Anda di halaman 1dari 5

TUGAS I

UNIVERSITAS TERBUKA
SEMESTER: 2020/21.1
MASA REGISTRASI 2020.2

Oleh : Pelangi Nidya Kurniarini


NIM : 0304030988
Mata Kuliah : Kewirausahaan

No Soal
1. Entrepreneur menggerakan roda perekonomian, terlebih dalam kondisi pandemik
seperti saat ini. Menurut Anda bagaimana karakteristik entrepreneur di Era milenial?
berikan contoh kasusnya.
2. Dalam menghadapi suatu risiko, gaya seorang entrepreneur bisa berlainan.
Apa yang Anda ketahui mengenai pengelompokan gaya entrepreneur? Berikan
contohnya dan kaitkan dengan teori.
3. Model motivasi antar entrepreneur bisa berbeda-beda.
Gambarkan dan jelaskan model motivasi entrepreneur.

Jawab:

1. Menjadi seorang entrepreneur merupakan kebanggaan tersendiri. Seorang entrepreneur


bisa menciptakan banyak lapangan kerja sehingga menjadi lebih bermanfaat bagi
lingkungan di sekitar. 

Meski begitu, untuk menjadi wirausahawan itu nyatanya tidak mudah. Agar dapat
menjadi seorang wirausahawan sukses, setidaknya kamu harus memiliki beberapa
karakteristik entrepreneur berikut ini:

a. Kerja keras

Kerja keras menjadi karakteristik entrepreneur sejati apalagi bagi mereka yang


baru membangun usaha. Banyak kisah menceritakan bahwa orang-orang sukses
tidak berasal dari keluarga kaya, melainkan berasal dari keluarga sederhana yang
dengan kerja kerasnya mampu membawa mereka menjadi sosok yang besar. 

Contohnya adalah sosok Jack Ma,  founder Alibaba Group yang berasal dari


keluarga miskin dengan banyak kegagalan dalam hidup. Ia pernah mengalami 10
kali penolakan saat mendaftarkan beasiswa Harvard. Ia juga pernah ditolak

.
berkali-kali saat hendak melamar kerja.  Tetapi penolakan-penolakan ini tidak
menjadi halangan untuk Jack Ma. Kini kita bisa lihat dengan kerja kerasnya Jack
Ma berhasil menjadi orang sukses dan bahkan menjadi salah satu miliuner di
negeri tirai bambu. 

b. Ulet 

Ulet dan pekerja keras nampaknya dua hal yang saling berdampingan. Tidak
mungkin rasanya seseorang yang ulet tetapi dia tidak memiliki karakter pekerja
keras. 

Perlu diingat bahwa, entrepreneur yang sukses kebanyakan tidak mudah berhenti


di tengah jalan saat menghadapi kesulitan bisnis. Justru mereka terus berupaya
untuk mencari solusi dan tetap bertahan di keadaan buruk sekalipun.  Seperti
pepatah mengatakan,”When thec going gets tough, the tough get going,” artinya
ketika keadaan menjadi sulit yang kuat akan bekerja lebih keras untuk memenuhi
tantangan. 

c. Kreatif  

Setelah dua karakteristik entrepreneur di atas, karakteristik lain yang harus


dimiliki seorang usahawan yakni kreatif atau berpikir  out of the box. Hal ini
karena banyak kesuksesan entrepreneur berawal dari sebuah ide yang tidak
terpikirkan oleh orang lain. Ide-ide tersebut mereka dapatkan melalui masalah
sehari-hari yang kerap mereka temui.

Contohnya Nadiem Makarim yang merupakan ex CEO Gojek. Awal kesuksesan


Gojek berasal dari permasalahan ojek pangkalan yang tidak fleksibel dalam
bekerja, sehingga Nadiem menciptakan solusi untuk mempertemukan ojek dengan
penumpangnya menjadi lebih mudah.

d. Berorientasi pada masa depan

Rata-rata entrepreneur berpikir untuk masa depan, begitupun dengan jenis usaha


yang mereka lakoni. Mereka bukan membuat bisnis yang hanya dapat bertahan
dalam hitungan bulan atau tahun. Tetapi model bisnis yang sustainable bisa
diteruskan oleh generasi ke generasi lainnya. 

Banyak perusahaan besar di Indonesia yang bisa kita contoh, seperti perusahaan
Indofood yang sudah diambil alih oleh anak dan cucu dari keturunan Sudono
Salim selaku founder perusahaan. Selain itu, ada juga Bakrie Group yang kini
usahanya banyak dijalankan oleh anaknya yakni Anindya Bakrie selaku CEO di
beberapa perusahaan. Maka dari itu, kelak saat kamu memikirkan suatu bisnis
pikirkanlah agar bagaimana bisnismu dapat berjalan dan dilanjutkan oleh
keturunanmu. 

.
e. Persuasif 

Ciri lain dari entrepreneur sukses adalah mampu mempengaruhi orang lain.


Kamu harus tahu bagaimana cara menjadi ramah dan membuat orang lain
mendengarkanmu serta tertarik dengan produk yang kamu jual. Apalagi bila ide
usaha itu terbilang baru di masyarakat dan mungkin banyak orang yang
meremehkannya. Itu artinya kamu perlu meyakinkan orang lain bahwa produkmu
bagus dan layak untuk dibeli. Oleh karena itu, di saat-saat seperti ini dukungan
keluarga menjadi sangat penting ketika kamu membangun usaha. Lantaran respon
baik dari keluarga akan membuatmu berani memperkenalkan ide bisnis ke
masyarakat yang lebih luas.

2. Pengelompokan gaya entrepreneur dalam menghadapi resiko


a. Risiko finansial
Hampir dalam semua perintisan usaha baru, terdapat seseorang yang
mempertaruhkan uanganya, yang mungkin saja akan hilang lenyap sepenuhnya apabila
usaha baru tersebut gagal. Entrepreneur sering kali dituntut untuk mempertaruhkan
kewajiaban perusahaan, yang sebenarnya jauh lebih besar daripada seluruh harta
pribadinya , sehingga sebenarnya para entrepreneur berpeluang menjadi seorang pailit.
Karena itu wajar saja apabila banyak orang yang tidak bersedia menjadi seorang
entrepreneur karena tidak rela mempertaruhkan harta simpanannya, rumah tinggal, serta
uang untuk memulai sebuah usaha baru.
b. Risiko karier
Calon entrepreneur sering kali mempertanyakan apakah mereka akan dapat
mencari pekerjaan baru atau kembali ke pekerjaan mereka semula apabila usaha mereka
ternyata gagal. Hal yang sering kali menjadi pertimbangan dan hambatan bagi karyawan
yang memiliki pekerjaan yang aman dan bergaji tinggi untuk menjadi entrepreneur.
c. Risiko keluarga dan sosial
Memulai usaha baru sangat menguras waktu dan energy yang dimiliki oleh
seorang entrepreneur, sehingga sering mengganggu kewajiabannya yang lain.
Enterpreneur yang sudah berkeluarga kadang-kadang terpaksa mengabaikan keluarganya
sehingga bisa menimbulkan “cacat emosional” yang permanen. Selain itu, pertemanan
mereka juga sering terganggu karena entrepreneur selalu disibukan oleh pekerjaannya.
d. Risiko kejiwaan
Boleh jadi, risiko paling besar bagi entrepreneur adalah dalam aspek kejiwaan.
Uang bisa diganti, rumah baru bisa dibangun, keluarga dan teman mungkin bisa
memaklumi kesibukan seorang entrepreneur. Tetapi, dampak psikologis yang dihadapi
entrepreneur yang pernah gagal sering kali tidak bisa segera disembuhkan dan akhirnya
kebanyakan berakibat buruk .
e. Stres seorang entrepreneur

.
Secara umum stres dianggap sebagai akibat dari kesenjangan anatara harapan dan
tingkata kemampun seseorang untuk memenuhi permintaan. jika seseorang tidak mampu
memenuhi tuntutan perannya maka bisa menjadi stress .

3. Model motivasi entrepreneur.

Pembandin Manfaat
gan hasil / instrinsik /
ekspektasi ekstrinsik

KP LP SP
K
Keputusan
untuk Strategi
menjadi Hasil yang
Manajemen
atau berlaku
entrepreneur entrepreneur dicapai
sebagai perusahaan
entrepreneur
L Gagasan
U

Persepsi
terhadap
hasil /
implemen
tasi

KP = Karakteristik Pribadi
LP = Lingkungan Pribadi
SP = Sasaran Pribadi
LU = Lingkungan Usaha

Keputusan untuk berkelakuan sebagai entrepreneur merupakan hasil interaksi berbagai


faktor. Salah satu kumpulan faktor yang terlibat menyangkut katakteristik pribadi individu,
lingkungan pribadi dan lingkungan usaha yang relevan, sasaran pribadi, dan adanya gagasan
yang memang layak dikembangkan. Seorang calon entrepreneur akan membandingkan perkiraan
hasil yang akan diperoleh dengan harapan pribadinya. Berikutnya, ia akan mencoba melihat
hubungan antara perilaku sebagai entrepreneur yang akan dijalankannya dengan hasil yang
diharapkan.
Menurut model ini, harapan entrepreneur akan dibandingkan dengan hasil actual yang
diperoleh perusahaan. Perilaku entrepreneur dimasa depan bergantung pada hasil pembandingan
ini. Apabila hasil yang diperoleh mampu menyamai atau melebihi harapan, maka perilaku
entrepreneur akan terdorong untuk menjadi kuat dan akan termotivasi untuk tetap berperilaku
sebagai entrepreneur, baik melalui usahanya yang sedang berjalan atau melalui usaha baru,

.
tergantung sasaran yang ia inginkan. Apabila hasil yang diperoleh gagal memenuhi harapannya,
motivasi entrepreneur akan berkurang, menurun, dan bisa mempengaruhi terhadap minatnya
untuk tetap berkelakuan sebagai entrepreneur. Persepsi semacam ini juga akan berpengaruh
terhadap corak strategi dan implementasinya dan juga corak manajemen atau pengelolaan
perusahaan.