Anda di halaman 1dari 6

BAB III

KESIMPULAN

1. Kondisi sehat merupakan suatu hal yang mendasari didalam kehidupan


manusi. Salah satu masalah kesehatan yang menjadi permasalahan saat ini
adalah penyakit tidak menular yaitu kejadian diabetes melitus di
Indonesia. Diabetes melitus atau kencing manis adalah suatu gangguan
kesehatan berupa kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan
insulin ataupun resistensi insulin dan gangguan metabolik pada umumnya.

2. Klasifikasi diabetes melitus menurut Smeltzer et al, (2013) ada 3 yaitu:

1) Tipe 1 (Diabetes mellitus tergantung insulin)

Diabetes melitus tipe 1 ditandai dengan destruksi sel-sel beta


pankreas akibat faktor genetik, imunologis, dan juga lingkungan.

2) Tipe 2 (Diabetes melitustak – tergantung insulin)

Diabetes tipe 2 disebabkan karena adanya penurunan sensitivitas


terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah
insulin yang diproduksi.
3) Diabetes mellitus gestasional
Diabetes gestasional ditandai dengan intoleransi glukosa yang
muncul selama kehamilan.

3. Tanda dan gejala diabetes melitus menurut Smeltzer et al, (2013) dan
Kowalak (2011),yaitu:
1) Poliuria (air kencing keluar banyak) dan polydipsia (rasa haus
yang berlebih).
2) Anoreksia dan polifagia (rasa lapar yang berlebih).
3) Keletihan (rasa cepatlelah) dan kelemahan.
4) Kulit kering, lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya, dan rasa
gatal pada kulit.
5) Sakit kepala, mengantuk, dan gangguan pada aktivitas.
6) Kram pada otot, iritabilitas, serta emosi yang labil.
7) Gangguan penglihatan seperti pemandangan kabur.
8) Sensasi kesemutan atau kebas di tangan dan kaki.
9) Gangguan rasa nyaman dan nyeri pada abdomen.
10) Mual, diare, dan konstipasi.

4. Diabetes melitus menurut Kowalak, (2011); Wilkins, (2011); dan Andra,


(2013) mempunyai beberapa penyebab, yaitu:
1) Hereditas
Peningkatan kerentanan sel-sel beta pankreas dan
perkembangan anti bodi autoimun terhadap penghancuran sel-sel
beta.
2) Lingkungan (makanan, infeksi, toksin,stress)

Kekurangan protein kronik dapat mengakibatkan hipofungsi


pancreas.
3) Perubahan gaya hidup

Pada orang secara genetik rentan terkena DM karena


perubahan gaya hidup, menjadikan seseorang kurang aktif
sehingga menimbulkan kegemukan dan beresiko tinggi terkena
diabetes melitus.

4) Kehamilan

Kenaikan kadar estrogen dan hormon plasental yang berkaitan


dengan kehamilan, yang mengantagoniskan insulin.
5) Usia

Usia diatas 65 tahun cenderung mengalami diabetes melitus

6) Obesitas

Obesitas dapat menurunkan jumlah reseptor insulin di dalam


tubuh.
7) Antagonis asiefek insulin yang disebabkan oleh beberapa
medikasi.
5. Pada dasarnya ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara umum
yang meliputi:
1) Pencegahan Tingkat Dasar
Pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) adalah usaha
mencegah terjadinya resiko atau mempertahankan keadaan resiko
rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum.
2) Pencegahan Tingkat Pertama.
Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah upaya
mencegah agar tidak timbul penyakit diabetes mellitus. Diabetes adalah
faktor keturunan, faktor kegiatan jasmani yang kurang, faktor
kegemukan, faktor nutrisi berlebih, faktor hormon, dan faktor lain
seperti obat-obatan. Faktor keturunan jelas berpengaruh pada terjadinya
diabetes mellitus. Keturunan orang yang mengidap diabetes (apalagi
kalau kedua orangtuanya mengidap diabetes, jelas lebih besar
kemungkinannya untuk mengidap diabetes daripada orang normal).
Demikian pula saudara kembar identik pengidap diabetes hampir 100%
dapat dipastikan akan juga mengidap diabetes pada nantinya
(Sidartawan, 2001).
3) Pencegahan Tingkat Kedua
Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang
terancam akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosa dini serta
pemberian pengobatan yang cepat dan tepat.Salah satu kegiatan
pencegahan tingkat kedua adanya penemuan penderita secara aktif pada
tahap dini. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan berkala, penyaringan
(screening) yakni pencarian penderita dini untuk penyakit yang secara
klinis belum tampak pada penduduk secara umum pada kelompok
resiko tinggi dan pemeriksaan kesehatan atau keterangan sehat (Noor,
2002).
4) Pencegahan Tingkat Ketiga

Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) merupakan pencegahan


dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam
usaha mencegah bertambah beratnya penyakit atau mencegah terjadinya
cacat serta program rehabilitasi. Tujuan utama adalah mencegah proses
penyakit lebih lanjut, seperti perawatan dan pengobatan khusus pada
penderita diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, gangguan saraf serta
mencegah terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu,
serta usaha rehabilitas (Noor, 2002).

6. Penatalaksaan pada pasien diabetes menurut Perkeni (2015) dan Kowalak


(2011) dibedakan menjadi dua yaitu terapi farmakologis dan non
farmakologi:
a. Terapi farmakologi, yang terdiri dari obat oral dan obat suntikan,
yaitu:
1. Obat anti hiperglikemia oral, antara lain:

a) Pemacusekresi insulin: Sulfonilurea danGlinid


b) Penurunan sensitivitas terhadap insulin: Metformin dan
Tiazolidindion(TZD)
c) Penghambatan absorbs glukosa: penghambat
d) Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase-IV)
2. Kombinasi obat oral dan suntikan insulin
Kombinasi obat anti hiperglikemia oral dan insulin yang
banyak dipergunakan adalah kombinasi obat anti hiperglikemia
oral dan insulin basal.
b. Terapi nonfarmakologi
Terapi non farmakologi menurut Perkeni, (2015) dan Kowalak,
(2011) yaitu:
1. Edukasi
Edukasi bertujuan untuk promosi kesehatan.
2. Terapi nutrisi medis (TNM)
Pasien DM perlu diberikan pengetahuan tentang jadwal
makan yang teratur, jenis makanan yang baik beserta ju mlah
kalorinya.
3. Latihan jasmani atau olahraga
Pasien DM harus berolahraga secara teratur yaitu 3 sampai
5 hari dalam seminggu selama 30 sampai 45 menit, dengan
total 150 menit perminggu, dan dengan jeda antar latihan tidak
lebih dari 2 hari berturut-turut.

Daftar Pustaka

Anani, S, 2012. Hubungan Antara Perilaku Pengendalian Diabetes dan Kadar


Glukosa Darah Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus (Studi Kasus di RSUD
Arjawinangun Kabupaten Cirebon), Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 1,
No 2, Tahun 2012, hlm 466-478.

Aprianti, Mahpolah, Ruslan A, 2009, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Kadar Gula Darah Sesaat Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah
Kerja Puskesmas Gambut Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Tahun
2008. Al „Ulum, Volume 42, No 4, Oktober 2009, hlm. 27-32.

Dietisien, hal. Instalasi gizi perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi
Dietisien Indonesia

Hasdianah HR, Dr. 2012. Mengenal Diabetes Mellitus pada Orang Dewasa
dan Anak- anak dengan Solusi Herbal. Yogyakarta : Nuha Medika

Healthy Choice. 2002. Insulin Serat Makanan Istimewa (Edisi I). Jakarta: Majalah
Healthy Choice.

Isniati, 2007, Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Melitus


Dengan Keterkendalian Gula Darah Di Poliklinik RS Perjan Dr. Djamil
Padang tahun 2003, Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, 1(2).

Misnadiarly (2006) ‘Diabetes Melitus: Gangren, Ulcer, Infeksi, Mengenal Gejala,


Menanggulangi Dan Mencegah Komplikasi’.
Ngatimin, R. 2001. Perilaku Dokter di Rumah Sakit dan Masyarakat Sekitarnya.
Makassar: Yayasan PK-3.

Permadani, A. D. (2017) ‘Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Ulkus Kaki


Diabetik Dengan Pencegahan Terjadinya Ulkus Kaki Diabetik Pada Pasien
Diabetes Melitus Di Persadia Rumah Sakit Dokter Soeradji Tirtonegoro
Klaten’, 1–10.
Rahman, H. F., Santoso, A. W. and Siswanto, H. (2020) ‘Jurnal Nasional Ilmu
Kesehatan ( JNIK )’, 2, pp. 151–168.
Susanti, S. and Bistara, D. N. (2018) ‘Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Gula
Darah Penderita Diabetes Melitus’, Jurnal Kesehatan Vokasional, 3(1).
Sidartawan, S. 2001. Pengalaman Klinis Pengobatan Diabetes Mellitus Tipe 2
(Volume 51). Jakarta: Majalah Kedokteran Indonesia

Utawa dan Gustaviani. 2000.

Wiryowidigdo Noor, N.N. 2002. Epidemiologi. Makassar: Lembaga Penelitian


Universitas Hasanuddin.