Anda di halaman 1dari 14

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI ZAT

TUNGGAL dan ZAT CAMPURAN MELALUI METODE


MIND MAPPING SISWA KELAS 5A UPT SDN 49 GRESIK
Muflihatul Abadiyah 1

Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya pemahaman siswa terkait materi
zat tunggal dan zat campuran yang disampaikan oleh guru dengan menggunakan
metode ceramah. Sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, hal ini
dapat dibuktikan dengan perolehan data studi pendahuluan yang menunjukkan
64,7% siswa belum tuntas dari KKM. Tujuan dari penelitian ini yaitu
meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode mind mapping.
Penelitian ini dilakukan hingga 2x tindakan dengan menyesuaikan kondisi
pandemic Covid-19, yaitu melalui video pembelajaran siklus I dan video
pembelajaran siklus II. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode tes
melalui fitur googleform yang berupa tes objektif. Subjek dari penelitian ini yaitu
siswa kelas 5- A UPT SDN 49 Gresik tahun ajaran 2019/2020 dengan jumlah 34
siswa. Hasil tes yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan presentase
ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus I dan siklus II. Persentase siswa yang
tuntas pada siklus I sebanyak 59% menjadi 79% pada siklus II. Perolehan
persentase pada siklus II melebihi batas persentase indikator keberhasilan yakni
≥75%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode mind mapping dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi zat tunggal dan zat campuran.

Kata Kunci : hasil belajar, mind mapping, zat tunggal dan zat campuran

Pendahuluan
Pembelajaran IPA merupakan suatu proses pengembangan potensi ilmu
pengetahuan alam dan pembangunan karakter setiap peserta didik yang
merupakan hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah,
keluarga, dan masyarakat. Adanya pembelajaran IPA sangat penting untuk
diterapkan pada instansi pendidikan. Karena pada hakikatnya, IPA merupakan
suatu disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan lingkungan sekitar dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, melalui pembelajaran IPA diharapkan
peserta didik dapat menganalisis benda benda hidup maupun fenomena yang
terjadi di lingkungan sekitar.
Membahas tentang pembelajaran IPA maka tentunya terkait erat dengan
proses belajar dan mengajar yang terlingkup dalam dunia pendidikan. Agar
pembelajaran IPA dapat tercapai sesuai dengan tujuan pendidikan nasional,
pemerintah melakukan berbagai upaya yang salah satunya yaitu melalui
pengembangan dan pelaksanaan kurikulum 2013 atau yang disebut dengan K 13.

1
Mahasiswa Program S1 PGSD.BI, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Terbuka. Email: muflihatulabadiyah@gmail.com
2
K 13 dikembangkan dengan tema pengembangan kurikulum dapat menghasilkan
insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Sehingga untuk
mewujudkannya upaya pemerintah melalui permendikbud tentang Standar Proses
menyatakan bahwa proses pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan
memotivasi peserta didik untuk aktif atau dengan kata lain pelaksanaan
pembelajaran yang dilakukan didalam atau diluar kelas merupakan pembelajaran
bermakna.
Berdasarkan observasi peneliti, tidak semua guru mampu menciptakan
kondisi pembelajaran yang bermakna. Hal itu dapat menyebabkan tujuan belajar
tidak tercapai secara maksimal dan hasil belajar peserta didik relatif kurang dari
standar ketuntasaan minimal (KKM). Oleh karena itu, sangat penting bagi
pendidik untuk menerapkan beberapa metode/ pendekatan pembelajaran agar
tercipta pembelajaran bermakna. Metode belajar menggunakan mind mapping
adalah salah satu metode belajar yang melibatkan siswa untuk memproses
informasi yang diterima di dalam otak dan dituangkan dalam tulisan. Siswa
menerima informasi yang terkait dengan materi dari yang diterima dari guru,
kemudian siswa memproses informasi tersebut dengan menuliskan beberapa
konsep dan mangaitkan antar konsep tersebut. Hubungan antar konsep yang telah
dibuat oleh siswa adalah mind mapping. Metode ini menekankan penguasaan
konsep siswa.
Materi zat tunggal dan zat campuran adalah salah satu materi IPA di kelas
5 yang tercover dalam tematik tema 9 “Benda-benda di sekitar kita”. Dimana
dalam prakteknya guru seringkali menggunakan metode ceramah. Sehingga
peserta didik kurang termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
Suasana kelas pasif, guru bukan menjadi fasilitator melainkan menjadi pusat
belajar siswa. Hal tersebut dapat menyebabkan minimnya perolehan hasil belajar
siswa. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti melalui tes
hasil belajar peserta didik materi zat tunggal dan zat campuran, sejumlah 22
peserta didik dengan persentase ketidaktuntasan 64,7% dengan perolehan nilai
rata-rata 60 dari nilai KKM yaitu 70.
Pencapaian nilai tersebut tentu menjadi pertimbangan peneliti terhadap
keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Jika masalah tersebut tidak
ditindak lanjuti, maka tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal serta
dampak jangka panjangnya motivasi peserta didik untuk mempelajari IPA akan
berkurang. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menerapkan suatu metode
sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Berdasarkan studi analisis
penelitian terdahulu, oleh Yusneti (2019) yang menerapkan metode mind
mapping pada materi pembelajaran di kelas 4 SD membuktikan bahwa metode
mind mapping efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sehingga peneliti
semakin tergerak untuk berupaya memperbaiki proses pembelajaran melalui
metode mind mapping agar hasil belajar siswa pada materi zat tunggal dan zat
campuran dapat meningkat.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirasa penting untuk
menyelesaikan permasalah siswa melalui penelitian tindakan kelas dengan judul
3
“Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Zat Tunggal dan Zat Campuran Melalui
Metode Mind Mapping Siswa Kelas 5A UPT SDN 49 Gresik”.
Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah mendeskripsikan
peningkatan hasil belajar IPA materi zat tunggal dan zat campuran pada siswa
kelas 5A UPT SDN 49 Gresik.

Kerangka Dasar Teori


Hasil Belajar
Hasil belajar sering disebut juga prestasi belajar. Kata prestasi
berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian di dalam bahasa
Indonesia disebut prestasi dan diartikan sebagai hasil usaha. Hasil belajar
adalah perubahan- perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang
menyangkut aspek kogitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari
kegiatan belajar. Hasil belajar juga diartikan sebagai tingkat keberhasilan
siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah dinyatakan dalam
skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran
tertentu (Susanto. 2013). Secara sederhana, hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar karena
belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh suatu bentuk
perubahan perilaku yang relatif menetap.
Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional,
biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam
belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau
tujuan instruksional. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,
pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Hasil
belajar berupa: (1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan
pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis, (2)
Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan
lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan
mengatagorisasi, kemampuan analitis- sintetisfakta konsep dan
mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual
merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas, (3)
Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri, (4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan
melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi,
sehingga terwujud gerak jasmani, (5) Sikap adalah kemampuan menerima
atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap
berupa keampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap
merupakan kemampuan menjadikan nilai- nilai sebagai standar perilaku.
Menurut Benyamin Bloom dalam buku Strategi Pembelajaran di
SD (Anita Sri, 2014) proses pendidikan mempunyai tujuan yang ingin
dicapai, yang dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yakni kognitif,
psikomotorik dan afektif. Tipe hasil belajar kognitif meliputi tipe belajar
hasil pengetahuan, hafalan, pemahaman, penerapan, analisa, dan evaluasi.
Tipe belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan dan
4
kemampuan bertindak individu (perseorangan). Sedangkan tipe hasil
afektif berkenaan dengan sikap dan nilai (Angkowo, dkk. 2007).
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa
dapat dibedakan menjadi tiga (Anitah Sri. 2014), yaitu : (1) Faktor
Internal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri
siswa sendiri yang meliputi dua aspek, yaitu : (a) Aspek Fisiologis, (b)
Aspek Psikologis. (2) Faktor Eksternal, terdiri atas dua macam, yaitu : (a)
Lingkungan Sosial. lingkungan sosial seperti guru, teman-teman sekelas,
masyarakat di lingkungan rumah, serta teman-teman sepermainan dapat
mempengaruhi semangat dan aktivitas belajar siswa. (b) Lingkungan
nonsosial, faktor-faktor lingkungan nonsosial yang turut menentukan
tingkat keberhasilan belajar siswa yaitu gedung sekolah dan letaknya,
rumah tempat tinggal siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca,
dan waktu belajar yang digunakan siswa. (3) Faktor Pendekatan Belajar,
dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam
menunjang keefektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu.
Faktor pendekatan belajar berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses
belajar siswa. dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses
mempelajari materi tertentu. Faktor pendekatan belajar berpengaruh
terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa.
Mind Mapping
Mind maping adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke
segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Mind
maping mengembangkan cara berpikir divergen dan berpikir kreatif. Mind
mapping yang sering kita sebut dengan peta konsep ialah alat berpikir
organisasional yang sangat hebat yang juga merupakan cara termudah
untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi
itu ketika dibutuhkan (Tony Buzan, 2007:4).
Beberapa manfaat metode pencatatan menggunakan Mind
mapping antara lain: (a) meningkatkan pemahaman dan memberikan
catatan tinjauan ulang yang berarti, (b) meningkatkan dan mempermudah
proses pengingatan, (c) mempercepat proses pencatatan karena hanya
menggunakan kata kunci, (d) mempermudah siswa untuk mengolah
informasi yang telah diterima. Menurut Michael Michalko dalam Buzan
(2012:6) yang dikutip dari jurnal Adilah Nida, 2017 metode Mind
mapping dapat dimanfaatkan atau berguna untuk berbagai bidangg,
termasuk bidang pendidikan. Kegunaan metode Mind Mapping dalam
bdang pedidikan diantaranya adalah meningkatkan konsentrasi belajar dan
hasil belajar peserta didik.
Adapun langkah-langkah dalam membuat mind mapping menurut
Tony Buzan yang dikutip dari jurnal (Yusneti,2011) adalah sebagai
berikut: (a) mulailah dengan bagian tengah kertas kosong yang sisi
panjangnya diletakkan mendatar, karena memulai dari tengah dapat
memberikan kebebasan pada otak untuk menyebar ke segala arah, (b)
gunakan gambar atau foto untuk ide sentral, karena gambar bermakna
seribu kata, dan membantu kita menggunakan imajinasi, (c) warnai,
karena warna membuat mind mapping lebih hidup, menambah energi
5
pada pemikiran kreatif, dan menyenangkan, (d) hubungkan cabang-
cabang utama ke gambar pusat yang berada di tengah, sehingga kita akan
lebih mudah mengerti dan mengingat, (e) buatlah garis hubung yang
melengkung, karena garis lurus akan membosankan otak, (f) gunakan satu
kata kunci untuk setiap garis, karena kata kunci tunggal akan memberi
lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind mapping, (g) tambahkan
gambar di seluruh mind mapping, karena gambar lebih efektif mewakili
kata, kalimat, atau ide yang ingin disampaikan.
Zat Tunggal dan Zat Campuran
Semua benda disekitar merupakan materi. Materi adalah segala
sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa. Berdasarkan
komposisi penyusunnya, materi dibedakan menjadi zat tunggal dan zat
campuran. Zat tunggal merupakan zat yang terdiri atas materi sejenis.
Contoh benda terasuk zat tunggal adalah air, garam, gula, dan emas 24
karat. Zat tunggal dibagi menjadi 2 macam, yaitu : (a) unsur adalah zat
kimia yang tidak dapat dibagi lagi menjadi zat yang lebih sederhana
melalui reaksi kimia sederhana. Unsur dibagi menjadi dua, yaitu unsur
logam dan unsur non logam. Contoh dari unsur logam adalah perak, besi,
emas, dan platinum. Adapun contoh dari unsur nonlogam, yaitu hidrogen,
oksigen, nitrogen, dan karbon. (b) Senyawa adalah zat tunggal yang
terbentuk dari beberapa unsur. Contoh dari senyawa adalah garam, air,
dan gula. senyawa yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari
adalah air. Air merupakan gabungan dari unsur hidrogen (H) dan oksigen
(O) dengan rumus kimianya, yaitu H2O. Nah, melalui reaksi kimia, air
dapat diuraikan kembali menjadi hidrogen dan oksigen. Meskipun pada
tekanan atmosfer, hidrogen dan oksigen sama-sama berwujud gas, tapi,
saat mereka bersatu dan saling mengikat, wujudnya dapat berubah
menjadi cair.
Zat Campuran adalah zat yang komponen penyusunnya terdiri atas
dua atau lebih zat/ materi. Campuran dapat dibedakan menjadi campuran
homogen dan campuran heterogen. Campuran homogen merupakan
campuran yang terdiri atas dua materi atau zat yang menyatu secara
merata. Pada campuran homogen, zat penyusunnya tidak dapat
dibedakan. Contoh: air garam, sirup, udara, perunggu, kuningan.
Sedangkan campuran heterogen merupakan campuran yang terdiri atas
dua zat atau materi yang berbeda yang tidak dapat menyatu secara
sempurna. Pada campuran heterogen, zat penyusunnya masih dapat
dibedakan. Contoh: campuran air dengan kopi, air dengan tepung, dan air
dengan pasir.

Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 5A UPT SDN 49 Gresik tahun
pelajaran 2019/2020 dengan jumlah 34 siswa yang terkait dengan mata pelajaran
IPA semester 2 materi zat tunggal dan zat campuran. Penelitian ini dilakukan
pada tanggal 2 Mei 2020 dan 9 Mei 2020.
6
Desain penelitian tindakan ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas,
melalui 2 siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan. Yaitu tahap
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Sedangkan menurut
Wardani (2005), Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dengan
menerapkan empat langkah utama,adapun langkahnya sebagai berikut : (1)
refleksi awal (identifikasi masalah), (2) menyusun perencanaan tindakan,
instrumen pengumpulan data, dan kriteria keberhasilan tindakan, (3) menerapkan
perencanaan dalam pelaksanaan tindakan dan (4) mengobservasi atau
mengumpulkan data menggunakan instrumen yang sudah disiapkan/direncanakan.
Setelah itu kembali melakukan refleksi terhadap seluruh proses dan hasil
penelitian.
Penelitian ini dilakukan dengan menyesuaikan kondisi pandemic Covid-
19. Sehingga pembelajaran tidak dilakukan secara langsung dikelas dan bertatap
muka dengan siswa. Pembelajaran dilakukan melalui daring melalui whatsapp
grup. Guru membuat video pembelajaran yang sesuai dengan rancangan
pembelajaran pada siklus I untuk di kirim kepada siswa melalui whatsapp grup.
Kemudian guru melakukan refleksi dan dilanjutkan membuat video pembelajaran
siklus II sebagai bentuk perbaikan dari siklus I. Hal ini dilakukan dengan tujuan
agar pelaksanaan pembelajaran diupayakan tetap berjalan optimal.
Adapun prosedur perbaikan penelitian tindakan kelas dengan
menyesuaikan kondisi pandemic Covid-19 yaitu sebagai berikut : (1) pelaksanaan
perbaikan pembelajaran Siklus I yang meliputi : (a) tahap perencanaan tindakan.
Pada tahap ini perencanaan siklus I diawali dengan refleksi dan analisis bersama
antara peneliti dan pembimbing berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan
oleh peneliti. Kemudian peneliti melakukan kegiatan lanjutan, yakni : (1)
penyusunan tujuan pembelajaran IPA dengan materi pokok zat tunggal dan zat
campuran, (2) menetapkan metode pembelajaran, (3) menyusun penilaian hasil
belajar serta pedoman refleksi, (4) menentukan indikator keberhasilan perbaikan
pembelajaran, (5) membuat video pembelajaran, (6) menerapkan video
pembelajaran, (7) penilaian hasil belajar berupa tes objektif, dan (8) melakukan
refleksi siklus I. (2) Tahap pelaksanaan tindakan, dengan berpedoman pada
rencana perbaikan pembelajaran, peneliti membuat video pembelajaran siklus I
yang berisi kegiatan awal, inti, dan akhir. Setelah video pembelajaran dibuat,
video pembelajaran tersebut dikirimkan melalui whatsapp grup. Peserta didik
menyimak video dan memperhatikan petunjuk yang diberikan oleh guru melalui
video. (3) Tahap pengamatan, pada tahap ini guru dengan dibantu dosen
pembimbing melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dalam video
siklus I, pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan video pembelajaran siklus
I dan hasil belajar siswa. (4) Tahap refleksi, tahap refleksi ini adalah tahap dimana
guru menilai tentang kelebihan dan kekurangan video proses pembelajaran dan
hasil belajar siswa.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran Siklus II, meliputi: (1) tahap
perencanaan tindakan. Pelaksanaan siklus ini didasarkan pada hasil refleksi siklus
I dan analisis peneliti bersama dosen pembimbing terhadap proses pembelajaran
dan hasil belajar siswa pada siklus I. Peneliti melaksanakan perencanaan ulang
perbaikan pembelajaran pada siklus II. Tujuan pelaksanaan perbaikan
pembelajaran siklus II ini dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman siswa.
7
(2) Tahap pelaksanaan perbaikan, dengan tetap menyesuaikan kondisi pandemic
Covid-19, pada tahap pelaksanaan siklus II peneliti melaksanakan pembelajaran
dengan menerapkan video pembelajaran yang berisi kegiatan awal, inti, dan akhir.
(3) Tahap pengamatan, pada tahap ini peneliti dibantu dosen pembimbing dan
teman sejawat melakukan pengamatan terhadap video pembelajaran siklus II,
pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan video pembelajaran siklus II dan
hasil belajar siswa siklus II. (4) Tahap refleksi, tahap refleksi ini adalah tahap
dimana guru menilai tentang kelebihan dan kekurangan video proses
pembelajaran dan hasil belajar siswa. Jika indikator keberhasilan penelitian telah
tercapai, maka peneliti tidak lagi menyusun rencana perbaikan untuk lanjut ke
tindakan selanjutnya.
Data dikumpulkan dengan menggunakan metode tes. Tes yang digunakan
pada penelitian ini berupa tes objektif yang terdiri dari 15 butir soal dengan ranah
soal C1-C2. Tes objektif diberikan dengan menyesuaikan kondisi pandemic
Covid-19 yaitu melalui fitur googleform. Tujuan digunakan metode tes pada
penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa materi zat tunggal dan
zat campuran. Tes diberikan kepada siswa setiap diakhir pembelajaran.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
kuantitatif yaitu suatu metode analisis data yang bersifat menggambarkan
kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk
mengetahui hasil belajar siswa selama proses pembelajaran. Analisis data yang
dilakukan dengan mereduksi data, menginterpretasi data dan inferensi data
dengan menyimpulkan apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Rumus
untuk menganalisis ketuntasan belajar, yaitu:
Nilai Hasil Belajar Siswa:

Keterangan :
a. Ns : Nilai skor
b. KKM = 70, Siswa dinyatakan tuntas jika skor ≥ 70
Siswa dinyatakan tidak tuntas jika skor < 70

Selanjutnya data yang diperoleh (jumlah siswa yang tuntas) akan


diinterpretasikan ke dalam persentase keuntasan hasil belajar, Rumus untuk
menentukan presentase ketuntasan siswa yaitu :

Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa :

Penelitian ini dinyatakan berhasil jika (1) persentase ketuntasan hasil


belajar siswa ≥ 75 %, maka penelitian dinyatakan berhasil, (2) peningkatan
persentase hasil belajar dari tindakan siklus I dan tindakan siklus II.
8
Hasil Penelitian dan Perbaikan Pembelajaran
Siklus I
1. Tahap Perencanaan
Setelah peneliti melakukan refleksi awal terhadap pembelajaran
dan hasil belajar siswa kelas 5A UPT SDN 49 Gresik materi zat
tunggal dan zat campuran, peneliti menemukan kekurangan –
kekurangan yang menyebabkan ketidakberhasilan dalam mencapai
tujuan pembelajaran, maka peneliti menyusun perencanaan perbaikan.
Adapun kegiatan perencanaan meliputi hal – hal sebagai berikut: (a)
menyusun rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPP) siklus
1 yang menerapkan metode mind mapping, (b) menyusun alat
penilaian kognitif siswa beserta kunci jawaban, alat penilaian berupa
tes objektif yang terdiri dari 15 butir soal dengan ranah berfikir
kognitif C1-C2, (c) mendiskusikan RPP dan alat penilaian kepada
dosen pembimbing, (d) menyiapkan media yang digunakan untuk
apersepsi, (e) media yang disiapkan yakni ; kopi bubuk, gula pasir,
dan garam, (f) membuat video pembelajaran siklus I, (g) menerapkan
video pembelajaran siklus I, (h) memberikan tes sesuai dengan alat
penilaian yang telah disetujui dosen pembimbing, (i) melakukan
refleksi video pembelajaran dan hasil belajar siswa.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tindakan siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 2 Mei
2020 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit, yaitu mulai pukul 08.00 –
09.10 WIB. Pelaksanaan tindakan pemantapan kemampuan
professional ini dilakukan dengan menyesuaikan kondisi pandemic
Covid-19 melalui daring whatsapp grup. Melalui whatsapp grup,
peneliti membagikan video pembelajaran siklus I yang telah dibuat.
Peserta didik menyimak dan mengikuti langkah- langkah
pembelajaran yang disampaikan oleh guru dalam video. Video
pembelajaran siklus I ini berisi langkah- langkah pembelajaran yang
disesuaikan dengan RPP siklus I.
3. Tahap Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan melihat proses pembelajaran
pada video pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti, jalannya
pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan video, dan hasil
belajar. Pada tahap mengamati video pembelajaran peneliti dibantu
oleh dosen pembimbing. Pengamatan terhadap jalannya pelaksanaan
pembelajaran dengan menerapkan video pembelajaran diklus I
dilakukan oleh peneliti secara mandiri. Secara umum, peserta didik
aktif bertanya tentang hal yang belum dimengerti terkait tugas mind
mappingnya, hanya saja ketika dimulai tes objektif melalui
googleform, ada 2 peserta didik yang tidak tepat waktu mengirimkan
jawaban. Pengamatan hasil belajar siswa di siklus I dilakukan dengan
melihat skor perolehan masing-masing siswa melalui fitur googleform
yang dicover pada bagian google spreadsheet. Berdasarkan hasil tes,
diketahui bahwa ada sebanyak 20 siswa yang tuntas dalam belajar,
sehingga jika dipersentasekan diperoleh 59%. Siswa yang tidak tuntas
9
dalam belajar sebanyak 14 siswa, sehingga jika dipresentasikan
diperoleh 41%. Berdasarkan hasil tersebut, maka peneliti dapat
menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan siklus I belum berhasil
karena tingkat persentase ketuntasan belajar belum mencapai ≥ 75%.
4. Refleksi
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan kelas melalui
video pembelajaran siklus I, peneliti menemukan beberapa temuan
sebagai berikut: (a) pada kegiatan pembuka tujuan pembelajaran
sudah disampaikan sehingga peserta didik sudah mengetahui materi
apa yang akan disampaikan oleh guru, (b) media pada kegiatan
apersepsi menjadi kurang berperan sebagai motivasi belajar peserta
didik, (c) pada kegiatan inti, guru menjelaskan secara rinci materi
tentang zat tunggal dan zat campuran. Namun, materi yang
disampaikan oleh guru terlalu cepat, (d) contoh mind mapping yang
disajikan oleh guru kurang relevan dengan materi, (e) pada kegiatan
penutup guru belum menyampaikan kegiatan tes online yang akan
diberikan, (f) kesimpulan yang disampaikan oleh guru sangat minim.
Siklus II
1. Tahap Perencanaan
Setelah peneliti melakukan refleksi terhadap hasil pelaksanaan
tindakan siklus 1, peneliti menemukan kekurangan – kekurangan
yang menyebabkan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Selanjutnya peneliti menyusun perencanaan perbaikan.
Rencana perbaikan pada siklus II ini menerapkan dan memperhatikan
kekurangan pada refleksi siklus I. Tahap perencanaan pada tindakan
siklus II ini meliputi: (a) menyusun rencana pelaksanaan perbaikan
pembelajaran (RPP) siklus II yang menerapkan metode mind
mapping, (b) menyusun alat penilaian kognitif siswa beserta kunci
jawaban, alat penilaian berupa tes objektif yang terdiri dari 15 butir
soal dengan ranah berfikir kognitif C1-C2. Soal dibuat berbeda
dengan soal pada siklus I, namun indikator dan ranah kognitif tetap
dibuat sama, (c) mendiskusikan RPP dan alat penilaian kepada dosen
pembimbing, (d) menyiapkan media yang digunakan untuk apersepsi.
Media yang disiapkan yakni contoh zat tunggal : kopi bubuk, gula
pasir, dan garam, serta media contoh zat campuran : larutan homogen
dan larutan heterogen, (e) menyiapkan contoh mind mapping yang
relevan, (f) membuat video pembelajaran siklus II, (g) menerapkan
video pembelajaran siklus II, (h) memberikan tes sesuai dengan alat
penilaian yang telah disetujui dosen pembimbing, (i) melakukan
refleksi video pembelajaran dan hasil belajar siswa.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus II masih tetap dilakukan dengan
menyesuaikan kondisi pandemic Covid-19 melalui daring whatsapp
grup. Tindakan siklus II dilaksanakan hari Jum’at tanggal 8 Mei 2020
dengan alokasi waktu 2 x 35 menit, yaitu mulai pukul 08.00 – 09.10
dengan materi zat tunggal dan zat campuran. Sebelum dimulai,guru
menyiapkan siswa dengan membuka salam dan menanyakan kabar
10
siswa di grup. Guru juga membuat list kehadiran di grup.
Pelaksanaan berjalan dengan lancar, tidak ada problem dari siswa
ketika mengakses tes melalui googleform. Video pembelajaran berisi
langkah- langkah pembelajaran yang disesuaikan dengan RPP siklus
II.
3. Tahap Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan melihat proses pembelajaran
pada video pembelajaran siklus II, pelaksanaan pembelajaran dengan
menerapkan video pembelajaran siklus II, dan hasil belajar siswa.
Pada tahap ini peneliti mengamati video pembelajaran dibantu oleh
dosen pembimbing.
Pengamatan terhadap jalannya pelaksanaan pembelajaran
dengan menerapkan video pembelajaran siklus II dilakukan oleh
peneliti secara mandiri. Pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan
baik. Siswa aktif bertanya tentang hal yang belum dimengerti terkait
tugas mind mappingnya, pelaksanaan tes evaluasi melalui googleform
berjalan dengan baik. Hasil mind mapping sudah sesuai dengan
harapan guru, karena guru sudah memberikan contoh ind mapping
yang relevan
Pengamatan hasil belajar siswa di siklus II dilakukan dengan
melihat skor perolehan masing-masing siswa melalui fitur
googleform yang dicover pada bagian google spreadsheet.
Berdasarkan hasil tes, diketahui bahwa ada sebanyak 27 siswa yang
tuntas dari kkm , sehingga dapat dipersentasekan menjadi 79%. Siswa
yang tidak tuntas dalam belajar sebanyak 7 siswa, sehingga dapat
dipresentasekan menjadi 21%. Berdasarkan hasil tersebut, maka
peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan siklus II
telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian dikarenakan tingkat
persentase ketuntasan belajar sudah mencapai ≥75%.
4. Refleksi
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan kelas pada siklus II,
peneliti menemukan beberapa hal sebagai berikut: (a) tujuan
pembelajaran yang disampaikan kurang begitu jelas, (b) materi zat
tunggal dan zat campuran sudah disampaikan secara jelas baik
melalui perkataan maupun tulisan, (c) contoh mind mapping yang
disajikan guru sudah relevan dengan materi, (d) kesimpulan
disampaikan dengan jelas.
Perbandingan Hasil Belajar
Berdasarkan perolehan data hasil belajar pada Siklus I dan Siklus
II, dapat disajikan pula diagram perbandingan persentase siswa tuntas dan
tidak tuntas. Berikut ini diagram 4.1 perbandingan persentase hasil belajar
data awal, siklus I dan siklus II :
11

Diagram batang diatas menunjukkan ketuntasan dan


ketidaktuntasan hasil belajar siswa dari data awal, siklus I dan siklus II.
Data awal hasil belajar ditunjukkan oleh batang berwarna hijau, siklus I
ditunjukkan oleh batang berwarna kuning, sedangkan batang berwarna
biru menunjukkan hasil belajar dari siklus II. Diagram tersebut
menunjukkan bahwa adanya peningkatan persentase ketuntasan hasil
belajar dari data awal (35,3%), ke siklus I (59%) hingga ke siklus II
(79%). Sebaliknya ketidaktuntasan hasil belajar mengalami penurunan
dari data awal (64,7%), siklus I (41%), hingga ke siklus II (21%).

Pembahasan
Berdasarkan diskripsi hasil penelitian, pada siklus I sudah ada
peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa. Namun peningkatan ketuntasan hasil
belajar tersebut masih dibawah indikator keberhasilan penelitian. Hal tersebut
dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu penjelasan
materi dalam video pembelajaran yang terlalu cepat, mind mapping yang
dicontohkan oleh guru tidak relevan dengan materi, dan kesimpulan yang
disampaikan oleh guru sangat minim. Sehingga pemahaman yang diterima siswa
pun masih belum maksimal. Beberapa faktor tersebut diminimalisir peneliti
dengan melanjutkan tindakan siklus II.
Pada siklus II peningkatan persentase ketuntasan hasil belajar siswa
sangat baik, yaitu sebesar 79%. Hal ini dikarenakan beberapa kekurangan
(refleksi) dari video pembelajaran siklus I dapat diperbaiki oleh peneliti pada
video pembelajaran siklus II. Siswa menjadi lebih paham terhadap materi yang
disampaikan oleh guru. Hal itu dikarenakan guru dapat menjelaskan dengan baik
melalui penjelasan yang lugas dan beberapa tulisan yang ditulis di papan tulis
dapat terbaca dengan jelas. Selain itu guru dapat menyampaikan kesimpulan yang
mengaitkan pada media di kegiatan apersepsi. Hasil mind mapping siswa pun
sesuai dengan harapan, karena guru sudah memberikan contoh mind mapping
yang relevan.
Ketuntasan hasil belajar siswa dari data awal, siklus I dan siklus II
mengalami peningkatan setelah diterapkannya metode mind mapping pada materi
zat tunggal dan zat campuran. Hal itu dapat dibuktikan dengan perolehan data tes
evaluasi siswa. Data awal dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti,
persentase ketuntasan hasil belajar siswa hanya sebesar 35,3% berangsur angsur
12
naik setelah menerima tindakan siklus I dan siklus II. Persentase ketuntasan
dari siklus I dan siklus II yang diperoleh yaitu 59% dan 79%. Sebaliknya,
persentase ketidaktuntasan dari studi pendahuluan hingga tindakan siklus I dan
siklus II berangsur-angsur turun yaitu sebesar 64,7%, 41%, dan 21%. Kenaikan
persentase ketuntasan hasil belajar siswa di siklus II ini mencapai 79%, Oleh
karena itu peneliti tidak melanjutkan tindakan perbaikan lagi. Persentase yang
dicapai pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian.
Pelaksanaan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran materi zat
tunggal dan zat campuran menggunakan metode mind mapping dapat
memberikan pembelajaran bermakna bagi siswa. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh David Ausubel, dimana dalam teorinya menjelaskan bahwa
“agar terjadi belajar bermakna, maka konsep baru atau pengetahuan baru harus
dikaitkan dengan konsep atau pengetahuan lama yang telah ada di struktur
kognitif siswa” (Ausubel D, 1978).
Teori tersebut menjadi acuan peneliti dalam menerapkan metode mind
mapping pada materi zat tunggal dan zat campuran. Karena sebelum tindakan
dilaksanakan, siswa sudah menerima informasi yang terkait dengan materi
bahasan pada pembelajaran pertama di subtema 1. Sedangkan pelaksanaan
penelitian ini dilakukan pada pembelajaran kedua subtema 2. Sehingga siswa
dapat mengaitkan kosep yang telah diterima di pembelajaran pertama dengan
konsep yang diterimanya ketika dilakukan di pembelajaran kedua (tindakan
perbaikan).
Hal ini juga senada dengan hasil penelitian oleh Nida Adilah, dalam
jurnalnya yang berjudul “Perbedaan Hasil Pembelajaran IPA Melalui Penerapan
Metode Mind Mapping Dan Ceramah” Vol 1 No. 1 tahun 2017 IJPE (98-103).
Adilah menyebutkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan metode
mind mapping dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga perolehan
hasil belajar siswa menjadi lebih baik.
Berdasarkan perolehan data ketuntasan hasil belajar siswa yang
mengalami peningkatan, dan persentase ketuntasan siklus II telah mencapai 79%,
maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode mind mapping dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas 5A UPT SDN 49 Gresik pada materi zat
tunggal dan zat campuran.

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa metode mind mapping dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas 5A UPT SDN 49 Gresik pada materi zat tunggal dan
zat campuran. Hal ini dibuktikan dengan adanya perolehan persentase
ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 79%, sedangkan
indikator keberhasilan penelitian jika persentase ketuntasan hasil belajar
siswa mencapai ≥ 75%.
Saran
Berdasarkan pada temuan dari penelitian tindakan ini,
disampaikan beberapa saran dari peneliti untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas pembelajaran, saran yang dikemukakan adalah :
13
(1) guru sebaiknya memberikan contoh mind mapping yang relevan dan
menarik, sehingga siswa akan lebih mudah memahami materi dan
kreatifitas siswa dalam menyajikan mind mapping akan tergugah, (2)
mind mapping ini sabiknya tidak hanya diterapkan dalam pembelajaran
IPA saja, namun juga bisa diterapkan pada pembelajaran mata pelajaran
lainnya. Karena mind mapping ini sangat baik untuk membangun konsep
siswa dalam memahami suatu materi bahasan.

Daftar Pustaka
A.M, Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada.
Adilah, Nida. 2017. Perbedaan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Metode
Mind Mapp dengan Metode Ceramah. Indonesian Journal of Primery
education (IJPE), Vol. 1 No.1 98-103 (2017)(Online).
(http://ejournal.upi.edu/index.php/IJPE/index), diakses tanggal 30 April
2020.
Anitah,Sri dkk. 2014. Strategi Pembelajaran di SD. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka
Buzan, T. 2007. Buku Pintar Mind Mapp untuk Anak. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Lampiran Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tetang Standar Proses Pendidikan
Dasar dan Menengah
Sapriati, Amalia dkk. 2019. Pembelajaran IPA di SD. (Cet.XXIX) Tangerang
Selatan: Universitas Terbuka.
Subekti, Ari. 2017. Buku Guru Tema 9 “ Benda-benda di Sekitar Kita”. Jakarta:
Kemdikbud.
Subekti, Ari. 2017. Buku Siswa Tema 9 “ Benda-benda di Sekitar Kita”. Jakarta:
Kemdikbud.
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Cet.XV).
Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya.
Sugiarto, Bambang dkk. 2010. Kimia Dasar. Surabaya : Unesa University Press
Suryanto, Adi. 2019. Evaluasi Pembelajaran di SD. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekoah Dasar. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Tim FKIP. 2020. Pemantapan Kemampuan Profesional. Tangerang Selatan :
Univeritas Terbuka.
Uno, Hamzah B., Abdul Karim Rauf, dan Najamuddin Petta Solong. 2008.
Pengantar Teori Belajar dan Pembelajaran. (Cet. II). Gorontalo: Nurul
Jannah.
Usman, Moh Uzer dan Lilis Setiawati. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan
Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahidmurni, Alifin Mustikawan, dan Ali Ridho. 2010. Evaluasi Pembelajaran:
Kompetensi dan Praktik. Yogyakarta: Nuha Letera.
Wardhani, Kuswaya Wihardit. 2016. Penelitian Tindakan Kelas. Tangerang
Selatan: Universitas Terbuka.
14
Yusneti. 2019. Keefektifan Model Pembelajaran Mind Mapping Pada
Pembelajaran IPA pada Siswa Kelas V di SDN 10 Talontam Kecamatan
Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Pajar, Vol.3
No.2(2019)(Online).
(https://pajar.ejournal.unri.ac.id/index.php/PJR/article/view/701 7),
diakses tanggal 30 April 2020.