Anda di halaman 1dari 9

BLOK SEDIAAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

TUGAS TABLET

NAMA : DEWI WIJAYANTI

NIM : 15120200097

DOSEN : DR. MIRAWATI, S.Si., M.Si., Apt

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM STUDI APOTEKER

MAKASSAR

2020
Soal
1. Suatu zat yang berbentuk serbuk atau hablur, kurang stabil dengan
adanya lembab dan suhu tinggi. Jika zat teresebut akan dibuat
menjadi tablet maka:
a. Metode apakah yang sebaiknya digunakan,
b. Bahan tambahkan apa yang sebaiknya di gunakan, tuliskan
nama tambahan dan kosentrasi
c. Tuliskan tahapan proses pengerjaannya, beserta dengan IPCnya
2. Buat perhitungan bahan untuk formula tablet dibawah ini:
Buat 250 tablet TIap tablet @120 mg mengandung:
Fase dalam
Salbutamol 2 mg
Gelatin 10% 1%
Amilum kering 10%
Laktosa 41,6 %
Dikalsium fosfat 41,4%
Fase luar
Amilum kering 5%
Mg Stearat 1%
Talk 1%

Jawab
1. a. Metode apakah yang sebaiknya digunakan
Jawab:
Metode yang digunakan yaitu Metode Granulasi Kering
Granulasi kering (slugging) ini adalah memproses partikel
bahan aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan
kering menjadi massa padat. Setelah menjadi masa padat,
selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang
berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Pembuatan
tablet dengan metoda granulasi kering ini dilakukan dengan
menggunakan mesin khusus pembuat bongkahan (slugging),
yaitu mesin berat pembuat tablet besar dengan lubang, kempa,
dan pons besar yang biasanya berdiameter 2,5 cm atau lebih.
Selanjutnya, bongkahan tersebut dihancurkan dengan mesin
granulator untuk memperoleh karakteristik granul yang
dikehendaki. (Tungadi Robert, 2018)
Digunakan dalam granulasi kering Jenis eksipien yang
digunakan untuk membuat tablet (dan alasan penggunaannya)
menggunakan metode granulasi kering mirip dengan yang
dijelaskan untuk granulasi basah. Biasanya, eksipien berikut
diperlukan: pengencer / pengisi, misalnya: laktosa anhidrat atau
laktosa monohidrat pati dibasat kalsium disfat fosfat, misalnya:
pati PKS natrium pati glikolat croscarmellose sodium
crospovidone. Pelumas, misalnya: stearat (magnesium stearat,
asam stearat) ester asam lemak gliseril (gliseril berperilaku,
gliseril palmitostearat). (Tungadi Robert, 2018).
Jenis eksipien yang digunakan untuk membuat tablet (dan
alasan penggunaannya) menggunakan metode granulasi kering
mirip dengan yang dijelaskan untuk granulasi basah. Biasanya,
eksipien berikut diperlukan: pengencer / pengisi, misalnya: laktosa
anhidrat atau laktosa monohidrat pati dibasat kalsium disfat fosfat,
misalnya: pati PKS natrium pati glikolat croscarmellose sodium
crospovidone. Pelumas, misalnya: stearat (magnesium stearat,
asam stearat) ester asam lemak gliseril (gliseril berperilaku, gliseril
palmitostearat)
b. Bahan tambahkan apa yang sebaiknya di gunakan, tuliskan
nama tambahan dan kosentrasi
Jawab:
Bahan tambahan yang digunakan yaitu:
• Pengisi (Avicel 20%)
• Adsorben (Aerosil 5%)
• Pengikat (PVP 5%)
• Penghancur (Starch 2-10%)
• Glidan (Talk 5%)
• Lubrican (Magnesium stearate 1%)
c. Tuliskan tahapan proses pengerjaannya, beserta dengan IPCnya
Jawab:
Alur pembuatan tablet metoda granulasi kering
Secara prosedur pembuatan tablet menggunakan metoda
granulasi kering dapat dijelaskan melalui alur atau tahap-tahapan
berikut ini, yaitu:
1. Bahan aktif dan eksipien dihaluskan terlebih dahulu.
2. Bahan aktif dan semua eksipien (pengisi, pengikat kering,
sebagian penghancur, lubrikan, dan glidan) sampai lebih
kurang 50% dari jumlah yang ada dalam formula.
3. Campuran serbuk kemudian dikempa dengan mesin besar
khusus dan kuat yang disebut “mesin bongkah” (slugging
machine) yang menghasilkan bongkahan (slug) atau dengan
mesin chilsonator yang menghasilkan pita/lempeng yang
rapuh.
4. Bongkahan atau pita/lempeng kemudian diayak melalui
pengayak dengan mesh 18 – 20.
5. Serbuk hasil ayakan dilakukan slugging lagi dan di ayak
dengan ayakan yang sama.
6. Granul yang dihasilkan dicampurkan dengan fase luar yaitu
sisa lubrikan, penghancur, dan glidan lalu siap dicetak menjadi
tablet.
Sebagai informasi, bahwa penggunaan metode granulasi kering
ini dilakukan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:
a. Kandungan bahan aktif dalam tablet tinggi.
b. Bahan aktif susah mengalir.
c. Bahan aktif sensitif terhadap panas dan lembab.
IPC (Menurut Arief,2004).
1. Kontrol Kualitas
Untuk memperoleh tablet yang baik dan bermutu maka
sebelum, selama dan setelah proses pentablettan harus
dilakukan pemeriksaan (in process control/IPC), meliputi
antara lain : (Arief,2004).
2. Pemeriksaan Sebelum tabletting :
a. Kualitas formulasi bahan yang dipakai
b. Homogenitas campuran obat dengan bahan tambahan
setelah proses pencampuran
c. Kualitas granul : fluiditas, moisture content (MC), distribusi
ukuran partikel dan kompressibilitas
3. Pemeriksaan Selama dan setelah tabletting :
a. Penampilan Umum (organoleptis)
Pengukuran sejumlah data teknis tablet, seperti ukuran
(panjang, lebar, diameter), Bentuk, warna, bentuk
permukaan, konsistensi dan cacat fisik, dan tanda-tanda
pengenal lainnya (logo, break line, dsb), bau, ciri-ciri khas
lainnya
b. Keseragaman kadar zat aktif : Dilakukan pemeriksaan
kadar zat aktif sesuai dengan monografi masingmasing
bahan
Keragaman Bobot
Dilakukan pemeriksaan 20 tablet, dihitung rata-rata dan
standard deviasi relatif (RSD), Syarat :
Tablet dengan bobot < 130 mg, max RSD 10 %
Tablet dengan bobot 130 – 324 mg, max RSD 7,5 %
Tablet dengan bobot > 324 mg, max RSD 5%
c. Kekerasan tablet (Hardness)
Diperiksa dengan alat Hardness Tester, yang prinsipnya
mengatur tekanan yang dibutuhkan untuk memecah satu
tablet yang diletakkan dalam alat tersebut Gunanya untuk
mengetahui ketahanan tablet bila mengalami benturan
selama proses pengemasan dan transportasi. Tablet yang
baik kekerasan : min 4 kg
d. Kerapuhan Tablet (friability)
Diperiksa dengan alat Friabilator Tester, prinsipnya dengan
mengukur presentase susut berat tablet setelah diputar
dalam alat tersebut selama 4 menit (rpm 25) atau 100
putaran.
e. Waktu Hancur (disintegration time)
Ditentukan dengan alat Disintegration tester, prinsipnya
sejumlah tablet (6 tablet) dimasukkan dalam air atau
medium lain dengan suhu 37oC, dinaikturunkan, diukur
waktunya sampai semua tablet hancur. Syarat : jika tidak
disebutkan lain , tidak boleh lebih dari 15 menit.
f. Kecepatan Kelarutan (dissolution)
Diperiksa dengan alat Dissolution tester, pada prinsipnya
mengukur laju pelepasan obat pada media air atau media
lain yang sesuai. Digunakan sebagai dasar menghuji
kemanjuran suatu obat secara in vitro (bioavaibilitas).
Terdapat 2 metode/alat pengujian disolusi obat.
1. Alat 1
Tablet diletakkan dalam keranjang saringan kawat kecil
yg diikatkan pada bagian bawah suatu tongkat yang
dihubungkan pada sebuah motor yg kecepatannya
dapat diatur. Keranjang dicelupkan ke dalam medium
disolusi, suhu labu dipertahankan 37 oC + 0,5oC,
kemudian cairan sampel diambil pada selang waktu
tertentu untuk menentukan jumlah bahan obat yang
terlarut
2. Alat 2
Sama dengan alat 1, hanya keranjangnya diganti
dengan pedal/dayung (paddle) yang berbentuk pisau
dan tongkat sebagai elemen pengaduk.
2. Perhitungan
Jawab:
Dibuat untuk 250 tablet :
Fasa dalam :
Salbutamol 2 mg = 2 mg/tab x 250 tab
= 500 mg = 0,5 gram
Gelatin 10% 1% = 1/100 x 120 mg/tab
= 1,2 mg/tab x 250 tab
= 300 mg = 0,3 gram
Amilum Kering 10% = 10/100 x 120 mg/tab
= 12 mg/tab x 250 tab
= 3000 mg = 3 gram
Dikalsium Fosfat 41,4% = 41,4/100 x 120 mg/tab
= 49,68 mg/tab x 250 tab
= 12.420 mg = 12,42 gram
Laktosa ad 93 % = 93/100 x 120 mg/tab
= 111,6 mg/tab x 250 tab
= 27900 mg  27,9 g
= 27,9 g - (0,5 g + 0,3 g + 3 g + 12,42 g)
= 11,68 g
Fase Luar :
Amilum Kering 5 % = 5/100 x 120 mg/tab
= 6 mg/tab x 250 tab
= 1500 mg = 1,5 gram
Mg Stearat 1 % = 1/100 x 120 mg/tab
= 1,2 mg/tab x 250 tab
= 300 mg = 0,3 gram
Talk 1% = 1/100 x 120 mg/tab
= 1,2 mg/tab x 250 tab
= 300 mg = 0,3 gram
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mochmmad T.Q. 2004. Pengantar Metodelogi Penelitian Untuk Ilmu


Kesehatan. Klaten Selatan: CSGF (The Community of Self Help Group
Forum)
Tungadi, Robert 2018. Teknologi sediaan solida. Jakarta: wade group