Anda di halaman 1dari 29

c 


 

÷ ÷÷
 ÷ 
 
÷
     



 









  

÷
÷   

½   
   
           
  
  



 ÷
÷ ÷

Nyeri punggung bawah (NPB) adalah rasa nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah,
dapat menyebabkan, dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler maupun keduanya.
Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah
lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan
kaki. NPB yang lebih dari 6 bulan disebut kronik.


 ÷
÷ ÷÷ 
  


Anatomi tulang belakang perlu diketahui agar klinisi dapat menentukan elemen apa yang
terganggu pada timbulnya keluhan nyeri punggung bawah.

Tulang vertebrae merupakan struktur komplek yang secara garis besar terbagi atas 2 bagian.
Bagian anterior tersusun atas korpus vertebra, diskus intervertebralis (sebagai artikulasi), dan
ditopang oleh ligamnetum longitudinale anterior dan posterior. Sedangkan bagian posterior
tersusun atas pedikel, lamina, kanalis vertebralis, serta prosesus tranversus dan spinosus yang
menjadi tempat otot penyokong dan pelindung kolumna vertebrale. Bagian posterior vertebra
antara satu dan lain dihubungkan dengan sendi apofisial (faset).

Stabilitas vertebrae tergantung pada integritas korpus vertebra dan diskus intervertebralis
serta dua jenis jaringan penyokong yaitu ligamentum (pasif) dan otot (aktif). Untuk menahan
beban yang besar terhadap kolumna vertebrale ini stabilitas daerah pinggang sangat
bergantung pada gerak kontraksi volunter dan reflek otot-otot sakrospinalis, abdominal,
gluteus maksimus, dan hamstring.

Diskus intervertebralis, baik anulus fibrosus maupun nucleus pulposusnya adalah bangunan
yang tidak peka nyeri. Bagian peka nyeri adalah:

· Ôig. Ôongitudinale anterior


· Ôig. Ôongitudinale posterior
· corpus vertebra dan periosteumnya
· Articulatio zygoapophyseal
· Ôig. Supraspinosum.
· asia dan otot

÷ 
Page 1

 ÷ ÷÷
÷

 

Bangunan peka nyeri mengandung reseptor nosiseptif (nyeri) yang terangsang oleh berbagai
stimulus lokal (mekanis, termal, kimiawi). Stimulus ini akan direspon dengan pengeluaran
berbagai mediator inflamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme nyeri
merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan sehingga proses
penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme otot, yang
selanjutnya dapat menimbulkan iskemia.

Nyeri yang timbul dapat berupa nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya berbagai
mediator inflamasi; atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada sistem saraf.

Iritasi neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama, penekanan
hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang kaya nosiseptor dari nervi nevorum yang
menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut saraf dan bertambah dengan
peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan. Kemungkinan kedua, penekanan
mengenai serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi perubahan biomolekuler di mana terjadi
akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini menyebabkan timbulnya
mechano-hot spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal dan termal. Hal ini
merupakan dasar pemeriksaan Ôaseque.

÷÷

Keadaan-keadaan yang sering menimbulkan keluhan G    dapat dikelompokkan


sebagai berikut ( Macnab,1977):

1. Nyeri spondilogenik

1.1 Proses degeneratif

· degenerasi diskus :Gejala awal biasanya dibatasi dengan nyeri akut pada regio lumbal.
penyakit degenerasi pada diskus ini dapat menyebabkan Ê
 Ê
pada akhiran
syaraf pada keadaan ± keadaan tertentu seperti herniasi diskus, kompresi pada tulang
vertebra dan sebagainya.
· osteoarthrosis dan spondylosis :Kedua keadaan ini biasanya muncul dengan gambaran
klinis yang hampir sama, meskipun spondilosis mengarah pada proses degenerasi

÷ 
Page 2

dari diskus intervertebralis sedangkan osteoarthrosis pada penyakit di   ÊG
 
.
· ankylosing hyperostosis :Dikenal juga sebagai Ô Ê
Ê  ÊÊ ( Forestier dan
Ôagier,1971). Penyebab pastinya belum diketahui.Merupakan bentuk spondylosis
yang berlebihan, terjadi pada usia tua dan lebih sering pada penderita Diabetes
Melitus.

1.2 Ankylosing spondylitis

Ankylosing spondylitis sering muncul pada awal tahapan proses pertumbuhan ( pada laki ±
laki).

1.3 Infeksi

Proses infeksi ini termasuk infeksi pyogenik, osteomyelitis tuberkulosa pada vertebra,
typhoid , brucelosis, dan infeksi parasit. Sulitnya mengetahui onset dan kurangnya informasi
dari foto X-ray dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis 8 ± 10 minggu. Dengan
progresivitas dari penyakit, nyeri pinggang belakang dapat dirasa semakin meningkat
intensitasnya, menetap dan terasa saat tidur.

1.4 Osteokhondritis

Osteokhondritis pada vertebra (  Ê Ê   ÊÊ) sama seperti osteokhondritis pada


bagian selain vertebra. Ia mempengaruhi epiphyse pada bagian bawah dan bagian atas dari
vertebra lumbal.Gambaran radiologi menunjukan permukaan vertebra yang ireguler, jarak
antar diskus yang menyempit dan bentuk baji pada vertebra.

1.5 Proses metabolik

Penyakit metabolik pada tulang yang sering menimbulkan gejala nyeri pinggang belakang
adalah osteoporosis. Nyeri bersifat kronik,dapat bertambah buruk dengan adanya   
 
Ê .Gambaran radiologi terlihat adanya
G 
 dengan Ê GGÊ
G Ê pada
vertebra.

1.6 Neoplasma

Sakit pinggang sebagai gejala dini tumor intraspinal berlaku untuk tumor ekstradural di
bagian lumbal. 70 % merupakan metastase dan 30 % adalah primer atau penjalaran

÷ 
Page 3

perkontinuitatum neoplasma non osteogenik. Jenis tumor ganas yang cenderung untuk
bermetastase ke tulang sesuai dengan urutan frekuensinya adalah adenocarsinoma mammae,
prostat, paru, ginjal dan tiroid. Keluhan mula-mula adalah pegal di pinggang yang lambat
laun secara berangsur-angsur menjadi nyeri pinggang yang lambat laun secara berangsur-
angsur menjadi nyeri pinggang yang tidak tertahankan oleh penderita. Kadang metastase
yang masih kecil mendasari fraktur tulang lumbal oleh trauma yang tidak berarti sehingga
pada kasus-kasus dimana didapatkan ketidaksesuaian antara intensitas trauma dan derajat
fraktur maka kecurigaan ke arah keganasan perlu dipikirkan.

1.7 Kelainan struktur

Kongenital :Kelainan kongenital yang menimbulkan keluhan G  adalah :

Spondilolistesis

Suatu keadaan dimana terdapat pergeseran ke depan dan suatu ruas vertebra. Biasanya sering
mengenai Ô5. Keadaan ini banyak terjadi pada masa intra uterin. Keluhan baru timbul pada
usia menjelang 35 tahun disebabkan oleh kelainan sekunder yang terjadi pada masa itu,
bersifat pegal difus. Tapi spondilolistesis juga dapat terjadi oleh karena trauma.

Spondilolisis

Ialah suatu keadaan dimana bagian posterior ruas tulang belakang terputus sehingga terdapat
diskontinuitas antara prosesus artikularis superior dan inferior. Kelainan ini terjadi oleh
karena arcus neuralis putus tidak lama setelah neonatus dilahirkan. Sering juga terapat
bersama dengan spondilolistesis. Sama halnya dengan spondilolistesis, keluhan juga baru
timbul pada umur 35 tahun karena alasan yang sama.

Spina bifida

Adalah defek pada arcus spinosus lumbal/sakral akibat gangguan proses pembentukan
sehingga tidak terdapat ligamen interspinosus yang menguatkan daerah tersebut. Hal ini
menyebabkan mudah timbulnya lumbosacral strain yang bermanifestasis sebagai sakit
pinggang.

Ketiga kelainan di atas didiagnosis dari pemeriksaan rontgenologis.

Akuisita

÷ 
Page 4

1. sakit pinggang akibat sikap tubuh yang salah
2. sakit pinggang akibat trauma

!"#$"%&'"!

(i)Terbedolnya insersi otot erector trunci

Pada keadaan ini penderita dapat menunjuk daerah yang nyeri tekan pada darah tersebut.
(udem setempat dan hematom)

(ii) Ruptur ligamen interspinosum secara mutlak atau parsial mengakibatkan nyeri tajam
pada tempat ruptur yang makin berat jika pasien membungkuk. Ôokalisasi dan nyeri tekan
(+).

(iii) Fraktur corpus vertebra lumbal

Pada saat fraktur, penderita merasakan nyeri setempat yang kemudian dapat disertai radiasi
ke tungkai ( ÊÊ Ê ).

Diagnosa dapat ditegakkan dari photo rontgen dengan menentukan sifat dan derajatnya.
Gejala-gejala NPB sesuai dengan tempat yang patah.

 !"#$"(&)*+

Terdiri dari sakroiliak strain dan lumbosakral strain. Hal ini disebabkan daerah tersebut
merupakan penunjang utama dari tubuh dan aktivitas fisiknya. Kelainan terjadi karena daerah
tersebut bekerja terus-menerus. Keluhan utama berupa sakit pinggang yang bersifat pegal,
ngilu, ³panas´ pada bagian bawah pinggang. Tidak didapatkan nyeri tekan dan mobilitas
tulang belakang masih baik.

1. Spondilosis : spondiloartrosis deformans lumbal

Merupakan penyakit degenerasi dimana didapatkan rarefikasi korteks tulang, osteofit,


penyempitan/pelebaran, osteolisis, osteosklerosis, penyempitan jarak antar corpus vertebra
dan kadang fraktur kompresi. Penyebabnya multifaktorial dengan faktor herediter memegang
peranan penting.

÷ 
Page 5

Pada umumnya terjadi pada orang dengan umur 50 tahun ke atas dengan keluhan pegal,
ngilu, kaku, capek di seluruh daerah pinggang. Keluhan bertambah berat pada gerakan
pinggang terlebih setelah duduk atau berbaring.

2. Spinal stenosis

Adalah perubahan sekunder pada canalis vertebra dimana terjadi penyempitan ruang canalis
vertebra yang bermanifestasi sebagai nyeri radikuler pada waktu berjalan dengan sikap tegak
sehingga penderita berusaha meringankan sakitnya dengan membungkuk.

3. Nyeri viserogenik

Nyeri ini dapat muncul akibat gangguan pada ginjal, bagian viscera dari pelvis dan tumor ±
tumor peritoneum

4. Nyeri vaskulogenik

Aneurisma dan penyakit pembuluh darah perifer dapat memunculkan gejala nyeri. Nyeri pada
aneurisma abdominal tidak ada hubungannya dengan aktivitas dan nyerinya dijalarkan ke
kaki. Sedang pada penyakit pembuluh darah perifer, penderita sering mengeluh nyeri dan
lemah pada kaki yang juga diinisiasi dengan berjalan pada jarak dekat.

5. Nyeri neurogenik

Misal pada iritasi arachnoid dengan sebab apapun dan tumor ± tumor pada spinal duramater
dapat menyebabkan nyeri belakang.

6. Nyeri psikogenik

Pada ansietas, neurosis, peningkatan emosi , nyeri ini dapat muncul.

Nucleus pulposus memiliki konsistensi lembut, setidaknya pada masa kanak-kanak sampai
usia pertengahan, dan dapat mengalami protrusi melalui anulus fibrosus. Ini biasanya terjadi
di bagian lateral canalis spinalis. Pada stenosis spinalis (kanan bawah) terjadi perubahan
degeneratif hidropik dari facet dan penebalan ligamentum flavum yang dapat menyempitkan
kanalis spinalis di bagian tengah maupun lateral. Gambar di kiri menunjukkan
spondilolisis,di mana terjadi defek di pars articularis akibat fraktur atau kongenital; dan

÷ 
Page 6

spondilolistesis, di mana terjadi pergeseran posisi vertebra ke anterior terhadap vertebra lain
di bawahnya.

Nyeri punggung bawah dapat dibedakan berdasarkan penyebab mekanik, non-mekanik,


maupun sebab visceral seperti di bagian berikut.

Pada nyeri punggung bawah perlu diwaspadai adanya Red Flag, yaitu tanda dan gejala yang
menandai adanya kelainan serius yang mendasari nyeri. Red flags dapat diketahui melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Kelainan Red Flags


- Usia <20 tahun atau > 50 tahun

- Riwayat kanker

- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas


Kanker atau
infeksi
- Terapi imunosupresan

- Infeksi saluran kemih, IV drug abuse, demam, menggigil

- Nyeri punggung tidak membaik dengan istirahat


Fraktur vertebra - Riwayat trauma bermakna

- Penggunaan steroid jangka panjang

- Usia > 70 tahun


Sindroma kauda - Retensi urin akut atau inkontinensia overflow
ekuina atau
- Inkontinensia alvi atau atonia sfingter ani
defisit
neurologik berat
- Saddle anesthesia

- Paraparesis progresif atau paraplegia

"(,-!!*'*(-

Faktor risiko terjadinya NPB adalah usia, kondisi kesehatan yang buruk, masalah psikologik
dan psikososial, artritis degeneratif, merokok, skoliosis mayor (kurvatura >80o), obesitas,

÷ 
Page 7

tinggi badan yang berlebihan, hal yang berhubungan pekerjaan seperti duduk dan mengemudi
dalam waktu lama, duduk atau berdiri berjam-jam (posisi tubuh kerja yang statik), getaran,
mengangkat, membawa beban, menarik beban, membungkuk, memutar, dan kehamilan.

÷
 ÷  ÷
÷ 
÷

 

Diagnosis klinis NPB meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan neurologis serta
pemeriksaan penunjang

."$.&'*'

Dalam anamnesis perlu diketahui:

Awitan

Penyebab mekanis NPB menyebabkan nyeri mendadak yang timbul setelah posisi mekanis
yang merugikan. Mungkin terjadi robekan otot, peregangan fasia atau iritasi permukaan
sendi. Keluhan karena penyebab lain timbul bertahap.

Ôama dan frekuensi serangan

NBP akibat sebab mekanik berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan. Herniasi
diskus bisa membutuhkan waktu 8 hari sampai resolusinya. Degenerasi diskus dapat
menyebabkan rasa tidak nyaman kronik dengan eksaserbasi selama 2-4 minggu.

Ôokasi dan penyebaran

Kebanyakan NPB akibat gangguan mekanis atau medis terutama terjadi di daerah
lumbosakral. Nyeri yang menyebar ke tungkai bawah atau hanya di tungkai bawah mengarah
ke iritasi akar saraf. Nyeri yang menyebar ke tungkai juga dapat disebabkan peradangan sendi
sakroiliaka. Nyeri psikogenik tidak mempunyai pola penyebaran yang tetap.

Faktor yang memperberat/memperingan

Pada lesi mekanis keluhan berkurang saat istirahat dan bertambah saat aktivitas. Pada
penderita HNP duduk agak bungkuk memperberat nyeri. Batuk, bersin atau manuver valsava
akan memperberat nyeri. Pada penderita tumor, nyeri lebih berat atau menetap jika berbaring.

Kualitas/intensitas

÷ 
Page 8

Penderita perlu menggambarkan intensitas nyeri serta dapat membandingkannya dengan
berjalannya waktu. Harus dibedakan antara NPB dengan nyeri tungkai, mana yang lebih
dominan dan intensitas dari masing-masing nyerinya, yang biasanya merupakan nyeri
radikuler. Nyeri pada tungkai yang lebih banyak dari pada NPB dengan rasio 80-20%
menunjukkan adanya radikulopati dan mungkin memerlukan suatu tindakan operasi. Bila
nyeri NPB lebih banyak daripada nyeri tungkai, biasanya tidak menunjukkan adanya suatu
kompresi radiks dan juga biasanya tidak memerlukan tindakan operatif. Gejala NPB yang
sudah lama dan intermiten, diselingi oleh periode tanpa gejala merupakan gejala khas dari
suatu NPB yang terjadinya secara mekanis.

Walaupun suatu tindakan atau gerakan yang mendadak dan berat, yang biasanya
berhubungan dengan pekerjaan, bisa menyebabkan suatu NPB, namun sebagian besar episode
herniasi diskus terjadi setelah suatu gerakan yang relatif sepele, seperti membungkuk atau
memungut barang yang enteng.

Harus diketahui pula gerakan-gerakan mana yang bisa menyebabkan bertambahnya nyeri
NPB, yaitu duduk dan mengendarai mobil dan nyeri biasanya berkurang bila tiduran atau
berdiri, dan setiap gerakan yang bisa menyebabkan meningginya tekanan intra-abdominal
akan dapat menambah nyeri, juga batuk, bersin dan mengejan sewaktu defekasi.

Selain nyeri oleh penyebab mekanik ada pula nyeri non-mekanik. Nyeri pada malam hari bisa
merupakan suatu peringatan, karena bisa menunjukkan adanya suatu kondisi terselubung
seperti adanya suatu keganasan ataupun infeksi.

&$&!*('"".*'*(

÷.'&('*

Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat nyeri dan juga
bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis serta adanya skoliosis. Berkurang sampai
hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot paravertebral.

Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:

· áÊ
Ê 
 Ê G 

   

÷ 
Page 9

· 2
Ê  Ê ÊG  (back extension) seringkali menyebabkan nyeri pada tungkai
bila ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan artritis lumbal, karena
gerakan ini akan menyebabkan penyempitan foramen sehingga menyebabkan suatu
kompresi pada saraf spinal.
· ÔGÊÊÊ (forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri pada tungkai
bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang terinflamasi diatas suatu
diskus protusio sehingga meninggikan tekanan pada saraf spinal tersebut dengan jalan
meningkatkan tekanan pada fragmen yang tertekan di sebelahnya (jackhammer
effect).
· Ô     biasanya dapat ditentukan bila pasien disuruh membungkuk ke
depan ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke depan, ke suatu sisi atau ke lateral yang
meyebabkan nyeri pada tungkai yang ipsilateral menandakan adanya HNP pada sisi
yang sama.
· Ê    Ê
Ê  Ê ÊG  pada seorang dewasa muda menunjukkan
kemungkinan adanya suatu spondilolisis atau spondilolistesis, namun ini tidak
patognomonik.

"+"'*

Adanya nyeri (tenderness) pada kulit bisa menunjukkan adanya kemungkinan suatu keadaan
psikologis di bawahnya (psychological overlay).

Kadang-kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkan nyeri dengan menekan pada
ruangan intervertebralis atau dengan jalan menggerakkan ke kanan ke kiri prosesus spinosus
sambil melihat respons pasien. Pada spondilolistesis yang berat dapat diraba adanya ketidak-
rataan (step-off) pada palpasi di tempat/level yang terkena. Penekanan dengan jari jempol
pada prosesus spinalis dilakukan untuk mencari adanya fraktur pada vertebra. Pemeriksaan
fisik yang lain memfokuskan pada kelainan neurologis.

Refleks yang menurun atau menghilang secara simetris tidak begitu berguna pada diagnosis
NPB dan juga tidak dapat dipakai untuk melokalisasi level kelainan, kecuali pada sindroma
kauda ekuina atau adanya neuropati yang bersamaan. Refleks patella terutama menunjukkan
adanya gangguan dari radiks Ô4 dan kurang dari Ô2 dan Ô3. Refleks tumit predominan dari
S1.

÷ 
Page 10

Harus dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada hiperefleksia yang
menunjukkan adanya suatu gangguan Ê 
 Ê  (UMN). Dari pemeriksaan refleks
ini dapat membedakan akan kelainan yang berupa UMN atau ÔMN.

&$&!*('"".$-,-!*' harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua sisi
untuk menemukan abnormalitas motoris yang seringan mungkin dengan memperhatikan
miotom yang mempersarafinya.

&$&!*('"". '&.'-!*(  Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan


perhatian dari penderita dan tak jarang keliru, tapi tetap penting arti diagnostiknya dalam
membantu menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai dermatom yang terkena. Gangguan
sensorik lebih bermakna dalam menunjukkan informasi lokalisasi dibanding motoris.

"./"0,"./"&!".1'".1".$&.*.1&"+

Tanda Ôaseque: menunjukkan adanya ketegangan pada saraf spinal khususnya Ô5 atau S1.
Secara klinis tanda Ôaseque dilakukan dengan fleksi pada lutut terlebih dahulu, lalu di
panggul sampai 900 lalu dengan perlahan-lahan dan graduil dilakukan ekstensi lutut dan
gerakan ini akan menghasilkan nyeri pada tungkai pasien terutama di betis (tes yang positif)
dan nyeri akan berkurang bila lutut dalam keadaan fleksi. Terdapat modifikasi tes ini dengan
mengangkat tungkai dengan lutut dalam keadaan ekstensi (stright leg rising). Modifikasi-
modifikasi tanda laseque yang lain semua dianggap positif bila menyebabkan suatu nyeri
radikuler. cara laseque yang menimbulkan nyeri pada tungkai kontra lateral merupakan
tanda kemungkinan herniasi diskus.

Pada tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untuk menimbulkan nyeri makin besar
kemungkinan kompresi radiks sebagai penyebabnya. Demikian juga dengan tanda laseque
kontralateral. Tanda Ôaseque adalah tanda pre-operatif yang terbaik untuk suatu HNP, yang
terlihat pada 96,8% dari 2157 pasien yang secara operatif terbukti menderita HNP dan pada
hernia yang besar dan lengkap tanda ini malahan positif pada 96,8% pasien. Harus diketahui
bahwa tanda Ôaseque berhubungan dengan usia dan tidak begitu sering dijumpai pada
penderita yang tua dibandingkan dengan yang muda (<30 tahun).

Tanda Ôaseque kontralateral (contralateral Ôaseque sign) dilakukan dengan cara yang sama,
namun bila tungkai yang tidak nyeri diangkat akan menimbulkan suatu respons yang positif
pada tungkai kontralateral yang sakit dan menunjukkan adanya suatu HNP.

÷ 
Page 11

Tes Bragard: Modifikasi yang lebih sensitif dari tes laseque. caranya sama seperti tes laseque
dengan ditambah dorsofleksi kaki.

Tes Sicard: Sama seperti tes laseque, namun ditambah dorsofleksi ibu jari kaki.

Tes valsavaPasien diminta mengejan/batuk dan dikatakan tes positif bila timbul nyeri.

÷
 ÷  



Diagnosis banding dari NPB yang sering terjadi dapat dilihat tabel di bawah ini.

",*&., 11!"5",*.1
*'&"'&-! -)",*-. 4#"+*,2-3
"1& -!!&+*&5*.1 *1.'
)-./*,*-. -3"*. "*.
2&"!' 3"),-!'
Ôow back, Ôocal
Increased with
20 to buttock, tenderness,
Back strain Ache, spasm activity or
40 posterior limited spinal
bending
thigh motion
Sharp,
Decreased Positive straight
shooting or
Ôow back with standing; leg raise test,
Acute disc 30 to burning
to lower increased with weakness,
herniation 50 pain,
leg bending or asymmetric
paresthesia
sitting reflexes
in leg
Increased with Mild decrease in
Ache,
Ôow back walking, extension of
shooting
Osteoarthritis or to lower especially up spine; may have
>50 pain, ³pins
spinal stenosis leg; often an incline; weakness or
and needles´
bilateral decreased with asymmetric
sensation
sitting reflexes
Exaggeration of
the lumbar
Back, Increased with
Any curve, palpable
Spondylolisthesis posterior Ache activity or
age ³step off´
thigh bending
(defect between
spinous

÷ 
Page 12

processes), tight
hamstrings
Sacroiliac Decreased back
Ankylosing 15 to joints, Morning motion,
Ache
spondylitis 40 lumbar stiffness tenderness over
spine sacroiliac joints
Fever,
percussive
Ôumbar tenderness; may
Any Sharp pain,
Infection spine, Varies have neurologic
age ache
sacrum abnormalities or
decreased
motion
May have
Dull ache,
Increased with localized
Affected throbbing
Malignancy >50 recumbency or tenderness,
bone(s) pain; slowly
cough neurologic signs
progressive
or fever

÷
 ÷ 

"%-!",-!*#$

Pemeriksaan laboratorium rutin penting untuk melihat; laju endap darah (ÔED), kadar Hb,
jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.

&$&!*('""."/*-+-1*'

-,- !-.,1&. %*"'" (plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai
penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan degeneratif, dan tumor
spinal. Penyempitan ruangan intervertebral kadang-kadang terlihat bersamaan dengan suatu
posisi yang tegang dan melurus dan suatu skoliosis akibat spasme otot paravertebral.

 ')". adalah sarana diagnostik yang efektif bila vertebra dan level neurologis telah jelas
dan kemungkinan karena kelainan tulang.

÷ 
Page 13

÷ (akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada HNP dan akan menunjukkan berbagai
prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah ortopedi tetap memerlukan suatu EMG
untuk menentukan diskus mana yang paling terkena.

MRI sangat berguna bila:

· vertebra dan level neurologis belum jelas


· kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau jaringan lunak
· untuk menentukan kemungkinan herniasi diskus post operasi
· kecurigaan karena infeksi atau neoplasma

Mielografi atau cT mielografi dan/atau MRI adalah alat diagnostik yang sangat berharga
pada diagnosis NPB dan diperlukan oleh ahli bedah saraf/ortopedi untuk menentukan
lokalisasi lesi pre-operatif dan menentukan apakah adanya sekwester diskus yang lepas dan
mengeksklusi adanya suatu tumor.

 
÷
     

HNP adalah suatu keadaan di mana sebagian atau seluruh nukleus pulposus mengalami
penonjolan ke dalam kanalis spinalis.

Nukleus pulposus adalah gel viskus yang terdiri dari proteoglikan yang mengandung kadar
air yang tinggi. Nukleus pulposus memiliki fungsi menahan beban sekaligus sebagai
bantalan. Dengan bertambahnya usia kemampuan nukleus pulposus menahan air sangat
berkurang sehingga diskus mengerut, terjadi penurunan vaskularisasi sehingga diskus
menjadi kurang elastis. Pada diskus yang sehat, nukleus pulposus akan mendistribusikan
beban secara merata ke segala arah, namun nukleus pulposus yang mengerut akan
mendistribusikan beban secara asimetris, akibatnya dapat terjadi cedera atau robekan pada
anulus.

Manifestasi klinik HNP adalah sebagai berikut:

Ischialgia: Nyeri bersifat tajam, seperti terbakar, dan berdenyut sampai ke bawah lutut.

 ÷
÷ ÷

Kedua syaraf sciatic (n. Ischiadicus) adalah syaraf terbesar dan terpanjang pada tubuh.
masing-masing hampir sebesar jari. Pada setiap sisi tubuh, syaraf sciatic menjalar dari tulang

÷ 
Page 14

punggung bawah ,dibelakang persendian pinggul, turun ke bokong dan dibelakang lutut.
Disana syaraf sciatic terbagi dalam beberapa cabang dan terus menuju kaki. Ketika syaraf
sciatic terjepit, meradang, atau rusak, nyeri-sciatica-bisa menyebar sepanjang panjnag syaraf
sciatic menuju kaki. Sciatica terjadi sekitar 5% pada orang sciatic.

Ischialgia yaitu suatu kondisi dimana Saraf Ischiadikus yang mempersarafi daerah bokong
sampai kaki terjepit. Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor, yaitu antara lain:
kontraksi/ radang otot-otot daerah bokong, adanya perkapuran tulang belakang atau adanya
keadaan yang disebut dengan Herniasi Nukleus Pulposus (HNP), dan lain sebagainya.

Ketiga sebab yang kami sebutkan diatas adalah kasus yang banyak terjadi sehingga
menyebabkan Ischialgia. Untuk mengetahui penyebab pasti perlu dilakukan pemeriksaan
fisik secara seksama oleh dokter, jika perlu dilakukan pemeriksaan tambahan radiologi/
Rontgen pada tulang belakang. Gejala yang sering ditimbulkan akibat Ischialgia adalah:

· Nyeri punggung bawah.


· Nyeri daerah bokong.
· Rasa kaku/ terik pada punggung bawah.
· Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kestrum, yang dirasakan dari bokong menjalar
ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki, tergantung bagian saraf mana yang terjepit.
· Rasa nyeri sering ditimbulkan setelah melakukan aktifitas yang berlebihan, terutama
banyak membungkukkan badan atau banyak berdiri dan berjalan.
· Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang yang berat.
· Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan anggota badan
bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya otot-otot tungkai bawah
tersebut.

Ischialgia merupakan nyeri yang terasa sepanjang perjalanan nervus ischiadicus sampai ke
tungkai.

· Dapat timbul gejala kesemutan atau rasa baal.


· Pada kasus berat dapat timbul kelemahan otot dan hilangnya refleks tendon patella
(KPR) dan Achilles (APR).

÷ 
Page 15

· Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan defekasi, miksi dan
fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan neurologis yang memerlukan
tindakan pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi permanen.
· Nyeri bertambah dengan batuk, bersin, mengangkat benda berat, membungkuk akibat
bertambahnya tekanan intratekal.

Kebiasaan penderita perlu diamati, bila duduk maka lebih nyaman duduk pada sisi yang
sehat.

 

Sciatica biasanya mengenai hanya salah satu sisi. Yang bisa menyebabkan rasa seperti
ditusuk jarum, sakit nagging, atau nyeri seperti ditembak. Kekakuan kemungkinan dirasakan
pada kaki. Berjalan, berlari, menaiki tangga, dan meluruskan kaki memperburuk nyeri
tersebut, yang diringankan dengan menekuk punggung atau duduk.

  ÷ 


Untuk mengetahui seorang pasien mengalami ishialgia atau tidak biasanya ahli fisioterapi
memberikan beberapa tes salah satunya terapis mengagkat kaki yang mengalami nyeri jika
nyeri dirasakan bertambah hebat pada sudut 60 ± 70 derajat orang tersebut dikatakjan positif
ischialgia. Tes ini disebut Straight Ôeg Rising.


  

Seringkali, nyeri tersebut hilang dengan sendirinya. Istirahat, tidur diatas kasur yang keras,
menggunakan obat-obatan anti peradangan nonsteroidal (NSAID), dan mengompres panas
dan dingin kemungkinan pengobatan yang cukup. Untuk banyak orang, tidur pada sisi
mereka dengan lutut ditekuk dan sebuah bantal diantara lutut menghadirkan keringanan.
Meluruskan otot yang lumpuh secara pelan-pelan setelah pemanansan bisa membantu. Peran
fisioterapi pada kasus ini dapat membantu meringankan nyeri yang dirasakan. Modalitas yang
digunakan bisa efektif dengan heating yakni SWD (short Wave Diathermi),bisa juga
ditambah TENS untuk membantu memblokir nyerinya.

Penatalaksanaan

÷ 
Page 16

1. Obat-obatan: analgetik, NSAID, muscle relaxan, dsb.
2. Program Rehabilitasi Medik.
3. Operasi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat mengganggu aktifitas dimana
dengan obat-obatan dan program Rehabilitasi Medik tidak dapat membantu.

Program Rehabilitasi Medik bagi penderita adalah:


1. Terapi Fisik: Diatermi, Elektroterapi, Traksi lumbal, Terapi manipulasi, Exercise, dsb.
2. Terapi Okupasi: Mengajarkan proper body mechanic, dsb.
3. Ortotik Prostetik: Pemberian korset lumbal, alat bantu jalan, dsb.
4. Advis:
£ Hindari banyak membungkukkan badan.
£ Hindari sering mengangkat barang-barang berat.
£ Segera istirahat jika telah merasakan nyeri saat berdiri atau berjalan.
Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan kiri atau
menggunakan kursi kecil untuk menumpu kedua kaki.
£ Saat menyapu atau mengepel lantai pergunakan gagang sapu atau pel yang
panjang, sehingga saat menyapu atau mengepel punggung tidak membungkuk.
£ Jika hendak mengambil barang dilantai, usahakan punggung tetap lurus, tapi
tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut.
£ Ôakukan Back Exercise secara rutin, untuk memperkuat otot-otot punggung
sehingga mampu menyanggah tulang belakang secara baik dan maksimal.
£ Dll.

Menurut Deyo dan Rainville, untuk pasien dengan keluhan NPB dan nyeri yang dijalarkan ke
tungkai, pemeriksaan awal cukup meliputi:

1. Tes laseque
2. Tes kekuatan dorsofleksi pergelangan kaki dan ibu jari kaki. Kelemahan
menunjukkan gangguan akar saraf Ô4-5
3. Tes refleks tendon achilles untuk menilai radiks saraf S1
4. Tes sensorik kaki sisi medial (Ô4), dorsal (Ô5) dan lateral (S1)
5. Tes laseque silang merupakan tanda yang spesifik untuk HNP. Bila tes ini positif,
berarti ada HNP, namun bila negatif tidak berarti tidak ada HNP.

÷ 
Page 17

Pemeriksaan yang singkat ini cukup untuk menjaring HNP Ô4-S1 yang mencakup 90%
kejadian HNP. Namun pemeriksaan ini tidak cukup untuk menjaring HNP yang jarang di Ô2-
3 dan Ô3-4 yang secara klinis sulit didiagnosis hanya dengan pemeriksaan fisik saja.

&.","+"('"."".


Penatalaksanaan NPB diberikan untuk meredakan gejala akut dan mengatasi etiologi. Pada
kasus HNP, terapi dibagi berdasarkan terapi konservatif dan bedah.

&!"*(-.'&!5",*3

Tujuan terapi konservatif adalah mengurangi iritasi saraf, memperbaiki kondisi fisik pasien
dan melindungi dan meningkatkan fungsi tulang punggung secara keseluruhan. 90% pasien
akan membaik dalam waktu 6 minggu, hanya sisanya yang membutuhkan pembedahan.

Terapi konservatif untuk NPB, termasuk NPB akibat HNP meliputi:

1. Tirah baring

Tujuan tirah baring untuk mengurangi nyeri mekanik dan tekanan intradiskal, lama yang
dianjurkan adalah 2-4 hari. Tirah baring terlalu lama akan menyebabkan otot melemah.
Pasien dilatih secara bertahap untuk kembali ke aktivitas biasa.

Posisi tirah baring yang dianjurkan adalah dengan menyandarkan punggung, lutut dan
punggung bawah pada posisi sedikit fleksi. Fleksi ringan dari vertebra lumbosakral akan
memisahkan permukaan sendi dan memisahkan aproksimasi jaringan yang meradang.

2. Medikamentosa

i. Analgetik dan NSAID


ii. Pelemas otot: digunakan untuk mengatasi spasme otot
iii. Opioid: tidak terbukti lebih efektif dari analgetik biasa. Pemakaian jangka panjang
dapat menyebabkan ketergantungan
iv. Kortikosteroid oral: pemakaian masih menjadi kontroversi namun dapat
dipertimbangkan pada kasus HNP berat untuk mengurangi inflamasi.
v. Analgetik ajuvan: dipakai pada HNP kronis

Terapi fisik

÷ 
Page 18

Traksi pelvis

Menurut panel penelitian di Amerika dan Inggris traksi pelvis tidak terbukti bermanfaat.
Penelitian yang membandingkan tirah baring, korset dan traksi dengan tirah baring dan korset
saja tidak menunjukkan perbedaan dalam kecepatan penyembuhan.

Diatermi/kompres panas/dingin

Tujuannya adalah mengatasi nyeri dengan mengatasi inflamasi dan spasme otot. keadaan
akut biasanya dapat digunakan kompres dingin, termasuk bila terdapat edema. Untuk nyeri
kronik dapat digunakan kompres panas maupun dingin.

Korset lumbal

Korset lumbal tidak bermanfaat pada NPB akut namun dapat digunakan untuk mencegah
timbulnya eksaserbasi akut atau nyeri NPB kronis. Sebagai penyangga korset dapat
mengurangi beban diskus serta dapat mengurangi spasme.

Ôatihan

Direkomendasikan melakukan latihan dengan stres minimal punggung seperti jalan kaki,
naik sepeda atau berenang. Ôatihan lain berupa kelenturan dan penguatan. Ôatihan bertujuan
untuk memelihara fleksibilitas fisiologik, kekuatan otot, mobilitas sendi dan jaringan lunak.
Dengan latihan dapat terjadi pemanjangan otot, ligamen dan tendon sehingga aliran darah
semakin meningkat.

Ôatihan kelenturan

Punggung yang kaku berarti kurang fleksibel akibatnya vertebra lumbosakral tidak
sepenuhnya lentur. Keterbatasan ini dapat dirasakan sebagai keluhan ³kencang´.

Ôatihan untuk kelenturan punggung adalah dengan membuat posisi meringkuk seperti bayi
dari posisi terlentang. Tungkai digunakan sebagai tumpuan tarikan. Untuk menghasilkan
posisi knee-chest, panggul diangkat dari lantai sehingga punggung teregang, dilakukan fleksi
bertahap punggung bawah bersamaan dengan fleksi leher dan membawa dagu ke dada.
Dengan gerakan ini sendi akan mencapai rentang maksimumnya. Ôatihan ini dilakukan
sebanyak 3 kali gerakan, 2 kali sehari.

÷ 
Page 19

Ôatihan penguatan

Ôatihan pergelangan kaki: Gerakkan pergelangan kaki ke depan dan belakang dari posisi
berbaring.

Ôatihan menggerakkan tumit: Dari posisi berbaring lutut ditekuk dan kembali diluruskan
dengan tumit tetap menempel lantai (menggeser tumit).

Ôatihan mengangkat panggul: Pasien dalam posisi telentang, dengan lutut dan punggung
fleksi, kaki bertumpu di lantai. Kemudian punggung ditekankan lantai dan panggul diangkat
pelan-pelan dari lantai, dibantu dengan tangan yang bertumpu lantai. Ôatihan ini untuk
meningkatkan lordosis vertebra lumbal.

Ôatihan berdiri: Berdiri membelakangi dinding dengan jarak 10-20 cm, kemudian punggung
menekan dinding dan panggul direnggangkan dari dinding sehingga punggung menekan
dinding. Ôatihan ini untuk memperkuat muskulus kuadriseps.

Ôatihan peregangan otot hamstring: Peregangan otot hamstring penting karena otot hamstring
yang kencang menyebabkan beban vertebra lumbosakral termasuk pada anulus diskus
posterior, ligamen dan otot erector spinae. Ôatihan dilakukan dari posisi duduk, kaki lurus ke
depan dan badan dibungkukkan untuk berusaha menyentuh ujung kaki. Ôatihan ini dapat
dilakukan dengan berdiri.

Ôatihan berjinjit: Ôatihan dilakukan dengan berdiri dengan seimbang pada 2 kaki, kemudian
berjinjit (mengangkat tumit) dan kembali seperti semula. Gerakan ini dilakukan 10 kali.

Ôatihan mengangkat kaki: Ôatihan dilakukan dengan menekuk satu lutut, meluruskan kaki
yang lain dan mengangkatnya dalam posisi lurus 10-20 cm dan tahan selama 1-5 detik.
Turunkan kaki secara perlahan. Ôatihan ini diulang 10 kali.

Proper body mechanics: Pasien perlu mendapat pengetahuan mengenai sikap tubuh yang baik
untuk mencegah terjadinya cedera maupun nyeri.

Beberapa prinsip dalam menjaga posisi punggung adalah sebagai berikut:

£ Dalam posisi duduk dan berdiri, otot perut ditegangkan, punggung tegak dan lurus.
Hal ini akan menjaga kelurusan tulang punggung.

÷ 
Page 20

£ Ketika akan turun dari tempat tidur posisi punggung didekatkan ke pinggir tempat
tidur. Gunakan tangan dan lengan untuk mengangkat panggul dan berubah ke posisi
duduk. Pada saat akan berdiri tumpukan tangan pada paha untuk membantu posisi
berdiri.

£ Posisi tidur gunakan tangan untuk membantu mengangkat dan menggeser posisi
panggul.
£ Saat duduk, lengan membantu menyangga badan. Saat akan berdiri badan diangkat
dengan bantuan tangan sebagai tumpuan.
£ Saat mengangkat sesuatu dari lantai, posisi lutut ditekuk seperti hendak jongkok,
punggung tetap dalam keadaan lurus dengan mengencangkan otot perut. Dengan
punggung lurus, beban diangkat dengan cara meluruskan kaki. Beban yang diangkat
dengan tangan diletakkan sedekat mungkin dengan dada.

£ Jika hendak berubah posisi, jangan memutar badan. Kepala, punggung dan kaki harus
berubah posisi secara bersamaan.
£ Hindari gerakan yang memutar vertebra. Bila perlu, ganti wc jongkok dengan wc
duduk sehingga memudahkan gerakan dan tidak membebani punggung saat bangkit.

Dengan melakukan latihan setiap hari, atau setidaknya 3-4 kali/minggu secara teratur maka
diperkirakan dalam 6-8 minggu kekuatan akan membaik sebanyak 20-40% dibandingkan saat
NPB

&!"*-&!",*3

Terapi bedah berguna untuk menghilangkan penekanan dan iritasi saraf sehingga nyeri dan
gangguan fungsi akan hilang. Tindakan operatif HNP harus berdasarkan alasan yang kuat
yaitu berupa:

£ Defisit neurologik memburuk.


£ Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).
£ Paresis otot tungkai bawah.

Pada discectomy, sebagian dari discus intervertebralis diangkat untuk mengurangi tekanan
terhadap nervus. Ôaminectomy dapat dilakukan sebagai dekompresi.

÷ 
Page 21

   

1. Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek oleh Dr. T. Juwono, Dokter Ahli
Saraf, R.S.P.A.D Gatot Subroto.
2. Prof. Dr. Franco Postacchini¶s Ôumbar Disc Herniation , 1999, Department of
Orthopedic Surgery, University µ Ôa Sapienza¶.
3. Assessment of Back Pain ± Best Practice:
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/189/overview.html
4. Boos N, Weissbach S, Rohrbach H, et al. classification of age-related changes in
lumbar intervertebral discs: 2002 Volvo Award in basic science.  Ê. Dec
1 2002;27(23):2631-44.
5. Roberts S, Evans H, Trivedi J, Menage J. Histology and pathology of the human
intervertebral disc. j Êj 
  . Apr 2006;88 (suppl 2):10-4.
6. Weinstein JN, Ôurie JD, Tosteson TD, et al. Surgical vs nonoperative treatment for
lumbar disk herniation: the Spine Patient Outcomes Research Trial (SPORT)
observational cohort. j. Nov 22 2006;296(20):2451-9
7. Adams and Victor¶s Principle of Neurology 8th Edition, 2005, page 168 ± 179.

÷ 
Page 22

÷  ÷   

Seorang pasien perempuan berumur 58 tahun dirawat di bangsal Neurologi RSUP DR


M Djamil Padang pada tanggal 28 Desember 2010 dengan :

&+#6".,"$"

Nyeri pinggang menjalar ke pergelangan kaki sejak 7 hari sebelum masuk rumah
sakit.

*7"2",&.2"(*, &("!".1

· Nyeri pinggang menjalar ke pergelangan kaki kanan sejak 7 hari sebelum masuk
rumah sakit.
· Nyeri mulai dirasakan sejak 15 hari yang lalu dan bertambah nyeri pada 7 hari ini.
Nyeri terasa menjalar dari pinggang sampai pergelangan kaki. Nyeri dirasakan
bertambah jika pasien dalam posisi berbaring lurus dan berdiri. Nyeri dirasakan
berkurang pada saat pasien tidur berbaring miring ke kiri.
· Nyeri juga dirasakan bertambah pada saat batuk dan mengedan, keluhan ini juga
disertai dengan rasa kebas dan kesemutan.
· Kelemahan pada kedua tungkai tidak ada.
· Pasien sering mengangkat beban berat dari posisi bungkuk langsung ke posisi berdiri.
· Riwayat jatuh terduduk tidak ada.
· Pasien telah berobat ke Puskesmas Ôubuk Buaya sebanyak 5 kali dan diberi 3 macam
obat (pasien tidak tahu nama obat) tetapi keluhan tidak berkurang. Kemudian
Puskesmas merujuk pasien ke RSUP DR M Djamil Padang.
· Demam tidak ada.
· Riwayat batuk-batuk lama tidak ada.
· BAB dan BAK biasa.

*7"2",&.2"(*,"6#+#

Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

*7"2",&.2"(*, &+#"!1"

÷ 
Page 23

 Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit seperti pasien.

*7"2",&(&!8""./". &%*"'"".

Pasien seorag pedagang, kebiasaan mengangkat beban berat ada.

&$&!*('"".*'*(

Vital Sign :

KU Kesadaran T. Darah / mmHg Nadi / min Nafas / min Suhu / oc


Sedang cMc 130 / 70 84 x 21 x 36,5

Status Internus :

Kulit : Tidak tampak kelainan.

KGB : Tidak tampak pembesaran pada KGB di leher, aksila dan inguinal.

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik.

Ôeher :JVP 5-2 cmH2 O.

Thoraks : Paru : I : gerakan simetris pada statis dan dinamis

Pa : fremitus kiri sama dengan kanan

Per: sonor kiri dan kanan

Aus: vesikuler, Ronkhi -/-, Wheezing -/-

Jantung : I : ictus cordis tidak terlihat

Pa : ictus cordis teraba 1 jari medial ÔcMS RIc V

Per: batas jantung dalam batas normal

Aus: bunyi jatung murni, teratur, bising -, gallop ±

Perut : I : tidak tampak membuncit

Pa : supel, hepar dan lien tidak teraba

Per: timpani

÷ 
Page 24

Aus: timpani

Punggung : I : penonjolan ±

Pa : Nyeri tekan pada otot-oto samping vertebra Ô5

Per: Nyeri ketok -/-

Satuts Neurologis :

1. Tanda rangsangan meningeal : negative


2. Tanda peningkatan tekanan intracranial : negative
3. Nn. Kranial : Tidak ada kelainan
4. Motorik : Ekstremitas Superior Kanan Kiri

Gerakan aktif aktif

Kekuatan 555 555

Trofi eutrofi eutrofi

Tonus eutonus eutonus

Ekstremitas Inferior Kanan Kiri

Gerakan aktif aktif

Kekuatan 555 555

Trofi eutrofi eutrofi

Tonus eutonus eutonus

5. Sensorik : Hipoestesi daerah dermatom Ô 4-5


6. Otonom : BAK dan BAB terkontrol
7. Refleks fisiologis : Biseps : ++ / ++ Triseps : ++ / ++

KPR : ++ / ++ APR : + / ++

8. Refleks patologis : Babinsky : - / - Gordon :-/-


chaddock: - / - Oppenheim : - / -
9. Pemeriksaan lain : Ôaseque : + / - Naffzinger :+/-

Patrick : + / - Valsava :+/-

÷ 
Page 25

Kontra Patrick : + / -

*"1.-'*'

Diagnosis klinis : Ischialgia dextra

Diagnosis topic : Diskus Ô4-5

Diagnosis etiologi : susp. HNP Ô4-5

Diagnosis sekunder : -

*3&!&.'*"+*"1.-'*'

1. Discitis
2. Arthritis sakroiliaka
3. Spondilolistesis

&$&!*('"".&.#.8".1

1. Pemeriksaan laboratorium
2. Foto rontgen lumbosakral
3. Elektromielografi
4. Myelografi
5. cT Scan
6. MRI

&!"*

1. Umum :
a. Tirah baring selama 2-4 hari
b. Diet MB
2. Khusus :
a. Natrium diklofenat tablet 2 x 50mg
b. Neurodex 2 x 1 tablet

!-1.-'*'

 ±uo ad sanam : dubia at bonam

±uo ad vitam : bonam

÷ 
Page 26



29 Desember 2010 :

An/ : Nyeri pinggang bawah (+)

Pf/ :

KU Kesadaran T. Darah / mmHg Nadi / min Nafas / min Suhu / oc


Sedang cMc 120 / 80 84 x 24 x 36,8

Status Internus : Dalam batas normal

Status Neurologis : Stq

Terapi : Diet MB

Natrium diklofenat tablet 2 x 50mg

Neurodex 2 x 1 tablet

D/ : Ischialgia dextra

P/ : Tunggu hasil Rontgen Ôumbosakral

÷ 
Page 27

÷  ÷

Telah dilaporkan kasus seorang pasien perempuan, umur 58 tahun dirawat di bangsal
Neurologi RUSP DR M Djamil Padang dengan diagnosis klinis Ischialgia dextra e.c suspect
HNP.

Dari anamnesis didapatkan nyeri pinggang bawah menjalarke pergelangan kaki


kanan. Nyeri dirasakan bertambah jika pasien dalam posisi berbaring lurus dan berdiri juga
pada saat batuk dan mengedan. Nyeri dirasakan berkurang pada saat pasien tidur berbaring
miring ke kiri. Keluhan juga disertai dengan rasa kebas dan kesemutan.

Pemeriksaan neurologis menunjukan hasil yang positif ditemukan pada pemeriksaan


Ôaseque, Patrick, Kontra Patrick, Naffzinger dan Valsava pada tungkai kanan dan hasil
negative pada tungkai kiri. Hal ini menunjukkan suatu ischialgia sebagai perwujudan lesi
iritatif terhadap serabut radiks, termasuk di dalamnya adalah HNP.

Pada pemeriksaan sensorik, terdapat hipoestesi pada dermatom Ô4-5, hal ini
menunjukan suatu lesi perifer pada Ô4-5. Keadaan tersebut diperkuat dengan penurunan
refleks APR yang menggambarkan suatu manifestasi klinis dari HNP diskus Ô4-5.

Pada pasien ini belum bias ditegakkan diagnosis pasti karena belum didapatkan hasil
dari pemeriksaan penunjang.

Terapi umum pada pasien ini adalah tirah baring selama 2-4 hari dan diet MB. Untuk
terapi khususnya pasien diberikan Natrium diklofenat tablet 2 x 50mg dan neurodex 2 x 1
tablet.

÷ 
Page 28