Anda di halaman 1dari 4

Lingkungan dan Budaya Manajemen

A. LINGKUNGAN EKSTERNAL
l. Pengaruh Lingkungan Eksternal Terhadap Proses Manajemen
Sebuah organisasi yang baik tidak hanya dituntut untuk membuat proses komunikasi intemal
berjalan baik, tetapi juga diharapkan dapat menjalin komunikasi efektif dan memperhatikan
segala yang terjadi di lingkungan eksternal. Proses manajemen perlu memperhatikan faktor-
faklor eksternal seperti ahran pemeri-ntah, keadaan ekonomi, keadaan masyarakat sekitar,
perkembangan teknologi, kebijakan pesaing atau mita kerja, dan masih banyak faktor lainnya.
Perubahan lingkungan eksternal dapat secara langsung mengubah proses manajemen di
lingkungan internal organisasi. Perubahan tersebut diperlukan sebagai upaya adaptasi agar
kegiatan manajemen dapat berjalan dengan baik.
Di sisi lain perubahan di lingkungan internal dapat pula berdarqpak pada perubahan di
lingkungan eksternal. Jadi dapat dikatakan kedua lingkungan dapat saling mempengaruhi satu
dengan lainnya.
Lingkungan eksternal ini dipengaruhi oleh pihak-pihak tertenru sehingga menjadi sebuah norma
dan kebiasaan. Secara prinsip pada organisasi bisnis dan non-bisnis memiliki pihak eksternal
yang hampir sama, namun pada organisasi bisnis lebih banyak pihak eksternal yang terlibat.
Berikut pihakpihak. eksternal yang terdapat dalam organisasi bisnis.
a. Pemerintah. Peran pemerintah sebagai regulator atau pembuat keputusan tentu akan
berpengaruh pada keputusan manajemen. peran pemerintah mencakup aspek ekonomi,
hukum, politik, keamanan, dan beberapa hal Iainnya. Sebagai contoh, aturan pemerintah
tentang system ketenagakerjaan teritu saja harus diikuti oleh organisasi agar tidak memiliki
dampak hukum pada suatu saat.
b. Konsumen. Konsumen merupakan pengguna dari barang ataupun jasa yang dihasilkan oleh
suatu organisasi bisnis. Kaitan konsumen terletak pada kebutuhan dan keinginan terhadap
produk yang dihasilkan. Organisasi yang baik tentu saja harus mengharmonisasi stategi
bisnisnya dengan liebutuhan dan keinginan konsumen, agar target penjualan dapat terpenuhi.
c. Pemasok. Dalam hal ini pemasok tidak hanya diartikan sebagai pemasok bahan baku untuk
menghasilkan produk sebuah organisasi. Pemasok diartikan dalam arti yang lebih iuas yang
mencakup pemasok bahan baku, sumber daya manusia, keuangan/investor, dan sumber
informasi eksternal.
d. Pesaing. strategi manajemen pesaing juga perlu diperhatikan, karena sedikit atau banyak
kebijakan yang dimiliki oleh pesaing akan berdampak pada organisasi kita. Di samping itu
manajemen yang baik harus memiliki nilai kompetitif yang lebih bagus dibandingkan dengan
organisasi pesaing.
e. Kelompok organisasi. Pada era sekarang ini hampir seluruh lini organisasi memiliki wadah
perkumpulan atau kelompok masing-masing. Hal ini tentu saja memberikan banyak pengaruh
pada proses manajemen sebuah organisasi. Dengan adanya kelompok ini sehingga dapat
menjadi media untuk saling berbagi dan memberikan masukan antara anggota kelompok yang
satu dengan kelompok lainnya.
f. Masyarakat umum. Masyarakat umum merupakan individu maupun kelompok masyarakat di
luar kelompok-kelompok yang sudah diuraikan di atas, yang memiliki alur komunikasi dengan
organisasi.

Manajemen harus melihat perubahan lingkungan eksternal dalam dua sisi, yaitu peluang dan
ancaman yang akan berpengaruh pada organisasi.
Apabila manajemen melihat adanya aspek lingkungan eksternal yang bersifat ancaman, maka
harus dibuatlah sebuah sistem manajemen yang dapat mengatasi ancaman dari lingkungan
eksternal tersebut. Namun apabila factor eksternal yang ada dapat dibaca sebagai sebuah
peluang, maka manajemen harus dapat membuat formulasi strategi yang baik sehingga peluang
tersebut dapat dimaksimalkan unruk memberikan manfaat bagi organisasi.

2. Kegiatan CSR (Corporate Social Responsibilities) Sebagai Upaya Komunikasi Eksternal


Perkembangan zaman menuntut organisasi tidak hanya menjalankan kegiatannya dengan
memperhatikan aspek ekonomis saja, Sehingga aspek-aspek sosial kemasyarakatan pun harus
juga diperhatikan. Hal ini hendaknya tidak dipandang sebagai bentuk tambahan beban bagi
organisasi, tetapi dipandang sebagai bentuk saling keterkaitan antara organisasi dengan
lingkungannya. Pada mulanya konsep CSR berkembang di organisasi bisnis, namun dalam
perkembangannya sekarang ini berbagai organisasi non-bisnis juga telah mengimplementasikan
konsep CSR dalam kegiatan operasionalnya, seperti yang dilakukan oleh lembaga pendidikan,
organisasi amal, maupun yang bersifat keagarnaan. Tujuan dari dikembangkannya konsep CSR
yaitu agar suatu organisasi tidak hanya mengeksploitasi manfaat yang didapatkannya saja,
namun organisasi tersebut harus juga mernberikan manfaat secara langsung kepada lingkungan
di sekitarnya.
Meskipun dalam perjalanannya banyak organisasi yang memanfaatkan progam CSR. yang
dibuatnya sebagai salah satu strategi pemasaran untuk menarik minat konsumen. Tentu saja hal
itu sulit untuk dihindari karena pada prinsipnya suatu organisasi, terutama organisasi bisnis,
bernrjuan untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya untuk kernajuan organisasinya,
sebagai contoh suatu organisasi mernberikan peruang beasiswrl kepada peta.jar berprestasi
untuk belajar, tentu saja tidak dapat dihalang-halangi suatu saat penerima beasiswa tersebut
dapat memberikan nilai tambah kepada organisasi pemberi beasiswa dalam berbagai bentuk.
Kegiatan csR juga sebaiknya dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi antara organisasi
dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga manajemen dapat mengomunikasikan secara lebih baik
mengenai kebijakankebijakan organisasi, di samping itu manajernen juga mendapat masukan
yang bermanfaat dari pihak terkait rnengenai strategi yang perlu dilakukan organisasi dari
pandangan pihak luar. sehingga konflik antara pihak internal organisasi dengan pihak eksternal
dapat diminimalisir.

B. LINGKUNGAN INTERNAL
Lingkungan internal menyangkut segala kejadian dan kecenderungan dalam lingkungan
organisasi yang dipengaruhi oleh manajemen, pegawai, dan budaya organisasi. Lingkungan
internar tentu saja sangat penting pengaruhnya pada proses manajemen, karena akan
berpengaruh pada cara
setiap personil dalam berpikir, merasakan, dan bekerja. Nilai-nilai yang dimiliki suatu organisasi
terutama dibuat oreh pimpinan organisasi. Lingkungan dan budaya organisasi harus memiliki
karakter yang tuat sehingga dapat menjadi sebuah imej organisasi baik bagi lingkungan, inte*ut
organisasi maupun pihak eksternar. Lingkungan organisasi erat sekali kaitannya dengan aturan
dan nilai-nirai yang dimiliki oleh organisasi. Pembentukan nilai-nilai ini sebaiknya dilakukan dari
awar organisasi didirikan, terutama nilai-nilai dasar organisasi. sehingga setiap personil dapat
mengetahui apa yang dapat dilakukannya dan tidak dapat dilakukan. Bentuk dari nilai dasar ini
dapat berupa aturan, baik aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Lingkungan dan
budaya organisasi dapat mempengaruhi dalam kesuksesan pencapaian tujuan dengan
memperhatikan beberapa faklor, yaitu:
1. kemampuan penyesuaian lingkungan organisasi;
2. konsistensi lingkungan organisasi;
3. visi yangjelas dari organisasi;
4. keterlibatan lingkungan organisasi.

C. STRATEGI ORGANISASIONAL
Sebuah organisasi tentu saja memerlukan shategi yang baik agar organisasi tersebut memiliki
keunggulan kompetitif dalam menjalankan kegiatannya. Strategi organisasional suatu organisasi
secara keseluruhan harus dipahami oleh setiap komponen organisasi. Pemahaman komponen
organisasi ini diperlukan agar mereka mengetahui bagaimana sebenarnya langkah-langkah yang
diinginkan organisasi, sehingga mereka bisa membuat strategi aplikatif yang lebih spesifik pada
kegiatan kerjanya masing-masing.
Pada dasarnya sebuah strategi disusun menggunakan beberapa asumsi yang diperkirakan akan
terjadi. Penggunaan asumsi inilah yang sering kali menjadi sebuah perdebatan, bahkan pada
level manajemen sendiri. Pengetahuan yang luas dan pengalaman akan sangat dibutuhkan
dalam proses pembuatan asumsi ini. Sehingga asumsi yang paling masuk akallah yang nantinya
akan digunakan dalam penyusunan strategi organisasional.
Proses penyusunan strategi dibagi menjadi tiga tahap adalah sebagai berikut.
1. Menganalisis kebutuhan organisasi. Kebutuhan organisasi mencakup apa yang ingin dicapai
dari strategi yang dibuat. Kebutuhan dapat dibagi menjadi kebutuhan jangka pendek,
menengah, maupun panjang. Pembagian kebutuhan inilah yang nantinya dibuatkan prioritas
pelaksanaannya.
2. Menganalisis keadaan yang terjadi. Metode analisis keadaan dapat menggunakan
pendekatan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat yang ruang lingkupnya
menganalisis kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman pada organisasi. Kelebihan dan
kekurangan ditinjau dari sisi internal, sementara peluang dan ancaman disebabkan oleh faktor
di luar organisasi.
3. Memilih strategi alternatif. Setelah mengetahui kebutuhan yang ingin dicapai, dengan
mempertimbangkan pula keadaan yang terjadi pada saat ini. Langkah berikutnya adalah
proses pemilihan shategi alternatif. Strategi dapat dibedakan menjadi strategi yang cukup
agresif narnun berisiko tinggi, atau strategi yang konservatif dengan menghindari risiko besar.

Sebuah organisasi juga perlu melakukan inovasi dalam rnenjalankan kegiatan organisasinya.
Proses inovasi merupakan sebuah proses mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman untuk menciptakan atau memproduksi produk/sistem yang berbeda. Inovasi
diperlukan agar organisasi dapat membuat hal-hal baru yang bermanfaat dalam pencapaian
tujuan organisasi, Inovasi tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan, tetapi dapat juga
tercipta dalam bentuk suatu teori, sistem kerja, kebijakan, maupun hal-hal lainnya. proses inovasi
dibagi menjadi dua bagian besar (Scot & Bruece, 1994), yaitu :
1. Inovasi radikal. Inovasi ini berskala besar dan biasanya menyeluruh mencakup berbagai
aspek.
2. Inovasi inkremental. Merupakan suatu inovasi berskala kecil yang bersifat per lini keda.

Proses inovasi perlu dikelola dengan baik agar keativitas dalam upaya pengembangan
organisasi dapat terus terpelihara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan
membuat lingkungan kerja yang kreatif. Lingkungan kerja keatif memiliki beberapa komponen,
yaitu:
1. lingkungan kerja yang progresif;
2. lingkungan organisasi yang nyaman;
3. sistem pengawasan dan pengendalian yang baik;
4. fleksibilitas kerja;
5. permasalahan yang dapat dibuatkan solusi,

Rangkuman :
Sebuah organisasi yang baik tidak hanya dituntut untuk membuat proses komunikasi internal
berjalan baik, tetapi juga diharapkan dapat menjalin komunikasi efektif dan memperhatikan
segala yang terjadi di lingkungan eksternal. Proses manajemen perlu memperhatikan faktor-
faktor eksternal seperti aturan pemerintah, keadaan ekonomi, keadaan masyarakat sekitar,
perkembangan teknologi, kebijakan pesaing atau mitra kerja, dan masih banyak faktor lainnya.
Perubahan lingkungan eksternal dapat secara langsung mengubah proses manajemen di
lingkungan internal organisasi.
Tujuan dari dikembangkannya konsep CSR yaitu agar suatu organisasi tidak hanya
mengeksploitasi manfaat yang didapatkannya saja, namun organisasi tersebut harus juga
memberikan manfaat secara langsung kepada lingkungan di sekitarnya.
Lingkungan internal menyangkut segala kejadian dan kecenderungan dalam lingkungan
organisasi yang dipengaruhi oleh manajemen, pegawai, dan budaya organisasi. Dalam berbagai
penelitian,
lingkungan dan budaya organisasi dapat mempengaruhi dalam kesuksesan pencapaian tujuan
dengan memperhatikan beberapa faktor, yaitu:
1. kemampuan penyesuaian lingkungan organisasi;
2. konsistensi lingkungan organisasi;
3. visi yang jelas dari organisasi;
4. keterlibatan lingkungan organisasi.
Sebuah organisasi tentu saja memerlukan strategi yang baik agar organisasi tersebut memiliki
keunggulan kompetitif dalam menjalankan kegiatannya. Strategi organisasional suafu organisasi
secara keseluruhan harus dipahami oleh setiap komponen organisasi.