Anda di halaman 1dari 23

LABORATORIUM FARMAKOLOGI

LAPORAN KELOMPOK PRAKTIKUM MK FARMAKOLOGI II

ANTIINFLAMASI

OLEH

KELOMPOK II (DUA)

ANGGOTA : 1. AHMAD ALWI DEU


2. FAHRUDIN PATEDA
3. GHAITSA ZAHIRA SOPHA YUSUF
4. MISRA YENO
5. SILVIA A. IBRAHIM
6. YULAN HUSAIN
PEMBIMBING : VYANI KAMBA, S.Si, MPH, Apt.

JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES GORONTALO
TAHUN 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam arti luas farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa
terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor (Sulistia,
2016). Farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
obat khususnya yang berkaitan dengan pengaruh sifaf fisika-kimiawinya
terhadap tubuh, respons bagian-bagian tubuh terhadap sifat obat, nasib yang
dialami obat dalam tubuh dan kegunaan obat bagi kesembuhan (Nurhayati,
2017).
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk
manusia (Undang-undang RI, 2008).
Dalam kehidupan seseorang, terkadang orang itu akan mengalami
peradangan akibat adanya luka atau infeksi mikroba, virus, atau yang lain.
Adanya reaksi imun pada manusia akan menyebabkan timbulnya suatu
peradangan (inflamasi) sebagai reaksi perlindungan terhadap luka maupun
infeksi mikroba tersebut (Arsyita, 2018).
Inflamasi merupakan suatu respons protektif normal terhadap luka
jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-
zat mikrobiologik. Obat golongan ini merupakan salah satu kelompok obat
yang banyak diresepkan dan juga digunakan tanpa resep dokter. Obat Anti
Inflamasi Non-Steroid (OAINS) merupakan suatu kelompok obat yang
heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia (Harvey, 2013).
Dalam percobaan ini, kami mengamati efek obat anti inflamasi yang
diujikan pada hewan uji mencit (Mus musculus). Obat yang digunakan untuk
anti inflamasi yaitu Asam Mefenamat, Ibuprofen, Natrium Diklofenak dan
Parasetamol.
B. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui golongan-golongan obat anti inflamasi.
2. Mengetahui cara penginduksian karagenan 1% sebanyak 0,2 ml terhadap
hewan coba mencit (Mus musculus).
3. Mengetahui cara pemberian terapi obat pada hewan coba yang diberikan
karagenan.
C. Prinsip Percobaan
Pengamatan efek obat antiinflamasi pada mencit yang diinduksi dengan
karagenan sebagai pemberi efek peradangan pada menit ke 10, 20 dan 30.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Inflamasi
Inflamasi merupakan suatu respons protektif normal terhadap luka
jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-
zat mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau
merusak organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur
derajat perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan
biasanya reda. Namun, kadang-kadang inflamasi tidak bisa dicetuskan oleh
suatu zat yang tidak berbahanya seperti tepung sari atau oleh suatu respons
imun seperti asma atau arthritis rematoid (Harvey, 2013).
Inflamasi bertujuan untuk menyekat serta mengisolasi jelas,
menghancurkan mikroorganisme yang menginvasi tubuh serta
menghilangkan aktivitas toksinnya, dan mempersiapkan jaringan bagi
kesembuhan serta perbaikan (Mitchell, 2009).
B. Mediator terjadinya inflamasi
Apapun penyebab radang (inflamasi) selalu menimbulkan perubahan
jaringan yang sama sehingga dianggap perubahan ini timbul melalui proses
yang sama yaitu melalui zat-zat perantara yang dilepaskan dan dinamakan
mediator. Ada beberapa mediator terjadinya inflamasi : (Katzung, 2001)
1. Histamin
Histamin mempunyai peran modulasi dalam berbagai inflamasi dan
respon imun. Histamin juga memainkan sebagai peran pada respon
inflamasi akut. Pada jaringan, rilis histamin menyebabkan vasodilatasi
lokal dan kebocoran plasma yang mengandung mediator inflamasi akut
(komplemen, protein C reaktif), antibodi, dan sel-sel inflamasi (neutrofil,
eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit).
2. Serotonin
Serotonin (5-hidroksitriptamin) disintesis dari L-triptofan dalam sel
enterochromaffin pada mukosa saluran cerna. Serotonin secara
menyebabkan kontraksi otot polos, terutama melalui reseptor 5-HT2.
Pada manusia, serotonin merupakan vasokonstriktor yang kuat kecuali
pada otot rangka dan jantung, karena pada daerah tersebut serotonin
melebarkan pembuluh darah. Pada inflamasi, serotonin dapat
meningkatkan permeabilitas vaskular namun tidak sekuat histamin.
3. Bradikinin
Bradikinin memainkan peranan penting dalam proses peradangan.
Bradikinin dapat menyebabkan kemerahan, panas setempat, bengkak,
dan nyeri. Bradikinin menyebabkan vasodilatasi yang hebat di dalam
beberapa rangkaian vaskular, termasuk jantung, ginjal, otot rangka, usus,
dan hepar. Dalam hal ini, bradikinin 10 kali lebih kuat dari pada
histamin.
4. Prostaglandin
Prostaglandin merupakan senyawa eucosanoid yang disintesis dari
asam arakhidonat oleh enzim cyclooxygenase II yang aktif selama
peradangan. Prostaglandin meningkatkan sensitivitas sensor saraf
terhadap rangsangan nyeri, juga meningkatkan permeabilitas vaskular
dan bertindak sebagai vasodilator.
5. Leukotrien
Leukotrien disintesis sebagai respon terhadap antigen dan tidak
disimpan secara intraselullar. Leukotrien merupakan produk dari
metabolisme asam arakhidonat melalui jalur lipooxygenase. Salah satu
efek sistemik dari leukotrien inflamasi kulit dan kemotaksis. Leukotrien
juga meningkatkan permeabilitas vaskular.
C. Gejala inflamasi
1. Kemerahan (rubor)
Terjadinya warna kemerahan ini karena arteri yang mengedarkan
darah ke daerah tersebut berdilatasi sehingga terjadi peningkatan aliran
darah ke tempat cedera (Corwin, 2008).
2. Rasa panas (kalor)
Rasa panas dan warna kemerahan terjadi secara bersamaan.
Dimana rasa panas disebabkan karena jumlah darah lebih banyak
ditempat radang daripada di daerah lain di sekitar radang. Fenomena
panas ini terjadi bila terjadi di permukaan kulit, sedangkan bila terjadi
jauh di dalam tubuh tidak dapat kita lihat dan rasakan (Wilmana, 2007).
3. Rasa sakit (dolor)
Rasa sakit akibat radang dapat disebabkan beberapa hal: (Wilmana,
2007)
a. Adanya peregangan jaringan akibat adanya edema sehingga terjadi
peningkatan tekanan lokal yang dapat menimbulkan rasa nyeri.
b. Adanya pengeluaran zat-zat kimia atau mediator nyeri seperti
prostaglandin, histamin, bradikinin yang dapat merangsang saraf-
saraf perifer di sekitar radang sehingga dirasakan nyeri.
4. Pembengkakkan (tumor)
Gejala paling nyata pada peradangan adalah pembengkakan yang
disebabkan oleh terjadinya peningkatan permeabilitas kapiler,adanya
peningkatan aliran darah dan cairan ke jaringan yang mengalami cedera
sehingga protein plasma dapat keluar dari pembuluh darah ke ruang
interstitium (Corwin, 2008).
5. Functio Laesa
Functio laesa adalah reaksi peradangan yang ditandai dengan nyeri
disertai adanya sirkulasi yang abnormal akibat penumpukan dan aliran
darah yang meningkat sehingga menghasilkan lingkungan kimiawi lokal
yang abnormal dan menjadikan jaringan yang terinflamasi tersebut tidak
berfungsi normal (Corwin, 2008).
D. Definisi Anti Inflamasi
Anti inflamasi adalah sebutan untuk agen/obat yang bekerja melawan
atau menekan proses peradangan (Dorlan, 2002). Mekanisme Obat-obat anti
inflamasi dengan mekanisme penghambatan enzim siklooksigenase-1 (COX-
1) dan siklooksigenase-2 (COX-2) sehingga akan menghambat sintesis
prostaglandin dan tromboksan. (COX-1) diketahui berfungsi dalam
memproduksi prostaglandin yang berperan dalam melindungi mukosa
lambung dan ginjal (Dewick, 2009).
E. Obat-obat anti inflamasi
Obat anti inflamasi dibagi menjadi dua, yaitu obat Anti Inflamasi
Steroid (AIS) dan obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS).
1. Anti Inflamasi Steroid (AIS)
Obat golongan steroid bekerja di sistem yang lebih tinggi
dibanding AINS. Mekanisme kerja obat Anti Inflamasi Steroid yaitu
menghambat enzim fospolipase menjadi asam arakidonat melalui
penghambatan terhadap enzim fosfolipase sehingga menghambat
pembentukan prostaglandin maupun leukotrien. Obat Anti Infamasi
Steroid diantaranya Hidrokortison, Deksametason, Metil Prednisolon,
Kortison Asetat, Betametason, Triamsinolon, Prednison, Fuosinolon
asetonid, Prednisolon, Triamsinolon asetonid dan Fuokortolon (Corwin,
2008).
2. Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)
Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) adalah suatu golongan obat
yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun
panas), dan antiinflamasi (anti radang). NSAID merupakan obat yang
heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi.
Walaupun demikian, obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan
dalam efek terapi maupun efek samping. Mekanisme kerja dari golongan
ini adalah menghambat enzim COX sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu (Corwin, 2008). Yang termasuk obat
Anti Inflamasi Non Steroid antara lain Asam Asetil Salisilat, Natrium
Diklofenak, Indometasin, Ibuprofen, Fenilbutason dan lain-lain
(Wibowo, 2001).
F. Uraian Bahan
1. Aquadest (Depkes, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILATA
Nama lain : Air suling, Aquadest
RM/BM : H2O/18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau; tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
2. Asam mefenamat (Depkes, 1979; MMN, 2017)
Nama resmi : ACIDUM MEFENAMICUM
Nama lain : Asam Mefenamat
Nama dagang : Asimat, Benostan, Corstanal, Datan, Femisic
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih, melebur
pada suhu 230⁰C serta pemurnian
Kelarutan : Larut dalam larutan alkali hidroksida, sukar larut
dalam etanol dan praktis tidak larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala,
sakit gigi, dismenore primer, nyeri karena trauma,
nyeri otot dan nyeri pasca operasi
Kontra indikasi : Hipersensitifitas, ulkus peptikum, kehamilan, anak <
14 tahun
Perhatian : Hati-hati pada anemia, bronkospasme, penyakit
jantung
Efek samping : Gangguan saluran cerna, reaksi hipersensitifitas
bronkokontriksi
Dosis : 2-3 × 250-500 mg
Sediaan : Tablet, Kaplet
Kat. kehamilan : C, D pada kehamilan trimester 3 atau menjelang
persalinan
3. Ibuprofen (Depkes, 1979 ; MMN, 2017)
Nama resmi : IBUPROFENUM
Nama lain : Ibuprofen
Nama dagang : Arthrifen, Bufect, Farsifen, Iprox, Lexaprofen
Pemerian : Serbuk hablur, putih hingga hampir putih, berbau
khas lemah
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut
dalam etanol, dalam metanol dan aseton
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang, Demam.
Kontra indikasi : Ulkus peptikum, riwayat hipersensitif terhadap
ibuprofen atau OAINS lain, kehamilan trimester
akhir
Efek samping : Gangguan gastrointestinal (mual, muntah, diare,
konstipasi, nyeri ulu hati) ruam kulit, gangguan
perdarahan
Perhatian : Hati-hati penggunaan pada asma, penyakit jantung,
gangguan hati atau ginjal
Efek samping : Gangguan gastrointestinal (mual, muntah, diare,
kontipasi, nyeri ulu hati) ruam kulit, gangguan
pendarahan
Interaksi obat : Menurunkan efek diuretik dan B blocker,
meningkatkan kadar warfarin dalam darah, dapat
memperpanjang masa pendarahan
Dosis : Dewasa (3-4 × 200-400 mg/hari) anak (20-30mg)
Sediaan : Tablet, Kaplet, Kapsul, Suspensi
Kat. kehamilan : B, D pada kehamilan trimester 3 atau menjelang
persalinan
4. Karagenan (Depkes, 1979)
Nama resmi : ALBUMIN SICCUM
Nama lain : Albumin kering
Pemerian : Serbuk, kuning gading
Kelarutan : Larut sempurna dalam waktu 10 menit pada suhu
20⁰C sampai 50⁰C
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Penginduksian radang
5. Natrium Diklofenak (Depkes, 1979; MMN, 2017)
Nama resmi : DICLOFENAC SODIUM
Nama lain : Diklofenak
Nama dagang : Atranac, Dicloflam, Flamar, Klotaren
Pemerian : Kristal putih, tidak berbau
Kelarutan : Larut dalam air, tidak larut dalam elarut organik
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Indikasi : Arthritis rheumatoid, ankylosing, spondylitis,
osteoartritis dan spondilartritis, sindrom nyeri
Kontra indikasi : Hipersensitifitas terhadap diklofenak, tukak peptik,
asma urtikaria, rhinitis akut
Perhatian : Hati-hati pada pasien dengan gangguan
hematopoietik, SLE, retensi cairan
Efek samping : Mual, gastritis, eritema kulit, sakit kepala
Perhatian : Hati-hati penggunaan pada pasien dengan gangguan
hematopoleticsie, retensi cairan
Dosis : Dewasa 100-150mg/hari terbagi dalam 2-3 dosis
Kat. kehamilan : B, D pada kehamilan trimester 3 atau menjelang
persalinan
6. Paracetamol (Depkes, 1979; MMN, 2017)
Nama resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama lain : Asetaminofen, paracetamol
Nama dagang : Alphamol, Dumin, Erphamol, Farmadol
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa
pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik terlindung dari cahaya
Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang, Demam.
Efek samping : Reaksi alergi, ruam kulit berupa aritema, atau
urticaria, kelainan darah, hipertensi, kerusakan hati
Interaksi obat : Kolestiramin menurunkan absorbsi PCT.
Metoclopramide dan domperidone meningkatkan
efek PCT. PCT meningkatkan kadar warfarin
Dosis : Dewasa 500-1000 mg/kali
Sediaan : Tablet, Sirup, Kaplet, Drops, Injeksi
Kat. kehamilan :B
G. Uraian Hewan Coba
Mencit (Mus musculus)

Taksonomi mencit (Mus musculus) (Kusumawati, 2004):


Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Alu
2. Batang pengaduk
3. Gelas kimia
4. Gelas ukur
5. Hot plate
6. Jangka sorong digital
7. Sendok tanduk
8. Timbangan analitik
b. Bahan
1. Aquadest
2. Asam mefenamat
3. Dispo 1 ml
4. Handscoon
5. Ibuprofen
6. Kapas
7. Karagen
8. Lap halus
9. Masker
10. Natrium dikofenak
11. Paracetamol
c. Hewan coba
Mencit (Mus musculus)
B. Cara kerja
a. Pembuatan karagenan 1% dalam 100 ml
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang karagenan sebanyak 1 gram
3. Dipanaskan aquadest diatas hot plte
4. Dilarutkan karagenan menggunakan aquadest sebanyak 100 ml
5. Diaduk hingga homogen
6. Disimpan dalam wadah
b. Pembuatan larutan obat
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang masing masing sesuai perhitungan
3. Dimasukkan kedalam Erlenmeyer
4. Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 1,02 ml
5. Dihomogenkan
c. Perlakuan hewan coba
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang hewan coba mencit
3. Dicukur bulu pada bagian punggung
4. Diinduksikan karagenan 0,2 ml secara subkutan
5. Diukur udem mencit menggunakan jangka sorong
6. Diberi sediaan obat anti inflamasi secara oral 1 ml
7. Diukur kembali udem mencit pada menit ke 10, 20 dan 30
8. Di catat hasil pengamatan
C. Skema Kerja
Persiapan alat dan bahan

Penimbangan hewan coba

Cukur bulu hewan coba dibagian punggung

Buat larutan obat dan larutan karagen

Induksi karagen 0,2 ml secara subkutan

Ukur udem mencit menggunakan jangka sorong

Beri terapi obat

Ukur udem mencit pada menit ke 10, 20 dan 30

Catat hasil pengamatan


D.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Perlakuan BB Dosis Ukuran Ukuran udem setelah
Mencit (g) udem diberi obat
(g) setelah Menit Ukuran
diinduksi (mm)
Air (Kontrol 10 4,265
20 3,73
Negatif) 31 - 4,405 mm
30 2,95
10 5,20
20 4,63
Paracetamol 37 0,0028 7,21 mm
30 0,14

10 8,71
20 6,64
Na. Diklofenak 34 0,001 9,25 mm
30 5,68
10 8,45
20 6,66
Ibuprofen 27 0,0019 11,21 mm
30 3,51
Asam 10 6,44
20 5,46
mefenamat 32 0,0024 8,77 mm
30 5,10

B. Pembahasan
Pada percobaan ini yaitu tentang pengamatan obat anti inflamasi yang
diujikan pada hewan coba mencit (mus musculus). Anti inflamasi adalah
obat-obat atau golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau
mengurangi peradangan. Radang atau inflamasi dapat disebabkan oleh
berbagai rangsangan yang mencakup luka-luka fisik, infeksi, panas dan
interaksi antigen antibodi (Houglum, 2005).
Obat antiinflamasi yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari
Paracetamol, Natrium Diklofenak, Ibuprofen dan Asam Mefenamat. Keempat
obat merupakan kontrol positif atau negatif menggunakan air. Obat
antiinflamasi terdiri dua golongan yaitu obat antiinflamasi steroid dan
antiinflamasi non steroid. Obat antiinflamasi steroid merupakan obat
antiinflamasi sangat kuat. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim
phospholipase sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Asam arakidonat
tidak terbentuk berarti prostaglandin juga tidak akan terbentuk. Contoh obat
golongan ini yaitu dexametason (Ikwati, 2006). Sedangkan obat antiinflamasi
non steroid (OAINS) merupakan kelompok obat paling banyak dikonsumsi
seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetik, antipiretik dan
antiinflamasi. Obat ini bekerja menghambat sintesis prostaglandin dengan
cara menghambat enzim PGG 2 terganggu (Gunawan, 2011). Contoh obat
yaitu Aspirin, Ibuprofen, Asam Mefenamat, Diklofenak, Paracetamol dan
Piroxicam (Gunawan,2011).
Dalam praktikum ini hal yang pertama yang dilakukan dengan
menimbang hewan coba tersebut, kemudian diinduksi hewan coba dengan
pemberian karagenan sebanyak 0,2 ml melalui suntikan subkutan. Pemerian
obat subkutan adalah kearah bawah kulit dengan sudut 45 terhadap
permukaan kulit yaitu pada jaringan konektif atau lemak dibawa dermis
(Neal, 2005).Kemudian diukur udem yang ditimbulkan oleh hewan coba
menggunakan jangka sorong. Setelah itu hewan coba diberikan terapi obat
menggunakan obat antiinflamasi secara oral.
Pada hasil pengamatan hewan coba yang digunakan sebagai
control negative mengalami penurunan ukuran udem, sedangkan yang
digunakan pada control positif dari percobaan ini yaitu keempat obat tersebut
memberikan efek antiinflamasi yang baik dimana hewan ccoba tersebut
mengalami penurunan udem
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Golongan obat anti inflamasi ada dua yaitu golongan obat anti inflamasi
steroid (Dexametason, Prednisone, Metil Prednisone, dan Betametason)
dan anti inflamasi non-steroid (Asam Mefenamat, Ibuprofen, Natrium
Diklofenak dan Paracetamol).
2. Penginduksian karagenan pada hewan coba dilakukan dengan cara
penyuntikan secara subkutan.
3. Pemberian terapi obat antiinflamasi pada hewan coba dilakukan dengan
cara pemberian oral
B. Saran
Sebaiknya perlu disediakan kanula untuk pemberian obat secara oral
kpada hewan coba, agar obat yang akan diberikan dapat masuk dengan baik
dan tidak tumpah.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyita, S I. 2018. Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas
Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Karagenan.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

Corwin, E.J. 2008. Handbook Of Pathophysiology, 3 th Edition. Lippincort


Williams dan Wilkins. Philadelphia.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Dirjen POM. Jakarta.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Dirjen POM. Jakarta.

Dewick, Paul M. 2009. Medicinal Natural Products: A Biosynthetic Approach,


3rd Edition. John Wiley & Sons Ltd. Wiltshire.

Dorland, W A. 2002. Kamus Kedokteran Dorland, Alih Bahasa Huriwati Hartanto


dkk. ECG. Jakarta.

Gunawan. 2011. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Badan Penerbit FKUI. Jakarta.

Houglum J.E. 2005. Principles Of Pharmacology For Athetic Trainers. Slack


Incorporated. United State.

Harvey, R. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 4. Buku Kedokteran


EGC. Jakarta.

Ikawati Z. 2006. Pengantar Farmakologi Molekuler. UGM Press. Yogyakarta.

Katzung, B.G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik : Reseptor- reseptor Obat
dan Farmakodinamik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Kusumawati, D. 2014. Bersahabat dengan Hewan Coba. UGM Press.


Yogyakarta.

Medical Mini Notes. 2017. Basic Pharmacology and Drug Notes. MMN
Publishing. Makkasar.

Mitchell, G. 2009. Plant Antimicrobial Agents and Their Effects on Plant and
Humah Pathogens. Int J Mol Sci.

Nurhayati. 2017. Bahan Ajar Farmakologi. PPSDMK. Jakarta.

Neal, M J. 2005. Farmakologi Medis Edisi V. Erlangga. Jakarta.

Sulistia, G. 2016. Farmakologi dan Terapi. UI Tan Hoan. Jakarta.


Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informasi Publik. Pasal 1.

Wilmana. 2007. Analgesik-Antipiretik Analgesik AntiInflamasi Nonsteroid dan


Obat Pirai. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Wibowo. 2001. Farmakoterapi Dalam Neurologi. Salemba Medika. Yogyakarta.


LAMPIRAN
A. Dokumentasi

Penimbangan Penginduksian Pengukuran


mencit (Mus karagenan lebar udem
musculus)

Pengukuran Pemberian
lebar udem terapi obat
B. Perhitungan
1. Karagenan 1% dalam 100 ml
1g
x 100 ml = 1 gr
100 ml
2. Asam mafenamat
Dik : BB mencit = 32 g
Berat 1 tab = 0,5961 g
Dosis obat = 500 mg
FK = 0,0026
Dit : Bobot obat yang ditimbang ?
Peny : Dosis untuk mencit 20 g = 0,0026 x 500 mg
= 1,3 mg
32 g
Dosis untuk mencit 32 g = x 1,3 mg
20 g
= 2,08 mg
2,08 mg
Bobot yang di timbang = x 0,5961 g
500 mg
= 0,0024 g
3. Ibuprofen
Dik : BB mencit = 27 g
Berat 1 tab = 0,5599 g
Dosis obat = 400 mg
FK = 0,0026
Dit : Bobot obat yang ditimbang ?
Peny : Dosis untuk mencit 20 g = 0,0026 x 400 mg
= 1,04 mg
27 g
Dosis untuk mencit 27 g = x 1,04 mg
20 g
= 1,42 mg
1,42mg
Bobot yang di timbang = x 0,5599 g
400 mg
= 0,0019 g
4. Natrium Diklofenak
Dik : BB mencit = 34 g
Berat 1 tab = 0,24 g
Dosis obat = 50 mg
FK = 0,0026
Dit : Bobot obat yang ditimbang ?
Peny : Dosis untuk mencit 20 g = 0,0026 x 50 mg
= 0,13mg
34 g
Dosis untuk mencit 34 g = x 0,13 mg
20 g
= 0,2245 mg
2,2245 mg
Bobot yang di timbang = x 0,24 g
50 mg
= 0,001 g
5. Paracetamol
Dik : BB mencit = 37 g
Berat 1 tab = 0,6 g
Dosis obat = 500 mg
FK = 0,0026
Dit : Bobot obat yang ditimbang ?
Peny : Dosis untuk mencit 20 g = 0,0026 x 500 mg
= 1,3 mg
37 g
Dosis untuk mencit 37 g = x 1,3 mg
20 g
= 2,405 mg
2,405 mg
Bobot yang di timbang = x 0,6 g
500 mg
= 0,0028 g
= 0,0051 g