Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

KROMOBLASTOMIKOSIS

DOSEN :

H.YUNAN JIWINTARUM,S.Si,M.Kes

DISUSUN OLEH :

1. NI LUH ANDRIASTI (P07134117080)


2. NI MADE WULAN DIANI ( P07134117081)
3. NINA FEBRIANTI (P07134117082)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
MATARAM
Kata pengantar

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat

serta kasih-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mikologi tentang

“KROMOBLASTOMIKOSIS”.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata

sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami

miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta

masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhirnya kami

berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi

perkembangan dunia pendidikan.

Mataram, 1 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar.......................................................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................................1
A. Latar belakang......................................................................................................1
B. Rumusan masalah...............................................................................................2
C. Tujuan....................................................................................................................2
BAB II......................................................................................................................................3
PEMBAHASAN......................................................................................................................3
A. Kromoblastomikosis..........................................................................................3
B. Fonsecaea spp.....................................................................................................6
a. Ciri Makroskopik dan Mikroskopik..................................................................8
b. Ciri Histopatologi...............................................................................................11
c. Pengobatan.........................................................................................................12
C. Cladosporium spp.............................................................................................13
a. Ciri Makroskopik dan Mikroskopik................................................................14
b. Ciri Histopatologi...............................................................................................15
D. Phialophora spp................................................................................................16
a. Ciri Makroskopik dan Mikroskopik................................................................18
b. Ciri Histopatologi...............................................................................................19
c. Pengobatan.........................................................................................................20
E. Diagnosis................................................................................................................20
F. Pengobatan.............................................................................................................23
BAB III...................................................................................................................................26
PENUTUP............................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................28
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Kromoblastomikosis merupakan infeksi jamur kronis pada kulit

dan jaringan subkutan yang disebabkan oleh jamur berpigmen atau

dematiceous fungi yang menembus kulit. Pada proses inflamasinya di

dalam kulit, jamur tersebut membentuk sel tunggal berdinding tebal

atau sel kluster (badan sklerotik atau muriform) yang menyerupai

gambaran berbentuk hyperplasia pseudoepiteliomatosa. Kejadian

kromoblastomikosis ditemukan tersebar di seluruh dunia, namun

banyak ditemukan pada daerah tropis dan subtropis di Amerika dan

Afrika. Umumnya penyakit ini menyerang laki-laki dibandingkan

perempuan, sering pada usia 30-5- tahun namun beberapa laporan

menyebutkan terjadi pada anak-anak dan remaja. Hingga saat ini

dilaporkan 2 kasus kromonlastomikosis di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit

dan kelamin RSUP Prof. DR. R. D. Kandou, Manado

Infeksi kromoblastomikosis dapat disebabkan oleh beberapa

jenis jamur berpigmen, yang paling sering antara lain: phialophora

verrucosa, Fonsecaea pedrosoi, Fonsecaea Compactum, , Fonsecaea

monophora, Wangiella dermatitidis, Cladophialophora carrionii,

1
2

Rhinocladiella aquaspersa, dan spesies exophiala. Jamur terisolasi di

lingkungan dari kayu, sisa-sisa tanaman atau tanah.

Salah satu jamur penyebab kromoblastomikosis yaitu

fonsecaea pedrosai. fonsecaea pedrosai adalah

B. Rumusan masalah

1. Apa itu kromoblastomikosis ?

2. Sebutkan jenis-jenis jamur yang menyebabkan

kromoblastomikosis ?

3. Jelaskan taksonomi dari jamur penyebab kromoblastomikosis ?

4. Sebutkan sifat jamur penyebab kromoblastomikosis ?

5. Jelaskan cara mendiagnosis ?

6. Jelaskan cara pengobatan yang dilakukan ?

C. Tujuan

1. Menjelaskan apa itu kromoblastomikosis

2. Menyebutkan jenis-jenis jamur yang menyebabkan

kromoblastomikosis

3. Menjelaskan taksonomi dari jamur penyebab kromoblastomikosis

4. Menyebutkan sifat jamur penyebab kromoblastomikosis

5. Menjelaskan cara mendiagnosis

6. Menjelaskan cara pengobatan yang dilakukan


BAB II

PEMBAHASAN

A. Kromoblastomikosis

Sinonim: Chromomycosis Jamur Penyebab: Fonsecaea pedrosoi,

Fonsecaea compacta, Phialophora verrucosa, Cladosporium carrionii.

Chromoblastomycosis adalah jamur yang menyerang kulit dan

jaringan subkutan yang ditandai dengan nodule verrucous atau plaque

(Moore, Nauta, Evans, & Rotheroe, 2008). Type konidia : Type

cladosporium, type Rhinocladiella dan type Phialophora Biopsi dengan

pewarnaan H&E : Tampak adanya bentukan sclerotic bodies yang

berwarna coklat. Sclerotic bodies ini adalah suatu sel yang single atau

berkelompok, berdinding tebal dan berwarna coklat. Sclerotic bodies

merupakan ciri khas Chromoblastomycosis (K & Kes, 2018).

Kromoblastomikosis atau dermatitis verukosa merupakan infeksi

jamur kronis pada kutis dan subkutis yang disebabkan spesies

dematiaceous (berwarna kecoklatan) yang Kromoblastomikosis

merupakan infeksi jamur kronis pada kulit dan jaringan subkutan yang

disebabkan oleh jamur berpigmen atau dematiceous fungi yang

menembus kulit (Lasut, Tanamal, & Kapantow, 2015). Pada proses

3
4

inflamasinya di dalam kulit, jamur tersebut membentuk sel tunggal

berdinding tebal atau sel kluster (badan sklerotik atau muriform) yang

menyerupai gambaran berbentuk hiperplasia pseudoepiteliomatosa

(Lasut et al., 2015).

Kejadian kromoblastomikosis ditemukan tersebar di seluruh

dunia, namun banyak ditemukan pada daerah tropis dan subtropis di

Amerika dan Afrika. Mempunyasi gambaran klinis khas sebagai kutil

berkelompok dan dapat berbentuk bunga kol (Umar, Abdi, Adriani,

Smf, & Kesehatan, 2013). Lesi berkembang lambat dan biasanya

dijumpai pada kaki dan tangan. Jamur terisolasi di lingkungan dari

kayu, sisa-sisa tanaman, atau tanah. Gambaran klinis

kromoblastomikosis biasanya muncul di area yang terlihat, seperti

kaki, tungkai bawah, lengan, wajah, dan leher (Hapsari, 2013).

Awalnya muncul berupa papul mirip kutil yang tumbuh makin

membesar dan membentuk plak hipertrofi. Pada beberapa lesi, plak

muncul dengan permukaan rata dan bertumbuh perlahan dengan skar

pada bagian tengah, dan dalam beberapa tahun lesi telah menjadi

massa hiperkeratotik dan dapat menebal sampai 3 cm (Kusumaputra

& Listiawan, n.d.).

Pengamatan mikroskopik meliputi spora

(bentuk,permukaan,warna,ukuran), vesikel, kolumela, konidiofor,


5

ataupun sporangiofor. Hasil pengamatan makroskopik dan

mikroskopik kapang dapat digunakan untuk identifikasi kapang sampai

tingkat genus. Sedangkan penentuan sampai tingkat spesies masih

memerlukan karakter lain misalnya biokimiawi. Identifikasi kapang

yang paling umum dilakukan adalah menggunakan kunci dikotomi dan

kunci gambar kapang.

Infeksi kromoblastomikosis dapat disebabkan oleh beberapa jenis

jamur berpigmen, yang paling sering antara lain: Phialophora

verrucosa, Fonsecaea pedrosoi, Fonsecaea Compactum, Fonsecaea

monophora, Wangiella dermatitidis, Cladophialophora carrionii,

Rhinocladiella aquaspersa, dan spesies exophiala (Husnun & Nurdian,

n.d.). Jamur terisolasi di lingkungan dari kayu, sisa-sisa tanaman, atau

tanah (Umar et al., 2013).

Infeksi jaringan subkutaneus yang kronik, terlokalisasi yang

disebabkan oleh beberapa spesies jamur "dematiaceous". Tiga agen

yang paling sering adalah:

1. Fonsecaea pedrosoi

2. Cladosporium carrionii

3. Phialophora verrucosa
6

B. Fonsecaea spp.

Kingdom: Fungi

Phylum: Ascomycota

Class: Euascomycetes

Order: Chaetothyriales

Family: Herpotrichiellaceae

Genus: Fonsecaea
7

Fonsecaea adalah pigmen (dematiaceous), jamur berserat yang

ditemukan di kayu dan tanah yang busuk. Tidak memiliki fase

teleomorfik yang diketahui. Selain sebagai saprophyte di alam, juga

menyebabkan infeksi pada manusia. Hewan berdarah dingin yang

hidup di rawa juga dapat terinfeksi. Fonsecaea menunjukkan

dimorfisme in vivo; menghasilkan struktur spesifik (tubuh sklerotik)

hanya dalam jaringan dan tumbuh dalam bentuk mould dalam kondisi
8

laboratorium. Genus Fonsecaea memiliki dua spesies: Fonsecaea

compacta dan Fonsecaea pedrosoi (L. ex Gray, 2017) .

Onsecaea adalah salah satu agen penyebab post-traumatic,

infeksi kronis dari jaringan subkutan yang dikenal sebagai

chromoblastomycosis. Chromoblastomycosis hadir dengan papula dan

lesi mirip kembang kol yang paling umum pada ekstremitas bawah.

Agen etiologi chromoblastomycosis umumnya anggota dari tiga genus

jamur dematiaceous yang mendiami tanah: Fonsecaea, Phialophora,

dan Cladosporium (Sukmawati & Ervianty, 2014).

Fonsecaea pedrosoi adalah salah satu agen penyebab utama

chromoblastomycosis di daerah tropis lembab, khususnya Amerika

Selatan dan Jepang. Fonsecaea compacta, di sisi lain, adalah

penyebab langka chromoblastomycosis di daerah tropis Amerika

Tengah dan Utara. Invasi sistemik setelah chromoblastomycosis

sangat jarang terjadi.

Selain chromoblastomycosis, Fonsecaea dapat menyebabkan

infeksi pada manusia yakni Sinusitis paranasal, keratitis, dan abses

otak fatal setelah diseminasi hematogen telah dilaporkan.

a. Ciri Makroskopik dan Mikroskopik

Fonsecaea tumbuh lambat dan menghasilkan koloni beludru

hingga kapas yang terbatas, rata untuk diangkat dan dilipat pada
9

agar-agar kentang dekstrosa pada 25° C. Koloni akan matang dalam

14 hari. Dari depan dan belakang, warnanya berwarna zaitun hingga

cokelat kehitaman. Penampilan berserabut dipertahankan inkubasi

suhu 25, 30, atau 37 ° C.

Fonsecaea menghasilkan septate, hifa coklat gelap dan

konidiofor suberect yang sangat bercabang di apeks. Konidiofor

berwarna coklat pucat, ereksi, septate, dan simpodial dengan zona

konidiogen terbatas pada bagian atas. Konidia (1,5-3 x 2,5-6 μm)

berwarna cokelat dan berbentuk tong. Empat jenis konidiogenesis

yang dapat diamati:

1. Jenis Fonsecaea: Konidia bersel 1 dan timbul pada

dentikel yang bengkak yang terletak di ujung konidiofor.

Konidia primer ini berfungsi sebagai sel konidiogen

sympodial, tidak teratur pada apeksnya. Konidia

sekunder sering menghasilkan seri konidia tersier seperti

yang terbentuk oleh konidia primer, yang menghasilkan

kepala konidia kompleks. Rantai konidia panjang tidak

terbentuk dalam jenis konidiogenesis ini. Jenis

konidiogenesis terutama diamati untuk strain milik genus

Fonsecaea. Fonsecaea dikenali oleh kepala konidialnya

yang kompleks yang terdiri dari serangkaian konidia

yang bengkak dan tidak beraturan yang berfungsi


10

sebagai sel konidiogen. Jenis perkembangan konidial

yang dominan ini membedakan Fonsecaea dari

Cladosporium dan Rhinocladiella.

2. Jenis Cladosporium: Konidiofor menimbulkan konidia

primer berbentuk perisai yang akhirnya menghasilkan

rantai konidia oval dan dematiaceous yang panjang dan

bercabang. Konidia memiliki hila gelap. Jenis

konidiogenesis ini terutama diamati untuk jenis-jenis

yang termasuk dalam genus Cladosporium, tetapi dapat

juga diamati pada jenis-jenis Fonsecaea.

3. Jenis Phialophora: Dalam jenis konidiogenesis ini,

konidia terletak di apeks phialides yang berbentuk vas

dan memiliki kerah. Jenis konidiogenesis ini terutama

diamati untuk strain yang termasuk dalam genus

Phialophora, dapat juga diamati pada strain Fonsecaea

tetapi sangat jarang.

4. Jenis badokladiella: konidiofor bersifat simpodial dan

memiliki dentikel yang mengandung konidia coklat pucat

1-sel. Konidia mungkin terletak di ujung dan di sepanjang

sisi konidiofor. Pembentukan konidia sekunder sangat

jarang. Jenis konidiogenesis ini terutama diamati untuk


11

strain yang termasuk dalam genus Rhinocladiella, tetapi

juga dapat diamati pada strain Fonsecaea.

b. Ciri Histopatologi

Jamur yang menyebabkan chromoblastomycosis

menghasilkan struktur khas dalam jaringan yang terinfeksi yang

disebut tubuh sklerotik (kadang-kadang orang juga melihat frasa sel

muriform dan tubuh Medlar). Hifa phaeoid (berwarna gelap) juga

dapat diamati pada jaringan yang terinfeksi. Tubuh sklerotik

berwarna coklat gelap, bulat atau polihedral, struktur berdinding

tebal yang memiliki septa horizontal dan vertikal. Dapat ditemukan

secara tunggal, dalam kelompok, atau di dalam sel raksasa.

Melanin, yang diproduksi di dinding sel tubuh sklerotik, memberi

warna coklat tua pada struktur. Tidak seperti ragi, tubuh sklerotik

sebagian besar membelah dengan pemisahan sepanjang septa.

Tunas juga dapat terjadi tetapi tidak diyakini sebagai sarana

signifikan untuk reproduksi. Produksi tubuh sklerotik hanya dalam

jaringan diyakini diatur oleh konsentrasi ion kalsium dalam jaringan

yang terinfeksi. Kehadiran tubuh sklerotik dalam jaringan

menegaskan diagnosis chromoblastomycosis. Penentuan jamur

yang menginfeksi membutuhkan kultur.


12

c. Pengobatan

Beberapa data tersedia dan belum ada metode standar untuk

pengujian kerentanan in vitro dari Fonsecaea spp. Amphotericin B,

ketoconazole, miconazole, itraconazole, voriconazole, dan

terbinafine menghasilkan MICs rendah untuk isolat Fonsecaea.

Itrakonazol dan vorikonazol tampaknya memiliki aktivitas in vitro

yang lebih baik daripada amfoterisin B. Caspofungin juga aktif

secara in vitro terhadap Fonsaceae pedrosoi. Sebaliknya, flukonazol

tidak memiliki aktivitas in vitro praktis terhadap Fonsecaea.

Cryosurgery dan itraconazole saat ini digunakan untuk

mengobati kasus chromoblastomycosis. Cryosurgery lebih disukai

untuk lesi kecil, sedangkan itrakonazol digunakan untuk lesi yang

lebih besar. Kombinasi dari dua modalitas terapi juga dapat

diterapkan. Khususnya, terbinafine juga tampak menjanjikan dalam

pengobatan chromoblastomycosis. Namun, kromoblastomikosis

sulit diobati dan sebagian besar sarana terapeutik hanya

memberikan tingkat keberhasilan yang sederhana.


13

C. Cladosporium spp.

Kingdom: Fungi

Phylum: Ascomycota

Subphylum: Ascomycotina

Genus: Cladosporium
14

Cladosporium adalah cetakan (berpigmen) dematiaceous

didistribusikan secara luas di udara dan bahan organik busuk dan

sering diisolasi sebagai kontaminan pada makanan. Beberapa spesies

dominan di daerah tropis dan subtropis. Juga, beberapa Cladosporium

spp. diisolasi dari ikan dan dikaitkan dengan temuan infeksi (E. Gray &

Hoog, 2014).

Genus Cladosporium mencakup lebih dari 30 spesies. Yang

paling umum termasuk Cladosporium elatum, Cladosporium herbarum,

Cladosporium sphaerospermum, dan Cladosporium cladosporioides.

Cladosporium spp. adalah agen penyebab lesi kulit, keratitis,

onikomikosis, sinusitis dan infeksi paru.

a. Ciri Makroskopik dan Mikroskopik

Tingkat pertumbuhan koloni Cladosporium moderat pada agar

kentang dekstrosa pada 25 ° C dan teksturnya beludru hingga tepung.

Mirip dengan jamur dematiaceous lainnya, warnanya hijau olivaceous

menjadi hitam dari depan dan hitam dari kebalikannya. Sebagian

besar Cladosporium spp. jangan tumbuh pada suhu di atas 35 ° C.

Cladosporium spp. menghasilkan hifa coklat septat, konidiofor

tegak dan berpigmen, dan konidia. Sementara conidiophores

Cladosporium cladosporioides dan Cladosporium sphaerospermum

tidak geniculate, sementara Cladosporium herbarum memiliki


15

penampilan geniculate. Selain itu, konidiofor terminal Cladosporium

herbarum menanggung dan pembengkakan sela. Conidia dari

Cladosporium spp. secara umum berbentuk elips hingga silindris,

berwarna pucat hingga coklat tua dan memiliki hifa gelap. Dinding

konidial halus atau kadang-kadang bergetar. Cladosporium

cladosporioides menghasilkan konidia uniseluler. Di sisi lain, yang dari

Cladosporium herbarum adalah dua hingga empat sel. Cladosporium

sphaerospermum menghasilkan sel perisai memanjang dan septate

yang juga dikenal sebagai ramoconidia

b. Ciri Histopatologi

Hifa coklat (phaeoid) dapat diamati pada sampel jaringan yang

terinfeksi. Cladosporium berbeda dari Cladophialophora dengan

memiliki konidia dengan hila berwarna coklat tua (bekas luka).

Sementara Cladophialophora bantiana dapat tumbuh pada suhu 42-

43° C, Cladophialophora carrionii dan banyak spesies Cladosporium

tidak tumbuh pada suhu di atas 35 ° C. Antibodi monoklonal, EB-A2

yang digunakan dalam kit aglutinasi lateks yang tersedia secara

komersial untuk mendeteksi antigen galaktomanan dalam serum

pasien dengan aspergillosis dapat bereaksi silang dengan

Cladosporium herbarum
16

D. Phialophora spp.

Kingdom: Fungi

Phylum: Ascomycota

Class: Euascomycetes

Order: Chaetothyriales

Family: Herpotrichiellaceae

Genus: Phialophora
17

Phialophora adalah jamur berserat dematiaceous yang

mendiami tanah, tanaman, dan makanan yang membusuk. Ini

didistribusikan secara luas di alam. Spesies phialophora adalah agen

penyebab beberapa infeksi manusia. Genus Phialophora mengandung

8 spesies aktif; Phialophora americana, Phialophora bubakii,

Phialophora europaea, Phialophora parasitica, Phialophora reptans,

Phialophora repens, Phialophora richardsiae, dan Phialophora


18

verrucosa. Phialophora europaea adalah spesies yang baru

diperkenalkan. Fitur morfologis, seperti bentuk kerah, pengaturan

phialides, keberadaan klamidospora, dan fitur biokimia, seperti

asimilasi bantuan melibiosa dalam membedakan spesies satu sama

lain. Lihat daftar nama usang, sinonim, dan telemorf untuk Phialophora

spp (Medlar, 2015).

a. Ciri Makroskopik dan Mikroskopik

Koloni Phialophora tumbuh cukup lambat dan mencapai

diameter 2-3 cm setelah inkubasi 7 hari pada suhu 25 ° C.

Teksturnya seperti wol sampai beludru dan mungkin menumpuk dan

butiran di beberapa galur. Dari depan, warna awalnya putih dan

kemudian menjadi abu-abu-hijau tua, coklat atau hitam. Dari

kebalikannya, abu-abu dari besi menjadi hitam (Medlar, 2015). Hifa

septat, phialides, dan konidia diamati. Hifa (lebar hingga 5 μm )

bercabang, dan hialin menjadi coklat. Phialophora parasitica

biasanya menghasilkan hifa dengan dinding veruka.

Pada galur Phialophora, pembentukan konidial adalah tipe

Phialophora. Phialides biasanya berbentuk labu atau botol,

berwarna coklat pucat sampai coklat, dan terletak di ujung atau

lateral pada hifa. Panjang phialides dapat bervariasi. Phialides dari

Phialophora parasitica lebih panjang dari 20 μm dan berbentuk


19

tulang belakang sedangkan Phialophora repens lebih pendek dari

20 μm. Phialides of Phialophora biasanya memiliki kerah yang

terlihat jelas di ujungnya. Bentuk kerah bervariasi dari satu spesies

Phialophora ke spesies lainnya. Ini berbentuk vas di Phialophora

verrucosa, berbentuk piring atau vas di Phialophora richardsiae, dan

sempit dengan kontur yang hampir paralel di Phialophora repens

dan Phialophora parasitica. Konidia berbentuk uniseluler, hialin atau

cokelat, halus, dan bulat, oval, atau berbentuk silinder. Konidia ini

terakumulasi dalam jumlah banyak di apeks phialides dengan kerah,

memberikan tampilan seperti vas bunga.

b. Ciri Histopatologi

Spesies phialophora adalah di antara penyebab

chromoblastomycosis dan phaeohyphomycosis. Phialophora

verrucosa adalah agen penyebab utama chromoblastomycosis di

daerah tropis dan subtropis, terutama di Jepang dan Amerika

Selatan. Bentuk klinis phaeohyphomycosis mungkin beragam,

termasuk infeksi kulit, kista subkutan, keratitis, endokarditis, radang

sendi, osteomielitis, infeksi otak, perdarahan fatal, dan infeksi yang

menyebar. Phialophora europaea telah diisolasi dari infeksi kulit dan

kuku di Eropa Barat Laut.

Mirip dengan jamur lain yang menyebabkan

chromoblastomycosis, bulat atau polihedral, coklat tua, badan


20

sklerotik berdinding tebal (sel muriform) divisualisasikan dalam

jaringan yang terinfeksi spesies Phialophora. Tidak adanya sel

muriform telah dilaporkan pada kasus yang mengalami

imunosupresi atau lemah. Hifa phaeoid juga dapat diamati.

c. Pengobatan

Data yang sangat terbatas tersedia. Data ini menunjukkan

bahwa amfoterisin B, itrakonazol, terbinafin, dan vorikonazol aktif

secara in vitro terhadap Phialophora americana, Phialophora

repens, Phialophora richardsiae, dan Phialophora verrucosa. MICs

dari amfoterisin B dan itrakonazol relatif lebih tinggi untuk

Phialophora parasitica dibandingkan dengan spesies lain.

Vorikonazol, di sisi lain, aktif terhadap Phialophora parasitica dan

juga spesies Phialophora lainnya. Novel triazole, Syn-2869 juga

aktif melawan Phialophora parasitica. Posaconazole menunjukkan

aktivitas yang menjanjikan terhadap spesies Phialophora (de Brito &

Bittencourt, 2018).

E. Diagnosis
21

Mikroskopi langsung menggunakan kalium hidroksida (KOH) 10-

20% atau KOH / DMSO mengungkapkan tubuh muriformis (sklerotik),

patogenik Chromoblastomycosis (CBM) terlepas dari spesies

penyebab. Kadang-kadang hifa dematiaceous dapat dikaitkan dengan

tubuh mu-riform dalam materi. Spesimen dengan kemungkinan

tertinggi dari hasil positif adalah yang berasal dari lesi dengan apa

yang disebut "titik hitam" yang terlihat pada permukaan lesi, yang

mewakili eliminasi jamur transdermal. Miranda et al. (2005)

menggunakan pita perekat vinil untuk diagnosis beberapa mikosis

dalam, termasuk CBM.91 Kultur jamur dalam agar Sabouraud

digunakan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi spesies, tetapi

agen penyebab biasanya menyajikan karakteristik makromorfologi

yang sangat mirip. F. pedrosoi menghasilkan koloni beludru, coklat

gelap, hijau zaitun, atau hitam. Phialophora verrucosa menghasilkan

koloni yang tumbuh lambat, beludru, hijau lumut, coklat, atau hitam.

C. carrionii menampilkan koloni yang sangat mirip dengan F.

pedrosoi. Koloni R. aquaspersa berwarna beludru dan hijau lumut

hingga hitam. Microculture menghasilkan tiga jenis pembuahan atau

sporulasi: Jenis Cladosporium - sporulasi catenulate acrogenous,

spora elips dalam rantai; Phialophoratype-conidiophore (phialide),

berbentuk aliran vas dengan spora di sekitar phialide; Jenis

Rhinocladiella - konidiofor yang terbentuk di sepanjang hifa dan spora


22

oval pada ekstremitas atas (acrotheca) dan di sepanjang

conidiophore. Tidak ada tes intradermal untuk penyakit ini yang telah

distandarisasi. Teknik biologi molekuler saat ini penting untuk

menyelesaikan pemeriksaan diagnostik, dan tes PCR telah

dikembangkan untuk mengidentifikasi spesies Fonsecaea dan C.

carrionii.21,26,92 Mengingat respon imune pada pasien CBM,

Oberto-Perdigon dkk. menggunakan ELISA dalam 114 serum untuk

menilai respon humoral sebelum, selama, dan setelah perawatan

menggunakan antigen somatik (AgSPP) dari C. carrionii.93 Para

penulis menyimpulkan bahwa metode ini berharga untuk diagnosis

dan asesmen keberhasilan terapi. Namun, PCRANDELISA jarang

tersedia di banyak daerah endemis. ditandai dengan epidermis

dengan hiperparakeratosis, hiperplasia pseudoepitheliomatous,

mikro-tracorneal in-tracorneal, dan eliminasi jamur transdermal, yang

terakhir baik di dalam atau di luar mikro-proses, sel epiteloid, sel

raksasa (Langhans dan forei gn tipe tubuh), dan sel polimorfonuklear.

Sel-sel jamur dengan mikromorfologi khasnya - bulat, coklat gelap,

berdinding tebal, berdiameter 4-12 mikron dan dengan reproduksi

multi-planar, yang disebut tubuh muriform (sklerotik) - ditemukan

dalam mikroabses intraepidermal dalam Langhans berinti dan / atau

benda asing. -jenis sel, dalam granulo-mas supuratif atau tuberkuloid,

mudah diidentifikasi oleh pewarnaan hematoksilin-eosin. Dimorfisme


23

dapat diamati, dan dimungkinkan untuk mengidentifikasi hifa dan

badan muriform pada bahan dari lesi kulit.94 Pires et al., dalam

sebuah studi tentang 65 pasien yang menjalani pemeriksaan

histopatologis dengan pewarnaan HE, menemukan dua jenis utama

reaksi jaringan granulomatosa: granuloma supuratif dengan sel-sel

jamur melimpah, sebagian besar dari lesi verukosa, dan granuloma

tuberkuloid, dengan beberapa parasit, dari lesi plak dan atrofi.95Ada

laporan menarik tentang deteksi agen CBM menggunakan pewarnaan

Ziehl-Neelsen dan Wade-Fite, pendekatan yang berguna dalam

sesthataredifficult withWheaining.96 Penelitian kami menggunakan

pewarnaan Fite-Fara-co dan menunjukkan dimorfisme jamur - adanya

tubuh muriform yang terkait dengan hifa septated dematiaceous.

Saxena et al. (2015) mendeteksi banyak jamur di bawah

directmicroscopy yang mengikuti infiltrasi intralesionaloforticoste-roid

dalam lesi CBM (de Brito & Bittencourt, 2018).

F. Pengobatan

Chromoblastomycosis (CBM) sulit diobati dan dikaitkan dengan

angka kesembuhan yang rendah dan angka kekambuhan yang tinggi,

terutama dalam kasus kronis dan ekstensif. Pilihan dan hasil

pengobatan tergantung pada agen etiologi, ukuran dan luasnya lesi,

topografi, dan adanya komplikasi. Penyembuhan klinis dapat


24

diselesaikan dengan tuntas dalam penyelesaian seluruh cedera,

meninggalkan bekas luka. Penyembuhan mikologis terbukti dengan

tidak adanya jamur pada pemeriksaan mikologis langsung dan kultur

negatif. Topologi dari lesi yang disembuhkan menunjukkan epidermis

atrofi dan tidak adanya infiltrasi granulomatosa dan proses, yang

dihubungkan dengan fibrik krikatrik terkait dengan infiltrasi inflamasi

kronik dan infiltrasi serta tidak adanya jamur dalam irisan serial.

Perawatan terdiri dari obat antijamur jangka panjang, sering

dikombinasikan dengan perawatan fisik seperti pembedahan,

cryotherapy, dan thermotherapy. Studi melaporkan angka

kesembuhan klinis dan my-cological yang sangat bervariasi, mulai dari

15% hingga 80% .98 Lesi kecil dan terlokalisasi dapat diangkat melalui

pembedahan dengan margin lebar, dan agen antijamur sering

digunakan sebelum operasi untuk memperkecil lesi dan kemudian

untuk menghindari risiko kambuh. Bagian elektrodis dan kuretase tidak

direkomendasikan, karena dapat mengakibatkan keterlibatan rantai

limfatik.98Cryotherapy atau cryosurgery dengan nitrogen cair dan

terapi induk (panas lokal untuk menghasilkan suhu terkontrol 42-45 °

C, yang menghambat pertumbuhan jamur) menunjukkan risiko minimal

efek samping, dan opsi perawatan ini relatif murah, tetapi lebih sesuai

untuk lesi tunggal, terbatas.99.100 Cryosurgery relatif mudah dalam

hal teknis, tetapi waktu dan kedalaman pembekuan masih belum


25

distandarisasi. Termoterapi telah digunakan lebih sedikit, dan kasus-

kasus dengan hasil yang dipublikasikan terbaik adalah di Jepang.

Teknik ini membutuhkan aplikasi harian panas langsung pada lesi

selama beberapa jam, selama 2-6 bulan.101.102CO2 laser tampaknya

menjadi alternatif yang menarik untuk mengobati lesi CBM yang

terlokalisir dengan baik dan terlokalisir dengan baik (de Brito &

Bittencourt, 2018). Satu keuntungan adalah ia hanya membutuhkan

satu perawatan, yang meningkatkan kepatuhan pasien. Selain itu,

biaya perawatan tunggal relatif rendah, dengan keuntungan tidak ada

toksisitas sistemik. Perawatan kombinasi menggunakan laser CO2

dan termoterapi topikal berhasil digunakan dalam CBM oleh Hira et al.
26

BAB III

PENUTUP
Kromoblastomikosis merupakan infeksi jamur kronis pada kulit

dan jaringan subkutan yang disebabkan oleh jamur berpigmen atau

dematiceous fungi yang menembus kulit. jamur tersebut membentuk

sel tunggal berdinding tebal atau sel kluster (badan sklerotik atau

muriform) yang menyerupai gambaran berbentuk hiperplasia

pseudoepiteliomatosa. Mempunyasi gambaran klinis khas sebagai

kutil berkelompok dan dapat berbentuk bunga kol. Lesi berkembang

lambat dan biasanya dijumpai pada kaki dan tangan. Jamur terisolasi

di lingkungan dari kayu, sisa-sisa tanaman, atau tanah. Gambaran

klinis kromoblastomikosis biasanya muncul di area yang terlihat,

seperti kaki, tungkai bawah, lengan, wajah, dan leher. Pengamatan

mikroskopik meliputi spora (bentuk,permukaan,warna,ukuran),

vesikel, kolumela, konidiofor, ataupun sporangiofor. Hasil pengamatan

makroskopik dan mikroskopik kapang dapat digunakan untuk

identifikasi kapang sampai tingkat genus. Sedangkan penentuan

sampai tingkat spesies masih memerlukan karakter lain misalnya

biokimiawi
27

Infeksi kromoblastomikosis dapat disebabkan oleh beberapa jenis

jamur berpigmen, yang paling sering antara lain: Phialophora

verrucosa, Fonsecaea pedrosoi, Fonsecaea Compactum, Fonsecaea

monophora, Wangiella dermatitidis, Cladophialophora carrionii,

Rhinocladiella aquaspersa, dan spesies exophiala. Infeksi jaringan

subkutaneus yang kronik, terlokalisasi yang disebabkan oleh beberapa

spesies jamur "dematiaceous". Tiga agen yang paling sering adalah

Fonsecaea pedrosoi, Cladosporium carrionii, Phialophora verrucosa.


28

DAFTAR PUSTAKA

de Brito, A. C., & Bittencourt, M. de J. S. (2018). Chromoblastomycosis: An

etiological, epidemiological, clinical, diagnostic, and treatment update.

Anais Brasileiros de Dermatologia, 93(4), 495–506.

https://doi.org/10.1590/abd1806-4841.20187321

Gray, E., & Hoog, D. (2014). Cladosporium spp. Retrieved September 26,

2019, from Doctor fungus website: https://drfungus.org/knowledge-

base/cladosporium-species/

Gray, L. ex. (2017). Doctor Fungus. Retrieved September 26, 2019, from

https://drfungus.org/knowledge-base/fonsecaea-species/

Hapsari, Y. (2013). CHROMOBLASTOMYCOSIS: REPORT OF TWO

CASES. 19.

Husnun, A., & Nurdian, Y. (n.d.).

ManifestasiKlinikKromoblastomikosispadaPetani. University of Jember,

Indonesia.

K, A. P., & Kes, M. (2018). Oleh Macam-macam Spora Macam-macam

Koloni Macam-macam Pewarnaan. 1–33.

Kusumaputra, B. H., & Listiawan, M. Y. (n.d.). Laporan Kasus

KEBERHASILAN PENGOBATAN KETOKONAZOL PADA SATU KASUS

KROMOBLASTOMIKOSIS KRONIS. (031), 119–123.

Lasut, M. V., Tanamal, R. S., & Kapantow, G. M. (2015). Kasus


29

Kromoblastomikosis Pada Seorang Perempuan. Jurnal Biomedik (Jbm),

7(1), 62–69. https://doi.org/10.35790/jbm.7.1.2015.7294

Medlar. (2015). Phialophora spp. Retrieved September 26, 2019, from Doctor

fungus website: https://drfungus.org/knowledge-base/phialophora-

species/

Moore, D., Nauta, M., Evans, S. E., & Rotheroe, M. (2008). Fungal

Conservation - Issues and Solutions. Retrieved from

http://www.cambridge.org/ch/knowledge/isbn/item1118109/?

site_locale=de_CH

Sukmawati, N., & Ervianty, E. (2014). Penelitian Retrospektif : Karakteristik

Mikosis Subkutan. Bikk, 27, 183–190.

Umar, F. A., Abdi, D. A., Adriani, A., Smf, B., & Kesehatan, I. (2013).

Kromoblastomikosis Dan Tinea Pedis Pada Lokasi Yang Sama. 40(2),

74–79.