Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.

02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

PERBANDINGAN WHOLE BODY REACTION TIME DAN


ANTICIPATION REACTION TIME ANTARA ATLET KATA
DAN KUMITE CABANG OLAHRAGA KARATE

Ramadhansyah Abdan Syaquro, Badruzaman

Program Studi Ilmu keolahragaan


Departemen Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi
Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi No. 299 Bandung

Email: kuro.ai8611@gmail.com

Abstrak
Karate terbagi oleh dua kelas kata dan kumite. Whole body reaction time test dan
anticipation reaction time adalah kebutuhan reaksi yang dimiliki seorang atlet karate.
Tujuan penelitian ini ingin membuktikan whole body reaction dan anticipation reaction
time atlet kumite lebih baik dari atlet kata tersebut benar adanya atau tidak, dikarenakan
berpengaruh terhadap program latihan yang diberikan kepada atlet. Metode penelitian yang
digunakan adalah deskriptif komparatif. Sample berjumlah 10 atlet kata dan 10 atlet kumite
dengan teknik pengambilan sampling jenuh. Hasil dianalisis dengan spss ver.21
menunjukkan data whole body reaction time nilai f = 4,508 dan sig. 0,059 > 0,05 maka H0
diterima dan disimpulkan tidak ada perbedaan kecepatan whole body reaction time test
dengan atlet kata dan kumite cabang olahraga karate, sedangkan data anticipation reaction
time nilai f = 1,787 dan sig. 0,198 > 0,05 maka H0 diterima dan disimpulkan tidak terdapat
perbedaan kecepatan anticipation reaction time test dengan atlet kata dan kumite cabang
olahraga karate.

Kata kunci: whole body reaction, anticipation reaction, kata, kumite.

PENDAHULUAN taken if necessary.” Dari kutipan tersebut


dapat diartikan bahwa waktu reaksi
Dalam karate baik kata maupun kumite
seseorang diambil untuk menanggapi sinyal
memiliki esensi yang sama yaitu bertarung,
yang diberikan. Waktu reaksi yang baik
dalam pertarungan atlet karate memerlukan
sangat penting dalam karate, karena
reaksi yang cepat. Pentingnya reaksi bagi
memungkinkan untuk mendidentifikasi
atlet karete menurut Ashley Croft
lebih awal gerakan tubuh lawan atau
(2009:30) menyatakan bahwa “The time a
serangan yang memungkinkan mengambil
person taken to respond to a signal. A good
tindakan tegas atau mengelak akan diambil
reaction time is absolutely essential in
jika perlu. Hal tersebut dapat disimpulkan
karate, as it enables an opponent’s body
bahwa bagi seorang atlet karate
movements or attack to identified early,
membutuhkan reaksi yang cepat untuk
allowing decisive or evasive action to be
melakukan pergerakan menyerang atau

30
Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

bertahan. Dalam Prestasi Karate berbagai METODE


macam komponen fisik sangatlah Metode penelitian yang dilakukan
menunjang. Komponen Fisik terdapat
dalam penelitian ini adalah metode
reaksi, reaksi adalah komponen yang penelitian komparatif , menurut Arikunto
penting bagi atlet Karate dalam kompetisi (dalam Sidik 2014) ialah yang menegaskan
kata dan kumite. Pelatih Karate di bahwa “penelitian kuantitatif yang sesuai
Indonesia selalu mengutamakan komponen dengan namanya banyak di tuntut
reaksi hanya untuk kumite, sedangkan menggunakan angka, mulai dari
dalam kata kurang di perhatikan. Perbedaan pengumpulan data, penafsiran terhadap
perlakuan tersebut dikarenakan pemahaman data tersebut serta penampilan dari
karateka di Indonesia masih membedakan hasilnya.” Jenis penelitian ini adalah jenis
karate menurut spesialisasssi kelasnya saja. penelitian deskriptif komparatif. Menurut
Perbedaan perlakuan dalam pemberian Sugiyono (2014) menyatakan bahwa
latihan komponen reaksi ini berimbas “penelitian deskriptif digunakan untuk
kepada performa atlet, begitu pula dalam menganalisis data dengan cara
reaksi atisipasi, reaksi ini sangatlah penting mendeskripsikan atau menggambarkan data
dalam olahraga beladiri seperti yang yang telah terkumpul sebagaimana adanya
dikemukakan oleh Vayens, dkk (dalam tanpa bermaksud membuat kesimpulan
Nuri Leila, 2013) menyatakan bahwa “ yang berlaku untuk umum atau
Anticipatory skill plays an important role in generalisasi”, dan menurut Sugiyono
successful decision-making.” , kutipan (2014) menyatakan bahwa “jenis penelitian
tersebut menjelaskan bahwa kemampuan komparatif adalah jenis penelitian yang
antisipasi dalam permainan sangatlah membandingkan keberadaan satu variable
berperan penting dalam pengambilan atau lebih pada dua atau lebih sample yang
kepustusan. Hal ini dikarenakan semakin berbeda, atau pada waktu yang berbeda.”
baiknya reaksi antisipasi maka semakin Penelitian ini mengetahui perbandingan
baik pengambilan keputusan ditengah hasil dari dua jenis test dengan alat whole
pertandingan atau permainan. Menurut body reaction time test dan anticipation
Nuri Laila (2013) “RT has been considered reaction time test yang dilakukan oleh atlet
as a key strategy in competitive sports kata dan kumite cabang olahraga beladiri
which require fast reactions such as karate untuk mengetahui waktu dari
karate”, pernyataan tersebut menjelaskan kecepatan reaksi masing – masing atlet
bahwa waktu reaksi adalah kunci dari untuk meningkatkan prestasinya.
olahraga yang kompetitif yang Penelitian akan dilakukan di
membutuhkan reaksi yang cepat seperti laboratorium FPOK Universitas Pendidikan
karate, tidak hanya dalam kelas kumite atau Indonesia dengan melibatkan atlet karate
kelas kata. Pernyataan yang di kemukakan UKM Karate UPI. Partisipan berada
oleh Layton (dalam Nuri Laila 2013) dikategori umur senior, dan memiliki
menegaskan bahwa karate sangat pengalaman pertandingan kata dan kumite
membutuhkan waktu reaksi yang sangat tingkat provinsi dan nasional.
baik untuk mendukung performa
dilapangan.

31
Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

c. Skor : Catat waktu terbaik


dari 3 kali percobaan.

2. Whole Body Reaction Time


a. Tujuan : Mengukur
kecepatan reaksi gerak keseluruhan
tubuh dari stimulus visual
b. Nama Alat : Whole Body Reaction
Type II
c. Pelaksanaan :
Subyek berdiri di atas matras yang
Gambar 1. Sample sedang melakukan terbuat dari karet dan didalamnya
anticipation reaction test. (sumber : terdapat sensor dengan posisi kaki
peneliti) menekuk sedikit lututnya agar tidak
menjadi hambatan ketika bereaksi
Teknik pengambilan sample setelah stimulus diberikan. Ketika tester
menggunakan teknik sampling jenuh. maka menekan tombol, maka akan keluar
sample yang akan diambil sebanyak 10 stimulus berupa cahaya dan subyek
atlet karate kumite dan 10 atlet karate kata melompat dari pijakan karet yang
dari 20 atlet UKM KARATE UPI. terdapat sensor.Lakukan sebanyak 3
Untuk mengetahui hasil whole body kali.
reaction time dan coordination reaction Skor : Catat waktu terbaik
time dari atlet kata dan kumite cabang dari 3 kali kesempatan.
olahraga beladiri karate, menggunakan
yang berada di laboratorium FPOK
Universitas Pendidikan Indonesia,
diantaranya :
1. Anticipation Reaction Time Test
Tujuan : Mengukur
kecepatan reaksi antisipasi setelah stimulus
diberikan.
a. Nama Alat : Speed Anticipation Time Gambar 2. Sample sedang melakukan
b. Pelaksanaan : whole body reaction time test (sumber :
Subyek duduk didepan alat. Tempatkan peneliti)
dagu diatas penahan dagu senyaman Data yang dianalisis pada penelitian ini
mungkin. Subyek akan memerhatikan Menggunakan statistika Induktif uji-T yaitu
cahaya yang akan melintas di hadapan Independent Sample T-Test untuk
mata subyek. Setelah cahaya tersebut mengetahui nilai whole body reaction time
menghilang, subyek memperkirakan test dan anticipation reaction time test
waktu cahaya tersebut untuk kembali antara atlet Kata dan Kumite yang terlebih
muncul dengan menekan tombol merah. dahulu menggunakan uji normalitas
Lakukan sebanyak 3 kali menggunakan Kolmogorov-Smirnoff dan
uji homogenitas menggunakan Levene Test.

32
Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

Pengolahan dan analisis data Tabel 2. Deskripsi data Anticipation


merupakan rangkaian yang dilakukan Reaction Time Test
sebagai upaya untuk memperoleh Kelas N Minimu Maximu Mea Std.
kesimpulan penelitian. Analisis data m m n Deviati
dilaksanakan dengan menggunakan on
program Statistical Product for Social
Science (SPSS) Seri 17. Kata 1 0.01 0.06 0.03 0.2055
0 0
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kumit 1 0.01 0.06 0.02 0.1647
Pada kelompok atlet kata hasil rata –
e 0 4
rata dari whole body reaction time test
adalah 0.239 detik, dengan hasil tercepat
adalah 0.074 detik dan hasil terlambatnya Setelah melalui proses analisis data
adalah 0.353 detik, sedangkan hasil rata – yang diolah oleh SPSS v.21 dengan metode
rata adalah 0.239 detik. Pada kelompok independent simple t-test bahwa
atlet kumite dalam whole body reaction perbandingan hasil whole body reaction
time test memiliki hasil rata – rata 0,320 time test dan anticipation reaction time test
detik, dengan nilai tercepat dengan hasil antara atlet kata dan kumite cabang
0.277 detik dan terlambat adlah 0,401 detik olahraga karate tidak memiliki perbedaan
Kelompok sample atlet kata memiliki yang signifikan.
kecepatan rata – rata yang sedikit cepat Tabel 3
dibandingkan atlet kumite. Uji Normalitas Data
Tabel 1. Deskripsi data Whole Body
Reaction Time Test Variabel K.Smirno Sig. Kep Sim
Kls N Min Max Mean Std. vZ
Deviation
H0 Data
Whole 0.46
Kata 10 0.074 0.353 0.239 0.88360 0.849 Diterim Norma
Body RT 7
a l
Kumite 10 0.277 0.401 0,320 0.04055
H0 Data
Anticipatio 0.27
0.995 Diterim Norma
Anticipation reaction time test kedua n RT 5
a l
kelompok sample memiliki kecepatan yang
sama yaitu tercepat adalah 0.01 detik dan
yang terlambat adalah 0.06 detik, namun Hasil bahwa tidak terdapat perbedaan
yang berbeda adalah jumlah rata – rata kecepatan yang signifikan antara hasil
yang berbeda. Kelompok sample Kata whole body reaction time test dan
memiliki waktu rata – rata kecepatan anticipation reaction time test dengan atlet
antisipasi sebesar 0.030 detik, sedangkan kata dan kumite. Kecepatan reaksi atlet
kumite memiliki waktu rata – rata sebesar karate dalam penelitian yang dilakukan
0.024 detik. oleh Shuji Mori, Yoshio Ohtani, Kuniyasu
Imanaka yang berjudul REACTION

33
Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

TIMES AND ANTICIPATORY SKILLS Menurut Mori, Ohtani & Imanaka


OF KARATE ATHLETES diperoleh hasil (2002) dalam Coskun Betul, dkk (2014)
kecepatan reaksi dan reaksi antisipasi atlet menjelaskan bahwa Karate adalah jenis
kumite rata – rata memiliki kecepatan olahraga tingkat tinggi kompetitif
230ms. Dalam penelitian tersebut atlet memerlukan reaksi cepat. Kemampuan
karate memiliki dua tahap pengolahan untuk memahami informasi dengan cepat
informasi ketika mengantisipasi serangan dan benar menyederhanakan pengambilan
musuh, ketiga tahap itu adalah menyerap keputusan dan memberikan lebih banyak
informasi pada gerakan pertama dan waktu untuk pelaksanaan gerak motorik
menaksirkan informasi tersebut kepada yang merupakan kebutuhan seorang atlet
target area. Contohnya jika lawan karate guna meningkatkan performa dalam
menyerang dengan pukulan jodan tsuki pertandingan baik itu dalam kumite dan
kearah kepala, pertama karateka akan kata.
menyerap informasi dari gerakan pertama Dalam aplikasinya kemampuan reaksi
lawan yang akan mengeluarkan pukulan kata dilakukan menjadi aksi ketika
dan kemudian akan ditaksirkan kemana mendapatkan rangsangan dari pola
target pukulan itu akan dilayangkan, setelah antisipasi preseptual dalam suatu kata. Atlet
itu karateka akan mengantisipasi dengan kata akan kesulitan menampilkan sebuah
gerakan age-uke atau tangkisan atas. Dalam performa yang baik jika tidak memiliki
penelitian tersebut diketahui bahwa reaksi yang baik, dan jika atlet kata tidak
kemampuan antisipasi atlet karate adalah memiliki reaksi antisipasi yang baik maka
bersifat preseptual. Seorang atlet karate atlet kata akan kehilangan esensi gerak dan
memiliki antisipasi yang sangat baik dalam irama yang dibutuhkan karena berhubungan
mengekstraksi informasi yang didapat lebih dengan rekasi yang dihasilkan rangsangan
cepat dari pada murid karate biasa, reaksi dari pengambilan keputusan antisipasi yang
dan reaksi antisipasi preseptual sangat berarti kata adalah bertarung melawan
penting dikarenakan menguntungkan atlet lawan imajiner. Dalam aplikasi kumite,
untuk meningkatkan performa bertanding. reaksi diperlukan ketika atlet mendapatkan
Dalam penelitian Coskun Betul,dkk kesempatan untuk mencuri poin dari lawan,
dalam penelitian THE COMPARISON OF dan antisipasi diperlukan ketika lawan
REACTION TIMES OF KARATE menyerang.
ATHLETES ACCORDING TO AGE, Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan
GENDER AND STATUS diperoleh data reaksi seorang atlet karate memiliki
bahwa kebutuhan atlet karate untuk level kecepatan reaksi yang sama cepat walau
internasional adalah 0,035 detik untuk telah memiliki spesifikasi kelas, yaitu kata
simple reaction test, 0,064 detik untuk dan kumite. Kembali kepada konsep dasar
choice reaction time test dan 0,033 detik karate yang merupakan cabang olahraga
untuk auditory reaction time test, dalam seni beladiri yang memfokuskan terhadap
penelitian tersebut dijelaskan bahwa umur, sebuah pertarungan tangan kosong. Dalam
jenis kelamin, dan level dalam kompetisi karate terdapat dua kelas spesifikasi dalam
sangat memengaruhi hasil test dan yang sebuah pertandingan, yaitu kata dan
paling memengaruhi kecepatan reaksi kumite. Dalam buku yang di tulis oleh
adalah umur. Ashley Croft yang berjudul

34
Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

INTERMEDIATE SHOTOKAN KARATE terakhir kumite. Kata adalah kumpulan


UNRAVELLING THE BROWN BELT teknik dasar, dan kumite adalah aplikasi
AND FIRST BLACK BELT KATA teknik dasar dalam bertarung, semua
diperoleh sebuah pernyataan bahwa berlatih bersinergi menjadi satu tidak ada
karate memiliki banyak keuntungan, salah perlakauan yang berbeda dalam pemberian
satunya adalah meningkatnya reaksi atlet latihan. Kebutuhan dalam kompetisi ini
karate, hal ini dikarenakan waktu reaksi menjadikan beberapa presepsi yang kurang
yang baik sangat penting dalam karate, tepat, dalam kompetisi karate baik kelas
karena memungkinkan untuk kata dan kumite yang dimulai dari usia dini
mendidentifikasi lebih awal gerakan tubuh hingga senior membuat anak – anak usia
lawan atau serangan yang memungkinkan dini di berikan spesialisasi kelas dalam
mengambil tindakan tegas atau mengelak pertandingan karate.
akan diambil jika perlu, dalam karate selalu
melatih kecepatan reaksi dan reaksi KESIMPULAN
antisipasi tanpa di sadari, ketika selalu Tidak terdapat perbedaan kemampuan
berlatih kata. Oleh karena itu atlet kata whole body reaction time yang signifikan
memiliki kecepatan reaksi dan antisipasi antara atlet kata dan kumite. Berdasarkan
yang tidak kalah cepat dengan kumite. Hal hasil temuan pengolahan dan analisis data
ini ditegaskan oleh Shoshin Nagamine peneliti dapat memberikan kesimpulan
dalam buku THE ESSENCE OF sample yang berjumlah 20 orang yang
OKINAWAN KARATE-DO bahwa kata terbagi dua kelompok yaitu kelompok atlet
adalah serangkaian gerakan yang kata dan kelompok atlet kumite. Pada
terorganisir secara sistematis dari teknik kelompok atlet kata, hasil rata – rata dari
bertahan dan menyerang dilakukan dalam whole body reaction time test adalah 0.239
berurutan terhadap satu atau lebih lawan detik, dengan hasil tercepat adalah 0.074
imajiner, dan diberi pola linear simetris. detik dan yang paling lambat adalah 0.353
Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa detik, sedangkan hasil rata – rata adalah
kata memiliki kapasitas reaksi yang sama 0.239 detik. Pada kelompok atlet kumite
dengan kumite dikarenakan kata dalam whole body reaction time test
merupakan sebuah pertarungan yang memiliki hasil rata – rata 0,320 detik,
dirangkai dan di tentukan dengan sebuah dengan nilai tercepat dengan hasil 0.277
jurus melawan lawan imajiner, jadi kata detik dan yang paling lambat adalah 0,401
dan kumite memiliki kemampuan yang detik.
sama. Karate sesungguhnya tidak membagi Tidak terdapat perbedaan kemampuan
– bagi spesialisasi seorang karateka, namun anticipation reaction time yang signifikan
kebutuhan dalam kompetisi membagi antara atlet kata dan kumite. Kelompok
karate menjadi dua kecabangan yaitu kata sample atlet kata memiliki kecepatan rata –
dan kumite. Karate mempunyai sistematis rata yang sedikit cepat dibandingkan atlet
latihannya tersendiri, yang pertama kumite. Sedangkan dalam anticipation
karateka harus melatih teknik dasar secara reaction time test kedua kelompok sample
terus menerus dengan intensitas yang memiliki kecepatan yang sama yaitu
meningkat sesuai dengan tingkatan sabuk tercepat adalah 0.01 detik dan yang
kemudian mempelajari kata lalu yang

35
Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 2016 Vol.01 No.02 Halaman 30-36
Syaquro, RA., Badruzaman

terlambat adalah 0.06 detik, namun yang kumite tidak lebih baik daripada atlet kata,
berbeda adalah jumlah rata – rata yang. data tersebut didapatkan setelah diolah dan
Kelompok sample Kata memiliki waktu mendapatkan hasil bahwa tidak ada
rata – rata kecepatan antisipasi sebesar perbedaan yang signifikan antara whole
0.030 detik, sedangkan kumite memiliki body reaction time test dan anticipation
waktu rata – rata sebesar 0.024 detik. reaction time test dengan atlet kata dan
Kemampuan whole body reaction time kumite
test dan anticipation reaction time test atlet

DAFTAR PUSTAKA
Ajay M. Gavkare, dkk (2013) . Auditory Reaction Time, Visual Reaction Time and Whole Body
Reaction Time in Athletes. Indian Medical Gazette. Hlm. 214 - 218
Croft Ashley. (2009). Intermediate Shotokan karate Unravelling the Brown Belt and First Black
Belt Kata. Ramsbury: The Crowood Perss Ltd.
Coskun , B . dkk (2014) . The Comparison of reaction times of karate athlete aaccording to age,
gender, and status. Journal Science, Movement, and Healt, 14(2).hlm. 97 – 101
Dawes Jay, dkk (2012) . Developing Agility And Quickness. Amerika Serikat ; National Strength
and Conditioning Association.
Giriwijoyo. H.Y.S Santosa (2010) Fisiologi Olahraga. Bandung: FPOK UPI
Imanudin,Iman. (2014). Modul Mata Kuliah Ilmu Kepelatihan Olahraga. Bandung: FPOK UPI.
Koropanovski , N. dkk (2011). Anthopometric and physical performance profile of elite karate
kumite and kata competitors. Journal of Human Kinetics, 30/2011, hlm. 107 -114.
Erickson,Kevin. (2015). Perbandingan Kecepatan Reaksi dan Antisipasi Reaksi pada Penjaga
Gawang Olahraga Sepakbola dan Futsal. Bandung: UPI.
Emzir. (2012). Metodologi Penelitian Pendidikan; Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta; PT
Rajagrafindi Persada
Leila Nuri . dkk (2013) Reaction time and anticipatory skill of athletes in open and closed skill-
dominated sport. European Journal of Sport Science. 13(5). Hlm. 431 – 436.
Mori, S., Ohtani, Y., & Jmanaka, K. (2002). Reaction times and anticipatory skills of karate
athletes. Human Movement Science. 21(2). Hlm. 213 – 230.
Nagamine Shoshin. (1976). The Essence of Okinawan Karate, (edisi keenambelas). Tokyo: The
Charlie E. Tuttlt Company, Inc.
Nakayama Masatoshi. (1978). Best Karate kumite Vol.1. Tokyo: Kodansha International Ltd.
Permatasari, N.K.T. (2015). Pengembangan Alat Ukur Waktu Reaksi Tangan Berbasis
MicroController. Bandung : UPI
Sugiyono. (2012). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Yazid, Sidik. (2015). Hubungan Konsentrasi Dengan Hasil Pukulan Jarak Jauh (Long Stroking)
pada Cabang Olahraga WoodBall. Bandung: UPI
Sugiyono (2014) : Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

36