Anda di halaman 1dari 2

Hipotesis

Leo Sutrisno

Seorang pembaca mempertanyakan apakah dalam setiap penelitian harus ada hipotesis. Ini sebuah
pertanyaan yang juga sangat sering diajukan dalam pertemuan-pertemuah yang membahas tentang
metodologi penelitian. Mari kita bahwa ke konteks yang lebih luas. Lihat Diagram 1.

Dalam penelitian kita mengenal populasi (semesta pembicaraan) dan sampel (cuplikan dari populasi).
Sampel berada di dalam populasi. Sampel lebih terbatas dari pada populasi.

Kita sering membuat keputusan yang didasarkan hasil pengamatan yang terbatas tetapi diberlakukan pada
cakupan yang lebih luas. Misalnya, saya bertemu dengan bu guru Ani, pak guru Adi, bu guru Atik, pak
guru Ali, bu guru Ami, pak guru Acun, bu guru Aci, pak guru Abu di beberapa SD Bamban Rancang.
Kemudian, saya berkesimpulan bahwa hurup pertama para guru SD di Bamban Rancang adalah hurup ’A”.

Cara berpikir seperti ini disebut cara berpikir induktif. Berpikir induktif berarti preses berpikir yang
berangkat dari sesuatu yang terbatas menuju ke sesuatu yang lebih luas. Para ilmuwan sering juga
menggunakan cara berpikir induktif ini. Bardasarkan temuannya yang terbatas dibuatlah teori yang dapat
berlaku lebih luas.

Para fisuf jaman dulu juga demikian. Mereka melakukan pengamatan dalam cakupan yang terbatas.
Selanjutnya, berdasarkan hasil pengamatannya itu mereka merumuskan teori-teori (yang berlaku dalam
cakupan yang lebih luas).

Namun, ilmu pengetahuan telah berkembang ribuan tahun. Para ilmuwan menjadi sadar bahwa diperlukan
penelitian yang didasarkan pada pemikiran deduktif. Teori yang mereka bangun dari sesuatu yang
’terbatas’ perlu di-uji kebenarannya lebih dahulu sebelum diterima oleh kalayak ramai. Cara kerja ilmiah
memerlukan lingkaran berpikir induktif-deduktif secara serempak.

Para peneliti berangkat dari sebuah atau beberapa teori besar. Kemudian, mereka membuat sebuah atau
beberapa hipotesis yang ’testable’-yang dapat diuji kebenarannya atau ketidakbenarannya. Selanjutnya
mereka membuat rancangan percobaan dan mengamati hasilnya. Berdasarkan hasil itu mereka
membuktikan apakah teori tersebut terbukti atau tidak terbukti. Proses ini disebut penalaran deduktif.

Di sini hipotesis diturunkan dari teori-teori yang telah ada. Hipotesis dibuat untuk mencari tahu apakah
teori itu berlaku atau tidak. Jawaban dari pertanyaan ini berupa percobaan. Hasil percobaan digunakan
untuk membuat keputusan sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut. Hipotesis dibuat untuk menguji
kebenaran teori. Lihat Cabang 1 pada Diagram 1.

Pemikiran induktif berlangsung sebaliknya. Seperti yang telah disajikan di awal tulisan ini. Pemilikiran
induktif berangkat dari suatu pengamatan yang terbatas menuju suatu (kesimpulan yang berlaku luas) teori.
Karena itu, disusunlah prediksi tentatif (hipotesis) yang menuju ke suatu teori. Dengan demikian, dalam
pemikiran induktif pun sesungghnya juga diperlukan hipotesis. Lihat Cabang 2 pada Diagram 1.

Kebenaran hipotesis yang dibangun dalam pemikiran induktif akan diuji kebenrannya melalui kegiatan
penelitian berikutnya yang menggunakan pemikiran deduktif. Dengan demikian, sesungguhnya dalam
kegiatan ilmiah proses berpikir induktif dan berpikir deduktif merupakan suatu lingkaran tiada henti.
Secara deduktif hipotesis dibangun untuk menguji kebenaran teori dan secara induktif hipotesis dibangun
untuk menemukan teori. Secara deduktif kita melakukan ’uji hipoteisi’ [testing hypothesis]. Secara induktif
kita ’menyusun hipotesis’ [generating hypotesis].

Kiranya pembaca sudah tahu, pemikiran deduktif itu berlangsung pada penelitian kuantitatif dan pemikiran
induktif berlangsung pada penelitian induktif. Penelitian kuantitatif bersifat ’testung hypotesis’ dan
penelitian kualitatif bersifat ’generating hypotesis’.
Dengan perkataan lain, setiap penelitian tentu mengandung hipoteisi. Hanya, karena berbagai alasan ada
hipotesis yang dinyatakan secara eksplisit (tertulis jelas) ada yang implisit (tersirat, yang perlu ditafsirkan).
Inilah jawaban atas pertanyaan apakah setiap penelitian perlu hipotesis atau tidak. Semoga!

Populasi [semesta pembicaraan]


Tenting
hypothesis

Sample Penalaran
1
[cuplikan] deduktif

Generating
hypothesis

Penalaran induktif

Diagram 1
lingkaran penalaran induktif-deduktif