Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagaimana diamantakan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945, wilayah
kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi lagi
atas daerah kabupaten dan kota, yang masing-masing sebagai daerah otonom. Sebagai
daerah otonomi, daerah provinsi dan kabupaten/kota memiliki pemerintahan daerah yang
melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan daerah, yakni Pemerintahan Daerah dan
DPRD. Kepala daerah adalah kepala pemerintahan daerah baik di wilayah provinsi
maupun kabupaten/kota, sedangkan DPRD merupakan lembaga legislative di daerah baik
di wilayah provinsi maupun kabupaten/kota. Keduanya dinyatakan sebagai unsur
penyelenggaraan pemerintahan di daerah.
Sejalan dengan sistem desentralisasi, sejak tahun 2005 Pemilihan Kepala Daerah
(PILKADA) dilaksanakan secara langsung. Hal ini dilakukan sebagai koreksi terhadap
sistem demokrasi yang tidak langsung (perwakilan) di era sebelumnya, dimana kepala
daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh DPRD, menjadi demokrasi yang berakar
langsung pada pilihan rakyat. Melalui pemilihan kepala daerah, masyarakat sebagai
pemilih berhak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati
nuraninya dalam memilih kepala daerah. Dengan harapan agar kepala daerah yang
terpilih dapat mensejahterahkan masyarakat di daerahnya.
Kota Malang sendiri menjadi salah satu kota yang akan mengikuti pesta demokrasi
serentak ini, tepatnya pada tanggal 27 Juni 2018. Namun berbeda dari pilkada
sebelumnya, pilkada tahun ini diwarnai oleh 2 calon walikota malang yaitu H. Moch
Anton yang akrab disapa Abah Anton dan Ya’qud Ananda Gudban yang akrab disapi
Nanda menjadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan calon walikota nomor
urut 3 yaitu Drs H Sutiaji yang masih dalam proses penyidikan. Pemerintahan Kota
Malang sendiri selama beberapa periode tidak pernah mengalami kasus dengan KPK,
namun sungguh disayangkan tahun ini harus terkena yang menjadikan masyarakat Kota
Malang bersedih. Masyarakat Kota Malang saat ini masih ragu memilih dan akan
terancam golput. Tetapi meskipun ditetapkan sebagai tersangka, pasangan nomor 1 yaitu
dan Nanda dan Wanedi dan pasangan nomor 2 yaitu Abah Anton dan Mas Syamsul

1
masih berusaha merebut hati masyarakat dengan berkampanye guna melawan pasangan
nomor 3 yaitu Mas Aji dan Bung Edi.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan pilkada?
1.2.2 Bagaimana latar belakang ketiga calon walikota dan wakil walikota di Kota
Malang?
1.2.3 Bagaimana kelangsungan kampanye dari dua pasangan calon yang menjadi
tersangka KPK?
1.2.4 Bagaimana elaktibilitas dari ketiga pasangan calon pilkada Kota Malang?
1.2.5 Bagaimana upaya KPU Kota Malang menghadapi rendahnya tingkat partisipasi
masyarakat Kota Malang terhadap pilkada tahun ini?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian pilkada.
1.3.2 Untuk mengetahui latar belakang ketiga pasangan calon walikota dan wakil
walikota di Kota Malang.
1.3.3 Untuk mengetahui kelangsungan kampanye dari dua pasangan calon yang menjadi
tersangka KPK.
1.3.4 Untuk mengetahui elaktibilitas dari ketiga pasangan calon pilkada Kota Malang.
1.3.5 Untuk mengetahui upaya KPU Kota Malang menghadapi rendahnya tingkat
partisipasi masyarakat Kota Malang terhadap pilkada tahun ini.

2
BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL

PILKADA KOTA MALANG


(TAHUN 2018)

2 DARI 3 CALON
KPK MENYERANG
WALIKOTA TERSANGKA

LANJUTAN KAMPANYE 2
KEPADA SIAPA RAKYAT PASANGAN CALON
PERCAYA ? WALIKOTA YANG MENJADI
TERSANGKA

Keterangan:

Tahun 2018 menjadi tahun yang dinantikan oleh masyarakat Kota Malang karena
masyarakat dapat merayakan pesta demokrasi. Namun berbeda dengan pilkada tahun-tahun
sebelumnya, tahun 2018 ini 2 dari 3 pasangan calon walikota menjadi tersangka Komisi
Pemberantasan Korupsi. 2 calon tersebut adalah Nanda yang saat ini menjabat sebagai
pimpinan DPRD Kota Malang dan Abah Anton yang saat ini menjabat sebagai walikota Kota
Malang. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka KPK dengan tuduhan yaitu Abah Anton
diduga memberikan hadiah atau janji kepada anggota DPRD yang sebelumnya telah
ditetapkan sebagai kasus suap pembahasan P-APBD Kota Malang Tahun Anggaran 2015 ,

3
dan Nanda dengan tuduhan menerima suap terkait hal yang sama yaitu pembahasan P-APBD
Kota Malang Tahun Anggaran 2015.

Hal ini membuat masyarakat Kota Malang tidak dapat menentukan pilihannya.
Karena sebelum adanya berita mengenai penangkapan 2 calon walikota ini , masyarakat
sudah mendukung kedua pasangan calon walikota ini. Kini pendukung dari Abah Anton dan
Nanda merasa kebingungan untuk memilih siapa. Tidak sedikit juga yang akan golput
pilkada tahun ini. Oleh karena itu KPU Kota Malang gencar melakukan sosialisasi kepada
masyarakat agar mereka menggunakan hak pilihnya dengan bijak. Selain dari peran KPU,
para pasangan calon juga melakukan kampanye dengan cara yang berbeda-beda untuk
menarik perhatian masyarakat.

4
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)

Berpedoman pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat Pemilihan kepala daerah secara
langsung diartikan sebagai pemilihan oleh rakyat secara langsung. Mayoritas suara
terbanyak menjadi acuan pemenang pada pilkada tersebut serta pemilihan oleh rakyat
secara langsung serentak dilaksankan di seluruh daerah 1.. Pada sistem atau mekanisme ini
ada dampak positif dan negatif yang harus di uraikan terkait dengan efisiensi dan
efektivitas pemilihan umum kepala daerah langsung yang telah berjalan selama ini.
Wasistiono berpendapat bahwa terdapat kelebihan Pilkada secara langsung sebagai
berikut:2
a. Demokrasi langsung makna kedaulatan di tangan rakyat akan Nampak secara nyata;
b. Akan diperoleh kepala daerah yang mendapat dukungan luas dari rakyat sehingga
memiliki legitimasi yang kuat. Pemerintah Daerah akan kuat karena tidak mudah
diguncang oleh DPRD;
c. Melalui Pilkada secara langsung, suara rakyat menjadi sangat berharga. Dengan
demikian kepentingan rakyat memperoleh perhatian yang lebih besar oleh siapapun
yang berkeinginan mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah.
Selain dampak positif atau kelebihan pasti ada pula dampak negatif atau
kekurangan dari Pilkada langsung. Menurut Wastisono kekurangan Pilkada Langsung
adalah:3
a. Kecenderungan memerlukan biaya yang besar Berbagai pengorbanan baik uang
maupun nilai-nilai yang terdapat didalam masyarakat, seolah-olah demokrasi adalah
segala-galanya tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan manfaat dan akibat.
Individualis dan matrealistis seakan menjajah dan mengikis nilai-niai pancasila pada
jiwa sebagian bangsa. Pelaksanaan pemilihan calon Kepala Daerah harus kampanye
1
Hendra Budiman, 2015. Pilkada Tidak Langsung dan Demokrasi palsu, Yogyakarta :Pustaka Yustisia, Hal. 161.
2
Sadu Wasistisiono. 2005. Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Menurut Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004 Dan Dampaknya Secara Politis, Hukum, Pemerintahan Serta Sosial Ekonomi. Indramayu. Bahan
Diskusi Panel PPMP dan Alumni Universitas Satyagama.
3
Wasistiono, S., & Sumihardjo, 2003. T. Kapita selekta : manajemen Pemerintahan Daerah. Bandung: Vokus
Media. Hal.122.

5
langsung menghadapi rakyat pemilih, baik secara fisik (door to door) maupun melalui
media masa. Hanya calon yang memiliki cadangan dana yang besar atau didukung
oleh sponsor saja yang mungkin akan ikut maju ke Pilkada;
b. Mengutamakan figur publik (public figure) atau aspek akseptabilitas saja, tetapi
kurang memperhatikan kapabilitasnya untuk memimpin organisasi maupun
masyarakat;
c. Kemungkinan akan terjadi konflik horisontal antar pendukung apabila kematangan
politik rakyat di suatu daerah belum cukup matang. Pada masa lalu, rakyat sudah
terbiasa dengan menang-kalah dalam berbagai pemilihan. Tetapi pada masa orde baru
Pilkada penuh dengan rekayasa, sehingga sampai saat ini rakyat masih belum percaya
(distrust) pada sistem yang ada
3.2 Latar belakang calon walikota dan calon wakil walikota Kota Malang

Tahun 2018 ini Kota Malang memiliki 3 pasangan calon walikota dan wakil walikota
yaitu :

1. Ya’qud Ananda Gudban dan H.Wanedi yang memiliki slogan Ayo Noto Malang dan
diusung 4 partai yaitu : PDIP, Hanura, PAN, dan PPP
2. H. Anton dan H.Syamsul Mahmud yang memiliki slogan Malang Asik, Malang Apik
dan diusung 3 partai yaitu : PKS, Gerindra, dan PKB
3. Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko yang memiliki slogan Malang Sae dan diusung 2
partai yaitu Partai Demokrat dan Partai Golkar

Sebelum membahas mengenai pilkada Kota Malang lebih lanjut pemakalah akan
menjelaskan mengenai latar belakang dari 3 pasangan calon walikota dan calon wakil
walikota Kota Malang:

1. Ya’qud Ananda Gubhan


Nama Dr. Ya’qud Ananda Gudban, SS., SST.Par.,MM, sudah tak asing lagi dalam
kancah perpolitikan di Kota Malang. Anggota DPRD Kota Malang periode 2009-2014
dan 2014-2019 itu terkenal aktif terjun ke masyarakat untuk mengetahui langsung
problematika, sembari mencari solusinya. Nanda, sapaan akrabnya, juga aktif malang
melintang di sejumlah organisasi. Ia dipercaya menjadi Ketua Kaukus Perempuan Politik

6
Indonesia Malang, Ketua Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KoPPI) dan yang
paling bergengsi, yakni dipercaya menjabat sebagai Wakil Sekertaris Jenderal Asosiasi
DPRD Seluruh Indonesia (Adeksi)4.
Di legislatif, Nanda menjabat sebagai Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah
serta Anggota Komisi B DPRD Kota Malang. Dalam menjalankan tugasnya Nanda selalu
memegang amanah, sehingga pengawalan akan kebijakan Pemerintah Kota Malang
khususnya dalam bidang ekonomi menjadi lebih baik dan terarah. Hal itu, sejalan dengan
kenaikan tingkat ekonomi dan rendahnya angka inflasi. Bukan itu saja, Nanda juga
terbilang aktif memberikan saran dan masukan kepada pemerintah untuk pembangunan
yang lebih baik di masa mendatang. Melihat prestasi Nanda selama perjalanan karirnya,
tak heran jika banyak masyarakat dan partai politik yang bersedia menggandeng Nanda
dalam politik tahun ini. Namun sangat disayangkan saat ini Nanda harus dipenjara karena
kasus suap yang menimpa dirinya.
2. H. Wanedi
Nama Wanedi sendiri masih asing di telinga masyarakat Kota Malang. Ahmad
Wanedi merupakan tokoh lama dari PDI-P Kota Malang. Ia merupakan Pengurus cabang
pertama kali, yang sudah diklat kader madya. Wanedi juga merupakan salah satu utusan
kongres DPP Pusat dari DPC Kota Malang. Wanedi termasuk senior dan pejuang awal
partai. Ia pun sudah lama menjadi perbincangan di kalangan elit politik. Wanedi juga
merupakan salah satu kader terbaik PDIP Kota Malang. Semasa mahasiswanya ia aktif di
Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan komunitas yang
berhaluan nasionalis.5
3. H.Anton

Hidup bagaikan roda yang berputar, kadang seseorang berada di atas namun ada
kalanya di bawah. Peribahasa tersebut juga cocok menggambarkan roda kehidupan Haji
Mochammad Anton, Walikota Malang. Sebelum menjabat sebagai Walikota dan juga
pengusaha sukses penyuplai tetes tebu ke perusahaan besar di Indonesia, Anton pernah
4
Anonym,2018.” Ya’qud Ananda Gubhan Legislator Cantik, Peraih Gelar Doktor” Diakses dari
http://politikamalang.com/yaqud-ananda-gudban-legislator-cantik-peraih-gelar-doktor/ 27 Mei 2018
5
Sinergy Aditya.2018. “Mengenal Lebih Dalam Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Malang di Pilkada
2018” Diakses dari https://nusantara.news/mengenal-lebih-dalam-calon-walikota-dan-wakil-walikota-malang-
di-pilkada-2018/ 27 Mei 2018

7
melakoni beragam profesi mulai dari sales hingga sopir. M Anton sendiri merupakan
salah satu alumni mahasiswa S-1 Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan ITN Malang.
Dalam dunia organisasi ia pernah menjabat sebagai Bendahara NWC NU Kecamatan
Lowokwaru, kemudian naik menjadi Bendahara PCNU Kota Malang 2011-20163. Ia pun
juga tergabung di Perkumpulan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya.
Sementara itu dalam dunia usaha M Anton juga menjadi Pembina Koperasi Petani Tebu
wilayah kerja Jawa Tengah dan Jawa Timur.6
Abah Anton sendiri mempunyai banyak dukungan dari warga Kota Malang. Hal ini
karena masyarakat Kota Malang merasakan hasil kerja Abah Anton. Salah satunya adalah
jalanan yang diperbaiki, sistem jalan yang bisa mengurangi kemacetan,dan
pembangunan taman kota yang lebih indah dan nyaman. Jalanan Kota Malang seringkali
dilalui oleh banyak kendaraan yang bermuatan berat, oleh karena itu tak heran jika di
Kota Malang banyak jalan yang berlubang dan tidak rata. Namun pemerintahan Kota
Malang saat Abah Anton lebih cepat tanggap dalam menangani masalah ini daripada
walikota periode sebelumnya. Sistem jalan yang bisa mengurangi kemacetan seperti di
Jalan Soekarno-Hatta, dimana menutup perempatan jalan yang terbukti bisa mengurangi
kemacetan hingga 30% dari biasanya. Dan pembangunan taman-taman kota membuat
masyarakat senang karena merasa mempunyai hiburan dan diperhatikan.
4. H.Syamsul Mahmud
Nama Syamsul Mahmud mencuat sebagai orang yang akan disandingkan dengan
Abah Anton dalam pilkada Kota Malang 2018 pada 11 Desember 2017 lalu. Selama ini
namanya memang nyaris tak pernah muncul di media. Syamsul merupakan seorang
pengusaha properti di daerah Pasuruan yang juga kader Nahdlatul Ulama (NU). Syamsul
selama ini dikenal dengan Abah Anton. Dan juga Syamsul adalah orang yang sangat
dipercaya oleh Abah Anton. Syamsul juga dinilai mampu menyumbangkan pemikiran
baru bagi Anton dalam menjalankan roda pembangunan. Keakraban dari kedua pasangan
ini menjadi keuntungan tersendiri bagi PKB karena keduanya bisa saling mendukung
dalam menjalankan pemerintahan.
5. Sutiaji

6
Dewi Ratna. 2018. “Abah Anton , Walikota Kota Malang yang Dulunya Pernah Jadi Sales dan Sopir” Diakses
dari https://www.merdeka.com/pendidikan/abah-anton-walikota-malang-yang-dulunya-pernah-jadi-sales-
dan-sopir.html. 28 Mei 2018

8
Sutiaji sendiri merupakan pria asal Lamongan. Namun telah menetap lama di Jl. MT
Haryono V/254 Dinoyo, Lowokwaru semenjak ia kuliah di IAIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, yang kini menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia berkuliah di Fakultas
Tarbiyah (FT) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, semenjak ia kuliah ia aktif di
organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Malang, bahkan ia
merupakan salah satu pengagas Rayon Fakultas Tarbiyah FT UIN Malang Maulana
Malik Ibrahim.Selepas ia menjadi mahasiswa pun dirinya juga masih aktid di beberapa
organisasi yakni pernah menjabat sebagai Koordinator BKM Lowokwaru, kemudian
menjadi Sekretaris MWC NU Lowokwaru, Kota Malang, hingga ditunjuk sebagai Wakil
Sekretaris NU Cabang Kota Malang.
Ia pun pernah menjadi Wakil Ketua NU Cabang Kota Malang 2011-2016, yang
kemudian menjadi Ketua Fraksi PKB di DPRD Kota Malang. Di partai ia pernah menjadi
Wakil Ketua DPC PKB Kota Malang 2013-2018. Disela kesibukkannya ia juga
menyempatkan berorganisasi di masjid dan masyarakat salh satunya pernah menjadi
Bendahara Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Malang dan menjadi Koordinator
Forum Komunikasi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kota Malang. Jabatan
terakhir sebelum ia menjadi Wakil Walikota Malang, ia pernah menjadi Anggota DPRD
Kota Malang Fraksi PKB.
6. Sofyan Edi Jarwoko
Sofyan Edi Jarwoko, ia merupakan Ketua DPC Partai Golkar Kota Malang. Sofyan
merupakan kader terbaik dari Partai Golkar Kota Malang, rekanan dari Anggota DPR RI,
Ridwan Hisjam. Pria alumnus Universitas Merdeka Malang, pernah menjadi Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang. Pria asal malang tersebut
sedari mahasiswa aktif di organisasi dan komunitas yang berhaluan nasionalis, oleh
karenannya kerap julukan ‘Bung’ melekat dalam dirinya, sapaan akrabnya ‘Bung Edi’.
Di Pilkada Kota Malang 2013 lalu, Sofyan Edi Jarwoko mencoba peruntungan sebagai
Calon Wakil Wali Kota Malang, berpasangan dengan Heri Pudji Utami sebagai Calon
Wali Kota. Pasangan ini saat itu diusung koalisi PAN – Golkar, namun pada saat itu
pihaknya belum beruntung karena berada pada posisi ke tiga dalam persentase perolehan
suara. Kini, di Pilkada Kota Malang 2018 ia berpasangan denga Wakil Walikota Malang
petahana, yang mana memiliki pengaruh yang cukup kuat di Masyarakat. Paasangan

9
Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko ini diusung oleh Partai Demokrat dan Partai Golkar. Ia
membuat jargon Sutiaji-Edi (SAE) untuk kampanye koalisi mereka.
3.3 Kelangsungan kampanye dari 2 pasangan calon yang terjaring KPK
Berdasarkan jadwal yang telah ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum, kampanye
akan dilaksanakan mulai tanggal 15 Februari 2018 dan berakhir 23 Juni 2018.Di
kampanye perdananya , ketiga pasangan calon melakukan kampanye di tempat yang
berbeda-beda. Pasangan nomor urut 1, Yaqud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi
(Menawan) dijadwalkan berkampanye di Kecamatan Kedungkandang. Sedangkan
pasangan nomor urut 2 M Anton- Syamsul Mahmud (Asyik) berkampanye di
Kecamatan Sukun, dan pasangan nomor urut 3 Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (Sae)
berkampanye di Kecamatan Klojen. 7
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Abah Anton dan Nanda sering melakukan
kunjungan-kunjungan untuk menyapa masyarakat Kota Malang secara langsung. Namun
setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap oleh KPK, dan saat ini telah menerkam
di penjara, tugas kampanye diserahkan kepada calon walikota pasangan mereka, yaitu
H.Wanedi dan H.Syamsul Mahmud. Salah satu kampanye yang telah diatur oleh Komisi
Pemilihan Umum yaitu melalui debat antar pasangan calon. Debat ini dilakukan 2 kali,
dan sudah terlaksana 1 kali pada 5 Mei 2018 kemaren. Debat pertama mempunyai
komposisi 1-1-2 , karena tidak bisa hadirnya Abah Anton dan Nanda. Meskipun hanya
sendiri, H.Wanedi dan H.Syamsul Mahmud dinilai tegas dalam debat. Debat
selanjutnya-pun dapat dipastikan memiliki komposisi yang sama karena KPK tidak
mengeluarkan izin Anton dan Nanda untuk keluar dari tahanan. Namun disaat debat
kemaren banyak masyarakat yang kecewa karena debat tidak ada yang menyinggung
mengenai penanganan kasus korupsi yang saat ini sedang hangat di Kota Malang.
Kampanye Kota Malang ini dilakukan melalui beberapa macam cara , seperti
kunjungan langsung, melalui poster, selebaran dan jenis periklanan lainnya maupun
dengan mengadakan acara seperti di acara car free day. Untuk kampanye sendiri
pasangan calon walikota dan wakil walikota Kota Malang memiliki tempat-tempat
khusus atau lebih dominan tersendiri. Sebagai contoh untuk di daerah Ijen , banner
pasangan calon nomor 1 Nanda dan H.Wanedi terlihat lebih dominan daripada
pasangan calon nomor 2 dan nomor 3. Sedangkan di daerah Blimbing, poster-poster
yang tertempel lebih dominan milik pasangan calon nomor 3 daripada pasangan calon
7
Surya Abendi,2018. “Hari Pertama Kampanye” Diakses dari https://malangtoday.net/malang-raya/kota-
malang/hari-pertama-kampanye-ini-jadwal-ke-tiga-paslon-wali-kota-malang/ 28 Mei 2018

10
nomor 1 dan nomor 3. Sedangan di daerah Pecinan, terlihat lebih banyak poster-poster
milik pasangan calon nomor 2 daripada pasangan calon nomor 2 dan 3.
3.4 Elektabilitas dari 3 pasangan calon walikota dan wakil walikota Kota Malang

Elektabilitas memiliki arti ketertarikan seseorang dalam memilih (Sugiono, 2008).


Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan.
Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai.
Elektabilitas sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Elektabilitas partai politik
berarti tingkat keterpilihan partai politik di publik. Elektabilitas partai tinggi berarti
partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi.Untuk meningkatkan elektabilitas maka
objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga populer. Orang yang
memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam
masyarakat. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada
hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang
memperkenalkan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi
dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi
mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat.8
Berkaitan dengan elektibilitas pasangan calon walikota dan wakil walikota Kota
Malang, Lembaga Riset Otoda melakukan survey terkait hal tersebut. Hasil surveynya
adalah masyarakat Kota Malang merupakan pemilih rasional yang akan lebih
mengedepankan program disbanding yang lainnya. Potensi untuk Nanda dan Anton pun
diprediksi akan menurun drastis. Mengingat berdasarkan survey yang telah dilakukan
mayoritas masyarakat mempertimbangkan sosok calon walikotanya bukan sosok calon
wakil wali kotanya. Sedangkan dari sisi popularitas, mengalami peningkatan namun
dalam konotasi negatif9.
Peran dari calon wakil walikota Wanedi dan Syamsul Mahmud sangat signifikan.
Mereka harus memunculkan kemampuan yang khusus, dominan dan istimewa untuk
bisa mendapatkan suara yang maksimal. Disisi lain, kasus ini bisa menjadi kemenangan
dini bagi kandidat nomor urut 3, yaitu Sutiaji dan Sofyan Edi. Dengan syarat mereka
8
Stella Nathania.2007 “Penegertian Elektabilitas” https://www.dictio.id/t/jelaskan-pengertian-dari-
elektabilitas/12609/2. 28 Mei 2018
9
Faza Dora. 2018.“Pilkada Kota Malang bisa “selesai” lebih awa gara-gara dua cawali jadi tersangka.” Diakses
dari http://suryamalang.tribunnews.com/2018/03/21/pilkada-kota-malang-bisa-selesai-lebih-awal-gara-gara-
dua-cawali-jadi-tersangka?page=2. 28 Mei 2018

11
tidak tersandung kasus serupa dengan dua kandidat sebelumnya. Karena perlu diingat
potensi Sutiaji masuk ke dalam arus kasus ini tetap terbuka karena ia merupakan wakil
walikota pertahana yang mendampingi Anton. Namun apabila terhindar dari kasus ini
maka peluang Sutiaji untuk terpilih pun menjadi dominan. Apalagi, Sutiaji bisa
menggunakan isu pentingnya integritas dalam kepemimpinan tanpa perlu menyerang
secara personal. Tetapi bagi Nanda maupun Anton, peluang menang tetap bisa diraih.
Satu diantaranya dengan memaksimalkan mesin pemenangan relawan maupun partai.
Pengurus partai di tingkat provinsi ataupun pusat seharusnya turun tangan untung meng-
cover tim yang ada di bawah.
3.5 Upaya KPU Kota Malang menghadapi rendahnya tingkat partisipasi masyarakat
Kota Malang terhadap pilkada tahun ini

Melihat adanya kasus ini , tidak heran jika tingkat partisipasi masyarakat Kota
Malang dalam pilkada ini akan menurun. Namun Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota
Malang punya target yang tak tanggung-tanggung untuk urusan ini. Ketua KPU kota
Malang Zainudin mengatakan, setelah pada Pilkada terakhir yakni pada tahun 2013
tingkat partisipasi pemilih hanya 65 persen. Pihaknya menargetkan partisipasi pemilih
pada Pilkada Kota Malang 2018 meningkat menjadi 70 persen. Apatisme generasi muda
menjadi fokus perbaikan kami untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Karena hampir
separuh dari jumlah daftar pemilih tetap pada periode lalu adalah generasi milenial.10

Saat ini pada data DP4 yang dimiliki KPU Kota Malang menunjukkan sebanyak 660
ribu lebih warga yang masih dalam proses coklit. Proses dilakukan hingga tanggal 20
Februari mendatang. Dari data tersebut menunjukkan sebanyak 62 persen warga yang
berstatus kawin, 9,51 persen janda atau duda dan sisanya berstatus belum
kawin.Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan usia, pria yang akrab disapa Jae ini
engklasifikasikannya berdasarkan generasi milenial dan generasi old. "Jika generasi
milenial dikatakan berusia maksimal 40 tahun maka jumlahnya adalah 48 persen dari
DPT, itu artinya hampir separuh dari pemilih adalah generasi milenial,"terangnya.

10
Anonym. 2018.”KPU Kota Malang Targetkan Peningkatan Partisipasi Pemilih Hingga 70 Persen”. Diakses dari
http://m.jatimtimes.com/baca/166740/20180208/204247/kpu-kota-malang-targetkan-peningkatan-
partisipasi-pemilih-hingga-70-persen/. 28 Mei 2018

12
Untuk meningkatkan partisipasi jumlah pemilih pada generasi milenial,  KPU Kota
Malang akan memfokuskan pada pemilih muda. Rencananya dirinya akan melakukan
sosialisasi-sosialisasi ke sekolah-sekolah melalui berbagai kegiatan yang atraktif dan
edukatif. KPU Kota Malang menjadikan sekolah sekolah serta komunitas sebagai
sasaran. Misalnya sajadengan kegiatan cangkrukan atau kegiatan yang sesuai dengan
anak muda. Lewat kegiatan kegiatan tersebut harapannya agar apatisme anak muda di
Kota Malang semakin berkurang dan dapat meningkatkan jumlah pastisipasi pemilih
pada Pilkada Kota Malang 2018.

13
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Berpedoman pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat Pemilihan kepala daerah secara
langsung diartikan sebagai pemilihan oleh rakyat secara langsung. Mayoritas suara
terbanyak menjadi acuan pemenang pada pilkada tersebut serta pemilihan oleh rakyat
secara langsung serentak dilaksankan di seluruh daerah. Kota Malang menjadi salah satu
kota yang menyelenggarakan pilkada serentak ini. Tahun 2018 ini terdapat 3 pasangan
calon yaitu nomor urut 1 Ya’qud Ananda Gudban dan H.Wanedi yang memiliki slogan
Ayo Noto Malang dan diusung 4 partai yaitu : PDIP, Hanura, PAN, dan PPP H. Anton
dan H.Syamsul Mahmud yang memiliki slogan Malang Asik, Malang Apik dan diusung 3
partai yaitu : PKS, Gerindra, dan PKB Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko yang memiliki
slogan Malang Sae dan diusung 2 partai yaitu Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Latar belakang dari pasangan calon pun berbeda-beda, pasangan nomor urut 2 yaitu
H.Anton dan H.Syamsul adalah pengusaha yang sukses sebelum meranah ke dunia
politik. Sedangkan pasangan nomor urut 1 dan 3 memang sejak awal sudah bergabung di
dunia politik dan bergabung dalam organisasi-organisasi besar, baik organisasi
keagamaan maupun organiasai nasionalis.Namun yang membuat pilkada Kota Malang ini
berbeda dari tahun-tahun sebelumnya adalah 2 dari 3 calon walikota Kota Malang , yaitu
Nanda dan Anton ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dengan tuduhan kasus
penyuapan APBD tahun 2015 silam. Hal ini membuat elektabilitas Anton dan Nanda
menurun drastis dan menjadi kemenangan diri bagi Sutiaji dan Edi jika tim sukses Anton
dan Nanda tidak tanggap dan turun ke bawah mengatasi hal ini.

Akibat lain dari kasus ini adalah turunnya partisipasi masyarakat Kota Malang karena
rasa ketidakpercayaan terhadap calon pemimpin. Hal ini menjadi pekerjaan yang harus
segera diselesaikan oleh tim Komisi Pemilihan Umum maupun dari partai atau tim
kemenangan pasangan calon.Komisi Pemilihan Umum melakukan survey terkait pemilih
tahun 2018 yang ternyata lebih dominan kepada generasi millennial, sehingga KPU

14
membentuk strategi untuk melaksanakan sosialisasi-sosialisasi di sekolah-sekolah dan
komunitas sebagai sasaran utamanya.

Saran

Pilkada merupakan pesta demokrasi yang seharusnya menjadi moment yang


membahagiakan bagi masyarakat. Namun tahun 2018 menjadi suram bagi Kota Malang,
karena calon-calon mereka tersangkut kasus korupsi yang sebelumnya belum pernah di Kota
Pendidikan ini. Maka dari itu pemakalah memberikan saran agar untuk kedepannya
Pemerintahan Kota Malang tidak membuat kecewa lagi masyarakat. Untuk masyarakat
sendiri ini merupakan pemilihan 5 tahun sekali, sehingga harus benar-benar matang dalam
memilih dan jangan menjadi golongan putih karena itu sama sekali tidak menyelesaikan
masalah yang ada. Dan juga sebaiknta tim Komisi Pemilihan Umum harus lebih fokus
kepada memperkenalkan pemilih kepada masyarakat. Karena pada nyatanya banyak
masyarakat tidak mengetahui calon-calon walikota dan wakil walikotanya.

15