Anda di halaman 1dari 3

Penelitian Tindakan

Leo Sutrisno

Ada seorang pembaca yang menyarankan agar diturunkan tulisan tentang penelitian
tindakan (Action Research). Tulisan ini menanggapi saran tersebut.

Penelitian tindakan merupakan respon kepada sifat penelitian pada umumnya yang tidak
menunjukkan keberpihakan. Penelitian pada umumnya diarahkan untuk menjawab /
menyelesaikan masalah yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti sendiri.
Bukan masalah yang dihadapi oleh subjek yang diteliti.

Misalnya, seorang peneliti sedang meneliti tentang apa keunggulan suatu metode
mengajar dalam tradisi konstruktivisme di antara metode mengajar yang lain. Boleh jadi
masalah semacam ini bukan masalah nyata yang dihadapi baik oleh guru maupun siswa.
Itu ’hanya’ diarahkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak ahli
pendidikan.

Sifat penelitian tindakan adalah keberpihakan. Biasanya, berpihak kepada yang lemah
dan teraliniasi. Selain itu, penelitian tindakan juga didasarkan pada asumsi bahwa
kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat ditemukan jika peneliti dan subjek yang
diteliti terlibat bersama-sama.

Keterlibatan bersama itu dapat diilustrasikan sebagai ’kerja bareng’ antara pilot dan
kopilot pada saat menerbangkan sebuah pesawat. Selama penerbangan, pilot bertindak
sebagai seorang yang senior dan kopilot sebagai yunior. Kopilot selalu berkonsultasi dan
meminta bimbingan. Pilot membantu dan membimbing kopilot menyelesaikan
masalahnya.

Akhir dari serangkaian penerbangan bersama, pilot membuat rekomendasi bahwa kopilot
yang bersangkutan telah mampu bertindak sebagai pilot. Tindakan pilot ini
memberdayakan kopilot sehingga pada suatu waktu mampu menerbangkan sendiri
pesawat dengan betul.

Bagi para ahli pendidikan yang akan melakukan penelitian tindakan dapat bekerja sama
dengan para guru di sekolah. Ahli pendidikan bertindak sebagai ’pilot’ dan para guru
bertindak sebagai ’kopilot’. Sebagai kopilot, para guru berkonsultasi dan minta
bimbingan dalam menyelesiakan masalah mereka kepada ’pilot’-nya, si ahli pendidikan.
Pada akhir penelitian, para guru tersebut telah terberdayakan dalam menyelesaikan
masalah mereka secara ilmiah.

Penelitian mereka ini menyiratkan keberpihakan si peneliti pada kepentingan para guru.
Keberpihakan itu ditunjukkan dalam pemilihan masalah yang diteliti. Masalah yang
diteliti adalah masalah yang dihadapi oleh para guru bukan masalah yang dipikirkan oleh
para peneliti.
Langkah pertama jika akan melakukan penelitian tindakan adalah peneliti dan subjek
yang diteliti (ko-peneliti) berkumpul bersama. Misalnya, dalam bentuk Focus Group
Discussion (FGD). Peneliti membantu ko-peneliti mengiventasrisasi masalah yang
dihadapi ko-peneliti. Dilanjutkan dengan mengurutkan masalah-masalah sesuai dengan
tingkat urgensinya untuk diselesaikan dalam bentuk penelitian. Pada tingkat ini ko-
peneliti mendapatkan pengetahuan proposisional dari ahlinya (peneliti).

Langkah kedua memilih (tetap bersama-sama) masalah yang akan diselesaikan melalui
penelitian. Diteruskan dengan membuat rencana penyelesaikan. Langkap ketiga
melaksanakan rencana penyelesaian itu. Pada tahap ini peneliti dan ko-peneliti
mendapatkan pengetahuan praktis.

Langkah keempat adalah berbagi pengalaman. Setelah selesai meng-eksekusi recana


penyelesaian, ko-peneliti dan peneliti berkumpul bersama lagi untuk berbagi pengalaman
dalam mengeksekusi rencana penyelesaian itu. Dalam tahap ini peneliti dan ko-peneliti
mendapatkan pengetahuan empiris. Orang menyebutnya tahap ini sebagai tahap reflesi.

Langkah kelima, peneliti dan ko-peneliti merevisi rencana penyelesaian berdasarkan


pengetahuan empiris yang telah diperoleh selama refleksi. Revisi rencana penyelesaian
sangat perlu dilakukan sebagai wujud kerendahan hati seorang pencari kebenaran.

Pencari kebenaran yang rendah hati mengakui bahwa apa yang dilalukan jauh dari
sempurna. Justru sebaliknya, hanya dengan kerendahan hati para pencari kebenaran dapat
bergerak mendekati kesempurnaan. Kerendahan hatinya mendorong dirinya untuk
mengakui ketidaksempurnaannya. Dengan pengakuan ketdaksempurnaannya itu ia
terdorong untuk selalu memperbaiki diri.

Seterusnya, setelah revisi rencana penyelesaian dilakukan, peneliti dan ko-peneliti


bersama-sama lagi mengeksekusi rencana, merefleksi kegiatan yang telah dilakukan,
merevisi rencana penyelesaian lagi (bila diperlukan) dan seterusnya mengulangi langkah-
langkah tersebut. Karena itu, sering dikatakan bahwa penelitian tindakan harus ada
siklusnya.

Bagi pembaca yang akan menerapkan penelitian semacam ini di kelas maka
penelitiannya disebut sebagai penelitian tindakan kelas (PTK). PTK dapat dilakukan
secara kolaboratif antara para ahli pendidikan (peneliti) dengan para guru (ko-peneliti)
untuk menyelesaikan masalah para guru. Juga dapat dilakukan kolaboratif antara guru
(peneliti) dengan para siswa (ko-peneliti) untuk menyelesaiakan masalah siswa. Para
guru senior (bertindak sebagai pilot) juga dapat berkolaborasi dengan para guru yunior
(bertindak sebagai ko-pilot) untuk menyelesaiakan masalah yang dihadapi para yunior.

Pembaca yang giat dalam aktivitas NGO telah sering melakukan penelitian tindakan yang
diberi nama PRA, atau penelitian partisipatoris.

Inilah hakekat dari penelitian tindakan. Silahkan mencoba!


Rasanya aku
perlu membantu
Rasanya aku meningkatkan
perlu bantuan kompetensinya
dan konsultasi