Anda di halaman 1dari 2

Penelitian kuantitatif vs kualitatif

Leo Sutrisno

Ada pertanyaan pembaca yang disampaikan secara langsung, mana yang


lebih unggul penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif. Maaf, pertanyaan ini
merupakan pertanyaan standar bagi para peneliti pemula di seluruh dunia.
Sebenarnya, baik kuantitatif maupun kualitatif hanyalah sebagai ’pisau’
analisis yang digunakan para ahli untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
mereka ajukan sendiri tentang suatu realita. Karena itu, pertanyaan seperti itu
harus di-reformat menjadi, ”kalau saya mempunyai masalah yang seperti ini, mana
yang lebih cocok digunakan, penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif.”
Sebagai pisau analisis, keduanya memiliki serangkaian kerangkan berpikir
yang berbeda satu dengan yang lain. Kerangkan pikir itu mencakup asumsi dasar,
tujuan, serta metode yang digunakan.

Penelitian kuantitatif

Mari kita mulai dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif


mempunyai asumsi dasar yang menyatakan bahwa semua kejadian di alam semesta
ini tunduk pada suatu hukum yang bersifat universal.
Karena itu, penelitian kuantitatif bertujuan untuk menemukan suatu hukum
yang bersifat universal itu. Agar sungguh bersifat universal maka hukum tersebut
harus dapat dinyatakan dalam bentuk matematika.
Salah satu sifat matematika adalah sederhana. Peneliti kuantitatif harus
menemukan hubungan matematis tentang masalah yang ditelitinya dalam bentuk
yang paling sederhana.
Bentuk yang paling sederhana itu menyatakan hal yang paling esensial dari
realita yang sedang dipelajari. Hubungan matematika yang bersifat sederhana itu
menunjukkan inti sari dari realita yang ditelaah.
Siapa pun yang melakukan, pada ujungnya tentu akan menemukan
hubungan matematis itu. Jika demikian, hukum yang ditemukan sungguh bersifat
universal.
Untuk mencapai tingkat ini, peneliti kuantitatif juga berpendapat bahwa
setiap kejadian itu pasti ada penyebabnya. Sebab dan akibat dalam suatu kejadian
selalu dapat dipisahkan dengan jelas. Dengan demikian, sebab dan akibat tersebut
dapat diamati dan dapat diukur. Data dan informasi yang diperoleh dapat
diwujudkan dalam bentuk bilangan, dapat dinyatakan secara numerik.
Seorang peneliti kuantitatif memulai penelitiannya dengan mengajukan
suatu hipotesis yang dapat menjelaskan apa yang terjadi dalam suatu realita yang
sedang ditelaah. Hipotesis ini dibangun berdasarkan hasil penelusuran literatur.
Hipotesis ini kemudian diuji kebenarannya secara statistik berdasarkan
karakteristik data yang dikumpulkannya dari sampel. Hipotesis yang telah terbukti
kebenarannya inilah yang dicari oleh seorang peneliti kuantitatif. Dengan memilih
sampel yang representatif, maka hukum yang ditemukan itu dipercaya bersifat
universal.
Penelitian kualitatif

Para peneliti kualitatif menolak anggapan yang dikembangkan oleh peneliti


kuantitatif. Setiap kejadian di alam semesta ini akan dimaknai secara individual
oleh setiap orang. Karena itu, tidak ada satu hukum pun yang dapat diberlakukan
pada semua orang.
Para peneliti kualitatif beranggapan bahwa kebenaran yang sesungguhnya
berada pada pelakunya sendiri. Peneliti bertugas menginterprestasikan sikap dan
perilaku para pelaku kejadian itu.
Hasil interpretasi ini lebih sistematis, lebih luas, lebih mendalam, dan lebih
lengkap daripada yang dirasakan dan dilakukan oleh pelakunya sendiri.
Jadi, tugas peneliti kualitatif adalah mentafsirkan sikap dan perilaku para
pelaku kejadian. Karena berupa interpretasi maka kebenarannya harus
dikonfirmasi oleh pelakunya.
Hasil penelitian kualitatif bukan berupa kesimpulan umum tetapi suatu
deskripsi yang sistematif dan lengkap tentang makna suatu kejadian pada para
pelakunya. Karena itu, hasil penelitian kualitatif bersifat situasional. Sehingga,
tidak dapat digeneralisasi.
Para penelitian kualitatif tidak menyusun hipotesis di awal penelitian.
Setelah bolak-balik ke lapangan, diperolehlah data yang cukup tinggi validitasnya.
Interpretasi yang dibuat berdasarkan data itulah yang dapat disebut hipotesis,
karena masih perlu dikonfirmasikan pada pelakunya.
Karena kebenarannya ditetapkan oleh pengakuan pelakunya sendiri bukan
penelitinya maka hasil penelitian kualitatif tidak dapat digeneralisasi. Hasil
penelitian kualitatif bersifat situasional.
Nah, membandingkan kerang berpikir kedua panelitian ini tidak mungkin
kita menetapkan yang mana yang lebih unggul. Masing-masing memiliki
kekhususan. Yang satu lebih cocok untuk masalah yang ini, yang lain cocok untuk
masalah itu. Pilihan tergantung masalah yang akan diselesaikan dengan penelitian.
Kepada pembaca yang melontarkan pertanyaan ini disarankan mengubah
pertanyaan menjadi ”Saya akan menjawab pertanyaan ...., mana yang lebih cocok
digunakan, penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif”. Semoga!