Anda di halaman 1dari 2

Mengkritisi suatu pendapat

Leo Sutrisno

Seorang pembaca bertanya tentang cara yang baik dalam mengkritisi pendapat atau kesimpulan seseorang.
Dikatakan, seorang peneliti adalah orang yang selalu mencari kebenaran. Tentu, dalam proses itu pendapat
atau temuannya tidak selalu benar. (Katanya, ia kan juga manusia biasa). Namun, sering terjadi, jika
pendapatnya dikritisi (baca: disanggah) tidak bersedia menerimanya. Sehingga, terjadi debat yang panjang
serta tidak ’ilmiah’ lagi.

Terima kasih atas pertanyaan ini, sebuah pertanyaan yang memang pantas direnungkan bersama. Bagi
masyarakat awam, para peneliti, para ilmuwan dipandang sebagai kelompok yang berada di garis depan
dalam mencari kebenaran. Karena, mereka telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu
pengetahuan.

Namun, juga tidak jarang pendapatnya atau temuannya dirasakan kurang ’pas’. Masyarakat menemukan
ada sesuatu yang ’salah’. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ’kenyataan’. Ada kekeliruan.

Akibatnya, oleh sebagian masyarakat, dikaitkanlah si ilmuwan yang bersangkutan pada sikap atau maksud-
maksud tertentu yang tidak ilmiah lagi. Maksudnya, tidak objektif objektif lagi. Tidak netral lagi dsb.

Mari kita singkirkan perasaan semacam itu lebih dahulu. Kita coba berpikir jernih dengan menempatkan
seorang peneliti atau seorang ilmuwan yang memang sungguh-sungguh sedang mencari kebenaran. Namun,
dalam penjelajahannya mencari kebenaran masih juga pendapatnya atau temuannya dirasakan kurang ’pas’.
Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengkritisi pendapat atau temuan semacam itu.

Baik! Mari kita ikuti langkah demi langkah yang dilewati seorang ilmuwan dalam mencari kebenaran
sehingga menghasilkan suatu pendapat atau temuan tentang sesuatu. Pertama-tama ia menangkap suatu
realita. Misalnya, realita tentang kegiatan pembelajaran IPA di kelas 2 SMPN I Kecamatan Matahari. Ia
mengarahkan perhatiannya pada perilaku seorang guru yang berada di depan kelas itu.

Pada langkah ini, kita dapat mengajukan pertanyaan: apakah pengamatannya tepat pada sasaran?. Untuk
menjawab pertanyaan ini, kita perlu mencari tahu apa yang ia maksudkan dengan perilaku guru di depan
kelas. Apakah dibatasi hanya gerak tubuhnya saja atau segala hal yang dilakukan olehnya? Kita juga dapat
meminta penjelasan yang ia maksudkan di depan kelas. Apakah sungguh terbatas di ruang yang pesis di
depan bangku para siswa atau juga di sekirat tempat duduk siswa? Kita masih dapat melanjutkan
pertanyaan yang berkaitan dengan waktu. Apakah dibatasi hanya pada saat sedang membahas materi
pelajaran atau juga saat-saat selingannya? Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan dapat
dipakai untuk menetapkan apakah pengamatannya tepat pada sasaran atau tidak.

Langkah berikutnya adalah melakukan pengumpulan data dan informasi. Kita lanjutkan situasi contoh
dalam langkah pertama. Setelah mengarahkan perhatiannya pada perilaku seorang guru di depan kelas, ia
melakukan pengumpulan data dan informasi tentang perilaku guru tersebut ketika ia berada di depan kelas.

Pada langkah ini, kita dapat mengajukan: apakah prosedur yang digunakan (dalam mengumpulkan data
dan informasi) benar? Sebelum dapat menjawab pertanyaan ini, kita perlu menelaah cara menetapkan
sebuah prosedur itu ’benar’ atau ’salah’. Ada banyak cara. Misalnya, berdasarkan kesepakatan bersama.
Sebuah prosedur disebut benar jika prosedur itu merupakan kesempatan bersama. Kita juga dapat
menetapkan sebuah prosedur itu benar atau salah berdasarkan pada apa yang telah dilakukan sebelumnya.
Misalnya, sebuah prosedur , pada waktu yang lampau, telah dilakukan dan menghasilkan sesuatu yang
betul maka prosedur itu dapat dianggap benar dsb. Cara itu mengarah pada penetapan apakah prosedur
yang digunakan oleh seorang yang sedang mencari pengetahuan itu benar atau salah.
Setelah data dan informasi terkumpul ia melakukan analisis data. Sesungguhnya bukan hanya analisis tetapi
juga sintesis. Gabungan antara aanalisis dan sintesis ini akan menghasilkan suatu kesimpulan baik yang
berupa pendapat atau temuan.
Pada langkah analisis data ini kita dapat mengajukan pertanyaan: apakah data dan informasi itu dianalisis
dengan menggunakan penalaran yang sahih? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu menelaah
argumentasi yang dibuat olehnya. Dengan kata lain kita perlu menelaah logika yang dikembangkannya.
Karena itu, kita perlu menerapkan hukum-hukum logika dalam tahap ini. Apakah argumentasinya taat asas
atau tidak? Ada atau tidak ada hukum-hukum logika yang dilanggar? Dengan cara membandingkan
ragumentasinya dengan hukum-hukum logika ini kita dapat menetapkan apakah argumentasinya sahih atau
tidak.

Kesimpulan atau keputusan seorang ilmuwan atau seorang peneliti dinyatakan betul jika dan hanya jika
didasarkan pada data dan informasi yang diperoleh dari pengamatan yang tepat dikumpulkan dengan
prosedur yang benar serta diolah dengan argumentasi yang sahih.

Nah, pembaca yang akan belajar mengkritisi pendapat atau temuan seorang ilmuwan atau pneliti
disarankan menggunakan langkah-langkah ini. Jika ini dilakukan maka niscaya tidak akan terjadi debat
berkepanjangan karena masing-masing bertahan pada pendapat atau kesimpulannya. Pendapat atau
kesimpulan atau temuan hanya merupakan implikasi logis dari ketiga langkah ini. Kiranya, para ilmuwan
pun akan menerima kritik itu dengan ikhlas. Kerendahan hatinya akan mendorng untuk menerima
pendapat bahwa pendapatnya, temuannya (yang dianggap benar) adalah penjelasan yang terbaik saat itu.
Artinya, terkandung maksud ada ruang untuk dikritisi. Semoga!