Anda di halaman 1dari 9

TUGAS DISKUSI 1 PAI

Bacalah pernyataan di bawan ini lalu diskusikan dengan teman saudara

1. Keimanan merupakan derivasi dari kata “Iman”. Untuk memahami pengertian Iman secara utuh
dan mendalam, kita perlu merujuk pada Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber primer ajaran
Islam. Penelaahan ini dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat ayat yang mengandung
kata “iman” atau kata lain yang terbentuk dari kata “Iman”, seperti; “Aamana”, “Yu’minu” atau
“Mukmin”. Ayat-ayat yang berbicara tentang pengertian iman dalam Al-Qur’an antara lain: Q.S.
Al-Baqarah (2): 165, QS. Al-A’raf(7): 179. Terdapat juga ayat yang berbicara tentang nilai
yang dapat mempengaruhi keimanan seseorang, baik positif maupun negatif, antara lain; QS.
An-Nisa(4): 51, QS. Al-Ankabut(29): 51, QS. Al-Baqarah(2): 4, dan QS. Al-Baqarah(2):
285. Coba saudara urai dan jelaskan; a). Pengertian Iman, dan b). Apakah Nilai positif
negatif pada keimanan yang dimaksud pada ayat-ayat diatas.
2. Pengertian iman tidak hanya dibatasi pada qalbu (keyakinan hati), akan tetapi juga meliputi
ikrar dengan ucapan, dan perilaku. Qalbu (hati) merupakan entitas metafisika yang
eksistensinya hanya Allah yang dapat mengetahui. Namun demikian, keimanan yang baik akan
memancarkan perilaku yang menjadi ciri keimana seorang mukmin, sehingga dapat diidentifikasi
secara dhahir, antara lain; Tawakal, Mawas diri dan bersikap ilmiah, Optimis dalam
menghadapi masa depan, Konsisten dan menepati janji, dan Tidak sombong. Jelaskan
secara detail, ciri-ciri keimanan tersebut diatas, dilengkapi dengan ayat-ayat al-Qur’an
yang sesuai.
3. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti
"manusia yang tahu"), dan mencari tahu. Pencarian manusia dalam menemukan kebenaran
kemudian melahirkan istilah philosophia (memahami sesuatu yang tidak diketahui dari hal
yang sudah diketahui). Maka manusia berfilsafat untuk mencari kebenaran, walaupun kadang
kebenaran yang ditemukan oleh manusia memiliki relatifitas (perbedaan atau bahkan
pertentangan cara pandang) kebenaran, hal ini terjadi karena adanya pengaruh situasi, kondisi
yang berbeda dan terus berubah. Demikian juga dengan sejarah filsafat pencarian manusia dalam
memandang kebenaran hakikat ketuhanan. Coba saudara jelaskan pemikiran manusia tentang
ketuhanan yang antara lain; a). Animisme/Dinamisme, Politeisme dan Henoteisme, dan b).
Monoteisme, yang terbagi pada; Deisme, Panteisme dan Eklektisme.
Jawaban soal 1.
saudara urai dan jelaskan; a). Pengertian Iman, dan b). Apakah Nilai positif negatif pada
keimanan yang dimaksud pada ayat-ayat diatas.
Pengertian iman didalam modul MKDU4221/MODUL 1 halaman 1.3 sampai 1.5 dan saya
kembangakan dengan Bahasa saya sendiri dari hasil diskusi dengan teman sejawat : Bahwa iman adalah
meyakini didalam hati pada Allah, mengerjakan dengan tindakan dan takut kepada Allah apabila kita
melakukan dosa. Iman berasal dari Bahasa arab yaitu “aamana” (fi'il madhi/bentuk telah), “yu’minu"
(fi'il mudhari/bentuk sedang atau akan), dan mukminun (pelaku/orang yang beriman). percaya, tunduk,
tentram dan tenang. Menurut Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan bahwa nabi pernah bersabda
sebagai berikut. “Iman adalah keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku”. (Menurut Al-Sakawy
dalam, Al-Maqasid, Al-Hasanah, hlm 140, kesahihan hadits tersebut dapat dipertanggungjawabkan).
Iman merupakan pondasi bagi seorang muslim bahwa iman artinya percaya dan diyakini oleh hati,
yaitu mempercayai adanya Allah, mempercayai adanya Malaikat, Rasul, Kitab, Hari Akhir (kiamat),
Takdir baik dan buruk. Pengertian tersebut jika di masukan kedalam Hadis Nabi yaitu al-imaanu aqdun
bil qalbi wa ikraarun bil lisaani wa amalun bil arkani yang artinya Iman adalah menyakini dengan
hati, ucapan lisan dan perbuatan . Aqdun artinya ikatan, keterpaduan, kekompakan. Qalbu adalah hati
yang memiliki potensi psikis yang berfungsi untuk memahami informasi menyakini didalam hati bahwa
percaya Allah itu ada. Berarti identik dengan pikiran atau akal. Iqrar artinya pernyataan atau ucapan. Iqrar
bil lisaan dapat diartikan dengan menyatakan dengan Bahasa yang baik misalnya mengucapkan dzikir
berkata baik-baik, baik lisan maupun tulisan. Amal bil arkan artinya perilaku gerakan perangkat anggota
tubuh seperti mengerjakan solat, sedekah, jujur berbuat baik atau Perbuatan dalam kehidupan keseharian.
Dan ini mempengaruhi kepribadian yang mencerminkan suatu keterpaduan antara kalbu, ucapan dan
perilaku.
Menurut ketentuan Allah yang disampaikan oleh Malaikat kepada Nabi Muhammad. Tepatlah jika
iman didefinisikan dengan pendirian yang diwujudkan dalam bentuk bahasa dan perilaku. Jika pengertian
ini diterima, maka istilah iman identik dengan kepribadian manusia seutuhnya, atau pendirian yang
konsisten. Hadits Ibnu Majah diatas membuktikan bahwa ruang lingkup Iman mencakup tiga aspek
kehidupan manusia, yaitu meliputi seluruh isi hati, seluruh ucapan dan segenap laku perbuatan.
Ketentuan Allah tersebut dibukukan dalam bentuk Kitab yaitu kumpulan wahyu, yang dikonkretkan
dalam Al-quran guna mencapai tujuan yang hakiki yaitu bahagia dalam hidup, baik jangka pendek
maupun jangka panjang. Isi kitab tersebut adalah ketentuan tentang nilai-nilai kehidupan yang baik dan
yang buruk berdasarkan parameter dari Allah. Supaya kita bahagia dan selamat dunia maupun akhirat.
Nilai positif dan Negatif pada keimanan yang dimaksud ayat-ayat diatas yang dikutip dari
Modul MKDU4221/MODUL 1 halaman 1.3 sampai 1.6 : Dalam Al-quran QS. Al- Baqarah (2) : ayat 165.
Artinya: Dan ada di antara manusia mengambil dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya
sebagaimana mencintai Allah. Dan orang yang beriman, bersangatan cintanya kepada Allah. Dan jika
sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat azab (tahulah mereka)
bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan itu kepunyaan Allah dan sesungguhnya Allah itu sangat keras
azab-Nya (pasti mereka menyesal).
Berdasarkan redaksi ayat tersebut, iman identik dengan asyaddu hubban lillah. Hub artinya kecintaan
atau kerinduan. Asyaddu adalah kata superlatif syadiid (sangat). Asyaddu hubban berarti sikap yang
menunjukkan kecintaan atau kerinduan luar biasa. Lillah artinya kepada atau terhadap Allah. Dari ayat
tersebut tergambar bahwa iman adalah sikap (atitude), yaitu kondisi mental yang menunjukkan
kecenderungan atau keinginan luar biasa terhadap Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah berarti
orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mewujudkan harapan atau kemauan yang dituntut
oleh Allah kepadanya. Dengan demikian maka istilah Iman ialah pandangan dan sikap hidup sama dengan
“ Sangat rindu untuk hidup “ atau “ dipuncak kerinduan “ atau “dilambung cinta / rindu untuk hidup
dengan ajaran Allah (Al-Qur’an Sunnah Rasul).
Demikianlah konsekuensinya jikalau kata kerja “aamana-yukminu-mukminun” pembentukan bentuk
katanya adalah alternative dari kata benda (isim) yaitu menurut hadis yang kita lihat diatas. Dan hal ini
akan bertolak belakang dengan alternatif pembentukan dari kata kerja tiga huruf pokok. Konsekuensi
yang lebih jauh, untuk melogiskan “Iman = percaya” maka sistematik Iman digusur pula menjadi Tauhid,
Fikih, Ahlak dan Tasauf. Akibatnya Al-Qur’an yaitu “hudan lil muttaqien” hampir tidak fungsional dalam
kenyataan hidup ini. Kesemua ini otomatis merusak nilai dan harga Iman. Kata iman dalam Al-quran,
pada umumnya dirangkaikan dengan kata lain. Kata rangkaian itulah yang memberikan nilai tentang
sesuatu yang diimaninya.
Jika kata iman dirangkaikan dengan kata-kata yang negative berarti nilai iman tersebut
negatif. Dalam istilah Al-quran, iman yang negative disebut kufur. Pelakunya disebut kafir. Berikut ini
dikemukakan beberapa ayat yang mengemukakan kata iman dikaitkan dengan nilai yang negatif di
antaranya: QS. An-Nisaa’ (4): 51.Jika pengertian ini diterima, maka istilah iman identik dengan
kepribadian manusia seutuhnya, atau pendirian yang konsisten. Orang yang beriman berarti orang yang
memiliki kecerdasan, kemauan dan keterampilan. Kata iman dalam Al-quran, pada umumnya
dirangkaikan dengan kata lain. Kata rangkaian itulah yang memberikan nilai tentang sesuatu yang
diimaninya. Jika kata iman dirangkaikan dengan kata-kata yang negatif berarti nilai iman tersebut negatif.
QS. An-Nisaa’ (4): 51. Artinya Artinya: Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang diberi
bahagian dari Alkitab, mereka percaya kepada jibt (sesembahan selain Allah) dan thagut (berhala) dan
mereka berkata kepada orangorang kafir bahwa mereka lebih benar jalannya daripada orangorang yang
beriman. Kata iman pada ayat tersebut dirangkaikan dengan kata jibti dan taghut, syaithan dan apa saja
yang disembah selain Allah. Kata iman dikaitkan dengan kata batil (yang tidak benar menurut Allah).
Artinya Nilai Negatif dalam QS An-Nisa ayat 51 adalah merekan yang kufur, tidak memiliki Iman,
Musyrik, menyembah selain Allah dan tidak Memiliki Tauhid artinya tidak MengEsakan Allah
SWT.
Adapun kata iman yang dirangkaikan dengan yang positif antara lain; QS. Al-Baqarah (2): 4.
Artinya: Orang-orang yang beriman kepada (Al-quran) yang diturunkan kepadamu, juga beriman kepada
(kitab-kitab Allah) yang diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya akhirat. Artinya :
Beriman kepada kitab–kitab Allah merupakan salah satu sifat dari orang-orang yang bertakwa. Saya kutip
dari internet https://risalahmuslim.id/quran/al-baqarah/2-4/ bahwa Orang-orang yang beriman kepada
kitab–kitab Allah dan mempelajari isinya adalah para ahli waris nabi, ahli waris ajaran-ajaran Allah, baik
orang-orang dahulu, maupun orang-orang sekarang sampai akhir zaman. Sifat ini akan menimbulkan rasa
dalam diri seorang Muslim bahwa mereka adalah umat yang satu, agama mereka adalah satu, agama
Islam. Tuhan yang mereka sembah ialah Allah Yang Maha Esa, Pengasih dan Penyayang kepada hamba-
hamba-Nya. Sifat ini akan menghilangkan eksklusivisme (sifat berbeda) dalam diri seorang Muslim, yaitu
meliputi semua sifat sombong, tinggi hati, fanatik golongan, rasa kedaerahan dan perasaan kebangsaan
yang berlebihan. Nilai Fositif dari QS Al-Baqarah Ayat 4 adalah mereka yang yakin atas
keimanannya , Meyakini adanya yang maha pencipta, Meyakini adanya Allah, Rasul, Malaikat,
Kita-kitab, Percaya hari akhir itu ada (Kiamat), Qodo dan qodar baik dan buruk. Takut
melakukan hal-hal yang buruk. selalu menedengar dan melaksanakan apapun yang diperintah
oleh Allah SWT. Selalu yakin bahwa iman itu diyakini dengan hati, lisan maupun tindakan.

Jawaban soal no 2
Tawakal, Mawas diri dan bersikap ilmiah, Optimis dalam menghadapi masa depan, Konsisten dan
menepati janji, dan Tidak sombong. jelaskan secara detail, ciri-ciri keimanan tersebut diatas,
dilengkapi dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sesuai. Jawaban Diambil dari modul
MKDU4221/MODUL 1 dari halam 1.7 sampai 1.11dan dikembangkan dengan pemahaman sendiri.
IMPLIKASI KEIMANAN Jika iman diartikan percaya, maka ciri-ciri orang yang beriman tidak
ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah saja, karena yang tahu isi hati seseorang hanyalah Allah.
Karena pengertian iman yang sesungguhnya adalah meliputi aspek kalbu, ucapan dan perilaku, maka ciri-
ciri orang yang beriman akan dapat diketahui, antara lain:
Tawakal Apabila dibacakan ayat-ayat Allah (Al-quran), kalbunya terangsang untuk
melaksanakannya seperti dinyatakan antara lain QS. Al-Anfaal (8):2. Arinya: Sesungguhnya orang-orang
yang beriman adalah apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada
mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan mereka bertawakal kepada Tuhannya. Tawakkal,
yaitu senantiasa hanya mengabdi (hidup) menurut apa yang diperintahkan oleh Allah. Dengan kata lain,
orang yang bertawakal adalah orang yang menyandarkan berbagai aktivitasnya atas perintah Allah.
Seorang mukmin, makan bukan didorong oleh perutnya yang lapar akan tetapi karena sadar akan perintah
Allah.
Allah SWT Berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 172. Artinya: Hai sekalian orang-orang yang
beriman, makanlah dari yang baik-baik yang Kami rezekikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada
Allah jika hanya kepada-Nya kamu menyembah. Dilanjut QS Al-Baqarah (2) ayat 187 menjelaskan
bahwa seseorang yang makan dan minum karena didorong oleh perasaan lapar atau haus, maka
mukminnya adalah mukmin batil, karena perasaanlah yang menjadi penggeraknya. Dalam konteks Islam
bila makan pada hakikatnya melaksanakan perintah Allah supaya fisik kuat untuk beribadah (dalam arti
luas) kepada-Nya. Jadi maksud tawakal disini segala sesuatu itu harus dibarengi dan diniatkan
semuanya karena Allah. Mereka yakin bahwa segala sesatu yang dikerjakan harus karena Allah
dalam Artian Hidup ku Matiku Hanya Karena Allah
Mawas Diri dan Bersikap Ilmiah Pengertian mawas diri di sini dimaksudkan agar seseorang
tidak terpengaruh oleh berbagai kasus dari mana pun datangnya, baik dari kalangan jin dan manusia,
bahkan mungkin juga datang dari dirinya-sendiri. Allah SWT berfirman di QS. AnNaas (114): 1-3.
Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia (1). Yang menguasai
manusia (2). Tuhan bagi manusia (3). Mawas diri yang berhubungan dengan alam pikiran, yaitu bersikap
kritis dalam menerima informasi, terutama dalam memahami nilai-nilai dasar keislaman. Hal ini
diperlukan, agar terhindar dari berbagai fitnah. Dilanjut dengan QS. Ali Imran (3): 7.
MKDU4221/MODUL 1 1.9 Artinya: Dialah yang menurunkan Kitab (Al-quran) kepadamu; di antaranya
ada ayat-ayat yang muhkamat (terang maknanya), itulah ibu (pokok) Kitab; dan yang lain mutasabihat
(tidak terang maknanya). Maka adapun orang-orang yang hatinya cenderung kepada kesesatan, maka
mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya
(menurut kemauannya), padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang
yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman dengannya (kepada ayat-ayat yang mutasyabihat);
semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang
mempunyai pikiran. Atas dasar pemikiran tersebut hendaknya seseorang tidak dibenarkan menyatakan
sesuatu sikap, sebelum mengetahui terlebih dahulu permasalahannya, sebagaimana dinyatakan di dalam
Al-quran antara lain QS. Al-Israa’ (17) : 36. Artinya: Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau
tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya.
Menurut pendapat saya arti Mawas diri dan Bersikap ilmiah ini, harus berhati-hati dengan
segala tindakan yang diterima, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain, hal ini akan
memberikan keselamatan kepada kita semua, karena kita sudah antisipasi terhadap hal-hal yang buruk,
salah satu hal yang harus di hindari adalah jangan berbohong, jangan menerima informasi yang belum
jelas, jangan mengikuti hal-hal yang sesat. Dan jangan Taklid artinya selalu mengikuti tanpa tau arah dan
tujuannya.
Optimis dalam Menghadapi Masa Depan Perjalanan hidup manusia tidak seluruhnya mulus,
akan tetapi kadang-kadang mengalami berbagai rintangan dan tantangan yang memerlukan pemecahan
jalan ke luar. Jika suatu tantangan atau permasalahan tidak dapat diselesaikan segera, tantangan tersebut
akan semakin menumpuk. Jika seseorang tidak dapat menghadapi dan menyelesaikan suatu
permasalahan, maka orang tersebut dihinggapi penyakit psikis, yang lazim disebut penyakit kejiwaan,
antara lain frustrasi, nervous, depresi dan sebagainya. Al-quran memberikan petunjuk kepada umat
manusia untuk selalu bersikap optimis karena pada hakikatnya tantangan, merupakan pelajaran bagi
setiap manusia. Hal tersebut dinyatakan dalam Quran Surat Al-Insyirah (94) ayat 5-6. Jika seseorang
telah merasa melaksanakan sesuatu perbuatan dengan penuh perhitungan, tidaklah perlu memikirkan
bagaimana hasilnya nanti, karena hasil adalah akibat dari suatu perbuatan. Namun Nabi Muhammad
menyatakan bahwa orang yang hidupnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, adalah orang yang merugi
dan jika hidupnya sama dengan hari kemarin berarti tertipu, dan yang bahagia adalah orang yang
hidupnya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jika optimisme merupakan suatu sikap yang terpuji, maka
sebaliknya pesimisme merupakan suatu sikap yang tercela. Sikap ini seharusnya tidak tercermin pada
dirinya mukmin. Hal ini seperti dinyatakan dalam Surat Yusuf (12) ayat 87, sedangkan sikap putus asa
atau yang searti dengan kata tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang kafir. QS. Yusuf (12): 87. Artinya:
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang
kafir”.
Optimis dalam menghadapi masa depan Adalah menurut saya, segala sesuatu yang dikerja
perlu proses dan terus berproses, jangan tertipu akan hal-hal yang mudah, instan maupun praktis,
segalanya perlu perjuangan, perlu materi, perlu doa, perlu usaha, perlu motivasi, perlu dorongan, perlu
orangtua, guru kawan dan harus melawan hawa nafsu terhadap dirinya misalnya hindari Malas, berleha-
leha dan seterusnya, segala sesuatu yang dikerjakan baik maupun buruk itulah hasil yang dilakukannya
dan harus siap dengan segala resiko yang dihadapinya. Adapun hasilnya baik itulah karena orang-orang
yang melakukannya dengan cara yang baik,penuh semangat, jujur, dan tidak pernah berputus Asa, karena
suatu Proses tidak akan MengKhianati Hasil. Perbanyaklah berproses berjuang dan jangan lupa selalu
evaluasi diri agar hidup semakin terarah dan semakin ada perbaikan karena pepetah mengatakan Telur
Hari Ini Lebih Baik dari Pada Telur Esok Hari. Diambil dari Power Point www.lukman.my.id Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6).

Konsisten dan Menepati Janji Janji adalah hutang. Menepati janji berarti membayar utang.
Sebaliknya ingkar janji adalah suatu pengkhianatan. QS. Al- Maa’idah (5): 1. Artinya: Hai orang-orang
yang beriman, sempurnakanlah segala janji. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan
dibacakan kepadamu (larangan-Nya). Tidak dibolehkan berburu ketika kamu sedang ihram.
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum terhadap apa yang di kehendaki-Nya. Seseorang mukmin
senantiasa akan menepati janji, dengan Allah, sesama manusia, dan dengan ekologinya (lingkungannya).
Seseorang mukmin adalah seorang yang telah berjanji untuk berpandangan dan bersikap dengan yang
dikehendaki Allah. Seorang suami misalnya, ia telah berjanji untuk bertanggung jawab terhadap istri dan
anak-anaknya. Sebaliknya istri pun demikian. Seorang mahasiswa, ia telah berjanji untuk mengikuti
ketentuan-ketentuan yang berlaku di lembaga pendidikan tempat ia studi, baik yang bersifat administratif
maupun akademis. Seorang pemimpin berjanji untuk mengayomi masyarakat yang dipimpinnya. Janji
terhadap ekologi berarti memenuhi dan memelihara apa yang dibutuhkan oleh lingkungannya, agar tetap
berdaya guna dan berhasil guna.
Menurut Saya menepati janji adalah termasuk kedalam kategori Iman karena mereka
mampu bertanggung jawab atas apa yang diperbuat dan kehendakinya, apabila ingkar dan tidak dapat
menunaikan janjinya sama dengan termasuk golongan kaum munafik. Misalnya Allah berjanji bagi
Hambanya barang siapa yang melakukan kebajikan akan Allah beri Pahala berlipat-lipat Ganda bagi
hambanya Allah akan siapkan Syurga bagi orang-orang yang Taat dan Patuh terhadap Hambanya. Janji
Dosen Kepada Mahasiswanya akan Memberikan Nilai 100 apabila mahasiswanya mengejakan tugas
dengan sebaik-baiknya dan itu harus dipertanggung jawabkan. Janji majikan terhadap pegawainya akan
menggaji sesuai kinerjanya itulah janji yang harus ditepati. Janji Presdident Terhadap Masyarakat harus
ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Yang lebih berat adalah terhadap diri sendiri dan Allah apabila tidak
ditepati Allah Akan Murka. Tunaikanlah janji karena janji tidak bisa ditunaikan dengan bentuk materi
selain janji akan memberi materi (Uang)..
Tidak Sombong Kesombongan merupakan suatu sifat dan sikap yang tercela yang
membahayakan diri maupun orang lain dan lingkungan hidupnya. Seorang yang telah merasa dirinya
pandai, karena kesombongannya akan berbalik menjadi bodoh lantaran malas belajar, tidak mau bertanya
kepada orang lain yang dianggapnya bodoh. Karena ilmu pengetahuan itu amat luas dan berkembang
terus, maka orang yang merasa telah pandai, jelas akan menjadi bodoh. Allah SWT telah Berfirman
dalam Al-quran Surat Luqman (31) ayat 18, menyatakan suatu larangan terhadap sifat dan sikap yang
sombong. Firman Allah QS. Luqman (31): 18. Artinya: Dan janganlah engkau palingkan pipimu kepada
manusia, dan janganlah berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi congkak.
Menurut saya kandungan Ayat tersebut menjelaskan bahwa larangan sombong sangat dilarang,
karena merupakan sikap yang tidak baik, baik untuk diri sendiri, lingkungan, alam maupun masyarakat,
hindarilah sifat sombong ini, karena kita adalah Mahluk ciptaan Allah yang tidak ada tandingannya Selain
Allah yang memilikinya, didalam QS Lukamn ayat 18 dijelaskan yang Artinya dan janganlah kalian
berjalan diatas muka bumi ini dalam keadaan berlagak sombong. Dan congkak. Karena kita selaku hamba
tidak ada Apa-apanya disbanding dengan Maha Pencipta Kita Yaitu Allah.
Soal jawaban no 3
Coba saudara jelaskan pemikiran manusia tentang ketuhanan yang antara lain; a).
Animisme/Dinamisme, Politeisme dan Henoteisme, dan b). Monoteisme, yang terbagi pada;
Deisme, Panteisme dan Eklektisme. Jawaban Diambil dari modul MKDU4221/MODUL 1 dari halam
1.25 sampai 1.29 dan dikembangkan dengan pemahaman sendiri.
A* Pemikiran manusia tentang ketuhanan adalah Pemikiran manusia dalam berbagai masalah,
hasilnya akan bervariasi. Hal ini disebabkan pandangan manusia yang memungkinkan berubah dan
mengubah. Sifat utama pemikiran manusia adalah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pemikiran manusia tentang Tuhan dan ketuhanan berubah sejalan dengan perubahan daya nalarnya.
Sebab itu kesimpulan yang dihasilkan antara satu masyarakat pada situasi dan kondisi tertentu tentang
Tuhan dan ketuhanan, mungkin berbeda dengan kesimpulan masyarakat yang hidup pada situasi dan
kondisi lainnya. Cepat atau lambat perubahan pemikiran manusia sangat tergantung pada situasi dan
kondisi manusia.
Menurut saya pemikiran manusia tentang tuhan ini akan berubah tergantung kondisi dan
situasi, namun tidak akan merubah keimanan seseorang jikaulau sudah menanamkan dalam Hati dan
Tauhid didalam dirinya. Karena zaman hanya merubah sitausinya bukan merubah keimanan seseorang,
yang berubah bisa saja dengan ilmu atau penemuan-penemuan baru, baik berupa penemuan baru sains,
ilmiah, maupun ilmu Fiqih dan lain lain. Yang berubah hanya zaman dan penemuan-penemuannya,
namun tidak akan merubah keimanan seseorang, kecuali muncul ormas-ormas baru yang ingin berpindah
dan membuat kelompok aliran-aliran yang berbeda dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah.
Animisme/Dinamisme, Pemikiran manusia tentang Tuhan dan ketuhanan pada masyarakat
primitif berbeda dengan pemikiran masyarakat modern. Ciri khas masyarakat primitif adalah sifatnya
yang sederhana. Sebaliknya, masyarakat modern yang mempunyai ciri khas multi dimensional (ragam
dimensi), walaupun pada akhirnya, masyarakat yang primitif dikatakan modern, dan yang modern
sesungguhnya adalah primitif. Sesuai dengan kesederhanaannya, masyarakat primitif memandang bahwa
kehidupannya ditentukan oleh keyakinan pada kekuatan suatu benda, yang dipandangnya mempunyai
kekuatan. Benda-benda yang dimaksud, dijadikan benda keramat yang lazim disebut azimat (jimat dalam
bahasa Jawa). Kepercayaan kepada benda yang mempunyai kekuatan disebut dinamisme. Persembahan
(sembahyang) yang diberikan kepada benda-benda keramat itu dilakukan tanpa boleh bertanya. Kalau
kata dukun harus melakukan sesuatu, mereka melakukannya tanpa tanya. Dengan demikian, di
masyarakat primitif dinamisme, benda-bendalah yang menjadi Tuhan mereka, sedangkan dukun atau
pawang sebagai nara sumber sesajian sebagai bentuk pengabdiannya. Bentuk kepercayaan lain pada
masyarakat primitif, yaitu animisme (anima = roh). Masyarakat penganut animisme berkeyakinan, bahwa
suatu benda mempunyai roh (sebangsa makhluk ghaib) di dalamnya. Sesajen yang dikorbankan bertujuan
agar roh yang ada tidak marah.
Animisme atau dinamisme dalam pandangan saya, mereka lebih percaya tuhannya itu kepada
benda-benda maupun roh dan mereka beribadahnya hanya kepada benda-benda atau roh yang dipercaya
bahwa tuhan itu berwujud dan berbentuk dapat dirasakan dan dilihat, bentuk peribadahan mereka itu
dengan sesajan, tumbal dan ritual terhadap kepercayaannya. Mereka percaya terhadap benda-benda dari
hasil sejarah dan nenek moyangnya secara turun temurun. Dan ini biasa digunakan untuk kepentingan
pribadinya maupun masyarakat, hanya sebagian masyarakat yang mengikuti ritual ini tergantung adat dan
kebiasaan yang di lakukannya. Pada Zaman Nabi pun sudah ada kasus seperti ini.
Paham politeisme Kepercayaan terhadap para dewa atau dewi inilah yang disebut dengan
politeisme (poli = banyak). Di sebagian masyarakat Jawa misalnya, mereka berkeyakinan Dewi Sri, (dewi
kesuburan) pengatur tanaman padi. (banyak Tuhan) merupakan peningkatan dari dinamisme dan
animisme. Jika pada animisme dan dinamisme berbagai benda atau yang dianggap benda dapat
berkedudukan menjadi Tuhan, maka orang harus mengorbankan sesuatu kepada Tuhan yang jumlahnya
tidak terhitung. Jika hal ini dilakukan, pengeluaran atau sesembahan yang harus ditanggung oleh manusia
memberatkan. Sebab itu mereka berpikir untuk mengurangi bebannya, dengan hanya memberikan kepada
koordinatornya saja, yaitu dewa atau dewi, sehingga jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan
dinamisme atau animism.
Paham politeisme menurut saya tidak jauh berbeda dengan animisme yang membedakannya
bentuk kepercayaan dan sesembahannya berbeda mereka lebih percaya kepada dewa dan dewi, focus
ibadahnya dan keinginnannya untuk jenis pertanian supaya usaha dan tanaman pertaniannya subur dan
makmur. Dan bentuk sesajennya hanya dikumpulkan oleh koordinatornya sehingga tidak memberatkan
untuk penganutnya, kecuali keinginan usaha pribadinya sendiri baru jenis sesajennya ditangguhkan
kepada pribadi.
Paham Henoteis (satu bangsa = satu Tuhan), sebagai peningkatan dari paham politeisme. Dasar
pemikiran paham ini, bahwa setiap satu kesatuan tidak mungkin diatur oleh lebih dari satu pengatur.
Masyarakat pada hakikatnya merupakan satu kesatuan. Atas dasar itu setiap bangsa tidak mungkin diatur
oleh lebih dari satu pengatur atau Tuhan. Menurut paham ini jumlah Tuhan setiap bangsa hanya ada satu.
Setiap bangsa mempunyai Tuhan yang berbeda dengan bangsa lainnya.
B* Monoteisme Setelah hubungan satu bangsa dengan bangsa lain terjalin, maka sekian paham yang
hanya ada satu Tuhan di dunia ini, menjadi penguasa dunia agaknya menjadi keyakinan bagi masyarakat
modern. Paham ini disebut monoteisme dan Tuhan Yang Maha Esa menurut paham monoteis terbagi
menjadi tiga yaitu: deisme, panteisme, dan eklektisme.
Deisme Paham ini beranggapan bahwa Tuhan Yang Maha Esa mempunyai sifat yang serba
Maha. Karena kemahaannya, Tuhan menciptakan alam dengan komposisi yang serba maha pula. Sebab
itulah alam akan mampu bertahan hidup dan berkembang dengan sendirinya. Bagi alam tidak perlu
pengawasan serta peranan Tuhan. Sebaliknya Tuhan pun tidak memerlukan alam. Setelah Tuhan selesai
menciptakan alam, dia berpisah dengan alam (trancendent).
Panteisme Paham ini berpendapat bahwa sebagai pencipta alam, Tuhan ada bersama alam
(immanent). Di mana ada alam, di situ ada Tuhan. Alam sebagai ciptaan Tuhan merupakan bagian dari-
Nya. Tuhan ada di manamana. Bahkan setiap bagian dari alam, itulah juga Tuhan. Seseorang mengatakan,
bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia, maka orang tersebut masih belum mantap dalam kepercayaannya
kepada Tuhan. Seseorang yang mantap kepercayaannya kepada Tuhan, ia mengucapkan ini adalah Tuhan.
Tuhan Yang Maha Besar adalah kekal. Di dalam filsafat, aliran ini berkembang menjadi paham
predestination. Dalam teologi Islam paham ini termasuk aliran Jabariah.
Eklektisme Jika deisme menempatkan kedudukan manusia pada posisi yang menentukan,
panteisme sama sekali tidak memerankan manusia, melainkan Tuhanlah sebagai pemerannya. Teisme
menggabungkan kedua paham tersebut. Sebab itu paham ini, dikenal dengan eklektik (eclectic=
gabungan). Manusia mempunyai peranan sebagai perencana, sedangkan Tuhan berperan sebagai penentu.
Tuhan bukan alam, jauh di luar alam, namun Dia dekat dengan alam. Paham yang ketiga ini, bermanfaat
untuk orang yang mengalami kegagalan. Namun dalam kondisi berhasil, biasanya lupa dengan Tuhan.
Sebab itulah agama hanya diminati oleh orang-orang yang frustrasi, usia senja, dan lain-lain.

Sumber referensi
http://www.pustaka.ut.ac.id/reader/index.php?subfolder=MKDU4221/&doc=M1.pdf
(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Arti_iman
Elearning.ut.ac.id
www.lukman.my.id