Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

Disusun Oleh :
Effrida Angellia (061117012)

Dosen pengampu :
Drs. Ismanto, M.si.
Irfana Fauziah, S.Pd.,M.Sc.

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN KOTA BOGOR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses pertumbuhan merupakan hal yang lazim bagi setiap tumbuhan. Dalam
proses pertumbuhan terjadi pertambahan volume yang signifikan. Seiring berjalannya
waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh sendidri dapat
dilihat pada selang waktu tertentu. Dimana setiap pertumbuhan tanaman akan
menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram
pertumbuhan (Latunra, 2014).
Besarnya pertumbuhan persatuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh
suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju
tumbuh digambarkan dalam suatu grafik, dengan laju tumbuh pada ordinat dan waktu
pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk s atau kurva sigmoid
pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya
(Latunra, 2014).
Kurva sigmoid berguna bagi para ahli dalam melakukan penelitian-penelitian
lebih lanjut tentang tumbuh dan perkembangan tumbuhan, karena ia menunjukkan
tahap-tahapan perkembangan. Dalam percobaan yang menggunakan tumbuhan hidup,
fase perkembangan tanaman perlu diperhatikan untuk dapat menganalisa suatu
fenomena dengan tepat (Latunra, 2014).

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah melihat, mengamati dan mencatat laju
pertumbuhan daun sejak dari embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran yang
tetap.

1.3 Manfaat Pengamatan


Manfaat dari praktikum ini diantaranya menambah keterampilan prkatikum
mahasiswa dan wawasan mahasiswa, khususnya mengenai laju pertumbuhan daun
sejak embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran yang tetap.

1
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka


Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan
dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan
ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya
dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma dan tingkat
kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu
sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume
sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel
terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman, dkk., 1975).
Dalam proses fotosintesis, karbondioksida dari udara direduksi menjadi karbon
organik. Zat-zat hara mineral diambil dari akar, sebagian besar dalam bentuk anorganik
dan digabungkan ke dalam tanaman dan hasilnya. Pertumbuhan merupakan kenaikan
dalam bahan tanaman, adalah proses total yang mengubah bahan-bahan mentah ini
secara kimia dan menambahkannya pada tanaman (Goldsworthy dan Fisher, 1992).
Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan berat
kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi
praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada
waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991).
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama biasanya
mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik,
ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa
laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase
linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh
laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai
menua (Salisbury dan Ross, 1995).
Pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam dan luar dan adalah
penyesuaian diri antara genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan juga penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tidak hanya lingkungan yang mempengaruhi

2
pertumbuhan, tetapi juga banyak faktor seperti cahaya, temperatur, kelembaban dan
faktor nutrisi mempengaruhi akhir morfologi dari tanaman. Cahaya meliputi pada
lekukan dari batang morfogenesis. Temperatur, kelembaban dan nutrisi mempunyai
efek yang lebih halus, tetapi juga mempengaruhi perubahan morfologi (Ting, 1987).
Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara terus-menerus sepanjang
daur hidup, tergantung pada tersedianya merisitem, hasil asimilasi, hormone dan
substansi pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung. Secara empiris,
pertumbuhan tanaman dapat dikatakan sebagai suatu fungsi dari genotype X lingkungan
(internal dan eksternal). Pertumbuhan berarti pembelahan sel dan pembesaran sel.
Kedua proses ini memerlukan sintesis protein dan merupakan proses yang tidak dapat
berbalik. Proses differensiasi seringkali dianggap pertumbuhan. Pertumbuhan tanaman
memerlukan proses differensiasi (Marliah, dkk., 2010)
Dari paparan beberapa teori, apabila pertumbuhan digambarkan dalam bentuk
grafik maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S) dan umumnya laju pertumbuhan
berjalan lambat pada awalnya, kemudian konstan dan berangsur mengalami penurunan.
Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama
biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan. Pada fase
logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian
meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Semakin besar
organisme, semakin cepat ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung
secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat
tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Srigandono, 1991).
Pola pertumbuhan sepanjang suatu generasi secara khas dicirikan oleh suatu
fungsi pertumbuhan yang disebut kurva sigmoid. Jangka waktunya mungkin bervariasi
kurang dari beberapa hari sampai bertahun-tahun , tergantung pada organisme tetapi
pola kumpulan sigmoid tetap merupakan cirri semua organisme, organ, jaringan, bahkan
penyusun sel. Apabila massa tumbuhan, volume, luas daun, tinggi atau penimbunan
bahan kimia digambarkan dalam kurva berbernuk S atau kurva sigmoid. Misalnya
pertumbuhan kecambah yang pertumbuhannya lambat dinamakan fase eksponensial,
fase ini relative pendek dalam tajuk budidaya. Selanjutnya fase linear yaitu massa yang
berlangsung cukup lama dan pertumbuhan konstan. Fase yang terahhir adalah

3
fase senescence, yaitu fase pematangan tumbuhan atau fase penuaan (Gardner, dkk.,
1991).
BAB III
METODOLOGI PENGAMATAN

3.1 Bahan dan Alat


Adapun bahan yang digunakan yaitu Kacang jogo (Phaseolus vulgaris),
sedangkan alat yang digunakan yaitu kertas milimeter, pisau silet, pot, campuran pasir
dan tanah dengan perbandingan 1:1, pot diameter 30 atau 35 cm.

3.2 Metode Kerja


1. Direndam biji kacang jogo selama 2-3 jam dalam gelas piala.
2. Dipilih 30 biji yang baik untuk percobaan.
3. Dikupas 3 biji dan buka kotiledonnya, ukur panjang daun embrionya dengan
kertas milimeter, kemudian hitung nilai rata-ratanya.
4. Ditanam 25 biji kacang jogo dalam pot, siram air secukupnya dan pelihara
dalam rumah kaca selama empat minggu.
5. Diadakan pengamatan sebagai berikut :
a. Ukur panjang dua daun dan petiolnya (daun pertama yang merupakan
sepasang daun tunggal) pada umur 3, 5, 7, 10, 14, 18, 22, 26, 30 hari.
b. Dipengukuran daun pada umur 3-5 hari dilakukan dengan menggali biji.
c. Dipengukuran selanjutnya dilakukan dengan memotong kecambah
tanaman kacang pada pangkal batangnya.
d. Untuk dipengukuran daun pilih tanaman yang pertumbuhannya baik.
6. Dari hasil dipengukuran ini, buatlah grafik dengan panjang rata-rata daun
termasuk petiolnya sebagai ordinat dan waktu pengukuran (umur tanaman)
sebagai absisnya.

4
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Waktu Panjang Daun Rata panjang daun
Pengamatan (mm) (mm)
1. 0 -
-
2. 0 -
3. 0 -
0
-
4. 0
5. 0
1. 0,8 mm , 0,6 mm 1,1 mm
3,8 mm
2. 2,4 mm , 2,8 mm 1,95 mm
3. 1,2 mm , 1,5 mm 1,7 mm
3
-
4. 1,3 mm , 0,8 mm
5. -
1. 0,8 mm , 0,6 mm 1,1 mm
4,25 mm
2. 2,7 mm , 3,1 mm 2,25 mm
3. 1,4 mm , 1,7 mm 2,1 mm
5
-
4. 1,6 mm , 1,0 mm
5. -
1. 0,8 mm , 0,6 mm 1,1 mm
4,25 mm
2. 2,7 mm , 3,1 mm 2,55 mm
3. 1,5 mm , 2,1 mm 2,35 mm
7
-
4. 1,8 mm , 1,1 mm
5. -
10 1. - -
7,8 mm
2. 3,2 mm , 3,7 mm , 0,7 mm , 0,8 mm 5,9 mm
3. 2,8 mm , 2,8 mm , 0,6 mm -
-

5
4. -
5. -
1. - -
8,45 mm
2. 3,2 mm , 3,7 mm, 1,2 mm , 1,4 mm 7,62 mm
3. 2,9 mm , 2,8 mm , 1,5 mm , 1,7 mm -
14
-
4. -
5. -
1. - -
-
2. - -
3. - -
18
-
4. -
5. -
1. - -
-
2. - -
3. - -
22
-
4. -
5. -
1. - -
-
2. - -
3. - -
26
-
4. -
5. -
1. - -
-
2. - -
3. - -
30
-
4. -
5. -

6
kurva sigmoid
1.2

1
rata panjang daun

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 2 4 6 8 10 12

hari

4.2 Grafik Kurva Sigmoid

4.3 Pembahasan
Pada praktikum kurva sigmoid ini didaptakan hasil yang tidak signifikan pada
hari ke-18 tumbuhan mati dikarenakan faktor cuaca dengan curah hujan tinggi. Dilihat
dari pengamatan hari ke-3 didapatkan hasil rata-rata panjang daun 1,1 mm; 3,8 mm;
1,95 mm; 1,7 mm; 0 mm. Hari-5 didapatkan hasil rata-rata panjang daun 1,1 mm; 4,25
mm; 2,25 mm; 2,1 mm; 0 mm. Hari ke-7 didapatkan hasil rata-rat panjang daun 1,1
mm; 4,25 mm; 2,55 mm; 2,35 mm; 0. Hari ke-10 0 mm; 2,78 mm; 5,9 mm; 0 mm; 0
mm. Hari ke-14 0 mm; 8,45 mm; 7,62 mm; 0 mm; 0mm. Hari ke-18 tumbuhan mati
dikarenakan faktor cuaca dengan curah hujan yang sangat tinggi.

BAB V
KESIMPULAN

 Biji pada kacang merah Phaseolus vulgaris akan mengalami perkecambahan

sebagai tanda mulainya laju tumbuh pada tanaman kacang merah.

 Pertumbuhan dipengarui oleh faktor eksternal dan internal.

7
 Perkecambahan pada masing-masing biji memiliki tinggat kualitas yang

berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA

Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Diterjemahkan oleh H.Susilo. Universitas  Indonesia  Press. Jakarta.
Goldsworthy, P.R dan N.M. Fisher. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.

8
Kaufman, P. B., J. Labavitch, A. A. Prouty, dan N.S Ghosheh. 1975. Laboratory
Experiment in Plant Physiology. Macmillan Publishing Corporation. Inc.
New York.
Marliah, A., Jumini, dan Jamilah. 2-1-. Pengaruh Jarak Tanam Antar Barisan Pada
Sistem Tumpangsari Beberapa Varietas Jagung Manis Dengan Kacang
Merah Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil. Agrista (1). 38-39. Di akses
pada tanggal 23 Maret 2-14 WITA. Makassar.
Salisbury, F.B. dan Cleon W. R. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press.
Bandung.
Srigandono, B. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Susilo, W. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia. Jakarta.
Ting, I.P. 1987. Plant Physiology. Addision- Wesley Publishing Company. California.

Anda mungkin juga menyukai