Anda di halaman 1dari 9

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

OLEH:
NI PUTU ASTINI (1713031004)/VA

JURUSAN KIMIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2019
PERCOBAAN III
KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU
I. Tujuan
1. Menentukan kelarutan zat pada berbagai suhu.
2. Menentukan kalor pelarutan diferensial.
II. Dasar Teori
Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai
membentuk larutan jenuh. Adapun cara menentukan kelarutan suatu zat ialah dengan
mengambil sejumlah tertentu pelarut murni, misalnya 1 liter. Kemudian memperkirakan
jumlahzat yang dapat membentuk larutan lewat jenuh, yang ditandai dengan masih
terdapatnya zat padat yang tidak larut. Setelah dikocok ataupun diaduk akan terjadi
kesetimbangan antara zat yang larut dengan zat yang tidak larut.
Suatu larutan jenuh merupakan keseimbangan dinamis. Kesetimbangan tersebut akan
dapat bergeser bila suhu dinaikkan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan
bertambah bilas uhu dinaikkan, karena umumnya proses pelarutan bersifat endotermik.
Pengaruh kenaikkan suhu pada kelarutan zat berbeda satu dengan yang lainnya.
Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut, konstanta kesetimbangan antara padatan dan
larutan jenuh dapat dinyatakan sebagai
G2* = G2 *o + RT ln α2*
Dimana G2*oadalah energy bebas standar, a2 adalah aktifitas solute dalam
kelarutandan a2 * adalah aktivitas pada solute murni.
G2* = G2 *o + RT ln α2*
Dalam larutan jenuh terjadi keseimbangan antara molekul-molekul zat yang larut dan
tidak larut. Keseimbangan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
A (s) A (l)
A(s) adalah molekul zat tidaklarut, dan A(l) adalah molekul zat terlarut. Tetapan
keseimbangan proses pelarutan tersebut adalah sebagai berikut.
az az
K o
   m ……………………………………………………………… (1)
az 1
az = keaktifan zat yang terlarut
azo = keaktifan zat yang tidak larut (bernilai 1 untuk zat padat dalam keadaan standar)
 = koefisien keaktifan zat yang terlarut
m = kemolalan zat yang terlarut (karena larutan jenuh sering disebut kelarutan)
hubungan tetapan keseimbangan suatu proses dengan suhu diberikan oleh isobar reaksi
Van’T Hoff sebagai berikut.

  ln K  H o
 T   ……………………………………………………………………(2)
p RT 2

Ho = perubahan entalpi proses


R = tetapan gas ideal
Persamaan (1) dan (2) memberikan:
  ln m  H DS
 T   ……………….…………………………………………… (3)
p RT 2

HDS= kalor pelarutan diferensial pada konsentrasi jenuh.


Selanjutnya persamaan 3, dapat diuraikan menjadi:
 ln m  ln m H DS
x 
 ln m T RT 2
  ln    ln m H DS
  ln m  1 T  RT 2 ………………………………………………………….(4)

 ln 
dapat diabaikan sehingga persamaan (4) dapat dituliskan menjadi:
 ln m
d ln m H D S d log m H DS
 2
atau 
dT RT d (1 / T ) 2,303R
Dengan demikian HDS dapat ditentukan dari arah garis singgung (slope) pada kurva
log m terhadap 1/T. Apabila HDS tidak tergantung pada suhu, makagrafik log m
terhadap 1/T akan linear. Integgrasi persamaan (5) antara suhu T1dan T2 memberikan:
m(T2 ) H DS T2  T1
log  x …………………………………………………(6)
m(T1 ) 2,303R T2T1

Panas pelarutan diferensial dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:


d ln ms  (H ds)m
  ms
1 R
d 
T 
Dengan menggunakan anggapan tersebut, harga ∆HDS dapat dihitung dari slope
antara ln ms terhadap 1/T. Sedangkan sebagian perbandingan kita memperoleh nilai
kelarutan dari literatur Kirk Othmer 3 edition dimana pada temperatur 0–60oC kelarutan
asam oksalat dapat ditulis sebagai fungsi temperature sebagai berikut.
S  3,42  0,168t  0,0048t 2
Dari persamaan ini terlihat bahwa harga kelarutan asam oksalat akan semakin besar
seiring dengan kenaikan temperature larutan. Diferensial dari larutan asam oksalat pada
suhu-suhu tersebut digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh suhu pada
penentuan kelarutan dan panas pelarutan diferensial dari larutan asam oksalat jenuh
tersebut.

III. Alat dan Bahan


Tabel 1. Alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Gelas kimia 1000 mL 1 buah
2. Gelas kimia 500 mL 1 buah
3. Batang pengaduk lingkar - 1 buah
4. Termometer 100oC 1 buah
5. Pipet volume 10 mL 1 buah
6. Gelas ukur 10 mL 1 buah
7. Gelas kimia 100 mL 4 buah
8. Labu Erlenmeyer 250 mL 1 buah
9. Labu ukur 100 mL 1 buah
10. Labu ukur 50 mL 1 buah
11. Spatula - 1 buah
12. Pemanas listrik - 1 buah

Tabel 2. Bahan
No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Kristal H2C2O4.2H2O - Secukupnya
2. Larutan NaOH 1M 50 mL
3. Aquades - 100 mL
4. Es balok - Secukupnya
5. Indikator metil merah - Secukupnya

IV. Prosedur Praktikum

Gambar 1

Lengkapi tabung A dengan batang pengaduk lingkar


dan termometer seperti pada Gambar 1

Masukkan air kira-kira sepertiga dari sisi tabung A (50


mL) dan panaskan sampai suhu kira-kira 60oC.
Larutkan kristal H2C2O4.2H2O ke dalam tabung
tersebut hingga larutan menjadi jenuh yang ditandai
sampai zat tersebut tidak larut lagi.

Masukkan tabung yang berisi larutan jenuh


H2C2O4.2H2O (tabung A) ke dalam tabung selubung (B)
yang ukurannya lebih besar. Kemudian masukkan
tabung B ke dalam beaker glass yang berisi air pada
suhu kamar
Aduk terus menerus larutan di tabung (A). Jika suhu
mencapai 40oC, pipetlah 10 mL larutan tersebut
masukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan encerkan
dengan aquades hingga tanda batas

Lakukanlah pengambilan dengan cara yang sama pada


suhu 30oC, 20oC, dan 10oC. Untuk mencapai suhu 20oC
dan 10oC masukkan es pada gelas beaker yang berisi air

Titrasi keempat larutan tersebut dengan larutan NaOH


dengan menggunakan metil merah sebagai indikator

V. Tabel Pengamatan
 Tabel pengamatan pada saat titrasi pertama (pengambilan larutan pada suhu
40oC)
Volume H2C2O4 Volume NaOH
10 mL
10 mL
10 mL
Rata-rata

 Tabel pengamatan ada saat titrasi kedua (pengambilan larutan pada suhu 30oC)
Volume H2C2O4 Volume NaOH
10 mL
10 mL
10 mL
Rata-rata

 Tabel pengamatan pada saat titrasi ketiga (pengambilan larutan pada suhu 20oC)
Volume H2C2O4 Volume NaOH
10 mL
10 mL
10 mL
Rata-rata
 Tabel pengamatan pada saat titrasi keempat (pengambilan larutan pada suhu
10oC)
Volume H2C2O4 Volume NaOH
10 mL
10 mL
10 mL
Rata-rata

VI. Analisis Data


1. Pengambilan larutan pada suhu 40°C
a. Molaritas Larutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
Vasam oksalat. Masam oksalat = VNaOH. MNaOH
b. Konsentrasi awal Larutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
V1. M1 = V2. M2
c. Kelarutan Kristal H2C2O4.2H2O
𝑛 = 𝑀𝑜𝑙𝑎𝑟 × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 𝑛 × 𝑀𝑟
Maka kelarutan dalam gr/L adalah:
𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑆=
𝐿
Jadi, kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 40oC adalah ..........gram/L. Jika
kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 40oC diubah dalam bentuk molalitas,
maka dapat dihitung dengan cara berikut.
ρ air = 1 gr/mL
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 = 𝜌 × 𝑉
Maka konsentrasi larutan dalam molal:
𝑚𝑜𝑙
𝑚=
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
2. Pengambilan larutan pada suhu 30°C
a. Molaritas Larutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
Vasam oksalat. Masam oksalat = VNaOH. MNaOH
b. KonsentrasiawalLarutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
V1. M1 = V2. M2
c. Kelarutan Kristal H2C2O4.2H2O
𝑛 = 𝑀𝑜𝑙𝑎𝑟 × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 𝑛 × 𝑀𝑟
Maka kelarutan dalam gr/L adalah:
𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑆=
𝐿
Jadi, kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 30oC adalah ...... gram/L. Jika
kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 30oC diubah dalam bentuk molalitas,
maka dapat dihitung dengan cara berikut.
ρ air = 1 gr/mL
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 = 𝜌 × 𝑉
Maka konsentrasi larutan dalam molal:
𝑚𝑜𝑙
𝑚=
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
3. Pengambilan larutan pada suhu 20°C
a. Molaritas Larutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
Vasam oksalat. Masam oksalat = VNaOH. MNaOH
b. KonsentrasiawalLarutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
V1. M1 = V2. M2
c. Kelarutan Kristal H2C2O4.2H2O
𝑛 = 𝑀𝑜𝑙𝑎𝑟 × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 𝑛 × 𝑀𝑟
Maka kelarutan dalam gr/L adalah:
𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑆=
𝐿
Jadi, kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 20oC adalah ........ gram/L. Jika
kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 20oC diubah dalam bentuk molalitas,
maka dapat dihitung dengan cara berikut.
ρ air = 1 gr/mL
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 = 𝜌 × 𝑉
Maka konsentrasi larutan dalam molal:
𝑚𝑜𝑙
𝑚=
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
4. Pengambilan larutan pada suhu 10°C
a. Molaritas Larutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
Vasam oksalat. Masam oksalat = VNaOH. MNaOH
b. KonsentrasiawalLarutan H2C2O4.2H2O saat Titrasi
V1. M1 = V2. M2
c. Kelarutan Kristal H2C2O4.2H2O
𝑛 = 𝑀𝑜𝑙𝑎𝑟 × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 𝑛 × 𝑀𝑟
Maka kelarutan dalam gr/L adalah:
𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑆=
𝐿
Jadi, kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 10oC adalah ..... gram/L. Jika
kelarutan kristal H2C2O4.2H2O pada suhu 10oC diubah dalam bentuk molalitas,
maka dapat dihitung dengan cara berikut.
ρ air = 1 gr/mL
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 = 𝜌 × 𝑉
Maka konsentrasi larutan dalam molal:
𝑚𝑜𝑙
𝑚=
𝑘𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Salah satu cara menentukan kalor pelarutan diferensial (


H DS ) kristal H C O .2H O
2 2 4 2

adalah dengan membuat grafik hubungan log m dan 1/T. Adapun datanya adalah sebagai berikut.
Tabel 8. Data log m dan 1/T
No. Suhu (K) Molalitas (mol/kg) log m 1/T
1. 313
2. 303
3. 293
4. 283
Dari data di atas dapat dibuat grafik yang menghubungkan antara 1/T dengan log m.