uji kualitatif bakteri pathogen untuk menenetukan tingkat keamanan
dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi makanan tersebut. Pengujian
yang dilakukan terhadap tiap bahan pangan tidak sama tergantung berbagai faktor,
seperti jenis dan komposisi bahan pangan, cara pengepakan dan penyimpanan
serta komsumsinya, kelompok konsumen dan berbagai faktor lainnya.3
Adanya mikroorganisme dalam makanan dan minuman dapat merusak
makanan dan minuman atau mengubah komposisi bahan makanan/minuman
diantaranya dapat menghidrolisa pati dan selulosa atau menyebabkan  fermentasi
gula, sedangkan yang lainnya dapat mendegradasi protein dan menghasilkan bau
busuk dan amonia. Ada beberapa mikroorganisme dapat membentuk lendir, gas,
busa, warna, asam, racun dan lain-lain sebagainya.4
Kerusakan makanan dan minuman dapat disebabkan oleh faktor-faktor
sebagai berikut 4 :
1. Pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme terutama bakteri, khamir dan
kapang.
2. Aktivitas enzim di dalam makanan, serangga, parasit dan tikus.
3. Suhu
4. Kadar air
5. Udara terutama oksigen
6. Sinar/cahaya
7. Waktu/lama dalam peyimpanan
Bahan pangan maupun produk olahannya dapat ditumbuhi satu atau lebih
jenis mikroba. Adanya mikroba pada bahan pangan dapat menyebabkan
kerusakan pangan atau bahkan dapat membahayakan kesehatan konsumen jika
pada pangan tersebut terdapat mikroba pathogen. Untuk mengetahui adanya
mikroba pada pangan, maka dapat dilakukan analisis secara kualitatif dan
kuantitatif.5
Beberapa cara dapat dilakukan untuk menentukan jumlah bakteri yang
terdapat pada bahan pemeriksaan. Cara yang paling sering digunakan adalah
cara perhitungan koloni pada lempeng pembiakan (plate count). Disamping itu
dapat diadakan perhitungan langsung secara mikroskopis.5

METODE PRAKTIKUM
Jenis dan Rancangan Praktikum
Jenis praktikum ini adalah praktikum eksperimental dengan rancangan
praktikum yaitu uji cemaran bakteri patogen.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Botol coklat, Bunsen,
Cawan petri, Korek api, Rak tabung, Spoit 1 mL dan 10 mL, Tabung reaksi,
Tabung durham.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Aquadest steril, Medium
PDA (Potato Dextrose Agar), Medium NA (Nutrien Agar), Medium SCB
(Salenite Cystein Broth),PW (Pepton Water),VJA (Vogel Jhonson Agar) tissue,
plastik wrap, sabun pepaya, dan teh pucuk.
Cara kerja
Sterilisasi Alat dan Bahan
Alat-alat yang akan disterilisasi dicuci dan dikeringkan. Alat-alat yang
mempunyai mulut ditutup dengan kapas berlemak, seperti: tabung
reaksi,Erlenmeyer, botol media, gelas ukur, labu takar, dan pipet. Caranya :
Sepotong kapas dilipat kedua ujungnya membentuk segi empat sebesar mulut
alat. Kapas digulung silinder cukup padat. Bungkus dengan kain kasa, masukkan
ke dalam mulut alat sedalam 2/3. Khusus Pipet Tutup kapas dimasukkan
dengan sebatang kawat. Kapas yang terurai keluar dari mulut pipet dihilangkan
dengan melewatkan mulut pada api bunsen. Alat yang permukaannya harus steril
ditutup kertas satu per satu. Cawan petri dibungkus seluruhnya dengan kertas
bekas bersih (bukan koran). Disterilisasi dengan oven, suhu: 170 ℃; waktu 1 jam.
Disterilisasi dengan autoclave, suhu: 121 ℃; waktu 15-20 menit.
Nutrient agar dan potato dextrosa agar ditimbang. Masing-masing media
dimasukkan dalam Erlenmeyer yang sudah ditandai + aquades, panaskan di atas
nyala api bunsen sambil di aduk sampai larutan jernih. Dituang dalam botol media
dan ditutup kapas serta aluminium foil. Diikat benang kasur dan diberi etiket
(tanggal pembuatan, nama media, dan nama pembuat). Disterilisasi dengan
autoclave. Didinginkan pada suhu kamar. Dimasukkan dalam lemari pendingin
untuk disimpan. Kondisi media diamati dan dicatat dengan melihat kejernihan,
pengamatan dilakukan 24 jam.
Pengenceran Sampel
Disiapkan alat dan bahan, di masukkan sampel teh pucuk dan sabun pepaya
(digerus dan ditimbang sebanyak 1 gram dan larutkan) masing-masing sebanyak 1
mL kemudian dimasukkan ke dalam botol pengenceran yang berisi 9 mL aquadest
steril (pengenceran 10-1). Dari pengenceran 10-1 di ambil sebanyak 1 mL
menggunakan spoit kemudian dimasukkan ke dalam botol pengenceran yang
berisi 9 mL aquadest steril (pengenceran 10 -2). Dari pengenceran 10-2 diambil
sebanyak 1 mL menggunakan spoit kemudian dimasukkan ke dalam botol
pengenceran yang berisi 9 mL aquadest steril (pengenceran 10-3). Dari
pengenceran 10-3 diambil sebanyak 1 mL menggunakan spoit kemudian
dimasukkan ke dalam botol pengenceran yang berisi 9 mL aquadest steril
(pengenceran 10-4).
Uji Angka Lempeng Total (ALT) Bakteri
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dilakukan pengerjaan secara
aseptis. Dipipet 1 mL sampel teh pucuk dan sabun pepaya dari tiap tingkat
pengenceran. Teh pucuk (100 ,10-1, 10-2) dan Sabun pepaya (10-1, 10-2 10-3).
Kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam cawan petri steril lalu dituang
medium NA (Nutrien Agar) sebanyak 9 mL hingga menutupi semua dasar cawan
petri. Kemudian dihomogenkan dengan cara memutar cawan petri secara perlahan
membentuk angka 8 dan dibiarkan memadat. Setelah itu, diiinkubasi pada
inkubator pada suhu 37˚C selama 1 x 24 jam kemudian diamati lalu dihitung
jumlah koloni bakterinya
Uji Angka Kapang
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dilakukan pengerjaan secara
aseptis. Dipipet 1 mL sampel teh pucuk dan sabun pepaya dari tiap tingkat
pengenceran. Pada sampel teh pucuk (100 ,10-1, 10-2) dan sabun pepaya (10-1, 10-2
10-3). Kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam cawan petri steril lalu
dituang medium PDA (Potato Dextrose Agar) sebanyak 9 mL hingga menutupi
semua dasar cawan petri. kemudian dihomogenkan dengan cara memutar cawan
petri secara perlahan membentuk angka 8 dan dibiarkan memadat. Setelah itu,
diiinkubasi pada inkubator pada suhu kamar selama 3 x 24 jam kemudian diamati
lalu dihitung jumlah koloni kapangnya.
Uji Cemaran Bakteri Patogen
Uji sampel Sabun Pepaya dengan menggunakan medium PW (Pepton Water) ke
VJA (Vogel Jonhson Agar)
Pertama-tama disiapkan 4 buah tabung reaksi kemudian diisi dengan medium PW
sebanyak 9 mL lalu dimasukkan 1 mL sampel Sabun Pepaya dari pengenceran
10-1, 10-2, 10-3, kemudian dihomogenkan setelah itu diinkubasi selama 1 x 24 jam
pada suhu 37˚C. Diamati, jika ada kekeruhan dan endapan maka positif untuk
dilanjutkan ke medium selektif.
Uji sampel The Pucuk dengan menggunakan medium LB (Lactosa Broth) ke
EMBA (Eosin Methylen Blue Agar)
Pertama-tama disiapkan 9 buah tabung reaksi kemudian diisi dengan medium LB
sebanyak 9 mL lalu dimasukkan 1 mL sampel sabun Teh Pucuk dari pengenceran
10-0, 10-1, 10-2 ke masing-masing 3 tabung, kemudian dihomogenkan setelah itu
diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37˚C. Diamati, jika ada kekeruhan dan
endapan maka positif untuk dilanjutkan ke medium selektif.
Analisis Hasil
Pada percobaan ini parameter yang akan diamati yaitu ada tidaknya
mikroorganisme yang pertumbuhannya adanya kekeruhan dan banyaknya koloni,
metode yang di lakukan yaitu uji ALT bakteri, Uji Angka kapang ,dan uji
cemaran bakteri pathogen dengan sampel yang di gunakan yaitu Teh Pucuk dan
Sabun Pepaya.
HASIL PENELITIAN
Gambar Pengamatan
1.Uji ALT Bakteri

2. Uji ALT Kapang

3. Uji Bakteri Patogen


Tabel 1. Hasil uji ALT Bakteri
No Sampel Jumlah kontaminan Nilai Nilai SNI Ket
ALT/MPN
0 1 2 3
10 10- 10- 10-

1 Teh 0 0 0 - 0 < 10 Layak


pucuk koloni/0,1
mL
2 Sabun - 0 0 0 0 105kol/mL Layak
pepaya

Tabel 2. Hasil uji Angka Kapang


No Sampel Jumlah kontaminan Nilai Nilai SNI Ket
ALT/MPN
0 1 2 3
10 10- 10- 10-

1 Teh 0 0 0 - 0 < 10 Layak


pucuk koloni/0,1
mL
4
2 Sabun - 0 0 10 10 105kol/mL Layak
pepaya

Tabel 3. Uji Bakteri Patogen


Sampel S.aureus Sampel E.Choli

PW VJA LB EMBA

Sabun Teh
Pepaya - - pucuk - -

PEMBAHASAN
Kualitas mikrobiologis dari sediaan kosmetik merupakan suatu masalah
yang sangat penting untuk diperhatikan. Pada waktu penyimpanan dan peredaran
ada kemungkinan terjadi pertumbuhan mikroorganisme di dalamnya, terutama
bila ditunjang dengan pemakaian bahan-bahan yang telah terkontaminasi dan juga
syarat-syarat sanitasi dan higienis kurang diperhatikan. Adanya mikroorganisme
dalam sediaan kosmetik tidak dikehendaki karena dapat menyebabkan infeksi
pada kulit.
Untuk mengetahui bahwa bahan baku, bahan tambahan maupun sediaan jadi
tidak mengalami perubahan sifat serta bebas dari kontaminan mikroba, maka
diperlukan uji mikrobiologis, meliputi pengujian angka lempeng total (ALT)
Bakteri, uji angka Kapang, dan uji cemaran bakteri. Jika telah dilakukan uji-uji
tersebut, dan tidak ditemukan bakteri dan kapang yang sesuai standar SNI, maka
produk tersebut layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Kerusakan makanan dan minuman dapat disebabkan oleh faktor-faktor yaitu
Pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme terutama bakteri dan kapang,
Aktivitas enzim di dalam makanan, serangga, parasit dan tikus. Suhu dan kadar
air, udara terutama oksigen, sinar/cahaya, dan waktu/lama dalam peyimpanan.
Pada percobaan ini dilakukan pengujian terhadap minuman dan kosmetika.
Dimana sediaan tersebut harus diuji untuk mengetahui tingkat kontaminasi
mikrobanya, apakah memenuhi syarat atau tidak agar dapat diketahui layak
tidaknya suatu produk dipasarkan ke masyarakat.
Tujuan dilakukannya praktium ini ialah Untuk menentukan uji
mikrobiologis suatu sediaan dengan Uji ALT bakteri, angka kapang, dan Uji
bakteri patogen pada sampel Teh Pucuk dan Sabun Pepaya berdasarkan Standar
Nasional Indonesia (SNI).
Pada uji ALT bakteri menggunakan medium NA (Nutrient Agar), yang
mengandung karbon dan nitrogen yang dapat digunakan oleh bakteri untuk
melakukan proses metabolisme dengan pengenceran 10-0 mempunyai
pertumbuhan dengan jumlah koloni pada Teh Pucuk yaitu tidak ditumbuhi
mikroorganisme,. Sedangkan pada pengenceran 10-1 tidak mempunyai
pertumbuhan koloni. Pada sampel Teh Pucuk dengan konsentrasi 10-2 juga tidak
ditumbuhi mikroorganisme,
Sedangkan pada uji Angka kapang digunakan medium PDA (Potato
Dextrosa Agar) yang mengandung karbohidrat yang berperan penting dalam
pertumbuhan kapang. Dengan pengenceran 10-0 tidak ditumbuhi mikroorganisme
untuk sampel Teh Pucuk. Sedangkan pada pengenceran 10-1 juga tidak
mempunyai pertumbuhan koloni dan pada pengenceran 10-2 juga tidak ditumbuhi
mikroorganisme.
Pada uji ALT bakteri menggunakan medium NA (Nutrient Agar), yang
mengandung karbon dan nitrogen yang dapat digunakan oleh bakteri untuk
melakukan proses metabolisme dengan pengenceran 10-1 pada sabun pepaya yaitu
tidak ditumbuhi mikroorganisme, dan pengenceran 10-2 dan 10-3 juga tidak terdapat
pertumbuhan koloni.
Sedangkan pada uji Angka kapang digunakan medium PDA (Potato
Dextrosa Agar) yang mengandung karbohidrat yang berperan penting dalam
pertumbuhan kapang. Dengan pengenceran 10-1 tidak ditumbuhi mikroorganisme
untuk sampel sabun pepaya. Sedangkan pada pengenceran 10-2 juga tidak
mempunyai pertumbuhan koloni dan pada pengenceran 10-3 ditumbuhi
mikroorganisme sebanyak 4 koloni.
Adapun pada pengujian bakteri pathogen menggunakan medium LB
(Lactosa Broth) untuk sampel Teh Pucuk, dan PW (Pepton Water) utntuk sampel
Sabun Pepaya dengan hasil yang didapatkan yaitu terjadi kekeruhan (positif)
maka dari di lanjutkan pada medium spesifik dari PW yaitu VJA dan LB yaitu
EMBA dan hasil yang diperoleh negatif tidak mengandung cemaran
mikroorganisme.
Berdasarkan hasil praktikum Minuman Teh Pucuk nilai yang ALT yang
didapatkan adalah 0 kol/mL dan Kosmetik Sabun Pepaya yaitu 104 kol/mL
sedangkan pada tabel SNI Teh Pucuk yaitu <10 kol/0,1 mL dan Kosmetik Sabun
Pepaya yaitu 105 kol/mL. Jadi Minuman dan Kosmetik tersebut layak untuk
dikonsumsi atau digunakan karena masih dalam batas standar SNI.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sampel minuman
Teh Pucuk dan kosmetik Sabun Pepaya, layak dikonsumsi, karena dinyatakan
masih memenuhi standar SNI.
SARAN
Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan
dipersiapkan terlebih dahulu, agar praktikum dapat berjalan dengan baik. Dan
harus berhati-hati dalam meneliti.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djide, Natsir,. 2003. Mikrobiologi Farmasi Terapan, Fakultas MIPA,
Universitas Hasanuddin, Makassar.
2. Djide, N., dan Sartini., 2008, Dasar-dasar Mikrobiologi, Universitas
Hasanuddin, Makassar.
3. Nurwitri, CC., Mariyani, N. Fadila, B.N., 2010, Penuntun Praktikum Analisis
Mikrobiologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
4. Irianto, K., 2006, Mikrobiologi, CV. Yrama Widya, Bandung.
5. Gobel, R, B., 2008, Mikrobiologi Umum Dalam Praktek, Universitas
Hasanuddin, Makassar.