Anda di halaman 1dari 7
130 IMUNISASI DEWASA Erwanto Budi Winulyo PENDAHULUAN Imunisasi dewasa pada saat ini masih kurang mendapatkan perhatian dibandingkan dengan imunisasi anak, walaupun kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi cukup tinggi pada orang dewasa. Bukti kebechasilan imunisasi dalam mencegah penularan beribagai penyakit telah lama ciakui Pada tahun 1980 Badan Kesehatan Dunia WHO menyatakan penyakit cacar telah dllenyapkan dari muka bumi, Pada tahun 2000 sebenarnya WHO merencanakan eradikasi polio namun sampai 2005 rmasih banyak negara yang melaporkan adanya kasus polio termasuk Indonesia. Sekitar 50.000 hingga 70.000 orang pada usia dewasa di Amerika, dlaporkan meninggal karena infeksi pneumokok, influenza atau hepatitis B, Sebagai pembanding pada usia anak angka kematian berkisar antar 1000 orang karena peryakit - penyakit yang ‘mendapat program imunisasi Setiap tahun diperkirakan 1 milyar wisatawan melakukan perjalanan melalui udara dan lebih dari $0 juta orang melakukan perjalanan ke negara berkembang, 20-70% wisatawan mempunyai masalah kesehatan dalam perjalanan. Angka kematian| akibat penyakit menular menduduki peringkat ketiga setelah penyakit kardiovaskular dan kecelakaan, Oleh karena itu pemberian imunisasi harus mendapat perhatian| untuk pencegahan penularan penyakit infeksi termasuk pada orang dewasa, Pada tahun 2003 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah rmenghasilkan konsensus imunisasi pada orang dewasa, sehingga diharapkan imunisasi pada orang dewasa di Indonesia akan lebih digalakkan.'** RESPONS IMUN PADA VAKSINASI Komponen penting dalam menimbulkan respons imun 951 setelah pemberian vaksin adalah sel limfosit (Limfosit B ddan), APC (Antigen Presenting Cel) misalnya sel dendritk, dan makrofag. Respons imun yang ditimbulkan, dapat dibagi menjadi respons humoral dan selular melalui mekanisme berikut 222" Respons Humoral Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit 8. Reseptar imunoglobulin pada limfosit 8 berfungsi untuk mengenal dan berinteraksi dengan antigen. Setelsh antigen mengalami endositosis ke dalam sel dan berinteraksi dengan limfosit T maka akan terjadi aktivasi sel B yang berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mempfoduksi antibodi (IgG, ig dan Ig), dan akan bbechubungan dengan reseptor pada permukaan sel Respons Selular Respons selulardilskukan terutama oleh limfositT yang berfungsi sebagai sel antera dan diaktifkan melalui pelepasan sitokin Sel limfosit T mempunyai reseptor yang berbeda dengan reseptor pada sel limfosit B. Sel T mempunyai 2 kelompok molekul besar yaitu Cd dan CO8+ yang berfungs’ sebagai molekul aksesor pada reseptor sel T Sel CD4+ berperan membantu sel 8 membentuk antibodi sehingga disebut jugs sebagai Cet! T helper (Th), Sebaliknya sel CD8+ berfungsi untuk mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi, disebut sebagai Cytotoxic T lymphocytes (CTLs) \Vaksin berperan penting mengincluksi memoriimunoloais pada sel, sel B dan APC. Perkembangan memori pada sel T belum banyak diketahui. Satu penanda selular, isoform molukel CD45+ meningkat pada memori sel T. Salah satu hal yang penting pada memori sel T adalah antigen yang diperlukan untuk menstimulasi respons imun kedua dan 952 IMUNISASt seterusnya lebih sedikitdibandingkan kebutuhan antigen Untuk merangsang respons awal. Ajuvan merupakan bahan yang diperlukan sebagai tambahan pelarut antigen atau perangsang produksi antibodi. Hingga saat ini aluminium hidraksida merupakan bbahan yang paling sering digunakan sebagai bahan ajuvan vvaksin misanya pada vaksin difteri dan tetanus toksoid Bahan-bahan lain seperti liposom, sitokin, ISCOM (immune stimulating complexes) saat ini masih dalam penelitian untuk digunakan sebagai ajuvan, JENIS VAKSIN Beberapa jenis vaksin dibuat berdasarkan proses produksinya antara lain @ Vaksin hidup dilemahkan (Live attenuatated vaccines). Vaksin jenis ini memerlukan replikasi ‘organismenya (terutama virus) pada penerima vaksin untuk meningkatkan rangsangan antigen. Prases melemahkan antigen tersebut dilakukan melalui pembiakan sel, pertumbuhan jaringan embrionik pada suhu rendah atau pengurangan gen patogen secara melsis sol yang teinfeksi virus mensekresi IL-2, IFN y, TNF a, B S memediasi hipersensitivitas tipe lambat (our) sekresi IL-2, IL-3, IFNy, TNF a. B Membants at Gambar 1. Presentasi antigen dan aktivas sel T Antigen polimeri Sel \ plasma eS Gambar 2. Aktivasi sel B IMUNISAS! DEWASA 953, selektif. Biasanya vaksin ini memberikan imunitas jangka panjang. 'b,Vaksin dimatikan (Killed Vaccine/tnactivated Vaccine). Vaksin ini mengandung organisme yang tidak aktif, setelah melalui proses pemanasan atau penambahan bahan kimiawi (misanya aseton, formalin timerosal, fencl). Biasanya pemberian vaksin ini perlu beberapa "*"* KEAMANAN Selain efektivtas, perlujuga diperhatikan keamanan dalam menggunaken vaksin. Persoalan yang dapat timbul pada penggunaan vaksin adalah? : 1. Vaksin yang di lemahkan = Proses untuk melemahkan bakter/virus kurang ‘mencukupi = Mutasi ke bentuk wild type. ~ Kontaminasi = Penerimaan vaksin imunokopromais 2. Vaksin yang memakai bekteri/vius yang dimatikan = Kontaminasi = Reaksi alergi atau autoimun roses mematikan bakteri/virus kurang memadai 3. Vaksin Plasmid DNA: = Dapat menimbulkan toleransi atau autoimun KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI Reaksi lokal maupun sistemik yang tidak dlinginkan dapat tetjadi pasca imunisasi, namun sebagian besar bersifat ringan dan bisa hilang sendir. Reaksi yang berat dan tidak terduga bisa terjadi meskipun jarang. Umumnya reaksi tetjadi segera setelah dilakukan vaksinasi, namun bisa juga reaksi tersebut muncul kemudian, Pasien dan keluargs harus diberiinformasi mengenai risiko dan keuntungan vaksinasi,serta tentunya mengenai penyakit yang akan dicegah, Perlu dicatat di kartu imunisasi bahwa hal ini telah dilaksanakan. Untuk kepentingan operasional maka Komnas PP KIPI (Komite "Nasional Pengurus Pusat Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) menentukan apakah kejadian ikutan pasca imunisasi merupakan reaksi simpang yang dikenal sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi(KIPI) atau adverse events following imunization (AEF). Secara definisi KIP| adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa efek samping maupun efek vaksin, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalshan program, koinsidens, reaksi suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan, Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 24 hari (artrtis kronik pasce vaksinasi ‘ubels), atau bahkan sampai 6 bulan (infeksi virus campak vvaccine-sirain pads pasien imunodefsiensi pasca vaksinasi ‘campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio IMUNISASI DEWASA 955 vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio) ada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat ‘merupakan reaksi samping (adverse events), atau kejadian Jain yang bukan tetjadi akibat efek langsung vaksin, Reaksi simpang vaksin antara lain bisa berupa efek farmakologi, cefek samping (side-effects), interaksi obat intolerans, reaksi Idiosinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan dengen yang lsinnya. Efek farmakologis, cefek samping, serta reaksi idlosinkrasi umumnya terjadi karena vaksin sendiri, dimana reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning) atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin. Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan Pasien dan keluarganya juga harus diberitahu agar melaporkan ke tempat imunisasi diberiken bila terjadi reaksi pasca imunisasi yang serius. Petugas imunisasi hharus melaporkan kejadian pasca imunisasi yang serius ini ke instansi yang berwenang di daerah tersebut dengan mengisi formulir KIPI yang telah tersedia.” STABILITAS \Vaksin pada umumnya stabil selama 1 tahun pada suhu 4 °C sedangkan bila disimpan pada suhu 37 °C hanya dapat bertahan 2 sampai 3 hari.** VAKSINASI MASSAL DiAmerika Serikat; campak,rubela dan hepatitisB dianggap sebagai penyakit yang mungkin dapat dieradikasi, Untuk dapat melaksanakan eradikasi diperlukan upaya ppencegahan penularan termasuk imunisasi. Agarimunisasi dapat memberikan dampak besar tethadap pemutusan rantai penularan penyakit, diperlukan vaksinasi masal yang dapat menjangkau sebagian besar masyarakat. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pencapaian Healthy People 2000 dalam layanian imunisasi Untuk orang dewasa berupa vaksinasi influenza dan pneumokok untuk usia 18 sampai 64 tahun masih di bawah sasaran (kurang dari 60%). Namun demikian selama tahun 1989 sampai 1993 proporsi penduduk Amerika Serikat yang berusia di atas 65 tahun yang menjalani vvaksinasi influenza meningkat dari 33% menjadi 52% sedangkan vaksinasi pneumokok meningkat dari 15% ‘menjadi 2836, sedangkan untuk kelompok kulit putih non Hispanik sasaran vaksinasi untuk influenza berhasil dicapai pada tahun 1997. Sasaran pencapaian vaksinasi pada Healthy People 2010 sebesar 90%. Upaya untuk ‘meningkatkan jumlah orang yang dapat divaksinasi antara lain dengan cara : 1), Meningkatkan kepedulian petugas kesehatan; 2). Meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan dalam menyediakan vaksin; 3). Menyediakan ‘vaksin yang murah dan mudah dijangkau; 4). Menyediakan pendangan baik oleh pernerintah maupun asuransi (Medicare membiayai vaksin influenza dan pneumokok sejak 1993); 5). Menyelenggarakan acara khusus seper Pokan Pedull imunisasi Dewasa (di Amerika Serikat setiap bulan Oktober); 6). Memantau kinerja program imunisasi nnasional; 7). Meningkatkan penelitian dalam bidang pelaksanaan vaksinasi Dokter mempunyai peran penting dalam memberikan informasi kepada pasien tentang manfaat imunisasi. Sekitar sepertiga responden yang termasuk indikasi untuk vaksinasi ternyata tidak mendapat anjuran imunisasi, ‘walaupun telah mengunjungi dokter lebih dar 5 kali dalam setahun terakhir, Padahal anjuran dokter untuk menjalat imunisasi mempunyai pengeruh kuat dalam pengambilan keputusan pasien untuk menjalani vaksinasi™"* JADWAL IMUNISASI Pedoman untuk jadwal imunisasi dapat mengacu pada keterangan yang terdapat dalam tabel 2." ‘abel 2. Rekomendasi Jadwal Imunisasi Dewasa Vaksin/Usia 19-44 th 45-49 thn 50-64thn 65 thn Tetanus Penguat setiap 10 thn. difteria. MMR 1-2 dosis Lahir setelah 1950 Influenza Tahunan bagi yang Setiap tahun berisiko dan meng- inginkan imunites Pneumokok 1-2:dosis pada individu 1-2 dosis berisiko Hepatitis A 2 dosis untuk individu yang berisikoterinfeksi Hepatitis A atau yang menginginkan imunitas 3 dosis bagi yang berisiko Hepatitis 8 (81) Meningokok 1 Atau lebih untuk mereka yang berisiko Varisela 2 seri untuk kelompok tertentu Penjelasan Rekomendasi Jadwal Imunisasi Dewasa ‘Tetanus Toksoid (TD). Semwa orang dewasa mendapatkan vvaksinasilengkap 3 dosis seri primer dari ifteri dan toksoid 956 Imuntsast ‘tetanus, dengan 2 dosis diberikan paling tidak jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun. Jenis vaksin —: Toksoid Ffektivitas 90% Rute suntikan —; Intramuskular Measles, Mumps, Rubella (MMR). Orang usia dewasa yang lahir sebelum tahun 1957 dianggap telah mendapat imunitas secara alami Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau sesudehnya perlu mendapatkan 1 dosis vaksin MMR, Beberapa kelompok orang dewasa yang berisiko terpapar memerlukan 2 dosis yang di berikan tidak kurang dari jarak 4 minggu. Jenis vaksin —: Vaksin hidup Efektivitas 90-95% Rute suntikan —- Subkutan Influenza. Vaksinasi Influenza diberikan setiap tahun bagi ‘orang dewasa berusia > 50 tahun, penghuni rumah jompo, ddan penghuni fasilitas-fasiitas lain (biara, asrama). Vaksin in juga diindikasikan untuk orang usia muda dengan penyakit jantung, paru-paru kronis, penyakit metabolik (diabetes), disfungsiginjal, hemoglobinopat, atau imunosupresi,juga anggota rumah tangga, perawat, dan petugas-petugas kesehatan. Vaksin ini juga dianjurkan pada jemaah haji karena risiko pajanan yang cukup tinggi Jenis Vaksin split atau sub unit Efektivitas 88-89% Rute suntikan —: Intramuskular ‘Catatan : vaksin ini dianjurkan untuk usia > $0 tahun untuk individual sedangkan untuk program usia >65 tahun, Pneumokok. Vaksin polisakarida diberikan pada orang dewasa usia »65 tahun dan mereka yang berusia <65 tahun dengan penyakit kronik (penyakit paru kronik, diabetes, alkoholik sirosis,kebocoran cairan serebrospinal, asplenia anatomik/fungsional, infeksi HIV, leukemia, limfoma Hodgkins, mieloma multiple, malignansi umum, gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik, atau individu yang mendapat kemoterapi imunosupresif. Tidak dianjurkan vaksinasi ulangan secara rutin bagi individu imunokompeten yang sebelumnya telah mendapat vvaksinasi. Walaupun demikian revaksinasi dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah >$ tahun terdapat beberapa indikasi + Divaksinasi terdahulu diberikan pada umur < 65 tahun dan sekarang sudah berusia >65 tahun + Individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pnemokok yang serius sesuai deskripsi the advisory committee ‘on Imunization Practices (ACIP) + Individu mempunyai tingkat antibodi yang cepat ‘turun Jenis vaksin _:polisakarida Efektivitas 90% Rute suntikan : intramuskular atau sub kutan Hepatitis A. diberikan dalam dua dosis dengan jarak 6 hhingga 12 bulan pada individu yang berisiko mengatami infeksi hepatitis A; misainya penyaji makanan atau mereka yang menginginkan imunitas, individu yang sering ‘melakukan perjalanan atau kerja di suatu negara yang ‘mempunyai prevalensi hepatitis A tinggi, homoseksual, pengguna narkoba, pasien penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi Hepatitis A, penelit virus Hepatitis A dan pasien dengan gangguan faktor pembekuan darah, Jenis vaksin _: antigen virus inaktif Efektifitas 94-95% Rute suntikan — : Intramuskular Hepatitis B. Kelompok individu yang mempunyai rsiko terinfeksi hepatitis B diantaranya: individu yang terpapar darah atau produk darah dalam bekerj, kien dan staf dari insttusi pendidikan cacat, pasien hemodialisis, penerima ‘onsentrat faktor VII atau IX, kawin atau kontak seksual dengan individu yang teridentifiasi HbsAg posit individu yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering djumpai, pangguna obatinjeksi homoseksual/biseksual aktif, individu heteroseksual aktf dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena penyakit menular seksual, fasitas penampungan korban narkoba, individu etnis kepulauan pasifk, atau imigran/ engungsi baru dimana endemisitas daerah asal sangat tinggi, dapat diberikan 3 dosis dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan. Bila respons imunisasi baik maka tidak perlu dlilakukan pemberian imunisasi penguat (booster Jenis vaksin ntigen virus aktit Ffektvitas 75-80% Rute suntikan —_:Intramuskular Meningokok. Vaksin polisakarida tetravalen (A/C/YWV- 135) wajib diberikan pada calon jemaah haji. Vaksin ini juga dianjurkan untuk individu defisiensi komponen faktor pembekuan darah, pasien asplenia anatornik dan fungsional, serta pelancong ke negara diana terdapat penyakit meningokok (meningitis belt di Sub Sahara Afrika). Pertimbangkan pemberian ulang setelah 3 tahun Jenis vaksin _ Polisakarida inaktif, Efektivitas 90% Rute suntikan = Sub kutan Varisela. Vaksin diberikan pada individu yang kontak dekat dengan pasien yang berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya: petugas kesehatan dan keluarga yang kontak dengan individu imunokompromais). Pertimbangkan vaksinasi bagi mereka yang pekerjaannya berisiko (misalnya guru yang mengajar anak-anak, petugas kesehatan dan residen serta staf di lingkungan institusi IMUNISAS! DEWASA 957 kesehatan), mahasiswa, penghuni serta staf rehabilitas milter, perempuan usia subur yang belum hamil, dan mereka yang sering melakukan perjalanan wisata Vaksinasiterdiri dari 2 dosis yang diberikan dengan jarsk 4-8 minggu Jenis vaksin Virus hidup dilerahkan Efektivitas 86% Rute suntikan = Sub kutan Demam tifoid. Penagunaan vaksin ini dianjurkan pada pekerjajasa boga, wisatawan yang berkunjung ke daerah tendemis. Pemberian vaksin tifoid perlu di ulang setiap 3, tahun. Jenis vaksin _: Antigen Vi inaktif Efektivitas 50 - 80% Rute suntikan Sub kutan Yellow Fever. Vaksin ini diwajibkan oleh WHO bagi wisatawen yang berkunjung ke Afrika Selatan, Pemberian Ulang dianjurkan setiap 10 tahun, Jenis vaksin _: Virus hidup dilemahkan Efektivitas tinggi Rute suntikan —: Sub kutan Japanese ensefalitis. Pemberian vaksin dianjurkan bagi wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih dari 30 hari atau akan tinggal lama di sana, terutama jika mereka relakukan aktvitas di pedesaan, Jenis vaksin _: Virus inaktif Efektivitas 31% Rute suntikan —: Sub kutan Rabies. Bukan merupakan imunisasi rutin, pemberiannya dianjurkan pada individu yang berisiko tinggi tertular (dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hewan, Pekerja laboratorium), wisatawan berkujung ke daerah tendemis yang berisiko kontak dengan hewan dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies, Jenis vaksin : Virus yang di lemahkan Ffektivitas — : 100% Rute suntikan_ : Intramuskular, Sub kutan REFERENSI ‘Ada G, Vaccines and vaccination, N engl | Med. 2001,345:1013- 3 |AdaG. The immunology of vaccination. In:PlotkinSA, Orenstein WA. editors, Vacene. rd edition, Philadelphia; WB Saunders Company; 1999, p. 28 - 71. ‘arstawidjaja KG. Imunisas, Imunologi dasar. Jakarta: Balai "Ponerbit FKUI 2009. p. 557-619. jazi. manisasi ink orang.dewass, Siang Klinik Departemen Tima Penyakit Dalam PKUI/RSUPNCM, Novernber 2000 Djauzt S. Manfaat imanisasi pada orang devasa, Imunisasi dewasa, In: Djauzi Sundar H, editor. Jakarta: Balai Penerbit KUL 2003.p. 36. Gardner P,Schatner W, Immunization of ada. Engl of Med. 1999;29:1252-8, Goodman JW. The immune responssse, In Sites DP, Terr Al, editors. Basi clinical iramunclogy. Sth ection. New Jersey: Prentice-Hall Iernational 191. p 34-44 Hyde Re. Immunization. Immunology. 3nd edition. Philadelphiet William & willing: 1995, p 137-45. Tehnson AG, Immunization. High ye immunology: Philadelphia: Lippincort William & Wilkin: 1995. p. 137-45 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakt Dalam Indonesia(PAPDD, ‘Konsensus imunisasi dewasa, Jakarta Balai penerbit FKUL; 2003, (Qureshi H, Gessner DB, Lebon Heux et al. The incidence of ‘vaccine preventable infiuenza like illness and meskzation use among Pakistan pilgrim tothe Haj in Saudi Arabia, Vaccine. 2000;18-2956-2, Ramkisson A, Jugnundan, Reactogenicity and immunogenicity ‘of a single dose ofa typhoid VI polysaccharide vaccine in ‘adolescent, Biodrags. 2001; 15 (Suppl: 2-5, Roit I Brostoff], Male B. Vaccination. Immunology. th edition, Mosby, Lonlon:1996. p18; 1-9 [Ryan ET, Kain KC, Health atviceand immunization for travelers. 1N Engl J of Med, 20008:1716-24 Sundar H. Rekomendas jadwal imunisasi pada orang dewasa dalam. Imunisasi dewasa in: Djauzi S, Sundaru H, editor. Jakarta: Balai Penerbit FKUT: 2008, p 14550. Zimmerman RK, Ahwesh ER. Vaccines for persons at high risk teaching immunization for medical education (TIME) project (attrac). | Farm Pract 20008955163, Djauzi § dk (ed), Padoman Imunisasi Dewasa. Balat Penerbit FKUL2012