Anda di halaman 1dari 42

UJI KESEJAJARAN BUCKY TABLE PESAWAT SINAR-X DI INSTALASI

RADIOLOGI RSUD BANYUMAS

Proposal Karya Tulis Ilmiah

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

pendidikan Diploma III Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi

Diajukan oleh :

GLAGAH MAHARDIKA KENCANA

NIM. P1337430116031

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI SEMARANG

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia kedokteran, Instalasi Radiologi merupakan salah satu

pelayanan penunjang yang ada di rumah sakit, berfungsi untuk membantu

menegakkan diagnosa suatu penyakit pada organ tertentu dengan

memanfaatkan sinar-X. Untuk menegakkan diagnose yang akurat maka

diperlukan hasil kualitas citra radiografi yang baik. Kualitas citra radiografi

yang baik seharusnya memiliki densitas, kontras, ketajaman dan detail yang

optimal. Dalam upaya tercapainya mutu pelayanan radiologi, maka radiograf

yang dihasilkan harus berkualitas dan dapat memberikan informasi diagnostik

yang akurat. Untuk menunjang hasil citra radiografi yang optimal perlu

dilakukan pengendalian dan evaluasi dalam hal pengujian berkala semua

peralatan yang digunakan dalam pemeriksaan radiologi sehingga peralatan

yang ada dalam radiologi masih dalam keadaan aman dan standar.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu

dilakukannya peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berperan sebagai

penunjang medis. Guna mendapatkan pelayanan radiologi yang optimal perlu

dibuat sebuah program Quality Assurance dan Quality Control. Menurut Papp

(2011), Quality Assurance (QA) merupakan cakupan keseluruhan dari

program manajemen (pengelolaan) yang diselenggarakan guna memastikan


keunggulan dalam perawatan medis dan menjamin pelayanan kesehatan

radiologi prima dengan cara pengumpulan data dan melakukan evaluasi secara

sistematis. Tujuan utama program QA yaitu meningkatkan kualitas pelayanan

kepada pasien. Kualitas radiograf yang baik ditunjang oleh pengelolaan alat

yang prima. Sehingga pengujian terhadap kondisi dan performa peralatan

sangatlah penting.

Sedangkan Quality Control (QC) merupakan bagian dari program QA

yang berhubungan dengan teknik-teknik dalam pengawasan (monitoring).

perawatan dan menjaga (maintenance) elemen-elemen teknis dari suatu sistem

peralatan radiografi dan imejing yang mempengaruhi mutu gambar. Program

yang perlu dilakukan dalam mendukung program QA dan QC yaitu tes

penerimaan (acceptance testing), evaluasi rutin (routine performance

monitoring) dan evaluasi tes perbaikan (error correction test).

Tes penerimaan (acceptance testing) dilakukan pada peralatan baru

atau peralatan setelah mengalami perbaikan untuk menunjukkan bahwa

peralatan sinar-X telah sesuai dengan spesifikasi dari pabrik. Evaluasi rutin

(routine performance monitoring) merupakan pengujian secara khusus pada

peralatan yang telah digunakan dengan jangka waktu tertentu. Evaluasi tes

perbaikan (error correction test) dilakukan pada peralatan yang tidak dapat

berfungsi secara maksimal dan mencari penyebab dari kerusakan alat tersebut

(Papp, 2011).
Salah satu aspek penting dalam program Quality Assurance dan

Quality Control di radiologi mengevaluasi kinerja grid. Terdapat beberapa

jenis grid yaitu parallel grid, crossed grid, focused grid dan moving grid.

Moving grid biasa disebut dengan bucky. Bucky pertama kali diperkenalkan

oleh Gustave Bucky pada tahun 1913 yang tersusun dari lempengan timbal

dan bahan penyela. Berfungsi untuk menyerap radiasi hambur yang mencapai

image reseptor dan meningkatkan kualitas radiograf. Bucky didesain untuk

meneruskan foton sinar-X yang arahnya tegak lurus dari target tabung sinar-X

menuju image reseptor. Bucky akan bergerak saat eksposi berlangsung hingga

eksposi berhenti. Bucky biasanya terletak secara permanen, di bawah meja

pemeriksaan (bucky table) atau menempel dibelakang stand (bucky stand) atau

penyangga vertikal pada pemeriksaan thorax (Bushong, 2013). Cut off

merupakan kendala yang sering terjadi pada grid parallel, sementara pada grid

fokus biasanya terjadi kesalahan pada pemasangan yang terbalik, dan pada

moving grid biasanya terjadi pada pergerakan grid tersebut serta letak dari grid

yang tidak sejajar dengan pusat sinar (Papp,2006).

Di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas, terdapat pesawat sinar-X

yang dilengkapi dengan bucky table. Pesawat tersebut belum pernah

dilakukan uji grid dari awal penerimaan. Berdasarkan frekuensi

penggunaannya, pesawat digunakan untuk semua pemeriksaan baik kontra

maupun non kontras, sehingga frekuensi penggunaan bucky tinggi. Untuk


menjaga performa dan kualitas radiograf yang dihasilkan maka perlu

dilakukan Quality Control. Quality Control yang tidak rutin kemungkinan

dapat berpengaruh terhadap radiograf sehingga dapat mengganggu diagnosa.

Program Quality Control merupakan tanggung jawab masing-masing instalasi

radiologi. Demikian halnya pada pesawat sinar-X. Berdasarkan latar belakang

tersebut penulis tertarik untuk melakukan pengujian terhadap performa dan

kondisi dari bucky sebagai karya tulis ilmiah dengan judul “UJI

KESEJAJARAN BUCKY TABLE PESAWAT SINAR-X DI INSTALASI

RADIOLOGI RSUD BANYUMAS”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah

sebagai berikut:

1. bagaimana teknik pengujian bucky table pada pesawat sinar-X di Instalasi

Radiologi RSUD Banyumas?

2. Bagaimana hasil pengujian kesejajaran bucky table terhadap garis

pertengahan bucky table pada pesawat sinar-X di Instalasi Radiologi

RSUD Banyumas?
C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui teknik pengujian kesejajaran bucky table pada sinar-X

di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas.

2. Untuk mengetahui hasil pengujian kesejajaran bucky grid terhadap garis

pertengahan bucky grid pada pesawat sinar-X di Instalasi Radiologi RSUD

Banyumas.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian dari karya tulis ilmiah ini yaitu :

1. Manfaat teoritis

Menambah wawasan dan pengetahuan di bidang radiologi

khususnya mengenai manfaat penerapan penjaminan mutu radiologi pada

kendali mutu peralatan bucky grid pesawat sinar-X di Instalasi Radiologi

RSUD Banyumas.

2. Manfaat praktis

Sebagai acuan Rumah Sakit, dalam pelaksanaan kendali mutu

dan jaminan mutu untuk meningkatkan kualitas mutu dan pelayanan

terhadap pasien.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Sinar-X

a. Pengertian Sina-X

Sinar-X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang

sejenis dengan gelombang radio, panas, cahaya, dan sinar

ultraviolet namun memiliki panjang gelombang yang sangat

pendek. Sinar-X bersifat heterogen, memiliki panjang gelombang

yang bervariasi dan tidak terlihat. Panjang gelombang antara

sinar-X dan sinar elektromagnetik berbeda. Sinar-X memiliki

panjang gelombang yang sangat pendek yaitu 1/10.000 panjang

gelombang cahaya yang kelihatan. Sehingga sinar-X mampu

menembus benda-benda (Rasad, 2009).

b. Sifat-sifat sinar-X

Sinar-X memiliki beberapa sifat fisik, yaitu: daya tembus,

pertebaran, penyerapan, efek fotografik, pendar fluor

(fluorosensi), ionisasi, dan efek biologik (Rasad, 2009).


1) Daya tembus

Sinar-X dapat menembus bahan, dengan daya tembus

yang sangat besar dan berguna dalam bidang radiografi.

Semakin tinggi tegangan tabung (besarnya kV) yang

digunakan maka semakin besar daya tembusnya. Semakin

rendah berat atom atau kepadatan suatu benda, maka semakin

besar daya tembus sinarnya.

2) Pertebaran

Apabila berkas sinar-X melalui suatu bahan atau objek

maka berkas sinar tersebut akan bertebaran ke segala arah

sehingga menimbulkan radiasi sekunder (radiasi hambur).

Radiasi sekunder (radiasi hambur) menghasilkan gambaran

kelabu secara menyeluruh yang tampak pada radiograf. Untuk

mengurangi radiasi sekunder (radiasi hambur), maka diantara

objek dan film diletakkan grid. Grid terdiri dari lempengan-

lempengan tipis berbahan timah yang letaknya sejajar.

3) Penyerapan

Sinar-X akan diserap oleh bahan yang dilaluinya sesuai

dengan berat atom atau kepadatan bahan tersebut. Semakin


tinggi berat atom atau kepadatannya, makin besar

penyerapannya.

4) Efek fotografik

Sinar-X dapat menghitamkan emulsi film melalui

proses pembangkitan secara kimiawi di kamar gelap.

5) Fluorosensi

Sinar-X menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti

Kalsium Tungstat atau Zink-Sulfid memendarkan cahaya

(luminisensi), bila bahan tersebut dikenai dengan sinar-X.

c. Proses Terjadinya Sinar-X

Urutan proses terjadinya sinar-X (Rasad, 2009) adalah

sebagai berikut:

1) Katoda (filamen) dipanaskan (lebih dari 20000C) sampai

menyala dengan mengalirkan listrik yang berasal dari

transformator.

2) Karena panas, elektron-elektron dari katoda (filamen)

terlepas.
3) Muatan listrik filamen sengaja dibuat relatif lebih negatif

terhadap sasaran (target) dengan memilih potensial tinggi,

sehingga elektron bergerak kearah anoda.

4) Sewaktu dihubungkan dengan transformator tegangan tinggi,

elektron-elektron menuju anoda dipercepat gerakannya dan

dipusatkan ke alat pemusat (focusing cup).

5) Awan-awan elektron yang sampai di anoda bagaikan

mendadak dihentikan pada sasaran (target) sehingga terbentuk

panas (>99%) dan sinar-X (>1%).

6) Pelindung (perisai) timah akan mencegah keluarnya sinar-X

dari tabung, sehingga sinar-X yang terbentuk hanya dapat

keluar melalui jendela. Panas yang tinggi pada sasaran

(target) akibat benturan elektron ditiadakan oleh radiator

pendingin. Jumlah sinar-X yang dilepaskan tiap satuan waktu

dapat dilihat pada alat pengukur miliAmpere (mA),

sedangkan jangka waktu pemotetran dikendalikan oleh alat

pengukur waktu.
2. Kualitas dan Kuantitas Sinar-X

Kualitas dan kuantitas sinar-X yang dihasilkan dipengaruhi

oleh faktor eksposi pada saat dilakukan eksposi sinar-X. Kualitas

sinar-X adalah suatu ukuran tentang kemampuan daya tembus dari

berkas sinar-X. Sedangkan kuantitas atau bisa juga disebut intensitas

sinar-X adalah banyaknya sinar-X (satuannya mR atau mR/mAs)

(Charlton dan Adler, 2001). Semua faktor tersebut penggunaannya

diatur oleh radiografer seperti pengaturan tegangan tabung (kVp), arus

tabung (mA), lamanya penyinaran (s) dan jarak antara tabung sinar-X

dengan film (FFD). Tetapi terdapat faktor eksposi lainnya yang dapat

mempengaruhi kualitas radiografi yang tidak dapat dikontrol secara

langsung oleh radiografer antara lain: ukuran focal spot, filtrasi,

generator tegangan tinggi (Bushong,2001). Faktor eksposi yang dapat

diatur oleh radiografer adalah sebagai berikut :

a. Tegangan tabung (kVp)

Tegangan tabung merupakan beda potensial antara katoda dan

anoda dalam tabung sinar-X yang dinyatakan dalam kilovolt (kVp).

Tegangan tabung memiliki pengaruh pada berkas sinar-X, bila

tegangan tabung meningkat maka terjadi peningkatan kualitas sinar-X

sehingga menentukan daya tembus sinar-X. Kualitas sinar-X dapat


diidentifikasikan dalam Half Value Layer (HVL). Half Value Layer

adalah ketebalan material yang mampu mereduksi intensitas radiasi

sinar-X menjadi ½ kali intensitas mula-mula (Charlton dan

Adler,2001).

Tegangan tabung mengontrol skala kontras pada radiograf.

tegangan tabung yang tinggi mengakibatkan penurunan kontras

gambar. Hal ini dikarenakan kVp yang tinggi menghasilkan interaksi

sinar-X dengan objek semakin banyak sehingga produksi radiasi

hambur semakin meningkat. Radiasi hambur akan bergerak kesegala

arah dan tidak menyinari film secara merata sehingga menghasilkan

pola gambar yang tidak teratur. Hal ini menyebabkan kontras

radiografi berkurang(Bushong,2001).

b. Milli Ampere Second (mAs)

Milli Ampere Second (mAs) merupakan perkalian antara arus

tabung (milli ampere) dan waktu eksposi (second). Milli Ampere

Second (mAs) adalah faktor yang mengatur kuantitas radiasi yang

diemisikan oleh tabung sinar-X (Bushong,2001). Milli Ampere (mA)

menentukan jumlah sinar-X atau kuantitas radiasi. Satu Ampere sama

dengan satu Coulomb (C) pada muatan listrik statis yang mengalir tiap

detik dalam konduktor, dapat ditulis sebagai berikut:


1 A = 1 C/s = 6,3.1018 elektron/s

Bila dipilih 100 mA, maka jumlah elektron yang mengalir

melalui tabung sinar-X tiap detik sebanyak 6,3.1018 elektron/s.

Waktu eksposi adalah faktor primer yang berpengaruh terhadap

radiograf terutama pada densitas dan ketajaman karena pergerakan.

Waktu eksposi dibuat sependek mungkin dengan tujuan

meminimalkan dosis pasien dan juga kekaburan akibat gerakan

(Bushong,2010).

Milli Ampere Second (mAs) merupakan faktor yang

berpengaruh secara langsung terhadap densitas. Jika mAs naik maka

densitas akan naik sebaliknya jika mAs turun maka densitas juga akan

turun (Bushong,2001).

c. Focus Film Distance (FFD)

Focus Film Distance (FFD) adalah jarak antara fokus ke film.

Adapula berlaku hukum kuadrat jarak terbalik. Hal ini membuat

radiografer dapat mengatur perubahan yang dikehendaki pada mAs

setelah merubah FFD untuk menjaga agar densitas optik tetap. Kuadrat

jarak terbalik (inverse square law) mAs terhadap FFD adalah sebagai

mAs 1 FFD 1
berikut : =
mA s 2 FFD 2
Artinya tiap kenaikan FFD 2 kali semula maka nilai mAs harus

dinaikkan 4 kali dari mAs semula. FFD menentukan intensitas berkas

sinar-X pada reseptor gambar dan tidak mempunyai efek terhadap

kualitas radiasi (Bushong,2013).

d. Filtrasi

Dalam pemanfaatan sinar-X membutuhkan filtrasi biasanya

dengan bahan Aluminum (Al) dengan ketebalan 1 – 5 mm.

Penggunaan filtrasi bertujuan untuk meminimalisir jumlah foton sinar-

X berenergi rendah. Foton sinar-X yang berenergi rendah berpotensi

meningkatkan dosis radiasi yang diserap oleh pasien.

3. Pesawat Sinar-X

Komponen dalam sistem pesawat sinar-X yaitu:

a. Panel Kontrol

Panel kontrol adalah komponen dalam sistem pesawat sinar-X yang

digunakan untuk mengatur arus dan tegangan tabung sehingga

menghasilkan kualitas dan kuantitas radiasi sinar-X yang diperlukan

dalam pemeriksaan.

b. Generator Tegangan Tinggi

Generator tegangan tinggi adalah salah satu komponen pesawat

sinar-X yang berfungsi untuk mengubah tegangan rendah dari PLN


menjadi tegangan yang cukup tinggi agar pesawat sinar-X dapat

beroperasi, yaitu pada tegangan kilo Volt (kV). Setiap alat yang

bertegangan tinggi akan menghasilkan panas, maka pada generator

tegangan tinggi ini tedapat minyak yang berfungsi sebagai isolasi

elektrik untuk mengurangi panas (Bushong, 2001).

c. Tabung sinar-X

Tabung sinar-X merupakan bagian dari sistem pesawat sinar-X.

Struktur luar tediri atas tuga bagian, yaitu struktur penyokong,

protective housing (rumah pelindung), dan glass / metal envelope.

Sedangkan struktur dalam terdiri atas anoda dan katoda.

(Bushong,2001)

d. Kolimator

Kolimator adalah alat pembatas radiasi yang umumnya digunakan

pada radiografi yang terdiri dari dua set penutup (shutter) timbal

yang saling berhadapan dan bergerak dengan arah berlawanan secara

berpasangan (Carlton, 1992). Alat ini mempunyai dua keuntungan

yaitu dilengkapi dengan pembatas luas lapangan penyinaran yang

dapat diatur dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan

titik tengah (central point) sinar-X yang keluar dari bidang target.

Kolimator dilengkapi dengan bola lampu, cermin, dan dua penutup

jendela (shutter) yaitu shutter 1 dan shutter 2. Bola lampu dan

cermin berfungsi sebagai penunjuk berkas sinar-X yang akan


tergambar pada film radiografi. Berkas sinar tersebut dibelokkan

oleh sebuah cermin yang dipasang pada jalur didalam berkas sinar-X

dengan sudut 45˚. Antara target tabung sinar-X dan sinar lampu

harus memiliki jarak yang tepat dan sama dari pusat cermin

sehingga berkas sinar yang melewati shutter kedua yang telah

terbuka terkolimasi secara tepat dengan berkas sinar-X

e. Meja Pemeriksaan

Meja pemeriksaan merupakan tempat mengatur posisi pasien saat

pemeriksaan, meja pemeriksaan dapat digerakkan maju dan mundur,

ke atas dan ke bawah, posisi meja pemeriksaan dapat menunjukan

indek (posisi objek) saat scanning. Meja pemeriksaan terbuat dari

bahan dengan kandungan karbon composite yang rendah.

f. Bucky

Bucky adalah istilah lain dari grid bergerak, yaitu grid yang bergerak

selama waktu eksposi dilakukan, dan terletak didalam meja

pemeriksaan.
4. Grid

a. Pengertian Grid

Grid merupakan alat yang efektif dalam mengurangi

radiasi hambur yang mecapai image reseptor. Grid pertama kali

diperkenalkan tahun 1913 oleh Gustave Bucky. Terdapat dua jenis

grid yaitu stationary (grid diam) dan moving grid (grid bergerak).

Grid dirancang untuk meneruskan foton sinar-X yang tegak lurus

dari tube sinar-X menuju image reseptor. Grid terdiri dari

lempengan timbal berbentuk garis (grid strip) dan dipisahkan oleh

bahan penyela (interspace material) berfungsi untuk mengurangi

radiasi hambur yang mencapai image reseptor dan meningkatkan

kualitas radiograf. Grid diletakkan diantara pasien dan image

reseptor. Sinar-X yang keluar dari tubuh pasien akan mengenai

lempengan timbal sehingga tidak mencapai image reseptor.

Sebagai contoh, grid yang memiliki lempengan timbal dengan

ketebalan 50μm dan dipisahkan oleh bahan penyela dengan

ketebalan 350μm mampu menyerap radiasi hambur sebesar

12,5%. Besarnya radiasi hambur yang diserap dapat dirumuskan

sebagai berikut (Bushong, 2013).


ketebalan grid strip
Radiasi hambur yg diserap (%) = ketebalan grid strip +ketebalan X 100
ba h an interspace

Grid dirancang untuk meneruskan foton sinar-X yang

tegak lurus dari tube sinar-X menuju image reseptor. Radiasi

primer yang mengenai bahan penyela akan ditransmisikan hingga

image reseptor. Sedangkan radiasi hambur yang mengenai bahan

penyela kemungkinan diserap atau tidak diserap bergantung

dengan sudut dan karakteristik grid tersebut. Grid yang berkualitas

baik mampu menyerap radiasi hambur sebesar 80% - 90%

(Bushong, 2013). Skema radiasi hambur saat mengenai objek

adalah sebagai berikut.

Gambar 2.1. Skema radiasi hambur saat mengenai objek


(Bushong,2013)

b. Karakteristik Grid
Karakteristik grid merupakan angka yang digunakan untuk

menunjukkan spesifikasi grid, dalam hal ini grid rasio mungkin

memiliki peranan yang penting (Bushong, 2013).

1) Rasio Grid

Grid memiliki tiga aspek penting yaitu ketebalan bahan

grid (T), ketebalan bahan penyela (D) dan ketinggian dari grid (h).

Rasio grid merupakan ketinggian dari grid dibagi dengan lebar

bahan penyela (interspace material). Grid rasio secara sistematis

dirumuskan sebagai berikut.

h
Rasio Grid =
D

Keterangan :

h : ketinggian grid

D : ketebalan bahan penyela


Gambar 2.2. Rasio grid (Bushong, 2013)

Makin tinggi rasio grid maka semakin efektif dalam

menyerap radiasi hambur dibandingkan dengan rasio grid rendah.

Hal ini dikarenakan sudut deviasi pada grid berasio tinggi lebih

kecil dibanding grid berasio rendah. Sehingga mampu

memperlihatkan efisiensi penyerapan radiasi hambur yang lebih

baik. Namun grid dengan ratio yang tinggi, cukup sulit untuk

diproduksi. Grid dengan rasio yang tinggi dibuat dengan cara

mengurangi lebar bahan penyela (interspace material),

meningkatkan ketinggian bahan grid atau kombinasi dari dua

teknik tersebut. Makin tinggi rasio grid maka semakin tinggi pula

faktor eksposi yang diperlukan agar sinar-X mampu mencapai

image reseptor. Secara umum, rasio grid 5:1 hingga 16:1,

digunakan pada teknik radiografi kVp tinggi. Rasio grid 8:1 dan

10:1 digunakan untuk radiografi secara umum. Grid dengan rasio

5:1 mampu menyerap sekitar 85% radiasi hambur, sedangkan grid

dengan rasio 16:1 mampu menyerap radiasi hambur sekitar 97%

(Bushong, 2013). Dibawah ini merupakan gambar perbandingan

efektifitas rasio grid tinggi dan rendah.


Gambar 2.3. Perbandingan efektifitas rasio grid tinggi dan rendah
(Bushong, 2013)

2) Frekuensi Grid

Frekuensi grid merupakan jumlah lempengan timbal

per centimeter. Grid dengan frekuensi yang tinggi

memperlihatkan penurunan garis grid pada radiograf. Seiring

bertambahnya frekuensi grid, maka jarak antar bahan penyela

(interspace material) semakin tipis dan rasio grid semakin

tinggi. Secara sistematis frekuensi grid dapat dituliskan sebagai

berikut.

10.000 μm/cm
Frekuensi grid (μm) = (Bushong, 2013)
(T + D) μm/garis

Keterangan :

T : ketebalan lempengan grid

D : lebar bahan penyela


Semakin tinggi frekuensi grid, maka akan lebih banyak

lempengan timbal yang mampu menyerap radiasi hambur.

Pada umumnya, semakin tinggi frekuensi grid semakin tinggi

pula dosis radiasi yang diterima pasien. Secara umum,

frekuensi grid berkisar 25 hingga 45 garis/cm. Pada

pemeriksaan mammografi biasanya menggunakan rasio grid

khusus yaitu 4:1 atau 5:1 dengan frekuensi sekitar 80 garis/cm

(Bushong, 2013).

3) Bahan penyela (interspace material)

Bahan penyela (interspace material) bertujuan untuk

mempertahankan jarak antar lempengan timbal tetap teratur.

Bahan penyela (interspace material) umumnya terbuat dari

Aluminium atau plastic fiber. Namun masih terdapat

pertentangan mana yang lebih baik. Aluminium memiliki

nomor atom yang lebih tinggi dibandingkan dengan plastic

fiber sehingga lebih selektif dalam menyerap radiasi hambur.

Dengan menggunakan Aluminium, terlihat lebih sedikit garis

grid pada radiograf (Bushong, 2013).

Di sisi lain, penggunaan Aluminium sebagai bahan

penyela (interspace material) meningkatkan penyerapan


radiasi primer dalam interspace pada tegangan tabung yang

rendah. Konsekuensinya adalah pemakaian mAs yang lebih

tinggi dan peningkatan dosis radiasi pada pasien sebesar 20%.

Berdasarkan alasan tersebut, pemakaian plastic fiber lebih

digemari dibanding Aluminium

Namun Aluminium memiliki dua kelebihan dibanding

plastic fiber, yaitu :

a) Aluminium memiliki sifat non higroscopic, sehingga tidak

menyerap embun atau uap air.

b) Grid berkualitas tinggi dengan bahan penyela dari

Aluminium lebih mudah dalam pembuatannya. Karena

Aluminium mudah dibentuk dan disesuaikan ketebalannya

(Bushong, 2013).

4) Bahan grid (grid strip)

Secara teori, grid strip harus tersusun sangat tipis dan

memiliki kemampuan penyerapan radiasi yang tinggi. Secara

umum grid strip terbuat dari timbal karena mudah dibentuk

dan harganya relatif murah selain itu timbal memiliki nomor

atom yang tinggi dan kerapatan yang tinggi. Sehingga timbal

banyak dipilih sebagai bahan grid strip. Berbagai macam


bahan seperti tungsten, platina, emas dan uranium telah

dicoba namun tidak ada satupun yang memiliki karakteristik

seperti timbal (Bushong, 2013).

c. Performa Grid

Radiasi hambur dapat menurunkan kualitas radiograf.

Radiasi hambur dapat diminimalisir dengan penggunaan grid.

1) Faktor Perbaikan Kontras

Karakteristik konstruksi grid sebelumnya telah dibahas,

khususnya mengenai rasio grid untuk mengidentifikasi grid.

Rasio grid tidak dapat digunakan untuk menggambarkan

kemampuan grid dalam meningkatkan kualitas radiograf.

Kemampuan grid dalam meningkatkan kualitas radiograf

disebut faktor perbaikan kontras (k). Jika faktor perbaikan

kontras bernilai 1 berarti tidak ada peningkatan kualitas

radiograf.

Sebagian grid memiliki faktor perbaikan kontras antara

1,5 dan 2,5. Dengan kata lain, perbaikan kontras meningkat 2

kali lipat jika menggunakan grid. Peningkatan faktor perbaikan


kontras diikuti dengan peningkatan rasio grid. Secara

sistematis, faktor perbaikan kontras dituliskan sebagai berikut

(Bushong, 2013)

kontras radiograf menggunakan grid


Faktor perbaikan kontras (k) =
kontrasradiograf tanpa grid

2) Faktor Bucky (Bucky Factor)

Meskipun penggunaan grid mampu meningkatkan

kualitas radiograf, konsekuensinya dosis radiasi yang diterima

pasien akan meningkat. Kuantitas sinar-X yang

ditransmisikan hingga sampai ke grid lebih sedikit bila

dibandingkan dengan permukaan grid. Oleh karena itu, saat

grid digunakan maka teknik radiografi harus ditingkatkan

untuk menghasilkan optical density yang sama. Bucky factor

(B) memiliki istilah lain yaitu faktor grid. Secara sistematis,

faktor grid dapat dituliskan sebagai berikut.

Insiden radiasi pembentuk gambar


¿
B Radiasi pembentuk gambar =
yg ditransmisikan

Dosis pasiendengan grid


Dosis pasientanpa grid

Faktor grid digunakan untuk menentukan penetrasi dari

radiasi primer dan radiasi hambur yang melewati grid.


Semakin tinggi rasio grid, semakin tinggi pula faktor gridnya.

Radiasi primer yang melewati grid berbeda dengan rasio grid.

Radiasi hambur yang mencapai grid lebih sedikit dengan

adanya peningkatan rasio grid, dan faktor grid juga

meningkat. Faktor grid yang bertambah diiringi dengan

tegangan tabung yang meningkat. Pada penggunaan tegangan

tabung yang tinggi, jumlah radiasi hambur yang dihasilkan

juga semakin banyak sehingga faktor grid pun bertambah.

Tabel 2.2 Faktor grid pada berbagai rasio grid

(Bushong, 2013)

Rasio Faktor Grid


Grid 70 kVp 90 kVp 120 kVp Rata-rata
Tanp
1 1 1 1
a grid
5 :1 2 2,5 3 2
8:1 3 3,5 4 4
12 : 1 3,5 4 5 5
16 : 1 4 5 6 6

Faktor perbaikan kontras digunakan untuk mengukur

peningkatan kualitas radiograf ketika menggunakan grid.

Sedangkan faktor grid (bucky factor) digunakan untuk

mengukur perbandingan peningkatan teknik radiografi saat

menggunakan grid dan tanpa grid. Selain itu penggunaan


faktor grid mampu mengetahui peningkatan dosis radiasi yang

diterima pasien pada rasio grid tertentu.

d. Jenis Grid

1) Parallel Grid

Parallel grid merupakan jenis grid yang paling

sederhana. Parallel grid memiliki susunan lempengan timbal

yang parallel. Grid jenis ini mudah diproduksi tetapi sering

mengalami cutoff. Cutoff merupakan adanya absorpsi radiasi

primer yang tidak diinginkan. Grid cutoff dapat terjadi secara

sebagian atau seluruhnya. Kesalahan pemasangan grid memicu

terjadinya grid cutoff (Bushong, 2013). Dibawah ini

merupakan penampang konstruksi grid parallel.


Gambar 2.4 Konstruksi grid parallel (Bushong, 2013)

2) Crossed Grid

Crossed grid memiliki susunan lempengan timbal

yang parallel pada kedua sumbunya. Crossed grid dibuat

dengan cara menumpuk dua grid parallel dan saling tegak lurus

satu sama lain. Crossed grid cukup mudah diproduksi dan

harganya terjangkau. Crossed grid lebih efisien dalam

menyerap radiasi hambur dibanding parallel grid. Karena

crossed grid memiliki rasio grid dua kali lipat lebih banyak

sehingga faktor perbaikan kontrasnya lebih baik dibanding

parallel grid. Misalnya crossed grid berasio 6:1 lebih efektif

dalam menyerap radiasi hambur dibandingkan dengan parallel

grid berasio 12:1 (Bushong, 2013). Dibawah ini merupakan

penampang konstruksi crossed grid.

Gambar 2.5 Konstruksi crossed grid (Bushong, 2013)

3) Focused Grid
Focused grid didesain untuk mengurangi terjadinya

cutoff. Focused grid tersusun dari lempengan timbal yang

parallel dengan arah datangnya sinar-X yang divergen. Target

tabung sinar-X harus diletakkan pada pertengahan area focused

grid untuk menghindari cutoff (Bushong, 2013).

Dibawah ini merupakan penampang konstruksi focused

grid.

Gambar 2.6 Konstruksi focussed grid (Bushong, 2013)

4) Moving Grid

Salah satu kekurangan dalam penggunaan grid adalah

adanya garis pada radiograf. Penggunaan stationary grid akan

mengakibatkan adanya garis pada radiograf. Garis tersebut

dapat mengganggu proses interpretasi oleh radiolog khusunya

garis yang tebal. Salah satu solusinya yaitu dengan

menggunakan bucky. Bayangan garis pada radiograf tidak

terlihat (Bushberg,2012).
Istilah Potter-Bucky Diaphragm diambil dari nama

belakang dua orang radiolog, yaitu Dr. Gustav Bucky dan Dr.

Hollis Elmar Potter. Dr. Gustav Bucky merupakan radiolog

berkebangsaan Jerman yang memperlihatkan grid buatannya

pertama kali pada tahun 1912 pada pertemuan Majelis Rontgen

Jerman di Berlin yang dibuat pada publikasi dalam Arsip Sinar

Rontgen Inggris pada Juni 1913. Sedangkan Dr. Hollis Elmar

Potter merupakan radiolog berkebangsaan Amerika yang

pertama kali mendapatkan ide untuk menggerakkan grid

selama pemotetran untuk membuat garis grid tidak terlihat.

Pada tahun 1920, Hollis E.Potter memperkenalkan ide tentang

moving grid. Moving grid akan bergerak selama eksposi

berlangsung, sehingga bayangan garis pada radiograf akan

kabur. Alat tersebut diberi nama moving grid atau Potter-

Bucky Diaphragm, singkatnya disebut bucky (Bushong, 2013).

Bucky akan bergerak saat eksposi berlangsung hingga

eksposi berhenti. Saat ini terdapat dua jenis pergerakan pada

bucky yaitu reciprocating dan oscillating. Perbedaan mendasar

antara reciprocating dan oscillating adalah kecepatan

pergerakannya (Bushong, 2013).

5) Masalah Dalam Penggunaan Grid


a. Off Level

Grid berfungsi optimal jika terletak pada bidang yang

tegak lurus dengan arah datangnya sinar. Off level terjadi

akibat posisi tabung sinar-X dan posisi grid yang tidak tepat.

Biasanya dapat terjadi ketika posisi grid miring saat

penyinaran secara horisontal atau selama pemeriksaan

dengan mobile radiography ketika image reseptor berada di

bawah tempat tidur pasien. Posisi tabung sinar-X dan grid

yang menyudut dapat menyebab terjadinya cutoff sehingga

optical density yang dihasilkan rendah (Bushong, 2013).

Gambar 2.7 Off Level Grid (Bushong, 2013)

b. Off Focus

Masalah utama penggunaan grid fokus adalah

penggunaan FFD yang tidak sesuai dengan spesifikasi

pabrik akan menyebabkan cutoff. Semakin jauh FFD yang


digunakan maka makin besar peluang terjadinya cutoff.

Cutoff biasanya terjadi pada tepi radiograf (Bushong, 2013)

Gambar 2.8 Off Fokus Grid (Bushong, 2013)

c. Off Center

Posisi grid seharusnya tegak lurus antara pusat sinar

dan pusat grid. Jika sinar-X tidak melewati fokus grid maka

terjadi cutoff. Sehingga menghasilkan optical density yang

rendah. Kesalahan posisi ini biasa disebut lateral

decentering. Secara umum, off center banyak disebabkan

oleh kesalahan pengaturan posisi tabung sinar-X (Bushong,

2013)
Gambar 2.9 Off Center Grid (Bushong, 2013)

d. Upside-down

Upside down terjadi ketika penggunaan grid yang

terbalik. Penggunaan grid yang terbalik menyebabkan

cutoff. Setiap grid memiliki penanda untuk mengetahui sisi

yang menghadap ke tabung sinar-X (Bushong, 2013).

Gambar 2.10 Upside Down Grid (Bushong, 2013)

6. Prosedur Pengujian Bucky Table

Pengukuran kinerja bucky hendaknya dilakukan setahun

sekali. Aspek yang diukur meliputi grid uniformity dan grid

alignment. Grid uniformity berfungsi untuk mengevaluasi

keseragaman densitas yang dihasilkan dan grid alignment


berfungsi untuk menentukan kesejajaran antara kolimator

dengan grid (Papp, 2006).

a. Grid uniformity dan Grid Alignment

Alat yang diperlukan yaitu grid alignment test tool.

Alat tersebut diletakkan pada pertengahan pusat sinar

kemudian dilakukan eksposi pada tiap lubang yang tersedia.

Setelah itu, dilakukan pengukuran densitas di tiap lubang.

Hasil optical density pada pengukuran grid uniformity

sedikitnya ±0,10 pada tiap lubang. (Papp, 2006)


B. Kerangka Teori

Sinar–X

Pesawat Sinar-X

Grid

Kesalahan Dalam
Penggunaan Grid

Pengujian Grid
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam karya tulis ilmiah ini adalah penelitian

deskriptif dengan pendekatan survey, yaitu penulis melakukan pengujian

langsung terhadap bucky table pada pesawat sinar-X di Instalasi Radiologi

RSUD Banyumas

B. Lokasi Penelitian

Lokasi yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah di ruang

pemeriksaan radiografi di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas.

C. Objek Penelitian

Objek Dalam penelitian ini yaitu pesawat sinar-X di Instalasi

Radiologi RSUD Banyumas.


D. Kerangka Konsep Penelitian

Kesejajaran Bucky Table

Pengujian Bucky Table

Menggunakan Grid Alignment


Test Tool

Hasil Radiografi dari Grid


Alignment Test Tool

Analisis

Kesimpulan
E. Definisi Operasional

1. Pengujian bucky

Pengujian bucky Adalah cara menguji bucky pada meja

pemeriksaan pesawat sinar-X dengan aligment test tool yang bertujuan

untuk menguji kesejajaran bucky terhadap datangnya pusat sinar-X.

2. Kesejajaran bucky

Kesejajaran bucky adalah posisi grid atau bucky sejajar dan

tepat dengan arah datangnya pusat sinar-X yaitu seharusnya

menunjukan nilai densitas lubang 3 grid alignment test tool menunjukan

nilai densitas tertinggi dan semkain ke lateral lubang 3 nilai densitas

semakin rendah.

3. Densitas.

Tingkat derajat kehitaman pada suatu gambaran radiografi

4. Pesawat sinar-X

Pesawat sinar-X merupakan suatu alat yang dapat

menghasilkan berkas sinar-X. Ada beberapa komponen inti pada


pesawat sinar-X yang merupakan faktor utama dalam menghasilkan

berkas sinar-X seperti tabung sinar-X yang didalamnya terdapat anoda

dan katoda, lampu kolimator, control table.

5. Faktor eksposi

Faktor eksposi adalah faktor yang mempengaruhi hasil suatu

eksposi dengan menggunakan sinar-X pada film radiografi. Faktor eksposi

terdiri dari kV, mA, dan S.

6. Aligment test tool

Alignment test tool adalah alat yang digunakan untuk

mengevluasi kesejajaran bucky dengan arah datangnya pusat sinar-X

F. Metode Pengumpulan Data

1. Pengukuran

Peneliti melakukan pengukuran densitas terhadap hasil radiograf Grid

Alignment Test Tool pesawat sinar-X di Instalasi Radiologi RSUD

Banyumas

2. Observasi

Peneliti melakukan pengujian dan pengamatan terhadap hasil radiograf

dari Grid Alignment Test Tool pesawat sinar-X di Instalasi Radiologi

RSUD Banyumas

3. Dokumentasi
Peneliti melakukan pengumpulan data berupa foto hasil radiograf Grid

Alignment Test Tool pesawat sinar-X pesawat sinar-X di Instalasi

Radiologi RSUD Banyumas

G. Instrumen Penelitian atau Alat Penelitian

Instrument atau alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa :

1. Unit Pesawat sinar-X dengan spesifikasi sebagai berikut:

a. Merek : Hitachi

b. Seri : 84G181

c. Tegangan tabung maksimum : 150

d. Kuat arus maksimum : 630

2. Kaset dan film ukuran 18x24cm

3. Grid alignment test tool

4. Bucky table yang akan diteliti

5. Densitometer

6. Lead Blocker (Pb)

7. Kamera

8. Alat Tulis

H. Langkah-langkah Penelitian

Prosedur penelitian yang dilakukan sebagai berikut:


1. Melakukan pengujian menggunakan grid alignment test tool

a. Menyiapkan alat uji grid alignment test tool, kaset, film, densitometer,

lead blocker (Pb), isolasi dan alat tulis untuk mencatat

b. Mengukur FFD dengan jarak 100 cm

c. Memasukkan kaset ke dalam bucky table

d. Mengatur pusat sinar berada pada pertengahan garis bucky table

e. Meletakkan grid alignment test tool pada pertengahan garis bucky

table dengan lubang tengah grid alignment test tool berada pada

pertengahan pusat sinar. Tiga titik kecil pada grid alignment test tool

berada dekat dengan penguji

f. Mengatur luas lapangan penyinaran seluas grid aligment test tool.

g. Mengatur faktor eksposi sebesar 45 kVp dan 1 mAs serta 45 kVp dan

5 mAs.

h. Melakukan eksposi pada kelima lubang pada grid allignment test tool.

i. Melakukan processing citra, kemudian dicetak. Dan dicari densitas

dari 5 lubang dengan densitometer

I. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Pada tahap ini, penulis melakukan pengukuran densitas dengan

menggunakan densitometer pada kelima lubang. Menggunakan

radiograf hasil pengujian kemudian dilakukan penghitungan densitas


dari kelima lubang, sebanyak 3 kali kemudian dirata-rata. Selanjutnya

hasil pengukuran dicatat pada tabel.

Tabel 3.1 Pengukuran Densitas dengan Densitometer

Pengukuran Lubang Rata-rata


ke- 1 2 3 4 5
1
2
3

2. Analisa Data

Setelah pengolahan data selesai, seharusnya menunjukkan nilai

densitas rata-rata pada lubang III yang berada pada pertengahan meja

memiliki nilai densitas tertinggi, lubang II dan IV menunjukkan densitas

yang hampir sama, dan lubang I dan V memiliki nilai yang hampir sama

namun lebih rendang bila dibandingkan dengan lubang II dan IV. Hasil

pengujian yang baik yaitu lubang tengah memiliki densitas tertinggi

kemudian diikuti bagian lateralnya semakin rendah.