Anda di halaman 1dari 6

Teknik Menggelar, Merelease dan Menggulung Fire Hose

1. Tujuan
Tujuan dalam praktik menggelar, merelease dan menggulung fire hose di
laboratorium fire ground adalah sebagai berikut :
a. Mahasiswa mengetahui berbagai macam jenis fire hose, fungsi serta cara
pemakaiannya;
b. Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori penggunaan fire hose
ketika
terjadi kebakaran yang sesungguhnya;
c. Mahasiswa mampu memahami tentang prosedur menggelar, merelease dan
menggulung fire hose secara benar.

2. Dasar Teori

A. Firehose
Selang pemadam (firehose) merupakan salah satu alat pemadam
kebakaran berupa selang yang digunakan tim pemadam kebakaran ketika terjadi
kebakaran pada sebuah bangunan atau gedung. Selang pemadam api ini
termasuk fire hydrant equipment yang penting digunakan untuk memaksimalkan
sistem fire hydrant dalam memadamkan kebakaran. Fungsi dari firehose untuk
mendistribukan air dari fire pond (reservoir air) melalui pompa hydrant (hydrant
pump) dengan tekanan tinggi hingga 100 Psi (tekanan maksimal 20 bar dimana 1
bar = 14,504 Psi) menuju pilar hidran (hydrant pillar) sehingga dapat digunakan
untuk memadamkan kebakaran.

B. Ukuran Firehose
Semua jenis selang pemadam api (firehose) pada umumnya produsen
memproduksi dengan bervarian ukuran diameter dan panjangnya. Produsen
memproduksi standar yang panjangnya firehose dari 15 meter, 20 meter sampai
30 meter, sedangkan untuk diameternya produsen memproduksi beberapa
diameter antara lain 1,5”, 2,5” , dan 3” tetapi dapat disesuaikan dengan
kebutuhan. Namun jika selang pemadam kebakaran kurang panjang untuk
menjangkau titik kebakaran bisa menyambungkan selang pemadam kebakaran
yang lain dengan menggunakan hose coupling yang terdapat pada kedua
ujungya. Produksi firehose sudah terpasang dengan hose coupling (penghubung
selang) pada dua ujung hose seperti Gambar

C. Firehose Coupling (koneksi selang pemadam)


Kopling merupakan salah satu bagian penting dalam peralatan kebakaran,
kopling ini bertujuan untuk menyambungkan koneksi antara firehose dengan
hydrant, firehose dengan nozzle pemadam, atau firehose dengan firehose.
Keberadaan kopling ini begitu vital karena jika kopling tidak sama, atau kopling
rusak maka sambungan firehose tidak akan dapat mengalirkan air dengan baik.
Proses klem/bending kopling jika tidak kuat juga bisa berakibat fatal yakni
kopling akan lepas begitu menerima tekanan besar dari aliran air pompa hydrant
yang mencapai 10 bar. Firehose ini dapat di pasang dengan berbagai hose
coupling yang sudah tercantumkan dalam International Marine Pilots
Association (IMPA) dan paling banyak digunakan di Indonesia antara lain:
machino coupling, storz coupling, instantaneous coupling (john morris) dan
NH/NST dan lain-lain seperti Gambar 40. Tata cara penggunaan kopling ada 2
(dua) yaitu diputar (screw) dan saling mengunci (interlock). Tata cara
penggunaan kopling dengan diputar (screw) antara lain:
1. Nakajima (Jepang)

Gambar 40 Nakajima Coupling

2. Gost (Rusia)

Gambar 41 Gost Coupling

3. Storz

Gambar 42 Storz Coupling

4. National Hose Thread (NH)/ National Standard Thread (NST)

Gambar 43 NH/NST Coupling

5. SMS

Gambar 44 SMS Coupling

6. Barcelona (Spanyol)

Gambar 45 Barcelona Coupling

Sedangkan tata cara penggunaan kopling dengan saling mengunci (interlock)


antara lain:
1. Machino

Gambar 46 Machino Coupling


2. British Instantaneous/John Morris

Gambar 47 Instantaneous Coupling

3. Uni

Gambar 48 Uni Coupling

D. Jenis Material Firehose

Firehose memiliki beberapa jenis dan material yang digunakan berbeda-


beda antara lain:
a. Firehose Red Rubber
Firehose red rubber merupakan jenis selang pemadam kebakaran yang
digunakan oleh pemadam kebakaran (fire brigade). Material Firehose
menggunakan material red rubber yang berkualitas dan memiliki mutu tinggi
yang mampu menahan tekanan air 18 bar sampai 20 bar, sedangkan rata-rata
tekanan air pompa hydrant (hydrant pump) lebih kurang ± 10 bar. Oleh karena
itu firehose red rubber yang memiliki kualitas yang baik dan mutu yang tinggi
memungkinkan selang pemadam ini tidak mudah rusak dan bocor dengan ukuran
diameter dan panjang bervariasi seperti Gambar

b. Firehose Canvas
Firehose canvas terbuat dari bahan kanvas (canvas) berkualitas tinggi
agar tidak mudah pecah saat digunakan. Firehose canvas mempunyai daya tahan
tekanan air dibawah tekanan 13-17 bar dan tidak mampu menahan tekanan air
antara 30 – 39 bar karena akan mengakibatkan pecahnya firehose canvas. Hal itu
tidak akan mungkin terjadi karena pada umumnya fire hydrant pump
menghasilkan tekanan air mencapai lebih kurang ± 10 bar seperti Gambar

c. Firehose Polyester
Firehose polyester menggunakan material 100% dari polyester staple dan
polyester filaments atau kain khusus yang dipergunakan dalam pembuatan
Firehose. Firehose polyester ini mampu bekerja di bawah tekanan air hingga 13
bar dan cukup tangguh digunakan untuk menahan tekanan air dari pompa
hydrant yang kurang lebih 10 bar seperti Gambar

3. Peralatan
1. Fire hose red rubber ukuran 1,5”;
2. Fire hose red rubber ukuran 2,5”;
3. Sarung tangan

4. Prosedur/Langkah Kerja

1. Menggelar Single Roll


a. Persiapkan fire hose 1,5” dan 2,5” di lapangan untuk digelar seperti
Gambar
b. Rapatkan terlebih dahulu fire hose yang telah digulung sebelumnya
dengan cara salah satu kaki bertumpu di pusat gulungan fire hose tariklah
female coupling seporos dengan alur fire hose seperti Gambar
c. Letakkan posisi fire hose dengan female coupling berada di luar gulungan
dan berada di posisi sebelah kanan untuk memudahkan saat mengambil
dan membawa gulungan, sebelum mengambil gulungan fire hose, posisi
hoseman jongkok dengan lutut bagian kanan menempel tanah dan lutut
bagian kiri menahan (seperti start jongkok lari) seperti Gambar
d. Ambil gulungan fire hose dengan tangan kanan memegang bagian
coupling, sedangkan tangan kiri mengambil satu gulungan fire hose
seperti Gambar

Gambar 101 Posisi Hoseman Saat Mengambil Fire Hose

e. Berdiri dan bawa fire hose seperti Gambar 102

Gambar 102 Posisi Hoseman Saat Membawa Fire Hose

f. Persiapan menggelar fire hose dengan hose man posisi kuda-kuda selebar
bahu dan mengarahkan fire hose sejajar dengan tanah (tidak miring)
seperti Gambar
g. Pegang fire hose untuk menggelar dengan masukkan jari hose man ke
gulungan pertama dan jempol paling atas dari gulungan fire hose
tersebut, serta tangan yang lainnya memegang female coupling seperti
Gambar
h. Ayunkan fire hose sebanyak 2 sampai maksimal 3 kali ke depan dengan
memberi dorongan untuk memberi tenaga agar fire hose tergelar
sempurna dan tangan kanan tetap memegang bagian female dan arahkan
gulungan fire hose tersebut lurus kedepan seperti Gambar
i. Gelarlah gulungan selang tersebut kedepan dan jangan melempar atau
sampai terbanting, karena penggelaran nanti tidak lurus, seperti Gambar
j. Jika pada pertengahan kecepatan fire hose menurun atau setelah ± 1
meter dari tempat penggelaran, tariklah female coupling agar fire hose
tersebut tegang dan tergelar lurus sampai bagian male coupling;
k. Fire hose siap digunakan.

Gambar 105 Cara Mengayun Fire Hose


Gambar 106 Cara Menggelar Fire Hose

2. Merelease Single Roll


a. Setelah fire hose digunakan, luruskan kembali fire hose tersebut;
Kemudian release-lah fire hose tersebut dari female coupling dengan cara
diangkat fire hose tersebut ke bahu hose man seperti Gambar
b. Hose man berjalan ke depan dengan tangan menarik fire hose dengan
jangkauan yang jauh dan posisi fire hose landai ke bawah sampai male
coupling seperti Gambar dan jangan sampai fire hose tertekuk curam;
c. Posisikan tangan lurus dan usahakan dalam melakukan release fire hose
posisi tangan lurus memanjang, agar release dapat dilakukan dengan
cepat;
d. Tujuan dari release ini adalah untuk membuang air yang ada dari dalam
fire hose dan memudahkan dalam menggulung fire hose.

Gambar 107 Cara Merelease Fire Hose


Gambar 108 Merelease Fire Hose Sampai Male Coupling

3. Menggulung Fire Hose


a. Luruskan fire hose setelah proses release dengan hoseman lainnya
menahan firehose di female coupling;
b. Gulunglah fire hose tersebut dari male coupling dengan posisi hoseman,
yaitu kaki lurus dan badan condong ke depan, posisi hoseman jangan
duduk dan bungkuk, sedangkan hoseman lainnya menahan fire hose di
female coupling seperti Gambar
c. Gulung fire hose secara perlahan agar gulungan fire hose rapat dan rapi
sehingga mudah untuk penggunaan selanjutnya, dengan bagian male
coupling di dalam dan bagian female coupling di luar sampai selesai
seperti Gambar
d. Rebahkanlah fire hose ke arah kanan setelah selesai digulung, agar fire
hose kembali ke posisi awal sebelum digelar seperti Gambar
e. Rapihkan gulungan dengan kencangkan fire hose setelah digulung dengan
menekan bagian tengah atau pusat gulungan dengan kaki bagian tumit
dan Tarik bagian ujung female coupling fire hose yang tidak tergulung
seperti Gambar

Gambar 109 Cara Awal Menggulung Fire Hose


Gambar 110 Teknik Menggulung Fire Hose Single Roll
Gambar 111 Hasil Gulungan Fire Hose Single Roll

4. Menggelar Double Roll


a. Penggelaran fire hose pada teknik double roll dilakukan dengan
pembagian tugas pada masing-masing petugas hose man. Salah satu Hose
Man berperan untuk memasang female coupling pada hydrant pilar,
sementara hose man lainnya berlari menarik male coupling menuju
nozzle man, mengingat pola penggulungan double roll yang mustahil
untuk dilakukan pelemparan;
b. Mengantarkan male coupling dengan berlari tentu akan lebih efektif dan
pasti, namun dalam proses membawa fire hose dengan menariknya,
badan fire hose akan terus mengalami pergesekan di atas aspal atau
tanah sehingga berisiko menyebabkan kerobekan;
c. Proses cara menggulung teknik double roll dengan 2 (dua) orang yaitu
dengan menyatukan kedua ujung atau male coupling dan female coupling
dimana male coupling berada di atasnya female coupling dengan jarak
antara ± 50 cm atau 2 panjang telapak kaki seperti Gambar
d. Salah satu hose man mulai menggulung dari sisi lipatan menuju kedua
coupling seperti Gambar
e. Hose man lainnya agak menarik dan mengangkat sedikit ke atas firehose
supaya lebih rekat gulungannya seperti Gambar
f. Hasil gulungannya seperti Gambar

5. Analisa dan Pembahasan

6. Kesimpulan dan Saran