Anda di halaman 1dari 18

DEGRADASI KEBUDAYAAN MARITIM:

SEJARAH, IDENTITAS, DAN PRAKTIK SOSIAL MELAUT


DI BANTEN

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto


Universitas Pertahanan Indonesia, Jakarta
E-mail: rosseauherve@gmail.com; b.asyou@gmail.com

Diterima: 6-5-2014 Direvisi: 14-6-2014 Disetujui: 18-6-2014

ABSTRACT
Colonialism has been a preliminary thesis that can be addressed in the Indonesian maritime culture degradation.
In order to restore the maritime culture, the current representation of degradation in the community level needs to
be considered. This paper provides the historical process of Banten maritime culture degradation and the existing
condition of degradation itself in the context of sea social practice on sociological perspective.

Keyword: Maritime culture, history, representative, social practice

ABSTRAK
Kolonialisme dianggap sebagai tesis awal yang mengetengahkan meluruhnya kebudayaan maritim nusantara.
Kendati demikian, dalam kerangka mengembalikan kebudayaan maritim itu sendiri, pertanyaan terkait representasi
peluruhan itu di dalam masyarakat masih perlu dielaborasi lebih jauh. Artikel ini menyajikan proses peluruhan
kebudayaan maritim di wilayah Banten, baik dari sisi historis maupun representasi dalam konteks praktik sosial
melaut kekinian di masyarakat dalam perspektif sosiologi.

Kata Kunci: Kebudayaan, maritim, sejarah, representasi, dan praktik sosial

PENDAHULUAN luas wilayah kepulauan Indonesia, 1,93 juta km


Degradasi kebudayaan maritim merupakan salah persegi merupakan wilayah daratan, sementara
satu isu strategis yang harus diperhatikan oleh sisanya adalah wilayah laut dan perairan yang
pemerintah baru hasil pemilihan Presiden 2014. meliputi 2,8 juta km persegi perairan kepulauan,
Isu ini sangat penting mengingat pada tahun 0,3 juta km persegi laut territorial dan 2,7 juta
1994, PBB telah menetapkan Indonesia sebagai km persegi zona ekonomi eksklusif (Dirhamsyah
negara kepulauan terbesar di dunia. Ketetapan 2007).
dan ketentuan mengenai negara kepulauan Status Indonesia sebagai negara kepulauan
sendiri mengacu pada keputusan UNCLOS III memiliki konsekuensi penting, baik bagi identi-
yang ditetapkan oleh PBB pada tahun 1982. Bagi tas kebangsaannya maupun karakter negaranya
negara-negara yang telah ditetapkan oleh PBB (Cribb 2009:3). Mengacu pada gagasan Giddens
sebagai negara kepulauan, seperti Indonesia, (1984) yang memandang masyarakat sebagai
Filipina, Maladewa, dan Seychells, ketetapan sebuah konstruksi sosial yang terus-menerus
UNCLOS memberikan kepastian hukum akan mengalami proses strukturasi di dalamnya,
kedaulatan wilayah mereka di laut. UNCLOS kebudayaan dalam konteks penelitian ini
memperkuat klaim satu negara bahwa laut adalah mengacu pada proses sosial yang dinamis dan
pemersatu wilayah, bukan pemisah. terus-menerus antara individu dan masyarakatnya
Berdasarkan survei terakhir yang dilaku- dalam menghasilkan segala macam realitas sosial
kan oleh Dishidros TNI AL, Indonesia sendiri yang berhubungan dengan bagaimana sebuah
memiliki 17.499 pulau dengan panjang garis masyarakat bisa bertahan, berkembang atau justru
pantai ±81.000 km. Dari 7,73 juta km persegi sebaliknya, punah. Dengan konsepsi sedemikian,

159
konflik, integrasi, strukturasi, penguatan identitas masyarakat maritim. Dalam pupuh ke-50, bait
dan berbagai jenis proses sosial yang berlangsung ke-11, digambarkan seorang putri kerajaan yang
di dalam masyarakat yang melibatkan berbagai enggan pergi ke wilayah pesisir karena dia meng-
macam institusi sosial, termasuk produk-produk anggap masyarakatnya tidak menghargai adanya
kebudayaan yang lahir dari proses itu bisa perbedaan derajat antarmanusia (Worsley dkk.
dikatakan sebagai budaya. Pada tataran paling 2014: 217). Bait tersebut bisa dimaknai sebagai
konkret, pembangunan nasional seharusnya dapat satu kenyataan sosiohistoris bahwa masyarakat
dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari maritim yang tinggal di pesisir memiliki cara
perkembangan kebudayaan sebuah masyarakat. pandang yang cukup berbeda dengan masyarakat
Kendati dominasi laut sebagai faktor alam pegunungan terkait persoalan kesetaraan sosial.
begitu besar, faktanya, hal itu tidak senantiasa Pada sisi lain, Indonesia bukan satu-satunya
sejalan dengan perkembangan kebudayaannya. negara yang masyarakatnya dianggap tidak lagi
Kebudayaan Indonesia saat ini berjalan jauh memiliki orientasi kebudayaan maritim yang
meninggalkan kebudayaan laut atau maritim, kuat. Sebagai sesama negara ASEAN, Malaysia,
kebudayaan Indonesia sekarang cenderung seperti yang diungkapkan oleh Hans Dieter Evans
mengarah pada satu pola kebudayaan yang hanya dalam salah satu artikel yang ditulis bersama
berorientasi pada daratan, yakni kebudayaan yang dengan Sezali Darit, mengajukan pertanyaan
ditandai oleh karakteristik seperti minimnya serupa:
pengetahuan mengenai laut dibandingkan daratan, … but the question could, indeed, be extended to
dominasi orientasi ekonomi daratan daripada laut, the more general problem, when and why Malay-
pemaknaan sistem mitologi laut yang sering kali sia’s majority ethnic group, the Malays, a people
mengurangi keberanian orang untuk melaut dan with Polynesian connections and a long history
cara pandang bahwa laut adalah media pemisah, of seafaring across oceans, have turned away
from the sea, looking inward to land areas rather
bukan penghubung. Sebagai implikasi dari cara
than maritime “space between the islands”, the
pandangan budaya daratan, laut bukan dilihat Nusantara, and beyond (2011:44).
sebagai halaman depan, melainkan ditempatkan
sebagai halaman belakang dalam berinteraksi, Pertanyaan itu diajukannya ketika menyadari
baik antarwarga maupun antarbangsa. Padahal, di Malaysia juga terjadi ketidakseimbangan kebi-
dari sisi historis, Indonesia masa lampau pernah jakan pembangunan yang terlalu berorientasi ke
mengalami satu era peradaban maritim yang daratan daripada ke laut.
sangat besar. Era ini bukan hanya terjadi pada
Indonesia, tetapi membentang hampir di seluruh Konteks Kekinian
wilayah Asia Tenggara pada abad ke-15 sampai Penjelasan yang sifatnya historis tentang peluruhan
17 (Reid 2011:329). kebudayaan maritim nasional dinilai belum cukup
Pada konteks Indonesia sendiri, budayawan untuk menggambarkan kompleksitas persoalan
Radhar Panca Dahana dalam beberapa artikel- yang sebenarnya terjadi pada konteks kekinian.
nya di Kompas, mengemukakan kegalauannya Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian
tentang tidak berwujudnya kebudayaan maritim yang dapat memperlihatkan manifestasi atau
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indo- representasi peluruhan itu dalam lingkup yang
nesia. Peradaban maritim yang mencerminkan lebih mikro. Penelusuran itu dilakukan untuk
inklusivitas terhadap perubahan, egaliter, serta melihat apakah proses sejarah yang telah dike-
terbuka terhadap gagasan-gagasan baru seperti mukakan sebelumnya masih terus berlanjut
hilang tak berbekas. Terkait asumsi bahwa ma- dalam skala tindakan ataupun praktik sosial di
syarakat maritim bersikap egaliter, hal ini diper- masyarakat. Penelitian ini dilakukan di bawah
kuat oleh penjelasan dalam satu bait naskah Jawa supervisi Lembaga Penelitian dan Pengabdian
kuno, Kakawin Sumanasantaka. Dalam salah Masyarakat Universitas Pertahanan Indonesia
satu bagiannya, naskah yang ditulis oleh Mpu (Unhan). Lebih khusus lagi, penelitian empiris
Monaguna pada abad ke-13 ini menjelaskan pan- ini menjadi salah satu dasar dari penyelenggaraan
dangan kaum aristokrat terhadap perilaku sosial mata kuliah Sosiologi Maritim di Unhan.

160 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


Penelitian ini meliputi telaah historis menge- KERANGKA TEORITI
nai keruntuhan peradaban maritim Banten di
Kebudayaan Maritim
masa lalu, observasi, dan wawancara mendalam
dengan masyarakat yang tinggal di wilayah pesi- Dalam perspektif elisionistik yang dimotori
sir Banten, khususnya di wilayah Ujung Kulon. oleh Anthony Giddens ataupun Pierre Bourdieu,
Penelusuran data dan informasi yang sifatnya empiris hubungan timbal balik tak henti antara individu
ini dilakukan dalam rangka mencari pertalian an- dan strukturlah yang menjadi dasar dari realitas
tara penjelasan historis yang sifatnya makro dan sosial yang muncul di dalam masyarakat.
praktik-praktik sosial masyarakat yang sifatnya Menurut mereka, pemisahan secara ketat an-
lebih mikro dan meso. tara perspektif fakta sosial dan interaksionisme
simbolik dianggap kurang mumpuni untuk
Wilayah Banten dijadikan sebagai contoh bisa menjelaskan masalah yang terjadi pada
kasus karena sejarahnya, Banten adalah satu dari masa modernisasi lanjut seperti sekarang ini.
sekian kerajaan maritim besar di Nusantara. Se- Meminjam perspektif keduanya, kebudayaan bisa
perti halnya kerajaan lainnya di Nusantara, setelah dimaknai sebagai satu arena sosial dalam sebuah
kekalahannya dari Belanda, orientasi penguasa tatanan sosial yang di dalamnya terjadi proses
dan masyarakatnya pun berubah. Mereka tak lagi redefinisi dan restrukturisasi terus-menerus.
berorientasi kepada laut, tetapi justru menjadi Masyarakatlah yang melahirkan kebudayaan.
masyarakat agraris yang berorientasi ke darat Oleh karena itu, untuk memahami kebudayaan
dan melupakan laut sebagai latar depan mereka. maritim, kita mesti memahami apa yang dimak-
Dalam pelaksanaannya, penelitian empiris ini sud dengan masyarakat maritim.
dilakukan di tiga desa pesisir di Provinsi Banten, Merujuk pada Janizewski (1991) dalam
tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Bartlomiejski (2011: 48), masyarakat maritim
Sumur. Tiga desa itu meliputi Taman Jaya, Cigo- merupakan representasi masyarakat lokal yang
rondong, dan Ujung Jaya. Tiga desa itu masing- memiliki tipe sosial yang unik. Menurutnya,
masing memperlihatkan perbedaan relasi antara masyarakat maritim memiliki makna yang jauh
masyarakat dan lautnya. lebih besar daripada masyarakat nelayan. Mereka
bukan saja tinggal di tepi pantai dan mencari ikan
Pokok Permasalahan di laut, tetapi juga memiliki norma serta obligasi
Artikel ini ditujukan untuk menjawab beberapa sosial yang berangkat dari relasi panjang mere-
pokok permasalahan sebagai berikut. Sebagai ka dengan lautan. Kemudian, identitas mereka
negara yang memiliki garis pantai sangat pan- sebagai masyarakat maritim diperoleh melalui
jang, mengapa kebudayaan maritim tidak muncul proses sosial berbagi pemaknaan dan pengala-
di dalam masyarakat Indonesia? Mengapa man bersama dalam berhubungan dengan laut.
Indonesia justru lebih dekat pada kebudayaan Sementara itu Cameron (1986), mempersoalkan
agraris, padahal luas daratannya hanya sebagian sebuah kenyataan sosiologis tentang keragaman
kecil dari lautan? Meskipun telah ada asumsi- orientasi sosio-kultural masyarakat terhadap laut
asumsi awal terkait peran kolonialisme dalam meskipun mereka memiliki kesempatan fisik dan
mendekonstruksi kebudayaan maritim nusantara, kebutuhan ekonomi yang sama. Menurutnya,
pertanyaannya, bagaimana representasi degradasi tidak semua masyarakat yang tinggal dekat laut
kebudayaan maritim tersebut dalam masyarakat memiliki keterikatan yang kuat terhadap laut,
saat ini? Kontekstualisasi dari pertanyaan dasar termasuk dalam menentukan pembagian kerja
itu sendiri merupakan sebuah harapan bahwa di antara mereka.
dengan memahami akar masalah dari degra- Lapian (2011:80) menjelaskan bagaimana
dasi kebudayaan maritim Indonesia, kita dapat kebudayaan maritim bukanlah satu bentuk domi-
memiliki basis pengetahuan yang cukup untuk nasi antara yang pesisir terhadap yang daratan.
membangun sistem pembangunan masyarakat Kebudayaan maritim Nusantara diperkuat oleh
maritim yang kontekstual dan strategis. proses tukar-menukar barang antara wilayah
pesisir dan pedalaman. Meskipun dalam hal

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 161
perdagangan antarpulau, pelaksanaan perhubung- “Perhaps as social scientists, we must admit that
an memerlukan kemampuan berlayar, baik ke- cultivation of the seas can only flow from cultiva-
mahiran membuat perahu atau kapal sebagai alat tion of the kinds of men and women who make
the seas their own. But what do we then have
angkutan maupun pengetahuan navigasi untuk to say about how to cultivate such people while
mencapai tujuan. there is time?”
Pada akhirnya, kalau kita meminjam pen- Sebelum dirinya mengemukakan pernyataan
jelasan Giddens (1984) dalam menerangkan sekaligus pertanyaan tersebut, terlebih dahulu ia
praktik sosial di masyarakat maka melaut bisa menguraikan secara panjang lebar persoalan di
dilihat sebagai sebuah pertemuan antara struc- negerinya. Menurutnya, India sebagai negara
tural constraint yang agak longgar dengan lapisan dengan penduduk yang cukup besar memiliki
kesadaran yang muncul dari individu ketika ia permasalahan dalam soal pangan. Sejurus dengan
berinteraksi dengan struktur yang melingkupi hal itu, India juga memiliki garis pantai yang cu-
dirinya. Ringkasnya, secara sosiologis, melaut kup panjang, termasuk sejumlah penduduk yang
adalah tuntutan ekonomi sekaligus jalan hidup berprofesi sebagai pencari ikan dengan metode
yang harus dipenuhi. Kebudayaan melaut atau tradisional. Akan tetapi, menurutnya, jumlah
kebudayaan maritim bisa dimaknai sebagai satu nelayan di India tidak seberapa dibandingkan
arena sosial di mana terjadi interaksi antara 1) jumlah petaninya. Dia membandingkan India
skema interpretatif yang melibatkan pengetahuan dengan Inggris, Prancis, Amerika, dan Rusia.
mengenai laut; 2) aturan sosial yang meliputi Menurutnya, nasib India hampir sama dengan
sanksi dan institusi sosial yang ada dalam satu Mesir atau Somalia yang warganya masih jarang
masyarakat maritim; serta 3) bentuk-bentuk menyentuh lautan (Cameron 1986:2).
fasilitas yang bisa dikategorikan sebagai sumber
daya yang menjadi modalitas seseorang untuk Kiranya, apa yang kita lakukan dengan
pergi melaut. menelisik secara mendalam apa yang dilontarkan
oleh Cameron sebagai “the kinds of men and
STRUKTUR women who makes the seas their own” menjadi
begitu relevan. Di sini, permasalahan kelompok
sosial atau bahkan kelompok identitas yang
Skema
Interpretatif memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam
melaut menjadi inti dari penyebarluasan praktik
Praktik melaut itu sendiri. Pertanyaan yang patut diaju-
Melaut kan adalah, bagaimana proses penularan itu dapat
Aturan Fasilitas berlangsung? Secara sosiologis, pola relasi se-
perti apa yang terjadi ketika reproduksi tindakan
itu muncul. Dalam tingkatan yang paling kritis,
betulkah apa yang telah dikemukakan oleh ahli
antropologi dari Universitas Bombay tersebut?
PELAKU
Mengenai masalah identitas dan hubungan
Gambar 1. Melaut Sebagai Praktik Sosial antarkelompok pada masyarakat nelayan, Ebbin
(2004:82) membandingkan dua kelompok ne-
Persoalan Identitas layan, yaitu nelayan Puget Sound di wilayah
Washington dengan nelayan Kuskokwim River,
Seorang ahli antropologi dari Universitas Bombay
sebelah barat Alaska. Penelitiannya memperli-
yang hadir dalam 1st International Conference on
hatkan adanya hubungan antara identitas dan
Man and The Sea di Princeton pada musim panas
konflik sosial di kalangan nelayan. Menurutnya,
tahun 1965 mengemukakan sebuah pernyataan
perubahan anatomi konflik memberikan pengaruh
yang menantang terkait peradaban maritim suatu
yang cukup signifikan pada konsepsi mengenai
masyarakat, menurutnya:
identitas kolektif. Inti dari apa yang dikemukakan
Ebbin menunjukkan bagaimana identitas yang

162 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


dimanifestasikan sebagai suatu perasaan kolektif DINAMIKA PRAKTIK SOSIAL
dan kepemilikan bersama sesungguhnya berada MELAUT: SEJARAH, IDENTITAS,
pada situasi sosial yang sangat dinamis. Batas-ba- DAN PENGETAHUAN
tas kelompok yang menjadi dasar dari pembedaan
Degradasi kebudayaan maritim yang berhasil
identitas setiap saat dapat berubah, baik karena
ditelaah dalam penelitian ini bisa dilihat dalam
struktur sosial dan politik yang melingkupinya
dinamika praktik sosial melaut yang terjadi pada
maupun dinamika anggota kelompok yang juga
tingkat masyarakat. Untuk menjelaskan dinamika
memiliki hubungan yang luas dengan struktur,
tersebut, ada tiga persoalan kunci yang akan
maupun individu di luar kelompok identitasnya.
dibahas. Pertama, dimensi kesejarahan yang
Dalam bagian awal The Power of Identity, menyebabkan degradasi itu berlangsung. Kedua,
Castells menyatakan bahwa identitas adalah representasi dari degradasi itu dalam konteks
sumber pemaknaan dan pengalaman setiap orang kekinian. Ketiga, keterlibatan identitas dalam
(1997:6). Oleh karena itu, identitas sangat erat konteks praktik sosial melaut. Dimensi keseja-
kaitannya dengan pengetahuan yang mampu rahan memperlihatkan bagaimana kolonialisme
memberikan sumbangan terhadap konstruksi memberikan andil yang cukup besar terhadap
pemaknaan seseorang. Pengetahuan yang dimak- peluruhan kebudayaan maritim di Banten.
sud dalam konteks ini lebih kepada kemampuan Degradasi tersebut dalam konteks kekinian
untuk mengidentifikasi diri, terutama dalam direpresentasikan dengan penyempitan makna
mengenali siapa diri dan liyan (the others). atas praktik melaut kalau dibandingkan masa
Castell (1997:6) juga mengutip Calhoun (1994: lalu. Pada titik ini, kelompok identitas memiliki
9–10), … self-knowledge—always a construction andil yang cukup besar dalam mempertahankan
no matter how much it feels like a discovery—is pengetahuan dan nilai tentang melaut. Hal inilah
never altogether separable from claims to be yang menyebabkan dalam skala-skala yang relatif
known in specific ways by others. terbatas, praktik sosial melaut masih bisa bertahan
Castells (1997:7) melanjutkan konsepsinya sampai hari ini.
mengenai identitas yang dapat dimulai dari insti-
tusi dominan, hal itu bisa menjadi sebuah identi- Sejarah Singkat Peluruhan Kejayaan Maritim
tas tatkala aktor sosial menginternalisasikannya, Banten
kemudian membangun basis pemaknaan mereka Pada zaman perniagaan maritim, baik di masa
dari seputar proses internalisasi ini. Sementara Kerajaan Sriwijaya maupun di masa Kerajaan-
itu, menurut Giddens (1991), identitas adalah Kerajaan Islam Nusantara, perkembangan
sumber pemaknaan untuk para aktor sekaligus kebudayaan ditopang oleh sistem perniagaan
konstruksi yang diisi oleh para aktor melalui antarpulau yang memanfaatkan keberadaan kota-
proses individuasi. Meskipun ada perbedaan di kota bandar besar di sepanjang pesisir pantai,
antara Castells dan Giddens tentang konsepsi dari pesisir timur dan barat Sumatra, sampai
identitas, namun penjelasan keduanya sama-sama pesisir utara Pulau Jawa. Perniagaan maritim juga
mengamini bahwa konstruksi identitas mengarah disokong oleh kota-kota bandar besar di kawasan
pada satu proses tak putus. Proses tak putus itu Timur seperti Makassar, Ambon, Ternate, dan
juga mengisyaratkan bahwa identitas adalah Tidore (Lapian 2009). Maraknya kehidupan kota
satu bangunan yang terus bergerak dalam artian bandar nusantara di masa lalu adalah konsekuensi
meredefinisi dirinya ketika berhadapan dengan tak terhindarkan dari jalur perdagangan laut yang
liyan. menghubungkan dunia timur dan barat.
Catatan Wolters (2011:19) mengonfirmasi
bahwa Kerajaan Sriwijaya yang menguasai Selat
Malaka memiliki jasa yang sangat besar dalam
mengintegrasikan jalur perdagangan laut dunia
barat dan timur. Menurutnya, jalur pelayaran
dari Teluk Benggala ke Nusantara dan dari

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 163
China ke Nusantara adalah dua jalur pelayaran Dari studi sejarah yang dilakukan oleh
yang sebelumnya tidak menjadi satu. Keduanya Lapian (2008:1), diketahui bahwa pelayaran dan
berkembang pada zaman yang berbeda, bahkan perniagaan memiliki keterkaitan yang erat dengan
ada perbedaan waktu selama beberapa abad sam- integrasi sosial antarsuku bangsa di tanah air.
pai keduanya kemudian terintegrasi. Reid (2011) Menurutnya, laut telah memberikan ruang bagi
menuliskan bahwa masa keemasan kota bandar interaksi yang intens antara kerajaan-kerajaan
nusantara terjadi pada abad ke-15 sampai dengan kecil yang letaknya terpencar di pulau-pulau yang
ke-17 yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ada di Indonesia. Hubungan ekonomi, kultural
perkembangan perdagangan global. dan sewaktu-waktu politis telah bergabung atau
Jauh sebelum kolonialisme masuk, hubung- digabungkan dalam satuan-satuan yang lebih
an antarkelompok masyarakat di kawasan ini besar. Komunikasi dan lalu lintas antarkepulauan
didominasi oleh hubungan maritim. Di kawasan Indonesia dimungkinkan oleh penduduknya yang
Asia Timur sampai Barat, jalur perdagangan telah mengembangkan satu jaringan hubungan
yang dikenal ada dua, yakni jalur darat (silk road) maritim yang lebih baik, kemajuan teknologi
dari mulai Tiongkok, Turkistan (Asia Tengah), kapal, keahlian navigasi, dan enterprising spirit
India, sampai Laut Tengah dan Jazirah Arab, yang besar.
serta jalur laut, dari mulai Laut Tiongkok Se-
latan, Selat Malaka, Kalkuta, Teluk Persia, Laut Banten pada Masa Lalu
Tengah sampai Mesir dan Eropa. Tidak demikian Pelabuhan Banten pernah menjadi salah satu
dengan Nusantara. Wilayah Nusantara betul-betul pelabuhan terbesar di Nusantara yang hidup
didominasi oleh jalur laut karena tantangan untuk karena perniagaan lada dan pala. Maraknya
melintasi daratan jauh lebih besar daripada laut. perniagaan hasil bumi di pelabuhan mendorong
Reid (2011:74) menggarisbawahi bahwa, jalur interaksi yang dinamis antara wilayah pedala-
perdagangan darat yang mengandalkan gerobak man dan pesisir, selain juga dikarenakan faktor
(caravan) memiliki banyak keterbatasan untuk luar, seperti runtuhnya Kesultanan Malaka oleh
menjangkau daerah-daerah yang terpencil karena Portugis.
infrastruktur darat yang masih belum memadai. Salah satu kawasan laut Nusantara yang oleh
Menurut Reid, jalur darat di kawasan Asia Teng- Lombard (2005) dianggap sebagai media perte-
gara relatif lebih sulit dilalui karena hutannya muan kebudayaan antarkelompok masyarakat
yang lebat, curah hujan yang banyak sehingga adalah Selat Sunda, semasa di bawah kekuasaan
jalan sulit dilalui pada saat banjir, dan sungai- Kerajaan Banten. Seorang pelaut dari Prancis,
sungainya yang bergolak. Perdagangan laut Claude de Forbin, dalam catatan perjalanan
yang akhirnya menciptakan zaman perdagangan tahun 1686 yang dibukukan dalam Dorleans
di wilayah ini, membuat, perdagangan dengan (2006:112) mengemukakan betapa besar dan
gerobak juga ikut berkembang. kosmopolitannya Banten yang ia kunjungi pada
Tidak hanya sebagai pusat perniagaan, tahun 1670. Reid (2011:3) menyatakan bahwa,
kawasan kota bandar yang terdapat di pesisir selama periode 1400–1650, Asia Tenggara me-
menjadi arena berbagai kelompok untuk saling miliki peran penting dalam sistem perdagangan
berinteraksi secara setara satu dengan yang lain- dunia dengan berbagai macam komoditas hasil
nya. Dalam konteks ini, Reid (2011:147) setuju buminya, seperti cengkih, pala, lada, kamper, kayu
dengan Tome Pires yang melihat bahwa proses cendana, dan pernis. Wilayah yang oleh Reid
interaksi sosial yang berlangsung di kota-kota disebut sebagai “wilayah di bawah angin” ini
bandar ini sering kali berlangsung tanpa melibat- memiliki pusat-pusat perdagangan sendiri, se-
kan persoalan kelas, tetapi lebih pada kelompok perti Pegu, Ayuthya, Pnompenh, Hoi An (Faifo),
sosial, baik etnis, suku, agama maupun identitas Melaka, Patani, Brunei, Pasai, Aceh, Banten,
lainnya. Keterlibatan perempuan dalam sistem Jepara, Gresik, dan Makassar. Kota-kota ini
perniagaan maritim juga dianggap merepresen- cukup berpengaruh, sampai ketika kolonial ma-
tasikan satu prinsip egalitarianisme masyarakat suk dan menguasai beberapa titik penting yang
maritim di kawasan ini. kemudian menggantikan peranan kota-kota itu,

164 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


seperti Portugis di Malaka, Belanda di Batavia Sebagai ciptaan zaman perdagangan,
dan Manila di bawah kekuasaan Spanyol. Pada Banten oleh Reid (2011:91) dikategorikan
abad ke-16 Banten menjadi satu-satunya tempat sebagai kontradiksi pada periode itu. Dibangun
penanaman lada di Pulau Jawa, rata-rata hasilnya menghadap ke laut, untuk mendapatkan keun-
mencapai 2.000 ton per tahun (Reid 2011:12). tungan dari pelayaran, kota itu tumbuh dengan
Interaksi yang terjadi antara kawasan pedala- cepat sebagai metropolis kosmopolitan, di mana
man dan pesisir Banten merupakan hubungan semua pedagang diterima dan adanya gabungan
yang terus-menerus dan saling mengisi. Sumber kelompok-kelompok yang tidak terawasi, parit-
daya yang berasal dari pedalaman menimbulkan parit, jalan-jalan, pasar-pasar yang semuanya
fungsi Kota Banten sebagai kota dagang (Untoro tidak teratur. Kota-kota Bandar seperti Banten
2006:196). dan yang lainnya pada masa itu bukanlah parasit
Kesultanan Banten adalah satu dari beberapa yang memeras surplus dari daerah pedalaman
kerajaan Nusantara yang banyak mengambil yang lamban. Justru kota-kota itulah mendapat-
manfaat pascakejayaan Majapahit. Runtuhnya kan kekayaan dari perdagangan maka bahan
Majapahit dan berkembangnya kerajaan-kerajaan makanan dari pedalaman itu mengalir lancar di
Islam seperti Demak, Jepara, dan Banten oleh pasar terbuka (Reid 2011: 89).
kalangan sejarawan dinilai sebagai masa transisi
dari zaman klasik menuju zaman modern awal Degradasi Kebudayaan Maritim Banten
sejarah Asia Tenggara (Hamid 2013: 84). Kerun- Degradasi pelabuhan laut Banten pada masa
tuhan Majapahit sendiri ditengarai karena per- lalu, tak dapat dilepaskan dari peranan kolonial
ubahan orientasi kebijakan pemerintah dari laut Belanda yang pada tahun 1605 mulai berpikir
ke darat. Ketika Majapahit mencapai kejayaan untuk mencari pelabuhan baru yang bisa meng-
dan kemakmuran dari hasil perdagangan di Laut gantikan posisi Banten (Blusse 1983: 155, lihat
Jawa, masyarakat dan kalangan istana cenderung juga Untoro 2006: 194). Sebenarnya, degra-
membangun candi-candi dan penyelenggaraan dasi Kerajaan Banten yang memiliki orientasi
ritual suci di pedalaman (Hamid 2013: 224). ekonomi politik maritim cukup kuat, berjalan
Berbeda dengan Aceh yang memperlihatkan beriringan atau dalam satu kurun waktu dengan
semangat keagamaannya ketika menghadapi proses degradasi kekuatan kerajaan-kerajaan
Portugis di Sumatra dan Selat Malaka, Banten lain di Nusantara, termasuk beberapa kerajaan
lama justru menjalin hubungan dagang dengan maritim besar di Asia Tenggara. Menurut Reid
Portugis. Banten menjadi sangat berkembang (2011) degradasi perniagaan maritim Asia Teng-
ketika Malaka dikuasai Portugis pada tahun 1511. gara terjadi sekitar abad ke-16 sampai 17. Hal
Para pedagang Muslim dari berbagai tempat ini dikarenakan krisis ekonomi Eropa (faktor
membangun jalur pelayaran baru melalui Pesisir luar), persoalan internal seperti perpecahan di
Barat Sumatra yang masuk ke Selat Malaka, baru dalam kerajaan serta kontradiksi ekonomi poli-
kemudian menyusuri pesisir utara Jawa. Hubung- tik antara kekuasaan raja dan kelas menengah
an yang harmonis antara Banten dan Portugis baru yang tumbuh akibat aktivitas perniagaan.
tidak hanya sebatas urusan perdagangan, Banten Reid (2011: 310) mengajukan delapan kerajaan
juga meminta bantuan kepada Portugis untuk besar yang menurut catatan sejarawan lain dapat
menghadapi ancaman dari Kerajaan Islam Demak dianggap merepresentasikan kondisi tersebut.
pimpinan Pati Unus. Atas bantuan militer itu, Kendati demikian, Banten di bawah kekuasaan
Portugis meminta hak untuk membangun ben- Sultan Abdulahfatah Ageng (1651–1682) diberi
teng di Banten (Guillot 2008: 266–267). Banten catatan khusus oleh Reid karena begitu dihormati-
merdeka didirikan oleh Sultan Hasanuddin tahun nya sosok raja ini, justru oleh berbagai kalangan
pada 1568. Wilayah kekuasaannya meliputi selu- di Belanda. Peran kolonial dalam meruntuhkan
ruh ujung barat Jawa (dahulu Kerajaan Sunda). perekonomian Banten juga dibenarkan oleh
Banten menjadi kaya sebagai pusat penjualan Lapian (2008:111) yang menyatakan bahwa,
utama merica (Hamid 2013:138). setelah Belanda gagal merayu syahbandar Banten
untuk berpihak pada mereka, pada tahun 1619,

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 165
VOC mulai menguasai Jayakarta. Kompeni me- malah mereduksi makna melaut. Saat ini melaut
narik para pedagang ke Pelabuhan Jayakarta. Satu terbatas pada mencari ikan di laut atau mengantar
windu kemudian, perdagangan Banten benar-benar pelancong yang hendak berwisata ke pulau-pulau
jatuh ke tangan Belanda. kecil di sekitar pesisir Ujung Kulon. Padahal
Monopoli perdagangan lada oleh VOC, ter- sebelumnya, kapal motor bisa memiliki fungsi
masuk yang terjadi di Banten, membuat semacam yang beragam, satu saat digunakan untuk mencari
blokade besar-besaran atas aktivitas perdagangan ikan, satu saat digunakan untuk membawa hasil
di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Oleh karena bumi atau hasil laut untuk dijual ke kota besar
itu, di Banten, Aceh, Bugis, Makassar dan yang seperti Labuan atau Cilegon serta membawa
lainnya para penguasa menyarankan untuk meng- kebutuhan bahan pokok dan barang-barang lain
ubah tanaman lada menjadi tanaman pangan. yang tidak diproduksi di wilayah ini. Distribusi
Suplai lada pun terganggu dan rakyat di kerajaan- barang dengan menggunakan kapal motor terakhir
kerajaan tersebut sampai jatuh miskin akibat tidak terjadi pada pertengahan dekade ‘80-an. Setelah
ada lagi aktivitas perdagangan yang berarti (Reid itu, kapal motor praktis hanya digunakan untuk
2011: 348). Periode ini menjadi masa suram bagi mencari ikan atau mengantar pelancong ke pulau.
perniagaan maritim Nusantara. Praktik sosial melaut yang pada masa lalu
meliputi berbagai kepentingan, perlahan namun
Representasi Degradasi Kebudayaan Maritim pasti mulai menghilang akibat beberapa hal.
Jika pada masa lalu melaut memiliki dimensi Pertama, disebabkan oleh munculnya alternatif
pemaknaan dan praktik yang cukup luas, saat jalan darat yang walaupun belum bagus, me-
ini justru terjadi reduksi pemaknaan atas praktik mungkinkan bagi mereka untuk memilih jalur
sosial tersebut. Penjelasan makro historis pada lain selain laut. Kemudian yang kedua, peng-
bagian sebelumnya menggambarkan bahwa gunaan motor laut semakin hari semakin tidak
melaut adalah sebuah praktik sosial yang didasari efisien, mengingat kondisi cuaca yang tidak
oleh satu hubungan relasional yang dinamis bisa diprediksi sering kali memaksa mereka
antara masyarakat dan laut (lihat Lapian 2008). untuk menepi ke darat beberapa kali selama
Manifestasinya bisa bermacam-macam, mulai dilakukannya perjalanan mengantar barang atau
dari mencari ikan untuk kebutuhan hidup, berlayar muatan dari Ujung Kulon menuju Labuan ataupun
untuk pergi ke suatu tempat demi mengunjungi Panimbang. Ketiga, biaya bongkar muat barang
sanak saudara, merantau, menyebarkan agama, yang harus dikeluarkan ketika menggunakan
sampai menggunakan kapal untuk berniaga atau jasa motor laut cukup besar. Hal ini dikarenakan
bahkan demi tujuan kekuasaan, berperang. Semua mereka harus beberapa kali melakukan bongkar
itu dilakukan oleh masyarakat masa itu melalui muat, baik ketika memasukkan barang ke dalam
jalur laut dengan menggunakan perahu-perahu kapal, mengeluarkan barang dari dalam kapal,
atau kapal dengan berbagai macam ukuran. menaikkan barang ke mode transportasi darat
Bagaimana dengan hari ini? menuju gudang maupun membongkar barang
untuk disimpan di gudang atau pihak pembeli.
Faktanya, situasi telah berubah. Pada ma-
Besarnya biaya bongkar muat ini dikarenakan
syarakat Pesisir Ujung Kulon tempat penelitian
gudang-gudang yang selama ini digunakan oleh
ilmiah ini dijalankan, perubahan itu pun berlang-
para pembeli ataupun pengumpul, baik di Panim-
sung. Sisa-sisa pemaknaan yang luas atas praktik
bang maupun Labuan, bukan berada di pelabuhan
sosial melaut itu sendiri masih dapat ditemukan
atau daerah pesisir yang bisa dimasuki oleh motor
dalam jumlah dan keterangan yang terbatas. Akan
laut. Kebanyakan gudang-gudang itu lokasinya
tetapi, yang dapat dipastikan dari proses degra-
cukup menjorok ke darat sehingga, baik pembeli
dasi dalam konteks kekinian itu, peran negara
maupun penjual masih harus mengeluarkan biaya
dan pemerintah cukup besar dalam melanjutkan
bongkar muat beberapa kali. Ini yang membuat
persoalan tersebut.
pengangkutan menggunakan motor laut dianggap
Kalau sebelumnya melaut memiliki makna tidak efisien dari sisi biaya. Persoalan terakhir
yang sangat luas, perkembangan masyarakat yang sempat mengemuka juga adalah semakin

166 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


hari, motor laut semakin sulit untuk masuk Pada masa kini, meskipun jalan darat di
kawasan pelabuhan, baik di Panimbang maupun kawasan ini sangat buruk, berbagai jenis mobil
Labuan karena terjadi pendangkalan. Tak jarang dan motor keluaran terbaru lalu lalang setiap
mereka harus menunggu satu hari untuk menan- saat. Hal yang sama tidak kita dapatkan di
tikan pasang naik agar kapal mereka dapat masuk laut. Meskipun masih banyak motor laut atau
ke muara. Hal ini cukup mengganggu efektivitas kapal yang digunakan oleh nelayan, kita dapat
transportasi barang yang mereka bawa. saksikan bagaimana kapal dan mesin yang
mereka gunakan seolah tidak beranjak dari apa
Masuknya Mobil dan Truk yang pernah mereka gunakan beberapa dekade
lalu. Selain teknologi yang cukup ketinggalan,
Sekitar tahun 1985, H. Hasan memutuskan untuk
infrastruktur bagi kapal untuk berlabuh juga tidak
membeli mobil bak terbuka untuk membawa hasil
kunjung dibangun. Dari beberapa lokasi nelayan
tangkapan ikannya ke gudang di Labuan. Menu-
berlabuh di Pesisir Ujung Kulon, seperti Muara
rutnya hal itu lebih efektif karena pengangkutan
Cikawung, Muara Cibanua, Legon Guru, Tanjung
dengan motor laut semakin tidak efisien dari sisi
Lame dan Katapang, hanya Muara Cibanua yang
biaya dan waktu. Kelebihan pendapatan kemu-
bisa dikatakan mirip pelabuhan. Sisanya hanya
dian ia alihkan untuk membeli mobil sehingga ia
muara saja yang dibuat seadanya oleh penduduk.
juga dapat memulai bisnis angkutan di darat yang
diperuntukkan bagi penduduk. Meskipun jarak Secara sosiologis, mobil dan truk menjadi
tempuhnya belum jauh karena faktor jalan yang apa yang oleh Giddens (1984) kategorikan se-
belum ada, inisiatif ini kemudian banyak ditiru bagai fasilitas atau modalitas yang menentukan
oleh warga lainnya. Ironisnya, mobil barunya bagaimana sebuah perubahan di dalam masyara-
sendiri harus diantar oleh dealer dari Labuan kat itu bisa berjalan. Fasilitas itu pada gilirannya
dengan menggunakan motor laut sampai ke depan membangkitkan satu skema interpretasi akan
rumahnya. sebuah kemajuan. Dasar dari tindakan sosial
Penjelasan di atas menunjukkan kepada seseorang ditentukan oleh pengetahuan yang
kita bagaimana sebuah proses intervensi sosial melingkupi dirinya berkembang ke arah di mana
di perdesaan pesisir berupa introduksi teknologi fasilitas atau modalitas itu disimbolisasikan. Pada
baru, yaitu mobil, perlahan namun pasti melahir- titik ini, struktur sosial dalam perspektif kaum
kan satu pengetahuan lain yang sebelumnya tidak elisionistik mendorong satu proses marginalisasi
hidup di tempat ini. Keberadaan mobil sebagai kebudayaan yang berorientasi kemaritiman oleh
alat angkut darat membuktikan pada setiap orang kebudayaan yang berorientasi daratan pada
bahwa ada mode transportasi yang lebih baik masyarakat Ujung Kulon.
daripada motor laut. Meskipun dalam beberapa
hal, penggunaan mobil belum dapat optimal Industri Perkapalan Nelayan
akibat infrastruktur jalan yang belum ada. Akan Pesat dan berkembangnya teknologi mode trans-
tetapi, mulai bersemi sebuah kesadaran baru portasi darat, seperti mobil, motor, dan truk,
bahwa mereka harus memiliki jalan yang baik berbanding terbalik dengan kondisi industri
sehingg dapat dilewati oleh mobil. Masa depan perkapalan milik nelayan yang sampai hari
interaksi mereka dengan dunia luar, ada pada ini seperti tidak beranjak dari apa yang ada
jenis teknologi transportasi mobil karena peng- pada beberapa dekade lalu. Meskipun industri
gunaan motor laut selama beberapa kurun waktu kendaraan bermotor darat tidak terdapat di sini,
ternyata tidak juga bisa membuat mereka lebih konsumsi atas produknya begitu besar. Hal ini
baik ataupun lebih maju daripada masyarakat terlihat dari begitu banyaknya masyarakat yang
lain. Mobil dan truk dalam konteks ini menjadi memiliki kendaraan roda dua dan sebagian kecil
satu manifestasi kecil dari bagaimana sebuah roda empat. Ada juga beberapa anggota penduduk
pengetahuan bisa datang, berkembang untuk yang memiliki minibus dan digunakan sebagai
kemudian mendominasi. angkutan umum dari desa-desa di sepanjang
pesisir untuk menuju ke Kota Kecamatan Sumur,

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 167
Labuan, Rangkasbitung ataupun Serang. Sing- perbaikan atau pembuatan kapal, bantuan alam
katnya, perkembangan transportasi darat begitu dan lingkungan sangat penting karena adanya
cepat. Tidak seperti mode transportasi laut yang keterbatasan dalam hal sarana dan prasarana.
tidak mengalami perkembangan yang cukup ber- Selain ketiadaan sarana dan prasarana yang
arti, baik dari sisi bentuk, model, bahan, maupun memadai dalam upaya pembuatan serta perbaikan
teknologi pembuatannya. kapal, inovasi paling canggih dari sistem pembuatan
Persoalan paling pokok dalam konteks kapal hanya pada energi atau daya pendukung
perbandingan itu tentu saja bukan pada skala kerja. Jika sebelumnya berbagai peralatan masih
industrinya karena yang jauh lebih penting adalah digunakan secara manual atau mekanis, saat ini
bagaimana pengetahuan sebagai dasar dari satu peralatan listrik seperti bor listrik, mesin serut
proses perjalanan peradaban suatu masyarakat listrik, dan gergaji listrik/mesin sudah dapat
mengalami stagnasi. Atau dengan kata lain, digunakan. Selebihnya semua masih manual. Tak
ketidakmampuan untuk mengembangkan diri sedikit dari pekerjaan pembuatan kapal di tempat
dalam rangka mendukung praktik sosial melaut ini masih memanfaatkan kondisi alam untuk bisa
itu sendiri. Kendati dalam ukuran-ukuran yang membantu proses pembuatan ataupun perbaikan
jauh lebih mikro, pengetahuan tentang pembuatan kapal. Misalnya, membuat kapal di tengah
dan perbaikan kapal tradisional masih hidup dan rerimbunan pohon sangat penting karena cabang-
berjalan. Sebuah praktik industri jasa maritim cabang pohon yang besar bisa dimanfaatkan untuk
dijalankan oleh beberapa individu yang secara menjadi pengganti katrol atau alat angkat. Proses
sosiologis menunjukkan bagaimana kebudayaan ini penting ketika hendak melakukan perbaikan
maritim begitu termarginalkan. Jarman dan Armin, di bagian bawah lambung kapal. Dengan adanya
dua orang praktisi pembuat kapal merepresen- batang kayu, tali bisa diikatkan kemudian kapal
tasikan hal itu. ditarik ke atas sampai pada kondisi menggantung.
Jarman dan Armin, keduanya adalah dua Secara sosiologis, tetap bertahannya industri
orang tukang yang sampai hari ini masih setia pembuatan dan perbaikan kapal rakyat di wilayah
melayani perbaikan kapal-kapal nelayan yang ru- ini disebabkan oleh tertambatnya pengetahuan
sak atau bahkan membuat kapal baru, khususnya mengenai hal tersebut di dalam struktur sosial
kapal yang terbuat dari kayu. Pengetahuan mereka masyarakat. Ketertambatan itu melekat di dalam
tentang proses pembuatan kapal yang bersumber struktur kesadaran para pemilik kapal yang sam-
dari pengalaman selama ini ditambah kegiatan pai hari ini masih mempercayai tenaga-tenaga
melaut untuk mencari ikan, menyempurnakan terampil pembuat kapal seperti Jarman dan Armin
batas yang sangat lokal, kapasitas pengetahuan guna memperbaiki atau membuatkan kapal baru
sekaligus praktik perbaikan, dan pembuatan mereka untuk digunakan melaut. Dalam konteks
kapal. Sampai sejauh ini, tidak ada bantuan atau ini, intervensi yang salah dapat mendorong
dukungan dari pihak pemerintah ataupun swasta pengetahuan mengenai hal ini ikut luruh bersama
untuk kegiatan mereka. Kemampuan mereka peluruhan kebudayaan maritim itu sendiri.
bertahan sebagai pembuat kapal tradisional di
wilayah ini adalah hasil kerja keras dan rasa
percaya para pemilik kapal untuk memperbaiki Paradoks Identitas
kapal-kapalnya kepada mereka. Kecenderungan yang tampak dari kampung-
Di tengah tekanan perkembangan mode kampung yang berada di Pesisir Ujung Kulon—
transportasi darat yang begitu pesat, industri tempat penelitian ini dilakukan—adalah wajah
perkapalan nelayan skala kecil tetap dapat hidup masyarakat pertanian atau agraris meskipun
dan mampu menjawab persoalan-persoalan teknis determinasi alamiahnya lebih dekat kepada laut
perkapalan yang selama ini ditemui oleh nelayan. (pesisir). Jarak alamiah yang dekat dengan laut
Secara sosiologis, para praktisi pembuat kapal tidak membuat jarak sosial dan jarak kulturalnya
mengembangkan pengetahuannya melalui sistem juga dekat.
pendidikan nonformal. Dalam mengerjakan

168 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


Hamid (2013: 79) mencatat pentingnya du- apa yang bisa dibangun oleh masyarakat sehingga
kungan pertanian bagi kawasan pelabuhan sebagai mampu melonggarkan kunci-kunci struktural
satu sistem perekonomian pendukung perniagaan yang mengekang mereka. Secara konkret, apa
maritim. Menurutnya, pelabuhan-pelabuhan yang manifestasi dari berlangsungnya negosiasi yang
baik juga harus memiliki dukungan logistik se- terus-menerus itu?
perti air tawar dan beras yang cukup besar karena Hampir semua warga di Pesisir Ujung Kulon
para pelaut memerlukannya dalam satu kegiatan ketika ditanya perihal mata pencaharian, jawaban
pelayaran yang memakan waktu berminggu- mereka kebanyakan adalah tani-nelayan atau
minggu bahkan berbulan-bulan. Inilah salah satu nelayan-tani. Posisi mereka di dalam struktur
hal yang menyebabkan banyak wilayah pesisir produksi pertanian ataupun perikanan cukup
yang masyarakatnya juga menanam tanaman beragam dan masih cenderung mengikuti pola
pangan. Dalam konteks sejarah, hal itu dilakukan relasi lama di mana pemilik modal besar mengua-
untuk mendukung satu sistem perekonomian yang sai aset yang juga besar, sedangkan mereka yang
lebih besar, yaitu sistem perekonomian maritim. miskin memiliki alat produksi yang terbatas, baik
Dengan kata lain, produksi pertanian ma- tanah maupun alat tangkap ikan.
syarakat pada waktu itu memiliki orientasi yang Bagi masyarakat di Pesisir Ujung Kulon,
cukup luas. Bukan saja untuk memenuhi kebutu- baik bertani maupun melaut, keduanya bukan
han masyarakat sendiri, melainkan sebagai sistem hanya persoalan mencari nafkah, melainkan ada
pendukung aktivitas ekonomi politik di laut. pemaknaan yang lebih spesifik dan cenderung
Bukan saja demi aktivitas sosial di darat, lebih kontradiktif di antara keduanya. Bertani bagi
jauh hal itu mendukung kegiatan di kapal-kapal sebagian besar orang memiliki satu nilai tentang
yang menjadi media interaksi antarkelompok ketenteraman, sementara menjadi nelayan, bagi
masyarakat pada waktu itu. sebagian kalangan dinilai sebagai usaha yang
Dengan demikian, kita bisa memahami terlalu berisiko meskipun keuntungannya bisa
bahwa keberadaan kegiatan ekonomi pertanian jauh lebih besar.
yang tidak berorientasi pada lautan di wilayah Pandangan seperti ini muncul dalam konteks
pesisir, bukan sesuatu yang timbul secara tiba-tiba sosial ekonomi yang cukup beragam. Kalangan
atau menjadi sebuah antitesis yang berlawanan bawah yang tidak memiliki sawah dan hanya
dengan kegiatan perekonomian di laut. Pertanian menjadi buruh tani mengungkapkan bahwa me-
di desa-desa pesisir bukanlah lawan dari aktivitas laut sebenarnya cukup menjanjikan. Namun,
melaut. Jika dalam perjalanan waktu ternyata rona faktor ketidakpastiannya dinilai tinggi, karena
tani lebih tampak dominan daripada rona laut di hasil tangkapannya tidak menentu, bisa sangat
wilayah pesisir, sesungguhnya hal itu memper- besar, bisa juga sebaliknya, terlalu kecil bahkan
lihatkan satu kenyataan yang sifatnya paradoks, minus. Apalagi pada musim barat, melaut tidak
yaitu paradoks desa pesisir yang memiliki dua bisa dilakukan sama sekali karena ombak terlalu
wajah sekaligus, wajah laut dan wajah darat. besar. Saat seperti ini adalah waktu yang sangat
sulit bagi para nelayan karena mereka sama sekali
Nelayan Tani-Tani Nelayan tidak memiliki penghasilan. Alat produksi dalam
Jika jarak alamiah masyarakat terhadap laut bisa penangkapan ikan di laut pun terus mengalami
dikalahkan oleh jarak sosial (mungkin juga jarak penurunan atau depresiasi karena digunakan
kebudayaan), pertanyaan yang patut kita ajukan terus-menerus. Tak jarang ketika ombak tengah
dalam konteks masyarakat Pesisir Ujung Kulon ganas, bagan-bagan yang dimiliki penduduk pun
adalah, bagaimana hal itu bisa berlangsung? Ka- rusak, bahkan tidak dapat lagi dipakai. Melaut
lau kita merujuk pada pemikiran Giddens, bahwa sering dianggap sebagai mata pencaharian yang
individu senantiasa mampu melakukan negosiasi kurang menenteramkan meski untungnya dapat
dan redefinisi terhadap structural constraint yang besar.
melingkupi dirinya, bagaimana negosiasi itu Di sisi lain, pengakuan informan yang ter-
berlangsung? Pilihan atau alternatif struktural libat dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 169
pertanian padi sawah dinilai lebih memiliki unsur Akan tetapi, dari sisi bahasa, mereka sudah men-
kepastian karena jelas berapa biaya yang akan campurnya dengan bahasa Sunda meskipun
dikeluarkan dalam satu kali musim tanam, terma- dengan logat Bugis yang masih kental.
suk perkiraan berapa hasil yang akan diperoleh. Dalam konteks sekarang, telah banyak ang-
Kendati di dalam usaha pertanian tidak dimung- gota masyarakat beretnis Sunda yang menjadi
kinkan seseorang tiba-tiba mendapat untung yang nelayan, bahkan sampai pada tingkat juragan
besar seperti di perikanan tangkap. Investasi meskipun tak bisa dipungkiri ada semacam
faktor produksi di pertanian, yakni tanah, juga memori kolektif yang pernah hidup bahwa orang
diyakini akan terus-menerus bertambah nilainya Sunda hidup dari bertani. Kesan ini muncul dari
meski keuntungannya tidak bisa melonjak secara pembicaraan dengan berbagai pihak, baik mereka
drastis. Bertani bagi sebagian besar masyarakat yang beretnis Sunda maupun mereka yang ber-
mencerminkan rasa tenteram dan harmoni. etnis Bugis. Di satu sisi, meskipun mereka yang
Kelebihan dan kekurangan masing-masing beretnis Bugis mengakui kedekatannya dengan
dua orientasi pemanfaatan sumber daya alam laut dan profesi nelayan, pada hari ini, banyak
inilah yang sedikit banyak memengaruhi men- dari mereka yang meninggalkan profesi sebagai
gapa mayoritas penduduk di Pesisir Ujung Kulon nelayan dan memilih untuk bertani. Di sini,
merasa nyaman berada di dalam dua aktivitas profesi tani dan nelayan yang semula melekat
tersebut. Pertanian padi sawah memberikan ke- erat dengan identitas kesukuan mereka perlahan
tenteraman karena hal itu memberikan jaminan mulai meluruh dan terjadi proses pertukaran
ada beras yang tersedia di rumah untuk beberapa tanpa menimbulkan terjadinya ketegangan atau
waktu. Sementara penangkapan ikan di laut mem- konflik.
berikan kemungkinan mereka bisa mendapatkan Secara sosiologis, proses sosial yang terus-
untung yang relatif besar. menerus berlangsung mempertemukan batas-
Dua bayangan ideal yang mereka inginkan batas yang semula tegas menjadi kabur. Proses
itu sesungguhnya berlaku universal. Tak terke- sosial yang terjadi di masyarakat Pesisir Ujung
cuali pada masyarakat modern atau maju yang Kulon menjadi arena yang cukup dinamis bagi
berada di perkotaan. Mereka pun menginginkan bertemunya berbagai macam kebudayaan, kendati
adanya pendapatan yang besar dan jaminan belum tentu hal itu dapat mengubah struktur atau-
kehidupan yang pasti, terutama untuk jangka pun stratifikasi sosial yang selama ini berlaku.
panjang. Ketika setiap orientasi mata pencaharian Proses sosial tersebut juga mempertukarkan
itu secara langsung tidak dapat memenuhi dua pengetahuan serta pengalaman lintas identitas.
bayangan ideal yang dimaksud, mengakomodasi Alhasil, kebudayaan menjadi arena berbagai
keduanya adalah jalan keluar yang bisa diambil. pihak untuk berbagi identitas.
Menjadi nelayan sekaligus petani dan menjadi Identitas merupakan hal penting dalam
petani sekaligus nelayan. konteks penyebarluasan pengetahuan dan praktik
melaut. Nelayan Bugis yang datang ke Ujung
Bugis-Sunda: Berbagi Identitas Kulon memberikan kontribusi yang sangat besar
Pembicaraan mengenai laut dan melaut lekat bagi pengenalan pengetahuan tentang laut bagi
sekali dengan keberadaan etnis Bugis yang orang Sunda yang mendiami wilayah ini lebih
mendiami wilayah ini sejak tahun ‘70-an. Bahkan awal. Berbagai pihak dari etnis Sunda mengakui
sampai sekarang ada satu kampung di Desa Ta- bahwa mereka baru memahami ada jenis ikan
man Jaya, yakni Kampung Cibanua, yang lebih tertentu yang memiliki harga tinggi. Salah satu-
sering disebut orang sebagai Kampung Bugis nya adalah udang jerbung yang sebelumnya tidak
karena sebagian besar masyarakat yang tinggal dilihat sebagai komoditas yang menguntungkan
di kampung ini adalah mereka yang beretnis bagi masyarakat, saat ini justru dijadikan prima-
Bugis. Bentuk rumah tinggal mereka pun banyak dona tangkapan, khususnya pada musim-musim
yang masih mencirikan rumah panggung Bugis tertentu. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini
dengan tiang-tiang penyangga yang cukup tinggi. bisa berkembang dan dimaknai sebagai dasar dari

170 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


sebuah tindakan sosial karena tersosialisasikan mengenai melaut. Pada titik ini, betul apa yang
oleh para nelayan yang berasal dari etnis Bugis. dikemukakan oleh Giddens (1991) bahwa
Kendati demikian, dalam perjalanannya, hal itu identitas adalah sebuah konstruksi sosial yang
semakin tergerus atau bisa dikatakan menjadi senantiasa berada pada situasi yang dinamis.
tidak relevan lagi. Perubahan-perubahan mendasar dalam sistem
Posisi identitas dalam praktik sosial melaut pengetahuan di mana rasa kolektif dari identitas
menemukan ketidakrelevanannya lagi ketika itu tertambat, tidak bisa dihindari akan memenga-
praktik melaut telah terinternalisasi dengan baik ruhi skema-skema interpretasi masyarakat ten-
pada berbagai kalangan, tak terkecuali mereka tang laut. Kendati secara sosiologis pengetahuan
yang berasal dari etnis Sunda. Pada satu titik, melaut dalam perjalanannya mampu melampaui
sebuah kelompok sosial mungkin dapat men- sekat-sekat identitas, penegasan Castells (1997)
dominasi pemaknaan kolektif mengenai praktik bahwa identitas menjadi sumber pemaknaan atas
melaut, tetapi ketika pengetahuan dan praktik tindakan sosial seseorang juga tidak bisa dimung-
itu telah terinternalisasi di dalam diri individu- kiri. Penelitian ini mengonfirmasi pandangan dua
individu lain yang berada di luar kelompoknya, sarjana itu.
pengetahuan dan praktik itu dapat berkembang Oleh karena itu, perdebatannya bukan lagi
sendiri serta memiliki karakteristik yang berbeda pada keberadaan atau ketiadaan peran identitas
dengan pengetahuan awalnya. Selebihnya, posisi dalam sebuah praktik sosial melaut. Akan tetapi,
sosial individu di dalam masyarakat masih lebih lebih dalam lagi, seharusnya kita dapat melihat,
menentukan daripada identitasnya. Kemampuan- seberapa jauh identitas dapat mendorong terdis-
nya melakukan akumulasi kapital, kemampuan- tribusinya pengetahuan dan keterampilan melaut.
nya membangun jaringan dan relasi ke luar Ada baiknya kita lihat kembali argumentasi
kelompoknya, peningkatan kapasitas pengeta- antropolog dari Universitas Bombay yang diku-
huannya menjadi elemen-elemen penting yang tip Cameron (1986). Ia menegaskan bagaimana
kemudian mengaburkan batas-batas pemaknaan penyebarluasan praktik sosial melaut hanya bisa
yang bersumber dari identitas itu sendiri. Meski- dilakukan oleh mereka yang secara langsung
pun demikian, daya tarik identitas tetap tidak hidup dan bergantung pada laut. Benarkah
dapat dihilangkan karena hal itu juga sudah ter- demikian?
lanjur tertanam sebagai satu pengetahuan kolektif Untuk menjawab pertanyaan pertama, dengan
di dalam masyarakat. Dengan kata lain, identitas cara apa identitas dapat mendorong penyebarluas-
sebagai sebuah konstruksi sosial menemukan an praktik sosial melaut, kita patut melihat kem-
kontekstualitasnya, baik ketika pengetahuan itu bali inisiatif-inisiatif pada level individu ataupun
mulai diperkenalkan maupun ketika pengetahuan kolektif yang muncul di kalangan masyarakat
itu berkembang di dalam struktur kognitif indi- Pesisir Ujung Kulon, khususnya inisiatif yang
vidu. Pengetahuan tentang laut menjadi penting terkait dengan keputusan orang-orang tersebut
dalam sebuah proyek identitas kemaritiman. untuk menjadi nelayan.
Penelitian ini menemukan tiga hal penting
Pengetahuan dan Identitas Kemaritiman ketika kita memperbincangkan posisi identitas
Masalah identitas memiliki arti dalam penye- dalam praktik sosial melaut. Persoalan pertama,
barluasan praktik sosial melaut meskipun tidak adalah struktur produksi perikanan di wilayah ini
dalam satu keadaan atau kondisi sosial beku atau yang diakui atau tidak, sangat erat kaitannya de-
statis. Posisi identitas bermakna penting tatkala ngan kedatangan nelayan Bugis yang bermukim
pengetahuan mengenai melaut di suatu wilayah di Cibanua. Posisi mereka dalam tata niaga ikan
tergolong baru atau masih berusia muda. Ketika laut menjadi begitu sentral jika tidak ingin kita
praktik sosial melaut telah dikenal secara luas katakan dominan. Di Kampung Bugis, berpusat
oleh masyarakat, maka pengetahuan itu berjalan segala macam praktik sosial yang berhubungan
dan berkelindan melampaui sekat-sekat identitas dengan laut, seperti menangkap ikan, membuat
yang sebelumnya menjadi basis dari kesadaran bagan, membuat dan memperbaiki kapal, tradisi

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 171
pesta laut, mengawetkan ikan dan lain sebagainya kegiatan perkawinan antarkelompok suku bangsa
seperangkat praktik sosial yang berhubungan membuka kesempatan kepada masing-masing pi-
dengan laut dan jarang terdapat di kampung lain. hak untuk melebarkan sayap bisnis atau mencoba
Kalaupun ada, tidaklah selengkap di wilayah ini. peruntungan baru.
Kedua, tersosialisasikannya dengan baik Dari ketiga hal yang berhasil diidentifikasi
posisi sentral orang Bugis dalam penyebarluasan itu, kiranya kita dapat merespons argumentasi ahli
pengetahuan dan praktik melaut. Bagi sebagian antropologi yang sempat dikutip oleh Cameron
besar masyarakat yang beretnis non-Bugis, baik (1986) dalam artikelnya yang berjudul “Ahoy,
yang berprofesi sebagai nelayan, maupun petani, Marine Sociology”. Kelompok identitas jelas
soal laut adalah soal orang Bugis. Tak ada seorang memainkan andil yang cukup besar ketika praktik
pun warga di tempat ini yang tidak mengakui sosial melaut masih berada pada taraf awal, yaitu
totalitas orang Bugis untuk hidup dari laut. Ke- pada saat praktik melaut yang agak profesional
nyataan ini telah menjadi semacam pengetahuan masih belum massif dilakukan oleh masyarakat
yang mengendap di alam bawah sadar masyarakat umum. Sebaliknya, dengan cara yang sedemikian
Pesisir Ujung Kulon. Meskipun pada kenyata- pula, praktik sosial melaut dapat berjalan melam-
annya, pada hari ini, banyak juga orang Sunda paui sekat-sekat identitas yang ada sampai pada
yang sukses menjadi nelayan ataupun pengumpul satu keadaan di mana peranan identitas tidak lagi
ikan, tetapi mereka sendiri menyadari tidak dapat sekuat seperti di masa-masa sebelumnya. Di sini,
menempati posisi totalitas yang ditempati oleh argumentasi Cameron (1986) mesti memasukkan
orang Bugis. Konsentrasi pengetahuan yang se- kata “konteks” agar identitas memiliki kemung-
olah melekat pada nelayan-nelayan yang berasal kinan untuk dapat eksis. Konteks memberikan
dari etnis Bugis mendorong sebagian orang untuk makna berbeda bagi identitas. Konteks awal
bekerja sebagai anak buah kapal ataupun pekerja memberikan tekanan pada kekuatan kelompok
bagan pada pemilik kapal ataupun pemilik bagan identitas dalam menyebarluaskan praktik sosial
orang Bugis. Dengan cara demikian, selain melaut. Sebaliknya, konteks kekinian menunjuk-
mendapatkan upah atas pekerjaannya, mereka kan bahwa identitas secara dominan tak lagi
juga memperoleh pengetahuan mengenai melaut. dapat memengaruhi praktik sosial melaut
Akumulasi pengetahuan ini pada gilirannya
mendorong para pekerja untuk memberanikan Dimensi Sosiologis Praktik Sosial Melaut
diri menjadi nelayan sendiri. Posisi pengetahuan Dalam kasus Pesisir Ujung Kulon, praktik sosial
dalam konteks ini menjadi sangat krusial karena melaut adalah sebuah proses yang melibatkan se-
pada dasarnya, untuk memulai aktivitas melaut cara efektif skema-skema pengetahuan mengenai
atau menjadi nelayan, pengetahuan tentang laut laut dan melaut; kondisi perekonomian warga
memegang peranan penting. yang beragam; kedekatan jarak alamiah laut
Cara yang ketiga dan hal ini kerap atau dengan masyarakat; serta kelompok-kelompok
umum berlangsung dalam satu sistem masyarakat identitas yang secara historis memiliki kedekatan
yang terbuka adalah melalui proses perkawinan. sosial dan kultural dengan laut. Faktor-faktor
Kondisi sosial masyarakat perdesaan yang cen- tersebut menjadi semacam structural constraint
derung sudah terbuka memungkinkan terjadinya yang memengaruhi kesadaran individu tentang
proses perkawinan di antara berbagai kelompok laut dan melaut. Dalam satu proses interaksi yang
identitas, termasuk dalam hal ini adalah suku dinamis, kesadaran yang terbentuk memiliki ke-
Sunda dengan suku Bugis di kawasan Pesisir mampuan reflektif dalam mendefinisikan proses
Ujung Kulon. Tak jarang proses perkawinan sosial yang melingkupi diri. Proses interaksi ini
antara orang dari etnis Bugis dan etnis Sunda melahirkan praktik sosial melaut yang secara
memunculkan inisiatif, khususnya dari mereka kualitatif berbeda antara satu kelompok dengan
yang etnis Sunda untuk mulai merambah bisnis kelompok lainnya. Bagan di bawah ini dapat
perikanan atau pekerjaan yang berhubungan menggambarkan secara ringkas proses sosial
dengan usaha di laut. Dalam beberapa kasus, yang dimaksud.

172 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


PRAKTIK
Pengetahuan Mengenai SOSIAL Kondisi perekonomian
Laut dan Melaut MELAUT yang beragam

Penghasilan yang
Melakukan observasi terbatas dari darat
di pasar ikan Investasi karena
ada kelebihan
Pernah bekerja pendapatan
pada nelayan lain

Kesadaran Individual
Tentang Melaut
Interaksi melalui
pengetahuan yang
tersosialisasi
Interaksi melalui
Memunculkan hubungan
alternatif pilihan ekonomi
sumberdaya

Kelompok
Memunculkan Interaksi melalui identittas yang
Kedekatan Jarak secara historis
norma hidup proses kawin
Alamiah Laut dekat dengan laut
berdekatan mengawin
dengan laut

Gambar 2. Dimensi Sosiologis Praktik Sosial Melaut

Pengetahuan mengenai laut dan melaut di- yang dimaksud adalah kelompok identitas orang
peroleh masyarakat melalui interaksi sosial antara Bugis. Namun, dalam perjalanannya, akibat satu
mereka yang kurang paham tentang persoalan proses sosial yang dinamis dan terus-menerus,
laut dan melaut dan mereka yang sebelumnya pengetahuan itu dapat menular dan berkembang
sudah mengerti tentang persoalan itu. Proses melintasi sekat-sekat identitas yang sebelumnya
sosial dapat berupa kerja pada kelompok nelayan ada. Hal ini berjalan melalui proses kawin-mawin
yang sudah mapan atau melakukan pengamatan ataupun hubungan ekonomi sehari-hari.
di pasar dan tempat pelelangan ikan. Sementara
itu, kondisi perekonomian yang beragam di ma- PENUTUP
syarakat, terutama pada mata pencaharian yang
dilakukan di darat, bagi sebagian kalangan dinilai Degradasi perniagaan maritim Banten tak pelak
tidak mencukupi. Hal ini mendorong orang un- dilatarbelakangi oleh masuknya kekuasaan
tuk terjun ke laut mencari ikan meskipun bagi Belanda di wilayah ini yang tidak hanya bertu-
mereka yang lebih kaya, terjun ke laut dapat juan untuk melakukan upaya perdagangan, tetapi
dilihat sebagai satu cara untuk menginvestasikan juga berhasrat menjalankan praktik monopoli
kelebihan modal yang mereka miliki. Pada titik perdagangan di pelabuhan. Proses ini berjalan
ini, kedekatan jarak alamiah dengan laut pada beriringan dengan degradasi kebudayaan maritim
akhirnya memunculkan satu situasi alternatif masyarakat nusantara lainnya. Pada masa inilah,
sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan orientasi masyarakat nusantara, tak terkecuali
oleh masyarakat yang konsekuensi lanjutannya Banten, terhadap laut menjadi menurun, sampai
adalah munculnya norma-norma serta obligasi terdegradasi. Mereka lebih memilih mengem-
sosial yang bersumber dari pemaknaan sehari- bangkan daerah pertanian baru dan melupakan
hari mereka tentang laut. Praktik sosial melaut bahwa mereka pernah memiliki keterkaitan yang
pada dasarnya berdiri di atas sebuah pengetahuan cukup kuat dengan laut. Dengan kata lain, dapat
mendasar tentang interaksi manusia dengan laut. kita katakan bahwa perubahan orientasi kultural
Atas alasan itu maka kelompok sosial yang lebih masyarakat dari laut ke darat yang direpresenta-
dulu mampu mengakses laut akan mendapatkan sikan oleh berubahnya orientasi perniagaan dari
posisi sosial yang lebih daripada kelompok maritim ke darat sejalan dengan melemahnya
yang lain. Dalam konteks ini, kelompok sosial kekuatan ekonomi masyarakat lokal akibat
kolonialisme.

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 173
Degradasi kebudayaan maritim itu tak ber- pesat dari infrastruktur dan mode transportasi
henti sampai kolonialisme pergi dan Indonesia darat dalam kenyataannya tidak terjadi di laut.
menjadi satu negara bangsa baru. Degradasi Hal inilah yang menjadi salah satu musabab
kebudayaan maritim kekinian direpresentasikan keberlanjutan peluruhan kebudayaan maritim
oleh sistem pembangunan nasional sampai lokal selain dari proses historis yang cukup panjang.
yang lebih berorientasi pada darat daripada Salah satu hal yang menyebabkan kebudaya-
laut, satu perspektif sistem pembangunan yang an maritim itu terdegradasi adalah kemampuan
ahistoris. Kehadiran mode transportasi modern melaut masyarakat yang terus menurun. Oleh
di darat, seperti mobil, motor, dan truk menjadi sebab itu, pengetahuan menjadi sangat penting.
semacam penanda bahwa modernisasi itu adanya Untuk memulihkan pengembangan pengetahuan
di darat. Dalam perjalanan waktu, hal ini telah mengenai laut, dibutuhkan intervensi kebijakan
meminggirkan mode transportasi laut, termasuk pendidikan yang memuat karakteristik sumber
industri yang menjadi penyokong keberlangsun- daya lokal, baik alam maupun kebudayaannya.
gan mode transportasi laut. Dari sisi teknologi Cara ini dianggap dapat menjadi jalan bagi
dan pengetahuan, dapat dikatakan bahwa tidak pemulihan pengetahuan mengenai laut bagi gene-
ada perkembangan yang berarti pada industri rasi muda. Konteks perkembangan pengetahuan
pembuatan kapal di wilayah ini. Hal ini berbeda mengenai melaut itu harus diperkaya dengan
jauh dengan sistem pendukung mode transpor- pemahaman-pemahaman pelestarian lingkungan,
tasi darat yang meskipun tidak terdapat industri modernisasi ekologis, sistem pengolahan hasil
pembuatannya, semua kebutuhan terkait layanan laut dan yang lainnya. Sekolah sebagai institusi
perbaikan, suku cadang, dan sistem finansial penghasil pengetahuan harus ditempatkan sebagai
dalam proses jual beli relatif lebih maju. media bagi peserta didiknya untuk dapat mema-
Dalam kenyataannya, praktik sosial melaut hami lingkungan alamiah yang ada di sekitar
membutuhkan landasan pengetahuan mengenai mereka tanpa harus melepaskan diri dari kema-
laut dan melaut. Hal ini menyebabkan posisi juan yang juga telah berlangsung di luar tempat
kelompok identitas yang lebih paham mengenai mereka hidup. Dengan demikian, ada satu proses
laut, menjadi sangat krusial. Kendati demikian, integrasi antara perkembangan sosial yang terjadi
hal ini berlaku hanya pada saat-saat awal ketika di tingkat masyarakat dan sistem pendidikan yang
pengetahuan mengenai melaut masih sangat diselenggarakan oleh negara.
terbatas bagi masyarakat secara umum. Dalam Dari sisi pembangunan, membuat infra-
perjalanan waktu, ada mekanisme sosial yang me- struktur yang memadai, terkait akses masyarakat
mungkinkan pengetahuan itu berjalan melintasi dengan laut, menjadi penting untuk dilakukan.
sekat-sekat identitas yang sebelumnya sudah ter- Infrastruktur darat berupa jalan bukan tidak pen-
bentuk. Mekanisme sosial inilah yang membuat ting. Namun, ketika konsentrasi pembangunan
dominasi pengetahuan mengenai laut oleh satu infrastruktur hanya menyentuh akses transportasi
kelompok identitas menjadi tidak relevan lagi. di darat, sementara di laut sendiri tidak dilakukan,
Mekanisme sosial ini pada prosesnya membentuk hal itu menyebabkan jarak sosial dan kultural an-
konteks dari posisi kelompok identitas dalam tara masyarakat dan laut menjadi terus-menerus
penyebarluasan praktik sosial melaut. tergerus walaupun jarak alamiahnya sangat dekat.
Pascakolonialisme, orientasi daratan menjadi Meskipun demikian, pembangunan infrastruktur
sangat dominan sehingga menggerus kebudayaan laut harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
maritim di masyarakat. Kenyataan ini terus ber- Jangan sampai justru membangun sesuatu yang
langsung bahkan sampai hari ini. Representasi tidak dibutuhkan atau malah tidak tepat sasaran.
dari ketertinggalan kebudayaan maritim dari Sebagai saran yang sifatnya teknis, selain sarana
kebudayaan darat adalah posisi dari berbagai dan prasarana produksi perikanan, ada baiknya
penanda modernisasi yang tidak terlalu me- pemerintah mendorong upaya pembangunan
nyentuh aspek-aspek kebudayaan masyarakat dermaga-dermaga kecil di sepanjang wilayah
yang berkaitan dengan laut. Penanda modernisasi pesisir yang banyak didiami oleh nelayan.
yang ditunjukkan oleh perkembangan yang amat Peningkatan teknologi motor kapal nelayan juga

174 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014


bisa dilakukan agar ada pilihan transportasi selain memperhatikan dimensi keadilan sehingga kese-
mobil dan truk untuk menuju ke tempat lain. jahteraan tidak hanya menjadi milik mereka yang
Perlu dipikirkan juga bagaimana caranya memiliki modal besar, tetapi juga mereka yang
membangun industri kapal fiber ukuran kecil semata-mata menginginkan adanya peningkatan
yang biasa digunakan oleh para nelayan dalam pendapatan karena kondisi ekonominya yang
jumlah yang besar. Produksi ini dapat dilakukan kurang. Intinya pembangunan maritim dalam
oleh pihak pemerintah bersama swasta dan konteks ini harus tetap dilaksanakan dengan
hasilnya dapat dijual di wilayah-wilayah pesisir mengedepankan dimensi keadilan sosial bagi
sehingga para nelayan menemukan alternatif seluruh masyarakat pesisir agar dapat menjadi
kapal yang lebih murah, baik untuk mencari ikan jalan bagi penyelesaian masalah kemiskinan.
maupun sebagai sarana transportasi. Sistem pen-
jualan kapal bukan tidak mungkin mengadopsi PUSTAKA ACUAN
sistem penjualan kendaraan bermotor dengan
Buku
mekanisme kredit. Termasuk dalam hal ini adalah
Blusse, Leonard an Jaap de Moor. 1983. Nederland-
membangun layanan purna jual bagi nelayan yang
ers Overzee. De eerste vijftig jaar 1600–1650.
telah membeli kapal seperti fasilitas pemeliharaan Franeker: Uitgeverij T. Wever B.V.
dan perbaikan kapal yang memudahkan para Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction : A Social Critique
nelayan. Kebutuhan kapal fiber sangat diperlu- of th Judgment of Taste. Richard Nice (trans-
kan mengingat keterbatasan bahan baku kayu late). Cambridge: Harvard University Press
di masa depan. Upaya mengembangkan industri Calhoun, C. 1995. Critical Social Theory: Culture,
jasa maritim ini harus diletakkan dalam kerangka History, and the Challenge of Difference. USA:
mengembangkan kapasitas lokal yang telah ada. Wiley-Blackwell, Cambridge, MA.
Misalnya dengan melibatkan pihak-pihak yang Castells, Manuel. 1997. The Power of Identity: The
selama ini telah setia mengembangkan penge- Information Age: Economy, Society and Culture
Volume II, 2nd ed. UK: Blackwell Publishing.
tahuan terkait pembuatan dan perbaikan kapal.
Mereka harus menjadi bagian dari perkembangan Cribb, Robert. Michele, Ford. 2009. Indonesia as An
Archipelago: Managing Island, Managing The
industri itu agar modernisasi tidak lantas meng- Seas, dalam: Indonesia Beyond the Water’s Edge,
gusur dan memarginalkan mereka. Robert Cribb & Michele Ford (ed). ISEAS.
Bagi kelompok-kelompok identitas yang Dorleans, Bernard. 2006. Orang Indonesia dan Orang
selama ini menjadi simbol sosial dari praktik Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad
melaut, ada baiknya tetap diperhatikan meskipun XX. Jakarta: KPG.
jangan sampai memunculkan kecemburuan sosial Giddens, Anthony. 1984. The Constitution of Society:
Outline of The Theory of Structuration. Ocford:
kepada kelompok lain. Meskipun mereka adalah
Polity Press.
kelompok yang dapat diandalkan dalam konteks
---------. 1991. Modernity and Self Identity: Self and
penyebarluasan praktik sosial melaut dan kebu- Society in the Late Modern Age. Stanford CA:
dayaan maritim jangan sampai memunculkan Stanford University Press.
kesan bahwa pemerintah hanya memperhatikan Guillot, Claude. 2008. Banten, Sejarah dan Peradaban
kelompok mereka saja. Pemerintah daerah perlu Abad X–XVII. KPG-Forum Jakarta Paris-Pusat
menyusun skala prioritas pembangunan yang Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasi-
diketahui oleh seluruh kelompok. Dari perspe- onal. Jakarta.
ktif ekonomi masyarakat, praktik sosial melaut Hamid, Abd Rahman. 2013. Sejarah Maritim Indone-
dapat diperuntukkan, baik bagi mereka yang sia. Yogyakarta: Ombak.
merasa pendapatannya terbatas karena hanya Lapian. Adrian B. 2008. Pelayaran dan Perniagaan
mengandalkan pertanian di sawah maupun kebun, Nusantara Abad ke-16 dan 17. Jakarta: Komu-
nitas Bambu.
maupun bagi mereka yang memiliki kelebihan
---------. 2009. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut:
pendapatan untuk kemudian menginvestasikan
Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX.
sebagian modalnya ke laut. Kesempatan seperti Jakarta: Komunitas Bambu.
ini harus dibuka seluas-luasnya dengan tetap

Amarulla Octavian dan Bayu A. Yulianto | Degradasi Kebudayaan Maritim: ... | 175
Lombard, Denys A. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya Dirhamsyah. 2007. Analysis of Institutional Arrange-
III–Warisan Kerajaan Konsentris. Jakarta: ments Relevant to Coral Reef Management in
Gramedia Pustaka Utama Indonesia. Research Centre for Oceanography,
Malna, Afrizal. 2004. Lubang dari Separuh Langit. Indonesian Institute of Sciences, May–June
AKYPress. Akademi Kebudayaan Yogyakarta. 2007.
Ritzer, George. Douglas, J. Goodman. 2003. Teori Ebbin, Syma A. 2004. The Anatomy of Conflict and
Sosiologi Modern, Edisi ke-6. Jakarta: Prenada The Politics of Identity in Two Cooperative
Media. Salmon Management Regime. Policy Sciences;
Mar 2004; 37.
Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun
Niaga 1450–1680: Jaringan Perdagangan Evans, Hans Dieter dan Sezali, Darit. 2011. Malaysian
Global Jilid 2. Jakarta: Yayasan Obor. Maritime Potential and The Straits of Malacca.
Annual of Marine Sociology, issue: XX/2011.
Untoro, Heriyanti O. 2006. Kebesaran dan Tragedi
Polish Academy of Sciences-The Gdansk
Kota Banten. Jakarta: Yayasan Kota Kita.
Branch Commission of Marine Sociology.
Wolters, O.W. 2011. Kemaharajaan Maritim Sriwi-
jaya di Perniagaan Dunia, Abad III–Abad IV.
Jakarta: Komunitas Bambu. Koran Cetak
Worsley, P. S., Supomo. M. Fletcher. T.H. Hunter. Dahana, Radhar P. 2011. Intoleran Pada Intoleransi.
2014. Kakawin Sumanasantaka: Mati Karena Kompas Cetak, 12 Februari 2011.
Bunga Sumanasa, Karya Mpu Monaguna. Jakarta: ---------. 2011. Manusia Indonesia Maritim. Kompas
Yayasan Obor Indonesia. Cetak, 7 Desember 2011.
---------. 2012. Budaya Demokrasi Kita. Kompas
Jurnal Cetak, 9 April 2012.
Bartlomiejski, Robert. 2011. Fisheries Local Action ---------. 2013. Jalesveva Jayamahe. Kompas Cetak,
Groups: A New Theme for Researching Maritime 7 Mei 2013.
Communities, Annuals of Marine Sociology
(2011), Vol. XX, Polish Academy of Science- Makalah
The Gdansk Branch Commission of Marine
Kepala Staf TNI Angkatan Laut. 2014. Strategi TNI
Sociology.
AL dalam Pengamanan Pulau Terluar di Pulau
Cameron, Clark. 1986. Marine Sociology : The Socio- Dana, Makalah Resmi KASAL dalam Seminar
logy of Marine Agriculture. The American Nasional: Ekspedisi Batas Negara Uni Konser-
Behavioral Scientist (pre 1986), Mar 1961 vasi Fauna, IPB, Bogor.

176 | Masyarakat Indonesia, Vol. 40 (2), Desember 2014